in

Cara Membuat Oralit Untuk Bayi yang Perlu Orang Tua Ketahui

Sumber: Pexels

Oralit untuk bayi – Diare adalah salah satu kondisi yang pernah dialami oleh semua orang. Bahkan, semua usia juga pernah mengalami sakit diare. Seperti halnya diare yang terjadi pada anak balita atau bayi. Tentunya para orang tua akan begitu khawatir begitu mengetahui jika si buah hati mereka mengalami kondisi diare.

Diare adalah suatu kondisi yang bisa diketahui biasanya dari peningkatan frekuensi BAB sang anak. Anak-anak usia balita bisa mengalami kondisi diare akan memungkinkan mereka untuk BAB lebih dari tiga kali dengan tekstur feses yang begitu cair.

Perlu diketahui bahwa diare yang dialami oleh balita jika tak segera diatasi akan menyebabkan suatu kondisi dehidrasi yang juga sangat berbahaya bagi kesehatan sang anak. Pengobatan melalui media sangat diperlukan agar kondisi sang anak akan semakin membaik.

Selain itu, tak ada salahnya untuk melakukan perawatan pertama di rumah dengan memberikan oralit untuk bayi yang mengalami kondisi diare. Menariknya, oralit untuk bayi bisa dibuat secara pribadi.

Nah, bagi Anda yang belum tahu seputar oralit untuk bayi bisa banget membaca ulasan dalam artikel ini.

Penyebab Terjadinya Diare Pada Balita

oralit untuk bayi
Sumber: Pixabay

Tak hanya bisa terjadi pada orang dewasa saja, namun diare juga bisa terjadi pada bayi atau balita yang telah memasuki umur 0-6 bulan. Bahkan, diketahui jika diare merupakan penyakit yang bisa menyebabkan suatu kondisi kematian pada angka tertinggi di Indonesia.

Dimana kondisi diare akan bisa menjadikan buah hati Anda menjadi menderita. Dikarenakan kondisi tidak nyaman yang disebabkan oleh diare biasanya sang anak akan menangis secara terus-menerus. Bagi para ibu yang tak tahu penyebab terjadinya penyakit diare pada anak tentunya akan memiliki kepanikan dan rasa bingung untuk bisa memberikan penanganan pertama.

Oleh karena itu, para orang tua juga wajib untuk bisa tahu penyebab terjadinya diare pada balita. Hal ini tak lain agar para orang tua bisa lebih mudah untuk mengetahui cara penanganan yang tepat untuk dilakukan.

Secara alami, bayi memang lebih memiliki kecenderungan untuk melakukan buang air besar lebih sering dibandingkan dengan usia anak-anak atau dewasa. Bahkan, tak jarang bayi akan buang air besar ketika selesai meminum ASI sang ibu.

Namun, jika kondisi bayi lebih sering buang air besar dengan kondisi tekstur feses yang lebih encer, berbau dan lebih banyak. Bisa jadi bayi tersebut sedang mengalami kondisi diare. Pada sebagian kasus, diare yang dialami oleh usia balita tergolong ringan dibandingkan pada usia lainnya.

Jika diare yang dialami oleh anak balita hanya berlangsung beberapa hari dan termasuk yang ringan, maka akan lebih mudah dalam penyembuhan secara mandiri tanpa perlu memberikan obat-obatan khusus.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya jika para orang tua wajib tahu apa saja penyebab terjadinya kondisi diare pada anak usia balita agar bisa lebih paham bagaimana cara penanganan pertama yang perlu dilakukan. Nah, di bawah ini ada beberapa penyebab terjadinya diare pada anak usia balita.

https://www.gramedia.com/products/panduan-cermat-untuk-orang-tua-si-anak-sehat?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/panduan-cermat-untuk-orang-tua-si-anak-sehat?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

1. Intoleransi Laktosa

Laktosa merupakan sumber karbohidrat terpenting yang ada di dalam ASI dan susu formula. Meski begitu tak semua bayi mampu mencerna laktosa dengan baik. Jika bayi menunjukkan sebuah reaksi tak wajar ketika selesai mengkonsumsi protein susu, baik itu susu hewani segar maupun susu formula. Itu artinya, bayi tersebut mengalami kondisi intoleransi laktosa.

Kondisi intoleransi laktosa ini bisa terjadi karena bayi memang belum bisa menghasilkan enzim laktase yang cukup dalam proses pencernaan laktosa secara lebih optimal. Jika sang bayi memiliki kondisi tersebut, sang ibu disarankan untuk melakukan penggantian susu yang menyebabkan bayi mengalami kondisi intoleransi laktosa dengan susu formula khusus.

2. Tidak Cocok dengan Susu Formula

Kondisi diare pada bayi bisa jadi disebabkan oleh ketidak cocokan susu formula yang diberikan oleh ibu. Oleh sebab itu, ibu perlu tahu jika beberapa zat tambahan pada susu formula serta cara ibu

dalam proses percikan susu bisa juga menjadi pemicu terjadinya diare pada bayi.Oleh karena itu, para ibu atau orang tua disarankan untuk menggunakan takaran sesuai dengan petunjuk kemasan. Akan tetapi jika sang anak mengalami diare dan muntah-muntah, konstipasi dan sebagainya. Alangkah baiknya, konsultasikan dengan dokter dan meminta rekomendasi merk susu penggantinya agar lebih aman.

3. Alergi Makanan

Bayi yang sedang dalam usia 0 hingga 6 bulan akan memiliki sistem pencernaan yang memang masih belum sempurna. Dalam hal ini mereka akan lebih rentan untuk mengalami alergi. Meskipun ibu mereka memberikan ASI eksklusif, tetapi bayi tetap akan memiliki potensi untuk mengalami suatu alergi dari jenis makanan yang telah dikonsumsi oleh sang ibu.

Beberapa jenis makanan yang bisa memicu terjadinya alergi pada bayi adalah seperti susu, makanan dengan olahan susu, makanan dengan protein, makanan pedas, makanan asam serta kafein. Oleh karena itu, selama ibu menyusui disarankan untuk menghindari makanan yang diduga kuat akan menjadi penyebab sang buah hati mengalami diare.

4. Infeksi Virus

Sebagian besar kasus diare yang terjadi pada bayi bisa disebabkan oleh keberadaan infeksi virus. Salah satu jenis virus yang kerap menjadi penyebab terjadinya kondisi diare pada bayi adalah rotavirus. Namun, beberapa tahun belakangan ini sudah banyak digunakan pemberian vaksin rotavirus. Hal ini akan bisa meminimalisir terjadinya resiko diare terhadap bayi karena suatu virus rotavirus.

Nah, itulah ulasan mengenai beberapa penyebab terjadinya diare pada bayi yang bisa Anda jadikan pedoman.

https://www.gramedia.com/products/asyik-seru-mengurus-bayi?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/asyik-seru-mengurus-bayi?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Penyebab Diare pada Bayi dengan Kondisi Serius

Sebelumnya telah kita bahas bersama terkait dengan beberapa penyebab terjadinya diare pada anak usia bayi. Namun, penyebab tersebut biasanya hanya pada saat bayi mengalami diare dalam kondisi ringan.

Ketika bayi terus menerus mengalami kondisi buang air besar selama berhari-hari dan tak kunjung sembuh dan disertai dengan demam yang cukup tinggi atau bahkan pada bercak darah pada tinja bayi tersebut. Bisa jadi diare yang dialami oleh bayi tersebut masuk ke dalam level series atau kronis.

Sama seperti sebelumnya, kondisi diare pada anak usia balita bisa menjadi lebih serius karena disebabkan oleh beberapa penyebab. Jadi, agar Anda semakin tahu apa saja penyebab yang memungkinkan anak usia balita mengalami diare dalam level kronis, berikut adalah penjelasan selengkapnya.

1. Adanya Infeksi Bakteri

Salah satu penyebab diare pada anak usia balita dengan kondisi yang cukup berat adalah adanya gangguan bakteri. Bakteri seperti Salmonella, Escherichia Coli dan Shigella menjadi penyebab kondisi diare parah pada bayi.

Biasanya, bayi yang mengalami kondisi diare kronis akan ditandai dengan gejala seperti kram perut, demam serta adanya darah pada saat buang air besar ketika memang disebabkan oleh bakteri. Jika memang kondisi tersebut memang terjadi, maka sangat disarankan bagi para orang tua untuk membawa buah hati ke dokter agar bisa mendapatkan penangan yang tepat.

2. Adanya Infeksi Parasit

Kondisi diare cukup kronis pada anak usia balita juga bisa disebabkan oleh adanya infeksi parasite. Giardiasis merupakan jenis parasit yang bisa menyebabkan kondisi diare cukup kronis pada anak. Bahkan kondisi diare seperti itu bisa menular lho. Ketika sang anak mengalami kondisi diare yang disebabkan oleh bakteri segeralah bawa ke dokter agar mendapatkan penangan yang tepat.

Nah, itulah beberapa penyebab terjadinya kondisi diare dalam kondisi kronis. Jika memang buah hati Anda mengalami kondisi diare kronis, sebaiknya segeralah bawa ke dokter agar bisa lebih mudah mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

https://www.gramedia.com/products/cara-ajaib-menutrisi-otak-anak?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/cara-ajaib-menutrisi-otak-anak?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Penanganan Tepat Diare yang Dialami Oleh Balita

Diare adalah salah satu gangguan kesehatan yang mudah menyerang siapapun. Bahkan penyakit diare akan semakin mudah untuk menyerang anak dengan usia balita. Tentunya kondisi diare bisa membahayakan setiap penderitanya apalagi jika mereka yang mengalaminya masih dalam usia balita.

Tak hanya mengetahui penyebab terjadinya kondisi diare pada anak usia balita saja. Namun, para orang tua khususnya ibu juga harus tahu bagaimana penangan pertama yang tepat agar diare pada bayi bisa diatasi dengan baik.

Secara normal, fesel seorang bayi akan memiliki ciri khusus. Misalnya, dari warna yang kekuningan, hijau atau coklat tua. Tekstur yang ada biasanya tak cair dan memiliki bentuk seperti pasta serta lembut.

Akan tetapi, ketika bayi mengalami kondisi diare, maka akan ada perubahan pada bentuk feses mereka. Perubahan yang terjadi pada feses yang dimiliki oleh bayi penderita diare biasanya akan berubah menjadi lebih cair dibandingkan kondisi normal.

Lalu, dari segi warna juga akan berubah menjadi lebih hijau atau bisa jadi lebih hitam dibandingkan dengan warna feses bayi normal. Selain itu, diare bisa juga ditandai dengan feses yang lebih berbau menyengat.

Bayi yang mengalami kondisi diare juga mampu melakukan buang air besar sebanyak lebih dari tiga kali dalam sehari. Bahkan, kondisi diare pada bayi bisa menyebabkan feses mereka bercampur dengan darah atau lendir.

Jika memang sang buah hati Anda mengalami kondisi diare segera bawa ke dokter terdekat agar tidak membahayakan kesehatan bayi. Diare pada bayi yang tak diobati bisa menyebabkan suatu kondisi dehidrasi.

Selain itu, bayi yang mengalami diare akan lebih baik tidak diberikan obat secara sembarangan. Jadi, pastikan para ibu untuk memberikan obat pada bayi sesuai dengan anjuran dokter anak yang menangani.

Selain pengobatan, sebaiknya para orang tua juga memastikan agar sang buah hati mendapatkan cukup asupan cairan agar tidak mengalami kondisi dehidrasi. Orang tua juga bisa melakukan pencegahan kondisi dehidrasi dengan bantuan larutan oralit pada sang buah hati lho.

Oralit Serta Cara Pembuatannya Untuk Bayi

oralit untuk bayi
Sumber: Pixabay

Oralit adalah cairan yang dapat digunakan untuk mencegah terjadinya dehidrasi pada anak usia balita. Cairan oralit dipercaya aman untuk digunakan pada anak usia balita. Meski begitu, tak ada salahnya bagi para orang tua untuk bertanya langsung kepada para dokter terkait dengan cairan oralit untuk bayi yang sesuai dengan anak usia balita.

Namun, perlu diketahui juga jika para orang tua dalam membeli larutan oralit juga menggunakan resep dokter. Meski begitu, jika memang dalam penggunaan darurat para orang tua bisa membuat cairan oralit secara mandiri di rumah.

Jika Anda belum tahu bagaimana cara membuat oralit untuk bayi yang bisa digunakan untuk anak usia balita, maka penjelasan di bawah ini akan lebih mudah membantu Anda.

  1. Siapkan terlebih dahulu bahan yang akan digunakan untuk membuat larutan oralit. Mulai dari gula pasir sebanyak enam sendok teh, garam sebanyak setengah sendok teh dan satu liter air putih dalam kondisi matang.
  2. Setelah seluruh bahan sudah tersedia, Anda bisa mulai mencampurkan gula dengan garam pada satu wadah. Lanjutkan dengan menuangkan air secara perlahan-lahan. Setelah seluruh bahan sudah tercampur lanjutkan dengan mengaduk-aduknya hingga semua bahan tersebut muali larut dan tercampur secara merata.
  3. Ketika semua bahan sudah tercampur dengan baik, Anda bisa memberikannya pada anak usia balita yang mengalami kondisi diare secara perlahan hingga memenuhi dosis yang dibutuhkan.

Perlu diketahui jika Anda juga harus memastikan pada seluruh bahan yang digunakan memiliki jumlah yang sesuai agar manfaat yang diberikan bisa lebih mudah terasa secara optimal. Bahan-bahan oralit yang tak sesuai bisa menyebabkan kondisi diare semaki sulit untuk diatasi. Anda juga bisa menceritakan terlebih dahulu bagaimana riwayat kesehatan bayi kepada dokter anak sebelum memberikan cairan oralit pada bayi. Hal ini dilakukan agar hasil yang didapatkan semakin maksimal.

Cara Mencegah Diare Pada Anak Usia Balita

Kondisi diare pada anak usia balita akan memberikan perbedaan pada fesesnya, baik itu pada bentuk tekstur maupun dari segi warna. Hal tersebut terjadi pada apa yang dikonsumsi oleh bayi tersebut. Dalam hal ini bisa diartikan seperti ASI, susu formula atau makanan padat.
Terkadang feses pada bayi penderita diare akan lebih encer dengan jumlah yang lebih besar. Selain menggunakan oralit dan pergi ke dokter anak terdekat, para orang tua juga bisa melakukan tindakan pencegahan seperti penjelasan di bawah ini.

  1. Berikan ASI dengan kondisi yang lebih sering dan lebih lama dari pada biasanya khusus pada bayi yang menderita diare.
  2. Berikan obat penanganan diare yang ada di apotik atau dari resep dokter.
    Jika bayi sudah masuk ke dalam tahap MPASI, maka memberikan makanan seperti sayuran, kuah sup dan air mineral.
  3. Berikan makanan sesuai umur.

Makanan bagi Bayi Sesuai Umur

Seperti yang dijelaskan sebelumnya jika memberikan makanan kepada bayi penderita diare bisa disesuaikan dengan umur. Pemberian makanan sesuai umur pada bayi penderita diare akan semakin bisa mempermudah proses penyembuhan.

Namun, apakah Anda sebagai orang tua sudah tahu apa saja makanan bayi penderita diare yang sesuai dengan umur mereka? Nah jika Anda belum tahu, berikut adalah penjelasan terkait dengan makanan untuk bayi yang disesuaikan dengan umur.

  1. Bayi dengan usia 0 sampai 6 bulan bisa diberikan ASI sesuai dengan keinginan anak. Namun dalam satu hari minimal 8 kali pemberian ASI kepada anak. Pada usia ini, sebaiknya tidak memberikan makanan atau minuman selain ASI.
  2. Bayi dengan usia enam hingga 24 bulan bisa diberikan terusan ASI, misalnya adalah dengan memberikan makanan pendamping ASI atau MPASI dengan tekstur yang lebih lembut seperti bubur susu dan pisang.
  3. Bayi dengan usia 9 hingga 12 bulan bisa diberikan MPASI dengan tekstur yang lebih pada dan kasar seperti nasi tim, bubur nasi, tambahan lauk pauk, sayuran atau kacang-kacangan.
  4. Bayi dengan usia 12 hingga 24 bulan bisa diberikan MPASI seperti makanan keluarga secara bertahap yang tetap disesuaikan dengan kemampuan anak.
  5. Balita dengan usia dua tahun lebih bisa diberikan makanan keluarga sebanyak tiga kali sehari sebanyak sepertiga atau setengah porsi makanan orang dewasa. Selain itu, Anda juga bisa memberikan makanan selingan bergizi sebanyak dua kali sehari diantara waktu makan.

Nah, itulah rangkuman mengenai cara pencegahan dan penanganan terjadinya kondisi diare pada anak usia balita. Semoga semua pembahasan di atas bermanfaat untuk Grameds.

Jika ingin mencari buku seputar bayi, maka kamu bisa menemukannya di Gramedia.com. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Hendrik nuryanto

Sumber:

Baca juga:



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by M. Hardi