Harimau-Harimau – Novel Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis berhasil meraih Penghargaan Sastra Tingkat Nasional dari Yayasan Buku Utama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai karya sastra terbaik pada tahun 1975.
Hingga kini, novel ini masih dikenal sebagai salah satu karya sastra Indonesia yang terus dibaca lintas generasi.
Ceritanya mengikuti perjalanan tujuh orang pencari damar yang terjebak di tengah rimba dengan ancaman seekor harimau lapar yang terus mengintai. Hari demi hari, mereka berusaha bertahan hidup. Namun, teror yang semakin dekat membuat satu per satu anggota kelompok menjadi korban keganasan sang harimau.
Di balik kisah bertahan hidup tersebut, Harimau-Harimau juga mengajak pembaca menyelami pergulatan batin setiap tokohnya. Rasa takut, penyesalan, keserakahan, hingga konflik moral perlahan muncul ketika mereka berada dalam situasi yang mengancam nyawa. Lewat perjalanan itu, Mochtar Lubis menghadirkan cerita yang mengajak pembaca merenungkan sisi kemanusiaan sekaligus mengenal berbagai karakter manusia saat dihadapkan pada tekanan.
Sejak pertama kali diterbitkan oleh Pustaka Jaya pada tahun 1975, novel ini terus mendapat perhatian dari pembaca maupun pengamat sastra. Popularitasnya bahkan melampaui Indonesia setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Jepang.
Kini, Harimau-Harimau kembali hadir melalui edisi Yayasan Pustaka Obor Indonesia yang terbit pada 10 Februari 2018, sehingga pembaca masa kini masih dapat menikmati kisah klasik yang tetap relevan hingga sekarang.
Table of Contents
Profil Mochtar Lubis – Penulis Buku Harimau-Harimau
Mochtar Lubis merupakan seorang penulis yang lahir di Padang pada 7 Maret 1922. Ia menempuh pendidikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera, kemudian mengikuti program Jefferson Fellowship East and West Center di Universitas Hawai.
Dalam dunia jurnalistik, ia dikenal sebagai penerbit sekaligus Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya di Jakarta. Sepanjang kariernya, ia menerima berbagai penghargaan bergengsi, di antaranya Magsaysay Award untuk bidang jurnalistik dan kesusasteraan, Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers, penghargaan sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional, penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia, serta penghargaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1975 atas novel Harimau-Harimau. Ia juga memperoleh penghargaan sastra dari Yayasan Jaya Raya untuk novel Maut dan Cinta pada periode 1977 sampai 1978.
Selain Harimau-Harimau, Mochtar Lubis menghasilkan berbagai karya penting seperti Senja di Jakarta, Jalan Tak Ada Ujung yang telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, serta Etika Pegawai Negeri yang ditulis bersama James Scott. Ia juga menerbitkan buku mengenai jurnalistik, bacaan anak, dan sejumlah karya pemikiran seperti Manusia Indonesia serta Bangsa Indonesia.
Kiprahnya turut terlihat melalui keterlibatan dalam berbagai lembaga, antara lain sebagai Pimpinan Umum majalah Horison, editor majalah Media yang diterbitkan di Hongkong oleh Press Foundation of Asia, anggota Board of the International Association for Cultural Freedom, serta anggota Board of the International Press Institute di Zurich.
Di luar dunia sastra dan jurnalistik, Mochtar Lubis memiliki perhatian besar terhadap isu lingkungan hidup dan ekologi. Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah menjalani masa tahanan selama sembilan tahun pada periode 1956 hingga 1965 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Setelah peristiwa Malari pada tahun 1974, ia kembali ditahan selama dua bulan bersamaan dengan pembredelan Harian Indonesia Raya. Selain itu, ia juga pernah menjabat sebagai Direktur Yayasan Obor Indonesia.
Sinopsis Buku Harimau-Harimau
Selama satu minggu, tujuh orang pencari damar menjelajahi hutan di sekitar pondok Wak Hitam untuk mengumpulkan getah damar. Mereka adalah Haji Rakhmat atau Pak Haji, Wak Katok, Sutan, Talib, Sanip, Buyung, dan Pak Balam.
Di kampung, ketujuhnya dikenal sebagai sosok yang ramah, gemar bergotong royong, mudah bergaul, dan taat menjalankan ajaran agama. Namun, perjalanan yang awalnya berlangsung seperti biasa berubah menjadi mimpi buruk ketika seekor harimau mulai memburu mereka tanpa henti.
Terjebak di tengah rimba, mereka harus berjuang mempertahankan hidup sambil mencari jalan keluar dari ancaman yang terus mengintai. Dalam situasi yang penuh tekanan, rasa takut, penyesalan, hingga rahasia yang selama ini tersembunyi perlahan mulai terungkap.
Dari sanalah mereka menyadari bahwa musuh terbesar yang harus dihadapi bukan hanya harimau di hadapan mereka, tetapi juga sisi gelap yang tersimpan dalam hati masing-masing.
Kelebihan dan Kekurangan Buku Harimau-Harimau
Kelebihan Buku Harimau-Harimau
Buku Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis merupakan novel klasik asal Indonesia yang sudah mendunia dan masih bertahan sejak 5 dekade diterbitkannya.
- Premis cerita yang menarik
Novel ini menghadirkan premis yang menegangkan dengan nuansa thriller psikologis. Kisah sekelompok pencari damar yang terjebak di hutan dan diburu seekor harimau berhasil menciptakan ketegangan yang terus terasa sepanjang cerita.
- Kisah yang bikin penasaran
Dialog dalam novel disusun dengan bahasa yang indah, mengandung sindiran halus, namun tetap mudah dipahami. Alur cerita berjalan dengan ritme yang konsisten sehingga mampu membuat pembaca terus ingin mengetahui akhir kisahnya.
- Dekat dengan realitas kehidupan
Konflik yang diangkat berkaitan dengan cara pandang masyarakat terhadap musibah, dosa, dan hukuman. Melalui tema tersebut, novel ini menyampaikan kritik sosial yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia hingga saat ini.
- Banyak perumpamaan bagus
Novel ini dipenuhi berbagai perumpamaan mengenai kemanusiaan, keimanan, serta sifat dasar manusia. Penyampaiannya yang lugas melalui sudut pandang orang ketiga membuat pesan moral di dalamnya mudah dipahami oleh pembaca.
- Memberikan pelajaran hidup
Selain menghadirkan kisah bertahan hidup, novel ini juga mengajak pembaca untuk mengenali diri sendiri. Harimau dalam cerita tidak hanya menjadi ancaman nyata, tetapi juga melambangkan hawa nafsu, rasa bersalah, dan sisi gelap yang dimiliki setiap manusia.
Kekurangan Buku Harimau-Harimau
Meskipun Buku Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis menawarkan banyak kelebihan, buku ini tetap tidak luput dari kekurangan yang bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca.
- Latar cerita terasa klasik
Latar dan suasana yang menggambarkan kehidupan pada masa lampau mungkin terasa kurang dekat dengan pembaca modern sehingga membutuhkan sedikit penyesuaian saat mengikuti ceritanya.
- Tempo cerita cenderung lambat
Bagi pembaca yang lebih menyukai alur cepat, perkembangan cerita dalam novel ini mungkin terasa berjalan perlahan pada beberapa bagian.
- Adegan eksplisit
Novel ini mengandung beberapa adegan yang bersifat eksplisit sehingga pembaca diharapkan dapat membacanya dengan kebijaksanaan dan mempertimbangkan usia yang sesuai.
Contoh-Contoh Nyata Kondisi Psikologis Harimau-Harimau
Kondisi psikologis, sosial, dan fisik yang digambarkan dalam novel Harimau Harimau masih memiliki keterkaitan yang kuat dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Melalui konflik antara manusia dan alam berupa teror seekor harimau, Mochtar Lubis menggambarkan bagaimana tekanan mampu membuka sisi asli manusia, mulai dari rasa takut, kemunafikan, hingga rapuhnya kepemimpinan.
Berikut beberapa contoh yang menunjukkan bahwa pesan dalam novel ini tetap relevan di era modern.
- Ancaman Fisik: Eskalasi Konflik Manusia vs Harimau
Dalam novel, para pencari damar harus menghadapi ancaman harimau setelah memasuki kawasan hutan. Pada masa sekarang, konflik tersebut masih sering terjadi, bahkan semakin meningkat akibat kerusakan habitat harimau yang dipicu oleh deforestasi dan pembukaan lahan.
Contoh nyata: Berbagai laporan menunjukkan masih banyak konflik antara manusia dan harimau Sumatera. Di Kabupaten Siak, Riau, seekor harimau sempat terekam kamera pengawas memasuki pemukiman warga dan memangsa hewan ternak sehingga masyarakat merasa takut beraktivitas pada malam hari.
Kejadian serupa juga terjadi di Solok, Sumatra Barat, serta kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan di Lampung. Suasana mencekam yang dirasakan masyarakat saat ini menggambarkan ketakutan yang hampir sama dengan yang dialami para tokoh dalam novel.
- Sisi Psikologis: Topeng Kepemimpinan Palsu (Sindrom “Wak Katok”)
Tokoh Wak Katok digambarkan sebagai sosok yang disegani karena dianggap bijaksana, religius, dan memiliki kesaktian. Namun ketika ancaman datang, semua citra tersebut runtuh dan ia lebih mengutamakan keselamatan dirinya sendiri dibanding orang lain.
Contoh nyata: Fenomena serupa masih dapat ditemukan pada kehidupan modern. Tidak sedikit tokoh masyarakat, pemimpin organisasi, maupun figur publik yang tampil meyakinkan ketika keadaan berjalan normal. Akan tetapi, saat menghadapi krisis, sebagian dari mereka justru menghindari tanggung jawab, menyalahkan orang lain, atau berusaha mempertahankan kepentingan pribadi demi menjaga posisi yang dimiliki.
- Krisis Moral: Mengkambinghitamkan Orang Lain saat Terdesak
Dalam novel, rasa takut membuat para pencari damar kehilangan kepercayaan satu sama lain. Mereka mulai saling mencurigai, mengungkit kesalahan masa lalu, dan mencari pihak yang dapat disalahkan atas musibah yang mereka alami.
Contoh nyata: Kondisi seperti ini juga sering terlihat dalam kehidupan sehari hari, baik di lingkungan kerja maupun di media sosial. Ketika terjadi kegagalan atau masalah bersama, sebagian orang lebih memilih menyalahkan pihak lain daripada bekerja sama mencari solusi. Ketakutan kehilangan jabatan, pekerjaan, atau pengakuan sering kali memunculkan sifat egois yang merugikan orang lain.
Pesan utama dalam novel ini tetap relevan hingga sekarang, yaitu bahwa musuh terbesar manusia bukan hanya ancaman dari luar, melainkan juga sifat buruk yang tersimpan di dalam dirinya sendiri. Walaupun kehidupan modern telah jauh berbeda, tantangan untuk mengendalikan ego, rasa takut, dan kemunafikan masih menjadi persoalan yang terus dihadapi setiap orang.
Penutup
Melalui kisah yang penuh ketegangan novel, Harimau Harimau akan mengajak Grameds untuk menelusuri sisi terdalam dari hati setiap tokohnya. Rasa bersalah, dosa masa lalu, ketakutan, dan kepura-puraan perlahan terungkap ketika ancaman semakin dekat. Harimau pun menjadi lambang dari sisi gelap yang tersembunyi dalam diri manusia. Inilah yang membuat novel ini tetap menarik untuk dibaca, karena setiap halamannya penuh dengan petualangan yang menegangkan.
Buku Harimau-Harimau karya Mochtar Lubis ini bisa kamu dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung kamu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.
Penulis: Gabriel
Rekomendasi Buku
Bacaan Bumi
Ilmuwan berkata, krisis ekologis menuntut perubahan besar dalam kehidupan kita semua. Tetapi bagaimana? Apakah tidak mengkhawatirkan? Buku ini berangkat dari keyakinan bahwa yang kita hadapi adalah krisis manusiawi, bukan masalah teknis. Dan bahwa manusia mampu menyusun kehidupan baru yang malah membawa kebahagiaan. Ke-17 pengarang di sini terinspirasi ilmu baru: humaniora lingkungan hidup (environmental humanities). Pendekatannya sederhana: bertanya, dan bertanya terus. Tidak ada pertanyaan yang terlalu aneh, terlalu berani, apalagi terlalu radikal!
Mamak Pulang
Pelajaran berharga dari Mamak yang paling melekat dalam hidup saya adalah nilai-nilai sederhana yang ternyata merupakan kompas moral sepanjang perjalanan hidup ini. Mamak selalu berpesan, jangan serakah. Dalam hidup ini katanya, yang terpenting bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki. Pesan itu terdengar sederhana, namun justru di situlah letak kebijaksanaannya. Mamak juga selalu menekankan untuk tidak pernah menyerah, apalagi putus asa. Ia percaya bahwa setiap kesulitan datang membawa pelajaran. Kalau jatuh, bangkitlah lagi, ”Never Say Die” katanya, Kalimat itu begitu sering saya dengar hingga melekat di hati, menjadi pegangan di saat-saat paling sulit dalam hidup.
Sisi Tergelap Surga
Jakarta kerap menjadi pelabuhan bagi mereka yang datang membawa sekoper harapan. Mereka yang siap bertaruh dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, kota ini selalu mampu melumat habis harapan dan menukarnya dengan keputusasaan. Pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan, pemimpin-pemimpin kecil yang culas, lelaki tua di balik kostum badut ayam, pencuri motor yang ingin membeli obat untuk ibunya, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal setelah terpaksa merelakan impiannya habis digerus kejinya ibu kota. Di Jakarta, semua orang dipaksa bergelut dan bertempur demi bisa hidup dari hari ke hari. Dan di kampung inilah semua itu dimulai. Sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang yang hidup di sisi tergelap surga kota bernama Jakarta…
- 7 Sayap Kehidupan
- 7 Sayap Pendosa
- A Venom Dark and Sweet
- Anggur Kemurkaan
- Apa Itu Ramadan
- Apartemen Sebelas
- Bersahabat dengan Alien
- Cassettes Rewind
- Contagious
- Di Seberang Rumah
- Di Tepi Sejarah
- Di Waktu Duha
- Enola Holmes dan Ekskursi Elegan
- Gimana Kalau Dia Bukan Orangnya
- Goodbye Daniel
- Harimau Harimau
- Hijab for Sisters
- Hukum Tata Negara
- Kandidat Terlarang
- Kasus-kasus 7 Sayap Pendosa
- Kenang-kenanganku di Malaya
- Kisah-kisah Tengah Malam (Tales of Mystery and Terror)
- Kresek Hitam
- Kronik Kematian
- Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica
- Kumpulan Cerita Bersahabat dengan Alien
- La Tahzan Alina
- Lakon
- Langit Madinah
- Limited Time
- Lotus Taxi
- Mamak Pulang
- Makhluk Tuhan Paling Sensi
- Maya
- Muhibah Cinta di Selat Malaka
- Niken Saya Bukan Dokter
- Orang-Orang Hilang di Kyushu
- Pata
- Perhatikan Celah Peron
- Profit Konsisten dengan Market Structure
- Project Hail Mary
- Putih: Girl in The Dark
- Sang Dewi Api R.F. Kuang
- Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan
- Semilir
- Seri Melindungi Bumi - Bebas Sampah
- Tekad
- The Alley of Fantasy Bookshops
- The Black Lizard
- The Book You Wish Your Parents Had Read
- The Escape Room
- The Glory Story of Two Umars
- The Shadow of Sakura
- The Vampire Lords Greatest Wife
- Tujuh Kelana
- Watersongs
- What My Mother and I Don’t Talk About
- Your Story





