in

Review Novel Negeri Di Ujung Tanduk: Bicara Tentang Demokrasi

Review Novel Negeri di Ujung Tanduk – Masih ingat kisah perjalanan Thomas untuk meluruskan kasus Bank Semesta di Novel pertama, Negeri Para Bedebah. Kali ini, perjalanan Thomas kembali hadir pada buku keduanya, Negeri Di Ujung Tanduk.

Seolah belum cukup dengan novel pertamanya, penulis yang memiliki nama asli Darwis ini juga terus mengulik permasalahan yang paling besar dan sangat berhubungan dengan ekonomi negara yakni politik.

Bagi yang telah membaca buku-buku Tere Liye sebelumnya, mungkin sudah tidak ragu lagi kalau kisah ini akan begitu menarik, sebab Tere Liye selalu memberikan rasa baru pada seri novelnya.

Mengangkat premis cerita yang sama pada buku pertamanya, yakni membantu kliennya keluar dari sejumlah kasus dan tuduhan korupsi, Thomas berusaha menggunakan keahliannya serta pengalaman pada buku pertama untuk menyelesaikan tugasnya. Dengan tujuan supaya sang klien bisa menjadi kandidat partai yang bersih untuk mewujudkan negara dengan sistem pemerintahan dan demokrasi yang baik.

Kendati begitu tidak menurunkan eksistensi cerita dan alur yang menegangkan karena kali ini lawan Thomas juga jauh lebih ‘buas’ dan sulit untuk dikalahkan. Mengangkat kisah politik, kali ini penulis mengambil beberapa isu politik yang juga sering terjadi di negara-negara lain termasuk Indonesia.

Tidak lupa, Tere Liye juga memberikan gambaran yang gamblang tentang baik buruknya dunia perpolitikan di sebuah negara. Dimana sesungguhnya begitu sulit membedakan mana yang benar dan salah. Bahwa sebenarnya dunia politik seperti zona abu-abu yang begitu besar.

Bisa jadi apa yang terlihat baik justru begitu buruk, dan juga sebaliknya. Baik di negara maju hingga berkembang setiap negara memiliki warna politiknya yang berbeda, termasuk dengan permasalahannya. Maka dari itu Tere Liye melanjutkan gagasan kritisnya dengan cara yang indah melalui karya sastra atau tulisannya ini.

Sebagai penulis yang terampil Tere Liye cukup berani mengambil tema yang rawan ini. Mengapa? Terlepas dari pelik dan sensitifnya permasalahan politik pada sebuah negara, merupakan tugas yang sulit untuk menjadikan sebuah kisah yang menarik dengan politik sebagai landasannya.

Gambaran dunia politik yang bagaikan mimpi buruk itu juga dipaparkan dengan rinci. Bahwa selalu ada orang-orang dengan ribuan topeng yang berdiri memegang kekuasaan. Ada pula ‘lingkaran setan’ yang berisi para mafia hukum dengan strata sosial dan kedudukan yang berbeda. Dimana mereka seperti membentuk piramida politik yang saling mengatur.

Tere Liye sebagai penulis handal telah mengerahkan segenap keahliannya dalam menciptakan universe ini. Maka, benar saja bahwa novel ini sudah begitu laris manis dan terjual hingga ratusan kali cetak.

Review Novel Negeri di Ujung Tanduk

Profil Penulis

Tere Liye, merupakan salah satu penulis besar Indonesia dengan bukti karya tulisnya yang amat dicintai dan indah. Mulai dari sajak, kumpulan cerpen dan puisi, novel hingga seri dongeng anak-anak pun sudah dilahap semua oleh pria bernama asli Darwis.

The Architecture of Love | Di balik Pena

Seorang Tere Liye yang terkenal pandai dalam membawakan pengalaman yang roller coaster pada pembacanya, juga membuat setiap novel yang diterbitkan semakin laris manis dan selalu menduduki puncak best seller

Begitu pula dengan seri Negeri Di Ujung Tanduk ini. Novel ini juga mendapatkan antisipasi besar dari pembaca. Di sisi lain, background penulis yang bekerja dan telah berkecimpung dalam bidang ekonomi juga banyak mempengaruhi pengetahuannya terhadap inti cerita.

Sehingga ada begitu banyak pengetahuan seputar ekonomi dan politik yang dihadirkan dalam novel Negeri Di Ujung Tanduk ini, dengan pemahaman yang baik dari sang penulis. Sebagai penulis senior, Tere Liye juga terkenal begitu mendetail dalam memberikan gambaran sehingga meskipun kisah yang diceritakan merupakan fiksi, tapi tetap terasa begitu nyata dan realistik.

Review Novel Negeri di Ujung Tanduk

Tentang Novel Negeri Di Ujung Tanduk, Tere Liye

Sinopsis

Kisah Negeri Di Ujung Tanduk ini merupakan lanjutan dari perjalanan Thomas dan teman-temannya dalam memperjuangkan kebenaran. Dengan setting waktu setahun setelah peristiwa Om Liem, Thomas kembali menjalankan kehidupannya di negeri yang berada pada tanduk demokrasi.

Cerita bermula pada suatu klub petarung yang kali ini diadakan di Makau. Para anggota klub melakukan duel seru yang dihadiri seluruh anggota dari belahan negara manapun termasuk Thomas. Dalam duelnya Thomas mampu menang atas Lee, yang juga seorang pengusaha besar sekaligus relasi baiknya.

Thomas kini tidak lagi menjadi seorang konsultan ekonomi, kasus yang ditanganinya selepas Bank Semesta seolah membukakan pemikirannya untuk beranjak pada level yang lebih luas yakni politik. Ketertarikan Thomas pada dunia politik juga dipicu dari obrolannya dengan JD tahun lalu yang ditemuinya di London.

Bagi Thomas, JD ini merupakan sosok politikus yang bersih dan sangat baik. Dirinya juga menyatakan ingin sekali mewujudkan politik negara yang bersih dan sehat, akan tetapi hal itu tentu sangat sulit. Pada saat itu JD merupakan seorang gubernur, dimana dia juga begitu berhati-hati dalam melakukan pekerjaannya sebab ada begitu banyak orang-orang dalam lingkaran politik yang ‘berbahaya’.

Dari diskusi mereka, Thomas pun kemudian memilih berpindah pada ranah politik karena dirinya juga menginginkan sebuah negara yang bersih. Dan untuk mewujudkannya hanya dapat dilakukan melalui kedudukan tertinggi di negara, yakni presiden.

Kini Thomas yang telah menjadi seorang konsultan politik, sudah memiliki cukup banyak pengalaman memegang klien yang ingin menjabat, misalnya dari walikota menjadi gubernur. Saat ini dirinya membantu JD sebagai klien untuk bisa menjadi kandidat partai untuk calon presiden mendatang.

Namun rupanya sebuah kasus dituduhkan pada kliennya, dengan tujuan mencoreng nama baik JD sebagai kandidat. Usut punya usut, rupanya itu adalah perbuatan kubu lawan JD yang tidak segan-segan melemparkan kasus korupsi besar-besaran pada JD, saat dirinya menjabat sebagai gubernur tahun lalu.

Mendengar hal ini Thomas sontak langsung menarik diri kembali ke Indonesia, akan tetapi dalam perjalanannya di kapal Makau dirinya justru ditahan oleh satuan unit khusus yang berada pada otoritas Hong Kong.

Hal ini tentu membuat Thomas tidak dapat tiba di Jakarta sesuai waktu yang dijadwalkan, padahal di sisi lain akan ada konvensi partai untuk mengumumkan calon kandidat dari partai milik JD. Namun, dengan beruntung Thomas mendapatkan bantuan dari Lee yang dikalahkannya di pertarungan dan membantu Thomas kabur untuk pulang ke Jakarta.

Setibanya disana, Thomas langsung berhadapan dengan kasus penangkapan kliennya itu atas tuduhan korupsi. Mau tidak mau Thomas perlu berpikir cepat untuk mencari jalan keluarnya, sebelum berita tentang dirinya yang tiba di Jakarta tersebar ke seluruh satuan interpol.

Akan tetapi tidak akan mudah perjalanan Thomas kali ini, sebab ada sejumlah mafia hukum yang berusaha menjatuhkan dirinya dan klien demi mencapai tujuan mereka. Dalam mencari solusinya, Thomas juga harus menghadapi sejumlah hal yang membuat dirinya harus kembali mengingat kenangan masa lalunya.

Di sisi lain, Thomas masih dibantu lagi dengan beberapa karakter kepercayaannya dari buku pertama seperti Maggie, sang sekretaris multitasking yang cekatan dan patuh pada Thomas. Juga Maryam, wartawan yang banyak membantunya dalam mendapatkan link pada banyak petinggi dan sekutunya.

Ada pula Kris seorang IT expertise yang membantunya menelusuri berbagai data bahkan ketika hal tersebut sangat tidak mungkin diakses, hingga beberapa kawan lainnya yang ikut andil membantunya dan membawa dampak yang begitu besar akan berhasil atau tidaknya rencana-rencana Thomas.

Dalam novel Negeri Di Ujung Tanduk ini juga mempercayai, bahwa alasan lahirnya sejumlah istilah tidak lain karena setiap peristiwa yang dialami Thomas. Bahkan istilah seperti breaking news, juga lahir karena Thomas.

Lantas, bagaimana akhirnya? Apakah Thomas berhasil membalikan keadaan? Siapa sebenarnya dalang di balik para mafia hukum ini? kamu dapat membaca kisahnya selengkapnya dalam novel Negeri Di Ujung Tanduk ini.

Review Novel Negeri di Ujung Tanduk

Kelebihan

Kendati merupakan buku kedua yang merupakan lanjutan dari Negeri Para Bedebah, tidak menurunkan intensitas ketegangan setiap kisahnya pada novel kedua ini. Dari kisahnya sepanjang 360 halaman tidak membuat pembaca bosan dan ingin terus membacanya.

Mengambil cerita yang dapat dibilang selangka lebih berat dari pada buku pertama, membuat perjalanan Thomas menjadi semakin menarik dan penuh aksi. Mulai dari aksi baku hantam, tembak menembak yang penuh strategi dan solusi yang diluar dugaan membuat alur yang padat menjadi begitu memikat.

Dalam kisah Negeri Di Ujung Tanduk ini Tere Liye menghadirkan sejumlah permasalahan yang jauh lebih pelik dan berat yang membuat novel ini menjadi semakin berkualitas. Belum lagi pemahaman yang baik dari penulis mampu memberikan gambaran hitam putihnya dunia politik dengan cara yang mudah dipahami.

Kisah Thomas ini juga tidak lupa diikuti dengan flashback pada masa lalunya yang sedikit banyak membantu dirinya memecahkan beberapa permasalahan. Menariknya, dalam novel kedua ini ada pula kemunculan karakter-karakter baru yang membuat alur cerita semakin berwarna.

Pembaca buku pertama juga mampu bernostalgia lagi dengan kehadiran tokoh lama yang hadir pada buku pertama dengan memiliki karakter yang semakin kuat. Contohnya pada karakter Thomas atau Tommi itu sendiri, kita menjadi merasa semakin kenal dekat dengan karakternya dan seperti apa perubahannya dari dulu hingga saat ini ketika sudah menjadi konsultan politik.

Kekurangan

Buku dengan politik dan ekonomi sebagai topik bahasan utama, memang tidak pernah sederhana. Terlebih lagi bagi buku yang mengulas seluk beluk perpolitikan dimanapun, begitu juga buku ini. Tere Liye sebagai penulis sudah begitu cakap dan baik dalam memberikan nafas politik yang membungkus cerita Thomas dan sekutunya.

Namun bagi pembaca yang kurang familiar dengan dunia politik, akan sedikit sulit mencerna awal kisah perjalanan dengan segala istilah politik yang mungkin cukup membuat kita berhenti sejenak untuk menyerapnya. Namun hal ini tidak menurunkan keindahan ceritanya.

Review Novel Negeri di Ujung Tanduk

Nilai Moral dari Negeri di Ujung Tanduk

Bukan Tere Liye kalau tidak membubuhkan nilai moral dan pesan kemanusiaan dalam novel-novelnya. Begitu pula dalam novel Negeri Di Ujung Tanduk ini. Meskipun kisahnya menceritakan petualangan penuh aksi dan membahas politik, ada banyak hal yang dapat dipetik dari kisah perjalanan Thomas ini.

Dari Thomas sang tokoh utama ada banyak nilai yang mampu kita pelajari yakni sikap mandiri yang ditunjukan dari dirinya yang berjuang hingga kini dengan menempuh pendidikannya dan mendapatkan pekerjaannya.

Thomas juga dikenal sebagai sosok yang optimis, visioner, teguh, disiplin dan percaya diri. Hal tersebut membuat Thomas begitu disegani dan juga dipercaya oleh orang-orang terdekatnya. Hal ini juga yang menjadi alasan mengapa Thomas mampu bertahan dalam dunia yang begitu bengis dan penuh dengan para orang bertopeng.

Dari Thomas kita juga belajar bahwa menjadi seorang yang peduli dan jujur akan mendapatkan banyak bantuan bahkan saat kita tidak memintanya. Dan itulah yang terjadi dan konsisten ditunjukan pada karakter Thomas dari buku pertama hingga kedua ini.

Selain itu, ada juga karakter seperti Maggie yang tekun dan bertanggung jawab atas pekerjaannya. Dia juga merupakan sosok yang sangat setia dengan Thomas, sehingga mendapatkan kepercayaan yang besar juga dari Thomas.

Dari beberapa karakter lainnya kita juga mampu belajar ketekunan dalam melakukan pekerjaannya. Bahkan tokoh Opa juga menggambarkan kesabaran dan kewibawaan seseorang. Sehingga dirinya juga menjadi tempat Thomas belajar banyak hal.

Berdasarkan karakter yang dimiliki para tokoh protagonis juga menyadarkan kita akan pentingnya kepedulian terhadap sesama dan membantu satu sama lainnya. Hal ini jika diterapkan dalam kehidupan kita juga akan membawa sejumlah kebaikan nantinya.

Berdasarkan kepedulian ini juga membawa Thomas merasa perlu menegakan keadilan dalam membersihkan politik dan demokrasi di negara. Di Negara Di Ujung Tanduk, Tere Liye menceritakan kisah perjuangan sang tokoh utama yang peduli terhadap klien dan rekannya, juga terhadap demokrasi yang sedang berada diujung tanduk.

Menurut topik tersebut, kepedulian tokoh utama terhadap demokrasi mampu membuat dirinya optimis dan kuat dalam menjalankan misi yang sulit. Akan tetapi ada pula kaum yang tidak peduli dengan kondisi politik negara dan membuat sistem demokrasi menjadi tidak dapat bergerak bebas seperti seharusnya.

Dari para mafia hukum, menggambarkan bahwa masih banyak diluar sana orang-orang yang menyimpang dari nilai moral dan dengan bebas melakukan sejumlah kebohongan dan sifat buruk lainnya. Penyimpangan moral tersebut berupa pengkhianatan, kemunafikan dan juga ketamakan.

Penulis juga menggambarkan adanya orang-orang bertopeng yang begitu penuh kebohongan, dimana mereka seringkali bertindak berbeda dengan citra yang digambarkan. Diluar terkesan baik dan amanah namun bermain curang dibelakang.

Orang-orang ini juga berkumpul dalam satu lingkaran setan dimana tidak satupun dari mereka yang masuk tidak mampu keluar lagi. Inilah mengapa menjadi lingkaran setan yang terus mendatangkan keburukan. Mereka adalah orang-orang yang diselimuti oleh kebohongan, ketamakan, dan kesombongan.

Tere Liye sebagai seorang sastrawan seolah ingin memberikan kritik pada sistem politik yang sangat tidak transparan. Dalam novel Negeri Di Ujung Tanduk, digambarkan bahwa sebuah negara berada pada kondisi politik yang sedang tidak baik-baik saja.

Dimana demokrasi negara tidak bisa lagi bebas, struktur pemerintahan yang dikuasai oleh orang-orang berkepentingan, dan sistem hukum yang sangat tidak transparan. Hal ini membuat sebuah politik negara mampu dikendalikan oleh satu orang yang semuanya dikerahkan demi memperkaya diri dan untuk keuntungan sendiri.

Meskipun harus menempuh berbagai cara yang akan mencelakai dan merugikan orang lain. Melalui Negeri Di Ujung Tanduk kita belajar bahwa politik mungkin menjadi sebuah papan permainan, dan para petinggi-petinggi pemerintahan sebagai bidak-bidaknya. Namun siapa pembuat permainan tersebut tidaklah penting.

Selama kita sebagai warga negara dan generasi yang baru tidak meneruskan hal buruk tersebut, dengan upaya menanamkan kemandirian dan kejujuran seperti Thomas mulai dari hal sederhana. Maka tidak akan sulit bagi kita meneruskan kebaikan demi demokrasi dan politik yang lebih sehat, seperti keinginan Thomas.

Meskipun kisahnya hanya fiksi, namun Tere Liye seolah memberikan harapan bahwa suatu saat nanti akan ada generasi baru yang mampu mewujudkan fiksi ini menjadi nyata.

Review Novel Negeri di Ujung Tanduk

Written by Ananda