in

Yuk Kenali Jenis-Jenis Burung yang Hidup di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang besar dengan keanekaragaman hayati, mulai dari flora sampai dengan fauna yang tersebar hampir di seluruh wilayah. Jutaan fauna dapat kamu temui di sekitarmu salah satunya adalah burung, hewan yang populasinya termasuk tinggi.

Jumlah burung di seluruh dunia tercatat kurang lebih ada 50 miliar ekor walaupun jumlah pastinya tidak diketahui karena sulit untuk menghitungnya secara akurat. Beberapa negara yang memiliki spesies burung terbanyak ada dari kawasan Amerika Selatan seperti Brasil, Bolivia, Ekuador, Peru, hingga Kolombia.

Kita patut berbangga karena Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah jenis burung terbanyak di dunia yaitu dengan total 1.720 ekor spesies.

Bagi kamu yang berniat memelihara, ada banyak jenis burung yang dapat kamu jadikan pilihan untuk menghiasi rumah. Beberapa alasan mengapa orang ingin memelihara burung diantaranya karena bentuknya yang cantik dan mampu mengeluarkan suara yang merdu untuk didengarkan.

Bukan hanya sekedar hobi, kamu bisa mendapatkan pundi-pundi keuntungan karena beberapa sering diperlombakan hingga ke tingkat nasional. Namun, tidak semua burung dapat dipelihara karena jumlahnya di alam sudah sangat sedikit dan oleh pemerintah beberapa diantaranya dilindungi.

Berikut ini beberapa jenis burung yang dikembangbiakan di Indonesia dengan ciri khas dan keunikan tersendiri, beberapa diantaranya termasuk yang hampir punah.

1. Burung Elang Jawa

Burung yang bernama latin spizaetus bartelsi merupakan burung yang termasuk ke dalam jenis burung elang dengan ukuran panjang tubuh mencapai 60 cm. Secara fisik, Elang Jawa berbadan tegap dan bulunya lebat dengan warna coklat menghiasi sepanjang tubuhnya namun sisi kepalanya dihiasi warna merah.

Hal yang membuat burung ini menjadi indah karena mempunyai jambul yang panjangnya mencapai 12 cm di atas kepalanya. Sayapnya mampu membentang dengan lebar mencapai 110-130 cm dan memiliki suara yang tinggi dan sangat nyaring.

Namun, hewan ini keberadaannya terancam karena banyaknya perburuan liar dan diperdagangkan oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab yang memicu jumlahnya kian menipis. Selain itu, Elang Jawa hanya mampu bertelur dalam kurun waktu dua tahun sekali yang membuatnya sulit untuk dikembangbiakan dalam jangka pendek.

Sekarang burung ini sudah sangat langka dan sangat dilindungi pemerintah sehingga hanya boleh dipelihara di hutan konservasi atau hutan lindung. Tujuannya agar dapat berkembang biak secara alami sesuai dengan habitat aslinya dan tidak disalahgunakan untuk perdagangan gelap. Tercatat sampai sekarang jumlah Elang Jawa yang masih tersisa di Indonesia hanya ada 200 ekor saja.

Habitat utamanya ada di hutan daerah pegunungan, dataran tinggi, atau perbukitan yang memiliki ketinggian 3.000 meter di atas permukaan laut. Burung ini merupakan predator untuk hewan lain seperti tupai, musang, anak monyet, dan beberapa reptil seperti bunglon, ular, hingga kadal.

Ia mengintai mangsanya dengan cara bertengger di pohon yang tinggi, dengan begitu ia dapat menjelajah daerah sekitarnya sampai menemukan buruannya.

Alasan burung Elang Jawa di masukan pada urutan pertama karena burung ini merupakan lambang negara, tepatnya pada tahun 1950 ketika dilakukan sayembara pemilihan lambang negara. Ketika itu Sultan Hamid II mengusungkan burung garuda, usulan tersebut diterima tetapi menemui beberapa perubahan.

banner-promo-gramedia

Ir. Soekarno selaku presiden ketika itu memberi masukan untuk menambahkan jambul di kepala burung tersebut yang identik dengan Elang Jawa. Hal itu lantaran lambang negara Indonesia sekilas mirip dengan lambang negara Amerika Serikat yaitu burung Bald Eagle. Maka untuk membedakannya perlu tambahan jambul di bagian kepala.

2. Burung Cendrawasih

Burung Cendrawasih memiliki julukan “Bird of Paradise”, yang berarti burung dari surga. Bukan tanpa alasan julukan ini diberikan, sebab keindahannya memang tidak bisa dipungkiri seperti turun dari surga. Burung ini termasuk hewan endemik dari Indonesia karena asli dari pulau Papua dan oleh masyarakat sekitar, Cendrawasih dianggap sebagai titisan dari surga.

Anggapan ini tidak berlebihan karena kecantikannya dapat memukau mata dengan perpaduan warna kuning, merah, coklat, hitam, biru, hijau, pada bulunya. Panjang tubuhnya bervariasi, dapat mencapai ukuran 15-110 cm dan beratnya mencapai 50-430 gram tergantung jenisnya.

Habitatnya berada di daerah dataran rendah dan banyak dijumpai di daerah Indonesia Timur seperti di Papua dan Maluku. Persebarannya bahkan sampai ke luar negeri seperti Australia bagian timur hingga Papua Nugini.

Burung ini senang bertengger di cabang pohon yang tinggi seperti pohon beringin dan menjadikannya tempat untuk berlindung dan bersarang. Makanan utamanya adalah biji-bijian, buah-buahan, dan beberapa hewan kecil seperti ulat dan serangga-serangga tertentu.

Keberadaan hidup Cendrawasih bergantung pada kondisi alam, membuatnya rentan akan kepunahan hingga membuatnya termasuk hewan yang terancam punah akibat perubahan alam.

Dari sekian banyak jenis, burung Cendrawasih Kuning Besar yang bernama latin Paradisaea Apoda adalah yang paling terkenal. Pada zaman dahulu, burung ini diburu untuk diambil bulunya sebagai hiasan topi wanita bagi negara-negara Eropa dan beberapa bagian tubuhnya dijadikan sebagai hiasan.

Selain itu, oleh beberapa suku pedalaman bulunya digunakan sebagai hiasan kepala untuk menyambut tamu, upacara adat, hingga acara pernikahan. Akan tetapi untuk melindungi dari kepunahan, Cendrawasih dijadikan sebagai maskot kebanggan bagi masyarakat Papua dan sangat dilindungi oleh pemerintah.

3. Burung Jalak Bali

Sesuai dengan namanya, burung ini merupakan hewan asli dari Pulau Dewata. Oleh pemerintah, burung ini dijadikan sebagai maskot Pulau Bali dari tahun 1991 dan termasuk satwa endemik nusantara. Jalak Bali memiliki nama latin Leucopsar Rothschildi dengan keindahannya terletak pada bulu-bulunya yang berwarna putih bersih menawan.

Burung yang sering disebut sebagai Curik Bali ini dapat tumbuh dengan panjang mencapai 25 cm dan beratnya mencapai 100 gram. Kecantikannya selain dari bulu, juga karena pelupuk matanya berwarna biru tua yang membuatnya termasuk salah satu satwa tercantik di Indonesia.

Burung ini dapat ditemukan pada kawasan dataran rendah seperti hutan mangrove, hutan rawa, hingga padang savana. Telur Jalak Bali termasuk unik karena merupakan perpaduan dari hijau dan biru dengan ukuran diameternya hanya sekitar kurang lebih 3 cm.

Jalak Bali merupakan burung pemakan segala jenis makanan, tidak mempunyai makanan khusus seperti jenis burung lainnya. Untuk membedakan antara yang jantan dan betina cukup mudah untuk diidentifikasi mulai dari ukuran tubuh dan bagian tertentu. Jalak Bali jantan memiliki tubuh yang lebih besar dan memiliki jambul yang lebih panjang daripada betina.

Jalak Bali memiliki kicauan yang merdu sehingga ia sangat diminati oleh banyak orang termasuk pada turis yang berkunjung ke Bali. Tetapi saat ini populasinya di alam bebas terancam dan termasuk kategori hewan yang hampir punah.

Habitat alaminya sering terganggu karena keberadaan manusia sebab burung ini membuat sarangnya di tempat yang terbuka dan sering diburu karena nilai jualnya yang sangat tinggi. Saat ini Jalak Bali hanya dapat ditemukan di Taman Nasional Bali Barat dan jumlahnya hanya tersisa beberapa ekor saja. Oleh sebab itu, pemerintah melindungi hewan ini dari segala macam kegiatan eksploitasi demi menjaga eksistensinya.

4. Burung Murai Batu

Burung ini memiliki nama latin yaitu Copsychus Malabaricus dengan nama lain Kucica Hutan. Ciri khas burung ini ada pada kicauannya yang sangat merdu untuk didengarkan. Namun dibalik itu semua, burung ini tidak bisa dianggap remeh karena jiwa petarungnya yang tinggi terutama dalam mempertahankan teritori wilayahnya.

Ketika mendengar kicauan dari burung lain, ia akan langsung mendatanginya untuk bertempur dengan cara membusungkan dadanya sehingga terlihat gagah di hadapan musuhnya. Walau terlihat garang, burung ini termasuk yang mudah untuk dijinakan dan penurut yang membuatnya banyak diburu orang untuk dipelihara. Bulu burung ini terdiri atas tiga warna dengan dominasi warna hitam dan umumnya dipadukan dengan warna merah dan jingga.

Murai batu banyak ditemui di Pulau Sumatera dan beberapa daerah Jawa sampai Kalimantan bagian utara namun jumlahnya tidak sebanyak di Sumatera. Bahkan untuk menemukannya di Pulau Jawa termasuk sulit dan terbatas, hanya di daerah Taman Nasional Meru Betiri dan Taman Nasional Ujung Kulon yang mengembangbiakannya.

banner-promo-gramedia

Burung ini hidup di daerah hutan sekunder dengan ciri-ciri fisik yang berbeda dari tiap jenisnya. Untuk ukuran tubuhnya bervariasi dan yang paling unik adalah ekornya yang terbilang panjang untuk ukuran burung yang badannya tidak terlalu besar. Murai Batu Medan merupakan jenis burung Murai Batu yang memiliki panjang ekor mencapai 27-30 cm.

Keindahan kicauannya membuat burung ini mendapatkan penghargaan dari The Best Songbird pada tahun 1947. Akan tetapi, dibalik kicauannya tersebut membuat Murai Batu banyak diburu oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang membuat habitat alaminya terancam rusak.

Hal ini lantaran nilai jualnya cukup fantastis mencapai puluhan juta rupiah untuk jenis tertentu. Beruntung beberapa penangkar berusaha untuk menjaga keberadaannya tetap seimbang dengan cara mengembangbiakannya di daerah tertentu yang jauh dari pemburu liar.

Di Indonesia, burung ini menjadi favorit untuk dipelihara karena suaranya yang merdu dan sering diadakan beberapa kontes perlombaan burung Murai Batu.

5. Burung Lovebird

Jenis burung ini merupakan yang populer dan menjadi tren oleh para kalangan pecinta burung, sebab banyak keunikan yang dimilikinya. Lovebird merupakan burung yang termasuk ke dalam spesies beo. Postur tubuhnya tergolong mungil, dihiasi oleh bulu yang beraneka warna dengan suara yang tidak kalah merdu dibandingkan dengan yang lainnya.

Tubuhnya dapat tumbuh mencapai tinggi antara 13-17 cm, berat tubuhnya mencapai 40-60 gram, dan ekornya pendek ditambah ukuran paruh yang besar. Persebarannya di dunia mencapai 9 spesies yang terdapat di benua Afrika dan harganya terbilang cukup mahal.

Hidup lovebird di alam bebas dilakukan dengan cara berkelompok. Tempat meletakkan sarang dan telur-telur umumnya memanfaatkan lubang pada pohon yang aman dari berbagai ancaman hewan disekitarnya.

Meski begitu, lovebird bukanlah hewan yang menetap di satu tempat karena sifat hidupnya yang suka berpindah-pindah untuk mencari tempat yang menyediakan sumber air. Sumber makanan penunjang hidupnya tidak sulit untuk ditemukan dimana biji-bijian, sayur-sayuran, dan beras merupakan makanannya.

Fakta seputar lovebird adalah burung ini merupakan hewan yang sangat setia, dimana ketika menemukan pasangannya ia akan setia sampai mati. Panjang usia hidupnya hingga 15 tahun sehingga membuat lovebird sangat menjunjung tinggi perasaan cinta dengan pasangannya.

Selain itu, burung ini tidak bisa menirukan suara manusia meskipun ia termasuk ke dalam kelompok burung beo karena intensitas bicaranya tidak sesering burung beo.

Bagi kamu yang tertarik dengan si mungil ini, tidak harus memelihara burung ini sepasang dalam satu kandang karena ia bisa hidup tanpa pasangan. Lovebird tidak akan mati walau hidup tanpa pasangan.

Lovebird juga termasuk burung yang jinak dan memiliki tingkat adaptasi dengan manusia yang lumayan tinggi yang membuatnya cocok untuk dipelihara. Karena memiliki jiwa sosial yang tinggi, maka sangat disarankan bagi yang memeliharanya untuk sering mengajaknya berinteraksi.

6. Burung Kolibri

banner-promo-gramedia

Jika pada sebelumnya kita mengenal lovebird sebagai burung yang mungil, nyatanya ia bukanlah burung yang terkecil. Status burung terkecil di dunia disandang oleh burung kolibri. Bagaimana tidak, panjang tubuh kolibri dewasa hanya sekitar 5,7 cm atau sama panjangnya dengan jari kelingking tangan manusia.

Sedangkan berat tubuhnya kurang lebih hanya 1,6 gram, sangat ringan bahkan lebih berat uang logam pecahan 1.000 rupiah. Warna tubuhnya bisa terdiri atas beragam warna tergantung dari spesiesnya.

Secara umum, kolibri hidup tersebar di seluruh wilayah di belahan dunia termasuk Indonesia. Spesies Kolibri yang paling sering dijumpai adalah Kolibri Ninja atau yang bernama latin Leptocoma Sperata.

Lingkungan hidupnya khususnya di Pulau Jawa dapat ditemui pada wilayah pinggir hutan yang tingginya tidak lebih dari 200 meter di atas permukaan laut. Ketika berada di alam liar, burung ini mampu terbang dengan kecepatan 100 km per jam, hal ini ditunjang dari kepakan sayapnya yang cepat. Dalam satu detik, kolibri mampu mengepakan sayapnya sebanyak 90 kali kepakan sampai mengeluarkan suara mirip nyamuk.

Fakta unik yang tersimpan bahwa kolibri merupakan satu-satunya burung di dunia yang dapat terbang mundur. Ia terbang mundur dengan memanfaatkan kecepatan kepakan sayapnya setelah menghisap madu dari bunga sebagai sumber makanannya.

Kicau mania yang tertarik menjadikannya sebagai koleksi burung peliharaan, harus siap merawatnya dengan baik. Sebab Kolibri yang dirawat dengan baik bisa dijual dengan harga mencapai jutaan rupiah.

7. Burung Kacer

Jenis burung yang terakhir adalah burung kacer. Burung yang bernama latin Copsychus Saularis ini cukup banyak peminatnya di Indonesia karena memiliki kicauan yang sangat nyaring dan sangat khas.

Untuk membedakan kacer jantan dan kacer betina cukup mudah dimana tampilan fisik keduanya terlihat berbeda. Kepala kacer jantan berwarna hitam mengkilat dengan warna putih pada bagian sayapnya mulai dari bahu sampai ujung sayap. Sedangkan kacer betina sepanjang tubuhnya berwarna abu-abu kusam.

Habitat aslinya ada di kawasan hutan terbuka yang terletak di daerah pinggiran dan kurang suka berada di hutan yang lebat dengan banyak pepohonan liar. Makanan utamanya adalah serangga, namun ia juga dapat mengkonsumsi beberapa jenis buah-buahan hingga cacing.

Sarang tempat tinggalnya terbuang dari rumput, daun-daun yang mengering, dan beberapa jenis akar atau lumut. Sekali bertelur, burung kacer betina mampu menghasilkan 3-5 butir telur.

Para kicau mania menjadikannya sebagai burung peliharaan lantaran kemampuannya dalam menirukan suara burung lain. Khusus untuk perlombaan, beberapa jenis kacer dilatih untuk menirukan suara burung yang sulit untuk ditiru sehingga lebih memiliki keunggulan dibandingkan dengan yang lainnya.

Cara merawatnya terbilang mudah untuk dilakukan agar kondisinya tetap sehat. Burung kacer yang memiliki suara yang nyaring dan aktif memiliki nilai jual di pasaran yang tidak murah.

Itulah beberapa jenis burung yang banyak ditemukan di Indonesia, mulai dari yang keberadaannya terancam punah sampai yang banyak dipelihara untuk dilombakan. Sudah sepatutnya kita untuk menjaga kelangsungan hewan-hewan yang ada di sekitar kita berapapun kondisinya agar kondisinya tetap seimbang di alam.

Kita juga wajib menjaga habitat aslinya tetap terjaga agar populasinya tidak semakin berkurang di alam. Sudah seharusnya kita bertindak arif dan bijaksana dalam menjaga keanekaragaman makhluk hidup di Indonesia termasuk burung.

tombol beli buku

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Lely Azizah