in

Perilaku Anak Hiperaktif dan Cara Mengatasinya

Perilaku Anak Hiperaktif – Apakah anak Anda termasuk anak yang sangat aktif dan tidak bisa diam? Banyak yang menganggap bahwa anak aktif itu adalah hal yang wajar, karena sejatinya anak-anak memang seharusnya aktif. Tapi perlu Anda pahami bahwa anak yang aktif sangat berbeda dengan anak yang hiperaktif. Dari sini, Anda sebagai orang tua harus mulai waspada dan memperhatikan apakah perilaku aktif anak telah menunjukkan tanda-tanda hiperaktif?

Anak yang aktif biasanya akan berhenti ketika mereka mulai lelah dan kemudian istirahat. Setelah bermain selama beberapa menit, lalu duduk dan istirahat dengan menonton TV atau membaca buku karena lelah bermain.

Akan tetapi, ada beberapa anak yang memang tidak bisa diam. Dimana mereka selalu ingin bermain dan bergerak kesana kemari, mengambil barang-barang, berlari, berbicara walaupun sudah diminta untuk istirahat dan berhenti bermain. Nah, anak-anak yang demikian bisa jadi mengalami gejala hiperaktif.

Namun sebelumnya, Anda harus tahu terlebih dahulu bahwa anak-anak tidak melakukan hal tersebut (hiperaktif) karena alasan tertentu. Hal itu terjadi karena mereka mempunyai kebutuhan untuk terus menerus bergerak dan belum mempunyai kemampuan yang cukup untuk mengontrol diri mereka.

Tapi sayangnya, banyak orang yang menilai anak hiperaktif dengan penilaian negatif. Beberapa dari mereka menganggap bahwa anak hiperaktif tergolong tidak sopan dan tidak disiplin. Selain itu, orang-orang mungkin saja akan mengungkapkan komentar mereka terhadap anak-anak hiperaktif dengan ucapan yang tidak nyaman untuk didengar.

Jika anak Anda mulai menunjukkan tanda-tanda atau gejala hiperaktif, cobalah untuk memahaminya lebih jauh mengenai perilaku tersebut ya. Berikut ini adalah penjelasan selengkapnya mengenai apa itu hiperaktif dan bagaimana tanda-tandanya serta cara mengobatinya.

Tanda-tanda Anak Hiperaktif

Apa yang dimaksud hiperaktivitas? Menurut anggapan beberapa orang, hiperaktivitas yang dialami oleh anak bisa ditandai dengan perilaku anak yang tidak bisa diam dan selalu ingin bergerak. Akan tetapi, hiperaktivitas sebenarnya lebih dari itu. Dimana hiperaktivitas merupakan perilaku aktif yang dilakukan secara terus menerus di waktu dan keadaan yang tidak seharusnya.

Bagian “terus-menerus” yang menjadi salah satu perbedaan utamanya. Apabila hanya terjadi satu ataupun dua kali saja, orang-orang pasti tidak akan terlalu memikirkan hal tersebut. Namun jika sudah terjadi secara berulang dan terus menerus, maka Anda harus mulai waspada dan kenali gejalanya. Berikut ini adalah beberapa tanda anak hiperaktif yang perlu Anda ketahui:

a. Berteriak dan lari ketika sedang bermain, walaupun sedang berada di dalam ruangan.
b. Jalan-jalan dan berdiri di kelas ketika guru sedang mengajar.
c. Bergerak dengan begitu cepat, sehingga sering menabrak orang lain ataupun benda-benda yang ada disekitarnya.
d. Bermain terlalu kasar dan secara tidak sengaja sering melukai anak lainnya ataupun diri mereka sendiri.

Sementara hiperaktivitas dapat mempunyai tanda atau gejala yang berbeda-beda di usia yang berbeda pula. Tanda-tanda anak hiperaktif juga beragam bentuknya. Selain ingin selalu bergerak, berlari, dan berjalan, berikut ini adalah tanda anak hiperaktif lain yang perlu Anda pahami:

a. Selalu ingin berbicara
b. Selalu menyela saat orang lain sedang berbicara
c. Bergerak dengan sangat cepat dari satu tempat ke tempat lainnya
d. Selalu menggerakkan badannya meski sedang duduk
e. Sering menabrak benda atau orang lain
f. Merasa gelisah dan ingin selalu mengambil sesuatu dan memainkan barang tersebut
g. Sulit duduk dengan tenang di waktu makan ataupun aktivitas tenang lainnya.

Apa yang Bisa Menyebabkan Anak Menjadi Hiperaktif?

Anak yang aktif biasanya disebabkan oleh besarnya energi yang mereka punya. Akan tetapi, anak yang hiperaktif dapat disebabkan oleh beberapa faktor di bawah ini:

1. Stres

Jangan dianggap sepele, anak-anak juga dapat merasakan dan mengalami stres. Stres yang dialami oleh anak biasanya disebabkan oleh berbagai hal positif. Mulai dari lingkungan ataupun kegiatan baru sampai hal negatif seperti sakit ataupun kematian dari salah satu anggota keluarga.

2. Gangguan Kesehatan Mental dan Emosi

Anak yang hiperaktif bisa juga disebabkan oleh gangguan mental seperti halnya resah dan juga emosi yang tidak stabil, atau mereka pernah mengalami trauma tertentu. Pada kondisi tersebut, anak menjadi lebih aktif atau hiperaktif dengan menunjukkan sikap yang tidak bisa diam dan tenang atau sulit untuk berkonsentrasi.

3. Gangguan Kesehatan Fisik

Di beberapa kasus, terdapat gangguan fisik yang menjadi penyebab anak menjadi hiperaktif, misalnya saja penyakit hipertiroid. Tak hanya itu saja, ada juga beberapa masalah genetik yang dapat menjadi penyebab meningkatnya kegiatan anak sampai cenderung hiperaktif.

4. Kurang Olahraga

Tanpa melakukan olahraga yang cukup, maka anak akan kesulitan untuk duduk dan diam serta cenderung hiperaktif. Oleh sebab itu, penting sekali supaya orang tua memberikan waktu yang cukup untuk anak-anak bisa berolahraga dan melakukan aktivitas positif yang dapat menyalurkan energi mereka. Misalnya saja dengan mengajak anak-anak ke taman bermain, jogging, bersepeda, dan lain sebagainya.

5. Kurang Tidur

Apabila orang dewasa cenderung lesu atau kelelahan saat mereka kurang tidur, anak-anak justru kebalikannya. Mereka akan lebih hiperaktif apabila kurang tidur. Kondisi tersebut biasanya terjadi saat anak-anak tidak cukup tidur siang atau malam hari. Penyebabnya yaitu meningkatnya produksi kortisol dan adrenalin saat anak-anak kurang tidur. Sebenarnya hal itu adalah respon alami tubuh untuk melakukan hal itu supaya anak bisa tetap terjaga dan bertenaga.

Penyebab Utama Hiperaktif

Hiperaktivitas sangat berbeda dengan perilaku anak yang aktif. Anak yang memiliki perilaku hiperaktif biasanya selalu berkeinginan untuk bergerak secara terus menerus dan tidak bisa dikontrol. Hiperaktif yang terjadi pada anak-anak bukan disebabkan oleh kurangnya kedisiplinan ataupun rasa ingin menentang. Adapun hal yang perlu diperhatikan mengenai perilaku hiperaktif yang dialami oleh anak-anak yaitu faktor usia. Dimana anak-anak memerlukan waktu untuk mengembangkan kemampuannya dalam mengontrol perilaku mereka sendiri.

Selain itu, setiap anak tidak mempunyai perkembangan yang sama. Salah satu anak mungkin saja sudah mempunyai kontrol diri yang baik pada usia empat tahun, namun anak lainnya mungkin saja baru memiliki kontrol diri pada usia enam tahun. Akan tetapi, ada waktu dimana anak-anak di satu kelompok usia yang sama mempunyai kontrol diri yang sama juga. Di waktu itulah seringkali akan terlihat mana saja anak-anak yang sudah tertinggal.

gramedia digital

gramedia digital

Berlangganan Gramedia Digital

Baca SEMUA koleksi buku, novel terbaru, majalah dan koran yang ada di Gramedia Digital SEPUASNYA. Konten dapat diakses melalui 2 perangkat yang berbeda.

Rp. 89.000 / Bulan

gramedia digital

Salah satu penyebab utama dari perilaku hiperaktif yang dialami oleh anak-anak adalah Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder atau ADHD. Ini adalah sebuah kondisi yang bisa menyebabkan perbedaan di cara kerja otak anak. Hiperaktivitas adalah gejala utama ADHD. Kondisi tersebut tidak akan hilang seiring dengan bertambahnya usia anak. Akan tetapi, gejala hiperaktif biasanya akan hilang dan berkurang seiring bertambahnya usia anak.

Apa Bedanya Anak Aktif dan Hiperaktif Karena ADHD?

Cara yang paling mudah untuk membedakan antara anak yang aktif dan anak yang hiperaktif karena ADHD yaitu bisa kita lihat dari kemampuan mereka dalam memahami sebuah informasi dan bertumbuh dengan baik. Untuk anak yang hiperaktif akibat ADHD, mereka akan cenderung kesulitan dalam berkonsentrasi dan fokus terhadap suatu hal.

Itulah sebabnya anak hiperaktif tidak hanya terlihat aktif dengan energi yang besar, namun juga kesulitan dalam memproses setiap perintah dan juga instruksi yang diberikan orang lain. Misalnya saja yaitu anak hiperaktif biasanya akan merasa kesulitan untuk bekerja sama dengan teman-temannya di sekolah.

Begitupun sebaliknya, anak yang aktif tetap bisa fokus dan berkonsentrasi pada apa yang diperintahkan orang lain. Jadi, meskipun aktif, tapi kemampuan mereka dalam mencerna informasi masih tetap baik.

Selain itu, perbedaan lainnya yang membedakan antara anak aktif dan anak hiperaktif adalah anak yang aktif masih bisa mengontrol emosi, keinginan, dan kemampuan mereka dalam memperhatikan sebuah informasi. Mereka masih tetap bisa mencerna dan merespon apa saja yang dibicarakan kepada mereka.

Cara Mendampingi Anak yang Hiperaktif

Pasti Anda bertanya-tanya, apakah ada obat yang bisa menyembuhkan kondisi anak yang hiperaktif? Jawabannya adalah belum ada obat yang secara spesifik bisa menyembuhkan kondisi tersebut. Akan tetapi, kondisi anak yang hiperaktif bisa dikelola dengan cara memberikan dukungan dan juga pendidikan yang tepat bagi orang tua serta anak.

Selain itu, dokter juga bisa memberikan obat-obatan yang bisa membantu dalam mengontrol gejala ADHD yang muncul dan menganjurkan untuk melakukan terapi. Apabila Anda mempunyai anak yang memiliki tanda-tanda hiperaktif, berikut ini adalah berbagai hal yang bisa Anda lakukan untuk mengontrol perilaku mereka.

1. Membangun Kehidupan Anak yang Terstruktur dan Terorganisir

Cobalah untuk membantu anak dalam mengelola kehidupan mereka. Seperti halnya dengan mengatur waktu beraktivitas mereka atau menjaga lingkungan agar tetap rapi. Kemudian, Anda bisa memberikan instruksi yang berstruktur, spesifik, dan singkat. Misalnya, “tolong bantu ibu untuk menaruh mainan di kotak mainan dan kembalikan buku ke rak”. Setelah itu, berikan anak pujian bila mereka melakukannya dengan baik.

2. Menciptakan Pola Tidur yang Teratur

ADHD bisa menyebabkan gangguan tidur yang membuat gejalanya makin parah. Untuk itu, cobalah untuk menciptakan waktu tidur anak yang baik dan bangun di waktu yang sama setiap harinya. Selain itu, hindari bermain komputer ataupun menonton TV sebelum tidur. Sebab, hal itu bisa menyebabkan pola tidur anak terganggu.

3. Menerapkan Disiplin Positif Pada Anak

Terapkan sikap disiplin yang tegas tapi penuh dengan kasih sayang kepada anak-anak. Anda bisa melakukannya dengan cara menghargai perilaku baik yang mereka lakukan serta mencegah perilaku negatif yang ada di luar kendali anak. Jangan hanya memberikan ucapan terima kasih saja ketika anak sudah membantu Anda. Tapi cobalah untuk menyinggung usaha anak dalam melakukan hal tersebut. Misalnya, “terima kasih sudah membantu ibu mencuci piring ya Nak”. Dengan cara tersebut, anak akan menjadi lebih tahu terkait tindakan apa saja yang termasuk ke dalam tindakan baik.

4. Menghabiskan Waktu Bersama Anak

Luangkan waktu Anda setiap harinya untuk beraktivitas dan berbincang-bincang dengan anak. Berikanlah mereka perhatian penuh dan puji perilaku positif yang sudah mereka lakukan hari itu. Selain itu, Anda juga bisa menghabiskan waktu bersama anak dengan melakukan berbagai aktivitas fisik. Misalnya dengan berjalan keliling perumahan atau berolahraga bersama. Akan tetapi, pastikan bahwa mereka tidak melakukan aktivitas yang terlalu berat ketika dekat dengan waktu tidurnya.

5. Membina Hubungan yang Sehat Dengan Keluarga

Hubungan yang terjalin antara seluruh anggota keluarga sangat berperan penting dalam mengelola ataupun merubah perilaku anak yang hiperaktif. Pasangan suami dan istri yang memiliki ikatan kuat biasanya akan merasa lebih mudah dalam menghadapi semua tantangan dalam menjadi orang tua. Oleh karena itu, usahakan untuk selalu menjalin komunikasi yang sehat dengan anak-anak Apabila mereka mengajak Anda berbicara, tanggapi mereka dengan sabar dan tenang.

6. Berikan Makanan yang Bergizi

Banyak orang yang beranggapan bahwa dengan mengonsumsi gula berlebih akan menyebabkan anak menjadi hiperaktif. Padahal pada kenyataannya tidak demikian. Hingga saat ini, belum ada sebuah penelitian yang terbukti secara ilmiah mengungkapkan bahwa gula dapat menyebabkan seseorang menjadi hiperaktif. Walaupun begitu, konsumsi gula secara berlebihan dapat mempengaruhi perilaku seseorang.

Gula adalah karbohidrat sederhana yang sangat mudah diserap oleh tubuh. Namun bisa membuat penurunan dan peningkatan kadar darah yang ada di dalam tubuh dengan cepat. Pada anak sendiri, penurunan kadar gula darah yang terjadi secara tiba-tiba bisa menyebabkan mereka menjadi mudah rewel. Sebab, tubuh seakan-akan kekurangan energi dan sel-sel yang ada di dalam tubuh menjadi kelaparan. Hal itulah yang bisa membuat perilaku seseorang dan suasana hati mereka menjadi tidak stabil. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk selalu memperhatikan makanan anak sesuai dengan gizi yang dibutuhkan setiap harinya.

7. Redam Amarah dan Kesal

Anak yang hiperaktif seringkali membuat orang tua merasa kesal. Mereka dapat menunjukkan perasaan tersebut secara jelas. Entah itu ledakan amarah, kegembiraan, sedih secara tiba-tiba ketika suasana hatinya memburuk. Walaupun begitu, orang tua sangat disarankan untuk tetap sabar dan tenang. Hindari membentak anak dan memberikan hukuman fisik kepada anak-anak. Apabila Anda sering membentak dan memberikan hukuman fisik kepada mereka, hal tersebut justru akan membuat anak menjadi semakin tidak terkendali.

Pengobatan Anak Hiperaktif

Apabila hiperaktif yang dialami oleh anak disebabkan oleh kondisi fisik mereka, maka dokter mungkin akan merekomendasikan resep obat untuk mengobati kondisi tersebut. Sedangkan jika hiperaktif yang dialami anak disebabkan oleh kesehatan mental, maka pengobatan yang dijalani harus dilakukan dengan psikiater ataupun psikolog. Untuk pilihan pengobatan yang bisa dilakukan antara lain:

1. Terapi

Terapi bicara atau terapi perilaku kognitif kerap digunakan untuk mengobati anak yang mengalami perilaku hiperaktif. Terapi perilaku kognitif biasanya ditujukan untuk merubah pola pikir dan perilaku anak. Sedangkan terapi bicara akan mendiskusikan gejala yang anak alami bersama terapis. Dengan proses tersebut, terapis akan membantu dalam mengembangkan strategi untuk mengatasi hiperaktif dan mengurangi efek yang muncul.

2. Obat-obatan

Anak-anak mungkin saja perlu mengonsumsi obat-obatan yang bertujuan untuk membantu mereka dalam mengembalikan hiperaktifnya. Obat-obatan tersebut akan diresepkan oleh dokter guan memberikan efek menenangkan. Biasanya, obat yang digunakan yaitu dexmethylphenidate, dextroamphetamine dan amphetamine, dextroamphetamine, lisdexamfetamine, dan juga methylphenidate. Apabila digunakan secara sembarangan, maka bisa menimbulkan masalah baru. Oleh karena itu, dokter juga akan memantau penggunaan obat yang Ia resepkan.

Selain itu, dokter juga akan menyarankan supaya anak menghindari stimulan seperti nikotin, kafein, atau lainnya yang bisa memicu gejala. Sehingga, pastikan Anda tidak memberikan anak apa pun yang mengandung nikotin ataupun kafein.

Kadang kala, terlalu banyak aktivitas dan juga keributan di rumah juga dapat menyebabkan anak menjadi sulit untuk rileks sehingga menjadi hiperaktif. Jadi, usahakan untuk menjaga suasana rumah tetap tenang dan luangkan waktu bersama keluarga. Anda bisa membacakan anak-anak buku cerita sembari merangkul atau memeluknya untuk membuat anak merasa nyaman dan terkendali.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Lely Azizah