in

8 Tradisi Jawa Tengah yang Masih Lestari Hingga Kini: Dari Kelahiran Hingga Kematian

Indonesia kaya akan budaya serta tradisinya, tidak terkecuali Jawa Tengah. Provinsi Jawa Tengah dikenal sebagai salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki banyak sekali tradisi dan tentunya masih lestari hingga kini. Tradisi Jawa Tengah ada cukup banyak, mulai dari kelahiran, pernikahan hingga kematian. Tradisi merupakan sebuah kebudayaan yang diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi.

Kebudayaan bisa bermacam-macam, mulai dari kebudayaan yang berkaitan dengan adat istiadat, kebiasaan masyarakat hingga kebudayaan yang berhubungan dengan keagamaan. Tradisi akan terus berjalan serta tetap lestari jika masyarakat setempat tetap melaksanakan upacara-upacara tradisi tersebut.

Akan tetapi, jika masyarakat setempat mulai berhenti melakukan tradisi tersebut, maka tradisi tersebut pun akan hilang dengan sendirinya. Agar tradisi Jawa Tengah tetap lestari, Grameds juga perlu ikut andil dalam melestarikannya salah satu caranya adalah dengan mengetahui macam-macam tradisi Jawa Tengah. Berikut penjelasan mengenai berbagai macam tradisi Jawa Tengah yang masih lestari hingga kini.

Tradisi Jawa Tengah

1. Tradisi Wetonan 

Sumber: Dimensi Indonesia

Tradisi Jawa Tengah yang pertama adalah tradisi wetonan. Wetonan merupakan salah satu tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat dari suku Jawa Tengah. Istilah wetonan dalam bahasa Jawa memiliki arti yaitu untuk memperingati hari kelahiran.

Pada umumnya, upacara wetonan dihelat ketika ada seorang bayi yang usianya telah menginjak 35 hari. Pada hari ke-35 dari lahirnya sang bayi, keluarga dari bayi tersebut pun akan mengadakan upacara bernama nyelapani. Istilah nyelapani memiliki bentuk dasar selapan yang artinya ialah sama dengan satu bulan dalam perhitungan Jawa atau 35 hari.

Perhitungan tersebut disesuaikan pada perhitungan hari serta berdasarkan pada penanggalan Masehi yaitu Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu serta perhitungan hari sesuai dengan penanggalan Jawa berupa Wage, Pon, Kliwon, Legi dan Pahing.

Kombinasi dari kedua perhitungan tersebut, dapat menghasilkan kombinasi penyebutan hari yang khas dari kalangan masyarakat Jawa Tengah seperti Senin Pon, Selasa Wage, Kamis Legi, Rabu Kliwon, Jumat Pahing, Jumat Kliwon dan seterusnya yang akan diulang kembali dan dimulai kembali dari Pon.

Wetonan dalam masyarakat suku Jawa berlaku dalam siklus 35 hari sekali. Contohnya apabila Grameds memiliki weton Selasa Kliwon, maka weton selanjutnya adalah 35 hari kemudian dan akan bertemu di hari yang sama yaitu pada Selasa Kliwon.

Tradisi wetonan dilaksanakan oleh masyarakat Jawa dengan tujuan agar bayi yang baru lahir, terhindari dari segala marabahaya dan dapat mendapatkan rezeki maupun keberuntungan yang lebih.

2. Tradisi Sadran

Sumber: kabar NU.ID

Sadranan merupakan upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa Tengah dan menjadi reminisensi dari upacara Sraddha Hindu yang dilaksanakan pada zaman dahulu.

Masyarakat Jawa melaksanakan upacara Sadran pada bulan Jawa Islam Ruwah tepatnya sebelum bulan puasa atau pada bulan Ramadhan menurut tahun Hijriyah. Upacara Sadran ini dilaksanakan dengan melakukan ziarah kubur dari makam ke makan dan disertai dengan menabur bunga atau dikenal dengan istilah nyekar.

Sebagai catatan, lapisan masyarakat Jawa yang melaksanakan tradisi upacara adat satu ini tidak hanya umat Islam saja, akan tetapi ada banyak umat agama lain yang turut merayakan tradisi Sadranan.

Melaksanakan tradisi Sadran menjadi salah satu bagian penting bagi masyarakat suku Jawa. hal ini dikarenakan para pewaris tradisi telah menjadikan tradisi sadranan sebagai sebuah momentum untuk menghormati para leluhur dan menjadikan ekspresi ungkapan wujud syukur pada Sang Pencipta.

 

Pada umumnya, nyadran akan dilaksanakan pada satu bulan sebelum dimulai bulan puasa atau pada 15, 20 serta 23 Ruwah. Masing-masing daerah di Jawa, umumnya memiliki ciri khas dalam tradisi sadranan ini.

Masyarakat Jawa di beberapa daerah sering membersihkan makan sekaligus membawa bungkusan yang berisi makanan dari hasil bumi yang disebut dengan sadranan. Menurut tradisinya, sadranan yang telah dibawa kemudian akan ditinggalkan ke area pemakaman. Masyarakat juga akan meninggalkan beberapa uang tambahan sebagai biaya pengelolaan makam.

3. Upacara Ruwatan 

Sumber: theAsianparent

Ruwatan merupakan salah satu ritual penyucian yang masih dilakukan hingga saat ini oleh sebagian besar masyarakat dari suku Jawa maupun Bali, ruwat sendiri dalam bahasa Jawa memiliki arti yang sama seperti kata luwar yang maknanya adalah dibebaskan atau dilepaskan.

Upacara Ruwatan maknanya adalah upacara yang dilaksanakan untuk dapat membesarkan maupun melepaskan seseorang dari suatu hukuman atau kutukan yang diberikan oleh sang kuasa dan dapat menimbulkan marabahaya.

 

Makna dari upacara Ruwatan ialah memohon dengan sepenuh hati agar orang yang melaksanakan ruwat dapat terlepas dari marabahaya dan memperoleh keselamatan diri.

Oleh sebab itulah, upacara ruwatan umumnya dilaksanakan dengan harapan untuk dapat melindungi manusia dari segala macam bahaya yang ada di sekitarnya. Hingga saat ini, upacara ruwatan masih dipercayai oleh masyarakat Jawa dan Bali, sebab upacara ini dapat berpengaruh pada keselamatan seseorang.

Selain karena tujuan untuk mendapatkan keselamatan, upacara ruwatan masih dilaksanakan untuk melestarikan tradisi adat istiadat Jawa Tengah yang ada secara turun temurun sejak dahulu kala.

4. Tradisi Syawalan 

Sumber: travel kompas

Syawalan memiliki makna sebagai pertemuan yang telah direncanakan oleh beberapa orang atau bahkan oleh sekelompok masyarakat, di mana kelompok tersebut akan bertemu dan melakukan silaturahmi yang berisi ikrar untuk saling memaafkan satu sama lain dan memulai kehidupan baru yang lebih baik, tujuannya agar situasi di masa depan dapat menjadi lebih tentram.

Pertemuan syawalan tersebut, dilaksanakan utamanya pada bulan syawal setelah bulan Ramadhan usai. Bulan Syawal merupakan bulan kesepuluh pada kalender tahun Hijriyah.

Syawalan disebut juga sebagai tradisi halal bi halal, di mana orang-orang akan berkumpul dan mendatangi rumah orang-orang yang mereka kenal untuk meminta maaf pada pemilik rumah, kemudian pemilik rumah pun akan menyambut para tamu dan saling memaafkan.

Ada dua acara syawalan Keraton yang cukup populer di Jawa Tengah, kedua syawalan tersebut adalah Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta dan Grebeg Syawal Keraton Solo. berikut penjelasannya.

a. Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta

Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta merupakan tradisi syawalan yang cukup terkenal dan banyak wisatawan datang berkunjung ke Yogyakarta khusus untuk menyaksikan tradisi ini.

Tradisi syawalan satu ini adalah tradisi yang berasal dari peninggalan Sri Sultan Hamengkubuwono I dan telah dilaksanakan sejak tahun 1725 dan masih lestari hingga saat ini.

Dalam tradisi syawalan Yogyakarta, masyarakat dapat melihat iring-iringan prajurit keraton Yogyakarta yang mengiring lima gunungan. Gunungan tersebut berisi beraneka ragam hasil panen dan nantinya akan diantarkan ke tiga lokasi perayaan grebeg syawalan.

Lokasi pengantaran gunungan pun tidak sembarangan, karena telah ditentukan. Ketiga lokasi tersebut adalah pura pakualaman, masjid gede dan kantor kepatihan Yogyakarta. Lalu, setelah ditempatkan pada tiga lokasi, isi dari gunungan pun akan dibagikan pada masyarakat sekitar.

b. Grebeg Syawal Keraton Solo

Sama halnya dengan grebeg syawal keraton Yogyakarta, kota Solo pun memiliki tradisi grebeg syawal. Tradisi grebeg syawal di kota Solo dilaksanakan dengan cara membawa dua gunungan yang isinya adalah hasil bumi serta jajanan pasar.

Masing-masing dari gunungan tersebut, memiliki nama tersendiri yaitu gunung jaler dan gunung setri. Gunung jaler akan dibawa ke masjid agung Surakarta, sementara gunungan setri akan dibawa ke keraton Solo.

5. Tradisi Popokan 

Sumber: MerahPutih

Tradisi popokan ini masih lestari hingga saat ini dan berawal dari sebuah cerita mengenai seekor harimau.

Konon suatu ketika di Desa Sendang di daerah Jawa Tengah, masyarakat diteror oleh kemunculan dari seekor harimau. Kemunculan hewan tersebut mengusik ketentraman masyarakat.

Dikarenakan masyarakat merasa terganggu, berbagai cara maupun senjata pun telah dikerahkan oleh masyarakat setempat untuk mengusir harimau tersebut, akan tetapi selalu gagal.

Lalu munculah seorang pemuka agama yang memberikan saran agar masyarakat setempat tidak mengusir harimau tersebut dengan kekerasan. Saran tersebut kemudian diikuti oleh masyarakat setempat.

Masyarakat kemudian memopok atau melempari harimau tersebut dengan menggunakan lumpur sawah, kemudian harimau tersebut pun pergi.

Sejak kejadian tersebut, tradisi popokan atau tradisi untuk saling melempar lumpur sawah pun sering digelar. Tradisi popokan memiliki tujuan untuk menjauhkan kejahatan dan menolak bala yang datang ke daerah Desa Sendang.

Di samping itu, tradisi popokan ini juga menjadi wujud dari rasa syukur yang dirasakan oleh masyarakat kepada sang pencipta dikarenakan telah memberikan keselamatan. Masyarakat pun mempercayai, bahwa lumpur yang dilemparkan memiliki banyak keberkahan, karenanya alih-alih merasa marah, masyarakat justru senang ketika terkena lemparan lumpur sawah.

Popokan menjadi ritual terakhir dari empat rangkaian tradisi yang biasa digelar selama dua hari. Pada hari kamis di sore hari, tepatnya sebelum tradisi popokan, masyarakat setempat akan memulainya dengan kerja bakti dan membersihkan sendang maupun sumber air.

Ritual tersebut dilaksanakan oleh pria dewasa di Desa Sedang. Masyarakat setempat melaksanakan tradisi tersebut untuk menghilangkan hawa jahat dan menolak balak di daerah tempat mereka hidup.

6. Upacara Tingkeban 

Sumber: kompasiana.com

Tradisi Jawa Tengah selanjutnya adalah upacara tingkeban. Tradisi satu ini merupakan upacara Jawa Tengah untuk memperingati 7 bulanan bayi yang ada di dalam kandungan atau upacara 7 bulanan kehamilan.

Tingkeban adalah upacara paling akhir yang dilaksanakan sebelum masa kelahiran. Hakikat dari tingkeban adalah untuk mendoakan ibu hamil serta calon bayi, tujuannya agar ibu dan bayi sehat dan selamat hingga menjelang hari kelahiran.

Upacara tingkeban dilaksanakan dengan tujuan sebagai sarana berdoa, agar jabang bayi yang berada dalam kandungan selalu mendapatkan kesehatan. Di samping itu, masyarakat suku Jawa juga mempercayai bahwa upacara tingkeban harus dilaksanakan agar ibu dan anak yang berada dalam kandungan terhindar dari segala marabahaya. Upacara tingkeban juga memiliki makna solidaritas primordial yang memiliki kaitan dengan adat istiadat yang telah dilakukan secara turun temurun.

7. Tradisi Brobosan 

Sumber: Kompas.com

Pada umumnya, tradisi brobosan dilaksanakan ketika ada upacara kematian. Brobosan memiliki arti menerobos. Menerobos yang dimaksud ialah berjalan secara bergantian sebanyak tiga kali di bawah peti mati jenazah atau keranda yang sedang diangkat tinggi.

Prose brobosan dimulai dari sebelah kanan kemudian bergerak ke kiri, depan hingga kembali lagi ke sebelah kanan. Biasanya, para kerabat serta tetangga akan ikut membantu menyiapkan ubo rampe untuk tradisi ini.

Ubo rampe merupakan makanan yang disajikan sebagai sesajen. Usai ubo rampe selesai dibuat, akan ada pidato yang disampaikan oleh perwakilan dari pihak keluarga. Pidato tersebut berisi ucapan permintaan maaf yang mewakili orang yang telah meninggal dunia tersebut, jika semasa hidupnya orang tersebut memiliki kesalahan. Kemudian, pidato akan diakhiri dengan doa serta upacara brobosan.

Seperti halnya tradisi Jawa Tengah yang lainnya, upacara brobosan juga memiliki tujuan. Tujuan dari brobosan adalah agar keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan dapat melewati masa kesedihan setelah ditinggalkan oleh orang yang dikasihi.

Seluruh anggota dari mendiang akan berkumpul kemudian melaksanakan ritual ini sebagai suatu simbol perpisahan terakhir, sebelum jenazah dikebumikan. Dengan harapan, agar seluruh anggota keluarga merasa rela dan ikhlas untuk melepaskan mendiang.

Ritual brobosan ini menjadi bentuk penghormatan terakhir pada jenazah untuk melepaskan mendiang ke alam selanjutnya. Tidak hanya sebagai bentuk penghormatan saja, brobosan juga digelar untuk menghormati leluhur yang telah meninggal dunia.

8. Upacara Tedak Siten

Sumber: kompasiana.com

Dalam tradisi suku Jawa, setiap bayi yang usianya telah mencapai tujuh atau bahkan delapan bulan disarankan untuk melaksanakan suatu ritual adat, seperti tedak siten. Istilah dari tedak siten berasal dari bahasa Jawa, kata tedak artinya adalah kaki sementara siten atau siti artinya adalah tanah.

Upacara turun tanah ini memiliki tujuh rangkaian yang setiap prosesnya saling berkaitan satu dengan lainnya. Pada tahap pertama, anak akan dituntun untuk berjalan di tujuh jadah dengan tujuh warna yaitu merah, coklat, kuning, ungu, biru, hijau dan putih. Setiap warna jadah tersebut, mencerminkan sebuah simbol dari kehidupan.

Pada tahapan kedua, anak tersebut akan dibimbing untuk menapaki tangga yang dibuat dari batang tebu jenis arjuna. Tangga tersebut adalah simbol dari jenjang kehidupan dan melambangkan pengharapan, agar sifat anak tersebut menyerupai tokoh Arjuna.

Tebu dalam suku Jawa adalah kependekan dari antebing kalbu yang maknanya adalah keteguhan hati.

Di tahapan berikutnya, anak kemudian akan dibiarkan untuk mencakar tanah dengan kedua kaki. Tahapan ini sebagai harapan agar anak dapat mengais rezekinya sendiri ketika sudah dewasa.

Tahap keempat, anak akan dimasukan ke dalam kandang ayam atau kurungan yang diisi dengan beraneka barang, seperti mainan, uang, buku, alat musik serta makanan. Benda-benda tersebut, nanti akan dipilih oleh anak tersebut dan dipercayai menjadi gambaran dari potensi anak tersebut. Hal ini karena pada usia tujuh atau delapan bulan, anak dipercayai masih memiliki naluri yang cukup kuat.

Tahap kelima dalam upacara tedak siten, sang anak diberi uang logam dan berbagai macam bunga serta beras berwarna kuning oleh ayah dan kakeknya. Beras dan bunga tersebut adalah simbol dan harapan agar sang anak diberkahi dengan rezeki melimpah, akan tetapi tetap memiliki sifat dermawan.

Tahap selanjutnya anak akan dimandikan dengan air dan kembang setaman dan tahap akhir adalah proses ketika anak mengenakan bayi yang bagus serta bersih sebagai simbol agar sang anak dapat menjalani kehidupan dengan baik.

Itulah kedelapan tradisi Jawa Tengah yang masih lestari hingga saat ini mulai dari kelahiran hingga kematian seseorang. Semoga semua pembahasan di atas dapat menambah wawasan kamu.

Grameds bisa mempelajari lebih lanjut tentang tradisi dan budaya Indonesia dengan membaca buku. Sebagai #SahabatTanpaBatas, gramedia.com menyediakan berbagai macam buku untuk Grameds. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Khansa



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Nandy