Kesehatan Lifestyle Pendidikan Jasmani

Pengertian Doping: Sejarah, Sanksi, dan 4 Kasus Terkenal

doping adalah
Written by M. Hardi

Doping adalah – Olahraga merupakan salah satu dari sekian banyak bidang di mana orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak harus memiliki kejujuran, integritas, dan sikap adil. Sikap seperti ini tidak hanya wajib dimiliki oleh atlet saja, tetapi juga pengurus yang terlibat dari suatu cabang olahraga.

Sayangnya, Grameds yang suka mengikuti olahraga pasti sering mendengar berbagai kasus di mana integritas pengurus olahraga itu dipertanyakan. Mulai dari kasus korupsi, kasus pengaturan skor, sampai keterlibatan anggota pengurus dengan politik yang seharusnya tidak diizinkan.

Tidak hanya pengurus saja yang terkadang terlibat dalam kegiatan negatif di atas. Atlet juga bisa melakukan beberapa perbuatan tercela yang seharusnya tidak diizinkan, seperti dengan sengaja mencederai lawan, ikut terlibat dalam pengaturan skor, bersikap rasis, atau melakukan doping.

Di antara beberapa perbuatan tercela dalam olahraga, doping adalah salah satu perbuatan yang paling tidak dapat dibenarkan. Pada artikel kali ini, Grameds akan mempelajari definisi dari doping, beserta sejarah, sanksi dan juga atlet yang pernah terlibat kasus doping.

Apa Itu Doping?

doping adalah

Sumber: Pixabay

Grameds yang merupakan penggemar olahraga pasti sudah tidak asing dengan istilah doping. Perbuatan doping tidak hanya merugikan atlet itu sendiri, tetapi juga atlet lain yang terlibat dalam olahraga tersebut. Lantas, apa yang membuat doping menjadi salah satu perbuatan tidak terpuji dan wajib dihindari?

Doping adalah istilah yang mengacu kepada penggunaan obat peningkat performa untuk atlet. Maksudnya, atlet akan mengkonsumsi semacam obat atau bahkan narkoba agar dia bisa bertanding lebih baik. Ini merupakan sesuatu yang terlarang bagi atlet, dan dianggap sebagai cara curang dalam olahraga.

Istilah doping banyak digunakan oleh berbagai organisasi yang mengatur kompetisi olahraga di seluruh dunia. Penggunaan obat-obatan untuk meningkatkan kinerja dianggap tidak etis dan melanggar sportivitas serta integritas yang seharusnya tertanam pada atlet.

Oleh karena itu, doping dilarang oleh banyak besar organisasi olahraga internasional. Lebih lanjut, jika ada atlet yang mengambil tindakan untuk menghindari pendeteksian dari obat-obatan ini hanya akan memperburuk pelanggaran, khususnya dari segi etika karena dianggap menipu dan melakukan kecurangan.

Memasuki era modern dalam olahraga, semakin banyak organisasi olahraga yang memberikan peraturan ketat terkait penggunaan obat-obatan dalam olahraga. Salah satu alasan utama pelarangan ini agar semua atlet bisa mendapatkan kesempatan yang sama dalam bertanding.

Keberadaan obat-obatan yang bisa meningkatkan kinerja tubuh tentu tidak adil bagi atlet lain yang sudah berlatih dan bekerja keras demi meraih kemenangan. Organisasi olahraga menganggap bahwa adanya tindakan doping yang dilakukan atlet akan menodai “semangat olahraga”.

Selain itu, atlet yang ketahuan memakai obat-obatan ini juga bisa jadi secara tidak langsung mempengaruhi masyarakat untuk memakai obat-obatan juga. Hal ini bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, mengingat atlet juga termasuk ke dalam kategori tokoh publik dan dapat menginspirasi mereka untuk melakukan suatu pergerakan.

Alasan lain yang juga dikhawatirkan oleh penyelenggara olahraga terkait pemakaian obat-obatan ini adalah alasan kesehatan untuk atlet. Perlu Grameds ketahui bahwa dua jenis obat yang paling umum atlet pakai untuk meningkatkan performa mereka adalah steroid dan stimulan.

Steroid akan meningkatkan massa otot dan kekuatan tubuh secara keseluruhan, sementara stimulan akan mempertajam kerja otak dan mengurangi rasa lelah. Dampak ini akan berbahaya bagi tubuh jika dipakai secara terus-menerus. Terlebih, akan ada kemungkinan kalau atlet akan memiliki ketergantungan untuk memakai obat-obatan tersebut.

Hal tersebut tentunya tidak berbeda jauh dengan memakai narkoba pada umumnya. Itulah alasan mengapa doping amat berbahaya jika dilakukan oleh atlet, dan mengapa banyak badan olahraga dunia yang mulai gencar melaksanakan kampanye anti-doping.

Sejarah dan Sanksi Doping

Jika kita melihat sejarah, rupanya doping sudah mulai dipakai bahkan sejak zaman Romawi kuno dan zaman Yunani kuno. Atlet di masa itu, yang biasanya merupakan gladiator atau pebalap kereta perang, diketahui mengonsumsi semacam ramuan agar bisa bertanding dengan baik.

Kasus doping pertama yang diketahui adalah kasus Abraham Wood pada tahun 1807. Dirinya merupakan atlet jalan cepat asal Inggris yang mengaku memakai obat-obatan bernama laudanum, yang merupakan ekstrak alkohol dicampur dengan narkoba jenis opium.

Abraham Wood, yang saat itu mengikuti kejuaraan jalan cepat di mana dirinya harus berjalan sepanjang 800 kilometer untuk memenangkan medali emas, mengatakan kalau laudanum dapat membantunya untuk menjaga ketahanan tubuhnya dan tetap bisa terjaga saat malam hari.

Setelah itu, ide untuk memakai obat-obatan lain yang bisa meningkatkan stamina dan menjaga seseorang agar tetap terbangun mulai dipakai dalam olahraga lain yang juga memerlukan ketahanan tubuh. Salah satu contohnya adalah balap sepeda yang memakan 6 hari untuk selesai.

Meskipun begitu, pemakaian obat-obatan pada dasarnya dilandasi karena penonton yang saat itu ingin melihat para atlet untuk menarik perhatian penonton. Semakin banyak penonton, maka akan semakin besar juga hadiah yang mereka dapat dari kejuaraan tersebut.

Sementara itu, penggunaan obat-obatan steroid yang cukup populer di kalangan atlet kabarnya dipopulerkan oleh atlet angkat besi bernama John Ziegler asal Amerika Serikat. Sosok ini diketahui memakai obat-obatan jenis steroid setelah mengetahui bahwa atlet angkat besi asal Uni Soviet menggunakan obat-obatan jenis testosteron untuk menang.

John Ziegler diketahui meminta sebuah perusahaan obat di Amerika Serikat untuk mengembangkan obat-obatan agar mereka tetap bisa bersaing dengan Uni Soviet. Hasilnya, terciptalah obat-obatan steroid yang pada akhirnya dipakai juga oleh atlet lain untuk meningkatkan performa mereka.

Tentunya, setelah berbagai macam kasus yang sudah dijelaskan di atas, pemakaian obat-obatan yang bisa meningkatkan performa tubuh mulai gencar dilarang. Berbagai organisasi dan lembaga olahraga dunia mulai menerapkan sanksi bagi atlet yang gagal dalam menjalankan tes doping.

Salah satu lembaga yang menjadi payung bagi pelarangan dalam penggunaan doping bernama World Anti-Doping Agency atau biasa disingkat sebagai WADA. Terdapat beberapa sanksi yang lembaga ini berikan jika mereka mendapati ada atlet memakai obat-obatan atau gagal dalam tes obat-obatan ini.

Beberapa sanksi di antaranya adalah diskualifikasi dalam kejuaraan tertentu, larangan untuk memiliki substansi terlarang tersebut, tidak mendapat hadiah dalam kejuaraan, membayar denda, hingga tidak akan diloloskan dalam tes obat-obatan lainnya jika mereka mencoba untuk banding.

Bukan hanya WADA saja yang memiliki aturan terkait tes doping. Tiap organisasi olahraga juga mempunyai aturannya tersendiri jika menyangkut hal doping. Meskipun demikian, umumnya sanksi yang mereka berikan terhadap atletnya tidak jauh berbeda dengan WADA.

Biasanya, atlet akan dilarang mengikuti kompetisi tertentu mulai dari hitungan bulan atau bahkan tahun. Ada juga yang memberikan denda sesuai dengan gaji yang diterima oleh atlet. Beberapa organisasi juga tidak segan mencabut piala yang atlet tersebut menangkan jika ketahuan doping.

Kasus Doping Terkenal

Meskipun demikian, masih ada saja atlet yang tetap ingin memakai doping karena berbagai macam alasan. Tentunya, alasan-alasan tersebut hampir tidak bisa diterima oleh organisasi olahraga manapun mengingat kerugian yang ditimbulkan dari penggunaan obat-obatan ini.

Dalam sejarah, sudah ada banyak kasus di mana atlet melakukan doping untuk kebutuhan pribadi mereka. Banyak dari mereka yang memenangkan kejuaraan tersebut, tetapi pada akhirnya tidak bisa mendapatkan piala atau medali karena kejuaraan mereka dicabut dan dianggap tidak sah.

Di bawah ini, terdapat 4 kasus doping yang cukup terkenal dan menyangkut beberapa atlet populer juga. Beberapa dari mereka juga menjadi alasan di balik penguatan peraturan terkait doping dalam berbagai kompetisi olahraga, agar kasus yang sama tidak terjadi lagi. Berikut pemaparannya.

Thomas Hicks dalam Olimpiade di St. Louis Tahun 1904

doping adalah

Sumber: Google

Nama pertama ini mungkin menjadi kasus doping yang paling awal ditemukan serta menjadi salah satu yang paling menyeramkan. Thomas Hicks merupakan atlet lari maraton berasal dari Amerika Serikat. Kasus doping miliknya terjadi pada tahun 1904 dalam Olimpiade di St. Louis, Missouri, Amerika Serikat.

Saat itu, Thomas Hicks sudah berada sekitar 10 kilometer lagi dari garis akhir. Namun, badannya mulai melambat dan dirinya berpotensi untuk gagal menyelesaikan perlombaan. Asistennya lantas memberikan campuran Striknina dan alkohol jenis Brandy yang disuntik ke dalam tubuhnya agar bisa melanjutkan perlombaan.

Striknina sendiri merupakan stimulan, yang kini justru lebih banyak dipakai sebagai racun tikus. Campuran obat-obatan tersebut memang membuat Thomas Hicks menyelesaikan lomba. Tetapi, sepanjang berlari Thomas Hicks kerap terlihat sempoyongan dan bahkan beberapa kali berhalusinasi.

Cabang olahraga lari maraton Olimpiade St. Louis 1904 memang cukup kacau. Thomas Hicks akhirnya diangkat sebagai juara meskipun diketahui memakai obat-obatan tanpa sepengetahuan dirinya, karena lawannya saat itu, Fred Lorz, diketahui mengendarai mobil sampai 10 kilometer sebelum garis akhir.

Ben Johnson dalam Olimpiade di Seoul Tahun 1988

doping adalah

Sumber: YouTube

Ben Johnson sempat menjadi salah satu pelari terbaik yang dimiliki oleh Kanada. Namun, namanya tercoreng karena diketahui terlibat dalam kasus doping, tepatnya pada Olimpiade di Seoul tahun 1988, di mana dirinya ketahuan memakai obat untuk meningkatkan performanya.

Diketahui, Ben Johnson memakai obat-obatan jenis stanozolol, yaitu jenis obat-obatan yang mirip dengan steroid dan berfungsi untuk mengeraskan massa otot agar atlet bisa meningkatkan performa mereka ketika bertanding. Obat-obatan ini berhasil membantu Ben Johnson meraih medali emas dalam cabang olahraga lari 100 meter.

Kemenangan ini tentu dirayakan dengan sukacita oleh dirinya dan warga Kanada, mengingat Ben Johnson sebelumnya hanya berhasil meraih medali perunggu dalam cabang olahraga yang sama pada Olimpiade Los Angeles tahun 1984. Namun, pada akhirnya, komite doping Olimpiade menemukan adanya jejak obat-obatan pada sampel urin miliknya.

Alhasil, medali emas ini dicabut dan diberikan kepada rivalnya, Carl Lewis. Tidak hanya itu, Ben Johnson juga diketahui memakai substansi yang serupa pada beberapa kejuaraan di tahun 1987, sehingga medalinya juga dicabut karena menodai sportivitas olahraga.

Diego Maradona dalam Piala Dunia di Amerika Serikat Tahun 1994

doping adalah

Sumber: Goal.com

Penggemar sepakbola pasti sudah tahu sosok kontroversial yang satu ini. Diego Maradona, meskipun dikenal dengan bakatnya yang luar biasa dalam sepakbola, juga dikenal sebagai pemain dengan berbagai macam sensasi dan kontroversi baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan.

Salah satu kontroversinya adalah pemakaian narkoba dalam kariernya. Diego Maradona sempat kecanduan kokain yang hampir saja menghancurkan karir sepakbolanya. Dirinya bahkan sempat dilarang bermain selama 15 bulan. Namun, pemakaian terhadap substansi terlarang tidak berhenti sampai di sana.

Diego Maradona ketahuan memakai efedrin, yang menurutnya dapat membantu menurunkan obesitas. Kejadian ini berlangsung pada tahun 1994 ketika Diego Maradona bertanding di ajang Piala Dunia di Amerika Serikat, tepatnya setelah pertandingan melawan Nigeria di fase grup.

Pertandingan melawan Nigeria ini menjadi pertandingan terakhir Diego Maradona di tim nasional Argentina. Dalam autobiografinya, Diego Maradona menulis kalau efedrin yang dia pakai berasal dari minuman energi Amerika Serikat dan memiliki resep berbeda dengan minuman energi yang biasa dia pakai di Argentina .

Lance Armstrong dalam Tour de France Tahun 1999 Sampai Tahun 2004

doping adalah

Sumber: The New York Times

Nama terakhir yang akan dibahas dalam tulisan ini merupakan sosok yang sempat menjadi legenda dalam olahraga sepeda. Sebelum ketahuan melakukan doping, Lance Armstrong berhasil memenangkan Tour de France, lomba balap sepeda paling bergengsi di dunia, sebanyak 6 kali berturut-turut sejak tahun 1999 sampai tahun 2004.

Namun, semua itu berubah setelah dirinya ketahuan memakai obat-obatan jenis EPO, yaitu obat-obatan yang bisa memproduksi sel darah merah lebih banyak. Dalam olahraga, ini dapat membantu atlet untuk meraih stamina yang lebih kuat dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Mulanya, Lance Armstrong sempat mendapat tuduhan terkait doping. Namun, dirinya menolak tuduhan tersebut dan mengatakan kalau dirinya selalu berhasil melewati tes doping. Tetapi, pada akhirnya, Lance Armstrong mengakui bahwa tuduhan tersebut benar adanya, dalam interview bersama host bincang-bincang Oprah Winfrey pada tahun 2013.

Lance Armstrong juga akhirnya mengakui kalau dirinya selama ini memalsukan surat hasil negatif doping. Alhasil, seluruh gelarnya dari tahun 1998 dan seterusnya dicabut, dan sponsor-sponsornya menarik diri, membuat Lance Armstrong rugi sebesar 75 juta Dollar Amerika Serikat.

Kesimpulan

Dengan demikian, berakhir sudah artikel yang membahas tentang doping, mulai dari pengertian, sejarah, sanksi, serta sejumlah atlet terkenal yang terkena kasus doping. Semoga saja Grameds bisa mengambil hikmah bahwa memakai obat-obatan bukanlah sesuatu yang bisa membawa kalian ke kejayaan.

Kalian sudah mendapatkan contoh-contoh di mana sejumlah atlet terkenal mengalami kemunduran atau bahkan kehancuran dalam karir karena melakukan doping. 4 contoh di atas hanyalah segelintir dari sekian banyak atlet yang juga diketahui melakukan doping dalam satu titik di karirnya.

Jangan sampai kenikmatan sesaat yang ditawarkan oleh banyak substansi terlarang ini menjerumuskan kalian ke jalan yang tidak benar. Terlebih, bagi Grameds yang ingin menjadi atlet. Alangkah baiknya jika kalian berlatih keras dan mempelajari olahraga ini lebih dalam agar bisa menang tanpa bantuan obat-obatan ini.

Jika Grameds masih tidak yakin dengan bahaya dari obat-obatan terlarang ini, kalian bisa mencoba membaca sejumlah buku terkait obat-obatan terlarang dan membuktikan fakta bahaya ini sendiri. Buku-buku tersebut adalah buku “Drug Aren’t Cool , The Make You Like A Fool ( Hidup Keren Tanpa Narkoba)“, buku “Aku Bebas dari Jerat Narkoba“, dan buku “Mematahkan Belenggu Narkoba“.

Drug Aren’t Cool , The Make You Like A Fool ( Hidup Keren Tanpa Narkoba)

https://www.gramedia.com/products/drug-arent-cool-the-make-you-like-a-fool-hidup-keren-tanpa-narkoba?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Aku Bebas dari Jerat Narkoba

https://www.gramedia.com/products/conf-aku-bebas-dari-jerat-narkoba?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Mematahkan Belenggu Narkoba

https://www.gramedia.com/products/mematahkan-belenggu-narkoba?utm_source=literasi&utm_medium=literasibuku&utm_campaign=seo&utm_content=LiterasiRekomendasi

Jika Grameds memilih untuk membaca artikel dibandingkan buku terkait bahaya narkoba, kalian bisa kunjungi situs Gramedia.com. Gramedia, #SahabatTanpaBatas, selalu berusaha menyajikan buku dan tulisan yang bisa membuat Grameds mendapatkan ilmu serta informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: M. Adrianto S

Baca juga:



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien