in ,

Review Buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah Karya Ahda Imran

Di Tepi Sejarah – Dari panggung menuju lembaran buku, Di Tepi Sejarah selama tiga seri telah hadir melalui 14 judul monolog yang menghidupkan kembali berbagai ingatan sejarah bangsa.

Kini, jejak pertunjukan tersebut dirangkum dan diabadikan dalam sebuah buku berjudul Antologi Naskah Monolog Di Tepi Sejarah karya Ahda Imran yang sudah tersedia di Gramedia.com.

Buku ini diterbitkan oleh Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia pada 11 November 2025 dengan jumlah 330 halaman.

Grameds dapat menyimak sinopsis lengkap beserta ulasan mengenai kelebihan dan kekurangan buku ini pada pembahasan berikut. Jangan lewatkan berbagai informasi menariknya, Grameds!

Profil Ahda Imran – Penulis Buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah

Ahda Imran lahir pada 10 Agustus 1966 dan dikenal sebagai penyair sekaligus esais asal Indonesia. Ia tumbuh dan berkarya di Cimahi. Puisi serta tulisan-tulisannya kerap dimuat di berbagai surat kabar, termasuk Kompas edisi cetak, dan juga hadir dalam sejumlah antologi.

Selain aktif sebagai penyair dan esais, Ahda juga menulis berbagai naskah drama. Salah satu karya yang cukup dikenal adalah naskah untuk seri teater Monolog 3 Perempuan yang ditulis bersama Gunawan Maryanto dan Djenar Maesa Ayu. Pada tahun 2013, ia turut menulis naskah Monolog Inggit Garnasih yang dipentaskan oleh Happy Salma dengan arahan sutradara Wawan Sofwan.

Karya-karyanya pun mendapat banyak apresiasi. Kumpulan puisinya yang berjudul Rusa Berbulu Merah berhasil masuk lima besar nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa pada tahun 2014. Kemudian pada Festival Film Indonesia 2022, Ahda Imran bersama Kamila Andini masuk nominasi Penulis Skenario Adaptasi Terbaik melalui film Nana. Di tahun yang sama, ia juga memenangkan Sayembara Naskah Teater Dewan Kesenian Jakarta lewat naskah Mesin Jemaat.

Ahda Imran telah menghasilkan banyak karya puisi, antologi, naskah drama, hingga buku nonfiksi. Beberapa di antaranya adalah 70 Puisi: Penunggang Kuda Negeri Malam (2008), Rusa Berbulu Merah: Kumpulan Puisi 2008–2013 (2014), 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur! (2010) bersama Zaki Yamari, Monolog Inggit Garnasih (2013), Monolog 3 Perempuan (2014), serta Tan Malaka: Saya Rusa Berbulu Merah.

Sinopsis Buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah

button cek gramedia com

Di Tepi Sejarah merupakan rangkaian monolog yang mengangkat sosok-sosok di luar arus besar sejarah Indonesia. Tokoh-tokoh tersebut mungkin terlupakan oleh zaman, tetapi memiliki kontribusi penting bagi perjalanan peradaban bangsa.

Walaupun menghadirkan kisah tokoh-tokoh dari masa lampau, Di Tepi Sejarah tetap terasa dekat dengan kondisi masa kini. Isu politik, sosial, kesenian, hingga kebudayaan yang diangkat membuat pembaca semakin memahami makna kehidupan berbangsa dan pentingnya menengok kembali sejarah.

Buku ini memuat 14 naskah dari seri monolog Di Tepi Sejarah musim pertama, kedua, dan ketiga yang menampilkan 14 tokoh bangsa. Pertunjukan Di Tepi Sejarah juga masih dapat disaksikan melalui kanal YouTube Budaya Saya dan Kanal Budaya Indonesiana TV.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah

Pros & Cons

Pros
  • Mengangkat tokoh sejarah Indonesia yang jarang dibahas.
  • Sarat makna dan renungan.
  • Relevansi dengan isu modern.
  • Ditulis berdasarkan riset sejarah yang mendalam.
  • Menjadi referensi seni.
Cons
  • Bukan berbentuk narasi sejarah.
  • Gaya penulisan yang kurang modern.

 

Kelebihan Buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah

Buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah karya Ahda Imran merupakan sebuah karya sastra yang menyajikan begitu banyak kelebihan.

  • Mengangkat tokoh sejarah Indonesia yang jarang dibahas

Buku ini menghadirkan sederet tokoh penting Indonesia yang namanya masih jarang ditemukan dalam buku pelajaran, seperti Emiria Soenassa sebagai pelukis perempuan pertama, Kassian Cephas sebagai fotografer pribumi pertama, hingga Fransisca Casparina Fanggidaej. Keempat belas tokoh yang diangkat berasal dari latar budaya dan daerah yang berbeda-beda.

Melalui monolog yang disajikan secara artistik, pembaca diajak mengenal perjalanan hidup serta kontribusi mereka bagi bangsa. Seni dalam buku ini menjadi medium yang kuat dan lentur untuk menyampaikan kembali gagasan-gagasan sejarah kepada pembaca masa kini.

  • Sarat makna dan renungan

Antologi ini memuat naskah asli karya sebelas penulis, di antaranya Ahda Imran, Deddy Otara, Esha Tegar Putra, Felix K. Nesi, Guruh Dimas Nugraha, Hasta Indriyana, Ibed S. Yuga, Iswadi Pratama, Kamila Andini, Nia Dinata, dan Putu Fajar Arcana.

Ahda Imran memilih menggunakan versi naskah dari para penulis, bukan adaptasi sutradara, sehingga karakter dan sudut pandang tiap karya tetap terasa kuat.

Pilihan tersebut juga membuka peluang hadirnya antologi lanjutan yang memuat interpretasi versi pementasan para sutradara.

  • Relevansi dengan isu modern

Walaupun mengambil latar sejarah masa lampau, isu yang diangkat di dalam buku ini masih terasa dekat dengan kehidupan saat ini. Konflik sosial, politik, budaya, hingga pergolakan emosi para tokohnya mampu menggambarkan realitas Indonesia modern.

Hal inilah yang membuat Di Tepi Sejarah tidak hanya menarik sebagai karya sastra, tetapi juga relevan sebagai bahan refleksi kehidupan berbangsa.

  • Ditulis berdasarkan riset sejarah yang mendalam

Naskah-naskah dalam buku ini lahir dari perpaduan antara riset sejarah yang kuat dan sentuhan imajinasi sastra yang matang. Pendekatan tersebut membuat kisah setiap tokoh terasa hidup, dekat, dan emosional tanpa kehilangan nuansa sejarahnya.

Selain itu, pembaca juga dapat menikmati cerita yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyentuh secara emosional.

  • Menjadi referensi seni

Kehadiran buku ini dapat menjadi sumber referensi penting bagi pelajar, mahasiswa, aktor, maupun komunitas teater. Kumpulan monolog yang disajikan memberikan contoh naskah berkualitas yang layak dijadikan bahan pembelajaran maupun pementasan. Tidak hanya bernilai sastra, buku ini juga memiliki manfaat praktis bagi dunia seni pertunjukan.

Kekurangan Buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah

Meskipun Buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah karya Ahda Imran menawarkan banyak kelebihan, buku ini tetap tidak luput dari kekurangan yang bisa menjadi masukan bagi penulis.

  • Bukan berbentuk narasi sejarah

Karena dikemas dalam bentuk drama dan fiksi sejarah, buku ini memuat unsur dramatik serta imajinasi dari para penulisnya. Oleh sebab itu, isi buku tidak dapat dijadikan satu-satunya rujukan akademis untuk memahami sejarah secara ilmiah.

Pembaca tetap perlu mencari referensi tambahan apabila ingin mempelajari fakta sejarah secara lebih mendalam.

  • Gaya penulisan yang kurang modern

Bagi pembaca yang lebih terbiasa dengan novel atau biografi naratif, format penulisan drama dalam buku ini mungkin terasa cukup asing di awal. Adanya petunjuk panggung, pembagian adegan, dan dialog yang dominan dapat membuat alur bacaan terasa kurang mengalir bagi sebagian orang.

Namun, seiring membaca, gaya penulisan tersebut justru dapat memberikan pengalaman yang berbeda dan khas.

Monolog: Pengertian, Ciri-Ciri dan Jenisnya

Monolog merupakan bentuk percakapan atau pidato panjang yang dibawakan oleh satu tokoh dalam pertunjukan teater, film, maupun seni peran lainnya.

Lewat monolog, seorang tokoh menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, hingga pergolakan batin yang dimilikinya, baik kepada dirinya sendiri, penonton, maupun tokoh lain yang tidak memberikan tanggapan secara langsung. Ciri-ciri monolog adalah sebagai berikut:

  • Satu Pembicara: Monolog hanya melibatkan satu orang pembicara yang mendominasi percakapan di atas panggung atau layar secara terus-menerus. Fokus utama pertunjukan tertuju pada tokoh tersebut dan apa yang ingin disampaikan.
  • Ungkapan Isi Hati: Dalam monolog, tokoh biasanya menyampaikan isi hati, emosi, konflik moral, atau rahasia terdalam yang tidak dapat ia ungkapkan kepada orang lain. Hal ini membuat penonton dapat memahami sisi emosional karakter secara lebih mendalam.
  • Interaksi Satu Arah: Apabila terdapat tokoh lain di dalam adegan, mereka umumnya hanya menjadi pendengar tanpa menyela pembicaraan. Situasi ini membuat perhatian penonton sepenuhnya tertuju pada narasi dan ekspresi tokoh utama.
  • Membangun Suasana: Monolog sering dimanfaatkan untuk memperjelas latar belakang cerita, menggambarkan suasana tertentu, atau membantu perkembangan alur tanpa perlu menghadirkan banyak adegan tambahan. Karena itulah, monolog memiliki peran penting dalam memperkuat emosi dan kedalaman cerita.

Monolog dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

  • Monolog Dramatis: Jenis monolog ini terjadi ketika seorang tokoh berbicara kepada karakter lain yang hadir di panggung, tetapi lawan bicaranya tidak memberikan respons secara langsung. Fokus utamanya terletak pada penyampaian emosi dan gagasan dari tokoh yang berbicara.
  • Soliloki (Soliloquy): Soliloki adalah bentuk monolog ketika tokoh berbicara kepada dirinya sendiri saat berada sendirian di panggung. Melalui teknik ini, penonton dapat mengetahui isi pikiran terdalam, keraguan, maupun pergolakan batin yang sedang dialami tokoh tersebut.
  • Monolog Naratif: Pada jenis ini, tokoh menyampaikan sebuah kisah atau pengalaman secara langsung kepada penonton, layaknya seorang pendongeng. Biasanya monolog naratif digunakan untuk membawa penonton masuk ke dalam peristiwa masa lalu atau pengalaman penting dalam cerita.

Penutup

Buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah menjadi karya yang penting untuk dibaca karena berhasil menghidupkan kembali nama-nama yang perlahan terlupakan dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Melalui pendekatan yang personal dan emosional, buku ini tidak hanya memperkenalkan tokoh-tokoh berpengaruh yang tersisih dari buku pelajaran, tetapi juga menghadirkan sisi manusiawi mereka yang jarang diketahui.

Setiap monolog terasa seperti suara yang kembali dipanggil dari masa lalu, membawa luka, perjuangan, dan harapan yang pernah mereka tinggalkan untuk bangsa ini. Bersama setiap narasi yang diungkapkan dalam bukunya, pembaca bukan saja diajak mengenal sejarah, tetapi juga diajak untuk merenungkan siapa saja yang selama ini luput dari ingatan. Semakin dalam membaca, semakin terasa bahwa masih banyak kisah di balik sejarah Indonesia yang belum benar-benar selesai diceritakan.

Kalau kamu tertarik untuk mendalaminya, buku Antologi Naskah Monolog: Di Tepi Sejarah karya Ahda Imran ini bisa kamu dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung kamu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

 

Penulis: Gabriel

 

Rekomendasi Buku

Jais Darga Namaku

Jais Dirga Namaku

button cek gramedia com

DENGAN LATAR belakang kehidupan keluarga menak Sunda, dunia anak muda Kota Bandung 1970-an, hingga bisnis seni rupa di Paris, London, Amsterdam, New York, Singapura, dan Hongkong, buku ini mengisahkan perjalanan hidup seorang perempuan Indonesia dengan seluruh ambisinya. Ambisi yang membuatnya dikenal sebagai Jais Darga atau Madam Darga, seorang art dealer internasional di Paris. Ambisi yang membuat Jais terus mengembara ke banyak negeri jauh, sehingga ia tak bisa lagi membedakan apakah ia sedang “pergi” atau “pulang”.

Autobiografi (as told to) yang disajikan dengan gaya novel ini tak hanya berkisah perihal Jais Darga, tapi juga mengisahkan pergulatan hidup seorang perempuan, seorang anak, seorang istri dan ibu. Berbaur dengan ambisi dan pergulatannya dalam dunia bisnis, ada banyak lapisan kisah yang tersimpan. Kisah perempuan dalam kesepiannya, kegelisahannya, kesakitan, pengkhianatan, dan penghinaan.

 

Mamak Pulang

Mamak Pulang

button cek gramedia com

Pelajaran berharga dari Mamak yang paling melekat dalam hidup saya adalah nilai-nilai sederhana yang ternyata merupakan kompas moral sepanjang perjalanan hidup ini. Mamak selalu berpesan, jangan serakah. Dalam hidup ini katanya, yang terpenting bukanlah tentang seberapa banyak yang kita miliki. Pesan itu terdengar sederhana, namun justru di situlah letak kebijaksanaannya. Mamak juga selalu menekankan untuk tidak pernah menyerah, apalagi putus asa. Ia percaya bahwa setiap kesulitan datang membawa pelajaran. Kalau jatuh, bangkitlah lagi, ”Never Say Die” katanya, Kalimat itu begitu sering saya dengar hingga melekat di hati, menjadi pegangan di saat-saat paling sulit dalam hidup.

 

Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica dan Cerita-Cerita Lainnya

Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica

button cek gramedia com

Sebagaimana bergerak untuk mengaktifkan dan melatih tubuh, menulis dan membaca saya hayati sebagai disiplin untuk mengaktifkan daya kognisi dan imajinasi otak. Dari situ selama isolasi sosial disebabkan wabah Covid-19 ini lahir “Kronik Pangeran Benawa Menurut Jessica” dan cerita-cerita lainnya.

“Membaca Bre melalui cerita-ceritanya kita merasa berada di antara masa lalu yang terus memanggil dan masa kini yang terus bergerak ke masa depan.”

—Linda Christanty, Penulis dan pegiat budaya

 

Written by Dzikri N. Hakim