in

Buku Karya Pramoedya Ananta Toer Terbaik

Sumber: gramedia.com

Buku Pramoedya Ananta Toer – Halo, Grameds. Tentunya kalian tidak asing dengan sosok yang satu ini, meski kalian lahir di era millennium. Sosok tersebut adalah Pramoedya Ananta Toer, seorang pengarang novel terkenal pada tahun 1940-an.

Pram, begitu sapaan akrabnya, lahir di Blora, Jawa Tengah, pada tanggal 6 Februari 1925. Memiliki nama asli Pramoedya Ananta Mastoer. Karena Pram merasa bahwa nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) terlalu aristokratik, maka beliau menghilangkan awalan “Mas” dari nama “Mastoer”, dan hanya menggunakan nama “Toer’ sebagai nama keluarganya.

Menceritakan sosok seorang Pramoedya Ananta Toer seolah tidak ada habisnya, karya-karya Pram dikenang oleh banyak pembaca dari berbagai daerah, bahkan dari berbagai negara. Beberapa buku karya Pram diterjemahkan ke bahasa asing, terutama bahasa Inggris dan Belanda. Hal ini membuktikan, bahwa karya Pram dikenal luas.

Buku-buku karya Pram banyak yang menjadi buku populer, di antaranya adalah Bumi Manusia (1980), Anak Semua Bangsa (1980), Jejak Langkah (1985), Rumah Kaca (1988), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu I (1995), Nyanyi Sunyi Seorang Bisu II (1996), Arus Balik (1995), Arok Dedes (1999), Larasati (2000), Cerita dari Blora (1950-an), Perburuan, Korupsi, Keluarga Gerilya, Panggil Aku Kartini Saja semuanya ditulis tahun 1950-an, kemudian ada Mangir, Kronik Revolusi I, II, dan III, Cerita-cerita dari Digul, dan Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer.

Buku Pramoedya Ananta Toer Terbaik

Grameds, buat kalian yang masih penasaran dengan karya-karya Pramoedya Ananta Toer, kali ini kita akan mencoba membahas beberapa karya Pram yang terbaik.

1. Bumi Manusia

https://www.gramedia.com/products/bumi-manusia-0?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/bumi-manusia-0?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Sebagai penikmat sastra, pastinya kalian tidak asing dengan karya yang satu ini, yaitu Bumi Manusia. Karya ini pernah diangkat ke layar lebar dengan menghadirkan bintang-bintang ternama, seperti Iqbaal Ramadhan, Mawar de Jongh, Ayu Laksmi, dan deretan bintang film kenamaan lainnya. Film besutan sutradara terkenal, Hanung Bramantyo ini mencoba menghadirkan karya Pram dalam bentuk visual.

Bumi Manusia merupakan salah satu karya besar dalam ranah sastra Indonesia. Buku ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1980. Buku ini sempat mendapat tantangan, karena adanya pelarangan terbit bagi karya Pram.

Mengapa dilarang? Hal ini terjadi karena karya ini dianggap mengandung ajaran Marxisme dan Leninisme, di mana ajaran ini dilarang pada masa pemerintahan Orde Baru.

Terlepas dari hal tersebut, buku setebal 538 halaman ini dianggap sebagai sebuah mahakarya yang menjadi warisan sejarah terbaik bagi Indonesia.

Cerita ini mengambil latar belakang dan cikal bakal berdirinya Republik Indonesia pada awal abad ke-20. Masa ini merupakan masa-masa dimulainya pergerakan nasional, berkembangnya pemikiran politik etis, dan awal kebangkitan nasional menuju Indonesia modern.

Bumi Manusia menceritakan tentang kisah kehidupan seorang pemuda pribumi bernama Minke. Minke seorang pelajar di H.B.S (Hogere Burgerschool), jenjang pendidikan setingkat dengan Sekolah Menengah Akhir (SMA) yang hanya diperuntukkan bagi orang Eropa, Belanda, dan Elite Pribumi.

Meski berdarah pribumi, Minke adalah anak yang pandai di sekolahnya, Minke menyukai sastra, dan memiliki kecakapan dalam bidang kepenulisan. Hal ini dibuktikan dengan tulisannya banyak dimuat di koran Belanda dengan nama Max Tollenaar (sebuah nama samaran). Sehingga nama ini cukup dikenal di Jawa berkat tulisan-tulisannya.

Romantisme Minke berawal saat Minke mendapatkan tantangan dari temannya yang bernama Robert Suurhof. Suurhof menantang Minke untuk pergi ke Wonokromo guna mendatangi seorang gadis cantik berdarah Indo-Eropa, yang bernama Annelies Mellema.

Ternyata Suurhof juga menyukai Annelies Mellema, jadi Minke dan Suurhof menjadi rival, karena sama-sama mencintai Annelies. Namun Annelies justru mencintai Minke.

Meski mendapat banyak hambatan dan tantangan, Minke bersikeras tetap berupaya untuk mendapatkan Annelies. Hal ini dilakukan, karena Annelies merupakan seorang wanita cantik jelita, memiliki pribadi yang lembut dan baik hati. Kepribadiannya yang lembut dan baik, dibuktikan dengan sikapnya yang mampu mengelola perusahaan dengan Nyai Ontosoroh, Ibunya.

Setelah melalui berbagai macam tantangan dan rintangan, akhirnya Minke dan Annelies menikah. Kehidupan yang mereka jalani bahagia, bahkan karier Minke meningkat sangat baik.

Minke lulus dari H.B.S dengan peringkat memuaskan, meski sebelumnya sempat diberhentikan, karena berbagai macam tuduhan yang disangkakan atas dirinya, seperti melakukan hal yang tidak pantas terhadap seorang Nyai. Namun semua tuduhan itu dapat dilalui dan dihadapi oleh Minke.

Selanjutnya, kejadian apa yang akan muncul dalam setiap lembar halaman buku ini? Penasaran dengan kelanjutan cerita dari Bumi Manusia ini? Segera miliki dan kunjungi www.gramedia.com untuk mendapatkan bukunya.

2. Anak Semua Bangsa

https://www.gramedia.com/products/anak-semua-bangsa-0?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/anak-semua-bangsa-0?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Buku berikutnya berjudul Anak Semua Bangsa. Buku ini ditulis oleh Pram, selama berada dalam masa pengasingan di Pulau Buru.

Masih menceritakan tentang kehidupan Minke. Seorang ningrat, putra Bupati Bojonegoro. Minke harus membayar konsekuensi atas pilihannya yang memutuskan menjadi manusia merdeka agar bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan kata hatinya daripada
harus mengenyam pendidikan khas Eropa, guna meneruskan ayahnya.

Sebagai seorang putra bangsawan, Minke harus merasakan sistem kolonial. Minke sadar, bahwa dia sedang hidup di sebuah alam yang penuh sekat, di mana pada waktu itu bangsa Eropa dianggap sebagai dewa segalanya.

Di sini juga diceritakan bahwa Annelies, istri Minke meninggal di Belanda, setelah dipaksa ikut bersama walinya yang sah secara hukum, yaitu Maurits Milena, yang juga merupakan saudara tiri Annelies.

Nyai Ontosoroh, mertua Minke, mengajak Minke pergi ke Tulangan untuk mengunjungi keluarga Nyai, agar kesedihan Minke berkurang. Dalam kunjungannya tersebut, Minke bertemu dengan kaumnya yang menderita akibat pemberlakuan kebijakan sistem kolonial.

Apakah yang dilakukan oleh Minke kemudian? Bagaimana kisah selanjutnya? Buku ini juga mendapat tanggapan bagus dari luar negeri, sehingga nama Pramoedya Ananta Toer acap kali disebut sebagai kandidat peraih nobel dari Indonesia dan Asia Tenggara untuk mendapat hadiah nobel di bidang sastra.

Miliki segera buku ini!

3. Mangir

https://www.gramedia.com/products/mangir?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasihttps://www.gramedia.com/products/mangir?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Berbeda dengan dua buku yang kita bahas sebelumnya. Novel Pram berjudul Mangir kali ini menceritakan situasi dengan latar setelah kerajaan Majapahit runtuh di tahun 1527.

Novel ini menceritakan tentang seorang raja Pradikan bernama Wanabaya jatuh cinta kepada penari yang sangat cantik, bernama Adisaroh.

Tetapi oleh para patih di kerajaan Mangir, dimana Wanabaya bertahta menjadi raja, tidak setuju dengan hubungan itu. Para patih menganggap tidak pantas seorang raja jatuh cinta dengan seorang penari rakyat yang aktivitasnya menghibur para lelaki yang butuh hiburan.

Akhirnya, para menyetujui permintaan sang raja, karena sang raja sangat jatuh cinta dengan Adisaroh. Permintaan Wanabaya disetujui para patihnya, karena Wanabaya sempat mengungkapkan bahwa ia meminta diturunkan dari tahta, jika hubungannya dengan Adisaroh tidak direstui, hanya karena Adisaroh adalah seorang penari.

Akhirnya hubungan antara Wanabaya dan Adisaroh pun disetujui, kemudian mereka menikah, hingga Adisaroh hamil dan memiliki anak. Waktu demi waktu berjalan, Adisaroh memberikan pengakuan kepada Wanabaya tentang siapa dirinya, dan darimana dia berasal.

Wanabaya sangat kecewa, para patih yang semula tidak menyetujui hubungan ini akhirnya mengetahui apa yang sedang terjadi di antara mereka.

Begitulah kisah singkat dari buku ini. Bagaimana kelanjutan kisah antara Wanabaya dan Adisaroh? Bagaimana kondisi kerajaan Mangir selanjutnya? Segera miliki buku ini, untuk menikmati kisah seru yang berisi tentang roman, sejarah, dan perkembangan sastra yang disajikan oleh Pramoedya Ananta Toer dalam kisah Mangir ini.

4. Jejak Langkah

https://www.gramedia.com/products/jejak-langkah-0?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/jejak-langkah-0?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Jejak Langkah kembali menceritakan tentang kehidupan Minke. Minke menginjakkan kakinya di Batavia untuk menjalani pendidikan dokter di sekolah dokter Pribumi STOVIA (School tot Opleiding van Inlandsche Artsen).

Minke membawa serta barang bawaannya, berupa koper tua, tas dan sebuah lukisan wanita dalam sampul beludru merah anggur dengan menumpang kereta menuju halte terakhir Weltevreden atau Gambir menurut orang Betawi.

Minke berkeinginan untuk membebaskan diri seutuhnya dari segala ikatan darah, adat, bahkan bumi. Ia ingin bebas sepenuhnya dari kepentingan pribadi yang melekat. Namun, Minke harus menahan pedihnya dinamika kehidupan di asrama yang berlawanan dengan keinginannya untuk bebas.

Dalam menjalani studi, Minke juga merasa tidak nyaman dengan aturan-aturan yang diterapkan di sekolah, seperti aturan harus menggunakan pakaian adat Jawa selama mengikuti kegiatan sekolah.

Setelah Annelies Mellema, istri Minke meninggal dunia. Putra bupati Bojonegoro ini berkenalan dengan seorang putri berdarah Tionghoa berkat wasiat yang diberikan oleh seorang yang berjuang untuk negerinya, Tiongkok, namun terbunuh di bumi Hindia, bernama Khouw Ah Soe.

Wanita itu bernama Ang San Mei, yang kemudian menjadi istri Minke. Ang San Mei adalah wanita cerdas, organisator ulung bagi kaum Tionghoa nasionalis yang menentang kekaisaran China. Mei bekerja di Hindia Belanda dan memiliki misi mempersatukan bangsa Tionghoa yang berada di Hindia Belanda, agar mau menggulingkan kekuasaan Tiongkok lama yang bekerja sama dengan imperialis Inggris.

Semenjak Minke memperistri Mei, pemikiran Minke menjadi lebih kritis dan tajam terhadap Belanda, kala itu. Istri Minke ini sering mengatakan kepada Minke, bahwa ia tidak ingin memiliki suami yang hanya “sekedar dokter”. Ia ingin agar suaminya mengabdikan diri untuk pribumi Inlander, sebagaimana Mei mengabdi pada bangsa Tionghoa.

Minke tidak menyelesaikan studinya di STOVIA, ia memilih terjun ke dunia jurnalistik. Minke menganggap dunia jurnalistik merupakan senjata yang ampuh untuk melawan ketidakadilan di bumi Hindia Belanda ini.

Bagaimanakah kelanjutan dari kisah Minke dalam Jejak Langkah ini? Apa yang ia lakukan untuk melawan ketidakadilan ini? Segera pinang dan bawa pulang buku ini untuk mengetahui kelanjutan ceritanya.

5. Arok Dedes

https://www.gramedia.com/products/arok-dedes?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

https://www.gramedia.com/products/arok-dedes?utm_source=bestseller&utm_medium=bestsellerbuku&utm_campaign=seo&utm_content=BestSellerRekomendasi

Pasti kalian sering mendengar nama Ken Arok dan Ken Dedes. Ya, Ken Arok merupakan seorang pendiri kerajaan Singasari yang berkuasa di wilayah Tumapel. Sedangkan Ken Dedes adalah permaisuri dari Ken Arok.

Arok Dedes menceritakan kisah sejarah kudeta atau perlawanan dan pemberontakan Ken Arok terhadap akuwu (istilah sekarang camat) Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Buku ini juga menceritakan kondisi sosial politik pada masa itu.

Pram ingin memberikan sudut pandang yang berbeda tentang seorang Ken Arok. Pada buku pelajaran sejarah, sosok Ken Arok digambarkan sebagai seorang berandalan pemberontak.

Namun, di sini diceritakan tentang sosok Ken Arok yang merupakan seorang pemimpin rakyat yang tidak puas dengan bentuk penindasan yang dilakukan oleh pemerintah masa itu.

Dalam buku ini dikisahkan tentang gambaran kondisi pemberontakan yang terjadi pada suatu negara atau kerajaan yang sarat dengan intrik politik. Jika kita mengenal istilah kudeta, maka kejadian dalam cerita ini merupakan kudeta pertama dalam sejarah bangsa ini.

Kudeta ini penuh dengan rekayasa kelicikan, kudeta ala Jawa, yang tidak terlibat justru menjadi korban. Buku ini seolah menceritakan kondisi yang tengah dialami oleh Pram. Pembaca seolah diajak untuk beralih peristiwa dari abad 13 ke abad 20 di tahun 1965-an.

Pada tahun itu sedang terjadi peralihan kekuasaan dari Orde Lama yang dipimpin oleh Soekarno ke Orde Baru yang dengan penguasa Soeharto. Buku ini mengisahkan tentang bagaimana orang yang berkuasa berhasil melempar tuduhan kudeta kepada pihak lain, sampai-sampai yang difitnah menjadi korban kesengsaraan yang berkepanjangan.

Semakin penasaran dengan ceritanya? Sepertinya ada kemiripan antara kudeta Ken Arok pada tahun 1220-an dengan peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soeharto sekitar tahun 1965-an. Segera miliki buku ini untuk melanjutkan perjalanan kisah peralihan kekuasaan melalui bahasa sastra.

Nah, Grameds, itulah sebagian dari karya populer yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer. Buku mana yang menjadi kesukaan kalian? Jika kalian telah memiliki salah satu karya Pramoedya Ananta Toer, usahakan untuk membacanya hingga selesai, sebelum berganti buku karya Pram yang lain.

Kalian akan menemukan keasyikan dalam menikmati karya-karya Pram yang sering dianggap sulit untuk dicerna.Pram sendiri telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan telah diterjemahkan ke sekitar 40-an bahasa.

Nama Pram sering diusulkan sebagai kandidat terbaik dari Indonesia dan Asia tenggara untuk meraih penghargaan berupa nobel di bidang sastra. Beberapa penghargaan yang pernah diterima oleh Pram, antara lain PEN/ Barbara Goldsmith Freedom to Write Award (1988), Ramon Magsaysay Award for Journalism, Literature and Creative Communication Arts (1995), dan lain sebagainya.

Sebelum Pram bergabung dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), dan menjadi tahanan politik pada era orde baru, Pram pernah mendapatkan penghargaan dari dalam negeri, penghargaan tersebut dari Balai Pustaka (1951), atas novelnya Bukan Pasar Malam (1951).

Banyak karya-karya Pram yang dianggap sering mengkritik pemerintah pada masa itu. Akibatnya, Pram dipenjarakan oleh pemerintah. Pada tahun 1960, Pram dipenjara tanpa proses pengadilan, dan diasingkan ke Pulau Buru.

Meski berada di pembuangan, tidak menyurutkan produktivitas Pram untuk berkarya. Selama berada di Pulau Buru, beberapa karya Pram lahir, diantaranya tetralogi Bumi Manusia. Pada saat Pram mendapat penghargaan Ramon Magsaysay Award, banyak tokoh sastra di Indonesia yang melayangkan keberatan. Hal ini disebabkan, karena Pram dianggap aktif sebagai bagian dari anggota sayap kiri (Lekra).

Usia Pram semakin lanjut, ditambah lagi kebiasaan merokoknya membuat kesehatan Pram semakin menurun. Pada tanggal 30 April 2006, Pramoedya Ananta Toer menghadap beristirahat dengan tenang untuk selama-lamanya.

Meski tidak pernah merasakan kebebasan dalam bersuara, namun karya Pram masih dapat dinikmati hingga sekarang. Maka dari itu, jangan tunda rasa penasaran kalian, segera kunjungi Gramedia.com, agar kalian bisa memiliki karya-karya abadi Pram.

Selain buku karya Pramoedya Ananta Toer, ada buku-buku lain dari tokoh-tokoh yang menuliskan banyak hal tentang sosok Pramoedya Ananta Toer. Jadi, mana karya terbaik Pramoedya Ananta Toer yang terbaik menurut kalian? Gramedia akan selalu hadir untuk kalian dengan bacaan bermutu agar kalian #LebihDenganMembaca, karena Gramedia adalah #SahabatTanpaBatas.

Penulis: Andy Hermawan

Baca juga:

 

Written by M. Hardi