in

Review Novel Laiqa: Siniar Semut Kecil Karya Ana Latifa

Rating: 3.61

 

Hai Grameds! Sudah penasaran ya dengan buku yang satu ini? Memang buku best seller yang satu ini sedang digandrungi banyak orang, terutama remaja. Buku Laiqa: Siniar Semut Kecil ini merupakan karya Ana Latifa, yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo pada 9 Februari 2023. Buku ini terdiri dari 216 halaman yang mengangkat cerita tentang kehidupan Malka.

Sebelum mengalami kecelakaan, Malka memiliki keyakinan bahwa Tuhan adalah Maha Pengasih, yang pasti akan mengampuni dosa-dosanya sewaktu remaja. Malka bertekad bertobat setelah tua. Sayangnya, dia melupakan kenyataan bahwa menjadi tua bukan milik semua orang. Setelah mengalami kecelakaan yang tragis, Malka sering bermimpi tentang orang tuanya yang masuk surga, namun kemudian ditarik kembali ke neraka karena dianggap gagal dalam mengurus anak mereka.

Laiqa: Siniar Semut Kecil

button cek gramedia com

Malka pun bertekad untuk bertobat demi mencegah mimpi itu menjadi nyata. Namun, Malka tak tahu bahwa masa lalu yang kelam tak akan pernah hilang walau sudah ditinggalkan. Malka kemudian mengakar, menguat, dan siap meledak pada waktu yang tidak tertebak. Ia meledak ketika siaran di siniar berjudul Sinar Semut Kecil. Apakah Malka mampu menahan imbasnya, atau malah hancur?

Cuplikan cerita di atas bikin penasaran ya, Grameds! Tenang saja, Gramin sudah merangkum ulasan novel Laiqa: Siniar Semut Kecil ini di bawah. Jadi, pastikan kamu baca artikel ini sampai selesai ya! Sebelum masuk ke ulasannya, kita kenalan dulu dengan sosok Ana Latifa yuk!

Profil Ana Latifa – Penulis Novel Laiqa: Siniar Semut Kecil

Ana Latifa adalah wanita kelahiran Bandung, tanggal 23 Maret. Ia adalah seorang introvert yang bisa merasa tertekan ketika melihat grup chat yang diisi ratusan orang. Oleh sebab itu, Ama lebih suka menuliskan suaranya dalam bentuk tulisan. Ana Latifa adalah lulusan Teknik Informatika yang sangat suka dengan isu psikologi. Ia memiliki banyak hobi, tetapi yang paling disukainya adalah menulis.

Siniar Semut Kecil ini menjadi novel pertamanya yang merupakan jebolan juara ke-3 Lomba Penulisan Novel Islami Populer GWP x ELEX 2022. Sebelumnya, ia pernah menjadi pemenang naskah Novel Romance Remaja Terbaik di Watpadlit Awards Loveable 2017, finalis Belia Writing Marathon Batch 3 2019, dan juara ke-3 Editor’s Choice di Author Got Talent 2022 Prospec Media. Penulis percaya bahwa kebahagiaan hanya berasal dari senyuman Tuhan. Gramed bisa menyapa Ana Latifa melalui media sosial Instagram, Wattpad & GWP: @onlyana23.

Sinopsis Novel Laiqa: Siniar Semut Kecil

Alat Bantu Dengar yang Hilang

Aku terdesak keluar lift akibat rombongan kru TV yang tiba-tiba berhamburan keluar. Saat itulah, alat bantu dengarku terlepas. Aku segera menunduk, berusaha mencari benda putih kecil itu di antara sepatu-sepatu yang terus bergerak. Namun, sebelum aku menemukannya, lift sudah tertutup dan bergerak naik, meninggalkanku.

Bangunan ini memiliki tata letak yang sangat membingungkan. Bentuknya tidak simetris seperti jajaran genjang. Tempat ini lebih mirip dengan Cibinong City Mall daripada sebuah stasiun TV. Aku sering kesulitan mencari jalan keluar dari mal terbesar di Bogor itu.

Laiqa: Siniar Semut Kecil

button cek gramedia com

Aku segera mengirim pesan minta bantuan kepada seseorang dan memutuskan untuk tetap diam di tempat. Tak lama kemudian, sebuah tepukan keras di pundak membuatku berbalik dan langsung tersenyum lebar.

Di Balik Pena: dr. Andreas Kurniawan Berbagi Tutorial Melalui Duka dan Mencuci Piring

Bogor, dalam wujud manusia, berhasil menemukanku. Namanya Bogoriyan. Terlalu keren jika anak ini hanya dipanggil Riyan. Jadi kami, anak-anak geng Bubulak Boy, lebih suka memanggilnya Bogor.

Bogor menurunkan masker hitamnya. Dia berbicara, tetapi aku tidak bisa membaca gerak bibirnya. Aku tidak berhasil menebak satu kata pun, tetapi aku yakin dia sedang marah. Cowok itu melewatiku, kemudian menyerahkan benda kecil yang tadi kucari.

Aku memakainya di telinga kanan. “Terima kasih,” kataku.

“Aku sudah memanggilmu dari tadi,” katanya dengan nada kesal. “Ternyata budekmu kambuh.”

“Astaghfirullah,” kataku sambil berpura-pura terluka, mengusap dada.

“Besok aku beliin selusin. Atau aku lakban di kupingmu sekalian! Heran, sering banget copot.”

“Tidak nyaman dipakai lama-lama. Membuat sakit kepala.” Dia mendengus keras, tetapi aku tidak peduli kalau dia marah. Nanti juga akan kembali menjadi baik lagi.

“Dimana ini acaranya?” tanyaku.

“Di lantai tiga,” jawab Bogor.

Kami pun berjalan menuju studio yang telah memintaku datang sebagai narasumber. Beberapa artis ternama lewat di hadapan kami. Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum, meski hatiku sedikit tercekat karena tak ada satu pun dari mereka yang mengenaliku. Meski begitu, aku tetap melakukannya berulang kali.

“Jangan tergelincir ya di hari tua nanti” kata Bogor tiba-tiba sambil merangkul pundakku. Dia memang suka mengingatkan bahwa aku pendek.

“Kutipan Imam Ibnu Al-Jauzy?” tanyaku.

Bogor hanya mengangguk. Secepat dia marah, secepat itu pula dia bisa kembali ramah.

“Ada salah satu kutipan beliau yang aku suka. Intinya, betapa malangnya orang yang tergelincir di hari tua karena dosa-dosanya di masa muda,” lanjutnya.

Aku hanya mengangguk. “Setidaknya mereka masih bisa merenungi kesalahan mereka sewaktu muda dulu..”

“Allah juga sering bersumpah atas nama waktu dalam Al-Quran. Demi fajar, demi malam, demi matahari dan cahayanya di pagi hari, demi masa.”

Aku tersenyum, kagum melihat Bogor yang sedang merenungkan ingatannya sendiri. Setiap ada waktu lengang seperti ini, kami memang sering berdiskusi.

“Waktu itu memang musuh dalam selimut manusia. Kedengarannya panjang kalau dipikirkan, tapi terasa singkat saat dijalani,” kata Bogor.

“Betul banget. Makanya kita selalu diingatkan bahwa orang yang paling tidak beruntung di akhirat adalah mereka yang menyia-nyiakan waktunya di dunia,” balasku.

Bogor menepuk bahuku dua kali sebelum memasukkan tangannya ke dalam saku jaket. “Beruntung banget gue kenal sama lo, Bro.”

Aku tertawa. “Masyaallah. Berubah banget ya, lo? Dulu kalau bukan kata-kata kasar yang keluar dari mulut lo, kayaknya bisa kejang-kejang!”

Bogor tertawa terbahak-bahak saat wajahnya memerah. Bibirnya hampir saja mengeluarkan umpatan, tetapi dia berhasil menahannya.

“Jangan buka aib, Ka! Coba kalo gebetan gua ada disini, bisa bahaya!.”

“Lo kebanyakan mikir, Gor! Dia keburu dilamar cowok lain.”

Kami tiba di depan pintu masuk studio. Tanpa aba-aba, Bogor langsung mendorong punggungku. Hampir saja aku tersungkur dalam posisi memalukan kalau tidak berpegangan pada tiang penyangga kamera.

Sebagai manajer, caranya memang agak kasar. Tapi hanya Bogor yang paling aku percaya untuk mengelola semua kegiatanku, bahkan hasil jerih payahku beberapa tahun ini tidak dapat tercapai jika bukan karena dia.

“Buruan kelarin! Masih banyak jadwal ini kita.”

Sambil menahan diri agar tidak mengumpat, aku menyapa setiap kru di dalam studio lalu berkenalan dengan MC yang bernama Mella. Kami membahas sedikit mengenai pertanyaan yang akan Mella ajukan. Tak ada yang aneh. Aku mengiyakan semuanya. Setelah menunggu beberapa puluh menit, akhirnya acara pun dimulai.

Kelebihan dan Kekurangan Novel Laiqa: Siniar Semut Kecil

Laiqa: Siniar Semut Kecil

button cek gramedia com

Pros & Cons

Pros
  • Premis cerita relevan dengan kehidupan anak muda.
  • Gaya bahasa mudah dimengerti.
  • Menjelaskan tahapan emosi yang dialami remaja dengan baik.
  • Memuat pembelajaran tentang hidup.
  • Bersifat reflektif.
  • Dalam jangka panjang, dapat mengubah mindset dan pribadi pembaca.
Cons
  • Masih didapatkan beberapa kesalahan pada penulisan.
  • Alur cerita cukup lambat.

Kelebihan Novel Laiqa: Siniar Semut Kecil

Laiqa: Siniar Semut Kecil

button cek gramedia com

Buku Laiqa: Siniar Semut Kecil karya Ana Latifa memiliki sejumlah kelebihan yang menjadikannya buku yang mendunia dan direkomendasi untuk dibaca. Premis ceritanya sangat relevan dengan kehidupan anak muda, novel ini menggambarkan tantangan dan dinamika yang mereka hadapi sehari-hari. Gaya bahasanya yang mudah dimengerti juga membuat novel Laiqa: Siniar Semut Kecil ini dapat dinikmati oleh berbagai kalangan pembaca tanpa mengalami kesulitan untuk memahami keseluruhan dari isi buku ini.

Penulis juga berhasil menjelaskan tahapan emosi yang dialami remaja dengan sangat baik secara tersirat. Melalui tulisannya, Ana Latifa berhasil memberikan gambaran yang sangat jelas tentang perasaan dan konflik batin anak-anak remaja saat ini. Selain itu, novel ini memuat banyak pembelajaran tentang hidup, sehingga menawarkan perspektif yang bermanfaat dan bermakna.

Novel Laiqa: Siniar Semut Kecil ini juga bersifat reflektif dengan secara tak langsung mengajak pembaca untuk merenung dan memahami diri mereka sendiri agar menjadi pribadi yang lebih baik. Dalam jangka panjang, cerita dan pelajaran yang disampaikan dapat mengubah mindset dan pribadi pembaca ke arah yang lebih baik sehingga memberikan dampak positif yang berkelanjutan dalam kehidupan mereka.

Kekurangan Novel Laiqa: Siniar Semut Kecil

Laiqa: Siniar Semut Kecil

button cek gramedia com

Dari ulasan kelebihan buku Laiqa: Siniar Semut Kecil karya Ana Latifa di atas, memang buku ini memiliki banyak kelebihan yang menarik. Namun, buku ini masih memiliki sejumlah kekurangan. Beberapa kesalahan penulisan masih dapat ditemukan di dalam buku ini, sehingga dapat mengganggu kenyamanan membaca. Selain itu, alur cerita di dalam buku Laiqa: Siniar Semut Kecil ini juga terkesan cukup lambat, sehingga bisa membuat beberapa pembaca merasa bosan atau kehilangan minat pada perkembangan plot cerita.

Pesan Moral Novel Laiqa: Siniar Semut Kecil

Laiqa: Siniar Semut Kecil

button cek gramedia com

Karya Laiqa: Siniar Semut Kecil memberikan pesan moral tentang usia adalah misteri yang tidak bisa diprediksi, sehingga sangat penting bagi kita untuk selalu berbuat baik dan bertobat karena hidup ini singkat dan kita tidak tahu kapan kita akan dijemput oleh yang Maha Kuasa, jadi usahakan untuk selalu menjalani hidup dengan penuh kebaikan dan rasa menyesal atas kesalahan yang telah dibuat.

Kedua, masa muda bukanlah waktu untuk main-main semata, tetapi waktu yang harus dimanfaatkan untuk menyiapkan bekal untuk masa depan. Ini bukan berarti kita tidak boleh membuat kesalahan, melainkan kita harus belajar dari setiap kesalahan tersebut dan terus berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Masa muda adalah masa untuk membangun fondasi yang kuat untuk masa tua, agar nanti kita menjadi lebih bijak dalam bertindak.

Terakhir, berpikirlah sebelum berbicara dan bertindak. Setiap kata dan tindakan kita memiliki konsekuensi, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Dengan mempertimbangkan dampak dari setiap perkataan dan perbuatan, kita bisa menghindari banyak penyesalan dan menciptakan lingkungan yang lebih positif dan harmonis di sekitar kita.

Bagi Grameds yang tertarik ingin membaca dan turut berlarut dengan buku Laiqa: Siniar Semut Kecil, kalian bisa dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Gramin juga sudah menyiapkan buku-buku dalam lini Laiqa lainnya di bawah ini, lho. Yuk langsung saja dapatkan buku-buku terbaik hanya di Gramedia.com! Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

 

Rekomendasi Buku

Laiqa: Berapa Jarak antara Luka dan Rumahmu?

Laiqa: Berapa Jarak antara Luka dan Rumahmu?

button cek gramedia com

KINAR TERPAKSA BERANGKAT KE PESANTREN USAI MENGANTAR JASAD IBUNYA KE PERISTIRAHATAN TERAKHIR! Luka atas kepergian ibunya belum kering, tak lama kemudian sang ayah pun turut meninggal dunia. Sekembalinya ke pesantren, Kinar melanggar syariat: tidak mau salat dan mengutuk Tuhan yang sangat keji terhadap takdir hidupnya. Naray dan Ruth sampai harus membantunya meloloskan diri dari intaian pengurus pesantren. Hingga suatu hari, perbuatan mereka terendus Keamanan Pusat. Sejak itulah rahasia keduanya ikut terbongkar. Naray dan Ruth ternyata turut menyimpan rapat kesedihan masing-masing. Setelah kejadian menggemparkan itu, apakah persahabatan Naray, Kinar, dan Ruth tetap terjalin, atau justru salah satunya harus terusir dari pesantren?

Laiqa: Rope That Binds

Laiqa: Rope That Binds

button cek gramedia com

Sarah Annisa baru saja menikah dengan pria yang sangat dia cintai. Kini, langkah mereka selanjutnya dalam membangun keluarga sakinah adalah memiliki seorang anak. Namun, impian itu harus tertunda karena mereka terhalang oleh dinding yang begitu sulit ditembus. Rupanya Sarah menderita penyakit yang namanya bahkan tak pernah dia dengar sebelumnya. Akibat penyakit itu, Sarah tidak hanya membawa penderitaan pribadi, tetapi juga stigma sosial yang kompleks. Berbekal cinta dalam pernikahannya dan hijrahnya yang terbata-bata, dia berusaha menemukan cahaya dalam kegelapan yang dilingkupi penyakit tersebut.

Waktu Sarah sedang menyiapkan pernikahannya, dia merasakan suatu petikan malapetaka di dalam hatinya. Mara bahaya, kesialan, atau musibah—sebut saja apa pun namanya. Pokoknya, perasaan itu seperti hawa yang dibawa awan hitam bergulung-gulung di cakrawala, padahal di depan matamu terbentang langit biru tanpa noda. Tapi tanpa daya, kau bisa merasakan hawa mencekam itu mencengkeram bahaya. Dia tak tahu di perintilan pernikahan yang mana atau pada momen apa bencana itu akan menerpa. Mungkin MUA? Sarah memilih perias dengan kriteria yang sama ketatnya seperti mencari calon suami. Bukan hanya jago membuat foundation terulas mulus bak kulit idol Korea, mahir membaurkan perona pipi yang tak sebuas lebam memar, dan shading yang menambah ilusi kecantikan sang pengantin, tapi juga dia memilih berdasakan kepekaan sang perias; peka melukis kedua bilah alis—terlalu tebal nanti pengantin menjadi Shin-chan, terlalu tipis nanti pengantin bisa melihat tuyul. Belum lagi kalau salah sudut lengkung alis, salah perkiraan panjang alis. Repot sudah.

Laiqa: Mana Hijrah?!

Laiqa: Mana Hijrah?!

button cek gramedia com

MANA MEMBUAT GEGER ORANG SEKANTOR KARENA MUNCUL MENGENAKAN HIJAB! Mana … hijrah? Yang benar saja! Athfar dan Deandra juga terkejut karena tidak pernah membayangkan seorang Mana berpenampilan menutup aurat. Mereka sangat mengenal sahabatnya yang satu ini, yang menginjak lantai musala kantor pun sepertinya nggak pernah. Kali ini, penampilannya syari sehingga membuat keduanya bertanya-tanya, kejadian apa yang menimpa Mana akhir-akhir ini?

Padahal, sudah cukup lama Mana menyimpan rapat keinginannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dia sangat mengharapkan kesembuhan sang ayah yang tengah sakit keras, kemudian memulai semua perjalanan hijrahnya dengan menutup aurat. Namun, cobaan demi cobaan muncul menciptakan goncangan kecil, syukurnya Mana masih istikamah. Hingga kondisi ayahnya yang bertolak belakang dengan semua doanya telah menjadi titik balik Mana mempertanyakan keyakinannya. Apakah keputusannya untuk berhijrah ada artinya?

Sumber:

https://books.google.co.id/books?id=eVe3EAAAQBAJ&pg=PA1&source=kp_read_button&hl=en&newbks=1&newbks_redir=0&gboemv=1&ovdme=1&redir_esc=y#v=onepage&q&f=false

Written by Gabriela

Hai, saya Gabriel. Saya mengenal dunia tulis menulis sejak kecil, dan saya tahu tidak akan pernah lepas dari itu. Sebab, segala informasi yang kita dapat setiap hari, salah satunya berbentuk tulisan. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi saya untuk bisa turut memberikan informasi melalui tulisan saya.

Membuat karya tulis akan selalu menyenangkan bagi saya, karena saya bisa terus belajar melalui kata-kata. Setiap kali menulis, saya akan terlebih dahulu membaca sumber untuk memperoleh informasi yang tepat. Keseluruhan proses merangkai kata tersebut adalah proses pembelajaran yang tak berkesudahan.

Saya suka menulis review buku, karena setiap buku menyajikan dunia yang baru dan memberikan banyak pengetahuan baru. Saya juga suka menulis tentang dunia kuliner dan trivia, karena ada banyak fakta unik, tips, dan juga trik yang bisa saya coba praktikkan.

Keahlian
Review buku
Kuliner
Trivia

Pendidikan
Universitas Multimedia Nusantara

Linkedin: Gabriela Estefania
Instagram: @gaby_tandean