Geografi

7 Penyebab Curah Hujan Tinggi di Indonesia

Written by Rifda Arum

Penyebab Curah Hujan Tinggi – Setiap tahunnya, sebagian besar wilayah di Indonesia mengalami bencana alam banjir, terutama di dataran rendah. Masalah banjir ini memang saat ini belum dapat diselesaikan secara tuntas, bahkan semakin meningkat, baik intensitas dan frekuensinya.

Secara umum, bencana alam banjir ini disebabkan oleh intensitas curah hujan yang tinggi. Selain itu, lamanya curah hujan yang berintensitas tinggi juga menentukan datangnya banjir di suatu wilayah.

Lalu, apa yang menyebabkan tingginya curah hujan di Indonesia? Bagaimana karakteristik curah hujan yang ada di negara kita ini?

Supaya Grameds dapat memahaminya, yuk simak ulasan berikut!

https://www.pexels.com/

7 Penyebab Tingginya Curah Hujan di Indonesia

Terdapat tujuh penyebab tingginya curah hujan yang terjadi di Indonesia, salah satunya adalah fenomena La Nina. Nah, berikut adalah penjelasan mengenai tujuh penyebab tersebut.

1. Madden Julian Oscillation (MJO)

Fenomena ini ditemukan oleh dua orang peneliti yakni Rolland Madden dan Paul Julian pada tahun 1971 yang kala itu tengah meneliti adanya osilasi (goyangan atau getaran) periodik di daerah tropis Pasifik.

Madden Julian Oscillation (MJO) adalah sistem osilasi (goyangan atau getaran) interaksi antara atmosfer dan laut, yang penjalarannya bergerak dari barat ke timur di sekitar wilayah Maritime Continent Equator atau Benua Maritim Indonesia (BMI) sekitar 30-60 hari. Fenomena MJO ini biasanya berkembang dan dominan akan terlihat di sekitar Samudera Hindia bagian selatan menuju arah timur, hingga melewati wilayah Australia dan Samudra Pasifik sebelah barat.

Fenomena MJO ini tentu saja berdampak pada tingginya curah hujan yang ada di Indonesia pada musim hujan. Pada periode Juni hingga Agustus, fenomena MJO ini telah memberikan dampak berupa:

  • Perubahan periode basah dan kering
  • Perubahan monsoon
  • Perubahan aktivitas siklon tropis

Sementara itu, pada periode Desember hingga Februari, dampaknya adalah berupa:

  • Perubahan periode basah dan kering
  • Perluasan plume kelembapan tropis hingga ke lintang yang lebih tinggi, akhirnya menyebabkan hujan lebat di daerah mid latitude
  • Perubahan monsoon
  • Perubahan aktivitas siklon tropis
  • Perubahan ENSO melalui Gelombang Kelvin di lautan

Beli Buku di Gramedia

2. La Nina

La Nina adalah bentuk fenomena alam yang terjadi akibat adanya interaksi antara permukaan laut dengan atmosfer yang ada di Pasifik tropis. Hal yang terjadi dalam fenomena ini adalah ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik tropis, bagian tengah dan timurnya lebih dingin dari kondisi normal, kemudian diikuti adanya perubahan sirkulasi atmosfer di atasnya, biasanya berupa peningkatan angin pasat timuran yang lebih kuat dari kondisi normal dan dapat berlangsung selama beberapa bulan.

Hal tersebut tentu saja berdampak pada pola iklim global, terutama di daerah tropis seperti Indonesia yang menjadikan cuaca menjadi lebih “basah”. Fenomena La Nina dapat menambah curah hujan secara signifikan pada bulan Oktober hingga November pada awal musim hujan.

3. Bibit Siklon Tropis

Siklon tropis adalah fenomena alam berupa badai yang berkekuatan besar. Bahkan radius rata-ratanya dapat mencapai 150 hingga 200 km!

Fenomena siklon tropis ini terbentuk di atas lautan yang mempunyai suhu permukaan air laut hangat, kira-kira lebih dari 26.5 ºC. Selain itu, angin kencang yang berputar di dekat pusat badai ini mempunyai kecepatan angin lebih dari 63 km/ jam.

Bibit siklon tropis ini juga dapat berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan hujan sehingga berpengaruh pada tingginya curah hujan. Ketika fenomena ini terjadi, masyarakat diimbau untuk tetap waspada karena beberapa daerah di Indonesia biasanya akan terkena dampaknya berupa hujan lebat dan angin kencang.

Fenomena ini juga mempunyai nama-nama lokal, misalnya typhoon (taifun) di daerah Pasifik, willy-willy di daerah Australia, baguio di daerah Filipina, dan hurricane di daerah Amerika.

Beli Buku di Gramedia

4. Intertropical Convergence Zone (ITCZ)

Fenomena ITCZ atau Intertropical Convergence Zone ini adalah pertemuan antara angin pasat dari belahan bumi sebelah utara dengan belahan bumi sebelah selatan, lalu mengelilingi bumi di sekitar ekuator.

Daerah pertemuan angin tersebut akan membentuk sebuah awan penghasil hujan di sekitar wilayah tersebut. Hujan yang dihasilkan dari awan tersebut nantinya akan memiliki curah hujan yang tinggi dan terjadi secara berkesinambungan.

Fenomena ITCZ ini tidak selalu menetap di suatu wilayah saja, maka dari itu akan selalu berpindah bergantung pergerakan matahari tahunan.

Pada bulan Januari, biasanya garis ITCZ akan berada di Indonesia, sehingga pada bulan tersebut akan mengalami cuaca yang panas. Cuaca panas tersebut menyebabkan pengangkatan massa udara sehingga berpengaruh pada tingginya curah hujan.

5. Kelvin and Rossby

Fenomena Gelombang Kelvin dan Gelombang Rossby adalah fenomena gelombang atmosfer yang secara aktif terjadi di sekitar daerah Sumatera Selatan dan Pulau Jawa. Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin merupakan dinamika atmosfer yang mengindikasikan adanya potensi pertumbuhan awan hujan dalam skala yang luas di sekitar wilayah fase aktif yang dilewatinya.

Gelombang Kelvin akan bergerak dari arah Samudra Hindia ke arah Samudra Pasifik, melewati wilayah Indonesia selama 30-40 hari bersamaan dengan MJO (Madden Julian Oscillation).  Sementara itu, pada gelombang Rossby, nantinya akan bergerak kebalikan dari Gelombang Kelvin, yakni dari Samudra Pasifik ke arah Samudra Hindia.

Lalu, apa persamaan dari kedua fenomena ini? Persamaannya adalah keduanya sama-sama berkontribusi dalam peningkatan curah hujan dan pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia.

Beli Buku di Gramedia

6. Angin Monsun Asia

Angin monsun adalah angin yang berhembus secara periodik, minimal selama tiga bulan. Fenomena ini dapat menyebabkan peningkatan massa udara basah dan tentu saja mempengaruhi pada tingginya curah hujan yang ada di sekitar wilayah Indonesia.

Terdapat dua angin monsun global yang mempengaruhi kondisi monsun di sekitar wilayah Benua Maritim Indonesia, yakni monsun Asia musim panas dan monsun Australia musim dingin.

Pada monsun Asia musim panas (Asian summer monsoon) ini terjadi di benua Asia dengan terbentuknya pusat tekanan rendah di benua tersebut. Sementara itu, pada saat bersamaan ada monsun Australia musim dingin (Australian winter monsoon) yang juga terjadi, sehingga atmosfer di atas benua tersebut akan bertekanan tinggi.

Pada musim hujan, angin monsun ini memang selalu ada dan terjadi di wilayah Indonesia, yakni pada bulan Januari hingga Februari.

Aliran angin monsun Asia ini dapat menyebabkan pembentukan awan konvektif yang nantinya berpotensi terjadi cuaca buruk, hujan lebat, hujan petir dan angin kencang. Angin monsun ini ada dua jenis yakni angin monsun barat dan angin monsun timur.

7. Penghangatan Suhu Permukaan Air Laut

Suhu permukaan air laut menjadi hangat dapat disebabkan oleh dua faktor yakni akibat adanya sinar matahari dan pertemuan dua arus laut panas. Peningkatan suhu permukaan air laut tersebut tentu saja dapat menyebabkan penguapan sehingga nantinya menciptakan awan hujan.

Penguapan tersebut juga dapat meningkatkan intensitas hujan, gelombang badai, hingga siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia dan global. Nah, peningkatan suhu permukaan air laut ini nantinya turut berhubungan dengan fenomena El Nino dan La Nina.

Saat terjadi peningkatan suhu permukaan air laut, maka peluang akan terjadinya La Nina juga akan semakin besar. Sebaliknya, apabila suhu permukaan air laut menurut, maka akan terjadi fenomena El Nino.

Beli Buku di Gramedia

Karakteristik Curah Hujan di Indonesia

Berdasarkan pada pola umum yang kerap terjadi, curah hujan yang ada di Indonesia ini dapat dibedakan menjadi 3 tipe, yaitu tipe monsun, tipe lokal, dan tipe ekuatorial.

1. Tipe Monsun

Curah hujan tipe monsun ini dipengaruhi oleh tiupan angin musim terutama angin musim barat. Angin musim barat adalah angin yang bergerak oleh adanya tekanan tinggi dan tekanan rendah di sekitar benua Asia dan Australia secara bergantian, terutama pada bulan Desember hingga Februari.

Pada bulan-bulan tersebut, di Belahan Bumi Utara akan ada musim dingin, akibatnya akan terjadi sel tekanan tinggi di benua Asia. Sementara itu, di Belahan Bumi Selatan akan ada musim panas, sehingga sel tekanan rendah terjadi di benua Australia.

Adanya perbedaan tersebut menjadikan tekanan udara yang bertiup di kedua benua tersebut, maka pada bulan Desember hingga Februari akan bertiup angin bertekanan tinggi di Asia menuju tekanan rendah di Australia. Nah, angin tersebutlah yang dinamakan dengan Angin Monsun Barat. Angin monsun barat biasanya akan lebih lembab dan menimbulkan hujan daripada angin monsun timur.

Beli Buku di Gramedia

2. Tipe Lokal

Karakteristik curah hujan selanjutnya adalah tipe lokal, yakni yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan fisik setempat, berupa bentang perairan sebagai sumber penguapan hingga pegunungan sebagai daerah tangkapan hujan.

Pola curah hujan tipe lokal ini adalah bergantung pada besarnya pengaruh kondisi setempat, yakni berkaitan dengan keberadaan pegunungan, lautan, bentang perairan lain, hingga terjadinya pemanasan lokal yang intensif.

Faktor pembentuk dari curah hujan tipe ini adalah naiknya udara menuju ke dataran tinggi atau pegunungan karena terjadi pemanasan lokal yang intensif. Biasanya, curah hujan tipe lokal terjadi di daerah Sulawesi, Maluku, dan Papua.

Untuk durasinya, tipe lokal terjadi hanya satu kali maksimum curah hujan bulanan dalam satu tahunnya.

3. Tipe Ekuatorial

Selanjutnya ada curah hujan tipe ekuatorial yang proses terjadinya berhubungan dengan pergerakan zona konvergensi ke arah utara dan selatan mengikuti pergerakan semu matahari.

Zona konvergensi adalah wilayah pertemuan dua massa udara (angin) yang berasal dari dua belahan bumi, kemudian udara tersebut bergerak ke atas. Proses bergeraknya angin menuju satu titik kemudian bergerak ke atas itu disebut dengan konvergensi, sementara tempat terjadinya konvergensi disebut dengan daerah konvergensi.

Daerah konvergensi relatif sempit dan berada di lintang rendang yang biasa disebut dengan Intertropical Convergence Zone (ITCZ).

Beli Buku di Gramedia

Nah, itulah tujuh penyebab tingginya curah hujan di wilayah Indonesia. Dari penyebab-penyebab tersebut, memang semuanya adalah kehendak alam dan kita sebagai manusia tidak bisa mencegah tingginya curah hujan yang kerap terjadi.

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait

Sumber:

http://meteo.bmkg.go.id/

BERANDA

https://dpu.kulonprogokab.go.id/

Tukidi. (2010). Karakter Curah Hujan di Indonesia. Jurnal Geografi UNNES, Vol.7, No.2.

Suhardi, Budi. dkk. (2018). Pengaruh Madden Julian Oscillation Terhadap Kejadian Curah Hujan Ekstrem di Provinsi Jawa Barat (Studi Kasus di Kabupaten Sukabumi). Jurnal Geografi, Edukasi, dan Lingkungan (JGEL), Vol.2, No.2

Yulihastin, Erma. (2010). Mekanisme Interaksi Monsun Asia dan Enso. Berita Dirgantara, Vol.11, No.3.

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien