Desain

Aliran Kubisme: Pengertian, Contoh Karya, Ciri, Tokoh

Written by Laeli Nur Azizah

Seperti yang kita ketahui bahwa seni lukis merupakan salah satu cabang dari seni rupa. Oleh karena itu, seni lukis juga termasuk pengembangan yang lebih utuh dari menggambar. Di dalam seni lukis, ada berbagai macam aliran yang mempunyai ciri khas sendiri dalam menggambar lukisan. Salah satu aliran tersebut adalah aliran Kubisme. Nah, apa itu aliran kubisme, ciri-cirinya, dan siapa saja tokoh yang ada di dalamnya serta sejarah singkatnya. Di bawah ini kita akan membahas hal tersebut secara lebih detail.

Pengertian Aliran Kubisme

Aliran Kubisme merupakan salah satu seni rupa yang mempunyai sudut pandang dari suatu objek yang ada di dalam satu gambar. Sehingga akan menghasilkan gambar yang seolah-olah terpisah atau terfragmentasi. Fragmentasi yang ada di dalam aliran Kubisme akan membentuk suatu geometris seperti halnya kubus, segitiga, silinder, lingkaran, dan lainnya. Dengan begitu, aliran Kubisme tidak harus berbentuk kubus, namun juga bisa berbentuk geometris. Sebuah lukisan dari aliran Kubisme mempunyai sudut pandang depan dan samping yang bisa dilihat secara bersamaan dalam satu objek lukisan. Sehingga hal itu akan menghasilkan nilai yang artistik.

 

Sejarah Kubisme

Kubisme pada awalnya muncul pada tahun 1907, saat Picasso mulai menggunakan gaya tersebut di dalam karyanya yang berjudul “Demoiselles D’Avignon”. Karya tersebut sebagai prototipe atau sebuah karya dari pra-Kubisme. Di dalam karya tersebut, telah tampak berbagai macam ciri-ciri dari aliran Kubisme seperti distorsi yang radikal di area hidung, latar yang terpecah atau terfragmentasi, dan posisi mata yang sedikit janggal tapi dapat memberikan ekspresi artistik. Georges Braque yang melihat lukisan tersebut di studio Picasso merasa tertarik dan menanggapi gaya yang dipakai oleh Picasso dengan mengeksplorasi gaya yang mirip atau serupa.

Contoh Karya Kubisme: Demoiselles D’avignon, karya Pablo Picasso

Contoh Karya Kubisme: Demoiselles D'vignon, karya Pablo Picasso.

Lalu, mengapa aliran ini disebut dengan Kubisme? Istilah kubisme ini pada dasarnya berasal dari komentar yang dibuat oleh salah satu kritikus seni yang bernama Louis Vauxcelles saat melihat beberapa lukisan karya Georges Braque yang dipamerkan di Paris pada tahun 1908. Ia menjelaskan lukisan Braque dengan menyederhanakan objeknya menjadi sebuah bentuk geometris. Sehingga terlihat ke kubus-kubusan. Istilah itulah yang akhirnya menyebar saat aliran Kubisme semakin memperoleh perhatian masyarakat umum.

Kubisme sendiri bisa dikatakan mendapatkan pengaruh dan inspirasi dari karya-karya dari Paul Cezanne. Sampai salah satu fase awalnya disebut dengan Cezzanian Cubism. Karya buatan Cezanne sudah tidak lagi memperhatikan perspektif yang akurat. Sehingga karya yang Ia buat tidak mempunyai perspektif yang konsisten. Bahkan beberapa objek terlihat ganjil karena tidak ada perspektif yang jelas. Akan tetapi itu merupakan salah satu hal yang membuatnya terlihat lebih menarik daripada dengan karya klasik yang ada di masa itu telah dianggap terlalu datar.

Pablo Picasso juga terinspirasi oleh topeng-topeng yang berasal dari suku Afrika. Gaya yang dipakai untuk membuat topeng tersebut sangat tidak realistik dan tidak natural, penuh distorsi tapi tetap menghadirkan citra manusia yang hidup. Pada saat itu Picasso sempat berkata: “Wajah terdiri dari mata, hidung dan mulut yang dapat didistribusikan dengan cara apapun sesuai dengan keinginan Anda”. Itu artinya, bisa saja kita menggambar atau melukis mulut di atas hidung dan mata berada di bawah hidung, bila kita menginginkannya. Itu merupakan salah satu cara pandang Kubisme yang penting untuk dipahami.

Ciri-ciri Aliran Kubisme

Berikut ini adalah beberapa ciri-ciri dari aliran Kubisme yang perlu diketahui:

1. Hanya menggunakan bentuk geometris

Lukisan yang memiliki corak Kubisme biasanya tidak mengindahkan bentuk asli dari subjek yang ada di alam nyata. Para seniman Kubisme mendekonstruksi objek yang dilukis dan melakukan sebuah analisis dari berbagai sudut. Itulah salah satu alasan jenis aliran Kubisme pertama disebut dengan Kubisme Analitik. Sebab, objek yang sudah dianalisis lalu dilukis dalam susunan geometri, misalnya kotak, segitiga, atau kerucut.

2. Terlihat rata (flat) & minim kedalaman (sense of depth)

Bagian yang ada di subjek dipecah dan disusun lagi agar terlihat menjadi 2 dimensi dan berbentuk abstrak. Hal tersebut menghilangkan ilusi kedalaman dari lukisan itu sendiri. Kary Kubisme juga sengaja menghindari penggunaan berbagai macam teknik lukis tradisional. Misalnya saja teknik perspektif, chiaroscuro (penggunaan warna gelap dan terang untuk menyajikan kesan 3 dimensi), dan foreshortening (memendekkan subjek untuk menggambarkan objek yang dekat dengan sang pengamat)

3. Menggunakan beberapa perspektif

Subjek yang sama juga dapat terlihat dari berbagai sudut secara bersamaan. Contohnya, sebuah cangkir yang dipecah menjadi dua bagian. Dimana bagian kiri akan menampilan cangkir yang dilihat dari bagian samping, sedangkan bagian kanan akan melukiskan cangkir dari bagian atas.

4. Terdiri dari banyak fragmen

Aliran kubisme sendiri sering disebut sebagai kumpulan kaca pecah oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Ketika melihat lukisan yang berasal dari aliran ini, para pengamat perlu mengumpulkan kepingan-kepingan dari gambarnya. Lalu lukisan dilihat secara keseluruhan untuk memahami maknanya. Kadang-kadang, pelukis memecah objek menjadi beberapa bagian agar dapat digambar dengan berbagai sudut perspektif. Latar belakang dan juga subjek lukisan Kubisme seringkali menembus satu dengan yang lainnya. Selain cara pelukisan yang menggunakan banyak perspektif, fragmentasi visual tersebut membuat karya bercorak Kubisme kerap kali sulit dipahami.

 

Jenis Kubisme

Aliran Kubisme berkembang melalui dua fase yang berbeda. Fase yang pertama yaitu Kubisme Analitik atau Analytics Cubism dan yang kedua adalah Sintetis atau Synthetic Cubism. Akan tetapi, tahapan Kubisme ini masih diperdebatkan dan terus diperbarui sampai sekarang. Berbagai pendapat dari para ahli mengatakan bahwa aliran Kubisme mempunyai tiga atau bahkan empat fase. Satu fase sebelum fase Analitik dan satu fase lagi setelah fase Sintesis. Nah, supaya lebih jelas lagi, di bawah ini adalah jenis aliran kubisme yang perlu dipahami:

Kubisme Cezannian / Cezannian Cubism (1908 – 1909)

Ini merupakan fase dari aliran Kubisme yang masih secara mentah terinspirasi dari karya-karya Cezanne. Pandangan retrospektif terhadap Cezanne banyak mengilhami para seniman untuk mengambil sisi positif dari karya-karya mereka. Salah satunya yaitu kebebasan perspektif yang bisa membuat sebuah karya menjadi lebih dinamis dan tidak hanya mengimitasi alam saja.

Kubisme Analitik / Analytics Cubism (1910 – 1912)

Kubisme pada fase ini berkembang dengan cara yang cukup sistematis. Karya yang didasarkan pada observasi objek dalam konteks latar belakang dan juga eksplorasi melalui berbagai sudut pandangnya. Picasso dan juga Braque membatasi subjek mereka pada genre potret tradisional dan juga still life. Selain itu, mereka juga membatasi palet pada warna bumi dan juga abu-abu yang dimatikan. Hal itu bertujuan untuk mengurangi kejelasan antara bentuk figur dan objek yang terfragmentasi.

Kubisme Sintesis / Synthesis Cubism (1912 – 1914)

Di tahun 1912, Picasso dan Braque mulai mengenalkan unsur-unsur asing ke dalam komposisi mereka sendiri. Picasso menambahkan sebuah wallpaper yang mirip dengan anyaman pada karyanya yang berjudul: Still Life with Chair-Caning tahun 1912. Sementara Braque menempelkan guntingan koran ke kanvasnya, kemudian mulai mengeksplorasi gerakan kolase. Pada intinya, fase ini disebut dengan Sintetis karena mereka mulai menyusun dan menggabungkan sebuah benda non cat di lukisan mereka.

Kubisme Kristal / Crystal Cubism (1915 – 1922)

Kubisme kristal merupakan sebuah bentuk penyederhanaan dari berbagai macam fase sebelumnya. Pada fase ini, aliran Kubisme ditekankan pada bidang geometris datar yang saling bertumpuk. Disinilah Kubisme menjadi dekat dengan abstrak formalistik, karena bentuk nonrepresentatif geometris hampir mengontrol semua elemen karya seni.

 

Tokoh Seniman & Contoh Karya Kubisme

Ada banyak seniman yang terlibat di dalam aliran Kubisme. Sebab, aliran ini sudah bisa dikategorikan pada mazhab yang cukup besar. Di bawah ini adalah beberapa tokoh seniman Kubisme yang cukup berpengaruh dan beberapa contoh dari karyanya.

1. Georges Braque

Georges Braque berada di baris paling depan pada gerakan seni revolusioner Kubisme. Karya-karya Braque di sepanjang karirnya selalu berfokus pada objek yang masih hidup dan cara melihat berbagai macam perspektif melalui garis, warna, dan juga tekstur. Braque disebut sebagai salah satu pencetus dan pengembang utama dari aliran Kubisme. Walaupun Picasso lebih mengenalkannya ke publik. Braque sendiri mulai melakukan pergerakan seninya sebagai salah satu anggota Fauvisme. Ia mulai mengembangkan Kubisme setelah bertemu dengan Pablo Picasso. Bahkan di dalam suatu fase, lukisan karya mereka mempunyai banyak kemiripan dalam hal gaya, tema, dan warna. Akan tetapi Braque mengatakan bahwa karyanya tidak seperti Picasso. Dimana karyanya lebih cenderung murni dari ruang dan juga gambar. Hal ini tentu berbeda dengan Picasso yang memakai figur dan objek sebagai Tanda Ikon. Braque mencari sebuah keseimbangan dan juga harmoni di dalam komposisinya. Terlebih melalui papier colles, yaitu teknik kolase kertas yang ditemukan bersamaan dengan pengamatannya terhadap Kubisme di tahun 1912.

Contoh Karya Aliran Kubisme: Bottle and Fishes (1910-12)

Contoh Karya Kubisme: Bottle and Fishes (1910-12) oleh Georges Braque

Braque selalu melukis sebuah botol dan ikan di sepanjang karir melukisnya. Lukisan di atas merupakan salah satu contoh Analytic Cubism, yaitu fase awal dari adanya kolaborasi dalam mengembangkan Kubisme bersama Picasso. Lukisan tersebut mempunyai karakteristik palet yang berwarna earth tone ringan. Sehingga bisa menghasilkan citra yang sangat lembut walaupun objek yang dilukis termasuk berantakan dan banyak. Tekstur dari sapuan kuas yang dinamis mengisi berbagai macam potensi kekosongan di unsur lukisan yang luas dan besar. Komposisi yang rapi dengan menggunakan objek yang vertikal bertumpu di tumpuan horizontal ikut membantu dalam menyeimbangkan lukisan tersebut.

2. Pablo Picasso

Pablo Picasso merupakan seorang seniman yang paling dominan dan sangat berpengaruh pada abad pertama ke-20. Terlebih karena kemunculan Kubismenya yang diusung bersama Georges Braque. Picasso juga disebut sebagai salah satu penemu teknik kolase dan memberikan kontribusi yang besar pada aliran Simbolisme dan juga Surealisme. Walaupun karya utamanya adalah sebuah lukisan, tapi patungnya juga cukup berpengaruh dan sukses menjelajahi berbagai jenis media dan bidang lainnya seperti keramik dan seni grafis. Picasso sendiri mempunyai kepribadian yang karismatik. Sehingga mudah untuk dirinya menjadi semakin terkenal.

Pada awalnya, Picasso dipengaruhi oleh Henri Rousseau dan Paul Cezanne, sampai seni prasejarah dan juga kriya-kriya dari suku Afrika. Picasso banyak meminjam struktur dan juga imaji. Pengaruhnya tersebut telah berhasil membawanya menuju Kubisme. Dimana Ia mendekonstruksi konvensi perspektif mapan alat Renaisans. Lalu merevolusi sikap seniman pada gambaran bentuk dan juga ruang.

Pendalaman Picasso pada aliran Kubisme akhirnya membawanya menuju ke penemuan teknik kolase. Dimana Ia memutuskan untuk meninggalkan gagasan gambar sebagai jendela pada benda-benda yang ada di dunia. Ia juga mulai menganggapnya hanya sebagai suatu susunan tanda yang dipakai dengan cara yang berbeda. Kadang-kadang, objek tersebut hanya berupa Ikon, kadang juga menjadi sebuah simbol. Buah pemikiran tersebut akan sangat berpengaruh sepanjang beberapa dekade dari era Kubisme.

Contoh Karya Pablo Picasso: Guernica

Contoh lukisan Kubisme Guernica oleh Picasso

Guernica karya Pablo Picasso merupakan salah satu lukisan yang paling terkenal sepanjang masa. Seperti halnya karya-karya seni yang terkenal lainnya, makna dari lukisan ini tidak begitu jelas dan dibiarkan bebas untuk ditafsirkan. Guernica sendiri merupakan sebuah kota kecil yang berada di Spanyol Utara yang menjadi sarana untuk latihan pemboman oleh Luftwaffe Jerman selama terjadinya perang saudara Spanyol. Dengan melihat kebiasaan Picasso yang seringkali menggunakan tanda-tanda metafora, besar kemungkinan bahwa lukisan tersebut menyajikan banyak simbol, seperti kuda, banteng, dan seorang pria dengan pedang. Berbagai macam objek dan juga figur tersebut tampaknya menggambarkan adegan adu banteng. Salah satu olahraga ekstrim tersebut secara tidak langsung merupakan simbol dari Spanyol.

3. Juan Gris

Juan Gris merupakan satu-satunya seniman yang sangat berbakat dalam membuat Picasso merasa terancam. Gaya kubisme yang Ia miliki dibangun di atas pondasi Kubisme awal, tapi selanjutnya Ia mengarah ke arah Kubisme yang baru. Sebagai salah satu anggota dari kelompok seniman avant-garde di Paris, Gris mengadaptasi eksperimen yang dilakukan oleh Pablo Picasso dan Georges Braque. Lukisan-lukisan yang dimiliki oleh Gris cenderung unik, berbeda dengan seniman lain. Sebab, latar belakangnya adalah ilustrator. Maka dari itu, Gris sudah terbiasa bermain dengan elemen desain yang umumnya digunakan untuk membuat gambar komersial.

Berbeda halnya dengan Kubis lainnya, tujuan utama Gris yaitu untuk memanjakan mata. Seperti yang diungkapkan oleh seniman tersebut, ‘Saya lebih suka emosi yang memperbaiki aturan’. Terlepas dari perlakukannya yang radikal terhadap ruang dan juga objek, komposisi Gris tetaplah seimbang. Dimana palet yang dipilih merupakan warna-warna yang terang dan subjek yang kerap digunakan adalah tema avant-garde. Seperti halnya Picasso dan Braque, Gris juga mulai menempelkan kertas koran dan juga iklan ke dalam karya-karyanya. Adapun ciri khas yang ada di dalam teknik kolase yaitu Ia akan meninggalkan potongan iklan ataupun koran yang lebih besar, seakan-akan tetap ingin menjaga integritas informasi keasliannya.

Contoh Karya Kubisme Harlequin with a Guitar

Contoh Karya Kubisme: Harlequin with a Guitar oleh Juan Gris

Lukisan tersebut merupakan karya favorit mentor Gris, yaitu Picasso. Harlequin merupakan sosok karakter utama di commedia dell’arte atau teater topeng yang berasal dari Italia pada abad ke-16 dan seorang penipu yang memiliki kecenderungan untuk bertindak semaunya sendiri. Selain itu, Harlequin juga merupakan subjek yang kerap diangkat dalam bidang seni. Dari sini, latar belakangnya terlihat di mulut dan mata subjek yang seperti kartun. Garis-garis grafik cerah yang menelusuri sosok dan juga kostumnya juga ikut serta dalam memperkuat kesan poster komersial yang muncul. Selain itu, ada pula nada warna yang hangat dan juga subjek yang akrab memberikan sebuah keharmonian.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien