in ,

Review A Little Life Karya Hanya Yanagihara

A Little Life – Seberapa jauh persahabatan dapat bertahan ketika seseorang yang kita sayangi terus bergulat dengan luka masa lalu?

Terkadang, kasih sayang dan kehadiran orang-orang terdekat tidak serta-merta mampu menghapus penderitaan yang telah lama mengakar.

Ada luka yang sulit diceritakan, ada kenangan yang terus menghantui, dan ada perjuangan batin yang bahkan tidak sepenuhnya dapat dipahami oleh orang-orang yang paling peduli kepada kita. Pergulatan emosional inilah yang menjadi inti novel A Little Life karya Hanya Yanagihara.

Mengusung kisah persahabatan, ambisi, dan trauma, novel ini mengikuti perjalanan hidup empat sahabat yang merantau ke New York setelah menyelesaikan pendidikan mereka di sebuah perguruan tinggi kecil di Massachusetts.

Mereka adalah Willem, seorang calon aktor yang baik hati; JB, pelukis berbakat dengan kepribadian tajam; Malcolm, arsitek yang masih mencari kepuasan dalam kariernya; serta Jude, sosok cerdas dan misterius yang menyimpan masa lalu kelam.

Seiring berjalannya waktu, hubungan keempat sahabat tersebut mengalami berbagai perubahan. Kesuksesan, kebanggaan, dan pergulatan pribadi menguji kedekatan yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun. Di antara mereka, Jude menjadi sosok yang paling sulit dipahami. Meski tumbuh menjadi pengacara dengan kemampuan luar biasa, ia terus dihantui pengalaman traumatis dari masa kecilnya yang meninggalkan luka mendalam, baik secara fisik maupun emosional.

Diterbitkan oleh Pan Macmillan pada 2 Oktober 2024 dengan ketebalan 816 halaman, A Little Life menghadirkan kisah tentang persahabatan, penderitaan, dan rumitnya perjalanan seseorang dalam menghadapi masa lalu.

Novel ini mengajak kita menyelami kehidupan para tokohnya sekaligus merenungkan arti kehadiran, kasih sayang, dan batas kemampuan seseorang untuk menolong orang yang dicintai.

Lantas, bagaimana perjalanan persahabatan mereka ketika luka yang selama ini tersembunyi mulai memengaruhi kehidupan bersama? Yuk, Grameds, kita simak ulasan buku A Little Life bersama Gramin!

Profil Hanya Yanagihara – Penulis Novel A Little Life

Hanya Yanagihara adalah novelis dan penulis perjalanan asal Amerika Serikat yang lahir pada 20 September 1974 di Los Angeles, California.

Ia tumbuh di Hawaii dan menghabiskan masa kecilnya dengan berpindah-pindah tempat tinggal mengikuti pekerjaan sang ayah. Ayahnya, Richard Yanagihara, merupakan seorang dokter spesialis hematologi dan onkologi, sedangkan ibunya berasal dari Seoul, Korea Selatan.

Pengalaman hidup di berbagai tempat turut menjadi bagian dari latar belakang kehidupannya sebelum menekuni dunia kepenulisan.

Yanagihara menempuh pendidikan di Punahou School, Hawaii, kemudian melanjutkan studi di Smith College dan lulus pada 1995. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia pindah ke New York dan bekerja sebagai jurnalis selama beberapa tahun.

Pada 2007, ia mulai berkontribusi untuk majalah Condé Nast Traveler dan kemudian menjabat sebagai redaktur. Setelah meninggalkan majalah tersebut pada 2015, ia melanjutkan karirnya di dunia penerbitan sebagai wakil redaktur T: The New York Times Style Magazine.

Dalam dunia sastra, Yanagihara memulai debut novelnya melalui The People in the Trees yang diterbitkan pada 2013. Namanya semakin dikenal melalui novel keduanya, A Little Life, yang terbit pada 2015 dan mendapat perhatian luas dari pembaca maupun kritikus sastra. Novel tersebut berhasil masuk nominasi Man Booker Prize 2015 dan menjadi finalis National Book Award untuk kategori fiksi pada tahun yang sama.

Melalui karya-karyanya, Yanagihara dikenal lewat penceritaan yang mengeksplorasi kehidupan manusia, hubungan antartokoh, serta persoalan emosional yang kompleks.

Sinopsis A Little Life

A Little Life

Empat sahabat yang baru lulus dari sebuah perguruan tinggi kecil di Massachusetts memutuskan untuk merantau ke New York demi mengejar impian masing-masing.

Dengan kondisi keuangan yang terbatas dan masa depan yang belum pasti, mereka mengandalkan persahabatan serta ambisi untuk membangun kehidupan yang mereka inginkan.

Keempatnya memiliki kepribadian dan tujuan yang berbeda. Willem bercita-cita menjadi aktor, JB ingin menembus dunia seni sebagai pelukis, Malcolm berkarir sebagai arsitek, sementara Jude adalah sosok cerdas, tertutup, dan penuh misteri yang menjadi pusat kedekatan mereka.

Seiring berjalannya waktu, persahabatan mereka tumbuh semakin erat, tetapi juga semakin rumit. Kesuksesan, kecanduan, dan kebanggaan pribadi menghadirkan tantangan yang menguji hubungan mereka.

Di tengah berbagai perubahan tersebut, perhatian mereka perlahan tertuju pada Jude, yang tumbuh menjadi pengacara dengan kemampuan luar biasa. Di balik pencapaian kariernya, Jude menyimpan luka mendalam akibat pengalaman traumatis pada masa kecilnya.

Pengalaman itu meninggalkan bekas pada kondisi fisik dan batinnya, sekaligus membuatnya dihantui ketakutan bahwa penderitaan masa lalunya akan terus menentukan arah kehidupannya.

Kelebihan dan Kekurangan A Little Life

Pros & Cons

Pros
  • Gaya penulisan yang kuat dan menggugah emosi.
  • Penggambaran karakter yang kompleks.
  • Mengangkat persoalan trauma secara mendalam.
  • Menampilkan sisi kemanusiaan melalui hubungan antartokoh.
  • Perkembangan cerita yang mencakup perjalanan hidup panjang.
  • Mengajak pembaca merenungkan arti kasih sayang dan penerimaan diri.
Cons
  • Penggambaran trauma yang sangat intens.
  • Representasi trauma dan identitas tokoh menuai perbedaan pendapat.

Kelebihan A Little Life

A Little Life karya Hanya Yanagihara memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya menarik untuk dibaca.

  • Gaya penulisan yang kuat dan menggugah emosi

Salah satu kelebihan A Little Life terletak pada gaya penulisan Hanya Yanagihara yang mampu menggambarkan emosi tokoh secara mendalam.

Melalui pilihan kata yang cermat dan penggambaran suasana yang terperinci, pembaca dapat merasakan kesedihan, kebahagiaan, ketakutan, hingga pergulatan batin yang dialami para tokohnya.

Narasinya tidak hanya menyampaikan peristiwa, tetapi juga membawa pembaca memahami bagaimana pengalaman tersebut memengaruhi kehidupan dan hubungan antarmanusia.

  • Penggambaran karakter yang kompleks

Novel ini menghadirkan tokoh-tokoh dengan kepribadian, ambisi, dan persoalan pribadi yang beragam.

Willem, JB, Malcolm, dan Jude memiliki perjalanan hidup masing-masing yang turut membentuk hubungan mereka. Terutama Jude, yang menjadi pusat cerita dengan kecerdasan, pencapaian karir, dan masa lalu yang sulit diungkapkan.

Kompleksitas karakter tersebut membuat pembaca dapat melihat bahwa seseorang tidak selalu dapat dipahami hanya melalui perilaku atau pencapaiannya di hadapan orang lain.

  • Mengangkat persoalan trauma secara mendalam

A Little Life membahas dampak pengalaman traumatis terhadap kehidupan seseorang dalam jangka panjang.

Melalui perjalanan Jude, pembaca diajak melihat bagaimana pengalaman masa lalu dapat mempengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri, membangun hubungan, dan menerima kasih sayang. Penggambaran ini menjadi salah satu unsur paling kuat sekaligus paling berat dalam novel.

Meski demikian, pendekatan tersebut juga dapat memunculkan perbedaan pendapat mengenai cara trauma dan proses pemulihan direpresentasikan dalam cerita.

  • Menampilkan sisi kemanusiaan melalui hubungan antartokoh

Di tengah berbagai penderitaan yang dialami para tokohnya, novel ini tetap menghadirkan momen-momen penuh kepedulian dan kehangatan.

Hubungan Jude dengan Willem, Harold, Andy, serta orang-orang terdekat lainnya memperlihatkan berbagai bentuk kasih sayang yang dapat hadir dalam kehidupan seseorang.

Para tokohnya tidak digambarkan sebagai pribadi yang sempurna. Mereka memiliki kekurangan, melakukan kesalahan, dan terkadang kesulitan memahami satu sama lain.

Justru melalui ketidaksempurnaan tersebut, cerita memperlihatkan bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana dan kehadiran yang konsisten.

  • Perkembangan cerita yang mencakup perjalanan hidup panjang

Dengan mengikuti kehidupan para tokohnya selama puluhan tahun, A Little Life memberikan ruang untuk mengeksplorasi perubahan dalam persahabatan, karier, dan kehidupan pribadi mereka.

Cerita tidak berhenti pada masa ketika mereka masih muda dan mengejar impian, tetapi berlanjut ketika mereka menghadapi konsekuensi dari pilihan serta pengalaman masing-masing.

Perpindahan sudut pandang dan waktu turut memperkaya pemahaman pembaca terhadap karakter, meskipun struktur penceritaan yang panjang menuntut perhatian dan kesabaran untuk mengikutinya.

  • Mengajak pembaca merenungkan arti kasih sayang dan penerimaan diri

Lebih dari sekadar kisah persahabatan, novel ini turut mengangkat pertanyaan tentang bagaimana seseorang memandang nilai dirinya sendiri dan menerima perhatian dari orang lain.

Perjalanan Jude memperlihatkan bahwa kasih sayang dari lingkungan sekitar tidak selalu cukup untuk menghapus luka yang telah lama tertanam.

Melalui konflik tersebut, pembaca diajak merenungkan batas kemampuan seseorang dalam membantu orang yang dicintainya, pentingnya empati, serta rumitnya proses menghadapi pengalaman masa lalu.

Tema-tema ini memberikan ruang bagi pembaca untuk merefleksikan hubungan mereka dengan diri sendiri maupun orang lain.

Kekurangan A Little Life

Meskipun novel karya Hanya Yanagihara ini menawarkan banyak kelebihan, novel ini tetap tidak luput dari kekurangan yang bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca. 

  • Penggambaran trauma yang sangat intens

Salah satu aspek yang menuai kritik adalah penggambaran kekerasan, pelecehan, dan tindakan menyakiti diri sendiri yang sangat intens.

Sejumlah adegan disampaikan secara terperinci sehingga dapat menimbulkan ketidaknyamanan emosional, bahkan terasa terlalu berat bagi sebagian pembaca.

Pendekatan ini memang mempertegas penderitaan yang dialami Jude, tetapi intensitasnya juga membuat pengalaman membaca menjadi sangat menguras emosi.

Oleh karena itu, novel ini sebaiknya tidak diperlakukan sebagai bacaan ringan, terutama bagi pembaca yang sensitif terhadap tema-tema tersebut.

  • Representasi trauma dan identitas tokoh menuai perbedaan pendapat

Meskipun pendalaman karakter menjadi salah satu kekuatan novel, cara cerita menggambarkan kehidupan Jude juga mendapat kritik.

Sebagian pembaca menilai bahwa penderitaan tokoh tersebut terlalu mendominasi narasi, sementara perkembangan menuju pemulihan dan kompleksitas pengalaman penyandang disabilitas kurang mendapatkan penanganan yang memadai. Ada pula kritik mengenai representasi identitas Jude sebagai laki-laki gay dengan disabilitas.

Bagi pembaca yang mengharapkan penggambaran trauma dan identitas yang lebih berimbang, pendekatan Yanagihara mungkin terasa problematis. Dengan demikian, kekuatan emosional novel ini tidak serta-merta membuat seluruh aspek representasinya diterima oleh semua pembaca.

Apa Itu Self-Compassion? Belajar Menerima dan Menyayangi Diri Sendiri

Grameds, pernahkah kalian merasa sulit memaafkan diri sendiri setelah melakukan kesalahan? Terkadang, kita bisa memberikan pengertian kepada orang lain yang sedang mengalami kegagalan, tetapi justru bersikap keras ketika menghadapi kesalahan sendiri.

Kita menyalahkan diri, meragukan kemampuan yang dimiliki, bahkan merasa tidak pantas mendapatkan kebahagiaan. Padahal, setiap orang memiliki keterbatasan dan pernah melewati masa-masa sulit.

Dalam situasi seperti ini, kita perlu mengenal konsep self-compassion atau belas kasih terhadap diri sendiri.

Apa Itu Self-Compassion?

Secara sederhana, self-compassion merupakan kemampuan untuk memperlakukan diri sendiri dengan kebaikan, pengertian, dan kepedulian ketika menghadapi kesulitan.

Konsep ini dipopulerkan dalam penelitian psikologi oleh Dr. Kristin Neff. Intinya, kita belajar menghadapi kegagalan tanpa terus-menerus merendahkan diri atau menganggap bahwa satu kesalahan menentukan seluruh nilai diri kita.

Bersikap baik kepada diri sendiri bukan berarti menghindari tanggung jawab atau membenarkan setiap kesalahan. Sebaliknya, kita tetap dapat mengakui kekurangan, memperbaiki tindakan, dan belajar dari pengalaman tanpa harus menyakiti diri melalui kritik yang berlebihan.

Dengan begitu, kegagalan dapat dipandang sebagai bagian dari proses belajar, bukan sebagai alasan untuk membenci diri sendiri.

Mengenal Tiga Unsur Utama Self-Compassion

Dalam konsep yang dikembangkan Kristin Neff, self-compassion memiliki tiga unsur utama yang saling berkaitan.

  • Self-kindness (kebaikan terhadap diri sendiri)

Unsur ini mengajak kita untuk bersikap lebih lembut kepada diri sendiri ketika mengalami kegagalan atau kesulitan. Alih-alih terus menyalahkan diri, kita berusaha memahami apa yang sedang dirasakan dan memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk belajar serta bertumbuh.

  • Common humanity (kemanusiaan bersama)

Ketika menghadapi masalah, kita terkadang merasa bahwa hanya diri sendiri yang mengalami penderitaan tersebut. Padahal, kegagalan, kehilangan, dan ketidaksempurnaan merupakan bagian dari pengalaman manusia.

Memahami hal ini dapat membantu kita menyadari bahwa mengalami kesulitan bukan berarti kita berbeda atau lebih buruk daripada orang lain.

  • Mindfulness (kesadaran penuh)

Unsur ini berkaitan dengan kemampuan untuk menyadari pikiran dan emosi tanpa langsung menghakimi diri sendiri.

Kita belajar mengakui kesedihan, ketakutan, atau kekecewaan sebagaimana adanya, tanpa menyangkal perasaan tersebut maupun membiarkannya sepenuhnya menguasai cara kita memandang kehidupan.

Bagaimana Cara Melatih Self-Compassion?

Membangun kebiasaan menyayangi diri sendiri membutuhkan waktu dan latihan.

Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah memperhatikan cara kita berbicara kepada diri sendiri. Ketika melakukan kesalahan, cobalah bertanya apakah kita akan mengatakan hal yang sama kepada sahabat yang sedang mengalami situasi serupa.

Selain itu, kita dapat belajar menerima ketidaksempurnaan, berhenti membandingkan seluruh kehidupan kita dengan pencapaian orang lain, serta memberikan waktu untuk beristirahat ketika merasa kewalahan.

Menuliskan perasaan atau mencoba melihat suatu masalah dari sudut pandang yang lebih penuh pengertian juga dapat membantu kita memahami diri sendiri.

Namun, penting untuk diingat bahwa menyayangi diri sendiri bukan berarti kita harus selalu mampu mengatasi semuanya sendirian. Ketika beban emosional terasa terlalu berat, mencari dukungan dari orang terpercaya maupun tenaga profesional merupakan langkah yang patut dipertimbangkan.

Self-Compassion dan Pergulatan Batin Jude dalam A Little Life

Konsep self-compassion memiliki kaitan erat dengan perjalanan Jude dalam novel A Little Life karya Hanya Yanagihara. Di balik kecerdasan dan keberhasilan kariernya sebagai pengacara, Jude menyimpan pengalaman traumatis yang memengaruhi cara ia memandang dirinya sendiri.

Luka masa lalu tersebut bukan hanya menjadi kenangan yang menyakitkan, tetapi juga berkaitan dengan kesulitannya menerima perhatian dan kasih sayang dari orang-orang terdekat.

Melalui karakter Jude, Grameds dapat merenungkan betapa rumitnya hubungan seseorang dengan dirinya sendiri setelah melewati pengalaman yang menyakitkan.

Perhatian dari orang lain mungkin memberikan dukungan, tetapi tidak selalu langsung mengubah cara seseorang memandang dirinya atau menghilangkan dampak pengalaman masa lalu.

Perjalanan Jude juga mengingatkan kita bahwa proses menghadapi trauma tidak selalu berlangsung secara sederhana atau memiliki jalan yang sama bagi setiap orang.

Self-compassion mengajarkan kita bahwa seseorang tetap layak diperlakukan dengan kebaikan, termasuk oleh dirinya sendiri, terutama ketika hidup sedang berada dalam keadaan paling rapuh.

Kita tidak harus menyangkal luka untuk melanjutkan hidup, tetapi juga tidak perlu menjadikan luka sebagai satu-satunya ukuran nilai diri.

Melalui kisah Jude, A Little Life mengajak kita merenungkan arti penerimaan diri, pentingnya empati, dan betapa berharganya memperlakukan manusia lain dengan kepedulian, terutama ketika kita tidak sepenuhnya memahami perjuangan yang sedang mereka hadapi.

Penutup

Novel A Little Life karya Hanya Yanagihara bisa menjadi pilihan bacaan bagi Grameds yang ingin menyelami kisah tentang persahabatan, kasih sayang, dan pergulatan manusia dalam menghadapi luka masa lalu.

Melalui perjalanan Jude dan orang-orang terdekatnya, novel ini akan memperlihatkan bahwa kehidupan tidak akan selalu berjalan seiring dengan harapan, bahkan ketika seseorang dikelilingi oleh orang-orang yang peduli kepadanya. 

Pada akhirnya, A Little Life akan mengajak kita untuk merenungkan bahwa memahami penderitaan orang lain tidak selalu berarti mampu menghilangkannya.

Terkadang, kepedulian justru hadir melalui kesediaan untuk mendengarkan, menemani, dan menerima seseorang tanpa menghakimi perjalanan hidupnya. Namun, penting pula untuk diingat bahwa kasih sayang dari orang terdekat bukan pengganti bantuan profesional ketika seseorang membutuhkannya.

Dengan mempertimbangkan tema dan peringatan kontennya, novel ini dapat menjadi bahan refleksi bagi pembaca yang siap menghadapi kisah emosional yang intens.

Semoga ulasan dari Gramin membantu Grameds mengenal lebih dekat novel A Little Life dan mempertimbangkannya sebagai bacaan berikutnya. Selamat membaca!

A Little Life karya Hanya Yanagihara ini bisa kamu dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung kamu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

 

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

The Mountain Is You

The Mountain is You

GUNUNG PENGHALANG ITU ADALAH DIRIMU SENDIRI.

Jika kamu memiliki impian, tetapi dirimu sendiri yang menjadi hambatan. Jika kamu ingin berubah, tetapi dirimu sendiri yang enggan berbenah. Jika kamu ingin tumbuh, tetapi dirimu sendiri yang membuatnya rubuh.

Itu semua adalah tanda bahwa kamu sedang terjebak dalam kubangan sabotase diri.

 

Edinburgh & The New Beginning

Edinburgh

Bagi Rindi, satu-satunya cara untuk menyelamatkan diri dari dunia gelap Airenzo adalah dengan meninggalkan segalanya diam-diam dan pergi ke negara lain, tempat ibu kandungnya tinggal.

Ia berharap jarak bisa memutus bayang-bayang Airenzo yang membuatnya terkekang dan berbahaya, sampai ia merelakan mimpinya menjadi seorang dokter.

Namun, Airenzo tetap menemukan keberadaannya sejauh apa pun ia pergi.

The Rainshadow Orphans (Anak-Anak Rainshadow)

The Rainbow Orphans

Hidup terasa berat bagi para warga Rainshadow City, tempat kemiskinan serta korupsi merajalela. Mereka juga dikuasai organisasikriminal Lucky Crows. Toshiko, Jun, dan Mei Kawakami kakak-beradik yang ingin membalas dendam atas terbunuhnya “bibi”tersayang mereka.

 

Written by Dzikri N. Hakim