in ,

Review Buku What My Mother and I Don’t Talk About karya Michele Filgate

What My Mother and I Don’t Talk About – Halo, Grameds! Pernah nggak merasa ada banyak hal yang sebenarnya ingin kita bicarakan dengan ibu, tetapi sulit sekali untuk diungkapkan?

Kalau kamu pernah merasa begitu, maka ini waktu yang pas untuk menyimak artikel ini sampai habis. Karena lewat What My Mother and I Don’t Talk About, Michele Filgate menghadirkan kumpulan esai personal yang membahas hubungan ibu dan anak dari berbagai sudut pandang yang emosional dan realistis.

Buku ini nggak hanya berbicara tentang keluarga, tetapi juga tentang trauma, komunikasi, rasa kecewa, proses memahami orang tua, hingga usaha berdamai dengan masa lalu.

Sebelum memutuskan untuk membaca buku ini, yuk simak dulu review lengkapnya, Grameds!

Sinopsis Buku What My Mother and I Don’t Talk About

button cek gramedia com

Lima belas penulis berbakat membuka tabir hal-hal yang relatif tidak kita bicarakan dengan ibu kita, dan bagaimana hal itu membentuk hidup kita. Saat masih kuliah, Michele Filgate menulis esai tentang pelecehan yang dialaminya dari ayah tirinya. Butuh lebih dari satu dekade baginya untuk menyadari apa yang sebenarnya ingin dia tulis: bagaimana hal itu memengaruhi hubungannya dengan ibunya. Berawal dari esai viral Michele itu, lahirlah buku antologi ini: kumpulan kisah jujur tentang cinta, luka, hening, dan kerinduan yang menyelimuti relasi ibu-anak.

Dari Leslie Jamison yang mencoba memahami sosok ibunya sebelum menjadi seorang ibu, Cathi Hanauer yang akhirnya bisa berbincang dengan ibunya tanpa bayang-bayang ayah yang dominan, hingga André Aciman yang tumbuh bersama ibu yang tuli—masing-masing cerita mengajak kita menengok sisi rapuh sekaligus kuatnya ikatan kita dengan ibu. Seperti kata Filgate, “Ibu adalah rumah pertama kita, dan itulah kenapa kita selalu ingin kembali kepada mereka.”

Membuka suara atas yang tak terucap adalah langkah menuju pemahaman, penyembuhan, dan rekonsiliasi kita dengan orang lain dan—mungkin, yang terpenting—dengan diri kita sendiri.

Tentang Penulis Buku What My Mother and I Don’t Talk About

Michele Filgate adalah seorang penulis, editor, dan pengajar creative nonfiction asal Amerika Serikat yang dikenal lewat karya-karyanya yang emosional dan personal, terutama tentang hubungan keluarga, trauma, serta proses memahami diri sendiri. Ia banyak menulis esai di berbagai media ternama seperti Longreads, The Washington Post, hingga Los Angeles Times.

Nama Michele Filgate mulai dikenal luas setelah esainya yang berjudul What My Mother and I Don’t Talk About terbit pada tahun 2017. Dalam tulisan tersebut, ia membahas pengalaman masa kecilnya yang penuh luka akibat kekerasan dari ayah tirinya dan bagaimana hubungan yang rumit dengan sang ibu membentuk kehidupannya. Esai ini mendapat perhatian besar karena gaya penulisannya yang jujur, emosional, dan dekat dengan realitas banyak orang.

Kesuksesan esai tersebut kemudian berkembang menjadi buku antologi berjudul What My Mother and I Don’t Talk About yang diedit langsung olehnya. Buku ini menghadirkan kumpulan cerita dari berbagai penulis mengenai hubungan ibu dan anak yang kompleks, penuh rahasia, luka, sekaligus kasih sayang.

Selain aktif menulis, Michele Filgate juga dikenal sebagai pengajar penulisan kreatif dan pendiri acara sastra “Red Ink.” Ia menempuh pendidikan MFA di New York University dan sering membahas pentingnya keberanian dalam menulis pengalaman pribadi.

Tema Utama dalam What My Mother and I Don’t Talk About

Tema utama dalam buku What My Mother and I Don’t Talk About adalah tentang hubungan keluarga, terutama hubungan ibu dan anak, yang dipenuhi oleh hal-hal yang sulit diungkapkan.

Buku ini membahas banyak perasaan yang sering dipendam dalam keluarga, seperti trauma, rasa kecewa, kesepian, amarah, hingga keinginan untuk dimengerti. Lewat kumpulan esai personal dari berbagai penulis, pembaca diajak melihat bagaimana diam atau kurangnya komunikasi bisa memengaruhi kehidupan seseorang dalam waktu yang sangat lama.

Selain itu, buku ini juga mengangkat tema tentang luka masa kecil, kesehatan mental, kekerasan dalam keluarga, pencarian identitas diri, dan proses memaafkan. Beberapa penulis mencoba memahami ibu mereka, sementara yang lain masih berusaha menerima kenyataan bahwa hubungan mereka tidak pernah benar-benar baik.

Meski banyak membahas rasa sakit, buku ini juga menunjukkan bahwa setiap hubungan keluarga memiliki sisi rumit yang nggak selalu bisa dijelaskan dengan mudah.

Konsep Motherhood dalam What My Mother and I Don’t Talk About

Buku What My Mother and I Don’t Talk About menghadirkan konsep motherhood atau peran keibuan dengan cara yang lebih realistis dan emosional.

Dalam buku ini, sosok ibu tidak selalu digambarkan sebagai figur yang sempurna, lembut, dan selalu tahu apa yang terbaik untuk anaknya. Justru, para penulis menunjukkan bahwa seorang ibu juga manusia biasa yang punya trauma, ketakutan, rasa kecewa, dan masalah hidupnya sendiri.

Beberapa ibu dalam buku ini terlihat penuh kasih sayang tetapi sulit mengekspresikan perasaan mereka. Ada juga yang terlalu keras, menjaga jarak, bahkan tanpa sadar melukai anaknya lewat sikap diam atau kurangnya komunikasi.

Melalui berbagai cerita personal, buku ini memperlihatkan bahwa motherhood bukan hanya tentang membesarkan anak, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman hidup seorang ibu memengaruhi cara mereka mencintai, mendidik, dan berhubungan dengan anak-anaknya.

Selain itu, buku ini juga menunjukkan bahwa hubungan ibu dan anak sering kali dipenuhi ekspektasi yang rumit. Anak ingin dimengerti oleh ibunya, sementara sang ibu juga membawa beban emosional yang mungkin tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Michele Filgate dan para penulis lainnya mencoba memperlihatkan bahwa menjadi ibu bukanlah hal yang mudah, dan setiap hubungan ibu-anak memiliki luka, cinta, serta keheningan yang berbeda-beda, Grameds.

Proses Berdamai dengan Masa Lalu

Selain membahas rasa sakit dan hubungan keluarga yang rumit, buku ini juga menggambarkan proses seseorang untuk berdamai dengan masa lalunya.

Setiap penulis memiliki perjalanan yang berbeda dalam menghadapi luka mereka. Ada yang mencoba memahami alasan di balik sikap ibunya, ada yang perlahan menerima trauma masa kecilnya, dan ada juga yang masih berusaha melepaskan rasa marah yang selama ini dipendam.

Buku ini memperlihatkan bahwa berdamai dengan masa lalu bukan berarti melupakan semuanya. Kadang seseorang tetap mengingat rasa sakitnya, tetapi mereka belajar untuk tidak terus hidup dalam bayang-bayang luka tersebut.

Kelebihan dan Kekurangan Buku What My Mother and I Don’t Talk About

Pros & Cons

Pros
  • Emosional dan jujur
  • Relatable tentang keluarga
  • Banyak sudut pandang
  • Bahas isu yang mendalam
  • Mudah dipahami
Cons
  • Tema cukup berat
  • Menguras emosi
  • Ritme cerita berbeda-beda
  • Beberapa cerita terlalu personal
  • Cover kurang merepresentasikan isi

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan buku:

Kelebihan Buku What My Mother and I Don’t Talk About

1. Ceritanya Sangat Emosional dan Jujur

Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah cara setiap penulis menceritakan pengalaman hidup mereka dengan sangat jujur dan terbuka.

Banyak cerita yang terasa menyakitkan, penuh luka, tetapi tetap ditulis dengan tulus dan manusiawi.

2. Tema yang Diangkat Sangat Relatable

Buku ini membahas hubungan ibu dan anak, komunikasi dalam keluarga, trauma masa kecil, hingga rasa kesepian yang sering kali dialami banyak orang.

Walaupun pengalaman setiap penulis berbeda, banyak pembaca tetap bisa merasa dekat dengan cerita-cerita di dalamnya karena tema yang diangkat sangat realistis dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

3. Memiliki Banyak Sudut Pandang yang Beragam

Karena ditulis oleh beberapa penulis dengan latar belakang berbeda, buku ini menghadirkan banyak perspektif tentang hubungan keluarga. Ada yang memiliki hubungan dekat dengan ibunya tetapi sulit terbuka, ada yang penuh konflik, dan ada juga yang mencoba memahami ibunya setelah bertahun-tahun menyimpan luka.

4. Mengangkat Isu Keluarga dan Mental Health Secara Mendalam

Buku ini tidak hanya membahas hubungan ibu dan anak secara umum, tetapi juga mengangkat isu yang lebih dalam seperti kekerasan dalam keluarga, pelecehan, gangguan kesehatan mental, toxic family, hingga trauma yang diwariskan dari generasi ke generasi.

5. Gaya Penulisannya Mudah Dipahami

Walaupun membahas topik yang cukup berat, gaya penulisan dalam buku ini tetap terasa nyaman dibaca. Setiap esai ditulis dengan bahasa yang sederhana tetapi penuh makna sehingga pembaca nggak akan merasa terlalu kesulitan mengikuti cerita dan emosi yang disampaikan.

6. Membuat Pembaca Ikut Merefleksikan Hubungan Keluarga

Banyak bagian dalam buku ini yang membuat pembaca tanpa sadar memikirkan kembali hubungan mereka sendiri dengan ibu atau keluarga.

Buku ini seperti mengajak pembaca memahami bahwa setiap keluarga memiliki masalah, rahasia, dan luka yang kadang sulit dibicarakan secara langsung.

Kekurangan Buku What My Mother and I Don’t Talk About

1. Tema Cerita Cukup Berat dan Emosional

Sebagian besar esai dalam buku ini membahas trauma keluarga, kekerasan, pelecehan, kesehatan mental, dan hubungan yang rumit antara ibu dan anak. Karena itu, suasana buku terasa cukup emosional dan kadang menguras perasaan.

2. Alur Membaca Terasa Naik Turun

Karena berupa kumpulan esai dari banyak penulis, gaya penulisan dan suasana cerita dalam setiap bagian terasa berbeda-beda. Ada esai yang sangat emosional, ada yang lebih reflektif, dan ada yang terasa lebih ringan. Perubahan suasana ini kadang membuat ritme membaca terasa tidak konsisten.

3. Membutuhkan Jeda saat Membaca

Setiap esai memiliki cerita dan emosi yang cukup mendalam sehingga pembaca biasanya membutuhkan waktu untuk mencerna isi ceritanya terlebih dahulu sebelum lanjut ke esai berikutnya.

Jika dibaca sekaligus dalam waktu singkat, buku ini bisa terasa cukup melelahkan secara emosional.

4. Beberapa Cerita Terasa Terlalu Personal

Karena semua tulisan berasal dari pengalaman pribadi para penulis, ada beberapa bagian yang mungkin terasa sangat spesifik dan sulit dipahami sepenuhnya oleh pembaca yang tidak memiliki pengalaman serupa. Hal ini membuat tingkat keterhubungan setiap orang terhadap cerita bisa berbeda-beda.

5. Cover Buku Kurang Menggambarkan Isi Cerita

Desain cover buku ini terlihat cukup sederhana dan ringan. Sekilas, tampilannya seperti buku bertema santai atau chick-lit biasa. Padahal, isi buku sebenarnya sangat emosional, mendalam, dan membahas banyak isu keluarga yang cukup berat.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, What My Mother and I Don’t Talk About adalah kumpulan esai yang emosional, jujur, dan penuh refleksi tentang hubungan ibu dan anak. Melalui berbagai cerita personal dari banyak penulis, buku ini menunjukkan bahwa hubungan keluarga nggak selalu berjalan sempurna.

Michele Filgate berhasil menghadirkan buku yang bukan hanya menyentuh secara emosional, tetapi juga membuat pembaca ikut merefleksikan hubungan mereka sendiri dengan keluarga. Meski beberapa cerita terasa cukup berat dan menguras emosi, buku ini tetap menarik untuk dibaca karena tema yang diangkat sangat realistis dan relatable.

 

Penulis: Yulian Dwi Nugroho

 

Rekomendasi Buku Terkait

  1. Forever Monday

Forever Monday

button cek gramedia com

Ingga akhirnya mendapatkan hari Senin sebagai hari spesial untuk menjadi pacar Eras, seorang playboy yang memiliki banyak pacar dan membagi satu perempuan untuk setiap hari dalam seminggu. Meski hubungan itu terasa aneh, Ingga tetap menjalaninya karena ia mencintai Eras.

Kehidupan Ingga mulai berubah saat ia bertemu Kale, pria tampan lain yang juga dikenal sebagai playboy. Kale membawa warna baru dalam hidup Ingga yang sebelumnya terasa suram. Ia mengajarkan Ingga cara bersenang-senang, menikmati hidup, dan belajar mencintai dirinya sendiri. Kehadiran Kale membuat hati Ingga goyah, tetapi Ingga tetap sulit melepaskan Eras.

Di tengah hubungan rumit itu, terungkap bahwa Eras dan Kale pernah bersahabat dekat, namun kini terpisah oleh dendam lama yang berpotensi menghancurkan hidup mereka semua.

 

  1. Harapan Dari Tempat Paling Jauh

Harapan dari Tempat Paling Jauh

button cek gramedia com

Vanka menjalani hidupnya hanya demi sang ibu. Ia berusaha keras menjadi murid berprestasi dan fokus pada pendidikan agar ibunya mau menerima keberadaannya sebagai anak di luar nikah. Karena ambisi itu, Vanka tumbuh menjadi sosok penyendiri di sekolah.

Dalam perjalanannya, ia harus berurusan dengan Oliver, siswa terkenal yang terlihat angkuh tetapi sebenarnya menyimpan banyak ketakutan. Di sisi lain, Oliver juga hidup demi kakeknya. Ia menjadi aktor terkenal dan berusaha terlihat normal demi menyenangkan sang kakek. Pertemuan Vanka dan Oliver diawali dengan rasa benci dan dendam, tetapi seiring waktu hubungan mereka berubah menjadi persahabatan. Mereka saling bergantung dan bersama-sama mencari harapan untuk bertahan dari luka dan gelapnya kehidupan masing-masing.

 

  1. Represi

Represi

button cek gramedia com

Pada awalnya, hidup Anna tampak berjalan normal. Ia memang tidak terlalu dekat dengan ayahnya, tetapi masih memiliki ibu yang peduli serta sahabat-sahabat setia yang selalu menemani sejak masa SMA. Sahabat-sahabatnya mengenal Anna dengan baik dan selalu ada untuknya. Namun, perlahan keadaan mulai berubah.

Anna mulai menjauh dari teman-temannya tanpa alasan jelas. Hubungannya dengan sang ibu juga semakin buruk. Sosok Anna yang dulu dikenal ceria dan dekat dengan orang-orang terdekatnya berubah menjadi pribadi yang asing. Tidak ada yang benar-benar mengetahui luka dan beban yang ia simpan selama ini.

Hingga pada akhirnya, Anna memutuskan mengakhiri hidupnya, meninggalkan pertanyaan besar dan kenyataan pahit bahwa ia selama ini memendam banyak penderitaan sendirian.

Written by Dzikri N. Hakim