Bahasa Bahasa Indonesia Sastra

Kumpulan Cerita Rakyat Madura Lengkap dengan Pesan Moral

Written by Vania Andini

cerita rakyat madura – Halo, Grameds! Pulau Madura nggak hanya terkenal dengan budaya karapan sapi tetapi juga memiliki banyak cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun.

Cerita rakyat Madura biasanya mengandung unsur legenda, sejarah, hingga pesan moral yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Nah, kalau kamu penasaran dengan berbagai cerita rakyat populer dari Madura, yuk simak pembahasannya berikut ini, Grameds!

Pengertian Cerita Rakyat

Grameds, cerita rakyat adalah kisah tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi, baik secara lisan maupun tulisan. Cerita ini biasanya berkembang di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari budaya suatu daerah.

Cerita rakyat sering kali mengandung pesan moral, nilai kehidupan, hingga asal-usul suatu tempat atau tradisi tertentu. Karena itulah, cerita rakyat menjadi salah satu warisan budaya yang penting untuk dilestarikan.

Ciri-Ciri Cerita Rakyat Madura

Cerita rakyat dari Madura memiliki beberapa ciri khas yang membuatnya unik, Grameds.

Ciri-Ciri Penjelasan
Mengandung nilai moral Banyak mengajarkan keberanian dan kesetiaan
Berkaitan dengan budaya lokal Dekat dengan tradisi masyarakat Madura
Bersifat turun-temurun Diceritakan dari generasi ke generasi
Memiliki unsur legenda Berkaitan dengan tokoh atau tempat tertentu
Menggunakan latar masa lampau Berlatar kehidupan kerajaan atau desa tradisional

Cerita Rakyat Madura

Berikut adalah 7 cerita rakyat Madura lengkap dengan pesan moralnya, Grameds.

1. Joko Tole

Dahulu kala, di Pulau Madura hiduplah seorang pemuda sederhana bernama Joko Tole. Ia berasal dari keluarga biasa dan hidup dalam kondisi yang sangat sederhana bersama ibunya. Walaupun miskin, Joko Tole dikenal sebagai pemuda yang rajin bekerja, sopan kepada orang lain, dan memiliki tekad yang sangat kuat.

Sejak kecil, Joko Tole sering membantu ibunya mencari kayu bakar dan bekerja di ladang milik warga desa. Tubuhnya kuat dan tenaganya luar biasa dibandingkan pemuda lain seusianya. Namun, meskipun memiliki kemampuan hebat, Joko Tole tidak pernah sombong dan tetap rendah hati kepada siapa pun.

Pada masa itu, kerajaan di Madura sedang mengalami masalah besar. Raja membutuhkan seorang pandai besi yang mampu membuat senjata pusaka untuk melindungi kerajaan dari ancaman musuh. Banyak ahli besi mencoba membuat senjata terbaik, tetapi tidak ada yang berhasil memenuhi keinginan raja.

Mendengar kabar tersebut, Joko Tole memberanikan diri datang ke kerajaan. Awalnya, banyak orang meremehkannya karena ia hanyalah pemuda miskin dari desa kecil. Namun, Joko Tole tetap percaya pada kemampuannya.

Ia kemudian meminta izin untuk membuat senjata pusaka tersebut. Selama berhari-hari, Joko Tole bekerja tanpa kenal lelah di tempat pembakaran besi. Panas api dan beratnya pekerjaan tidak membuatnya menyerah.

Konon, saat membuat pusaka itu, Joko Tole menggunakan kekuatan dan doa-doa khusus sehingga senjata yang dibuatnya memiliki kekuatan luar biasa. Setelah selesai, pusaka tersebut berhasil memancarkan cahaya terang dan membuat semua orang di kerajaan kagum.

Raja sangat terkejut melihat hasil karya Joko Tole. Senjata itu dianggap sebagai pusaka terbaik yang pernah dimiliki kerajaan. Karena jasanya, Joko Tole mendapat penghormatan besar dan dipercaya membantu kerajaan dalam berbagai hal penting.

Walaupun akhirnya terkenal dan dihormati banyak orang, Joko Tole tetap hidup sederhana dan tidak melupakan asal-usulnya. Ia masih sering membantu masyarakat kecil dan menggunakan kemampuannya untuk menolong orang lain.

Hingga sekarang, nama Joko Tole masih dikenal dalam cerita rakyat Madura sebagai simbol kerja keras, ketekunan, dan kerendahan hati.

Pesan Moral

Cerita Joko Tole mengajarkan bahwa kerja keras, ketekunan, dan sikap rendah hati dapat membawa seseorang menuju keberhasilan. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa kemampuan seseorang tidak boleh dinilai dari latar belakang atau status sosialnya.

2. Bangsadcara dan Ragapadmi

Pada zaman dahulu, hiduplah seorang pemuda tampan dan baik hati bernama Bangsadcara. Ia dikenal sebagai pemuda yang rajin bekerja, sopan, dan sangat disukai masyarakat di sekitarnya. Walaupun berasal dari keluarga sederhana, Bangsadcara memiliki hati yang tulus dan penuh kasih sayang.

Di sebuah kerajaan tidak jauh dari tempat tinggalnya, hiduplah seorang putri cantik bernama Ragapadmi. Putri tersebut terkenal bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga karena kelembutan hati dan kepeduliannya kepada rakyat kecil.

Suatu hari, Bangsadcara dan Ragapadmi bertemu secara tidak sengaja dalam sebuah acara kerajaan. Sejak pertemuan pertama, keduanya mulai saling jatuh cinta. Hubungan mereka semakin dekat hingga akhirnya diketahui oleh banyak orang di kerajaan.

Namun, cinta mereka tidak berjalan mudah. Banyak bangsawan kerajaan yang iri terhadap Bangsadcara karena ia hanyalah pemuda biasa. Mereka merasa Bangsadcara tidak pantas mendampingi seorang putri kerajaan.

Karena rasa iri itu, beberapa orang mulai menyebarkan fitnah tentang Bangsadcara kepada keluarga kerajaan. Mereka mengatakan bahwa Bangsadcara hanya ingin memanfaatkan Ragapadmi demi kekuasaan dan kekayaan.

Mendengar fitnah tersebut, keluarga kerajaan mulai meragukan Bangsadcara. Walaupun Ragapadmi tetap percaya kepada pria yang dicintainya, tekanan dari lingkungan kerajaan membuat hubungan mereka semakin sulit.

Suatu hari, Bangsadcara difitnah melakukan kesalahan besar yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan. Ia kemudian diusir dan dipaksa meninggalkan kerajaan.

Sebelum pergi, Bangsadcara berjanji bahwa cintanya kepada Ragapadmi tidak akan pernah berubah. Ragapadmi pun merasa sangat sedih karena tidak mampu menghentikan keputusan kerajaan.

Setelah kepergian Bangsadcara, Ragapadmi jatuh sakit karena terus memikirkan orang yang dicintainya. Sementara itu, Bangsadcara hidup mengembara dengan hati penuh kesedihan.

Dalam beberapa versi cerita, keduanya akhirnya meninggal dunia karena tidak sanggup menahan penderitaan dan perpisahan tersebut. Masyarakat kemudian mengenang kisah mereka sebagai simbol cinta sejati dan kesetiaan yang tidak tergantikan.

Hingga sekarang, cerita Bangsadcara dan Ragapadmi masih dikenal luas di Madura sebagai legenda cinta yang penuh pengorbanan.

Pesan Moral

Cerita Bangsadcara dan Ragapadmi mengajarkan tentang kesetiaan, ketulusan cinta, dan pentingnya menjaga kepercayaan. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa fitnah dan rasa iri dapat menghancurkan kebahagiaan seseorang.

3. Ke’ Lesap

Dahulu kala, pada masa penjajahan di Pulau Madura, hiduplah seorang tokoh pemberani bernama Ke’ Lesap. Ia dikenal masyarakat sebagai sosok yang kuat, tegas, dan sangat peduli terhadap rakyat kecil.

Pada masa itu, kehidupan masyarakat Madura sangat sulit karena banyak rakyat diperlakukan tidak adil oleh penguasa dan penjajah. Pajak yang tinggi membuat rakyat menderita, sementara para bangsawan yang bekerja sama dengan penjajah hidup dengan nyaman.

Ke’ Lesap tumbuh dengan melihat penderitaan masyarakat di sekitarnya. Sejak muda, ia dikenal memiliki keberanian luar biasa dan tidak takut melawan ketidakadilan. Walaupun berasal dari keluarga sederhana, Ke’ Lesap memiliki kemampuan bela diri yang hebat dan sangat disegani.

Melihat rakyat terus tertindas, Ke’ Lesap mulai membantu masyarakat secara diam-diam. Ia sering membagikan makanan kepada warga miskin dan melindungi penduduk desa dari perlakuan kasar para prajurit.

Karena keberaniannya, nama Ke’ Lesap mulai dikenal di berbagai daerah di Madura. Banyak rakyat yang mendukung dan menganggapnya sebagai pelindung masyarakat kecil.

Namun, hal itu membuat para penguasa merasa terancam. Mereka kemudian mencoba menangkap Ke’ Lesap dan menghentikan perlawanannya. Berkali-kali prajurit dikirim untuk memburunya, tetapi Ke’ Lesap selalu berhasil meloloskan diri.

Konon, Ke’ Lesap memiliki kesaktian dan strategi yang sangat cerdas saat menghadapi musuh. Ia sering berpindah dari satu desa ke desa lain untuk menghindari pengejaran sambil tetap membantu rakyat yang membutuhkan.

Suatu hari, terjadi pertempuran besar antara pasukan penguasa dan kelompok Ke’ Lesap. Walaupun jumlah lawan jauh lebih banyak, Ke’ Lesap tetap bertarung dengan berani demi melindungi rakyat Madura.

Masyarakat sangat menghormati perjuangan Ke’ Lesap karena ia rela mempertaruhkan nyawanya demi membela keadilan. Hingga sekarang, nama Ke’ Lesap masih dikenang sebagai simbol keberanian dan perlawanan masyarakat Madura terhadap penindasan.

Pesan Moral

Cerita Ke’ Lesap mengajarkan pentingnya keberanian, kepedulian terhadap sesama, dan semangat melawan ketidakadilan. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati adalah orang yang mau berjuang demi rakyatnya.

4. Asal Usul Api Tak Kunjung Padam

Pada zaman dahulu, di daerah Pamekasan, Madura, hiduplah seorang tokoh sakti yang dikenal bijaksana dan suka menolong masyarakat. Ia sering membantu warga desa yang sedang mengalami kesulitan, mulai dari gagal panen hingga kekurangan air saat musim kemarau panjang.

Suatu hari, daerah tempat tinggalnya mengalami musim kemarau yang sangat parah. Sawah menjadi kering, hasil panen gagal, dan masyarakat kesulitan mendapatkan air. Banyak warga mulai merasa putus asa karena keadaan semakin memburuk setiap harinya.

Melihat penderitaan masyarakat, tokoh sakti tersebut memutuskan melakukan pertapaan di sebuah hutan yang sunyi. Ia berdoa dan memohon agar masyarakat diberikan keselamatan serta kehidupan yang lebih baik.

Selama berhari-hari, ia bertapa tanpa makan dan minum. Masyarakat yang mengetahui hal itu ikut berharap agar doanya dikabulkan.

Setelah pertapaan berlangsung cukup lama, tiba-tiba muncul cahaya terang dari dalam tanah. Tidak lama kemudian, api besar keluar dari permukaan tanah dan terus menyala tanpa padam sedikit pun.

Anehnya, walaupun api tersebut menyala sangat besar, api itu tidak membakar pepohonan atau rumah di sekitarnya. Masyarakat yang melihat kejadian itu merasa sangat takjub dan percaya bahwa api tersebut merupakan tanda keberkahan.

Sejak munculnya api tersebut, keadaan desa perlahan membaik. Hujan mulai turun, tanaman kembali tumbuh, dan kehidupan masyarakat menjadi lebih tenang.

Karena keajaiban itulah, tempat tersebut kemudian dikenal dengan nama Api Tak Kunjung Padam. Hingga sekarang, api tersebut masih bisa ditemukan dan menjadi salah satu tempat wisata terkenal di Madura.

Banyak masyarakat percaya bahwa api tersebut menjadi simbol harapan, doa, dan kekuatan spiritual yang diwariskan sejak zaman dahulu.

Pesan Moral

Cerita Asal Usul Api Tak Kunjung Padam mengajarkan tentang ketekunan, kepedulian terhadap sesama, dan pentingnya berharap kepada Tuhan saat menghadapi kesulitan. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa pengorbanan dan niat baik dapat membawa perubahan bagi banyak orang.

5. Aryo Menak

Pada zaman dahulu, di sebuah wilayah di Madura, hiduplah seorang bangsawan muda bernama Aryo Menak. Ia dikenal sebagai pemuda yang gagah, cerdas, dan memiliki hati yang sangat baik kepada rakyat kecil.

Berbeda dengan bangsawan lain yang hidup mewah di istana, Aryo Menak lebih senang turun langsung ke desa-desa untuk melihat kehidupan masyarakat. Ia sering membantu warga yang kesulitan dan mendengarkan keluhan mereka.

Pada masa itu, wilayah tempat tinggal Aryo Menak sedang mengalami kekacauan akibat perebutan kekuasaan. Banyak perampok dan kelompok bersenjata menyerang desa-desa sehingga masyarakat hidup dalam ketakutan.

Melihat kondisi tersebut, Aryo Menak merasa tidak tega membiarkan rakyat terus menderita. Ia kemudian mengumpulkan para pemuda desa untuk menjaga keamanan wilayah mereka.

Walaupun masih muda, Aryo Menak memiliki kemampuan memimpin yang luar biasa. Ia melatih para pemuda agar mampu melindungi desa dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

Suatu hari, sekelompok penjahat besar datang menyerang wilayah tempat tinggal mereka. Banyak warga ketakutan dan memilih bersembunyi.

Namun, Aryo Menak justru berdiri paling depan untuk melindungi rakyatnya. Dengan keberanian dan strategi yang dimilikinya, ia berhasil memimpin masyarakat melawan para penjahat tersebut.

Pertempuran berlangsung cukup lama, tetapi akhirnya Aryo Menak dan masyarakat berhasil mengusir para penyerang dari desa mereka.

Setelah kejadian itu, nama Aryo Menak semakin dihormati oleh masyarakat Madura. Ia dikenal bukan hanya sebagai bangsawan, tetapi juga sebagai pelindung rakyat yang rela berkorban demi keamanan banyak orang.

Walaupun memiliki kekuasaan dan dihormati banyak orang, Aryo Menak tetap hidup sederhana dan tidak pernah memandang rendah masyarakat kecil.

Hingga sekarang, kisah Aryo Menak masih dikenang sebagai simbol keberanian, kepemimpinan, dan kepedulian terhadap sesama.

Pesan Moral

Cerita Aryo Menak mengajarkan bahwa seorang pemimpin harus peduli terhadap rakyatnya dan berani melindungi orang lain. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan hanya berasal dari kekuasaan, tetapi juga dari ketulusan hati.

6. Karapan Sapi

Dahulu kala, masyarakat Madura hidup sebagai petani dan peternak sederhana. Karena kondisi tanah yang cukup kering, mereka harus bekerja keras untuk mengolah sawah dan mencari penghidupan.

Pada masa itu, sapi menjadi hewan yang sangat penting bagi masyarakat Madura. Selain membantu membajak sawah, sapi juga dianggap sebagai simbol kekuatan dan kesejahteraan keluarga.

Konon, tradisi karapan sapi bermula dari seorang tokoh bernama Pangeran Katandur yang mengajarkan masyarakat cara bercocok tanam dengan lebih baik. Ia menyarankan warga menggunakan tenaga sapi agar pekerjaan menjadi lebih cepat dan ringan.

Seiring waktu, masyarakat mulai membandingkan sapi milik mereka untuk melihat sapi mana yang paling kuat dan cepat. Awalnya kegiatan itu hanya dilakukan sebagai hiburan setelah musim panen.

Namun, lama-kelamaan perlombaan tersebut berkembang menjadi tradisi besar yang dikenal sebagai karapan sapi.

Dalam perlombaan itu, dua ekor sapi dipasangkan pada sebuah alat kayu kecil, lalu seorang joki berdiri di atasnya untuk mengendalikan laju sapi. Sapi yang berlari paling cepat menuju garis akhir akan menjadi pemenang.

Masyarakat Madura sangat antusias mengikuti perlombaan ini. Mereka merawat sapi-sapi pilihan dengan sangat baik, bahkan ada yang memberikan makanan khusus agar sapi menjadi lebih kuat dan sehat.

Karapan sapi kemudian bukan hanya menjadi perlombaan biasa, tetapi juga bagian penting dari budaya Madura. Banyak warga berkumpul untuk menonton, merayakan kemenangan, dan mempererat hubungan antar masyarakat.

Hingga sekarang, tradisi karapan sapi masih sering diadakan dan menjadi salah satu ikon budaya paling terkenal dari Madura.

Pesan Moral

Cerita Karapan Sapi mengajarkan tentang kerja keras, kebersamaan, dan pentingnya menjaga tradisi budaya daerah. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan bahwa hiburan masyarakat bisa berkembang menjadi warisan budaya yang sangat berharga.

7. Raden Segoro

Dahulu kala, di pesisir Pulau Madura, hiduplah seorang pemuda bernama Raden Segoro. Ia dikenal sebagai sosok yang baik hati, pemberani, dan sangat dekat dengan kehidupan laut. Sejak kecil, Raden Segoro sudah terbiasa membantu para nelayan pergi melaut dan mencari ikan.

Masyarakat pesisir sangat menyayanginya karena Raden Segoro sering membantu siapa saja tanpa mengharapkan imbalan. Ia juga dikenal memiliki kemampuan luar biasa dalam membaca cuaca dan ombak laut.

Konon, Raden Segoro memiliki hubungan spiritual yang kuat dengan lautan. Banyak orang percaya bahwa ia mampu merasakan datangnya badai bahkan sebelum langit berubah gelap.

Pada suatu musim, laut di sekitar Madura tiba-tiba menjadi sangat ganas. Ombak besar datang hampir setiap hari dan membuat para nelayan takut melaut. Banyak perahu rusak dan hasil tangkapan ikan semakin sedikit.

Kondisi itu membuat masyarakat pesisir mulai kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Anak-anak kelaparan dan banyak keluarga hidup dalam kesedihan.

Melihat penderitaan masyarakat, Raden Segoro merasa tidak tega. Ia kemudian memutuskan pergi bertapa di tepi pantai selama beberapa hari untuk memohon keselamatan bagi warga desa.

Selama pertapaannya, Raden Segoro terus berdoa agar badai berhenti dan laut kembali tenang. Masyarakat desa ikut berharap dan menunggu kabar darinya.

Pada malam terakhir pertapaannya, badai besar tiba-tiba datang lebih dahsyat dari sebelumnya. Petir menyambar, ombak menghantam pantai, dan banyak nelayan yang masih berada di laut terancam tenggelam.

Tanpa rasa takut, Raden Segoro segera menuju laut untuk menyelamatkan para nelayan. Ia berusaha membantu mereka kembali ke daratan walaupun ombak terus menghantam tubuhnya.

Konon, setelah berhasil menyelamatkan para nelayan, Raden Segoro menghilang di tengah laut bersama badai yang perlahan mulai mereda.

Keesokan harinya, laut kembali tenang seperti semula. Masyarakat percaya bahwa Raden Segoro telah mengorbankan dirinya demi keselamatan desa mereka.

Sejak saat itu, masyarakat pesisir Madura sangat menghormati nama Raden Segoro. Banyak nelayan yang masih mengenang jasanya dan berdoa sebelum melaut sebagai bentuk penghormatan kepada sang pelindung laut.

Pesan Moral

Cerita Raden Segoro mengajarkan tentang pengorbanan, keberanian, dan kepedulian terhadap sesama. Selain itu, kisah ini juga menunjukkan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

 Kesimpulan

Grameds, cerita rakyat Madura nggak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga menyimpan banyak nilai kehidupan dan budaya lokal yang penting untuk dilestarikan.

Kisah-kisah seperti Joko Tole, Bangsadcara dan Ragapadmi, hingga Ke’ Lesap menunjukkan bagaimana masyarakat Madura menghargai keberanian, kesetiaan, kerja keras, dan kehormatan.

Selain menjadi hiburan, cerita rakyat juga membantu generasi muda mengenal sejarah dan budaya daerahnya sendiri.

Rekomendasi Buku Terkait

1. Frankenstein – Mary Shelley

Frankenstein

Dokter Victor Frankenstein ingin menciptakan makhluk sempurna dengan menggabungkan ilmu pengetahuan dan ilmu gaib. Dari sisa-sisa tubuh orang mati, ia membuat makhluk raksasa dengan kekuatan luar biasa… dan menghidupkannya. Tetapi ketika makhluk itu membuka mata, Frankenstein melarikan diri dengan rasa takut yang amat sangat.

Makhluk itu pun keluar ke dunia ramai, berusaha mencari teman dan cinta, namun yang diperolehnya justru kebencian dan ketakutan. maka ia pun bersumpah akan membalas dendam pada sang pencipta yang telah memberikan nafas hidup baginya. Dengan kekuatannya yang luar biasa, ia berkelana hingga ke ujung dunia… untuk menghancurkan semua orang yang dicintai Frankenstein.

2. Wuthering Height – Emily Brontë

Wuthering Height

Wuthering Heights mengisahkan tentang cinta yang tak sampai antara Heathcliff dan Catherine Earnshaw. Ketika Catherine yang sangat dicintainya memutuskan untuk menikah dengan Edgar Linton yang merupakan saingan Heathcliff sejak kecil, Heathcliff pun melarikan diri dan kelak kembali sebagai pria kaya dan berpendidikan.

Lalu dia mulai menyusun rencana pembalasan dendam kepada keluarga Earnshaw dan Linton yang diyakininya telah menghancurkan hidupnya.

3. 1984 – George Orwell

Classics: 1984

Winston Smith berusaha menjalani hidupnya sebagai warga negara yang patuh terhadap aturan-aturan Partai, walaupun hati dan pikirannya memberontak. Winston tidak berani melawan terang-terangan, sebab Big Brother senantiasa mengawasi semua orang. Tak ada privasi bagi siapa pun. Segalanya diatur oleh Negara, bahkan sejarah pun ditulis ulang sesuai kebutuhan.

Big Brother menuntut kepatuhan dan kesetiaan total. Yang berani menentang akan diuapkan. Dalam kerinduannya untuk memperoleh kebebasan dan kebenaran, Winston mulai menulis buku harian dan menjalin cinta rahasia dengan Julia. Namun harga kebebasan itu sungguh mahal, sebagaimana dialami Winston kemudian.

4. Classics: Putri Raja Cilik (A Little Prince)

Classics: Putri Raja Cilik (A Little Prince)

Ketika baru datang ke London dan menjadi murid di sebuah sekolah asrama bergengsi, Sara Crewe memiliki segalanya––pakaian-pakaian indah, boneka-boneka cantik, dan ayah yang selalu memenuhi segala keinginannya. Hidupnya nyaris sempurna, sampai hari ulang tahunnya yang kesebelas.

Sara mendapat kabar bahwa ayahnya meninggal dan tidak mewariskan apa pun padanya. Gurunya, Miss Minchin, membencinya dan memperlakukannya dengan kejam, karena dia telah jatuh miskin. Kini Sara mesti menghadapi kesulitan-kesulitannya dan membuktikan bahwa dia tetap seorang “putri raja” yang bisa bertahan dalam menghadapi masa-masa berat itu. 

5. Classics: Gadis-Gadis March (Little Women)

Classics: Gadis-Gadis March (Little Women)

Kisah kehidupan keluarga March yang mempunyai empat orang putri, tinggal di daerah Concord, Amerika Serikat pada abad ke-19. Meg yang cantik, Jo yang tomboi, Beth yang rapuh, dan Amy yang artistik.

Bersama Laurie, pemuda tetangga yang menjadi teman mereka sejak kecil, keempat gadis ini berusaha meraih impian masing-masing di tengah kondisi keluarga yang berat dan tengah ditinggal sang ayah yang harus ikut berperang.

About the author

Vania Andini

Gramedia Literasi