in

Review Novel Cecilia and The Angel by Jostein Gaarder

Ketika seseorang harus dihadapkan dengan sebuah pilihan antara hidup dan mati. Orang tersebut akan merasakan kegelisahan yang begitu besar. Di satu sisi, ia takut akan meninggalkan semua orang yang ia sayangi. Namun, di sisi lain, ia merasa bahwa sudah waktunya untuk beristirahat dalam damai.

Pertanyaan yang tidak pernah terjawab sampai sekarang dan masih menjadi sebuah misteri, adalah “Apakah ketika meninggal, kita akan masuk surga?” dan “Kemana kita akan pergi setelah meninggal”. Kisah perjalanan hidup seseorang akan berakhir ketika orang tersebut menghembuskan nafas untuk yang terakhir kali di bumi ini.

Tak ada yang pernah tahu kehidupan kekal yang akan dijalani oleh manusia pada akhir hayatnya akan seperti apa. Namun, beberapa orang percaya bahwa Tuhan pasti akan menyediakan tempat yang terbaik untuk seluruh umat manusia.

Banyak sekali buku, film, dan drama yang mengisahkan tentang perjalanan hidup seseorang hingga akhir hayatnya. Ada yang harus terbaring sakit dan menempuh perjalanan media yang sangat berat. Ada juga yang dengan sangat mudah, meninggal dalam tidur tanpa sakit apapun.

Ketika mengalami kondisi sakit yang sangat berat, tentunya sebagai manusia pasti akan merasa sangat kecewa kepada Tuhan. Kecewa mengapa hal yang sangat berat tersebut harus terjadi dalam kehidupan ini. 

Banyak orang yang marah dengan kehendak Tuhan yang membuat dirinya lunglai dan tidak bisa melakukan apapun. Bahkan saking kecewanya, manusia bisa dengan mudahnya berkata bahwa Tuhan tidak adil. 

Padahal Tuhan adalah Pencipta yang maha tahu dan maha mengasihi. Tuhan tidak akan membiarkan manusia sakit dan jatuh, Tuhan tahu kalau manusia tersebut adalah orang yang kuat.

Begitu juga yang dialami oleh Cecilia. Seorang gadis kecil yang divonis sakit keras. Kisah ini dimulai ketika Cicilia mempertanyakan keadilan Tuhan atas dirinya, yang membuat Cecilia akhirnya menyadari sebuah keajaiban.

Pada malam natal, Cecilia kedatangan tamu spesial yang membuat dirinya sangat terkejut. Kira-kira, siapakah tamu spesial Cecilia di malam natal tersebut? Buku Cecilia and The Angel pertama kali terbit dengan judul aslinya, yaitu I et speil, I en gåte pada tahun 1993 silam.

Buku ini berhasil diterjemahkan kedalam bahasa Inggris dengan judul asli Through a Glass, Darkly. Sesuai dengan judulnya, Cecilia and The Angel ini adalah sebuah buku yang mengisahkan bagaimana seorang gadis kecil harus berjuang untuk melawan penyakitnya yang sangat keras dan harus menghabiskan waktunya selamanya di atas kasur.

Novel ini sangat hebat. Dengan kisahnya yang sangat menyentuh hati, buku Cecilia and The Angel berhasil memenangi Norwegian Bookseller Prize dan berhasil juga menjadi salah satu buku yang diadaptasikan ke dalam bentuk film.

Film dari buku Cecilia and The Angel juga tak kalah keren. Film ini telah memenangi dan mendapatkan Amanda Award sebagai anugerah tertinggi perfilman di Norwegia pada tahun 2009 lalu.

Akhirnya buku ini diterbitkan kembali pada tahun 2019 dan telah masuk ke Indonesia. Buat kamu yang penasaran bagaimana kisah Cecilia and The Angel, mari simak dan  baca kisah lengkapnya di buku Cecilia and The Angel.

Sinopsis Kisah Cecilia and The Angel

Kisah Cecilia and The Angel dimulai ketika semua orang menunggu Cecilia untuk turun ke ruang keluarga yang ada di lantai bawah. Momen duduk bersama di ruang keluarga adalah momen yang sangat dinantikan oleh gadis kecil ini.

Cecilia adalah seorang anak perempuan yang telah divonis sakit berat. Dalam buku Cecilia and The Angel, penulis bukunya, Jostein Gaarder tidak memberitahukan secara detail mengenai penyakit yang diderita oleh Cecilia.

Setelah dinyatakan memiliki sakit keras, Cecilia harus bertahan dan berjuang menerima kenyataan itu. Jostein Gaarder menggambarkan sosok gadis kecil ini sebagai seorang yang sangat kuat dan tabah. 

Hal ini dapat dilihat ketika semua teman Cecila bisa bermain dan bersekolah dengan bebas. Cecilia hanya bisa merasakan rasa sakitnya suntikan obat pada tubuhnya setiap harinya. Keluarga Cecilia digambarkan oleh Jostein Gaarder sebagai keluarga harmonis.

Keluarga tersebut terdiri dari ayah, ibu, adik Cecilia yang bernama Lars, kakek, dan juga neneknya. Keluarga ini digambarkan sangat hangat dan mendukung Cecilia.

Layaknya anak-anak di usianya, Cecilia juga memiliki sebuah buku yang berisi catatan harian tentang kegiatan, perasaan, keluh kesah, dan juga harapan. Diary Cina, itulah nama dari catatan harian Cecilia. Ia sangat menyukai diary Cina miliknya. 

Suatu malam, Cecilia kedatangan seorang tamu. Mulanya, Cecila merasa sangat canggung dan bingung. Hal ini dikarenakan merupakan pertemuan pertamanya dengan seorang malaikat dari surga. Waktu demi waktu berjalan, Cecilia dan malaikat surga, yang bernama Ariel pun semakin akrab dan mulai menceritakan kisah satu sama lain.

Cecilia dan Malaikat Ariel menjadi semakin akrab hingga mereka mulai penasaran dengan perbedaan yang ada diantara mereka. Saat itu, malaikat Ariel sangat penasaran dengan hakikat manusia, Ariel penasaran bagaimana rasanya menjadi seorang manusia? Bagaimana juga rasanya memiliki tubuh yang terdiri dari daging dan darah?

Hal yang sama terjadi pada pemikiran Cecilia. Gadis kecil ini pun sama penasarannya dengan Ariel. Sehingga Cecilia pun bertanya, “bagaimana rasanya menjadi seorang malaikat di Surga?”.

Tak hanya beberapa pertanyan yang menjadi percakapan antara Cecilia dan malaikat Ariel. Namun, penjelasan tentang hal-hal yang tidak mereka pahami satu sama lain adalah percakapan yang terjadi selama mereka menghabiskan waktu bersama.

Cecilia menjelaskan tentang semua panca indra yang dimiliki oleh manusia pada umumnya, termasuk dirinya. Namun, ternyata malaikat memiliki hal yang berbeda. Ariel berkata bahwa dirinya dan malaikat yang lain tidak bisa merasakan.

Dalam buku Cecilia and The Angel, Cecilia hanya mengetahui keadaan bahwa malaikat tidak dapat melihat, mendengar, mengecap rasa, bahkan mereka tidak dapat merasakan hawa panas dan dingin.

Mendengar penjelasan dari malaikat Ariel, Cecila merasa sangat bingung. Ariel berusaha menjelaskan hal tersebut kepada Cecila supaya bisa membantunya memahami apa yang dikatakan oleh Ariel sebelumnya.

Ariel kembali menjelaskan kepada Cecilia, bahwa malaikat memiliki cara yang berbeda untuk merasakan. Mereka tidak langsung menggunakan alat panca indra, melainkan menggunakan batin. Malaikat melihat dan mendengar menggunakan mata dan telinga batin mereka.

Selain itu, malaikat juga tidak memiliki pikiran, bobot, tidur ataupun bermimpi. Malaikat juga tidak bisa ditumbuhi oleh rambut, kuku, dan segala hal yang dapat tumbuh pada tubuh manusia.

Cecilia dan malaikat Ariel sangatlah akrab. Mereka seperti teman lama yang sudah tidak pernah bertemu selama puluhan tahun. Topik pembicaraan yang selalu menarik dan baru membuat mereka saling mengetahui lebih dalam. Malaikat Ariel juga membantu Cecilia untuk melelapkan tidurnya.

Semua berjalan baik-baik saja. Ada kalanya kondisi Cecilia akan menurun. Ada kalanya juga kondisi Cecilia stabil dan membaik. Hari demi hari dilewati seperti sebuah rutinitas. Hingga tak terasa satu bulan telah berlalu. 

Sebelum malam natal, Cecilia dan malaikat Ariel memutuskan untuk mencoba memainkan papan ski baru milik Cecilia yang diberikan kepadanya sebagai hadiah natal, beserta sepatu skate dan tobonggan. Mereka berdua main di luar sana sampai lupa waktu.

Kegiatan yang selama ini mereka lakukan bersama-sama, seolah-olah adalah gambaran bahwa malaikat Ariel dengan sengaja sedang memberikan kebahagiaan kepada Cecilia sebelum Cecilia pergi tanpa bisa merasakan kebahagiaan tersebut.

Pada hari terakhir Cecilia dan Ariel bermain, Cecilia dan Ariel memutuskan untuk mengunjungi salah satu rumah sahabat kesayangan Cecilia, Marianne namanya. Cecilia melihat Marianne secara diam-diam, dan ketika itu pula, Cecilia terharu. Hal ini seperti sebuah tanda bahwa dirinya dan Marianne akan terpisah untuk selama-lamanya.

Tak lupa, Cicilia juga memberikan sebuah kupu-kupu kecil untuk Marianne sebagai tanda hadiah dari dirinya untuk sahabat terbaiknya. Saat melakukan hal tersebut, Cecilia sama sekali tidak mengetahui bahwa itu adalah hadiah terakhir yang ia berikan untuk sahabat tersayangnya.

Akhirnya setelah permainan dan kejadian di rumah Marianne, Cecilia dan malaikat Ariel kembali ke rumah. Tak lupa, saat itu Ariel akan membantu Cecilia untuk tidur dengan nyenyak. Hari-hari menyenangkan Ariel dan Cecilia lewatkan bersama-sama. Cecilia ditemani oleh malaikat Ariel hingga hari terakhir Cecilia pergi menuju tempat di balik cermin.

Kira-kira, bagaimana keseruan hari-hari dan percakapan antara Cecilia dan malaikat Ariel? Bagaimana dengan penyakit yang diderita oleh Cecilia? Apakah Cecilia akan sembuh? Mari ikuti dan baca kisah lengkapnya di novel Cecilia and The Angel.

Hal yang menarik dari kisah Cecilia and The Angel

Novel yang berjudul Cecilia and The Angel memiliki ketebalan buku yang dapat dibilang cukup tipis untuk ukuran sebuah novel. Namun, meskipun tipis, buku Cecilia and The Angel memiliki makna kisah yang sangat tebal dan mendalam.

Jostein Gaarder mengajak pembaca untuk merenungkan kembali hal-hal yang bisa disyukuri sebagai manusia. Seperti merasakan segala sesuatu. Jostein Gaarder membuat kisah dalam novel Cecilia and The Angel sangat mudah dipahami. 

Buku Cecilia and The Angel membawa perasaan yang hangat dan lembut kepada setiap orang yang membaca buku ini. Terdapat berbagai topik percakapan yang berserat filosofi yang dilakukan Cecilia dan malaikat Ariel.

Jostein Gaarder mengambil sudut pandang anak kecil saat menggambarkan kisah Cecilia and The Angel. Hal ini lah yang menjadi daya tarik dari buku karya Gaarder ini. Ciri khas anak kecil yang selalu ingin tahu segala hal dan bertanya tentang apapun yang ada dipikiran mereka tanpa takut dan terbebani.

Novel ini tidak menceritakan alur yang naik dan turun, jadi, jika kamu mencari novel yang seperti itu, buku Cecilia and The Angel bukanlah buku yang tepat untuk kalian baca. Buku ini sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan sudah memenangi berbagai macam penghargaan.

Sudah pasti Cecilia and The Angel adalah buku yang sangat worth untuk dibaca.

Hal yang kurang menarik dari kisah Cecilia and The Angel

Dalam sebuah buku tentu ada sisi menarik dan kurang menarik. Begitupun dengan buku Cecilia and The Angel. Berikut ini adalah beberapa hal yang kurang menarik yang bisa kamu temukan saat membaca buku Cecilia and The Angel.

Dalam buku Cecilia and The Angel, Jostein Gaarder tidak menggambarkan secara jelas tentang situasi yang atas sebuah kejadian. Jostein Gaarder hanya berfokus pada bagaimana percakapan antara Cecilia dan malaikat Ariel.

Jostein Gaarder latar waktu, tempat, diambil pada zaman apa, tidak dijelaskan. Mungkin alasan utama Jostein Gaarder melakukan hal tersebut agar pembaca lebih fokus kepada percakapan yang dilakukan oleh Cecilia dan malaikat Ariel.

Sampai kepada akhir cerita, sakit keras yang dialami oleh Cecilia pun tidak disebutkan. Hal ini membuat pembaca buku Cecilia and The Angel akan menerka-nerka sebenarnya apa yang dirasakan oleh Cecilia. 

Meskipun buku Cecilia and The Angel adalah buku yang sangat menghangatkan hati dan mudah untuk dipahami. Namun, buku ini memiliki alur yang sedikit membingungkan. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, penggambaran Jostein Gaarder terhadap latar waktu, tempat, dan suasana tidak dilakukan secara detail dan jelas, yang menyebabkan pembaca agak sedikit bingung dan kagok.

Pada bagian akhir dari novel Cecilia and The Angel, keadaan Cecilia tidak diilustrasikan secara jelas. Pembaca tidak mengetahui apakah Cecilia kembali sehat? Atau apakah Cecilia meninggal? Atau Cecilia masih dalam keadaan yang kritis?

Hal ini tidak benar-benar dijelaskan. Jostein Gaarder seakan-akan secara sengaja membiarkan pembaca mengimajinasikan apa yang terjadi sama Cecilia. Akhir buku Cecilia and The Angel membuat pembaca memutuskan sendiri bagaimana endingnya. 

Memang sangat menggantung, tetapi banyak sekali hal baik yang dapat kamu pelajari dari buku Cecilia and The Angel. Terlepas dari semua kekurangan yang ada pada buku ini, novel Cecilia and The Angel merupakan sebuah novel yang layak dan direkomendasikan untuk kamu baca.

Kesimpulan

Buku yang penuh dengan berbagai macam pertanyaan yang sangat unik yang sebenarnya masih menjadi sebuah misteri bagi semua orang tentang perbedaan surga dan bumi. Buku ini akan menjelaskan kepada pembacanya bagaimana seorang anak yang haus akan pengetahuan, selalu bertanya atas apapun yang ada dikepalanya tanpa kenal takut dan bimbang.

Kisah dari Cecilia dan malaikat Ariel juga membuat pembaca buku ini akan merenungkan hal-hal kecil yang terjadi dalam kehidupannya. beberapa contohnya adalah bersyukur bisa merasakan hawa panas dan dingin. Menyentuh suatu benda, bahkan bisa merasakan rasa sakit dan senang.

Pasalnya dalam buku ini, malaikat Ariel digambarkan sebagai seseorang dari surga yang memiliki perbedaan ketika ingin merasakan sesuatu. 

Cecilia and The Angel memberikan sebuah ilustrasi bahwa menghadapi sebuah kematian sebenarnya tidak semenakutkan itu dan semengerikan yang diceritakan oleh orang-orang. Novel Cecilia and The Angel sangat direkomendasikan untuk kamu para penyuka cerita fiksi. 

Jostein Gaarder dapat membuat sebuah cerita yang sangat indah hingga kamu sebagai pembacanya bisa masuk dan terjerumus kedalam percakapan yang dilakukan antara Cecilia dan malaikat Ariel. Kamu akan terpesona dengan caranya Jostein Gaarder menjelaskan perbedaan bumi dan surga hanya dari percakapan sehari-hari yang dilakukan Cecilia dan malaikat Ariel.

Demikianlah review dari buku Cecilia and The Angel salah satu maha karya dari Jostein Gaarder. Jika kamu tertarik untuk melihat kelanjutan kisah dan percakapan sehari-hari yang dilakukan oleh Cecilia dan malaikat Ariel, kamu bisa temukan bukunya dan membelinya di www.gramedia.com.

Selain itu, buat kamu yang senang dengan karya-karya best seller lainnya yang mengisahkan tentang cerita fiksi, kamu bisa mengunjungi Gramedia.com untuk informasi lebih lanjut. Selamat membaca, Grameds!

Written by Mega