in

8 Tips Agar Kakak dan Adik Akur yang Perlu Kamu Tahu

Tips agar kakak adik akur – Memastikan anak-anak rukun mungkin merupakan salah satu tantangan terbesar yang akan kita hadapi sebagai orang tua. Kadang-kadang, kita mungkin merasa hanya ingin mengakhiri pertengkaran. Namun, jika Grameds meluangkan waktu dan berinvestasi dalam hubungan anak-anak, itu pasti akan membuahkan hasil.

Hubungan persaudaraan, khususnya saudara kandung, sangatlah penting. Bagaimana caranya membina dan mengembangkan hubungan tersebut?

Apakah konflik antarsaudara itu normal?

Jika cukup beruntung untuk tumbuh dengan saudara kandung, maka kita akan tahu satu kebenaran universal: saudara kandung pasti bertengkar!

Faktanya, konflik saudara kandung adalah bagian normal dari perkembangan. Terlebih lagi, jumlah konflik yang sehat di antara saudara kandung sebenarnya bisa baik untuk mereka. Namun, meski konflik adalah hal yang normal dalam hubungan saudara kandung, tetapi bagaimana kita bisa memastikan konflik tersebut tetap berada di zona yang sehat? Memang tidak mudah, tetapi bisa dilakukan.

Pada pembahasan selanjutnya, kita akan membahas tips agar kakak adik akur.

Tips Agar Kakak dan Adik Akur

pixabay

 

Grameds, di bawah ini akan dijelaskan tips agar kakak adik akur yang bisa diterapkan di rumah. Jadi, simak tipsnya sampai habis, Grameds.

Ajari anak tentang keterampilan bergaul satu sama lain

Semua hubungan manusia akan memiliki beberapa konflik dan kita tidak dapat mengharapkan anak-anak secara otomatis tahu bagaimana menyelesaikan masalah dengan damai. Namun, kebanyakan orang dewasa tidak belajar keterampilan sosial-emosional atau resolusi konflik yang baik sebagai anak-anak, jadi terkadang sulit mengajarkannya kepada anak-anak.

Misalnya, kita memberi tahu anak-anak untuk menggunakan kata-kata, tetapi sering kali mereka tidak tahu kata-kata apa yang harus digunakan. Ketika marah, mereka tidak dapat memikirkan kata-kata yang masuk akal itu.

Jadi, orang tua bisa saja harus menetapkan batasan berulang kali untuk melatih anak-anak untuk mengetahui beberapa kata, sehingga sang anak bisa mengekspresikan atau mengungkapkan apa yang sedang dirasakan. Dengan begitu, masalah dapat terselesaikan dengan baik tanpa harus menyerang. Terlebih lagi, ini adalah keterampilan yang akan mereka gunakan dalam setiap hubungan selama sisa hidup.

Jika melakukan ini secara konsisten, maka kita akan melihat anak-anak mulai menggunakan bahasa ini satu sama lain, dan orang tua pun tanpa perlu campur tangan.

Berikut adalah tiga langkah proses yang sederhana, tetapi sangat efektif untuk mengajarkan keterampilan ketika kita perlu menetapkan batasan tentang cara interaksi anak-anak:

  • Akui perasaan atau keinginannya: “Kamu ingin adikmu berhenti menekan hidungmu, jadi kamu mencubitnya.”
  • Tetapkan batas: “Tidak boleh ada cubitan. Dicubit itu menyakitkan, lho
  • Ajarkan alternatif: “Beri tahu saudaramu seperti ini, ‘tolong/jangan mencubitku!’”

Latih anak untuk membela dirinya sendiri

Jika kita sebagai orang tua, selalu membela satu anak, maka anak yang lain menjadi yakin bahwa kita lebih mencintai saudara kandungnya. Ketegangan saudara kandung pun akan menjadi lebih buruk. Alih-alih berlaku demikian, latihlah kedua anak untuk mengungkapkan kebutuhan mereka dan dukung jika perlu.

Ayah: “Arfan, Arfan kayaknya kesal. Apa yang enggak Arfan suka? Bisa beri tahu kakakmu?

Arfan: “Arfan enggak suka Kakak mendorong!”

Ayah: “Kakak, Arfan bilang dia enggak suka didorong. Bolehkah kalau Kakak berhenti mendorong, atau Kakak mau dibantu untuk main sendiri dulu?”

Terapkan giliran-giliran daripada memaksa anak untuk berbagi. 

Buat aturan keluarga bahwa ketika kita bermain di rumah, setiap anak dapat menggunakan mainan yang dia miliki selama yang dia inginkan hingga waktu makan berikutnya. Jika dia ingin membaginya dengan saudaranya sebelum itu, itu adalah pilihannya, tetapi dialah yang memutuskan kapan selesai dengan mainan itu.

Jika dia meletakkannya, anak lain perlu bertanya, “Kamu sudah selesai bermain?” sebelum kabur dengan main itu. Tentu saja, ketika kita tak fokus memperhatikan mereka, atau perlu mengurus anak lain yang berkunjung, maka perlu halnya memperingatkan anak-anak sebelumnya bahwa kita akan membuat aturan kecil baru dalam situasi itu.

Inilah yang dipelajari anak-anak dari berbagi dengan paksa:

  • Jika menangis cukup keras, aku mendapatkan apa yang kuinginkan, bahkan jika orang lain memilikinya.
  • Orang tua bertanggung jawab siapa mendapat apa, kapan, dan itu sewenang-wenang, tergantung seberapa dramatis aku memohon giliran.
  • Saudaraku dan aku selalu bersaing untuk mendapatkan apa yang kami butuhkan. Aku tidak suka dia.
  • Aku menang! Tapi aku akan kalah lagi segera. Aku sebaiknya memprotes dengan keras ketika giliran aku untuk mendapatkan setiap menit yang aku bisa. Jika membuat orang tua aku sengsara, aku akan mendapatkan lebih banyak waktu dengan mainan itu.

Inilah yang dipelajari anak-anak dari belokan yang diatur sendiri:

  • Aku bisa meminta apa yang aku inginkan. Kadang-kadang aku mendapat giliran segera; terkadang aku harus menunggu. Semua orang mendapat giliran cepat atau lambat.
  • Tidak apa-apa menangis, tapi bukan berarti aku mendapatkan mainannya.
  • Aku tidak mendapatkan semua yang aku inginkan, tetapi orang tua aku selalu mengerti dan membantu aku.
  • Setelah menangis, aku merasa lebih baik.
  • Aku suka perasaan ketika saudara aku memberi aku mainan. Aku suka dia.
  • Ketika aku selesai bermain dan memberikan mainannya kepada saudaraku, aku merasa baik di dalam hati, merasa murah hati.

Khawatir dengan tangisan anak yang menunggu giliran? Pada awalnya, akan ada beberapa tangisan, jadi anggap itu sebagai kesempatan untuk membantu anak kita mengungkapkan air mata dan ketakutan yang terpendam selama ini.

Begitu mereka mendapat kesempatan untuk menangis dengan perhatian penuh kasih, seperti (“Ibu akan membantu Kakak menunggu mainannya”), mereka sering kali tidak begitu tertarik pada mainan itu dan menunjukkan bahwa kekesalan mereka sebenarnya bukan tentang mainan itu sejak awal.

Begitu Grameds mulai menggunakan aturan ini, maka anak-anak umumnya akan menyukainya dan berhenti bertengkar tentang berbagi.

Jangan pernah membandingkan anak satu sama lain atau dengan anak lain

“Kenapa kamu susah sekali diajarkan untuk menyikat gigi? Lihat, lihat adikmu yang barusan membuka mulutnya agar giginya bisa disikat?”

Kita mungkin berpikir bahwa kita sedang memotivasi anak, tetapi apa yang dia dengar adalah bahwa saudara perempuannya lebih baik dan kita lebih mencintainya. Tetapkan batas apa pun yang dibutuhkan tanpa mengacu pada saudara perempuannya.

Bahkan, perbandingan positif pun bisa menjadi bumerang. Ketika kita mengatakan, “Ayah harap adikmu bisa duduk dan mengerjakan pekerjaan rumahnya tanpa repot, seperti yang kamu lakukan!” putri kita akan berpikir bahwa “Aku anak yang baik, jadi ibu mencintaiku… Aku haru selalu menjadi gadis yang baik agar terus dicintai.”

Nah, dia pun sekarang mulai mencari cara untuk terus memperlihatkan anak yang lain sebagai anak nakal. Tentu saja, bukan hal tersebut yang kita inginkan, bukan?

Ciptakan suasana kebaikan dan penghargaan di rumah

Beri anak-anak kesempatan untuk bersikap baik satu sama lain dan untuk menghargai satu sama lain dengan menjadikannya bagian normal dari kehidupan keluarga Grameds. Misalnya, buatlah jurnal kebaikan di mana kita menuliskan contoh tindakan baik yang kita perhatikan di antara anak-anak, atau yang mereka laporkan kepada kita.

Bacakan kutipan untuk anak-anak pada hari Minggu malam atau hari libur, sehingga mereka dapat merasakan betapa senangnya perasaan mereka, baik sebagai pemberi dan penerima, dan agar mereka mendapat kesempatan untuk melihat satu sama lain sebagai sumber cinta dan kebaikan.

Setiap malam saat makan malam, mintalah setiap orang menemukan setidaknya satu hal khusus untuk “dihargai” tentang satu sama lain:

  • “Aku menghargai bahwa Adzra membantuku menyelesaikan pekerjaan rumah hari ini.”
  • “Aku menghargai bahwa Ibu memainkan permainan favoritku bersamaku hari ini.”
  • “Aku  menghargai bahwa Ayah membuatkan makan malam dengan lauk favoritku hari ini.”
  • “Aku menghargai bahwa Afra tidak menggangguku ketika teman-temanku datang untuk bermain.”

Bantu mereka menjadi sebuah tim

Mungkin, tak semua anak adalah penggemar hadiah secara umum, tetapi mereka bisa mencari setiap kesempatan untuk menghargai kerja tim di antara saudara kandung. Kita dapat mencoba membuat anak-anak menjadi mitra dalam menghindari pertengkaran satu sama lain.

Misalnya, dengan menyiapkan toples kerja sama dan memasukkan koin ke dalamnya setiap kali kita mengamati anak-anak yang baik satu sama lain, termasuk bermain tanpa berkelahi. Jika mereka mengungkapkan perasaan dengan cara yang pantas dan penuh hormat, maka mereka mendapatkan koin. Dengan begitu, anak-anak bisa memutuskan bersama bagaimana membelanjakan uangnya.

Pastikan masing-masing anak punya ruang pribadi yang cukup

Saudara harus berbagi orang tua, mainan, waktu keluarga, dan perhatian, jadi sangat banyak yang mesti dibagikan. Berbagi kamar dapat menumbuhkan kedekatan antar saudara kandung, tetapi juga bisa menjadi berbagi yang berlebihan. Terutama, untuk anak-anak yang memiliki temperamen yang sangat berbeda.

Berbagi kamar lebih mudah ketika anak-anak memiliki beberapa ruang pribadi, seperti lemari tinggi untuk menjauhkan barang-barang khusus dari adiknya, atau tempat tidur “tenda” sehingga seorang anak bisa sendirian saat dia mau. Beberapa anak bahkan menjadi lebih baik setelah orang tua melukis garis di tengah lantai, dan mengatur perabotan untuk menentukan dua ruang terpisah.

Cintai masing-masing dari mereka dengan cara terbaik

Jika anak Grameds tahu bahwa orang tuanya tidak akan pernah bisa mencintai orang lain lebih dari mencintai dirinya sendiri, maka dia tidak akan sering cemburu pada saudaranya. Jadi, fokus pertama Grameds ialah perlu memperkuat dan mempermanis hubungan dengan setiap anak.

Misalnya, membuat “Waktu Khusus satu lawan satu” untuk setiap anak setiap hari. Banyak tawa setiap hari. Selain itu, latih empati agar anak bisa mengekspresikan emosinya. Berikan bimbingan dan bukannya hukuman. Anak-anak yang dibesarkan dengan cara ini lebih bahagia dan lebih sehat secara emosional, sehingga mereka bisa bergaul lebih baik dengan saudara-saudara mereka.

Setiap anak perlu tahu sampai jauh di bawah lubuk hati dan pemikiran mereka:

“Ada lebih dari cukup kasih sayang untukmu, tidak peduli apa yang saudaramu dapatkan. Ibu dan Ayah tidak akan pernah bisa mencintai seseorang lebih dari kami mencintaimu.”

Cerita tentang Hubungan Saudara

Aku masih ingat wajah adik laki-lakiku ketika aku memukul punggungnya setelah dia menolak bermain Barbie dan Super Hero denganku. Hanya saja, itu adalah permainan yang sangat menyenangkan yang kubuat, dan jika dia akan memainkannya, maka dia akan tahu betapa menyenangkannya itu.

Kadang-kadang, aku bisa sedikit nakal, tetapi aku suka berpikir bahwa waktu-waktu itu jarang terjadi. Sebagian besar, aku adalah seorang kakak perempuan yang penyayang. Hari ini, kami bergaul dengan sangat baik, jadi aku pasti tidak terlalu buruk.

Ketika aku mengingat kembali hari-hari itu, aku kagum pada bagaimana orang tuaku berhasil membina hubungan saudara yang begitu kuat di antara kami, anak-anak. Namun, meskipun saudara-saudaraku dan aku dekat hari ini, kami bertengkar dan berkelahi dengan cara yang paling hebat ketika kami masih muda.

Dapat dibayangkan, bukan, betapa ingatan dan perasaan antarsaudara sangatlah penting dan kita harus membuat momen-momen itu indah untuk diingat di kemudian hari?

Mengapa hubungan ini penting?

Hubungan saudara adalah pilar utama keluarga. Di mana, orang tua dan pengasuh saling bersandar untuk mendapatkan dukungan, demikian juga saudara kandung. Jika dapat menemukan cara untuk membina hubungan positif dengan saudara kandung di rumah, maka kita akan mendapatkan manfaatnya selama bertahun-tahun yang akan datang.

Sebuah studi tahun 2012 tentang hubungan saudara kandung dan pengaruhnya pada masa kanak-kanak dan remaja menemukan bahwa ada beberapa cara saudara kandung mempengaruhi satu sama lain selama tahun-tahun pembentukan mereka, antara lain:

Perkembangan

Saudara kandung bertindak sebagai panutan, mitra sosial, dan lawan. Semuanya mempengaruhi perkembangan sosial, kognitif, dan emosional anak.

Persahabatan

Saudara dan saudari kita memberi kita kesempatan untuk mencari tahu apa yang harus kita hargai pada orang lain dan bagaimana memelihara persahabatan yang berkualitas.

Dukungan

Saudara yang dekat dan suportif dapat berfungsi sebagai support system bawaan untuk pengalaman hidup yang lebih sulit.

Kepribadian

Pendiri Psikologi Individu, Alfred Adler, percaya bahwa dinamika keluarga dan psikologi hubungan saudara sangat dipengaruhi oleh interaksi saudara kandung, dan pengaruh ini membantu untuk membentuk kepribadian anak-anak.

Regulasi emosi

Saudara kandung dapat saling membantu belajar mengatur emosi mereka dengan menjadi mitra sparring. Tempat latihan yang lebih aman di rumah memungkinkan anak-anak untuk berlatih menghadapi hal-hal seperti agresi sebelum mereka menghadapinya di dunia nyata.

Identitas

Saudara kandung cenderung meniru (atau menolak) perilaku dan minat saudara-saudaranya. Psikologi hubungan saudara kandung dan cara mereka mendefinisikan diri mereka sendiri dalam kaitannya dengan saudara kandung mereka membantu dalam membangun identitas mereka sendiri.

Kesimpulan

Terlepas dari “persaingan saudara” yang stereotip, kita dapat mendorong ikatan saudara kandung, berapa pun usia mereka.

Jangan menyelesaikan semua konflik mereka, memaksa mereka untuk berbagi, atau membiarkan mereka menjadi jahat satu sama lain. Sebaliknya, perlakukan mainan sebagai milik bersama dan pujilah saat-saat ketika mereka rukun. Dorong anak yang lebih tua untuk mengajar dan membantu adik-adiknya alih-alih “mengasuh” mereka atas nama orang tua.

Keharmonisan saudara bukan hanya tentang memastikan tidak ada yang berkelahi, mengawasi mainan siapa, atau memaksa mereka untuk berbagi. Sebaliknya, mengembangkan ikatan saudara yang kuat adalah ketika setiap anak merasakan cinta yang tulus untuk saudara laki-laki atau perempuannya sejak awal.

Grameds, hubungan kakak beradik dalam sebuah keluarga memanglah penting. Lagipula, tak semua keluarga memiliki lebih dari satu anak. Ada pula keluarga yang hubungan antarsaudara kandungnya tidak terlalu baik, dan ini bisa menjadi contoh agar kita selalu mengusahakan hubungan yang baik antara anak yang lebih tua, lebih muda, atau bahkan kembar.

Demikian pembahasan tentang tips agar kakak adik akur. Semoga semua pembahasan di atas bisa bermanfaat untuk Grameds.

Kamu bisa menambah wawasan tentang parenting dan pengetahuan psikologi dasar lainnya dengan membaca buku, khususnya yang dibeli melalui layanan toko buku online terbesar di Indonesia, Gramedia.com. Mari tingkatkan pengetahuan parenting dan membaca banyak buku dan artikel tidak akan pernah merugikan kalian, karena Grameds akan mendapatkan informasi dan pengetahuan #LebihDenganMembaca.

 

Penulis: Sevilla Nouval Evanda

Judul: Kakak Vs Adik

Link

Judul: Kakak Vs Adik 2

Link

Judul: Sayang Kakak Sayang Adik

Link



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Siti B

Saya Siti sangat senang dengan dunia menulis karena di sini saya bisa mendapatkan banyak informasi sekaligus bisa memberikan informasi kepada pembaca. Ketertarikan saya pada dunia menulis ini telah membuat saya menghasilkan berbagai karya terutama dalam hal pendidikan anak.