Kesenian

7 Tari Tradisional Masyarakat Papua dan Papua Barat

5 Tarian Tradisional Papua
Written by Fandy

Tari Tradisional Masyarakat Papua – Papua berhasil memikat wisatawan domestik maupun mancanegara dengan keindahan alamnya. Tidak hanya menyuguhkan pesona alamnya, Papua juga memiliki kesenian dan budaya tradisional yang mampu menarik perhatian para turis, salah satunya berupa tarian tradisional.

Tarian adat daerah Papua merupakan aset bangsa di bidang kesenian Nusantara. Jika dibandingkan dengan tarian tradisional lainnya di seluruh penjuru Nusantara, tari tradisional yang ada di Papua mempunyai ciri khas yang unik. Sebab, tarian wilayah Indonesia bagian timur ini menyuguhkan sejumlah makna yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, yaitu mengeskpresikan emosi dan budaya lokalnya.

Tari tradisional masyarakat Papua dapat dikatakan merupakan cerminan jati diri yang harus dipahami oleh semua orang, bukan hanya warga yang tinggal di wilayah Papua saja.

Lantas, apa saja tari-tarian tradisional dari Papua? Berikut akan disajikan penjelasan mengenai beberapa tarian tradisional Papua dan fakta untik di baliknya, yang diambil dari situs Perpustakaan Digital Budaya Indonesia yang dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

1. Tari Soanggi

Tari tradisional masyarakat papua pertama, yaitu Tari Soanggi adalah tarian adat yang berasal dari daerah pantai Teluk Cendrawasih, Kabupaten Waropen, Provinsi Papua Barat. Eksistensi awal tari Soanggi tidak begitu jelas, tetapi tarian ini merupakan salah satu bentuk ekspresi masyarakat Papua Barat yang masih kental dengan nuansa magis. Tarian tersebut berawal dari kisah seorang suami yang ditinggal mati istrinya akibat diserang oleh makhluk bernama anggi-anggi atau soanggi (jadi-jadian), di Jawa biasa disebut memedi.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, soanggi merupakan roh jahat yang belum mendapatkan kenyamanan di alam baka. Roh jahat tersebut biasanya akan merasuki tubuh seorang wanita. Jika korbannya telah diserang, para kepala suku akan segera mencari tahu soanggi yang sudah mencelakai korban sebagai upaya pencegahan.

Kentalnya nuansa magis tersebut kemudian direalisasikan menjadi tari Soanggi yang dikenal sampai sekarang. Sebelum penari mulai menarikannya, mereka harus melakukan ritual terlebih dahulu yang dipimpin kepala suku.

Tari ini dibawakan oleh berpuluh-puluh penari laki-laki dan seorang yang bertindak sebagai pimpinan dengan bersenjatakan perisai dan parang. Mereka mengenakan rumbai-rumbai sebagai penutup badan bagian bawah. Tarian tersebut digambarkan sebagai perang antara penduduk yang bersenjatakan busur dan anak panah dengan seekor soanggi. Dalam perang itu, soanggi dapat menjadi pihak yang menang.

Gerakan dalam tarian tersebut berfungsi untuk mengusir roh jahat yang masih terikat janji dan belum dipenuhi. Setiap gerakan yang dilakukan dalam tarian ini lebih menyerupai aktivitas dukun atau seseorang yang memiliki kekuatan magis yang akan menyembuhkan suatu penyakit.

Busana yang digunakan oleh penari menggunakan pakaian tradisional Papua Barat. Adapun iringan tarian ini menggunakan alat musik tifa dan terompet kerang, serta nyanyian-nyanyian yang dilakukan oleh para penari. Tarian ini hanya ditampilkan ketika ada seorang warga yang meninggal, bukan untuk suatu pertunjukan umum atau pentas seni.

2. Tari Awaijale Rilejale

Tari tradisional masyarakat papua kedua, yaitu Tari Awaijale Rilejale adalah tarian tradisional khas masyarakat suku Sentani yang tinggal di daerah Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Tarian ini menggambarkan keindahan alam Danau Sentani pada waktu senja, saat warganya pulang dari bekerja dengan menaiki perahu.

Tari ini dibawakan oleh sekelompok laki-laki dan wanita. Ketika membawakan tarian tersebut, mereka mengenakan pakaian adat yang disebut dengan Pea Malo. Pakaian itu terbuat dari serat pohon genemo, kulit kayu, dan daun sagu, serta dilengkapi dengan perhiasan hamboni (kalung manik-manik).

3. Tari Aluyen

Tari tradisional masyarakat papua ketiga, yaitu Tari Aluyen adalah tarian adat yang berasal dari daerah Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Provinsi Papua Barat. Penyebutan nama tari Aluyen berasal dari dua suku kata, yaitu alu yang berarti “lagu” dan yen yang berarti “dinyanyikan”. Secara keseluruhan, tarian ini memiliki arti “lagu yang dinyanyikan”. Eksistensi awal dari tarian tersebut telah ada sejak Indonesia belum merdeka.

Tari Aluyen merupakan tarian tradisional yang biasanya dilakukan sebagai bagian dari upacara adat, yaitu pembangunan rumah baru dan pembukaan kebun baru. Tarian tersebut dapat dilakukan pada siang atau malam hari. Namun, jika diadakan di dalam rumah adat, pertunjukannya bisa berlangsung selama 1–2 bulan.

Tari ini dibawakan oleh laki-laki dan wanita, serta seorang yang bertindak sebagai pimpinan. Pemimpin tari berdiri di depan para penari lainnya, kemudian di belakangnya diikuti oleh penari wanita dan laki-laki dengan dua barisan memanjang ke belakang.

Secara umum, gerak dasar tarian ini merupakan gaya berjalan kaki bebas menurut irama sambil bergoyang pinggul (dalam bahasa setempat disebut dengan awlete, yang berarti gerak goyang pinggul). Busana yang dikenakan dalam tarian ini dinamakan dengan kamlanan, sejenis kain dari daerah setempat.

Sampai saat ini, ragam busana dan aksesoris tarian tersebut tidak banyak berubah, baik penari laki-laki maupun wanita. Aksesoris yang digunakan meliputi gelang yang terbuat dari li (manik-manik), saika (gelang perak), medik (gelang dari jenis tali tertentu), dan eme (perhiasan dari daun pandan berwarna kuning atau merah).

4. Tari Det Pok Mbui

Tari tradisional masyarakat papua keempat, yaitu Tari Det Pok Mbui adalah tarian adat yang berasal dari tiga kecamatan di Kabupaten Merauke, Provinsi Papua, yaitu Agats, Sauwa Ema, dan Pirimapun. Eksistensi awal dari tarian tersebut telah ada sejak Indonesia belum merdeka. Penyebutan nama tari Det Pok Mbui berasal dari dua suku kata, yaitu det yang berarti “topeng yang mirip setan” dan pok mbui yang berarti “pesta” atau “upacara”. Secara keseluruhan, tarian ini memiliki arti “upacara topeng setan”.

Tari ini dibawakan oleh sekelompok laki-laki dan wanita pada siang atau sore hari setelah panen mencari sagu, dengan durasi 2–4 jam. Umumnya, tarian ini dilakukan di tepi sungai karena terdapat adegan menaiki perahu.

Susunan dalam tari Det Pok Mbui, yaitu ketua adat atau pimpinan upacara berdiri di tengah arena, kemudian memanggil penari dengan fu atau tifa sebagai penanda bahwa tari akan segera dimulai; para penari atau peserta upacara selanjutnya berkumpul dalam pentas.

Iringan tarian ini menggunakan alat musik tifa dan fu (terompet bambu), sedangkan lagu pengiring yang dilantunkan adalah jipai so (setan atau roh halus). Untuk gerakan tarian meliputi jiwi-ndil (gerak pinggul), a-ndi (gerak pantat), dan ban-ndi (gerak anggota tubuh).

Ketika membawakan tarian tersebut, para penari menghias wajah dan tubuhnya dengan arang dan kapur. Busana yang dikenakan oleh penari laki-laki adalah rok yang terbuat dari bulu burung kasuari, sedangkan penari wanita menggunakan busana bernama awer (rok rumput). Adapun aksesoris penari meliputi gelang kaki, gelang tangan, dan gelang lengan, sedangkan bagian leher dihiasi kalung yang terbuat dari gigi anjing, taring babi, atau manik-manik.

5. Tari Afaitaneng

Tari tradisional masyarakat papua kelima, yaitu Tari Afaitaneng adalah tarian adat yang berasal dari daerah Distrik Kepulauan Ambai, Kabupaten Kepulauan Yapen, Provinsi Papua Barat. Eksistensi awal dari tarian ini sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Tarian tersebut termasuk ke dalam tari tradisional yang berkaitan dengan kepahlawanan. Penyebutan nama tari Afaitaneng berasal dari dua suku kata, yaitu afai yang berarti “panah” dan taneng yang berarti “milik”. Secara keseluruhan, tarian ini memiliki arti “anak panah milik kami”.

Tari tersebut umumnya dilakukan selama semalam suntuk saat sore atau malam hari setelah berperang. Tarian itu menggambarkan kehebatan, kekuatan, dan kemenangan rombongan perang yang melawan musuh dengan bersenjatakan busur panah.

Tari Afaitaneng dibawakan secara berkelompok oleh penari laki-laki dan wanita dengan membentuk formasi lingkaran atau barisan. Susunan tarian ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sekelompok penari wanita meratapi mayat budak pada bagian awal, sekelompok penari laki-laki memperlihatkan kehebatan dalam memanah pada bagian kedua, dan sekelompok penari campuran merayakan kemenangan melawan musuh pada bagian ketiga.

Busana yang dikenakan oleh para penari adalah kuwai (cawat), yang dihiasi manik-manik dan perhiasan gelang tangan. Para penari juga membawa aksesoris tambahan berupa afai (panah) dan umbee (parang). Adapun iringan tarian ini menggunakan alat musik fikainotu (tifa) dan tibura (triton), sedangkan lagu pengiring yang dilantunkan adalah nimasae.

6. Tari Aniri

Tari tradisional masyarakat papua keenam, yaitu Tari Aniri adalah tarian adat yang berasal dari daerah Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat. Eksistensi awal dari tarian ini sudah ada sejak Indonesia merdeka. Tarian yang diciptakan oleh Imayu ini bersifat sakral dan magis, sehingga tidak dapat ditarikan oleh sembarangan orang.
Tarian ini menggambarkan pembebasan pembebasan seorang anak dari gangguan setan setelah ditelantarkan oleh kedua orang tuanya yang pergi ke dusun. Tarian tersebut dibawakan secara berkelompok oleh penari laki-laki dan wanita, serta dilakukan pada sore atau malam hari.
Susunan tarian ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu orang tua pada bagian pertama, anak kecil yang tinggal sendirian di rumah pada bagian kedua, setan yang mendatangi anak kecil di rumah dan dijadikan anaknya pada bagian ketiga, dan orang tuanya yang datang mencari anaknya pada bagian keempat. Setelah kedua orang tuanya bertemu dengan anaknya yang telah dibebaskan dari kuasa setan, mereka lalu mengikuti para pembebas.
Setidaknya, terdapat tiga gerakan khusus dalam tarian ini yang menjadi pembeda dari tarian adat Papua lainnya, yaitu wae ndi (gerakan yang melindungi anak dari gangguan setan), aniri ndi (gerakan memberi makan setan agar mau melepaskan anaknya), dan wapa (gerakan proses pembebasan anak dari kekuasaan setan).
Busana yang digunakan oleh para penari disebut dengan tauri atau rogoi (daun sagu), yang dihiasi dengan bulu burung kasuari, cenderawasih, dan kakaktua putih. Adapun tata riasnya biasanya menggunakan kapur dan tanah yang berwarna merah. Tarian ini menggunakan iringan alat musik tifa, sedangkan lagu pengiring yang dilantunkan adalah awito tuo.

7. Tari Tumbu Tanah

Tari tradisional masyarakat papua ketujuh, yaitu Tari Tumbu Tanah atau Dansa Tumbu Tana adalah tari tradisional khas masyarakat Arfak yang tinggal di Manokwari. Tarian ini juga dikenal dengan nama tarian ular karena formasi tarian ini membentuk seekor ular yang melilitkan badannya di atas pohon.
Tari Tumbu Tanah biasanya dilakukan untuk menyambut acara-acara penting, yaitu penyambutan tamu dari luar lingkungan masyarakat Arfak, kemenangan perang, dan perayaan pesta pernikahan. Tari Tumbu Tanah merupakan jati diri masyarakat Arfak karena semua gerakan, formasi, lagu pengiring, alat musik, serta aksesoris dalam tari Tumbu Tanah merupakan ciri khas masyarakat Arfak yang membedakannya dengan tarian suku-suku lain di daerah Papua.
Masyarakat Arfak (Mnu Kwar) yang tinggal di daerah Manokwari terdiri atas empat sub-suku, yaitu suku Hattam, suku Sough, suku Moile, dan suku Meyakh. Mereka memiliki kesenian tari yang sama, yang dinamakan dengan tari Tumbu Tanah. Keempat suku tersebut menyebut tarian ini dengan nama tari Tumbu Tanah karena mereka menyebutnya dengan bahasa yang berbeda-beda.
Masyarakat suku Hattam menyebutnya dengan nama Ibihim, sedangkan suku Moile menyebutnya dengan nama Isim. Adapun suku Meyakh menyebut tari Tumbu Tanah dengan nama Mugka dan suku Sough menyebutnya dengan nama Manyohora.

Penyebutan nama tari Tumbu Tanah berawal ketika agama Kristen yang dibawa oleh dua misionaris asal Jerman, yakni Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, pertama kali masuk Papua tanggal 5 Februari 1855 melalui Pulau Mansinam. Mereka tidak hanya membawa misi penginjilan saja, tetapi juga membangun berbagai sarana dan prasarana kemasyarakatan yang mengubah peradaban bagi masyarakat Papua, khususnya Manokwari.

Untuk mempermudah penyebutan tarian ini, mereka menggunakan bahasa Indonesia untuk menyebut tarian masyarakat Arfak tersebut dengan nama tari Tumbu Tanah agar dapat dikenal oleh masyarakat lain di luar keempat sub-suku itu.

Berdasarkan asal-usulnya, tari Tumbu Tanah tidak terlepas dari mitologi asal-usul masyarakat Arfak mengenai cerita “Legenda Jambu Mandatjan” yang bermula di Kampung Ndui. Legenda Jambu Mandatjan adalah cerita tentang perebutan penguasaan kepemilikan terhadap salah satu pohon jambu yang telah dibagi menurut keret (marga) yang ada di Manokwari oleh anak-anak dari salah satu keret.

Tari Tumbu Tanah merupakan tari yang dibawakan secara massal dan tidak terbatas kepada jumlah peserta tari. Tarian ini bisa melibatkan warga satu kampung ataupun gabungan warga dari beberapa kampung. Artinya, tari Tumbu Tanah bisa dikuti secara berkelompok oleh semua lapisan masyarakat, baik tua maupun muda berbaur menjadi satu dalam tarian.

Secara umum, gerak dasar tari Tumbu Tanah di antara masyarakat Arfak tidak memiliki perbedaan. Perbedaan dasarnya terletak pada pasangan tari, lagu yang dinyanyikan, serta tujuan tarian. Selain itu, tari ini tidak memiliki banyak ragam gerakan. Tari Tumbu Tanah hanya mengenal dua gerak dasar, yaitu bihim ifiri kai cut (melompat sambil menghentakkan kaki di tanah) dan yam (bergandengan tangan). Adapun lagu yang dinyayikan dalam tari Tumbu Tanah harus berbau lagu pujian kepada roh leluhur masyarakat Arfak.

Nah, itulah penjelasan singkat mengenai 7 Tari Tradisional Masyarakat Papua dan Papua Barat: Fakta dan Penjelasannya. Tarian-tarian tersebut umumnya semakin memudar seiring perkembangan zaman. Untuk itulah, sahabat-sahabat Grameds marilah kita bersama-sama menjaga dan melestarikan budaya nenek moyang kita. Jangan sampai kita kalah dengan budaya dari luar Indonesia yang kini lebih dikenal secara global, seperti Anime, Korean Pop, dan Gangnam Style Dance.

Grameds juga dapat mengunjungi koleksi buku Gramedia di www.gramedia.com untuk memperoleh referensi tentang kondisi sosial di wilayah Papua dan Papua Barat. Berikut ini rekomendasi buku Gramedia yang bisa Grameds baca untuk mempelajarinya secara penuh. Selamat membaca.

Temukan hal menarik lainnya di www.gramedia.com. Gramedia sebagai #SahabatTanpaBatas akan selalu menampilkan artikel menarik dan rekomendasi buku-buku terbaik untuk para Grameds.

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait Tari Tradisional Masyarakat Papua

Penulis: Fandy Aprianto Rohman

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien