in

Review Novel SagaraS: Menguak Sosok Orang Tua Ali

Review Novel SagaraS – SagaraS merupakan buku ke-13 dari novel serial Bumi yang ditulis oleh Tere Liye, seorang penulis novel ternama yang namanya sudah bergaung di dalam negeri. Tere Liye adalah seorang penulis yang berbakat, yang mana selalu bisa memikat banyak orang dari berbagai kalangan, untuk setia membaca karya-karyanya. Hal ini dibuktikan dengan sejumlah karya novelnya yang berhasil menjadi novel best seller.

Bukti lainnya, yaitu Tere Liye mampu membuat serial buku yang diterbitkan setiap tahun, bahkan bisa juga menerbitkan lebih dari satu buku dalam tahun yang sama. Serial novel karya Tere Liye ini bernama Bumi, serial yang mengisahkan petualangan di dunia paralel.

Tak hanya itu, penjualan karya novel Tere Liye pada tahun 2017 mencapai 25 ribu hingga lebih dari 130 ribu eksemplar untuk setiap judulnya, dan bisa mencapai 20 hingga 40 cetak setiap judulnya.

Hingga saat ini, serial Bumi terdiri atas 13 novel yang berurutan. Bagi anda penggemar Tere Liye, terutama yang mengikuti novel serial Bumi ini, anda akan suka membaca novel SagaraS ini.

Pada novel sebelumnya dalam serial Bumi, Tere Liye telah menuliskan cerita menarik mengenai orang tua dari tokoh Raib di kedua novelnya yang berjudul “Selena” dan “Nebula”. Namun, Tere Liye belum menuliskan cerita tentang orang tua tokoh lainnya, yakni Ali, yang menimbulkan rasa penasaran pembaca.

Ke mana orang tua Ali? Apakah orang tua Ali masih hidup? Dari klan mana kah Ali? Pada 384 halaman novel SagaraS ini, semua pertanyaan dan rasa penasaran tersebut akhirnya akan terjawab. Pada akhirnya, setelah bertahun-tahun lamanya, Ali akhirnya dapat memecahkan misteri siapa sosok orang tuanya.

Sebagai sahabat sejati, Raib dan Seli tidak membiarkan Ali sendirian dalam memecahkan misteri itu. Dibantu juga dengan petarung mata satu yang suka berkata kasar, Master B atau Batozar. Mereka bersama-sama berjuang melewati segala rintangan yang menghalangi mereka untuk menemukan jawaban atas misteri tersebut.

SagaraS tidak mudah ditembus oleh klan lain, sangat tertutup dengan dihalangi oleh tembok yang kokoh. Ali, Seli, Raib, dan Master B harus bertarung melawan ksatria penjaga SagaraS untuk dapat menembusnya.

Cerita akan sosok orang tua Ali ini tidak dituliskan Tere Liye secara gamblang, tetapi secara berproses, dibagi ke dalam beberapa bab secara bertahap. Hal ini membuat para pembacanya dapat masuk ke dalam cerita, dan merasa ikut andil dalam pencarian sosok orang tua Ali.

Dalam buku ini juga diceritakan terdapat beberapa perubahan pada tokoh Seli, alasan mengapa Master B atau Batozoar memiliki wajah yang seram, dan munculnya kedekatan hubungan antara Ali, Seli, dan Raib dengan Master B.

Pembaca akan merasakan berbagai emosi ketika membaca novel SagaraS ini. Perasaan sedih, senang, takut, bahkan lucu. Sebab, petualangan Ali, Raib, dan Seli dipenuhi rintangan yang menempatkan mereka pada situasi hidup atau mati. Dilengkapi juga dengan kisah yang mengejutkan, dan plot twist, novel ini pastinya seru untuk dibaca.

tombol beli buku

Profil Tere Liye – Penulis Novel SagaraS

TRIBUNWIKI: Ini Profil Tere Liye, Penulis Buku Yang Sering Jadi Best Seller - Tribun-timur.com

Sumber: Tribunnews.com

Nama Tere Liye bukan nama asli dari penulis novel SagaraS ini, melainkan itu adalah nama penanya yang selalu dicantumkan dalam setiap karyanya. Nama Tere Liye sendiri berasal dari bahasa India yang memiliki arti “untukmu”.

Nama asli dari Tere Liye adalah Darwis. Darwis lahir pada tanggal 21 Mei 1979, di Lahat, Sumatera Selatan. Tere Liye lahir di keluarga petani biasa di daerah pedalaman Sumatera. Tere Liye merupakan anak keenam dari total tujuh anak yang dimiliki orang tuanya. Keluarga Tere Liye adalah keluarga yang sederhana.

Kesederhanaan tersebut bukan lah menjadi hal yang negatif, melainkan menjadi hal positif, yang mana kesederhanaan tersebut memupuk kepribadian Tere Liye menjadi seorang yang rendah hati walaupun tengah mencapai kesuksesan di hidupnya.

Tere Liye menempuh studi pendidikan di Sekolah Dasar Negeri 2 Kikim Timur, Sumatera Selatan. Lalu melanjutkan kepada jenjang selanjutnya di sekolah yang sama, SMP Negeri 2 Kikim Timur, Sumatera Selatan. Kemudian, menempuh pendidikan menengah atas di SMA Negeri 9, Bandar Lampung.

Setelah lulus pendidikan menengah atas, Tere Liye merantau keluar Pulau Sumatera menuju Pulau Jawa untuk melanjutkan studinya di Universitas Indonesia, dan kuliah di Fakultas Ekonomi.

Pria berusia 42 tahun ini sudah menikah dengan seorang wanita bernama Riski Amelia. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang buah hati, yakbi Abdullah Pasai dan Faizah Azkia.

Tere Liye sehari-harinya bekerja sebagai seorang akuntan. Baginya, menulis hanya lah sebuah hobi, bukan profesi yang memang ingin digelutinya.

Tere Liye adalah pribadi yang sangat tertutup. Berbeda dengan penulis ternama lainnya, Tere Liye tidak ingin membagikan informasi personal mengenai dirinya. Anda tidak dapat menemukan riwayat hidup, foto, dan kontak aktif yang bisa dihubungi di akhir buku karyanya.

Tere Liye jarang menerima tawaran untuk menjadi pembicara di berbagai acara seperti seminar, workshop, bedah buku, dan acara lain yang terkait dengan profesinya sebagai penulis. Bahkan, dalam suatu kesempatan di acara talkshow yang dibintanginya, Tere Liye enggan memperkenalkan diri dan langsung mulai menjelaskan materi presentasinya.

Meskipun bagi Tere Liye menulis hanya lah hobi, bakatnya untuk menulis tak bisa dipungkiri. Tere Liye mengawali karirnya sebagai penulis pada tahun 2005, dengan karyanya yang berjudul Hafalan Shalat Delisa.

Buku Hafalan Shalat Delisa karya pertama Tere Liye langsung meraih kesuksesan dan berhasil diadaptasi menjadi film layar lebar. Terdapat 5 karya lain dari Tere Liye yang juga diadaptasi menjadi film layar lebar.

Karya-karya tersebut, yakni Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Ayahku (Bukan) Pembohong, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Bidadari-bidadari Surga, dan Moga Bunda Disayang Allah.

Hingga saat ini, Tere Liye telah berhasil menerbitkan sebanyak lebih dari 50 buku dengan berbagai jenis dan genre. Tere Liye menulis berbagai jenis buku, yaitu novel, buku kumpulan puisi, buku kumpulan kutipan, buku kumpulan cerpen, hingga buku anak-anak bergambar.

Tere Liye juga merupakan penulis multi-genre dengan melahirkan karya bergenre romance, anak-anak dan keluarga, filsafat, action, fantasi, science fiction, biografi, sosial, ekonomi, dan politik, serta sejarah. Tere Liye juga menulis beberapa buku serial, yaitu Serial Anak-anak Mamak, Serial Bumi, Serial Aksi, dan Serial Cerita Anak Bergambar.

tombol beli buku

Sinopsis Novel SagaraS

Wajah Ali terlihat kusut karena kelelahan. Dengan rambut yang berantakan, dan mengenakan kaos seragam klub basket sekolah yang kotor. Nampak seperti sudah berhari-hari tidak mandi dan ganti baju, karena dia lupa. Masalah makan juga begitu, entah kapan terakhir kali dia makan dengan baik.

Kapsul perak ILY berkedip-kedip, mengambang di dekatnya. Ali dengan mata yang menyipit mengabaikannya, ia mencoba fokus menatap layar besar di hadapannya. Saking lelahnya, beberapa kali kepalanya hampir terjatuh di atas meja, tapi Ali segera mengangkatnya lagi. Ali sudah menahan rasa ngantuk selama 48 jam lamanya. Dirinya hanya fokus menatap layar yang kosong.

Ali melupakan sekolah, sudah 3 hari dia bolos. Raib dan Seli khawatir dengan keadaannya, maka itu mereka menyempatkan ke rumah Ali tadi siang. Mereka bertanya kepada pembantu rumah Ali, “Tuan Muda Ali tidak ingin diganggu oleh siapapun”, begitu jawabnya. Ali bisa melihat mereka dari layar lain yang ada di basemen rumahnya, termasuk saat Raib menggerutu sambil memaksa untuk masuk, “Tapi sebentar lagi Penilaian Akhir Semester, pak. Ali bisa tidak naik kelas karena dia bolos”.

Pembantu menolaknya dan bilang sekali lagi bahwa Tuan Muda Ali sedang sibuk. Seli ikut mencegah Raib, dan berkata, “Biarkan saja lah, Ra, mungkin si jenius itu sedang sibuk dengan eksperimen anehnya. Kita pulang saja yuk”. Kedua sahabat Ali pun akhirnya pulang.

Tak terasa sudah larut malam, sekian jam sudah berlalu dan Ali masih menatap layar besar yang kosong di hadapannya. Ali sedang menunggu sesuatu yang sangat penting baginya. Satu bulan yang lalu, Ali berhasil menemukan peti yang tersisa dari sebuah kapal yang tenggelam di tengah laut luas, karena badai besar berkecamuk menerjang.

Ali tertarik bukan karena keluarganya adalah pemilik perusahaan kapan, tapi karena kejadian tenggelamnya kapal itu bertepatan dengan hari lahirnya. Ali tidak pernah memberitahu tentang itu ke siapa pun, bahkan tidak juga memberitahu Raib dan Seli. Ali menyimpan rahasia itu sendiri.

Peti itu berhasil ditemukan karena terdampar di sebuah kepulauan, dan akhirnya dibawa ke rumah Ali. Ali adalah seseorang yang tidak peduli dengan apa pun yang ada di dunia ini, tapi dia gemetar ketika membuka peti itu. Dengan wajah yang antusias, dia merasa tahu apa isi peti tersebut, dia sudah sangat dekat dengan penjelasan yang selama ini dia cari.

Dia membuka peti itu, isinya adalah sebuah penyimpanan data yang berbentuk tabung kecil, yang warna keemasan. Itu adalah ‘Kotak Hitam’ dari kapal yang tenggelam. Kotak hitam itu menyimpan segala data perjalanan, percakapan, dan semua informasi kapal selama berlayar. Kotak hitam ini adalah teknologi canggih milik perusahaan keluarganya.

Dengan otak pandainya, Ali tidak butuh waktu lama untuk melihat dan mendengarkan isi data perjalanan kapal itu. Layar di hadapannya menunjukkan rekaman perjalanan kapal kontainer paling besar yang dimiliki keluarganya.

Kapal itu menyusuri lautan luas dengan mengangkut dua puluh ribu kontainer. Perjalanan kapal berjalan dengan normal, dengan cuaca yang baik, kecepatan normal, dan beberapa kali terdengar komunikasi antara nakhoda dengan petugas pengawas lepas pantai, dan dengan kapal-kapal yang berada di dekatnya.

Ali kemudian mempercepat rekaman percakapan hingga kapal itu mencapai separuh perjalanannya. Tempat di mana kapal itu tenggelam.

Terdengar suara yang mungkin adalah nakhoda kapal, “Astaga? Apakah itu badai besar?”

“Ini gila, kapten. Bagaimana mungkin awan itu muncul membawa badai? Lima menit lalu tidak terlihat satu pun awan di langit sana”, seorang yang mungkin adalah kru kapal menimpali.

“Bahkan perkiraan cuaca tidak…”

Seseorang berteriak, “Putar kemudi! Kita harus menghindar dari awan gelap mengerikan itu”.

Seruan panik menimpali, “Percuma, lihat! Kita telah dikelilingi awan tebal, dan ada enam tornado di lautan. Bagaimana mungkin tornado itu terbentuk begitu saja? Lihat betapa tingginya”.

“Astaga! Aku belum pernah menyaksikan tornado setinggi itu.”

“AWAS! Di geladak depan ada ombak tinggi!”

“KEMUDI!”

Nafas Ali tertahan ketika mendengarkan rekaman percakapan itu dengan saksama. Ia bisa mendengar kepanikan yang terjadi di ruang nakhoda. Ditambah suara latar rekaman, suara debur ombak, gemuruh, dan benturan ikut terdengar.

Seorang laki-laki ikut bicara, suaranya terdengar seperti baru saja memasuki ruangan nakhoda, “Aku akan mengambil alih kemudi”.

Terdengar suara lain yang menyaut, suara perempuan, “Segera evakuasi kru kapal dan bersiap dengan kemungkinan terburuk”.

“Tapi tuan, nyonya, kami…”

Laki-laki itu berseru tegas, “Kami akan mengambil alih segalanya”.

“Tinggalkan ruangan ini!” Tambah perempuan itu.

Badai itu semakin berkecamuk.

“Rabaragas… Masaragabaras…”

“Harafayaras… Bagahararagas…”

Ali pun terdiam. Rekaman itu terdengar jelas sekali olehnya. Ada percakapan baru, menggunakan bahasa asing yang sama sekali tak dikenalinya. Laki-laki dan perempuan yang mengambil alih kapal itu berkomunikasi dengan pihak lain.

“Harafagabaras, karatarabagas jahakalagas…”

Bicara apa mereka? Ali pun mengetuk layar, sambil tangan lincahnya mengaktifkan seluruh database bahasa yang dimilikinya, termasuk bahasa-bahasa kuno dari Klan Bulan, Klan Bintang, Klan Komet, dan Klan Matahari. Ia juga menambahkan teknologi bahasa paling mutakhir yang ia dapatkan dari Kulture dari Klan Komet Minor.

Pesan itu berkedip di layar, “Bahasa tidak dikenali”.

“Tidak ada, tidak ada satu pun yang dapat menerjemahkan percakapan itu”, seru Ali.

Ini sangat mengherankan. Tangan Ali kemudian mengetuk lagi layar itu dengan cepat, dia akan mencoba memasukkan bahasa itu ke database bahasa Klan Aldebaran. Cara itu kiranya paling pamungkas, jika database itu tidam mengenalinya…

“Bahasa tidak dikenali.”

Ali tertegun menatap layar. Kalimat yang sama dengan sebelumnya, suara yang dia dengar juga tidak berhasil diterjemahkan. Ia menelan ludah, “Bagaimana mungkin? Bagaimana? Bahkan database bahasa Klan Aldebaran pun tak bisa menerjemahkannya.

“Harafagabaras, karatarabagas jahakalagas…”

Terdengar suara teriakan dan jeritan kru kapal dari kejauhan. Ada yang berteriak karena enam tornado terus menuju kapal kontainer itu. Ada yang bertanya-tanya tentang suatu benda asing yang dilihatnya. Ada yang berteriak karena ketakutan.

Ali mencengkram jari-jari tangannya. Apa yang sebenarnya terjadi? Komunikasi dari mana kah itu? Bagaimana mungkin tak ada yang bisa menerjemahkan bahasa itu? Siapa yang mengirimkan badai itu? Seperti apa kengerian yang dihadapi kapal itu?

Lalu dengan sekejap, hening. Rekaman itu terputus.

Ali tak menyerah dan terus berusaha menerjemahkan bahasa tersebut. Walaupun hasilnya nihil, ia tetap mencoba lagi dan lagi. Hingga ia mencoba membuat algoritma paling mutakhir, gabungan dari berbagai teknologi dunia paralel, Ali mencoba menerjemahkan bahasa itu secara manual.

48 jam lamanya, ia mencoba menebak kosakata itu, menguraikan hurufnya satu-persatu, membuat konstruksi baru akan kemungkinan artinya. Hingga akhirnya Ali tak tahan lagi, ia kelelahan dan jatuh tertidur.

ILY mengambang bisu di sebelahnya. Malam semakin larut. Mendadak layar besar itu berkedip, komputer berhasil menerjemahkan percakapan ketika Ali tidur.

“Tinggalkan tempat ini segera.”

“Kami mohon”, berganti kalimat lainnya.

“Kalian tidak diinginkan lagi. Segera tinggalkan tempat ini.”

“Aku mohon, kasih aku kesempatan, aku sedang mengandung putra…”

“Aktifkan penghancuran permanen. Jangan biarkan siapa pun melewati gerbang SagaraS.”

Rekaman percakapan itu terputus, habis. Di detik yang sama layar besar itu error, komputer berdesing tak terkendali. Tepat ketika kata ‘SagaraS’ diucapkan, sistem basemen rumah Ali rusak, seperti terkena virus mematikan.

Rekaman itu kemudian terhapus dengan sendirinya, hening. ILY ikut padam, menggelinding di lantai, dan membentur dinding. Ali tak sempat membacanya, ia masih tertidur nyenyak di basemen yang gelap gulita.

Ali memulai perjalanannya, berusaha mencari orang tuanya dan letak klan SagaraS. Dibantu dengan para sahabatnya, Raib dan Seli, juga Master B. Mereka berjuang hidup-mati melawan Ksatria SagaraS, demi menembus gerbang kokoh yang menghalangi jalannya.

tombol beli buku

Kelebihan Novel SagaraS

Disamping karyanya yang memiliki genre fiksi, Tere Liye menyelipkan edukasi dibalik kisah petualangan yang ditulisnya. Bukan hanya sekedar imajinasi khayalan mengenai kekuatan sihir, melainkan ada bukti ilmiah yang mendukungnya.

Tere Liye juga mengangkat beberapa isu yang relevan dengan kehidupan masyarakat umum. Salah satunya isu politik yang mana masih banyak terdapat ketidakadilan di bidang pekerjaan, salah satunya adalah nepotisme, yang membuat tidak semua orang dapat memiliki kesempatan yang sama walau sudah bekerja dengan sangat keras.

Layaknya novel serial sebelumnya, buku ini ditulis dengan bahasa sehari-hari dan mudah dimengerti. Tere Liye menuliskan cerita sedemikian rupa dengan sangat baik, sehingga dapat membawa para pembacanya merasakan bermacam-macam emosi.

Kekurangan Novel SagaraS

Oleh karena novel ini adalah bagian dari novel serial dan melanjutkan kisah dari novel-novel sebelumnya, unsur-unsur dari cerita di novel ini hanya dapat dipahami oleh para pembaca yang memang mengikuti dari awal seri novel Bumi.

Ada beberapa adegan yang berulang, karena plot cerita yang sama. Terdapat juga beberapa kesalahan dalam penulisan.

Pesan Moral Novel SagaraS

Terus berjuang dan pantang menyerah. Kegigihan dapat membawa seseorang untuk menemukan segala hal yang dicari.

Hargai segala yang kamu punya, meskipun hal/seseorang tersebut kadang membuatmu tidak nyaman. Sebab, kamu lebih beruntung dengan memilikinya, banyak orang di luar sana yang berharap untuk memiliki hal/teman seperti yang kamu punya.

Proses menjadi seorang pemimpin yang baik tidak instan. Dibalik seorang pemimpin, terdapat peristiwa besar yang menempanya.

Jika kamu penggemar novel serial Bumi dan ingin membaca lengkap kisah pencarian orang tua Ali, kamu bisa mendapatkan novel “SagaraS” karya Tere Liye ini di www.gramedia.com.

tombol beli buku

Written by Gabriel