in

6 Macam Teknik Hidroponik / Sistem Hidroponik

6 Macam Sistem Hidroponik / Teknik Hidroponik / – Dr. WF Gericke dari Universitas California Amerika Serikat pertama kali memperkenalkan cara bercocok tanam hidroponik. Cara bercocok tanam hidroponik digandrungi masyarakat terlebih pada pandemi sekarang ini.  Metode bercocok tanam tanpa tanah ini diminati oleh masyarakat karena bisa menghemat pengeluaran atau sebatas menyalurkan hobi.

Cara bercocok tanam hidroponik ini memiliki kelebihan salah satunya yaitu mengurangi masalah budidaya yang berhubungan dengan tanah seperti jamur, serangga, serta bakteri yang ada di tanah. Sistem bercocok tanam ini tentu memiliki kelebihan yaitu lebih mudah dalam pemeliharaan seperti tidak melibatkan proses penyiangan dan pengolahan tanah. Hal ini menjadi kelebihan juga diterapkan di rumah-rumah warga yang lahannya minim. Ada beberapa tips untuk pemula dalam bercocok tanam hidroponik. Berikut Gramedia jelaskan melalui artikel di bawah ini.

 

Definisi Hidroponik

Sebelum membahas lebih jauh mengenai macam – macam teknik hidroponik, ada baiknya kita mengetahui terlebih dulu tentang arti dari kata hidroponik itu sendiri. Hidroponik merupakan serapan bahasa Yunani dimana hydro berarti air dan ponos berarti hara. Dengan kata lain teknik hidroponik adalah sebuah teknik budidaya tanaman dengan air sebagai unsur hara utamanya.

Walaupun mengandung arti kata air, nyatanya ada berbagai macam teknik hidroponik yang tidak selalu menggunakan air sebagai media utamanya, meskipun pada proses perkembangannya tetap memerlukan air sebagai penghantar nutrisi yang diperlukan. Kerikil, rockwool, cocopeat, pasir sekam dan arang adalah beberapa media tanam pengganti air yang dapat kamu gunakan dalam teknik menanam dengan metode hidroponik.

Kelebihan Metode Hidroponik

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, menanam dengan teknik hidroponik dapat menjadi solusi bagi kamu yang tidak memiliki lahan luas untuk bercocok tanam. Ukuran sebuah instalasi hidroponik dapat dibuat vertikal atau horizontal sesuai dengan keadaan tempatmu. Yang banyak mendapatkan perhatian dan membuat harga sayur dan buah – buahan hidroponik berharga lebih mahal adalah karena tanaman yang dihasilkan lebih bersih dan steril. Selain itu umur tanaman juga biasanya lebih cepat sehingga kamu bisa lebih cepat panen dengan tanaman yang tidak kalah berkualitas jika dibandingkan dengan metode tanam konvensional. Menyenangkan bukan?

 

Kekurangan Metode Hidroponik

Kamu mungkin membutuhkan sedikit ketelitian yang intens untuk mengecek kadar nutrisi pada air yang dialirkan ke tanaman pada sebuah instalasi hidroponik. Beberapa teknik hidroponik juga memerlukan biaya yang tidak sedikit dan peralatan yang sulit ditemukan di Indonesia

 

Buku Rekomendasi Terkait Hidroponik

Hidroponik; Bertanam Sayuran Tanpa Tanah

tombol beli buku

Hidroponik telah dikenal dan dipraktikkan di dalam negeri sejak tahun 1980-an. Saat ini, hidroponik, terutama skala rumah tangga, telah merambah menjadi hobi dan pemenuhan kebutuhan rumah tangga terhadap sayur serta buah. Kepopuleran tren hidroponik memunculkan penghobi hidroponik baru yang membutuhkan berbagai informasi dasar mengenai hidroponik.

Penulis dengan mengusung nama Hidroponik Untuk Semua yang selama ini fokus pada budi daya hidroponik dan rutin mengadakan pelatihan hidroponik (untuk pemula hingga pelatihan hidroponik skala industri) di berbagai daerah, mencoba membagikan pengalamannya melalui buku ini. Penulis berharap semakin banyak masyarakat yang memahami teknik dasar hidroponik secara tepat, sehingga dapat dipraktikkan dengan baik sebagai sarana hobi, menambah keasrian sekitar rumah dan lingkungan, serta dapat menghasilkan sayuran yang sehat untuk konsumsi keluarga.

 

Hidroponik Rumahan, Modal Dibawah 600 Ribu

 

tombol beli buku

Hidroponik masih dipandang sebagai teknologi budi daya yang sulit dan membutuhkan modal yang besar dalam pembuatannya. Ternyata tidak selalu seperti itu. Kini, hidroponik bisa diaplikasikan dengan mudah dan murah, bahkan kita bisa membuatnya sendiri di rumah. Buku ini difokuskan pada pembuatan instalasi hidroponik yang cukup efisien dan menghemat uang, serta buku ini sangat mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

 

Tanya Jawab Hidroponik

 

tombol beli buku

Semakin sempitnya lahan perkotaan membuat banyak orang rindu akan suasana bercocok tanamdi pedesaan. Hidroponik menjadi alternatif utama yang bisa dilakukan untuk menjawab kerinduan masyarakat tersebut.

Masyarakat mulai banyak mengaplikasikan hidroponik mulai dari skala hobi, bahkan tida sedikit yang merambah hingga skala industri. Selain bisa untuk memenuhi kebutuhan dapur rumah tangga, hasilnya juga bisa dijual dengan harga yang relative lebih tinggi daripada produk pertanian konvensional.

 

Hidroponik Sumbu Wick Dan Rakit Apung

Hidroponik Sumbu Wick Dan Rakit Apung

tombol beli buku

Simple hydroponic. Kesan inilah yang Anda akan lihat pada hidroponik sumbu wick dan rakit apung. Aplikasi hidroponik sumbu wick bisa dibuat dengan merakit instalasi dari bahan-bahan daur ulang seperti botol bekas minum, kaleng, kantong plastik refil, sepatu bekas, dan lain-lain. Anak-anak sekolah bisa diperkenalkan dengan hidroponik mulai dari hidroponik sumbu wick

 

Hidroponik & Vertikultura

Hidroponik & Vertikultura

tombol beli buku

 

Saat ini, banyak sekali lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi lahan pemukiman. Jika hal ini diabaikan, maka dapat menyebabkan hasil pertanian di Indonesia semakin merosot. Jika pasokan pangan dari masyarakat dalam negeri merosot, maka bisa jadi perekonomian rakyat Indonesia juga ikut merosot.

Saat Indonesia kekurangan lahan, sebenarnya masih ada harapan untuk membudidayakan tanaman pangan, selama Indonesia masih beriklim tropis. Jika tidak ada lahan khusus, maka kita bisa melakukan -nya di pekarangan rumah. lde tersebut di antaranya adalah hidroponik dan vertikultura. Ternyata, bercocok tanam dengan hidroponik dan vertikultura sangat mudah, lho! So, praktik langsung, yuk?



 

 

6 Macam Teknik Hidroponik / Sistem Hidroponik

  1. Teknik Hidroponik Sistem Drip System

Sistem Drip System, sumber: university.upstartfarmers.com
Sistem Drip System, sumber: university.upstartfarmers.com

Drip system adalah cara bercocok tanam hidroponik menggunakan sistem irigasi tetes untuk mengalirkan nutrisi ke wilayah perakaran melalui selang irigasi dengan menggunakan dripper yang diatur waktunya dengan timer. Media tanam pada drip sistem ini yaitu batu apung, zeolit, sekam bakar, dan sabut kelapa yang berfungsi sebagai tempat akar berkembang dan memperkokoh kedudukan tanaman (Tallei, 2017).

Drip system ini lebih terkenal untuk menanam sayuran dan buah-buahan  seperti terong, cabai, paprika, terong, tomat, melon, dan stroberi.  Sistem ini juga dikenal lebih hemat biaya dikarenakan pada kegiatan pemupukan yang dapat dikurangi karena hanya diberikan bersamaan dengan proses penyiraman.

Untuk memulai bercocok tanam hidroponik dengan drip system ada beberapa alat yang diperlukan serta ruangan yang cukup luas seperti dripper, nipper, microtube, pompa, pipa nutrisi, polybag, wadah penampungan nutrisi, dan timer. Pada prinsipnya sistem drip ini adalah mengalirkan larutan nutrisi dalam bentuk tetesan yang berlangsung secara terus menerus serta sesuai takaran.

 

  1. Sistem Hidroponik EBB dan Flow System

Ebb and Flow, sumber: sdhydroponics.com
Ebb and Flow, sumber: sdhydroponics.com

EBB dan Flow System dikenal juga dengan sebutan sistem pasang surut. Pada sistem EBB dan flow system larutan nutrisi diberikan dengan cara menggenangi wilayah perakaran dengan waktu yang telah ditentukan. Setelah cukup, maka larutan nutrisi tersebut dialirkan kembali ke wadah penampungan pupuk. Larutan nutrisi akan mengisi sistem mencapai ketinggian dari overflow yang telah disiapkan sehingga merendam akar tanaman hidroponik tersebut. Tabung  harus diatur sekitar dua inch di bawah permukaan atas media tumbuh.

EBB dan Flow System ini memiliki persediaan oksigen yang diperlukan oleh tanaman berjumlah lebih banyak dan lebih baik karena sistem pasang surut. Perawatan dan pemantauan pada EBB dan Flow system ini dianggap lebih mudah karena tidak perlu melakukan penyiraman tanaman secara manual.

Sistem ini memiliki kekurangan diantaranya, pompa yang dipakai membutuhkan aliran listrik agar bisa beroperasi dengan baik. Dengan cara tersebut tentu terjadi ketergantungan pada listrik sehingga apabila listrik tiba-tiba mati maka pompa menjadi tidak berfungsi dan proses pasang surut untuk menutrisi tanaman tidak terjadi lagi. Dengan sistemnya yang melakukan perputaran nutrisi, maka kualitasnya akan berkurang setelah dipompa berkali-kali. Hal tersebut tentu berpengaruh pada hasil pertanian dan akar tanaman.

 

  1. Sistem Hidroponik Nutrient Film Technique (NFT)

Nutrient FilmTechnique, sumber: luv2garden.com
Nutrient FilmTechnique, sumber: luv2garden.com

Pada sistem ini larutan nutrisi secara terus menerus dialirkan mengenai akar tanaman menggunakan pipa PVC dan pompa dengan teknik sirkulasi (Swastika,  2018).  Posisi tanaman yang tumbuh pada lapisan aliran nutrisi yang tidak dalam (dangkal) dapat membuat sebagian akar terendam dan memperoleh nutrisi sehingga sebagian lainnya berada di atas memperoleh oksigen. Nutrisi yang disediakan untuk tanaman akan diterima oleh akar secara terus menerus menggunakan pompa air yang ditempatkan pada penampung nutrisi yang disusun sedemikian rupa agar pengaliran menjadi efektif (Tellei, 2017).

Sistem NFT ini masa tanam menjadi lebih singkat sehingga bisa melakukan penanaman lebih banyak. Dengan bercocok tanam menggunakan sistem NFT, maka bisa diperoleh laba lebih besar karena dalam waktu satu waktu bisa panen hasil berkali-kali. Pemantauan aliran serta perawatan maupun kondisi nutrisi lebih mudah karena nutrisi ditempatkan dalam satu wadah sehingga tidak perlu mengecek berulang kali karena dengan sekali melihat bisa diketahui kondisi nutrisi secara keseluruhan.

Sistem NFT juga bergantung pada listrik, beberapa alat memerlukan listrik yang stabil dan terus menyuplai agar sistem hidroponik yang telah dirancang tetap berjalan. Sistem ini juga rentan terhadap penyakit apabila beberapa tanaman yang terintegrasi dengan aliran nutrisi akan lebih mudah menyebarkan penyakit ke tanaman lain yang berada pada jalur tersebut. Kondisi semacam ini bisa menimbulkan kerugian yang tidak sedikit.

  1. Teknik Hidroponik Deep Water Culture (DWC)

Deep Water Culture, sumber: offgridgorilla.com
Deep Water Culture, sumber: offgridgorilla.com

Deep Water Culture (DWC) dikenal juga dengan istilah floating raft system (sistem rakit apung). Sistem DWC ini disukai oleh masyarakat maupun pelaku hidroponik pemula karena lebih mudah ditangani. Sistem DWC sangat sederhana karena kaar direndam dalam larutan nutrisi dan sebaiknya menggunakan pompa udara untuk akuarium untuk memberikan oksigen pada larutan nutrisi. Dan yang perlu diingat adalah sebaiknya wadahnya tertutup agar pencegah penetrasi sinar matahari ke dalam sistem sehingga mencegah pertumbuhan alga.



Walaupun disukai pelaku hidroponik pemula, para pelaku hidroponik komersial pun menggunakan sistem DWC ini dalam skala besar.  DWC ini dianggap  mudah dibuat dan murah. Meskipun mudah, dibutuhkan pula kreativitas untuk membuat dan menggunakan sistem ini dari berbagai bahan.

Kelebihan menggunakan sistem Deep Water Culture (DWC) yaitu tidak dibutuhkan pompa untuk memompa nutrisi kecuali untuk aerasi. Penggunaan pompa untuk nutrisi dapat menyebabkan penyumbatan pada pompa tersebut apabila menggunakan nutrisi organik.

  1. Teknik Hidroponik Wick System

Wick, sumber: hidroponikuntuksemua.com
Wick, sumber: hidroponikuntuksemua.com

Wick system atau dikenal juga dengan sistem sumbu. Sistem ini sering disebut metode hidroponik yang paling sederhana. Sistem sumbu (wick system) bisa menggunakan bahan-bahan daur ulang seperti gelas bekas minuman atau botol bekas sebagai wadah untuk nutrisi.  Tanaman pada sistem ini mendapatkan nutrisi yang diserap melalui sumbu atau kain flanel. Sistem ini seperti kompor minyak tanah.

Sumbu merupakan bagian penting pada sistem ini, karena tanpa penyerapan cairan yang baik tanaman tidak akan mendapatkan kelembapan dan nutrisi yang dibutuhkan. Selain sebagai penyerap cairan yang baik, wick system juga sulit rusak akibat pembusukan.  Jumlah wick harus disesuaikan dengan ukuran tanaman ketika bertumbuh untuk memastikan nutrisi yang diserap cukup memenuhi kebutuhan tanaman.

Pada sistem sumbu ini penggunaan pompa udara untuk aerasi sistem tidak terlalu dibutuhkan. Akar bisa mendapatkan oksigen dari ruang di dalam sistem dan juga menyerap oksigen langsung dari cairan nutrisi. Apabila ingin menggunakan aerator maka disarankan membuat sistem rakit apung.

 

  1. Sistem Hidroponnik Aeroponik

sistem hidroponik aeroponik sumber: dictio.id
aeroponik sumber: dictio.id

Sistem aeroponik yaitu tanaman ditumbuhkan pada udara yang lembap tanpa menggunakan tanah atau medium agregat. Dalam sistem aeroponik tidak menggunakan wadah untuk menggenangkan larutan nutrisi ataupun dibuatkan tempat aliran nutrisi agar akar bisa menyerap gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman.

Sistem aeroponik tidak memerlukan lahan luas. Kepraktisan ini yang membuat para petani maupun masyarakat tertarik untuk mengembangkannya. Hasil pertanian yang didapat dari sistem aeroponik selain lebih segar dan enak, juga mengandung gizi yang lebih banyak.

Sistem ini juga memiliki kekurangan karena ketersediaan alat yang belum banyak. Dibutuhkan alat penyembur khusus berupa sprinkler pada sistem aeroponik ini. Komponen penting tersebut kadang kala sulit ditemukan di kawasan pedesaan atau kota kecil. Ini tentu menjadi satu hambatan bagi para petani yang mau melakukan cocok tanam dengan sistem aeroponik.

Nah, sobat Gramedia, itu dia beberapa tips bercocok tanam hidroponik untuk pemula. Selain hemat dan bisa diletakkan di mana saja, kamu jadi bisa memasak sayuran dan mengonsumsi buah-buahan dari hasil panen di rumah sendiri. Selamat mencoba ya sobat, semoga berhasil.

 

 

Referensi:

Tallei, Triana, dkk. 2017. Hidroponik  untuk Pemula. Manado: LPPM Unsrat.

Swastika, Sri, dkk. 2018. Budidaya Sayuran Hidroponik. Riau. BPTP Balitbang Riau.

 

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Nandy