in

(Review) Novel Princess of Tales

Novel Princess of Tales – Bagi sebagian orang dunia penulis adalah dunia kreatif yang penuh daya imajinasi. Dunia penulis ini selalu menjadi daya tarik bagi banyak orang. Namun, tidak semua orang mampu menjadi penulis, baik penulis ternama atau penulis yang tidak ingin terkenal.

Seseorang yang ingin menjadi penulis pasti memiliki banyak pertanyaan yang tersimpan di kepala dan pertanyaan-pertanyaan itu sangat sulit untuk mendapatkan jawaban.

Mungkin bagi sebagian orang belum tahu bahwa dunia penulis memiliki sisi lain yang belum diketahui oleh banyak orang.

Bahkan, tak sedikit penulis yang hanya menunjukkan sisi terang dari dunia kepenulisan saja atau hanya menunjukkan cara sukses menjadi penulis ternama. Bagi sebagian orang yang sudah tahu tentang sisi gelap dunia kepenulisan akan memandang sebelah mata dunia kepenulisan.

Jostein Gaarder adalah seorang penulis yang sangat fenomenal dengan karya sastra yang berjudul Dunia Sophie. Jika novel Dunia Sophie identik dengan dunia filsafat, kali ini Jostein Gaarder menulis sebuah karya yang berhubungan dengan dunia kepenulisan. Dunia yang banyak diidam-idamkan oleh banyak orang walaupun masih ada yang menganggap sebelah mata.

Lewat pemikirannya, Jostein mampu menghadirkan atau membuka tentang dunia kepenulisan. Penulis menceritakan kehidupan dunia kepenulisan melalui seorang tokoh yang bernama Petter, ia juga merupakan seseorang penggiat sastra. Kamu yang membaca novel ini akan terpana karena pemikiran Jostein Gaarder yang selalu tidak bisa ditebak.

Sinopsis Princess of Tales

Bagi sebagian orang mencari ide untuk menulis sebuah karya sangat sulit, tetapi Petter memiliki kemampuan yang jarang dimiliki kebanyakan orang. Ia memiliki daya imajinasi yang sangat berlimpah, sehingga sangat mudah untuk mendapatkan ide-ide yang menarik. Petter dijuluki sebagai “si Laba-Laba” karena kemampuan daya imajinasi yang sangat luar biasa.

Setiap ide-ide yang keluar dari Petter terbentuk dari berbagai macam hal, seperti mendengarkan musik, menonton opera, dan senang memerhatikan semua hal yang yang ada di sekelilingnya. Berkat kemampuan yang dimilikinya, Petter mampu membuat sebuah karangan yang berjudul Sang Putri Sirkus.

Karangan itu pertama kali ia tujukkan kepada ibunya. Petter sangat bangga bisa membuat sebuah cerita dongeng dari hasil pemikiran imajinasi yang ada di dalam dirinya.

Dalam mimpinya, Petter mempunyai teman imajinasi berupa lelaki tua dengan tinggi 1 meter menggunakan jubah dan topi berwarna hijau, lelaki tu itu juga membawa tongkat bambu. Ketika ayah Petter mulai meninggalkan rumah, lelaki tua itu ada di dalam kehidupan nyata.

Lelaki tua itu menjadi teman imajinasi Petter dalam dunia nyata. Petter selalu bermain dengan teman imajinasinya itu, sehingga ia jarang keluar rumah dan jarang bersosialisasi dengan orang lain. Bahkan, Petter sulut untuk membedakan tentang dunia imajinasi dengan dunia nyata.

Meskipun, Petter sangat mudah untuk menemukan ide-ide dan mudah untuk membuat suatu karangan, ia tak ingin mempublikasikan setiap karya tulisnya karena tidak ingin terkenal oleh banyak orang.

Dari sifat inilah, Petter membentuk sebuah program dengan sebutan Writer’s Aid. Program yang diciptakan oleh Petter semata-mata hanya untuk menyalurkan kemampuan yang tak ada habisnya agar mendapatkan penghasilan. Dengan program ini, Petter menjual ide-ide cerita kepada pengarang-pengarang yang sedang kehabisan ide ceirta.

Petter merasa bangga dengan membentuk program Writer’s Aid karena bisa mendapatkan penghasilan yang membuat dirinya kaya tanpa harus menjadi sosok yang dikenal oleh banyak orang.

Banyaknya penulis yang menggunakan program ini membuat Petter berkeyakinan untuk menjadikan program ini sebagai sebuah profesi. Dengan profesi barunya, Petter sudah mendapatkan keuntungan yang sangat besar, hingga ia menjadi orang yang cukup kaya.

Dalam menjual ide-idenya, Petter selalu menyimpan bukti-bukti transaksinya, seperti fotokopi dan kwitansi penjualan. Seiring berkembangnya zaman munculah sebuah alat perekan suara, Petter menggunakan alat perekam suara supaya memiliki bukti rekaman suara transaksi jual beli.

Petter menyimpan semua bukti-bukti transaksi di dalam brankas yang di simpan di bank. Hal yang dilakukannya ini dengan tujuan agar semua rahasia klien terjaga dengan baik dan tidak ada orang yang mengenal identitas Petter.

Dibalik kemampuan membuat ide-ide yang brilian, Petter merupakan seseorang yang sangat berhati-hati terutama dalam memilih klien. Ia selalu berkeinginan supaya ide-ide yang dimilikinya tidak menjadi sia-sia ketika dijual, sehingga ide-ide yang dijual harus disesuaikan dengan kebutuhan dan karakteristik klien.

Awal mulanya program ini berdiri, Petter mampu menjalaninya dengan kesuksesan, hingga nama nama samaran “si Laba-Laba” menjadi dikenal oleh banyak orang. Akan tetapi, Petter tidak menduga bahwa banyaknya penulis yang menggunakan jasanya membuat gaya menulis Petter mulai dikenali oleh banyak orang. Sejak saat itu, Petter mulai tidak menjual ide-idenya kepada penulis dan terpaksa harus melarikan diri.

Dibalik pelariannya itu ternyata petualangan Petter dalam dunia kepenulisan masih berlanjut. Petter yang tidak pernah kehabisan ide cerita akhirnya menuangkan perjalanan hidupnya ke dalam sebuah tulisan yang kemudian dijual.

Setelah sekian lama menjual ide-idenya, baru kali inilah Petter membuat karya tulis untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain.

Ingin tahu lebih lengkap bagaimana jalan cerita “si Laba-Laba”? kamu bisa mendapatkan novel ini gramedia.com atau bisa dengan klik “tombol beli sekarang” novel ini akan sampai di rumah kamu. Jadi tunggu apalagi segera dapatkan bukunya agar kamu mengetahui dunia kepenulisan.

Originalitas Dalam Sebuah Karya

Originalitas dalam sebuah karya sangat diperlukan bagi penulis. Karya tulis original menandakan bahwa karyanya tidak ada plagiat atau sama dengan karya lain. Dalam dunia kepenulisan plagiat ini harus dihindari oleh setiap penulis.

Nama penulis akan terlihat tidak baik, jika karyanya merupakan hasil dari plagiat karya lain dan plagiat membuktikan bahwa penulis mulai mengalami kehabisan imajinasi atau kebuntuan ide, sehingga harus mencari jalan pintas agar tetap berkarya.

Dalam novel Princess of Tales, Petter menjual ide-idenya kepada penulis-penulis yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Selain karakteristik yang berbeda, pembeli dari ide-ide cerita Petter memiliki alasan yang berbeda juga.

Dari sinilah, Petter mengetahui bahwa dalam dunia sastra terdapat beberapa jenis penulis. Penulis pertama, penulis yang jujur atas karya yang ditulisnya, itu selalu yakin akan keistimewaan dari tulisannya. Para penulis yang jujur tidak ingin menggunakan jasa Writer’s Aid miliki Petter.

Penulis kedua, penulis yang sudah kehabisan ide cerita. Penulis jenis ini sudah pernah menerbitkan sebuah buku, tetapi membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membuat dan menerbitkan buku baru. Supaya dapat menerbitkan setiap tahun, maka penulis kedua ini membeli ide cerita dari Petter.

Penulis ketiga merupakan penulis yang sudah kehabisan ide cerita, tetapi bisa membuat sebuah cerita hanya dengan melihat dan membaca garis besarnya saja. Maka dari itu, untuk menemukan garis besar dari sebuah cerita yang bisa dijadikan sebuah karya tulis, penulis ketiga membeli garis besar itu kepada Petter “si Laba-Laba”.

Penulis keempat, penulis yang sudah kehabisan ide cerita, tetapi dalam membuat sebuah cerita membutuhkan tuntunan dan detail cerita yang sangat lengkap. Ketika mendapatkan klien seperti ini, Petter akan memberikan ide cerita secara lengkap dan mengajarkan penulis tersebut supaya mampu mengembangkan ide cerita hingga menjadi sebuah cerita yang lengkap.

Penulis kelima adalah penulis yang belum menulis sebuah karya dan belum pernah menerbitkan karya tulis, tetapi merasa kalau dirinya bisa menulis. Menurut Petter, penulis kelima bisa menjadi seorang penulis jika mau berlatih untuk menulis dengan sungguh-sungguh.

Penulis keenam atau jenis penulis terakhir yang ada di dalam novel ini adalah penulis yang merasa dirinya dapat menulis, tetapi tidak memiliki kemampuan menulis.

Dari novel ini, pembaca akan diberikan penjelasan bahwa originalitas dalam sebuah karya tulis adalah sebuah keharusan yang dimiliki oleh penulis. Penulis yang hanya mengandalkan ide-ide dari seseorang penjual ide seperti Petter membuat daya imajinasinya sulit berkembang.

Begitu pun dengan Petter, ide ceritanya pada akhirnya mulai dicurigai oleh penerbit karena penulis yang satu dengan penulis lainnya memiliki ide cerita dengan gaya penulisan yang sama.

Dibutuhkan Imajinasi dalam Dunia Kepenulisan

Kisah Petter yang ditulis Jostein Gaarde membuat pembaca akan tersadar bahwa dalam dunia kepenulisan membutuhkan daya imajinasi yang berlimpah. Selain berlimpah, daya imajinasi yang dimiliki oleh seorang penulis harus mengalir terus menerus.

Supaya imajinasi dapat mengalir terus menerus, dapat dilakukan dengan cara melakukan berbagai macam hal, seperti membaca buku agar wawasannya semakin terbuka, mendengarkan musik, menonton opera agar bisa menulis skrip, dan lain-lain. Dalam novel ini, imajinasi digambarkan melalui seorang lelaki tua yang hadir dalam kehidupan Petter.

Novel ini mengajarkan para pembaca yang ingin menjadi seorang penulis bukan hanya perlu memiliki teknik menulis yang baik, tetapi harus memiliki daya imajinasi. Daya imajinasi inilah yang akan menghasilkan sebuah tulisan yang kreatif dan menarik untuk dibaca.

Begitu pun sebaliknya, jika penulis kehabisan daya imajinasinya, ia akan terjebak dalam karyanya, sehingga tidak bisa menghasilkan sebuah karya tulis. Seperti dalam novel Princess of Tales yang menceritakan bahwa ada banyak penulis lain yang mengalami writer block atau kehabisan ide. Maka dari itu, penulis-penulis yang mengalami hal seperti itu melakukan transaksi ide cerita dengan Petter “si Laba-Laba”.

Daya imajinasi yang berlimpah tertuang dalam novel ini, Jostein Gaarden mampu menceritakan perjalanan seorang penulis (baca: Petter) yang dimulai dengan menjual ide-ide cerita kepada penulis lain.

Namun, Petter mendapatkan permasalahan dengan penerbit bahwa beberapa ide cerita yang sudah terjual mengalami kemiripan satu sama lain. Hingga pada akhirnya Petter mulai menuangkan ide ceritanya ke dalam catatannya, tetapi tidak untuk dijual kepada penulis lain melainkan menjual tulisannya untuk kepentingan diri sendiri.

Dengan membaca novel ini, pembaca akan mengetahui bahwa tidak semua orang yang memiliki kemampuan menulis ingin menjadi penulis yang dikenal oleh banyak orang. Sama halnya dengan Petter yang selalu berkeinginan menjadi seorang penulis, tetapi sangat tidak suka dengan “ketenaran”, sehingga membuat dirinya menulis dibalik layar (menjual ide-ide cerita).

Jika kamu ingin mengetahui novel-novel Jostein Gaarde, kamu  bisa membelinya di toko gramedia,com. 

Percintaan Seorang Penulis

Pernahkah Anda membayangkan bagaimana percintaan seorang penulis dengan kekasihnya? Novel yang bercerita tentang penulis memiliki kisah percintaan yang bisa dibilang tidak ingin terikat oleh suatu hal (baca: pernikahan).

Petter seorang penulis yang memiliki pendirian agar tidak terikat dengan seseorang perempuan dan memiliki pemikiran yang sangat luas. Selain itu, Petter juga memiliki standar-standar hidupnya dalam berkomunikasi dan membagikan informasi.

Semua pendirian dan standar-standar yang dimiliki oleh Petter pada akhirnya harus takluk oleh seseorang perempuan yang lebih tua 10 tahun dari diri Petter. Perempuan itu bernama Maria. Maria merupakan seorang perempuan yang memiliki sifat hampir sama dengan Petter atau bisa dikatakan sebagai sifat Maria adalah cerminan dari Peeter.

Petter sangat mencintai Maria, hingga Petter merasa kalau perempuan yang dicintainya itu memang dikirm khusus untuk dirinya. Semua cerita yang diceritakan hanya satu kali oleh Petter dapat dihapal dengan baik oleh pujaan hatinya, sehingga Petter semakin mencintainya.

Namun, kisah cinta Petter harus kandas karena Maria lebih memilih pergi ke Norwgia dan meninggalkan Petter. Ia pergi Norwegia untuk melanjutkan studinya di wilayah Georg. Sebelum pergi, perempuan yang dicintai Petter memiliki satu keinginan untuk memiliki seorang anak dari Petter.

Namun dengan catatan bahwa Petter tidak boleh mencari informasi tentang keberadaan Maria dan anak biologisnya, selain itu Maria tidak akan memberikan nama asli anak biologisnya. Petter yang mendengar keinginan itu sangat terkejut dan tetap menerima keinginan itu.

Setelah bertahun-tahun tidak ketemu dengan Maria dan anak biologisnya, di tahun ketiga Petter bertemu dengan Maria dan anak biologisnya yang berjenis kelamin perempuan. Ketika bertemu dengan anaknya, Petter sangat senang dan mereka bisa bermain bersama.

Anak perempuan itu dipanggil oleh Maria dengan nama Poppet dan sudah pasti nama panggilan itu bukan nama asli karena Maria sangat tidak mengizinkan Petter mengenal lebih jauh tentang kehidupan dirinya dan anaknya.

Ketika bertemu, Petter, Maria, dan anaknya melakukan piknik di pinggiran danau. Petter yang memiliki ide dan daya imajinasi yang berlimpah mulai menceritakan sebuah dongeng yang sangat disukainya semasa kecil.

Dongeng itu menceritakan tentang seorang Putri Sirkus yang memiliki nama Panina Manina. Sebelum diceritakan pada anaknya, dongen tersebut pernah diceritakan pada ibunya dan Maria.

Hal yang perlu digarisbawahi dalam kisah percintaan Petter adalah kebahagiaan seseorang tidak ada yang mengetahui. Kisah cinta yang harus berakhir tanpa adanya sebuah ikatan bisa menjadi jalan terbaik untuk mendapatkan kebahagiaan, baik itu untuk Petter, Maria, atau anak biologis mereka. Selain itu, tidak semua kisah percintaan penulis sama dengan kisah percintaan Petter “si Laba-Laba”.

Kesimpulan Novel Princess of Tales

Bagi kamu yang ingin mengetahui dunia kepenulisan, tetapi tidak ingin melalui buku non-fiksi, maka buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca.

Ketika seseorang membaca novel ini, ia akan menemukan berbagai macam jenis penulis, cara-cara mendapatkan ide dan cara mengembangkannya.

Terlebih lagi, pembaca akan mengetahui cara mengatasi kebuntuan ide agar tidak terjebak dalam sebuah karya.

Jostein Gaarder melalui novel ini ingin memberitahukan bahwa imajinasi yang berlimpah dan akan terus ada harus dimiliki oleh seorang penulis. Imajinasi yang sudah dimiliki oleh penulis harus tahu cara mengembangkan imajinasi yang sudah ada di kepala agar tidak terjebak dalam membuat sebuah karya tulis.

Imajinasi yang dapat dikembangkan akan menghasilkan sebuah karya tulis. Hal yang terpenting dalam dunia kepenulisan adalah jangan pernah putus asa dalam membuat sebuah karya tulis.

Written by Restu