The Book You Wish Your Parents Had Read – The Book You Wish Your Parents Had Read (Orang Tuamu Wajib Baca Buku Ini, dan Anakmu Akan Senang Jika Kamu Membacanya adalah salah satu buku yang sangat menarik perhatian berbagai generasi.
Dengan melihat judulnya saja, kamu akan tahu, sedikit banyak buku ini akan membahas hal-hal yang relevan tentang hubungan orang tua dan anak. Terutama, bagi kamu yang memiliki masa kecil dengan pengalaman pahit, dan tidak ingin anaknya kelak merasakan hal seperti itu.
Pertama kali diterbitkan pada Maret 2019, buku The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry ini sudah hadir dalam versi terjemahan Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Renebook pada 18 Oktober 2022.
Buku ini dipenuhi pesan positif dan penuh optimisme untuk menjadi orang tua yang baik, yang mampu menerapkan pola asuh terbaik bagi anak.
Grameds yang merupakan orang tua atau calon orang tua, direkomendasikan untuk membaca buku ini. Mari wujudkan pola asuh yang tepat untuk buah hatimu! Informasi lebih lengkap mengenai buku ini sudah Gramin rangkum di bawah ini.
Table of Contents
Profil Philippa Perry – Penulis Buku The Book You Wish Your Parents Had Read
Philippa Perry (lahir 1 November 1957) merupakan seorang penulis dan psikoterapis asal Inggris. Ia dikenal melalui sejumlah karyanya, seperti Couch Fiction: A Graphic Tale of Psychotherapy (2010), How to Stay Sane (2012), The Book You Wish Your Parents Had Read (and Your Children Will Be Glad That You Did) (2019), serta The Book You Want Everyone You Love To Read (and Maybe a Few You Don’t) (2023).
Ia menikah dengan Grayson Perry dan dikaruniai seorang putri bernama Florence yang lahir pada tahun 1992. Keluarga ini menetap di London. Dalam berbagai kesempatan, ia kerap mendapat pertanyaan tentang kehidupannya bersama sang suami yang dikenal sebagai seorang transvestit, dan ia menjawab dengan ringan bahwa hal tersebut justru menyenangkan karena membuatnya selalu tampil menarik.
Pada tahun 1985, ia mengikuti pelatihan dan menjadi relawan di Samaritans. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan sebagai psikoterapis dan menjadi anggota Asosiasi Praktisi Psikologi Humanistik Inggris. Selama kurang lebih dua dekade, Perry berkecimpung di bidang kesehatan mental, termasuk sepuluh tahun membuka praktik pribadi, sebelum akhirnya aktif menulis dan menerbitkan karya-karyanya.
Sinopsis Buku The Book You Wish Your Parents Had Read
Setiap orang tua tentu menginginkan kebahagiaan bagi anaknya. Namun, kenyataannya orang tua yang merasa bahagia tidak selalu mampu menghadirkan kebahagiaan yang sama bagi anak.
Kondisi tersebut kerap menjadi dilema, terutama bagi orang tua baru yang masih mencari cara terbaik dalam mengasuh dan mendidik anak dengan tepat sekaligus menyenangkan.
Melalui buku ini, Perry menghadirkan pendekatan parenting yang berangkat dari hal-hal mendasar. Ia menyoroti bahwa relasi antara orang tua dan anak seringkali terabaikan dalam banyak buku parenting lain yang lebih menitikberatkan pada metode atau teknik tertentu.
Selain itu, setiap konsep yang disampaikan dilengkapi dengan contoh kasus yang relevan, sehingga memudahkan pembaca memahami situasi nyata sekaligus cara menerapkannya.
Buku ini mendorong pembaca untuk lebih sadar bahwa kualitas hubungan antara orang tua dan anak memegang peranan penting dalam proses pengasuhan, serta menjadi pondasi utama dalam membentuk perkembangan anak hingga dewasa.
Kelebihan dan Kekurangan Buku The Book You Wish Your Parents Had Read
Kelebihan Buku The Book You Wish Your Parents Had Read
Buku The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry merupakan buku panduan yang tepat bagi siapapun yang ingin belajar tentang pola asuh atau mendalami pola asuh yang diterima dirinya.
- Bisa dibaca semua kalangan
The Book You Wish Your Parents Had Read adalah buku untuk semua kalangan. Para orang tua, calon orang tua, atau bahkan kamu yang bukan calon orang tua, tetapi semata-mata untuk mencari tahu mengapa kamu merasakan apa yang kamu rasakan.
Buku tentang pola asuh ini menyajikan hal-hal yang relevan dengan semua kalangan terkait hubungan orang tua dengan anak.
- Pengingat bagi anak & orang tua
Buku ini memuat fakta-fakta yang mungkin sulit diterima, seperti fakta bahwa kamu tidak seharusnya diperlakukan seperti itu oleh orang tuamu. Namun, buku ini berulang kali mengingatkan bahwa selain sebagai orang tua, mereka juga manusia. Manusia yang bisa membuat kesalahan, manusia yang tidak luput dari emosi.
- Memberikan validasi perasaan
Melalui penjelasannya, Philippa Perry membantu pembaca memahami alasan di balik perasaan dan perilaku mereka. Ia mengaitkan pengalaman masa kecil dengan kondisi emosional saat ini, sehingga pembaca merasa dipahami.
Buku ini memberikan rasa lega, kejelasan, sekaligus kehangatan yang mungkin selama ini tidak disadari dibutuhkan.
- Berisi Nasihat praktis
Sebagai seorang psikoterapis, Perry menyampaikan berbagai saran yang masuk akal, mudah dipahami, dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Ide-ide yang disajikan terasa dekat dengan realitas, terutama bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia anak atau keluarga.
Buku ini juga membantu pembaca menciptakan suasana rumah yang lebih sehat dan harmonis.
Kekurangan Buku The Book You Wish Your Parents Had Read
Meskipun buku The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry menawarkan banyak kelebihan, buku ini tetap tidak luput dari kekurangan yang bisa ditingkatkan lagi.
- Generalisasi penyebab masalah
Sebagian pembaca menilai bahwa buku ini cenderung mengaitkan berbagai kesulitan dalam mengasuh anak dengan pengalaman masa kecil yang kurang baik. Padahal, dalam kenyataannya, tantangan dalam merawat anak, terutama bayi, bisa muncul secara alami dan tidak selalu berakar pada trauma masa lalu. Pendekatan ini membuat beberapa pembaca merasa kurang terwakili.
- Pendekatan yang terlalu normatif
Di beberapa bagian, pemikiran yang disampaikan terasa cukup berat dan cenderung menimbulkan rasa bersalah. Meskipun penulis menyatakan tidak ingin menghakimi, ada contoh yang dianggap terlalu jauh, seperti mengaitkan kebiasaan orang tua menggunakan ponsel dengan risiko perilaku ekstrem pada anak di masa depan. Hal ini membuat sebagian pembaca merasa pendekatannya kurang proporsional.
Tantangan Parenting di Era Digital
Tantangan mengasuh anak di era digital menurut Philippa Perry dan para pakar lainnya tidak hanya soal membatasi durasi penggunaan layar.
Hal yang jauh lebih penting adalah bagaimana menjaga kedekatan emosional tetap terjalin di tengah derasnya distraksi teknologi.
Berikut beberapa tantangan utama yang banyak dihadapi orang tua saat ini:
- Otoritas Orang Tua vs Pengaruh Gawai
Anak-anak kerap lebih percaya pada informasi dari platform digital atau figur seperti YouTuber dibandingkan nasihat orang tua maupun guru. Hal ini dapat menggeser peran orang tua sebagai sumber utama pembelajaran dan nilai.
- Paparan Konten Berisiko
Arus informasi yang tidak terbendung membuka peluang anak terpapar konten yang tidak sesuai usia, mulai dari kekerasan, pornografi, hingga cyberbullying. Dampaknya bisa mempengaruhi perkembangan emosional dan mental anak.
- Kurangnya Literasi Digital Orang Tua
Tidak sedikit orang tua yang masih memiliki pemahaman terbatas tentang teknologi. Kondisi ini membuat mereka kesulitan dalam mengawasi aktivitas digital anak sekaligus memberikan arahan yang tepat.
- Distraksi Koneksi
Penggunaan ponsel yang berlebihan sering kali mengurangi kualitas interaksi langsung. Padahal, menurut Perry, kehadiran penuh secara emosional sangat penting untuk membantu anak merasa dipahami dan dihargai.
Strategi ala Philippa Perry & Pakar
Perry menekankan bahwa setiap perilaku anak merupakan bentuk komunikasi, termasuk ketika mereka terlihat terlalu bergantung pada gawai.
Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan perlu lebih empatik dan penuh kesadaran.
- Validasi Emosi, Bukan Reaksi Emosi
Ketika anak marah saat gawainya dibatasi, hindari langsung merespons dengan kemarahan. Cobalah mengakui perasaan mereka terlebih dahulu, lalu ajak berdiskusi tentang batasan yang sehat.
- Menjadi Contoh yang Konsisten
Anak belajar dari apa yang mereka lihat. Jika orang tua ingin anak lebih bijak dalam menggunakan teknologi, maka orang tua juga perlu menunjukkan kebiasaan yang serupa dalam keseharian.
- Mengutamakan Kualitas Kebersamaan
Meluangkan waktu tanpa gangguan gawai menjadi langkah penting. Misalnya dengan menerapkan waktu khusus di pagi hari, sepulang aktivitas, dan sebelum tidur untuk benar-benar hadir dan terhubung secara emosional dengan anak.
- Tetapkan Batasan Berbasis Autentisitas
Alih-alih memberi larangan tanpa penjelasan, sampaikan alasan dengan jujur dan hangat. Mengungkapkan keinginan untuk menghabiskan waktu bersama dapat membuat anak lebih memahami dan menerima batasan tersebut.
Penutup
Buku The Book You Wish Your Parents Had Read dapat menjadi referensi yang relevan untuk membangun hubungan yang lebih kuat antara orang tua dan anak di tengah tantangan digital.
Pada akhirnya, teknologi mungkin akan terus berkembang, tetapi kebutuhan anak untuk merasa didengar, dipahami, dan dicintai akan selalu menjadi hal yang paling utama.
The Book You Wish Your Parents Had Read merupakan bacaan yang sangat layak dipertimbangkan bagi siapa pun yang sedang memulai perjalanan berkeluarga. Namun, nilai buku ini tidak berhenti disitu saja. Bahkan jika kamu belum atau tidak berencana menjadi orang tua sekalipun, buku ini tetap menjadi pilihan yang tepat untuk dibaca.
Buku The Book You Wish Your Parents Had Read karya Philippa Perry bisa kamu dapatkan di Gramedia.com ya, Grameds! Untuk mendukung kamu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.
Penulis: Gabriel
Rekomendasi Buku
Parenting Your Adult Children
Selama ini membicarakan parenting selalu saja identik dengan membahas mengenai tumbuh kembang anak, mulai dari bayi sampai dengan remaja. Seakan-akan tugas orangtua selesai pada saat anak memasuki usia remaja. Padahal sejatinya, peran sebagai orangtua adalah peran seumur hidup. Orangtua akan menjadi orangtua sampai kapanpun.
Banyak konflik yang terjadi justru ketika anak telah memasuki usia dewasa. Bahkan tidak jarang konflik ini kemudian meruncing dan merusak kedekatan yang selama ini dibangun. Hubungan antara orangtua dan anak dewasa memang menjadi sebuah hubungan yang unik.
Buku ini membahas bagaimana memelihara hubungan antara orangtua dan anak yang telah dewasa dan cara-cara menyikapi konflik yang banyak terjadi.
Buku Positive Parenting for Kids: Memahami dan Merespons Perilaku Anak
Usia 2 hingga 7 tahun merupakan masa tumbuh kembang. Pada usia 7 tahun, perkembangan otak anak sudah mencapai 90% dan otaknya akan terhubung berdasarkan pengalaman-pengalaman yang dimilikinya dan bentuk perhatian yang didapatkannya sejak lahir. Sebagai orangtua, kamu merasa seolah-olah dituntut untuk mengetahui apa yang harus “dilakukan” untuk menghadapi anak dengan rentang usia tersebut.
Ketika anak menolak untuk mengenakan jaket atau mencoba untuk menunda waktu tidur, kamu berusaha mencari berbagai kata dan tanggapan yang “tepat”, sambil berusaha tetap bekerja. Kamu pasti sudah mengalami masa-masa ketika dihadapkan oleh kemarahan, argumen, atau amukan yang menuju tahap berikutnya.
Buku ini ditulis untuk membantu kamu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika berada di momen-momen seperti itu, dengan memberikan wawasan apa yang sebenarnya terjadi di pikiran anak-anak.
The Parenting Map
Sebetulnya, semua orangtua mampu membesarkan buah hati mereka menjadi anak yang sehat, bahagia, dan stabil secara emosional. Namun, banyak orangtua yang terjebak dan kehilangan arah dalam prosesnya. Kondisi ini seperti bom waktu, memicu hubungan yang tidak harmonis serta penderitaan bagi orangtua dan anak.
Padahal, sejatinya, mengasuh anak bukan perkara menjadi orangtua yang paling sempurna atau terbaik, melainkan tentang memiliki kesadaran, memahami alasan inti dari perjuangan sebagai orangtua.





