in , ,

Review Novel Goodbye Daniel Karya Erisca Febriani

Goodbye Daniel – Hai Grameds para pecinta baca! Apa kabarmu hari in? Sudah siap menambah rekomendasi bacaanmu? Kali ini Gramin bakal membahas novel remaja yang nggak kalah seru dari novel pendahulunya nih.

Kamu pasti pernah mendengar tentang novel Dear Nathankan? Kisah yang sangat populer hingga diadaptasi menjadi film pada tahun 2017.

Goodbye Daniel karya Erisca Febriani hadir sebagai prekuel sekaligus spin-off dari Dear Nathan. Novel ini mengangkat kisah kehilangan yang dirasakan Nathan setelah Daniel pergi dari hidupnya. Hari-harinya terasa kosong dan dipenuhi berbagai penyesalan tentang hal-hal yang tidak sempat terjadi.

Kepergian Daniel meninggalkan luka mendalam di hati Nathan. Berbagai kenangan mereka terus menghantui pikirannya. Belum lagi sikap kedua orang tuanya yang sering membanding-bandingkan dirinya, membuat Nathan semakin tenggelam dalam rasa sepi dan kesendirian.

Goodbye Daniel karya Erisca Febriani dicetak oleh Penerbit PT. Bumi Semesta Media pada 2 Desember 2021 dengan ketebalan 352 halaman. Sinopsis Dan ulasan kelebihan serta kekurangan novel yang sudah dibaca 26 ribu kali di Wattpad ini telah Gramin rangkum di bawah ini. Jangan lewatkan informasi pentingnya ya!

Profil Erisca Febriani – Penulis Novel Goodbye Daniel

Erisca Febriani lahir pada 25 Maret 1998 dan dikenal sebagai salah satu penulis muda berbakat asal Indonesia. Namanya mulai dikenal luas setelah novel debutnya yang berjudul Dear Nathan sukses besar hingga diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama.

Ketertarikan Erisca pada dunia menulis dimulai sejak ia duduk di bangku kelas 2 SMP. Saat itu, ia aktif menulis melalui media sosial Facebook. Kegemarannya terhadap Justin Bieber menjadi inspirasi awal untuk membuat cerita bergenre fan fiction. Pada mulanya, kedua orang tuanya sempat kurang setuju karena khawatir aktivitas menulis akan mengganggu pendidikannya. Namun, karena kecintaannya terhadap dunia literasi sudah begitu besar, Erisca tetap konsisten berkarya.

Menjelang akhir masa SMA, Erisca memberanikan diri mengunggah cerita berjudul Dear Nathan di Wattpad. Di luar dugaan, kisah tersebut mendapat sambutan luar biasa dari para remaja dan berhasil menempati posisi trending nomor satu dalam kategori Fiksi Remaja. Perjalanan novel itu menuju versi cetak pun tidak selalu berjalan lancar. Erisca sempat mengalami penipuan dari pihak self-publishing sebelum akhirnya ada penerbit yang tertarik menerbitkannya secara luas.

Kesuksesan Dear Nathan semakin terlihat ketika novel tersebut terus masuk dalam daftar best seller di berbagai toko buku dan terjual lebih dari 100 ribu eksemplar. Popularitasnya membuat Rapi Films mengadaptasi kisah tersebut menjadi film yang berhasil menarik sekitar 700 ribu penonton, bahkan turut dibuat versi sinetronnya. Keberhasilan Dear Nathan juga membawa pengaruh besar terhadap tren novel Wattpad yang mulai banyak dilirik penerbit dan rumah produksi untuk diadaptasi menjadi film maupun serial.

Kelanjutan kisahnya yang berjudul Hello Salma juga meraih pencapaian luar biasa dengan jumlah penonton lebih dari 800 ribu orang. Sementara itu, spin-off berjudul Kisah untuk Geri sukses diadaptasi menjadi web series yang viral di media sosial.

Selain Goodbye Daniel, penulis asal Bandar Lampung ini juga telah melahirkan berbagai karya populer lainnya, seperti Serendipity, Hello Salma, Kisah untuk Geri, Kisah untuk Dinda, Dear Nathan: Thank You Salma, Di Bawah Umur, dan Pancarona.

Sinopsis Novel Goodbye Daniel

Bagian paling menyakitkan dari kehilangan bukan hanya soal ditinggalkan, melainkan bagaimana seseorang harus melanjutkan hidup bersama kenangan yang masih terus tinggal di dalam ingatan.

Andai Nathan menyadari bahwa waktu bersama Daniel ternyata begitu singkat, ia pasti akan menciptakan lebih banyak momen berharga dengannya. Nathan mungkin tidak akan marah hanya karena segelas susu coklat yang tersedia di meja makan. Ia juga tidak akan kesal saat Daniel mengganti saluran televisi dengan acara kuis interaktif. Bahkan, Nathan rela mengalah agar Daniel bisa menjadi orang pertama yang menyambut kepulangan Papa dari kantor.

Nathan juga pasti tidak keberatan jika seluruh kaos distro favoritnya dipinjam Daniel tanpa izin. Ia akan membiarkan kulit ayam terakhir miliknya diambil begitu saja. Bahkan, Nathan rela mendengar teriakan Daniel yang sering mengganggu waktu tidur siangnya, sebab kini semua itu tidak mungkin terulang lagi.

Daniel telah pergi, meninggalkan kamar yang tetap rapi seperti biasa. Handuk yang masih tergantung di jemuran. Tuts piano yang kini tak lagi dimainkan. Hingga kolor biru yang masih setia tergantung di belakang piano, seolah menunggu pemiliknya kembali mengambilnya.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Goodbye Daniel

Pros & Cons

Pros
  • Premis tentang duka
  • Rangkuman kehidupan tokoh
  • Emosi yang mendalam
  • Isu pola asuh dalam keluarga
  • Karakter dan perkembangannya yang realistis
  • Memberikan pengetahuan baru
Cons
  • Kurang interaksi dan peran tokoh

Kelebihan Novel Goodbye Daniel

Novel Goodbye Daniel karya Erisca Febriani merupakan novel fiksi yang menyajikan premis tentang kehilangan dan duka. Suatu cerita yang pasti bisa menyentuh hati dan memori tertentu, yang pasti pernah dialami setiap pembaca.

  • Premis tentang duka

Novel Goodbye Daniel ini menyajikan premis utama tentang duka akibat ditinggal orang terkasih yang menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa dihindari.

Novel ini menjadi gambaran bagaimana seseorang menghadapi masa berduka dan kehilangan, menjadikannya relate dengan setiap orang yang pernah mengalaminya.

  • Rangkuman kehidupan tokoh

Dengan ketebalan novel hanya dalam 352 halaman, penulis berhasil menyajikan cerita dengan rangkuman kehidupan tokoh dari lahir hingga remaja. Kenangan yang dituliskannya cukup singkat, tapi bisa membuat pembaca membayangkan runtutan fase kehidupan dari tokoh utama.

  • Emosi yang mendalam

Memang Erisca Febriani paling jago deh urusan menulis dengan penuh emosi. Penulis satu ini selalu saja berhasil membuat pembaca merasakan berbagai emosi bersama para tokohnya di setiap karyanya. Tak terkecuali dalam novel Goodbye Daniel ini yang dari sinopsisnya aja kita sudah tahu pasti akan sedih.

Dan benar saja, pembaca novel ini berhasil dibuat bercucuran air mata. Jadi, kamu yang ingin baca novel ini, jangan lupa siapkan tissue ya!

  • Isu pola asuh dalam keluarga

Selain menyampaikan isu tentang bagaimana menghadapi kehilangan, novel Goodbye Daniel juga menyoroti isu keluarga, lebih tepatnya tentang pola asuh terhadap anak-anak. Hal ini disampaikan melalui narasi yang memberikan gambaran secara jelas dari hasil pola asuh yang kurang baik.

  • Karakter dan perkembangannya yang realistis 

Karakter-karakter yang dibangun Erisca Febriani sangat realistis dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Karakter setiap tokohnya sejalan dengan alur cerita dan rangkaian kehidupan yang mereka jalani.

Perjalanan perkembangan karakter para tokoh pun ditampilkan dalam proses bertambahnya umur mereka. Menjadikan pembaca serasa bertumbuh bersama para tokoh dalam novel ini.

  • Memberikan pengetahuan baru

Pastinya novel Goodbye Daniel ini bisa memberikan kesan dan dampak yang baik bagi para pembacanya. Bukan hanya menghibur, tetapi juga menjadi teman senasib yang pernah merasakan yang namanya kehilangan, secara tak langsung memberikan penguatan, bahkan memberikan gambaran jika suatu saat mengalami hal yang sama.

Selain itu, novel ini juga menambah pengetahuan pembaca akan suatu hal yang disebut inner child.

Kekurangan Novel Goodbye Daniel

Meskipun novel Goodbye Daniel karya Erisca Febriani menawarkan banyak kelebihan, buku ini tetap tidak luput dari kekurangan yang bisa menjadi masukan bagi penulis.

  • Kurang interaksi dan peran tokoh

Tak ada kekurangan yang berarti dari novel Goodbye Daniel ini. Namun, sebagai masukan, pembaca menginginkan lebih banyak interaksi antar tokoh utama dalam novel ini, terutama peran sang ayah yang juga krusial dalam konteks keluarga ini. Peran dan interaksi dengan tokoh ayah dalam novel ini dinilai kurang.

Pengertian Inner Child

Seperti yang sudah dibahas pada bagian sebelumnya, novel ini menyinggung isu terkait inner child. Grameds udah tahu belum, apa itu inner child?

Inner child merupakan konsep dalam dunia psikologi yang menggambarkan sisi dalam diri orang dewasa yang masih menyimpan emosi, kenangan, sifat, dan pengalaman masa kecilnya. Istilah ini pertama kali dipopulerkan oleh Carl Jung.

Inner child tidak selalu berkaitan dengan luka batin, tetapi juga mencakup sisi positif seperti kreativitas, rasa penasaran, dan kebahagiaan sederhana yang dimiliki seseorang saat kecil. Namun, di sisi lain, inner child juga bisa menyimpan trauma, rasa takut, atau kebutuhan emosional yang dulu tidak terpenuhi.

Berikut karakteristik inner child yang perlu Grameds ketahui.

  • Aspek Positif: Membawa sifat spontan, kreatif, penuh keajaiban, dan kemampuan untuk merasakan kebahagiaan murni.
  • Aspek Negatif: Menyimpan rasa takut, pengabaian, penolakan, atau rasa tidak aman yang pernah dialami saat anak-anak.

Ketika luka masa kecil tidak diselesaikan dengan baik, dampaknya bisa muncul dalam kehidupan seseorang saat dewasa. Berikut beberapa contohnya.

  • Sulit Membawa Batasan: Seseorang cenderung kesulitan mengatakan “tidak” dan selalu ingin menyenangkan orang lain agar diterima.
  • Masalah Kepercayaan: Muncul rasa takut dikhianati, ditinggalkan, atau kecewa terhadap pasangan maupun teman dekat.
  • Ledakan Emosi: Hal-hal kecil bisa memicu kemarahan atau kesedihan yang berlebihan karena emosi lama masih terpendam.
  • Kritik Diri Ekstrem: Seseorang sering merasa dirinya kurang baik, tidak berharga, atau terus menyalahkan diri sendiri atas berbagai hal.
  • Ketakutan Menghadapi Konflik: Beberapa orang memilih diam atau menjauh dari masalah daripada mencoba menyelesaikannya secara langsung.

Proses memulihkan luka inner child biasanya dikenal dengan istilah reparenting atau belajar mengasuh diri sendiri dengan lebih baik. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan.

  • Mengakui Keberadaannya: Menerima bahwa pengalaman masa kecil turut membentuk diri seseorang di masa sekarang menjadi langkah awal yang penting.
  • Menulis Jurnal: Menuangkan isi hati, kenangan, atau menulis surat untuk diri sendiri di masa kecil dapat membantu memahami emosi yang selama ini dipendam.
  • Melakukan Hobi Masa Kecil: Melakukan aktivitas sederhana yang dulu disukai, seperti menggambar, bermain, atau mendengarkan lagu favorit, bisa membantu menghadirkan rasa nyaman.
  • Konsultasi Profesional: Melakukan terapi bersama psikolog dapat membantu seseorang memahami dan mengurai trauma masa lalu dengan lebih aman dan terarah.

Penutup

Melalui Goodbye Daniel, Erisca Febriani menyajikan kisah yang sulit untuk diungkapkan oleh banyak orang. Kisah tentang perbedaan pola asuh dan pengaruhnya terhadap karakter, serta tentang menghadapi kehilangan orang tercinta yang meninggalkan rasa sakit luar biasa. Novel ini bukan sebuah hiburan semata, melainkan teman yang mengingatkan tentang bagaimana waktu sangat berharga.

Gimana, Grameds? Sudah siapakah kamu terhanyut dalam kesedihan bersama Nathan? Novel Goodbye Daniel karya Erisca Febriani ini bisa kamu dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung kamu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

 

Penulis: Gabriel

 

Rekomendasi Buku Lainnya

Dear Nathan

Dear Nathan

Berawal dari keterlambatan mengikuti upacara pertama di sekolah baru, Salma Alvira bertemu dengan seorang cowok yang membantunya menyusup lewat gerbang samping. Selidik punya selidik, cowok itu ternyata bernama Nathan; murid nakal yang sering jadi bahan gosip anak satu sekolah. Beberapa rangkaian kejadian pun terjadi, yang justru mengantarkan Salma untuk menjadi kian lebih dekat dengan Nathan.

Semakin lama mereka berteman, perasaan cinta pun tumbuh di antara keduanya. Salma dan Nathan akhirnya menjalin hubungan. Hubungan Nathan dan Salma tentunya sama dengan hubungan lainnya yang mengalami pasang surut. Dua kepribadian yang saling bertolak belakang, seperti langit dan bumi; yang tidak bisa bersatu tapi saling melengkapi. Novel ini mengisahkan tentang masa indah putih abu-abu, persahabatan, pelajaran kehidupan, dan pentingnya untuk selalu menghargai perasaan.

 

Thank You Salma

Thank You Salma

“Jadi, saya harus bantu gimana, biar ceritanya selesai? Bantu doa aja, gimana, Sayang?”

Aku mendelik ketika dia memanggilku ‘Sayang’. “Ceritain semuanya, aku mau dengar.”

Mendengar dia bercerita adalah salah satu hal yang paling aku sukai di dunia.

“Oke, kamu dengar baik-baik.”

Aku mengangguk, dia mulai membuka suara. Aku tersenyum, ribuan kata seperti berkeliaran dalam kepalaku. Ini awal mula ceritaku dengan Nathan. Sekaligus akhir dari cerita kami.

“Gue bakal berusaha biar gue sama dia terus bisa sama-sama, tapi kalau pun nggak bisa berarti bukan takdirnya. Di dunia ini ada hal yang memang nggak diciptain buat lo, sekeras apa pun lo berusaha.”

Kisah Untuk Geri

Kisah Untuk Geri

Dinda memiliki semua yang diidamkan remaja dalam kehidupannya; tajir, cantik, populer dan dipuja oleh banyak cowok di sekolah hingga akhirnya dia kehilangan semua yang dia miliki dalam waktu secepat kedipan mata. Dinda mencari cara untuk mengembalikan reputasinya, yakni mengikrarkan diri untuk menjadi pacar Geri; si pentolan sekolah yang selalu bertingkah dingin dan mengirim sinyal permusuhan dirinya.

Geri Alfian Putra. Cowok biang rusuh di SMA Garuda yang selalu bisa bersikap manis pada gadis-gadis, kecuali pada satu orang. Itu adalah Dinda, gadis yang sudah melemparkan sinyal permusuhan semenjak kali pertama mereka berjumpa. Dinda Kamalia Putri, si Queen Bee, pemimpin geng The Satan dan banyak dipuja cowok karena kecantikannya. Sampai akhirnya kondisi hidupnya berubah dengan cepat, jatuh dalam sekejap.

 

Written by Dzikri N. Hakim