in , ,

Review Novel Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa Vol 2

perjalanan mustahil samiam dari lisboa – Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa membawa kita pada satu pertanyaan kelam: apa rasanya berjalan sendirian di tengah badai sejarah ketika orang-orang yang paling kamu cintai justru terenggut dari sisi kita?

Halo, Grameds! Buat kamu pencinta fiksi sejarah dan petualangan epik, saatnya kembali bersiap. Kali ini kita akan mengupas tuntas novel Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa: Sepasang Elang dari Diyarbakir karya Zaky Yamani. Melanjutkan kisah dari buku pertamanya, novel kedua dalam trilogi ini menyuguhkan perjalanan yang makin mendebarkan, sarat intrik, sekaligus kaya akan refleksi hidup yang dalam.

Penasaran dengan daya tarik dan kelanjutan kisah Samiam? Scroll terus ke bawah, ya!

Sinopsis Buku Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa: Sepasang Elang dari Diyarbakir

Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa membawa pembaca mengikuti petualangan Samiam Nogueira yang kembali terpisah dari orang-orang yang dicintainya. Saat sedang sendirian di sebuah kedai di Konstantinopel, Samiam dipukul hingga pingsan dan diculik oleh kaki tangan Takhta Suci yang berhasil menemukan keberadaannya. Peristiwa tersebut membawanya jauh dari Bianca, cinta sejatinya, dan memaksanya menjalani perjalanan yang penuh bahaya hingga ke pedalaman Arabia sebagai seorang budak.

Di sisi lain, Bianca dan ayahnya, João Nogueira, harus terlibat dalam misi rahasia mematikan yang dirancang oleh Kekaisaran Ottoman. Tanpa mereka sadari, ketiganya telah terseret ke dalam permainan besar yang melibatkan berbagai kekuatan di Timur Tengah. Perjalanan Samiam pun menjadi semakin rumit karena ia harus berjuang membebaskan diri dari perbudakan sekaligus mencari jalan untuk kembali bertemu dengan Bianca dan João.

samian dari lisboa

 

Tentang Penulis Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa: Sepasang Elang dari Diyarbakir

Zaky Yamani merupakan penulis kelahiran Bandung, 27 Juli 1978, yang telah menulis karya fiksi dan nonfiksi sejak 2003. Sejumlah karyanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama antara lain Bandar (2014), Pusaran Amuk (2016), Waktu Helena (2020), Kereta Semar Lembu (2022), serta seri Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa yang dimulai pada 2021.

Perjalanan Zaky sebagai penulis juga diwarnai berbagai pencapaian. Naskah Kereta Semar Lembu meraih Juara I Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta pada 2021, kemudian terpilih sebagai Prosa Pilihan Tempo 2022 dan mendapatkan Penghargaan Sastra dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada 2023. Sementara itu, ide Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa lahir dari pengalaman residensinya di Portugal pada 2017. Novel tersebut dirancang sebagai sebuah trilogi yang mengajak pembaca menjelajahi petualangan lintas negara, sejarah, dan berbagai konflik besar.

Perjalanan yang Bukan Sekadar Petualangan

Sepasang Elang dari Diyarbakir bukan hanya menceritakan perjalanan Samiam dari satu tempat ke tempat lain, tetapi juga menggambarkan perjalanan hidup seseorang yang terus dihadapkan pada berbagai kesulitan. Setelah mengalami penculikan dan dijadikan budak, Samiam harus menerima kenyataan bahwa hidupnya semakin jauh dari apa yang pernah dibayangkan. Perpisahan dengan Bianca, kehilangan sahabat, serta berbagai kejadian yang menimpanya membuat perjalanan ini terasa lebih berat dari sebelumnya.

Di balik petualangan tersebut, terdapat banyak pergulatan batin yang membuat kisah Samiam terasa lebih dekat dengan kehidupan manusia. Perjalanan panjangnya memperlihatkan bahwa seseorang nggak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam hidupnya. Ada kalanya keadaan memaksa seseorang untuk kehilangan sesuatu yang berharga, meskipun sudah berusaha mempertahankannya. Hal inilah yang membuat perjalanan Samiam bukan sekadar kisah tentang keberanian menghadapi bahaya, tetapi juga tentang bagaimana seseorang tetap melangkah di tengah ketidakpastian.

Mengenal Sejarah Melalui Cerita Fiksi

Salah satu daya tarik buku ini terletak pada perpaduan antara cerita fiksi dan peristiwa sejarah. Melalui perjalanan Samiam, pembaca diajak mengenal kehidupan masyarakat, kebudayaan, hingga konflik kekuasaan di Konstantinopel dan wilayah Timur Tengah. Kehadiran Kekaisaran Ottoman dan Safavid juga memberikan gambaran tentang situasi politik pada masa itu. Berbagai latar tempat dan peristiwa sejarah disampaikan melalui narasi yang cukup terperinci sehingga pembaca seolah ikut menyaksikan kehidupan pada masa lampau.

Menariknya, informasi sejarah yang disisipkan dalam cerita dapat menambah wawasan sekaligus mendorong rasa ingin tahu pembaca. Beberapa peristiwa yang awalnya terdengar seperti bagian dari cerita fiksi ternyata memiliki kaitan dengan sejarah nyata. Meski begitu, banyaknya detail sejarah terkadang membuat beberapa bagian terasa cukup padat dan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipahami. Namun, bagi penyuka historical fiction, perpaduan ini menjadi pengalaman membaca yang menarik karena sejarah dapat dipelajari melalui kisah dan perjalanan para tokohnya.

Kisah Kehilangan yang Menghadirkan Emosi

Di balik konflik politik dan perjalanan panjang yang harus dilalui Samiam, terdapat kisah tentang kehilangan, perpisahan, dan harapan untuk kembali bertemu dengan orang-orang tercinta. Samiam harus menghadapi kenyataan bahwa ia nggak selalu bisa melindungi orang-orang di sekitarnya. Hubungannya dengan Bianca menjadi salah satu bagian yang memberikan warna emosional dalam cerita. Keinginan untuk kembali bersama orang yang dicintainya harus berhadapan dengan keadaan yang terus memisahkan mereka.

Kisah tersebut membuat konflik dalam buku ini terasa lebih personal karena permasalahan yang dihadapi Samiam bukan hanya berkaitan dengan keselamatan dirinya sendiri. Ada orang-orang yang ingin ia temui kembali, kenangan yang ingin ia pertahankan, serta kehilangan yang harus ia terima. Perasaan sedih, takut, dan ketidakberdayaan yang muncul sepanjang perjalanan membuat karakter Samiam terasa lebih manusiawi. Pada akhirnya, kisah ini memperlihatkan bahwa harapan untuk bertemu kembali dengan seseorang terkadang menjadi alasan bagi manusia untuk terus bertahan, bahkan ketika perjalanan yang harus ditempuh terasa begitu mustahil.

Refleksi tentang Agama, Kekuasaan, dan Kemanusiaan

Hal menarik lainnya dari buku ini adalah bagaimana agama dan persoalan spiritual menjadi bagian penting dalam perjalanan cerita. Meskipun bukan novel religi, Sepasang Elang dari Diyarbakir menghadirkan berbagai pemikiran tentang keyakinan, kehidupan, dan hubungan manusia dengan Tuhan. Pembahasan tersebut muncul melalui pengalaman serta pengamatan Samiam terhadap masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. Kehadiran nilai-nilai keislaman juga memberikan warna tersendiri, terutama karena cerita ini turut memperlihatkan kehidupan masyarakat di wilayah dengan latar sejarah dan kebudayaan Islam.

Selain itu, buku ini juga mengajak pembaca melihat hubungan antara agama dan kekuasaan. Keyakinan yang seharusnya menjadi pedoman hidup terkadang justru digunakan oleh pihak-pihak tertentu untuk membenarkan tindakan mereka. Persoalan tersebut memberikan gambaran bahwa konflik antarmanusia nggak selalu muncul karena perbedaan keyakinan, tetapi juga karena kepentingan dan ambisi untuk menguasai orang lain. Melalui berbagai peristiwa dalam cerita, pembaca diajak untuk memahami bahwa nilai kemanusiaan seharusnya tetap menjadi hal utama, terlepas dari latar belakang agama maupun kekuasaan yang dimiliki seseorang.

Kelebihan Buku Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa: Sepasang Elang dari Diyarbakir

  • Perpaduan cerita fiksi dan sejarah yang menarik

Salah satu keunggulan buku ini adalah kemampuannya menggabungkan cerita fiksi dengan berbagai peristiwa sejarah. Melalui perjalanan Samiam, pembaca diajak mengenal kehidupan masyarakat di Konstantinopel, Kekaisaran Ottoman, hingga Safavid. Informasi sejarah tersebut nggak hanya menjadi latar belakang cerita, tetapi juga berkaitan dengan konflik dan perjalanan yang dialami para tokohnya. Perpaduan ini membuat pembaca bisa menikmati sebuah cerita petualangan sekaligus mendapatkan pengetahuan baru tentang sejarah dan kebudayaan masa lampau.

  • Pengembangan karakter yang lebih matang

Karakter Samiam mengalami perkembangan yang cukup terasa dibandingkan dengan buku pertama. Jika sebelumnya ia sering digambarkan sebagai sosok yang temperamental dan mudah terbawa emosi, dalam buku kedua ini pembaca dapat melihat sisi dirinya yang lebih dewasa. Berbagai pengalaman pahit, kehilangan, dan penderitaan yang dialaminya perlahan membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan. Perubahan tersebut membuat Samiam terasa lebih manusiawi karena ia nggak digambarkan sebagai tokoh yang selalu kuat, melainkan seseorang yang juga memiliki ketakutan, kelemahan, dan keraguan.

  • Memiliki sisi emosional yang kuat

Selain petualangan dan konflik sejarah, buku ini juga menghadirkan berbagai peristiwa yang menyentuh perasaan. Perpisahan Samiam dengan Bianca, kehilangan sahabat, hingga perjuangannya untuk kembali bertemu dengan orang-orang yang dicintainya menjadi bagian penting dalam cerita. Konflik tersebut membuat perjalanan Samiam terasa lebih personal karena ada banyak hal yang harus dipertaruhkan selain keselamatan dirinya sendiri. Pembaca pun dapat ikut merasakan kesedihan, ketegangan, dan harapan yang menyertai perjalanan para tokohnya.

  • Menghadirkan refleksi tentang agama dan kemanusiaan

Hal menarik lainnya adalah pembahasan mengenai agama dan spiritualitas yang hadir di tengah cerita petualangan. Meskipun bukan novel religi, buku ini menyisipkan berbagai pemikiran tentang keyakinan, hubungan manusia dengan Tuhan, serta bagaimana agama dapat dipandang dari sudut yang berbeda. Cerita juga memperlihatkan bagaimana agama terkadang digunakan oleh pihak berkuasa untuk membenarkan kepentingan mereka. Pembahasan ini memberikan ruang bagi pembaca untuk merenungkan hubungan antara keyakinan, kekuasaan, dan nilai kemanusiaan tanpa membuat cerita terasa seperti bacaan yang menggurui.

  • Penggambaran latar tempat yang hidup dan terperinci

Zaky Yamani mampu menghadirkan suasana berbagai wilayah yang dilalui Samiam melalui deskripsi yang cukup detail. Pembaca seolah diajak menyusuri kota-kota, mengenal kebiasaan masyarakat, dan melihat kehidupan pada masa lampau. Penggambaran tersebut membantu membangun suasana cerita sehingga latar tempat nggak terasa sekadar menjadi pelengkap. Hal ini juga membuat perjalanan Samiam terasa lebih nyata karena pembaca dapat membayangkan lingkungan dan kondisi yang harus dihadapinya.

  • Memiliki banyak konflik yang membuat penasaran

Cerita dalam buku ini nggak hanya berpusat pada usaha Samiam untuk membebaskan diri dari perbudakan, tetapi juga melibatkan konflik politik, misi rahasia, dan kepentingan berbagai pihak. Kehadiran konflik yang saling berkaitan membuat jalan cerita terasa lebih kompleks. Ada banyak kejadian yang membuat pembaca ingin mengetahui bagaimana nasib para tokoh selanjutnya. Terlebih menjelang akhir cerita, ketegangan semakin meningkat dan memberikan rasa penasaran terhadap kelanjutan perjalanan Samiam dalam buku ketiga.

  • Dialog dan pemikiran tokoh memberikan banyak pelajaran

Percakapan antartokoh dalam buku ini nggak hanya berfungsi untuk menggerakkan cerita, tetapi juga menghadirkan berbagai pemikiran tentang kehidupan. Ada pembahasan mengenai pencarian jati diri, kebebasan, keyakinan, hingga cara manusia menghadapi penderitaan. Beberapa bagian bahkan terasa seperti ajakan untuk berhenti sejenak dan memikirkan kembali hal-hal yang selama ini dianggap biasa. Dengan demikian, buku ini menawarkan pengalaman membaca yang nggak hanya menghibur, tetapi juga memberikan banyak bahan renungan.

Kekurangan Buku Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa: Sepasang Elang dari Diyarbakir

  • Alur maju-mundur terkadang membingungkan

Penggunaan kilas balik dalam cerita membuat pembaca perlu lebih teliti untuk memahami urutan kejadian. Terutama pada bagian awal, beberapa peristiwa disampaikan melalui catatan harian Samiam sehingga pembaca harus menyesuaikan diri dengan perpindahan waktu dalam cerita. Bagi pembaca yang sudah lama menyelesaikan buku pertama, beberapa informasi mengenai hubungan antartokoh mungkin perlu diingat kembali.

  • Informasi sejarah terkadang terlalu padat

Banyaknya penjelasan mengenai tokoh sejarah, wilayah, dan konflik politik membuat beberapa bagian terasa cukup berat. Informasi yang disampaikan terkadang membutuhkan konsentrasi lebih agar dapat dipahami dengan baik. Hal ini mungkin menjadi tantangan bagi pembaca yang lebih menyukai cerita dengan alur cepat dan nggak terlalu banyak penjelasan sejarah.

  • Beberapa bagian cerita terasa berjalan lambat

Porsi deskripsi sejarah dan refleksi para tokoh yang cukup panjang terkadang membuat perkembangan petualangan Samiam terasa tertahan. Ada bagian yang lebih banyak berisi penjelasan mengenai suatu tempat atau peristiwa daripada kejadian yang secara langsung menggerakkan cerita. Akibatnya, pembaca mungkin membutuhkan kesabaran lebih untuk mengikuti keseluruhan perjalanan.

  • Beberapa momen emosional kurang dieksplorasi

Meskipun cerita memiliki banyak konflik yang menyentuh, ada beberapa peristiwa yang sebenarnya bisa dikembangkan lebih mendalam. Perjalanan panjang dan penderitaan yang dialami Samiam terkadang terasa berlangsung terlalu cepat, sehingga dampak emosional dari kejadian tertentu belum sepenuhnya terasa. Padahal, beberapa momen tersebut memiliki potensi besar untuk membuat pembaca lebih memahami perasaan dan pergulatan batin para tokohnya.

  • Peta perjalanan kurang maksimal

Kehadiran peta sebenarnya sangat membantu, terutama karena cerita melibatkan perjalanan ke berbagai wilayah dengan latar sejarah yang cukup kompleks. Sayangnya, ukuran peta yang relatif kecil membuat pembaca kurang leluasa melihat rute perjalanan para tokoh. Peta dengan ukuran dan keterangan yang lebih jelas tentu akan membantu pembaca memahami perpindahan lokasi sekaligus membayangkan perjalanan Samiam dengan lebih mudah.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Sepasang Elang dari Diyarbakir menjadi kelanjutan petualangan Samiam yang lebih emosional dan penuh refleksi. Perpaduan antara fiksi sejarah, konflik politik, perkembangan karakter, serta kisah kehilangan membuat novel ini memiliki daya tarik tersendiri. 

Meskipun terdapat beberapa bagian dengan penjelasan sejarah yang cukup padat dan alur yang terkadang terasa lambat, hal tersebut nggak mengurangi keseruan ceritanya. 

Bagi Grameds yang menyukai novel petualangan dengan latar sejarah dan banyak pelajaran kehidupan, buku ini layak untuk dibaca. Selamat membaca!

Rekomendasi Buku Terkait

  1. The Familiar: Sang Karib 

    The Familiar: Sang Karib

     

    Luzia Cotado, seorang pelayan rumah di Madrid, menggunakan sihir kecil untuk mempermudah pekerjaannya. Bakat tersembunyinya menarik perhatian kalangan elite Spanyol dan membuka peluang untuk mengubah nasibnya. Namun, semakin terkenal dirinya, semakin besar pula risiko rahasia keluarganya terbongkar. Demi bertahan hidup, Luzia harus mengandalkan kemampuannya sendiri sekaligus menghadapi rahasia berbahaya dari Guillen Santangel, sosok abadi yang menawarkan bantuan kepadanya.

    Dedes 

    Dedes

     

    Novel-komik Dedes mengisahkan Mita, seorang mahasiswi yang tiba-tiba terbangun sebagai Ken Dedes saat meneliti sejarah Kerajaan Singasari. Ia harus mengalami langsung kisah masa lalu yang penuh cinta, manipulasi, dan pengkhianatan. Di tengah konflik antara Tunggul Ametung dan Arok, Mita dihadapkan pada pilihan sulit yang menentukan nasibnya sebagai Dedes.

    Light Novel: Scarlet 

    Light Novel : Scarlet

     

    Putri Scarlet memasuki Tanah Orang Mati setelah gagal membalas dendam atas kematian ayahnya. Di dunia yang penuh kekerasan itu, ia bertemu Hijiri, seorang perawat yang tetap menolong siapa pun tanpa memandang lawan atau kawan. Dalam perjalanan menuju Tempat Tak Berujung, keduanya perlahan menemukan makna kehidupan, kebaikan, dan pengampunan.

Written by Laura Saraswati