Penelitian

Metode Penelitian Studi Kasus: Metodologi, Jenis, dan Manfaatnya

Studi kasus
Written by Qotrun A

Studi kasus – Bagi kamu yang sedang duduk di bangku kuliah, frasa “studi kasus” pasti terdengar tidak asing. Salah satu metode penelitian ini banyak digunakan oleh mahasiswa di tingkat Sarjana (S1), Magister (S2), maupun Doktoral (S3). Meski begitu, sudah sejak lama kalau studi kasus dianggap sebagai metode penelitian yang “lemah” karena objektivitas, kekuatan penelitian, dan ketepatannya yang tidak memadai.

Anehnya, fakta di lapangan membuktikan sebaliknya. Studi kasus banyak menghasilkan pengetahuan baru dalam ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi, antropologi, sosiologi, sejarah, ekonomi, ilmu politik, pendidikan, dan lain sebagainya.

Terlepas dari perdebatan mengenai kelemahan metode penelitian studi kasus, Grameds pasti ingin memahami lebih jauh tentang metode ini. Untuk itu, dalam artikel ini kita akan membahas beberapa hal, mulai dari pengertian dan jenis-jenis studi kasus, hingga langkah-langkah membuat penelitian studi kasus.

Apa Itu Studi Kasus?

Secara singkat, studi kasus merupakan penelitian tentang suatu kasus yang setiap prosesnya dilakukan secara rinci, tajam, dan mendalam. Kasus di sini bisa berupa individu, kelompok, organisasi, maupun lembaga. Dari penelitian kasus tersebut, diharapkan peneliti akan mendapatkan pengetahuan mendalam tentang kasus yang diteliti tersebut.

Kasus yang diteliti biasanya harus hal yang sedang terjadi sekarang (aktual), bukan yang sudah terlewati dan harus benar-benar spesifik atau “unik”. Dengan kata lain, peneliti lebih disarankan untuk memilih satu kasus saja, baik yang sangat sederhana maupun yang kompleks.

Lantas bagaimana sebuah kasus bisa dikatakan “unik”? Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si menyebutkan 6 rambu-rambu yang bisa dijadikan pertimbangan oleh peneliti, yaitu:

  1. Hakikat atau sifat kasus yang akan diteliti
  2. Latar belakang atau alasan kasus tersebut muncul
  3. Setting fisik dari kasus tersebut
  4. Konteks yang mengelilinginya, seperti faktor ekonomi, politik, dan sebagainya.
  5. Kasus lain yang bisa menerangkan kasus tersebut
  6. Informan yang benar-benar menguasai kasus yang akan diteliti

Dengan rambu-rambu ini, bisa disimpulkan bahwa studi kasus menjadi metode penelitian yang tepat untuk memahami sebuah fenomena.

Tujuan Studi Kasus

Pada dasarnya, studi kasus dirancang untuk menggali informasi yang dapat dipelajari dari suatu kasus, karena itu peneliti tidak bisa sembarangan memilih kasus yang akan dijadikan tema penelitiannya.

Stake, dalam bukunya yang berjudul The Art of Research (1995) menjelaskan tujuan utama dari penelitian studi kasus adalah untuk “mengungkapkan keunikan karakteristik yang ada di dalam suatu kasus”.

Maka dari itu, seperti yang sudah disebutkan oleh Prof. Rahardjo, semua hal yang berhubungan dengan kasus harus diteliti agar peneliti dapat memahami kasus secara komprehensif.

Jenis-Jenis Penelitian Studi Kasus

Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si, dalam STUDI KASUS DALAM PENELITIAN KUALITATIF: KONSEP DAN PROSEDURNYA (2017) menyebut lima jenis penelitian studi kasus, diantaranya:

1. Studi Kasus Kolektif (Collective Case Study)

Studi kasus kolektif merupakan jenis studi kasus yang meneliti lebih dari satu kasus. Dengan catatan bahwa kasus-kasus tersebut harus saling berhubungan dan peneliti harus menguasai semuanya. Dengan begitu, peneliti dapat membandingkan satu kasus dengan kasus yang lainnya.

2. Studi Kasus Retrospektif (Retrospective Case Study)

Studi kasus retrospektif merupakan studi kasus yang memungkinkan adanya perbaikan atau treatment pada kasus yang diteliti. Treatment ini harus diselesaikan oleh orang lain yang benar-benar kompeten di bidang tersebut, peneliti hanya menyumbang masukan dari hasil penelitiannya.

3. Studi Kasus Prospektif (Prospective Case Study)

Studi kasus prospektif umumnya digunakan agar peneliti bisa mengetahui arah perkembangan dari suatu kasus. Tindak lanjut dari studi kasus ini adalah Penelitian Tindakan atau Action Research yang dilakukan oleh orang lain yang sudah ahli.

4. Instrumental Case Study

Instrumental Case Study merupakan jenis penelitian yang mengharuskan peneliti memilih kasus dengan hati-hati. Maksudnya, peneliti yakin bahwa dia bisa mendapatkan pengetahuan yang mendalam dari kasus tersebut.

5. Studi Kasus Intrinsik (Intrinsic Case Study)

Dalam studi kasus yang terakhir, studi kasus intrinsik, peneliti bisa memilih kasus berdasarkan pada minat pribadi atau ketertarikannya pada suatu persoalan. Misalnya, kenakalan remaja, cyber bullying, fenomena single parents, bahkan fenomena “Citayam Fashion Week”.

Grameds bisa mempelajari lebih dalam tentang kelima jenis studi kasus ini dalam buku Studi Kasus (Desain & Metode) yang ditulis oleh Robert K. Yin.

https://www.gramedia.com/products/study-kasus-desain-metode?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/study-kasus-desain-metode?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Langkah-langkah Melakukan Penelitian Studi Kasus

Saat Grameds memilih metode penelitian studi kasus, maka kamu harus menyelesaikan semua prosesnya secara teratur dan berkelanjutan. Adapun tahapan dalam proses melakukan penelitian studi kasus, yaitu:

1. Memilih Tema, Topik, dan Kasus

Dalam tahap ini, peneliti harus bisa menemukan kasus yang menjadi bagian dari bidang yang dipelajari. Misalnya, saat ini kamu sedang menyelesaikan studi di jurusan Ilmu Sosial, maka Grameds bisa mencari kasus yang terjadi di kantor pemerintahan di daerah tempat tinggalmu.

Mengapa demikian? Karena secara logika, Grameds hanya dapat menghasilkan penelitian yang baik dalam bidang yang kamu kuasai. Kasusnya bisa kamu dapatkan dengan cara membaca buku, majalah ilmiah, koran, atau hasil penelitian terdahulu.

Bisa juga melalui pengamatan yang kamu lakukan sendiri, berdasarkan pengalaman yang kamu rasakan. Misalnya saat magang atau mengurus administrasi di kantor pemerintah atau hasil diskusi dengan teman dan dosen pembimbing.

Jika kamu ingin mencari kasus dengan membaca buku atau penelitian terdahulu, maka Grameds harus memahami seluruh isinya terlebih dahulu agar bisa menentukan tema besar penelitian. Dari tema ini, nantinya akan dipersempit lagi menjadi beberapa topik.

Selanjutnya, dari topik penelitian tersebut, kamu bisa memberikan penekanan pada objek kajiannya. Dengan begitu, maka kamu akan mendapatkan sebuah kasus. Dari tiga hal ini, Grameds bisa merumuskan judul penelitian. Jadi, judul penelitian harus dibuat setelah kamu mendapatkan tema, topik, dan objek kajian.

2. Kajian Literatur

Kajian literatur ini selain bisa membuat wawasan dalam bidang yang akan diteliti semakin luas, juga bisa semakin mempertajam rumusan masalah yang akan kamu ajukan. Maka dari itu, carilah bahan bacaan sebanyak-banyaknya. Bisa berupa penelitian dan jurnal yang relevan, majalan ilmiah, buku, atau surat kabar yang berhubungan dengan kasus tersebut.

Dalam proses pengumpulan bahan bacaan, kamu harus memperhatikan dua aspek penting. Pertama, relevansi dengan kasus yang diteliti dan kedua, kemutakhiran. Idealnya, semakin mutakhir bahan bacaannya, maka kamu semakin tahu perkembangan paling up to date dalam bidang yang kamu geluti.

3. Merumuskan Fokus dan Masalah Penelitian

Fokus penelitian sangat membantu untuk memusatkan perhatian Grameds pada satu titik. Disamping itu, kamu juga harus lebih teliti saat merumuskan pokok masalah yang akan diteliti. Soalnya, rumusan masalah ini akan membuat masalah yang kamu hadapi jadi makin jelas dan menghindari hasil penelitian yang “biasa saja” atau kurang mendalam atau kurang detail.

Oleh sebab itu, penelitian studi kasus harus dapat menjawab pertanyaan “apa”, “bagaimana”, dan “mengapa”. Pertanyaan “apa” bertujuan agar kamu mendapatkan pengetahuan deskriptif terkait masalah penelitian, pertanyaan “bagaimana” agar kamu mendapatkan pengetahuan eksplanatif, dan “mengapa” untuk mendapatkan pengetahuan eksploratif.

Mudahnya, pertanyaan “bagaimana” ini menanyakan proses terjadinya suatu peristiwa sementara pertanyaan “mengapa” mencari alasan yang menyebabkan suatu peristiwa bisa terjadi.

4. Pengumpulan Data

Dalam penelitian studi kasus, objek penelitian harus dapat mendeskripsikan dirinya sendiri secara detail, sehingga kamu mendapatkan gambaran yang utuh. Dengan kata lain, data-data yang kamu kumpulkan akan dipelajari sebagai sebuah kesatuan yang utuh dan terintegrasi.

Jadi, kamu tidak bisa hanya sekadar paham kasus yang diteliti pada permukaannya saja, tapi juga bagian dalamnya. Itulah sebabnya, teknik pengumpulan data yang disarankan pada studi kasus adalah:

  1. Wawancara
  2. Dokumentasi
  3. Observasi terlibat
  4. Observasi langsung,
  5. Artefak fisik.

Dalam proses pengumpulan data, kamu juga harus memperhatikan tiga hal penting, yaitu alamiah, holistik, dan mendalam. Alamiah di sini maksudnya, proses mengumpulkan data dilangsungkan secara alamiah dan dalam konteks kehidupan nyata. Kamu tidak harus memberikan perlakuan tertentu pada subjek atau konteks tempat penelitian berlangsung atau bisa dibilang biarkan saja semuanya berjalan secara alami.

Sementara itu, holistik berarti kamu harus dapat menghasilkan data yang lengkap dari sebanyak mungkin informasi atau sumber yang bisa didapatkan. Kemudian, mendalam berarti kamu harus bisa mengungkap makna yang tersurat dan tersirat dari semua data yang telah dikumpulkan.

Misalnya begini, anggaplah kamu sedang menyusun penelitian yang melibatkan Kepala Sekolah sebagai partisipannya. Setelah melakukan wawancara, kamu akan mendapatkan informasi berdasarkan apa yang disebutkan oleh kepala sekolah tersebut. Nah, kamu harus bisa menangkap makna tersirat dari ucapannya.

5. Penyempurnaan Data

Setelah semua data yang Grameds perlukan terkumpul, kamu harus menyempurnakannya terlebih dulu. Dalam artian, cek seluruh datanya dan lihat apakah sudah bisa menjawab rumusan masalah yang kamu tentukan atau belum.

Jika sudah, maka data dianggap sempurna dan kamu bisa melanjutkan ke tahap berikutnya. Sebaliknya, jika belum maka kamu wajib kembali ke lapangan dan mengumpulkan data tambahan untuk melengkapinya.

6. Mengolah Data

Sebelum melakukan analisis, olah dulu data yang sudah dianggap sempurna. Cek kebenaran dari data-data tersebut, susun dan klasifikasi berdasarkan kategori yang sesuai dengan penelitianmu, dan lakukan penyandian atau coding, bila perlu koreksi jawaban wawancara yang dianggap belum jelas. Seluruh proses dalam tahapan ini akan membantu memudahkan proses analisis data.

7. Analisis Data

Analisis data bisa dibilang sebagai “inti” dari penelitian. Oleh karena itu, harus dilakukan dengan benar dan sesuai tuntunan. Tidak sedikit peneliti, baik mahasiswa sarjana, pascasarjana, maupun doktoral mengalami kesulitan dalam tahap ini.

Akan tetapi, jika dilakukan dengan benar, analisis data akan menghasilkan informasi penting, yaitu temuan penelitian. Artinya, jika analisis data gagal, maka penelitian dianggap gagal. Kesulitan terbesar yang dihadapi oleh peneliti dalam tahapan ini adalah kemampuan analisis data dari peneliti itu sendiri.

For your information, analisis data dalam penelitian studi kasus hanya dapat dilakukan oleh peneliti sendiri karena hanya peneliti yang mengetahui semua masalah secara mendalam. Jadi baik teman, keluarga, orang lain, bahkan dosen pembimbing sekalipun tidak akan dapat menyelesaikan tahap ini.

Supaya kamu dapat menyelesaikan tahap ini, maka kamu memerlukan wawasan teoretik yang luas, pengalaman penelitian yang cukup, bimbingan dosen yang jelas, dan minat yang sangat kuat. Tanpa itu semua, besar kemungkinan penelitianmu akan sulit diselesaikan atau bahkan gagal.

Mengingat langkah ini menjadi inti dari penelitian studi kasus, maka kamu disarankan untuk membaca buku Implementasi Metode Penelitian Studi Kasus Dengan Pendekatan Kualitatif yang ditulis oleh S. Arifianto sebagai panduan lengkapnya.

https://www.gramedia.com/products/implementasi-metode-penelitian-studi-kasus-dengan-pendekatan-kualitatif?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/implementasi-metode-penelitian-studi-kasus-dengan-pendekatan-kualitatif?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

8. Proses Analisis Data

Secara prinsip, proses analisis data merupakan kegiatan yang bertujuan memberikan makna pada data dengan cara mengatur, mengelompokkan, mengurutkan, memberi kode, serta mengkategorikannya sesuai dengan pengelompokkan tertentu. Hal ini perlu dilakukan agar peneliti mendapatkan temuan pada rumusan masalah yang diajukan.

Dengan banyaknya proses yang dilewati, biasanya data yang terkumpul menjadi berserakan dan harus disederhanakan kembali agar lebih mudah dipahami. Berikut ini langkah-langkah yang bisa kamu jadikan pedoman dalam tahap ini:

  1. Peneliti harus membaca seluruh transkrip untuk mendapatkan informasi umum (general)
  2. Kumpulkan semua pesan umum yang didapatkan, kemudian ambil pesan khususnya (spesifik)
  3. Dari pesan khusus yang ada akan ditemukan pola umum data, maka selanjutnya data tersebut bisa dikelompokkan kembali menurut kategori, topologi, dan urutan kejadiannya.

9. Konfirmabilitas atau Triangulasi Temuan

Supaya temuan penelitian dari data tidak dianggap bias, maka kamu harus melakukan konfirmabilitas atau triangulasi pertemuan. Caranya adalah dengan melaporkan temuan tersebut pada orang yang telah kamu wawancarai.

Banyak sekali mahasiswa yang menggunakan metode studi kasus melewatkan tahap ini. Biasanya karena takut hasil konfirmasi berbeda dengan temuan penelitian. Padahal, seorang peneliti harus jujur agar temuannya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

10. Kesimpulan Penelitian

Ada satu kesalahan umum pada bagian ini yang terus dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa kerap meringkas pernyataan yang ada di bagian-bagian sebelumnya. Idealnya, kesimpulan penelitian harus berisi sintesis atau dari semua pernyataan yang diuraikan sebelumnya. Termasuk uraian deskriptif tentang fakta-fakta di lapangan yang sesuai dengan pertanyaan penelitian.

11. Laporan Penelitian

Tahap terakhir dari penelitian studi kasus adalah membuat laporan penelitian. Laporan ini dianggap sebagai salah satu bentuk pertanggungjawaban dari penelitian yang telah dilakukan. Umumnya, laporan ini ditulis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh semua orang.

Satu hal penting yang harus kamu perhatikan saat membuat laporan ilmiah adalah memastikan bahwa penelitian yang telah dilakukan memenuhi syarat-syarat berikut ini:

  1. Objektif
  2. Sistematik
  3. Mengikuti metode ilmiah

Objektif berarti data benar-benar didapatkan dari subjek penelitian, bukan dari peneliti maupun pandangan peneliti. Sistematik berarti urut atau setiap bagian penelitian harus saling terkait satu sama lain dan menjadi satu kesinambungan yang logis.

Sementara itu, mengikuti metode ilmiah berarti seluruh kegiatan dalam penelitian yang kamu lakukan telah mengikuti prosedur ilmiah yang sudah disepakati oleh ilmuwan.

Manfaat dari Penelitian Studi Kasus

Meski dianggap lemah, bukan berarti penelitian “studi kasus” tidak mempunyai manfaat sama sekali. Lincoln dan Guba, menjabarkan manfaat metode ini sebagai berikut:

  1. Studi kasus adalah sarana utama untuk penelitian emik yang mengutarakan pandangan subjek penelitian
  2. Studi kasus memberikan uraian utuh yang sama dengan apa yang dialami oleh pembaca dalam kehidupan sehari-harinya.
  3. Studi kasus sangat efektif dalam menunjukkan hubungan antara peneliti dengan subjek penelitian
  4. Pembaca dapat memperoleh konsistensi gaya, faktual, dan juga kepercayaan dari penelitian studi kasus
  5. Penelitian ini menyajikan uraian tebal yang dibutuhkan untuk penilaian transferabilitas
  6. Studi kasus sangat terbuka terhadap penilaian atas konteks yang nantinya penilaian ini dapat berperan terhadap fenomena yang ada di dalam konteks tersebut.

Manfaat lain dari metode penelitian studi kasus bisa kamu temukan dalam buku Memahami Metodologi Studi Kasus, Grounded Theory, dan Mixed-Method karangan Nuriman, S.Pd.I., M.Ed., Ph.D.

https://www.gramedia.com/products/memahami-metodologi-studi-kasus-grounded-theory-dan-mixed-method?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasihttps://www.gramedia.com/products/memahami-metodologi-studi-kasus-grounded-theory-dan-mixed-method?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Tantangan Melakukan Penelitian Studi Kasus

Sejauh ini, menurut Prof. Rahardjo (2017), paling tidak ada tiga persoalan yang akan menjadi tantangan bagi peneliti yang memilih metode penelitian studi kasus. Tantangan tersebut adalah:

  1. Memastikan bahwa kasus yang akan diteliti dianggap “berbobot” secara akademik
  2. Menemukan data yang relevan untuk keperluan penelitian
  3. Apa yang harus dilakukan setelah semua data terkumpul

Studi kasus adalah metode penelitian yang bisa dipilih oleh mahasiswa atau peneliti untuk mencari kebenaran ilmiah yang tentatif atau tidak absolut. Dengan kata lain, kebenaran ini masih bisa diuji, dikritik, atau direvisi. Namun, biar bagaimanapun, studi kasus merupakan metode penelitian yang cukup menantang.

Di samping itu, studi kasus juga sangat tepat untuk menemukan hal-hal tersembunyi dari fenomena sosial dan budaya untuk kemudian disebarkan hingga menjadi pengetahuan publik.

Saat Grameds mencari informasi tentang studi kasus di internet, mungkin ada perbedaan antara tulisan ini dengan yang lainnya. Namun, perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar sebab penelitian kualitatif tidak memiliki standar yang baku.

Selesai sudah pembahasan tentang metode penelitian studi kasus ini, semoga bermanfaat dan sampai jumpa di tulisan lainnya!

Bagi Grameds yang ingin mencari buku karya ilmiah, metode penelitian, maka bisa menemukannya di Gramedia.com. Bersama Gramedia kamu bisa dapatkan informasi #LebihDenganMembaca

Penulis: Gilang

Baca juga:

About the author

Qotrun A