in

6 Ciri-Ciri Orang Mau Meninggal Menurut Medis dan Prediksi Primbon

Spiritual art wages of sin and death (David S. Soriano/Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International).

Ciri-Ciri Orang Mau Meninggal – Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengetahui ajal yang akan datang menjemput dirinya.

Kematian merupakan misteri alam terbesar yang bisa terjadi kapan saja dan kepada siapa saja tanpa dapat diprediksi. Namun, terdapat ciri-ciri khusus dalam kasus tertentu yang diperlihatkan ketika seseorang akan meninggal, terutama menjelang 40 hari sebelum ajalnya.

Ciri Ciri Orang Mau Meninggal
Spiritual art wages of sin and death (David S. Soriano/Creative Commons Attribution-Share Alike 4.0 International).

Lantas, apa yang menyebabkan kita harus mengenali tanda-tanda seseorang yang akan meningggal?

Bagi keluarga dan kerabat terdekat yang akan ditinggalkan, “pengetahuan” mengenai hal tersebut akan menjadi bekal untuk memperkuat mental dan mengikhlaskan kepergian orang yang dikasihani.

Sementara itu, bagi seseorang yang akan meninggalkan keluarganya, dirinya bisa lebih damai dengan kepulangannya. Simak selengkapnya terkait Ciri Ciri Orang Mau Meninggal!

Ciri Ciri Orang Mau Meninggal 40 Hari Sebelum Kematiannya

Secara umum, tanda-tanda dan gejala yang muncul 40 hari sebelum kematian cenderung lebih jelas diperlihatkan oleh seseorang yang kondisinya sudah kritis maupun mengalami sakit keras sejak lama.

Meski demikian, beberapa orang yang pernah berada dalam situasi kritis kemungkinan juga dapat sehat kembali dan beraktivitas normal seperti sediakala sebelum akhirnya berpulang ke sisi Tuhan. Hal ini tersebut bukanlah suatu fenomena ajaib, melainkan suatu keadaan medis yang disebut dengan terminal lucidity.

Berikut ini tanda-tanda dan gejala yang kemungkinan muncul 40 hari sebelum kematian seseorang.

1. Lebih Banyak Tidur

Dalam banyak kasus, seseorang yang telah berusia sangat tua maupun mengalami sakit kritis akan terlihat sering tidur menjelang kematiannya. Durasi maupun frekuensi tidur yang semakin bertambah menjelang 40 hari sebelum kematian diakibatkan oleh metabolisme tubuh yang semakin melemah seiring dengan fungsi tubuh yang juga ikut menurun.

Jika orang terkasih kalian memperlihatkan ciri-ciri itu, jangan interupsi waktu tidurnya. Ini merupakan reaksi alami tubuh untuk membuat dirinya lebih banyak beristirahat.

Bantulah mereka agar tidurnya lebih nyenyak dengan memastikan jika lingkungan sekitarnya tidak berisik maupun kamar tidurnya terasa nyaman. Jika mereka sudah merasa lebih bertenaga, barulah kalian dapat membantunya sedikit bergerak di tempat tidur.

Di Balik Pena: Curahan Hati Natasha Rizky dalam Buku “Kamu Tidak Istimewa”

2. Nafsu Makan Menurun

Ciri-ciri umum berikutnya yang diperlihatkan oleh seseorang yang akan meninggal adalah jarang makan. Dalam kasus tertentu, mereka bisa saja benar-benar berhenti makan dan minum sebelum meninggal dunia.

Ketika seseorang telah mendekati ajalnya, tubuhnya tidak lagi memerlukan energi layaknya orang yang normal. Artinya, nafsu untuk makan dan minum juga perlahan-lahan akan ikut menurun.

Namun demikian, penting bagi kalian untuk memastikan jika orang itu tetap makan dan minum. Sebisa mungkin kalian terus menawarkan makanan dan minuman yang disukainya. Selain itu, kalian juga bisa membalurkan madu atau lipbalm untuk memastikan agar bibirnya tidak terlalu kering.

3. Tidak Mau Bertemu atau Bersosialisasi dengan Orang Lain

Seseorang yang masih sehat, baik itu introver maupun extrover sekalipun pastinya ingin bersosialisasi dan bertemu dengan orang lain. Namun, bagi seseorang yang mengalami sakit parah, kemauan untuk bertemu dengan orang lain mungkin tidak akan sebesar dahulu.

Kemauan untuk menyendiri ini dirasakan wajar. Tidak ada seorang pun yang mau terlihat lemah dan tidak berdaya di depan orang lain, terutama di hadapan orang-orang yang dicintainya.

Jika mereka mempunyai permintaan khusus untuk tidak menemui atau menghubungi orang tertentu, hormatilah permintaannya. Begitu juga sebaliknya, jika mereka ingin menemui seseorang secara khusus, turutilah permintaannya.

4. Perubahan Fisik

Perubahan fisik kemungkinan menjadi ciri-ciri yang paling jelas terlihat pada seseorang yang akan meninggal dunia. Beberapa ciri-ciri fisik dari seseorang yang akan meninggal dunia antara lain:

  • Hipotensi (tekanan darah menurun).
  • Kulit akan berubah warnanya dan terlihat berbintik kebiruan, khususnya di bagian atas tubuhnya. Hal tersebut terjadi karena aliran darahnya menurun.
  • Detak jantungnya tidak normal, yang menandakan takikardia.
  • Mengalami inkontinensia atau sering mengompol karena fungsi sistem kemihnya tidak lagi berjalan dengan maksimal.
  • Urine berwarna kecokelatan karena fungsi ginjalnya melemah.
  • Luka dekubitus, yaitu titik nyeri yang sering kali muncul di tonjolan tulang akibat tekanan besar berkelanjutan di salah satu area tubuh tertentu.
  • Irama pernapasannya melemah.
  • Kuku, kulit, dan bibir jadi terlihat lebih pucat dan membiru karena aliran darahnya berkurang.

Namun, sekali lagi perlu digarisbawahi jika tidak semua orang akan memperlihatkan tanda-tanda dan gejala di atas pada beberapa hari sebelum dirinya akan meninggal dunia.

5. Otot Semakin Melemah

Seseorang yang telah mendekati ajalnya kemungkinan akan mengalami atrofi otot. Atrofi otot merupakan penyusutan dan hilangnya massa otot akibat lama tidak digunakan.

Hal tersebut umum dialami oleh seseorang yang terus berbaring dalam jangka waktu panjang karena sakit keras maupun sedang kritis, sehingga tidak dapat bangkit lebih lama. Seiring dengan ototnya yang melemah, aktivitas ringan yang sebelumnya dapat dirasakan juga semakin sulit dilakukan.

6. Suhu Tubuh Menurun

Sirkulasi darah seseorang yang akan meninggal juga hanya berfokus untuk menjaga organ vitalnya yang penting, seperti otak dan jantung. Artinya, hanya sedikit darah yang benar-benar mengalir ke kaki dan tangannya.

Ketika sirkulasi darah tidak lagi normal, wajar jika kulit di bagian kaki dan tangannya terasa lebih dingin ketika disentuh. Selain itu, kulitnya juga akan terlihat lebih pucat dengan titik keunguan maupun kebiruan.

Rujukan

Buku

  • Anies (2005). Pencegahan Dini Gangguan Kesehatan: Berbagai Penyakit dan Gangguan Kesehatan yang Perlu Diwaspadai dan Dicegah Secara Dini. Jakarta: Elex Media Komputindo.
  • Koentjaraningrat (1984). Kebudayaan Jawa: Seri Etnografi Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Situs web

  • “11 Ciri-Ciri yang Mungkin Terjadi 40 Hari Sebelum Meninggal”. SehatQ. Diakses pada 29 Maret 2023.
  • “Mengenal Tanda-Tanda Orang Saat Mau Meninggal Dunia”. HelloSehat. Diakses pada 29 Maret 2023.

Itulah artikel terkait “ciri-ciri orang akan meninggal menurut medis dan prediksi primbon.” Sebagai catatan, penjelasan di atas hanyalah sebagai penambah wawasan pembaca. Percaya atau tidaknya merupakan hak dari masing-masing pembaca. Bagikan juga tulisan ini di akun media sosial supaya teman-teman kalian juga bisa mendapatkan manfaat yang sama.

Untuk mendapatkan lebih banyak informasi, Grameds juga bisa membaca buku yang tersedia di Gramedia.com. Sebagai #SahabatTanpaBatas kami selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Untuk mendukung Grameds dalam menambah wawasan dan pengetahuan, Gramedia selalu menyediakan buku-buku berkualitas dan original agar Grameds memiliki informasi #LebihDenganMembaca. Semoga bermanfaat!

Rekomendasi Buku dan E-Book terkait Ciri-Ciri Orang Mau Meninggal

1. Agama Jawa: Ajaran, Amalan, dan Asal-Usul Kejawen

Ciri Ciri Orang Mau Meninggal

Kejawen merupakan kepercayaan dari sebuah etnis yang berada di Pulau Jawa. Filsafat Kejawen didasari kepada ajaran agama yang dianut oleh filsuf dari Jawa. Kejawen bukanlah sebuah agama, walaupun merupakan suatu kepercayaan. Berdasarkan naskah-naskah kuno Kejawen, tampak betapa Kejawen lebih berupa seni, budaya, tradisi, sikap, ritual, dan filosofi orang-orang Jawa. Orang-orang Jawa yang percaya dengan Kejawen relatif taat dengan agamanya.

Mereka tetap melaksanakan perintah agama dan menjauhi larangan dari agamanya. Caranya adalah dengan menjaga diri sebagai orang pribumi. Pada dasarnya, ajaran filsafat Kejawen memang mendorong manusia untuk tetap taat dengan Tuhannya. Sejak dahulu kala, orang Jawa memang dikenal mengakui keesaan Tuhan. Itulah yang menjadi inti dari ajaran Kejawen sendiri, yakni yang dikenal dengan “Sangkan Paraning Dumadi”.

Buku Agama Jawa memuat segala sesuatu tentang kepercayaan orang Jawa dan tradisinya, yang pada dasarnya adalah konsepsi manunggaling kawula Gusti (Tuhan bersemayam dalam diri setiap manusia) yang senantiasa dipegang teguh sejak dahulu hingga sekarang. Manembah (menyembah/menjalankan agama Jawa) adalah jalan seseorang untuk dapat menemukan kebahagiaan dan ajal sejatinya.

Selain diperoleh dari sang penemu, ajaran dalam agama Jawa juga dilengkapi dengan ajaran yang diperoleh dari para leluhur yang memang terbukti memperhalus batin. Petuah-petuah para leluhur tertuang dalam Serat Piwulang. Berbagai doktrin menyangkut ajaran dirinci dan diperdalam dengan penghayatan untuk memperoleh gambaran umum konsep suatu doktrin yang menjadi benang merah seluruh paguyuban. Berbagai konsep ajaran yang diuraikan, yaitu kosmologi, sangkan paraning dumadi, cakramanggilingan, sedulur papat lima pancer, metamorfosis diri, guru sejati, ajaran tentang semut, lebah, kupu-kupu, dan laron.

Istilah agama Jawa memang kerap memunculkan perdebatan sengit, tetapi tak dapat dipungkiri bahwa mengekspresikannya, bagi banyak orang Jawa, dianggap mampu memberikan rasa nyaman dan mengatasi kegelisahan hidup. Tentang bagaimana ajaran itu diuraikan, diamalkan, hingga menempati ruang demikian istimewa di hati masyarakat Jawa, itulah yang dijabarkan secara lengkap dalam buku ini.

Live Tertarik untuk mendapatkan rekomendasi produk ini?
  • Tertarik
    73% 529 / 715
  • Belum
    18% 130 / 715
  • Masukkan keranjang
    7% 56 / 715

2. Kearifan Lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa

Ciri Ciri Orang Mau Meninggal

Dalam kehidupan masyarakat Jawa dikenal dengan istilah beberapa falfasah yang menghendaki manusia berperilaku ke arah ketenteraman hidup dan bukan konflik yang terus-menerus. Sikap dan perilaku masyarakat Jawa pun perlu dilandasi kehendak untuk menghiasi dunia dan bukan merusak tatanan dunia. Adapun cerminan beberapa falsafah tersebut seperti diungkapkan di dalam sangkan paraning dumadi (asal dan tujuan hidup manusia), berarti kesadaran mengenai asal mula (sangkan) dan tujuan (paran) hidup.

Bagi orang Jawa, segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Tuhan dan harus kembali kepada-Nya. Inilah yang membuat perlu suatu usaha atau cara agar manusia bisa dan pantas sampai ke asalnya, yaitu Tuhan. Orang Jawa menekankan laku prihatin untuk mencari kesempurnaan hidup, misalnya puasa mutih atau puasa ngebleng serta berendam di sungai. Mereka memiliki timbunan sistem filosofis berupa endapan pengalaman para pujangga dan leluhur yang berusaha mencari arti kehidupan manusia, asal-usul, tujuan akhir, dan hubungan manusia dengan Tuhan.

Buku bertajuk Kearifan Lingkungan dalam Perspektif Budaya Jawa yang merupakan renungan dan refleksi seorang budayawan dan aktivis pekerja lingkungan, H.M. Nasruddin Anshoriy Ch dan Kepala PPLH Regional Jawa, Sudarsono ini merupakan buku yang relevan untuk kondisi sekarang, karena memiliki bobot tinggi untuk dibaca bukan hanya oleh para akademisi, tetapi juga para pengambil keputusan di pemerintahan dan masyarakat luas (Sri Sultan Hamengkubuwana X).

3. Kitab Primbon Jawa Serbaguna Tetap Relevan Sepanjang Masa

Kitab primbon adalah sekumpulan kearifan lokal supaya seseorang mampu memahami dirinya, sesamanya, dan alam makrokosmos maupun mikrokosmos tempat dirinya menjalani kehidupan. Selama ratusan tahun, kitab primbon menjadi pedoman sehari-hari bagi orang Jawa untuk mengartikan berbagai fenomena.

Kandungan ilmu dan ngelmu di dalam primbon Jawa akan membuat kita mengerti segala sesuatu yang tidak dimengerti oleh orang lain. Ilmu dan ngelmu ini terbukti tetap relevan dalam berbagai situasi dan berguna sepanjang masa.

Hal-hal penting yang termuat dalam Kitab Primbon Jawa Serbaguna ini antara lain:

  • Sifat, hari, pasaran, neptu, bulan, dan tahun.
  • Tabiat manusia menurut waktu kelahiran dan ciri fisik (letak tahi lalat, bentuk kepala, bibir, dagu, raut wajah, dan lain sebagainya).
  • Aneka perhitungan tentang jodoh dan pernikahan, prosesi perkawinan adat Jawa lengkap dengan upacara selamatannya.
  • Pengobatan tradisional untuk anak dan orang tua, dari jamu khusus untuk ibu hamil dan menyusui, memperbanyak air susu ibu (ASI), agar semakin dicintai oleh suami, hingga aneka resep tradisional untuk merawat bayi.
  • Makna berbagai firasat (dari mimpi, kedutan, hati yang tiba-tiba berdebar-debar, telinga berdenging, dan lain sebagainya).
  • Arti dari fenomena alam dan lingkungan sekeliling (mulai gempa bumi, lolongan anjing, perilaku kucing, tikus, kicau burung, datangnya kupu-kupu, terjadinya halilintar, gerhana matahari dan bulan, dan lain sebagainya).
  • Perhitungan tentang suatu barang dapat ditemukan atau tidak.
Live Tertarik untuk mendapatkan rekomendasi produk ini?
  • Tertarik
    73% 529 / 715
  • Belum
    18% 130 / 715
  • Masukkan keranjang
    7% 56 / 715

4. Sejarah Agama Jawa: Menelusuri Kejawen Sebagai Subkultur Agama Jawa

Indonesia merupakan negara multikultural, di negeri ini semuanya sangat beragam, mulai dari budaya hingga agama yang ada. Sebelum agama-agama sekarang ada dan berkembang, nenek moyang di Indonesia memercayai dan menganut aliran animisme dan dinamisme, selanjutnya barulah mulai tersebar beberapa agama yang bersamaan dengan munculnya kerajaan-kerajaan besar di Nusantara.

Saat ini, Indonesia meyakini adanya enam agama, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konfusianisme. Namun demikian, ternyata di berbagai daerah Jawa masih banyak orang-orang yang masih berpaham kejawen atau agama Jawa. Kejawen sendiri merupakan kepercayaan dari sebuah etnis yang berada di Pulau Jawa. Filsafat kejawen didasari kepada ajaran agama yang dianut oleh filsuf dari Jawa.

Kejawen sebenarnya bukanlah suatu agama, meskipun merupakan kepercayaan. Berdasarkan naskah-naskah kuno Kejawen, tampak betapa Kejawen lebih berupa seni, budaya, tradisi, sikap, ritual, dan filosofi orang-orang Jawa yang tidak dapat dilepaskan dari spiritualitas suku Jawa.

Buku ini menyajikan sejarah agama orang Jawa. Secara geneologis, ditelusuri asal keyakinan yang sampai sekarang masih dipercaya oleh orang Jawa. Pembahasan itu untuk menelusuri kejawen sebagai subkultur agama orang Jawa yang dapat adaptif di beberapa agama samawi yang ada di Indonesia. Dengan penelusuran data-data yang valid, penulis meyakinkan bahwa buku ini layak menjadi referensi siapa saja yang ingin mempelajari seluk-beluk tentang agama orang Jawa, terutama kejawen sebagai subkultur. Disajikan pula sumber-sumber apa saja yang menjadi naungan dan melengkapi ajaran kejawen ini.

Live Tertarik untuk mendapatkan rekomendasi produk ini?
  • Tertarik
    73% 529 / 715
  • Belum
    18% 130 / 715
  • Masukkan keranjang
    7% 56 / 715

5. Dari Siwaisme Jawa ke Agama Hindu Bali

Dari Siwaisme Jawa ke Agama Hindu Bali - Ciri Ciri Orang Mau Meninggal

Buku ini berisi satu kumpulan artikel yang ditulis oleh Andrea Acri (dosen dan peneliti di EPHE, PSL University, Paris) yang berfokus kepada Siwaisme (agama Siwa), tantrisme, dan Yoga di Jawa dan Bali pada zaman kuno, serta kelanjutannya (sebagai “agama Hindu”) di Bali pada zaman modern.

Acri menggarisbawahi keterkaitan praktik agama di Jawa dan Bali dengan tradisi Siwaisme, Brahmanisme, dan agama Hindu di India, sembari juga menyoroti transformasi dan pribumisasi tradisi itu di daerah Jawa dan Bali sepanjang waktu dengan orisinalitas dan nilai intelektual maupun spiritual yang tinggi. Ditekankan pula kesinambungan antara tradisi kuno dan wacana baru yang telah berkembang dalam periode modern dan kontemporer, baik di Jawa (setelah kedatangan Islam pada abad ke-15) dan di Bali (setelah reformasi agama Hindu pada awal abad ke-20).

Buku ini diharapkan akan berguna untuk memperkenalkan keistimewaan keagamaan dan kebudayaan Jawa zaman kuno kepada khalayak luas di Indonesia, serta membantu untuk mengerti permasalahan bangsa dan negara Indonesia masa kini melalui pemahaman masa lalu.

Pemaparan di dalam buku ini meliputi:

  • Bab 1. Sastra Tutur Sanskerta Jawa Kuno dari Bali.
  • Bab 2. Sekte Vaimala Pasupata.
  • Bab 3. Sekilas tentang Saiva Siddhanta Awal.
  • Bab 4. Meninjau Kembali Kultus Siva–Buddha di Jawa dan Bali.
  • Bab 5. Penerapan Suku Kata.
  • Bab 6. Tradisi Yoga dan Meditasi di Kepulauan Asia Tenggara.

BACA JUGA:



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Arum Rifda

Menulis adalah cara terbaik untuk menyampaikan isi pemikiran, sekalipun dalam bentuk tulisan, bukan verbal.
Ada banyak hal yang bisa disampaikan kepada pembaca, terutama hal-hal yang saya sukai, seperti K-Pop, rekomendasi film, rekomendasi musik sedih mendayu-dayu, dan lain sebagainya.