in

10 Ciri Orang yang Menghargai Diri secara Berlebihan, Apakah Kamu Memilikinya?

Menghargai diri itu penting adanya, namun jika berlebihan bisa membuat orang lain merasa risih. Misalnya, Grameds terus-menerus memamerkan pencapaianmu, selalu ingin jadi pusat perhatian, atau merasa kamu lebih baik dari orang lain dalam segala hal, itu bisa jadi tanda menghargai diri secara berlebihan.

Orang yang terlalu menghargai diri sendiri cenderung sulit menerima kritik dan mungkin menganggap pendapat orang lain kurang penting. Ini bisa merusak hubungan dan membuat orang lain merasa nggak nyaman.

Jadi, penting untuk tetap percaya diri tapi juga rendah hati, menghargai kelebihan diri tanpa meremehkan orang lain. Lalu, apa ciri-ciri orang yang menghargai diri secara berlebihan dan apa dampaknya? Mari kita simak penjelasan di bawah ini.

 

Ciri Orang yang Menghargai Diri secara Berlebihan

(Sumber foto: www.pexels.com)

Orang yang menghargai diri secara berlebihan atau memiliki sifat narsistik biasanya menunjukkan beberapa ciri khas berikut:

1. Suka Pamer

Orang yang suka pamer biasanya selalu ingin menunjukkan pencapaian, barang mewah, atau pengalaman luar biasa mereka kepada orang lain. Mereka sering membagikan setiap detail di media sosial, mulai dari makan malam mahal hingga liburan eksotis, dengan harapan mendapatkan banyak like dan komentar.

Mereka senang menjadi pusat perhatian dan mendapatkan pujian. Di percakapan, mereka cenderung membahas diri sendiri terus-menerus, membanggakan pekerjaan, hobi, atau bahkan hal-hal kecil yang mereka anggap istimewa. Meskipun kadang niatnya hanya ingin berbagi kebahagiaan, seringkali ini justru membuat orang lain merasa tidak nyaman atau bahkan jengah.

Terlalu sering pamer bisa memberi kesan bahwa mereka kurang percaya diri dan butuh validasi dari luar. Jadi, penting untuk menjaga keseimbangan antara berbagi kebahagiaan dan tidak berlebihan dalam memamerkan diri.

 

2. Selalu Ingin Jadi Pusat Perhatian

Orang yang selalu ingin jadi pusat perhatian biasanya punya kebiasaan menarik sorotan dalam setiap situasi. Mereka cenderung mendominasi percakapan, sering berbicara lebih keras atau lebih banyak daripada yang lain, dan selalu punya cerita yang lebih besar atau lebih dramatis.

Di pertemuan sosial, mereka mungkin melakukan hal-hal mencolok atau berusaha membuat orang lain tertawa untuk memastikan semua mata tertuju pada mereka. Mereka suka mendapatkan pujian dan pengakuan, dan kalau tidak dapat perhatian yang cukup, bisa jadi merasa diabaikan atau tidak berharga.

Meskipun kadang mereka bisa sangat menghibur dan karismatik, tapi perilaku ini juga bisa membuat orang lain merasa terganggu atau tidak dihargai. Jadi, meski menjadi pusat perhatian kadang menyenangkan, penting juga untuk memberi ruang bagi orang lain dan mendengarkan mereka.

Di Balik Pena: dr. Andreas Kurniawan Berbagi Tutorial Melalui Duka dan Mencuci Piring

 

3. Kurang Empati

Orang yang kurang empati cenderung tidak terlalu peduli dengan perasaan atau kebutuhan orang lain. Mereka sering kali terfokus pada diri sendiri dan mungkin sulit memahami atau merasakan apa yang dialami orang lain.

Misalnya, saat temannya sedang sedih atau menghadapi masalah, mereka mungkin memberikan respons yang terkesan cuek atau tidak peduli, seperti, “Ah, kamu lebay,” atau bahkan mengabaikan masalah tersebut sepenuhnya.

Dalam percakapan, mereka lebih sering bicara tentang diri sendiri daripada menanyakan kabar atau mendengarkan cerita orang lain. Mereka juga mungkin kesulitan untuk menunjukkan simpati atau dukungan emosional.

Akibatnya, orang yang kurang empati bisa terlihat dingin atau egois, dan hubungan mereka dengan orang lain bisa jadi renggang atau penuh konflik. Meskipun bisa jadi mereka tidak berniat jahat, tapi kurangnya kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain membuat interaksi sosial mereka terasa kurang hangat dan penuh pengertian.

 

4. Sulit Menerima Kritik

Orang yang sulit menerima kritik biasanya langsung defensif atau tersinggung ketika mendapatkan masukan, bahkan jika itu konstruktif. Mereka mungkin langsung membela diri, mencari alasan, atau malah menyerang balik si pemberi kritik.

Misalnya, kalau ada yang bilang hasil kerja mereka perlu diperbaiki, responnya bisa seperti, “Kamu nggak tahu betapa susahnya buat ini!” atau, “Ya, tapi lihat aja kerjaan kamu!” Mereka cenderung menganggap kritik sebagai serangan pribadi, bukan sebagai saran untuk membantu mereka berkembang.

Akibatnya, mereka bisa melewatkan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri. Di tempat kerja atau dalam hubungan, sikap ini bisa bikin orang lain enggan memberikan masukan, karena takut akan reaksi negatif.

Padahal, bisa menerima kritik dengan terbuka dan positif itu penting untuk tumbuh dan sukses. Jadi, meskipun kritik kadang tidak enak didengar, berusaha untuk mendengarkan dan merenungkannya bisa sangat bermanfaat.

 

Finding Yourself : The Art Of Acceptance In This Modern Age

 

5. Meremehkan Orang Lain

Orang yang suka meremehkan orang lain cenderung selalu melihat kekurangan atau kelemahan orang di sekitarnya dan tidak segan-segan mengomentarinya dengan nada merendahkan. Mereka mungkin sering mengeluarkan komentar sinis seperti, “Ah, itu mah gampang,” atau, “Kenapa kamu nggak ngerti-ngerti sih?”

Saat orang lain berbagi pencapaian atau ide, mereka sering menanggapi dengan skeptis atau menganggap remeh, membuat orang lain merasa kurang dihargai. Mereka juga mungkin suka membandingkan diri sendiri dengan orang lain, selalu menempatkan diri mereka di atas dan yang lain di bawah.

Di tempat kerja atau dalam pertemanan, sikap ini bisa bikin suasana jadi tidak enak dan membuat orang lain merasa kecil atau tidak berharga. Padahal, meremehkan orang lain justru menunjukkan kurangnya rasa percaya diri dan empati. Menghargai orang lain dan mendukung mereka, bahkan dalam hal-hal kecil, bisa menciptakan lingkungan yang lebih positif dan saling menghormati.

 

6. Sangat Kompetitif

Orang yang sangat kompetitif selalu ingin jadi yang terbaik dalam segala hal dan sering kali memandang setiap situasi sebagai ajang perlombaan. Mereka bisa jadi sangat ambisius dan termotivasi, tapi kadang-kadang kompetisi ini bisa keterlaluan.

Misalnya, dalam permainan santai atau proyek kerja kelompok, mereka selalu berusaha keras untuk menang atau menjadi yang paling menonjol, bahkan sampai merugikan orang lain. Mereka mungkin sering membandingkan diri dengan orang lain dan merasa terancam kalau ada yang lebih baik.

Dalam percakapan, mereka mungkin suka pamer tentang pencapaian mereka atau merendahkan pencapaian orang lain untuk membuat diri mereka terlihat lebih unggul.

Sikap ini bisa bikin orang lain merasa tertekan atau kurang nyaman, karena segala sesuatu jadi seperti kompetisi yang serius. Meskipun punya sifat kompetitif itu bisa bermanfaat untuk mencapai tujuan, penting juga untuk tahu kapan harus bersikap santai dan mendukung orang lain, sehingga hubungan sosial tetap harmonis dan menyenangkan.

 

7. Merasa Berhak

Orang yang sangat kompetitif dan merasa berhak seringkali memiliki sikap yang merasa layak mendapatkan perlakuan istimewa atau hak istimewa. Mereka cenderung menganggap bahwa segala sesuatu seharusnya berjalan sesuai dengan keinginan mereka atau bahwa mereka pantas mendapatkan perlakuan khusus tanpa perlu melakukan usaha ekstra.

Misalnya, di tempat kerja, mereka mungkin merasa berhak mendapatkan promosi atau pengakuan hanya karena mereka merasa lebih baik daripada orang lain tanpa mempertimbangkan kinerja atau pencapaian sebenarnya. Dalam hubungan pribadi, sikap ini bisa membuat mereka terlihat egois atau kurang memperhatikan kebutuhan orang lain, karena fokus utamanya adalah memenuhi keinginannya sendiri.

Hal ini juga bisa membuat hubungan menjadi tidak seimbang dan memicu konflik dengan orang-orang di sekitarnya. Meskipun punya sifat kompetitif itu bagus, penting juga untuk tetap rendah hati dan menghargai usaha orang lain serta tidak menganggap segalanya harus diperoleh secara instan atau tanpa usaha keras.

 

8. Manipulatif

Orang yang manipulatif cenderung menggunakan trik atau strategi licik untuk mencapai tujuan mereka sendiri, bahkan jika itu berarti memanfaatkan orang lain. Mereka bisa jadi sangat pandai membujuk atau memengaruhi orang lain untuk melakukan sesuatu yang menguntungkan mereka, tanpa memperdulikan perasaan atau kebutuhan orang lain.

Misalnya, mereka mungkin suka memanfaatkan emosi atau rasa bersalah orang lain untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, atau mereka bisa juga menghindari tanggung jawab dengan melemparkan kesalahan kepada orang lain. Dalam hubungan pribadi atau profesional, sikap ini bisa merusak kepercayaan dan menciptakan ketidakseimbangan yang tidak sehat.

Mereka sering kali berbicara dengan cara yang menggoda atau merayu untuk mengelabui orang lain, dan terkadang sulit untuk mengetahui bahwa mereka sedang dimanipulasi. Menghadapi orang yang manipulatif memerlukan kewaspadaan ekstra dan kemampuan untuk menetapkan batas yang jelas untuk menjaga kesehatan hubungan dan kestabilan emosi.

 

Terapi Menerima Diri Sendiri

 

9. Berlebihan dalam Penampilan Diri

Orang yang berlebihan dalam penampilan diri biasanya sangat memperhatikan detail-detail fisik mereka dan selalu ingin terlihat sempurna atau menonjol di mata orang lain. Mereka mungkin menghabiskan banyak waktu dan uang untuk merawat diri, seperti perawatan kulit, salon, atau belanja pakaian dengan merek terkenal.

Mereka selalu ingin tampil trendy atau sesuai dengan standar kecantikan yang dianggap populer saat itu. Selain itu, mereka bisa jadi sering mengunggah foto-foto selfie di media sosial dengan filter atau pose yang dirancang untuk membuat mereka terlihat sempurna. Dalam percakapan, mereka mungkin sering membicarakan penampilan mereka sendiri atau meminta pendapat orang lain tentang tampilan mereka.

Meskipun ada yang melihat ini sebagai ekspresi diri yang positif, namun terlalu fokus pada penampilan bisa membuat mereka kehilangan esensi dari siapa mereka sebenarnya di luar fisik mereka. Penting untuk tetap memperhatikan diri sendiri tapi juga menjaga keseimbangan dengan menghargai nilai-nilai internal dan kepribadian yang sebenarnya.

10. Tidak Mampu Membangun Hubungan Seimbang

Orang yang tidak mampu membangun hubungan seimbang cenderung sulit untuk memberi dan menerima dalam interaksi sosial. Mereka mungkin terlalu dominan atau pasif dalam hubungan, sehingga sulit bagi mereka untuk menemukan titik tengah yang sehat. Misalnya, mereka bisa jadi terlalu memaksakan pendapat atau keinginan mereka kepada orang lain tanpa memperhatikan perasaan atau kebutuhan orang tersebut.

Di sisi lain, mereka juga bisa menjadi terlalu pasif dan selalu mengikuti apa yang diinginkan orang lain tanpa menyuarakan pendapat mereka sendiri. Akibatnya, hubungan dengan orang seperti ini bisa menjadi tidak seimbang, dengan salah satu pihak mungkin merasa tidak dihargai atau bahkan terjebak dalam dinamika yang tidak sehat.

Kemampuan untuk membangun hubungan yang seimbang melibatkan kemampuan untuk mendengarkan, menghargai, dan menghormati pandangan serta kebutuhan orang lain, sambil juga tetap mempertahankan integritas dan kebutuhan diri sendiri.

 

Dampak Negatif Orang yang Menghargai Diri secara Berlebihan

(Sumber foto: www.pexels.com)

Orang yang menghargai diri secara berlebihan seringkali memiliki dampak negatif, baik bagi diri mereka sendiri maupun orang di sekitarnya. Mereka cenderung terlalu fokus pada diri sendiri dan sering kali kurang memperhatikan perasaan atau kebutuhan orang lain. Ini bisa membuat hubungan menjadi tidak seimbang atau bahkan merusak, karena orang lain mungkin merasa diabaikan atau tidak dihargai.

Secara pribadi, perilaku ini juga bisa membatasi pertumbuhan dan perkembangan pribadi mereka sendiri. Mereka mungkin sulit menerima kritik atau saran konstruktif, karena merasa bahwa mereka sudah sempurna atau tidak perlu perbaikan. Hal ini bisa menghambat kemampuan mereka untuk belajar dan berkembang lebih baik.

Selain itu, orang yang menghargai diri secara berlebihan juga rentan terhadap kesepian atau isolasi sosial. Karena sering kali terfokus pada diri sendiri, mereka mungkin kesulitan membangun hubungan yang sehat dan saling menguntungkan dengan orang lain.

Secara keseluruhan, sikap menghargai diri sendiri itu penting, tapi perlu diimbangi dengan empati terhadap orang lain dan keterbukaan terhadap pertumbuhan pribadi. Ini akan membantu menciptakan lingkungan sosial yang lebih positif dan hubungan yang lebih sehat secara keseluruhan.

 

Bagaimana Membangun Penghargaan Diri yang Positif

(Sumber foto: www.pexels.com)

Penghargaan diri yang ideal adalah penghargaan yang realistis dan tidak berlebihan. Berikut adalah sikap yang harus dilakukan untuk membangun penghargaan yang positif:

  • Kenali Kekuatan dan Pencapaianmu

Mulailah dengan mengakui dan menghargai kekuatan, bakat, dan pencapaian yang telah kamu capai. Jangan ragu untuk merayakan setiap kemajuan, baik besar maupun kecil dalam hidupmu.

 

  • Terima Dirimu dengan Segala Kekurangan

Penerimaan diri adalah kunci untuk membangun penghargaan diri yang positif. Sadari bahwa setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Terimalah dirimu apa adanya dan jangan terlalu keras pada dirimu sendiri ketika menghadapi kegagalan.

75 Cara Menjadi Percaya Diri

 

  • Tetap Realistis dalam Harapan

Setel harapan yang realistis terhadap dirimu sendiri. Hindari membandingkan dirimu dengan orang lain atau menuntut kesempurnaan yang tidak realistis. Fokuslah pada kemajuan pribadi dan upaya yang konsisten.

 

  • Hargai Waktu untuk Diri Sendiri

Luangkan waktu untuk merawat diri sendiri secara fisik, emosional, dan mental. Meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan atau relaksasi dapat membantu membangun perasaan positif terhadap diri sendiri.

 

  • Tumbuh dan Belajar Secara Terus-Menerus

Tetaplah terbuka terhadap pembelajaran dan pertumbuhan pribadi. Ambil langkah untuk mengembangkan keterampilan baru atau minati hal-hal yang membuatmu merasa berarti dan berkontribusi.

 

  • Jaga Hubungan yang Sehat

Hubungan yang mendukung dan positif dapat memperkuat penghargaan diri. Bergaul dengan orang-orang yang memberimu dukungan dan menghargai kontribusi serta kualitas unik yang dimiliki.

 

Kesimpulan

Orang yang menghargai diri secara berlebihan cenderung terfokus pada diri sendiri dengan berlebihan, sering kali mengabaikan perasaan dan kebutuhan orang lain. Mereka mungkin sulit menerima kritik atau saran, merasa bahwa mereka sudah sempurna atau tidak memerlukan perbaikan.

Dalam hubungan, sikap ini bisa menciptakan ketidakseimbangan dan kesulitan dalam berkomunikasi dengan orang lain, karena mereka cenderung mendominasi atau meremehkan pandangan orang lain.

Dampak negatifnya termasuk kurangnya pertumbuhan pribadi yang sehat dan hubungan yang lebih dalam dengan orang lain, serta risiko kesepian atau isolasi sosial. Untuk membangun penghargaan diri yang positif, penting untuk mengenali dan menghargai kekuatan serta kelemahan kita, merayakan pencapaian dengan bijaksana, dan tetap realistis dalam harapan terhadap diri sendiri.

Penerimaan diri dan upaya untuk terus belajar dan tumbuh menjadi kunci untuk membentuk fondasi yang kuat dalam menghargai diri sendiri secara seimbang dan positif. Grameds bisa mulai membangun penghargaan yang positif melalui buku pengembangin diri terbaru di Gramedia.com



Live Apakah Anda berminat jika disediakan fasilitas baca buku sepuasnya di Gramedia ?
  • Ya, tentu saja!
    92% 92% 1.3k / 1.4k
  • Tidak
    7% 7% 105 / 1.4k


ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Laila Wu