in

Memahami People Pleaser dan 17 Cara Menghentikannya!

https://projectlifemastery.com/

People Pleaser – Seiring berkembangnya zaman, istilah untuk menggambar suatu hal juga akan turut berkembang kok, sekalipun di dunia psikologi.  Salah satunya adalah kemunculan dari istilah people pleaser yang merujuk pada kebiasaan seseorang untuk selalu berkeinginan menyenangkan orang lain. Yap, orang yang people pleaser ini seolah menomorsatukan kesenangan orang lain tetapi tidak pernah memikirkan sekalipun bagaimana kondisi dirinya sendiri.

https://thegazelle.org/

Sekilas, people pleaser ini terlihat sepele tetapi jika kebiasaan tersebut terus-menerus berlangsung bahkan hingga dewasa, dampaknya akan sangat berpengaruh pada psikologi individu tersebut. Faktanya, kebiasaan people pleaser ini ternyata juga dapat disebabkan oleh keturunan genetik. Artinya, jika kedua orang tua kita adalah seorang people pleaser, ada kemungkinan diri kita pun juga akan demikian melalui pola asuh mereka.

Lantas sebenarnya, apa sih people pleaser itu? Apa saja dampak yang dirasakan oleh para people pleaser hingga dewasa? Bagaimana cara menghentikan kebiasaan berusaha menyenangkan hati orang lain? Yuk, segera simak ulasannya berikut ini!

Apa Itu People Pleaser?

 

Pada dasarnya, membuat orang lain merasa senang atau bahagia itu hal terpuji kok. Namun, perlu diperhatikan lagi apakah dalam prosesnya memang benar-benar berjalan lancar atau ternyata malah harus “mengorban” perasaanmu sendiri?

Menurut Kamus Cambridge, istilah “people pleaser” ini merujuk pada kebiasaan seseorang yang terlalu peduli jika orang lain akan menyukai dirinya atau tidak. Alhasil, seorang people pleaser biasanya sangat membutuhkan validasi dari orang lain untuk semua hal yang dilakukannya. Tidak hanya itu saja, seorang people pleaser juga seolah menempatkan kesenangan orang lain diatas kesenangannya sendiri. “Yang penting dia senang, aku mah urusan nanti…”

https://www.pexels.com/monstera

Yap, seorang people pleaser cenderung sulit mengatakan “tidak” kepada orang lain. Misalnya, Meta yang merupakan seorang people pleaser, tengah merasa lelah sepulangnya kuliah. Namun tiba-tiba, rekannya Joss, datang dan memintanya untuk membelikan siomay di depan gang. Meta seharusnya bisa menolak permintaan tersebut dan lebih memikirkan dirinya sendiri untuk istirahat, tetapi dirinya malah menerima permintaan Joss supaya rekannya tersebut merasa senang.

Dilansir dari student-activity.binus.ac.id, dua ahli ternama Merriam Webster & Susan Newman pun turut mengemukakan pendapatnya terkait definisi people pleaser. Menurut mereka, people pleaser adalah kebiasaan seseorang yang selalu berusaha melakukan sesuatu yang membuat orang lain senang, sekalipun hal tersebut bertentangan dengan dirinya sendiri. Itu semua dilakukannya adalah supaya tidak mengecewakan orang lain.

Fakta mencengangkan, ternyata kebiasaan people pleaser ini benar-benar terjadi dirasakan oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pernah ada sebuah survey kepada 102 orang dan hasilnya adalah 77,5% responden merasa bahwa mereka sangat takut dibenci oleh orang lain atas satu kesalahan dan menolak permintaan mereka, sekalipun dalam kondisi tidak memungkinkan.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa kebiasaan people pleaser adalah kebiasaan yang terlalu memikirkan opini orang lain tentang bagaimana dirinya dan sangat bergantung pada validasi orang lain. Atas dasar itulah, seorang people pleaser biasanya akan sulit berkata “tidak” pada permintaan orang lain, sekalipun dirinya tengah berada di kondisi tidak memungkinkan untuk memenuhi permintaan tersebut. Semua hal tersebut semata-mata dilakukan untuk menyenangkan orang lain. 

Ciri Utama Seorang People Pleaser

https://amazonaws.com/

Sebenarnya, ciri-ciri yang melekat pada seorang people pleaser itu ada banyak. Namun, berikut ini ciri utama dari seorang people pleaser.

1. Tidak Berani Berkata “Tidak”

Ciri pertama seorang people pleaser adalah tidak berani berkata “tidak” pada keinginan orang lain. Hal seperti ini sering terjadi lho di Indonesia. Contoh sederhana, saat Grameds tengah sekolah dan menghadapi tugas yang seabrek itu, tiba-tiba datang teman yang meminta contekan jawaban tugas.

Grameds yang ternyata adalah seorang people pleaser, merasa sulit dan tidak berani untuk berkata “tidak, kamu kerjakan sendiri dong tugas itu!”. Alih-alih menjawabnya seperti itu, Grameds malah menyetujui permintaannya dan mengirimkan contekan jawaban tugas.

Filosofi: Bentuk Refleksi diri Natasha Rizky melalui buku “Kamu Tidak Istimewa”

2. Seolah Harus Bertanggung Jawab Atas Perasaan Orang Lain

Apabila Grameds adalah seorang people pleaser dan membaca artikel ini, tolong dipahami sekali lagi bahwa apapun perasaan orang lain itu bukanlah tanggung jawab kita. Namun berbeda lagi kasusnya jika seseorang tersebut merasa kecewa karena kita membatalkan janji yang telah jauh-jauh hari dijanjikan.

Dalam hal ini, maksudnya adalah people pleaser seringkali merasa bahwa dirinya harus turut bertanggung jawab untuk membuat orang lain senang. Alhasil, seorang people pleaser akan turut “berkesusahan” untuk membuat orang lain merasa senang, TANPA memikirkan dirinya sendiri.

3. Sering Berkata “Maaf” dan Menganggap Semuanya Adalah Kesalahannya

Sebenarnya, mengucapkan kata “maaf” saat kita memang merasa bersalah pada orang lain itu adalah hal terpuji kok. Namun, jangan terlalu sering merasa bersalah dan seolah membuat diri kita sendiri tidak berharga atau tidak berdaya.

Ciri people pleaser yang selanjutnya adalah sering mengatakan “maaf” dan menganggap semua yang terjadi adalah salahnya. Contoh sederhana, Grameds meminta maaf kepada teman-teman sekelompok tugas karena presentasi tidak berjalan lancar. Padahal sebenarnya, presentasi tersebut tidak berjalan lancar karena memang semua anggotanya kurang persiapan saja. Namun Grameds seolah merasa itu adalah salah Grameds sendiri.

Penyebab Munculnya Kebiasaan People Pleasing

https://huffingtonpost.com/

1. Pola Asuh Keluarga

Entah ini dapat dianggap hal miris atau tidak, tetapi ternyata kebiasaan people pleasing itu salahnya satunya datang dari pola asuh orang tua di keluarga. Menurut Lencer (2018), kebanyakan anak-anak merasa harus patuh akan keinginan orang tua supaya mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Padahal sebenarnya, kasih sayang orang tua itu harus diberikan kepada anak tanpa syarat apapun.

Anak-anak harus merasa patuh itu dapat dibuktikan dengan tidak diberikannya kebebasan berpendapat. Coba deh Grameds ingat-ingat kembali bagaimana pola asuh orang tua kita. Kebanyakan memang pola asuh keluarga di Indonesia itu membatasi kebebasan berpendapat anaknya karena merasa anaknya masih terlalu kecil untuk mengeluarkan unek-unek.

Mulai dari cara berpakaian, model rambut, hingga jurusan kuliah sekalipun, biasanya ditentukan oleh orang tua. Sang anak pun tidak bisa membantah karena takut dimarahi, takut kasih sayang orang tua mereka berkurang, dan bahkan takut ditimpali dengan kata-kata bahwa mereka bukan anak berbakti. Mungkin sekilas hal itu sepele, tetapi ternyata beberapa perkataan menyakitkan dari orang tua sangat membekas lho di ingatan anak, sekalipun sudah dewasa.

Kabar baiknya, saat ini para orang tua milenial Indonesia sudah mulai meninggalkan pola asuh tersebut dengan memberikan kebebasan lebih kepada anak untuk beropini dan menciptakan pengalaman baru. Untuk kebebasan ini, tidak harus membebaskan anak yang sangat bebas seolah tidak ada pengawasan, tetapi berikan kelonggaran sedikit untuknya dalam beropini.

Tanyakan apa hal-hal yang disukainya, model pakaian dan warna apa yang disukainya, hingga jurusan kuliah yang diimpikannya sejak kecil. Apabila jawaban dari anak-anak tersebut ada yang menyimpang dari nilai-nilai, berikan saja pemahaman secara perlahan, tidak perlu marah-marah hingga mencebik mereka sebagai anak tidak berbakti.

2. Besarnya Ekspektasi Orang Tua

Tak jarang, ekspektasi orang tua terhadap anaknya yang terlalu tinggi tentang bagaimana masa depan itu malah membuat sang anak menjadi pribadi people pleaser. Ekspektasi orang tua yang selalu berfokus pada hasil saja justru mengakibatkan anak akan merasa bahwa dirinya akan mendapatkan kasih sayang jika berhasil mewujudkan ekspektasi tersebut.

Jika sudah begitu, sang anak akan memiliki pola pikir bahwa apabila hasil kerjanya buruk, maka dirinya tidak layak mendapatkan kasih sayang dari orang tua. Seiring bertambahnya usia, kebiasaan tersebut akan menciptakan pribadi people pleaser yang selalu berkata “maaf” sekalipun bukan kesalahannya dan tidak berani berkata “tidak” pada permintaan orang lain.

3. Hukuman Dari Orang Tua Yang Tidak Konsisten

Dalam pola asuh anak, memberikan hukuman dan hadiah itu adalah hal yang harus dilakukan oleh orang tua. Hukuman diberikan jika sang anak melanggar aturan yang telah ada, tetapi hukuman tersebut tidak boleh secara berlebihan atau bahkan mampu menyakiti fisiknya.

Sayangnya. beberapa orang tua sering memberikan hukuman kepada anak-anaknya secara tidak adil dan tidak konsisten. Alhasil, sang anak akan merasa akan selalu hati-hati supaya tidak dihukum.

Dampak Menjadi People Pleaser Seiring Berjalannya Waktu

https://squarespace-cdn.com/

Kebiasaan people pleaser yang terjadi sejak kecil ternyata sangat berpengaruh pada psikologisnya saat dewasa lho. Apalagi jika sudah di dunia kerja, ada kemungkinan kebiasaan itu akan dimanfaatkan oleh orang jahat karena dirinya tidak berani dan tidak bisa menolak permintaan orang lain. Nah, berikut ini beberapa dampak menjadi seorang people pleaser.

1. Menjadi Rendahnya Harga Diri

Dampak pertama yang akan dirasakan seorang people pleaser saat beranjak dewasa adalah rendahnya harga diri mereka. Yap, seorang people pleaser akan terus-menerus merasa bahwa mereka tidak berhak dicintai orang lain jika tidak berhasil berperilaku baik. Hal tersebut seolah menggambarkan bahwa harga diri mereka pun turut bergantung pada seberapa banyak orang yang menyukai dirinya.

2. Tidak Mampu Memprioritaskan Diri Sendiri

Sebenarnya, membantu orang lain itu adalah suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh semua insan manusia. Namun perlu diperhatikan lagi bahwa kita pun harus memprioritaskan diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain.

Sayangnya, seorang people pleaser memilih untuk mengorban dirinya sendiri, baik itu waktu maupun perasaan, demi membantu orang lain. Semua itu terjadi karena seorang people pleaser tidak berani mengatakan “tidak” pada permintaan orang lain.

3. Akan Selalu Merasa Terbebani Hidupnya

Seperti yang dikemukakan sebelumnya, seorang people pleaser akan kesulitan menolak permintaan orang lain karena takut akan dibenci jika sudah berlaku demikian. Alhasil, dirinya akan terus-menerus merasa hidupnya sangat terbebani.

4. Tidak Memiliki Opini Sendiri Atas Suatu Hal

Biasanya, seorang people pleaser sangat takut akan konfrontasi terhadap orang lain sehingga seberusaha mungkin untuk menuruti keinginan orang lain. Alasan lain adalah seorang people pleaser takut menyinggung orang lain dan tidak berani mengutarakan bagaimana pendapatnya. Menurutnya, lebih baik menuruti keinginan orang lain daripada bertengkar dengan orang lain karena opini yang dilontarkannya.

5. Selalu Merasa Menanggung Kesalahan Orang Lain

Seperti ciri-ciri yang telah dikemukakan sebelumnya, seorang people pleaser sering mengatakan kata “maaf” dan seolah bertanggung jawab akan kesalahan orang lain, sekalipun itu di luar kendalinya sendiri. Menurutnya, hal tersebut menjadi langkah tercepat untuk menghindari konflik walaupun harus mengambil tanggung jawab atas kesalahan yang tidak diperbuatnya sama sekali.

6. Terjebak Dalam Hubungan Toxic

Apakah Grameds tahu bahwa jika harga diri kita rendah, justru akan membuat diri kita mudah mempercayai segala ejekan, olokan, atau tuduhan orang lain terhadap diri kita. Hal tersebut ternyata dapat membuat seorang people pleaser terjebak dalam sebuah hubungan toxic.

Dari adanya harga diri yang rendah tersebut, seorang people pleaser akan mudah mempercayai segala ejekan bahkan tuduhan dari pasangan. Alhasil, hal tersebut membuat sang people pleaser bahwa segala masalah itu datang padanya, bukan pasangannya.

Bagaimana Cara Berhenti Menjadi Seorang People Pleaser?

https://www.verywellmind.com/

Menurut Braiker, ternyata kebiasaan people pleaser itu dapat dihentikan lho, tetapi secara bertahap.

  1. Selalu berpikir secara matang sebelum menjawab permintaan dari seseorang.
  2. Sekali mengatakan jawaban “tidak” pada permintaan orang lain, ulangi kembali supaya diri kita tidak ‘luluh’ untuk menerima permintaan yang menyulitkan diri sendiri tersebut.
  3. Lakukan sandwich technique, yakni dengan menolak permintaan dengan mengatakan pernyataan positif, kemudian pernyataan negatif, dan disusul dengan pernyataan positif lagi.
  4. Lakukan reverse sandwich technique, yakni dengan menolak permintaan dengan pernyataan negatif, kemudian pernyataan positif, dan diakhiri dengan pernyataan negatif lagi.
  5. Minimalisir meminta maaf setelah mengatakan “tidak” atas permintaan orang lain.
  6. Tidak memaksakan diri sendiri untuk melakukan sesuatu yang sekiranya menyulitkan.
  7. Lakukan minimal 2 aktivitas yang kamu sukai dalam setiap harinya.
  8. Berikan approval alias persetujuan pada diri sendiri setiap harinya.
  9. Belajar membagi tugas dengan orang lain, sehingga tidak semua tugas kita kerjakan sendiri.
  10. Jangan sering melakukan semua tugas seorang diri hanya karena ingin hasilnya sempurna saja.
  11. Tuliskan 10 hal tentang siapa diri kita, tanpa menggunakan kata “baik”. Mintalah pula pada keluarga atau teman untuk melakukan hal itu juga.
  12. Lakukan pernafasan lambat supaya tubuh lebih rileks.
  13. Lihatkan berbagai masalah dari sudut pandang berlebihan, kemudian dari sudut pandang yang rasional.
  14. Lakukan time out untuk meredakan emosi sebelum mendiskusikan suatu masalah.
  15. Tangani konflik apapun tanpa kata-kata berlebihan. Jangan pula menyerang ranah personal, tanpa menuduh, dan lakukan secara empati.
  16. Gunakan teknik gardol shield yakni dengan mengubah persepsi bahwa perkataan orang lain itu tidak bisa menyakiti diri kita.
  17. Lakukan pula teknik coach on your shoulder, yakni dengan berpikir dari sudut pandang orang ketiga akan masalah tersebut.

7 Rekomendasi Buku Terkait

1. Behavioristik: Teori-teori Kepribadian

Behaviorisme atau yang juga dikenal dengan psikologi behavioral merupakan suatu teori belajar yang hanya memperhatikan tingkah laku yang dapat diamati. Teori ini bertumpu pada ide bahwa semua tingkah laku diperoleh melalui pembelajaran, dan pembelajaran terjadi melalui interaksi individu dengan lingkungan.

Dalam behaviorisme, tingkah laku dipelajari melalui pengkondisian klasik, pengkondisian operan, dan belajar sosial. Sejumlah teori behavioristik atau teori belajar yang berbeda muncul untuk menjelaskan proses dan alasan orang-orang bertingkah laku dalam cara tertentu. Teori-teori behavioristik tentang perkembangan tingkah laku terpusat pada pengaruh-pengaruh lingkungan terhadap proses belajar.

Buku ini membahas tentang beberapa pandangan kepribadian behavioristik beserta para pelopornya, yakni Analisis Behavioral dari B.F. Skinner, Teori Kognitif Sosial dari Albert Bandura, dan Teori Belajar Sosial Kognitif dari Julian B. Rotter dan Walter Mischel.

Selain pandangan dari keempat tokoh tersebut, dibahas pula beberapa pandangan behavioristik dari tokoh perintis behaviorisme lainnya, yakni Ivan Pavlov, Edward Thorndike, dan John Watson.

Kehadiran buku ini diharapkan dapat menambah wawasan pembaca tentang latar belakang teori behavioristik dan pandangan dari pelopornya menyangkut hal-hal yang bersifat subjektif— pengalaman pribadi dan istilah yang digunakan para pelopor teori dalam memperkaya teorinya.

2. Teori Psikologi Kepribadian

Manusia dimotivasi oleh dorongan sosial yang berelasi dengan orang lain. Mengembangkan gaya hidup yang unik secara sadar, manusia adalah tuan, bukan korban dari nasib. Kajian-kajian tentang manusia terus dilakukan tanpa henti sesuai peningkatan dan perkembangan zaman, di mana manusia juga dituntut untuk menyesuaikan diri. Hal ini menyebabkan kepribadian manusia ikut berubah-ubah mengikuti arus zaman.

Buku Teori Psikologi Kepribadian ini menjelaskan secara mendalam bagaimana manusia dengan latar belakang kehidupannya yang berbeda-beda berusaha untuk memahami fitrahnya sebagai makhluk hidup. Buku terbitan Rafika ini akan membawa pembaca untuk menelusuri ciri khas pemikiran para psikolog dunia dalam memandang manusia sebagai pribadi yang unik, adaptif, dan kreatif.

3. Bipolar Seri Personality Disorder Dan Berbagai Hal Tentangnya

Pernah ketemu kan sama orang yang tadinya sedih, tiba-tiba mendadak jadi bahagia dan sebaliknya sedih lagi dalam waktu yang cepat. Bipolar adalah sejenis gangguan suasana hati yang kadang bisa sangat bahagia, tetapi terkadang juga bisa sangat jauh dari kebahagiaan.

Sayang, saat itu saya yang merasa masih awam akhirnya berusaha mencari tahu tentang bipolar. Saya berusaha menggali lebih banyak lagi tentang bipolar. Saya membaca banyak sekali buku psikologi dan berbagai buku seputar mindfulness untuk mencari tahu berbagai hal tentang bipolar.

Gangguan bipolar, menurut National Institute of Mental Health (NIMH), adalah gangguan otak yang ditandai dengan perubahan suasana hati, energi, dan tingkat aktivitas. Penderita bipolar mengalami perubahan suasana hati yang berubah-ubah dan cenderung meledak-ledak.

Hal ini tidak hanya terdapat pada perubahan hati yang biasa dirasakan oleh para perempuan ketika sedang mengalami menstruasi. Bipolar juga dikenal sebagai depresi manik, ini adalah gangguan mood atau suasana hati yang membawa suasana hati seseorang ke dua fase yaitu tinggi dan rendah terkadang seseorang bisa sangat bahagia. Namun ada kalanya orang tersebut bisa sangat sedih atau depresi. Buku ini menjabarkan gejala-gejala bipolar dan bagaimana mengusahakannya untuk dalam kontrol.

Apakah orang dengan gejala bipolar bisa sembuh? Apakah wajib seorang bipolar untuk mengunjungi psikolog/psikiater? Bagaimana kita sebagai orang biasa menghadapi mereka yang menunjukkan gejala bipolar? Apakah bipolar ini sangat mengganggu? Temukan jawabannya di dalam buku ini.

4. Psikologi Kepribadian

Psikologi kepribadian kaya dengan bermacam-macam teori dalam menggambarkan dan menentukan kepribadian individu. Untuk mendapatkan ikhtisarnya, di dalam buku ini dikemukakan penggolongan psikologi kepribadian yang telah ada sampai dewasa ini.

Penggolongan tersebut didasarkan pada metode yang digunakan, komponen kepribadian yang dipakai sebagai landasan, dan cara pendekatan. Dari ketiga dasar penggolongan tersebut, muncullah berbagai psikologi kepribadian, seperti tipologi Kant, Teori Psikoanalisis, Teori Spranger, Teori Kepribadian Ludwig Klages, Teori Biososial, dan masih banyak lagi. Semuanya dijelaskan di dalam buku ini secara jelas dan tuntas.

5. Deteksi Kepribadian

Personal Steady di kalangan orang makin terancam. Kalau ini dibiarkan terjadi terus-menerus sebagai tekanan sosial, tetapi tidak diimbangi mental hygiene yang kuat secara menyeluruh dari sendi-sendi kehidupan masyarakat, maka akan mengalami mental breakdown.

Dalam masa pergolakan sekarang ini, banyak orang mengalami apa yang dinamakan shell shock dan corrupneurose dalam masyarakat modern, atau masyarakat global karena anggota masyarakat tidak semuanya siap mental dalam penguasaan ilmu pengetahuan.

Di akhir-akhir bab dalam buku ini, para pembaca akan disajikan dengan seni dan teknik dalam membaca kepribadian, bagaimana memanfaatkan potensi karakter, pengukuran dan penilaian kepribadian, serta berbagai gangguan yang akan dialami oleh seseorang yang terkait dengan kepribadiannya.

Penulis: Rifda Arum Adhi P

Sumber:

  • https://kc.umn.ac.id/17108/9/BAB_II.pdf
  • https://student-activity.binus.ac.id/himpsiko/2021/12/berhenti-menjadi-people-pleaser/
  • https://www.verywellmind.com/how-to-stop-being-a-people-pleaser-5184412


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Rifda Arum

Perkembangan dunia industri kreatif berkembang dengan pesat. Kpop, Kdrama, dan Kfilm sudah tersebar dan disukai oleh banyak orang, salah satunya saya yang suka dengan kebudayaan Korea.