Fisika

Zat Adiktif: Pengertian dan Contohnya

Written by Nandy

Zat aditif – Bicara tentang zat adiktif tentunya kalian akan langsung memiliki pemikiran mengenai obat-obatan terlaran. Ya, hal tersebut memang benar adanya. Namun, zat adiktif bisa dikatakan sebagai bahan kimia yang kerap ditambahkan ke dalam makanan dengan berbagai tujuan lho.

Misalnya untuk menjaga kesegaran atau untuk meningkatkan warna, rasa atau teksturnya. Dimana keberadaan dari zat aditif dalam makanan biasanya seperti pewarna makanan, penambah rasa atau mungkin seperti pada berbagai pengawet.

Keberadan dari zat adiktif sebenarnya sangat umum digunakan pada berbagai macam jenis makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Tentunya, zat adiktif yang telah  beredar dipasaran juga sudah dinyatakan aman oleh  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Namun perlu diketahui juga jika ada beberapa jenis zat adiktif yang perlu dibatasi konsumsinya, apalagi untuk zat aditif buatan. Hal ini tak lain karena beberapa zat aditif buatan dinyatakan berbahaya untuk kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan.

Kenapa begitu? Yuk ketahui jawabannya melalui ulasan yang ada di dalam artikel ini.

 

Apa Itu Zat Aditif Buatan?

pixabay.com/stevepb

 

Sebelumnya telah dijelaskan jika ada beberapa jenis zat adiktif yang sebaiknya dibatasi dalam mengkonsumsinya, khususnya pada zat aditif buatan. Hal ini tak lain karena mampu membahayakan kesehatan tubuh.

Lalu sebenarnya apa itu zat aditif buatan? Zat aditif buatan merupakan bahan sintetis atau tidak alami yang ditambahkan ke dalam jenis makanan guna meningkatkan beberapa aspek seperti penampilan, tekstur, rasa dan kesegarannya.

Saat ini, keberadaan dari zat adiktif dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu zat aditif alami dan zat adiktif buatan. Tentunya, kedua jenis zat adiktif ini memiliki pengertian yang berbeda antara satu sama lain.

Zat aditif alami adalah suatu zat adiktif yang berasal dari sumber makanan alami. Sebagai contohnya adalah bit merah yang dapat dimanfaatkan untuk memberi warna merah secara alami pada makanan. Lalu untuk kedelai dan jagung banyak digunakan untuk membuat lestin yang juga masih sejenis pengemulsi yang berguna untuk bahan makanan.

Sama dengan namanya, zat aditif buatan tidak berasal dari alam. Sebagai contohnya adalah ekstrak vanila terbuat dari vanilin yang diproduksi di laboratorium. Keberadaan dari zat aditif buatan biasanya akan banyak ditemukan pada makanan. Misalnya seperti yoghurt, roti, saus salad, soda, makanan yang dipanggang, keripik dan jenis makanan lainnya.

Tahukah kalian jika saat ini sudah banyak jenis makanan dengan kandungan zat aditif alami maupun buatan yang lebih mudah ditemukan di supermarket. Mulai dari emulsifier, pemanis, pengawet atau pewarna makanan.

Keberadaan dari beberapa contoh makanan tersebut biasanya akan digunakan untuk meningkatkan kualitas produk. Zat adiktif juga akan mampu membantu mengikat bahan. Misalnya pada minyak dan air atau guna mendapatkan penampilan dan tekstur yang sama.

Zat adiktif juga kerap digunakan untuk bisa meningkatkan komposisi makanan lho. Sebagai contohnya adalah asam askorbat sintetis atau vitamin C dan asam folat biasanya digunakan untuk makanan karena dinilai lebih stabil dibandingkan dengan versi alami.

 

Zat Adiktif Bukan Narkotika dan Psikotropika

Beberapa zat ada yang tergolong zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika. Dan bahkan beberapa zat adiktif ini akan mudah kalian temukan di kehidupan sehari-hari. Misalnya adalah zat adiktif yang  terkandung di dalam kopi dan teh.

Bukan hanya itu saja, namun masih ada beberapa contoh zat adiktif bukan narkotika dan psikotropika seperti yang pada penjelasan di bawah ini.

  • Kafein

Keberadaan zat adiktif kafein dalam minuman memang kerap kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari teh, kopi, coklat, minuman berenergi dan jenis minuman bersoda. Karena hal inilah tak heran jika sebagian orang yang  mengkonsumsi minuman seperti teh dan kpi akan merasa harus untuk selalu meminumnya setiap hari.

Kopi memiliki kandungan kafein yang lebih tinggi dibandingkan yang terkandung di dalam teh. Namun teh  juga memiliki beberapa zat adiktif lain di dalamnya. Misalnya seperti teofilin, theine, dan theobromine.

Akan tetapi tiga jenis zat adiktif ini memiliki kadar yang cukup sedikit. Tentunya minuman kopi dan teh masih aman untuk dikonsumsi asalkan dalam jumlah yang wajar. Manfaat bagi kesehatan jika kita mengkonsumsi teh dan kopi adalah mampu membantu mencegah adanya penyakit Parkinson dan kanker.

Namun perlu diperhatikan lagi jika mengkonsumsi minuman dengan kandungan zat adiktif akan memberikan efek seperti nyeri di bagian perut, jantung berdebar-debar, cemas dan perut kembung.

  • Alkohol

Tahukah kalian jika alkohol yang digunakan sebagai obat psikoaktif akan menyebabkan seseorang memiliki rasa kecanduan level rata-rata 1,93. Hal tersebut masuk ke dalam golongan peringkat tinggi dalam kategori zat adiktif untuk kesenangan. Tentunya akan sangat masuk akal kenapa kebanyakan orang akan mengkonsumsi alkohol pada saat pesat atau bersantai.

Perlu diketahui juga mengkonsumsi alkohol secara berlebihan akan menyebabkan kerusakan pada otak dan sebagian besar organ pada tubuh  seperti jantung, hati dan pankreas. Mengkonsumsi alkohol juga akan menyebabkan peningkatan risiko beberapa penyakit, misalnya seperti kanker, sistem kekebalan tubuh melemah, membahayakan perkembangan janin hingga menyebabkan kecelakaan kendaraan yang cukup memuaskan karena kondisi mabuk.

Lalu untuk beberapa area otak yang rentan terhadap kerusakan akibat konsumsi alkohol adalah korteks serebral, hippocampus dan otak akan menjadi kecil. Sebagai contohnya adalah ketika seseorang mengkonsumsi alkohol dalam kurun waktu panjang, tentunya akan ada beberapa gangguan kesehatan misalnya seperti tekanan darah tinggi, stroke, gangguan memori, kecemasan dan depresi.

Tremor, halusinasi dan kejang adalah beberapa efek dari adanya kondisi ketergantungan alkohol. Lalu untuk gejala paling  parah lainnya adalah adanya delirium tremens hingga mengakibatkan kematian.

  • Nikotin

Zat adiktif selanjutnya yang bukan termasuk ke dalam psikotropika adalah nikotin. Dimana keberadaan dari zat adiktif nikotin bisa kita temukan di dalam rokok. Walaupun tembakau yang ada di dalam rokok memang legal, namun kalian juga perlu tahu jika penggunaannya bisa menyebabkan kematian setiap tahunnya dibandingkan dengan jenis zat adiktif lainnya.

Karena memang nikotin adalah zat adiktif tak mengherankan jika sebagian besar perokok begitu sulit untuk bisa berhenti kebiasaan merokoknya. Padahal saat ini sudah banyak penelitian yang menjelaskan bagaimana kebiasaan merokok dapat menyebabkan kondisi tekanan darah tinggi.

Selain itu rokok juga memiliki kandungan senyawa yang  cukup membahayakan bagi tubuh manusia. Misalnya adalah kondisi warna gigi yang menghitam hingga memicu terjadinya kanker paru-paru.

  • Benzodiazepin

Benzodiazepine atau benzos merupakan golongan obat yang dapat membantu mengurangi rasa kecemasan dan kejang dalam diri seseorang. Selain itu benzos juga bisa mengendurkan otot sebagai obat tidur. Akan tetapi keberadaan dari obat benzos kerap disalahgunakan karena memang memiliki sifat adiktif yang rata-rata adalah 1,83. Sebagai contoh dari obat benzos adalah Xanax, Valium dan Restoril.

Selain itu obat jenis ini juga memiliki efek putus obat lho. Misalnya seperti kondisi insomnia dan kecemasan setelah satu hingga empat hari dihentikan penggunaanya. Lalu 10 hingga 14 hari setelahnya akan mengalami serangan kepanikan, gangguan tidur, muntah dan mual, sakit kepala, nyeri otot hingga badan kaku. Efek putus dari obat benzos akan berakibat fatal pada kondisi tertentu sehingga proses detoksifikasi harus diawasi secara medis.

  • Amfetamin

Amfetamin adalah jenis obat stimulan yang kerap digunakan untuk mengobati Attention Deficit Hyperactivity Disorder atau ADHD serta narkolepsi. Amfetamin sendiri masuk zat adiktif dengan skor adiktif rata-rata 1,67. Perlu diketahui juga amfetamin juga ada yang diproduksi hingga dicampur pada beberapa jenis makanan. Misalnya pada kafein, gula dan berbagai jenis bahan pengikat lainnya.

Kebanyakan obat  jenis ini akan dikonsumsi dengan cara ditelan, dihisap, dihirup dan disuntik. Bagi mereka yang memang sudah kerap mengkonsumsi jenis obat ini. maka akan ada beberapa efek mulai dari adanya rasa energik, percaya diri, bahagia dan juga adanya dorongan seksual yang lebih tinggi.

Tak hanya itu saja, efek lain dari mengkonsumsi obat jenis ini adalah seperti peningkatan detak jantung, mulut dan gigi gering. Layaknya jenis zat aditif lainnya, mereka yang ingin lepas dari amfetamin juga akan ada beberapa kondisi tertentu. Mulai dari mimpi buruk, gelisah, badan nyeri, kelelahan, depresi, paranoia hingga mudah marah. Akan tetapi ketika sudah dalam kurun waktu setelah sebulan lepas dari penggunaan obat tersebut, efek yang ditimbulkan juga turut serta hilang.

 

Zat Adikitif Narkotika

Zat adiktif jenis narkotika merupakan suatu zat ketika disalahgunakan akan berhadapan langsung dengan hukum di Indonesia. Keberadaan dari narkotika sebenarnya dapat berubah kondisi menjadi legal jika digunakan untuk tujuan medis.

Sebagai contohnya adalah untuk obat bius bagi orang yang  akan melangsungkan proses operasi dan menggunakannya juga harus sesuai dengan panduan. Sebagai contoh dari jenis zat adiktif narkotika adalah sebagai berikut ini.

  • Ganja

Ganja merupakan salah satu zat adiktif yang banyak dikenal sampai saat ini. Dimana ganja memiliki tingkat adiktif rata-rata 1,51. Ganja sendiri adalah sejenis daun kering, bunga, batang dan biji-bijian dari tumbuhan Cannabis sativa atau Cannabis indica yang juga zat terlarang paling umum digunakan.

Konsumsi ganja di beberapa negara legal seperti Amerika dan beberapa negara lain untuk keperluan media. Akan tetapi keberadaan dari ganja kerap disalahgunakan penggunaannya hanya untuk kesenangan. Tak hanya itu saja menggunakan ganja juga akan menyebabkan beberapa efek tertentu.

Adanya kerusakan memori dan pembelajaran adalah efek jangka pendeknya. Bahkan fokus dan gangguan koordinasi dari seorang pecandu ganja juga akan ada gangguan. Ganja juga bisa menyebabkan kondisi detak jantung yang semakin meningkat, membahayakan paru-paru.

Perlu diketahui juga jika orang yang  sudah menggunakan ganja hingga berubah ke kondisi pecandu sebelum 18 tahun memiliki potensi mengalami gangguan kesehatan 7 kali lebih parah.

Narkoba memang bisa menjerat siapapun tanpa pandang bulu. Tentunya kita juga tahu beberapa kasus yang  ada di dalam berita tentang pengguna narkoba yang berurusan dengan hukum. Bukan hanya memberikan dampak negatif pada diri sendiri, namun narkoba juga bisa memberikan dampak pada orang  terdekat, khususnya keluarga seperti dalam buku PERJUANGAN PARA IBU: ANAKKU PECANDU NARKOBA.

 

  • Kokain

Selanjutnya ada kokain yang juga menjadi salah satu jenis obat perangsang adiktif kuat. Dimana proses pembuatan kokain adalah dengan bahan baku daun koka. Kokain sendiri memiliki tingkat adikti sekitar 2,39.

Selain itu bentuk dari kokain biasanya akan berbentuk bubuk putih  dan untuk proses konsumsinya dengan cara dihirup melalui hidung. Mengkonsumsi kokain bisa meningkatkan kadar dopamine di otak hingga mengendalikan kesenangan dan menimbulkan adanya efek kesehatan. Misalnya, rasa bahagia dan energi yang cukup kuat, kewaspadaan mental, hipersensitivitas terhadap penglihatan dan juga suara serta sentuhan.

Mereka yang menjadi pengedar narkoba tak jarang mengharukan kokain dengan zat lain seperti tepung. Beberapa kasus juga menyebutkan jika kokain kerap dicampur ke dalam beberapa jenis obat.

Penggunaan kokain juga  bisa menyebabkan kondisi penghentian komunikasi normal dengan sel saraf. Mengkonsumsi kokain juga bisa membantu beberapa orang dalam melakukan tugas fisik serta mental sederhana yang cukup cepat.

Ketika mengkonsumsi kokain dalam jumlah yang besar, maka penggunanya bisa memiliki perilaku aneh yang tak terduga atau bahkan adanya kekerasan. Pengguna kokain juga bisa menyebabkan adanya gangguan kesehatan parah seperti gangguan jantung dan sistem pernapasan, gangguan saraf dan gangguan sistem pencernaan.

Perlu diketahui bagi mereka yang sudah dalam kondisi ketergantungan, maka kondisi otak sudah tidak memiliki rasa sensitif terhadap dopamine. Hal ini tentunya akan memaksa para penggunanya untuk bisa menambahkan dosis agar mencapai tingkat kesenangan.

Lalu, bagi mereka yang ingin melepaskan akan kecanduan kokain akan ada beberapa gejala. Mulai dari depresi, mimpi buruk, insomnia, kelelahan dan pemikiran yang semakin melambat. Pengguna yang menghirup kokain juga lebih memungkikan akan kehilangan indera penciuman, mimisan, pilek dan berbagai macam jenis masalah dalam menelan sesuatu. Lalu bagi mereka yang menelan kokain akan bisa mengakibatkan kondisi kerusakan usus yang cukup parah.

Keluar dari jerat narkoba memang bukan hal mudah. Ada beberapa efek samping yang akan dilalui bagi mereka yang ingin lepas dari jerat narkoba. Namun mereka yang mengikuti setiap prosedur dan adanya tekad akan bisa terlepas dari narkoba seperti yang dijelaskan dalam buku Aku Bebas dari Jerat Narkoba.

 

  • Heroin

Tahukah kalian jika heroin adalah obat yang terbuat dari morfin sebuah zat alami yang diambil dari biji berbagai jenis tanaman opium poppy. Obat heroin ini memiliki nilai ketergantungan tertinggi yaitu sebesar 3. Perasaan senang serta pengendalian detak jantung, tidur dan pernapasan adalah beberapa kondisi yang menungkinkan terjadi ketika mengkonsumsi heroin.

Heroin juga mampu menghasilkan perasaan yang cukup bahagia dan perasaan rileks. Heroin juga mampu memperlambat pernapasan dan meningkatkan adanya risiko penyakit menular yang serius khususnya ketika disuntikan dengan jarum.

Pengguna heroin secara teratur bisa menyebabkan adanya perubahan fungsi otak dan menyebabkan ketergantungan. Tak butuh waktu lama dalam mengembahkan toleransi terhadap heroin. Para pengguna memang harus terus meningkatkan dosis heroin mereka guna mendapatkan efek yang sama.

Bagi mereka yang sedang menjalani proses pemutusan obat heroin biasanya ada rasa untuk terus menggunakan jenis zat adiktif tersebut. Selain itu untuk tanda-tanda umum efek putus obat tersebut biasanya seperti nyeri otot dan tulang dengan begitu parah, diare dan muntah, adanya kegelisahan, rasa dingin hingga gerakan kaki yang tak terkendali.

Penggunaan heroin dalam jangka panjang akan mengakibatkan kondisi kehilangan materi putih yang  ada di dalam otak.

  • Tembakau

Tembakau merupakan salah satu jenis zat adiktif yang paling umum ditemukan dan legal dengan tingkat ketergantungan sebesar 2,21., karena adanya zat adiktif inilah yang menjadikan banyak orang menggunakan tembakau.

Nikotin yang ada di dalam daun tembakau merupakan unsur utama yang  bisa memberikan efek candu kepada para penggunanya. Keberadaan dari tembakau biasanya digunakan dalam bentuk rokok yang dilinting dengan kertas.

Namun ada juga yang menghisap tembakau dengan pipa atau cerutu. Gejala dari kebiasaan merokok ini biasanya adalah adanya keinginan kuat untuk terus melakukan kegiatan merokok, mudah marah, sulit tidur, tidak fokus dan nafsu makan.

Melepaskan diri dari jerat narkoba membutuhkan tekat dan berbagai macam jenis upaya. Selain dari luar, ternyata keinginan untuk melepaskan diri dari narkoba begitu penting untuk dimiliki oleh setiap pecandu seperti yang dijelaskan dalam Mematahkan Belenggu Narkoba.

 

  • Metadon

Metadon merupakan sejenis obat yang banyak digunakan untuk mencegah adanya gejala putus obat ketika tubuh memberikan respon negatif terhadap penghentian penggunaan napza. Akan tetapi keberadaan dari metadon kerap disalahgunakan. Lalu untuk tingkat adiktif dari metadon rata-rata hanya 2,08.

Metadon saat ini banyak beredar dalam bentuk tablet, larutan oral atau cairan suntik. Nama jalanan dari obat metadon sendiri adalah amidone, chocolate chips cookies, fizzies, maria, pastoria, salvia dan wafer. Sedangkan untuk gejala putus obat metadon adalah seperti adanya kecemasan, tremor otot, mual, diare, muntah dan kram perut.

Selain beberapa jenis zat adiktif di atas, masih ada jenis zat adiktif yang  masuk ke dalam golongan psikotropika. Namun perlu diketahui jika zat psikotropika tidak semuanya memiliki kandungan zat adiktif.

Psikotropika sendiri merupakan suatu zat atau obat yang bukan termasuk ke dalam golongan narkotika serta memberikan pengaruh pada otak. Penggunaan psikotropika biasanya akan mengubah mental serta perilaku dari penggunanya.

Hal ini tak lain karena penggunaan psikotropika akan menurunkan aktivitas otak, merangsang susunan saraf pusat hingga menimbulkan kelainan perilaku. Mereka yang sudah kecanduan psikotropika akan mengalami beberapa efek samping.

Mulai dari halusinasi, ilusi hingga gangguan dalam cara berfikir dan perubahan perasaan. Sedangkan untuk contoh dari psikotropika adalah seperti Halusinogen, Stimulan, Depresan, Barbiturat.

 

Penulis: Hendrik

 

Sumber:

  • https://www.halodoc.com/artikel/ini-bahaya-zat-aditif-buatan-untuk-kesehatan-tubuh

 

About the author

Nandy

Perkenalkan saya Nandy dan saya memiliki ketertarikan dalam dunia menulis. Saya juga suka membaca buku, sehingga beberapa buku yang pernah saya baca akan direview.

Kontak media sosial Linkedin saya