in ,

13 Brand Lokal yang Kerap Dianggap Berasal Dari Luar Negeri

Brand Lokal – Saat ini, keberadaan brand lokal sudah semakin membuktikan eksistensinya terutama dalam perkembangan industri fashion, makanan dan minuman, kosmetik, maupun elektronik. Yap, meskipun brand lokal ini masih disebut dengan embel-embel “lokal” sebab memang berasal dari negara sendiri, tetapi ternyata kualitasnya tidak main-main. Bahkan banyak di antara brand-brand lokal ini yang telah dilirik di mata dunia, hingga sampai dikira brand tersebut adalah buatan luar negeri!

Semakin berkembangnya industri global, maka semakin berkembang pula brand-brand lokal yang awalnya hanya memiliki nama “kecil” saja. Sebagai generasi masa depan, kita juga harus turut membantu perkembangan brand-brand lokal ini lho… Caranya adalah dengan membeli dan turut bangga telah menggunakan produk dari brand-brand lokal tersebut! Lalu, bagaimana tantangan dan potensi yang dimiliki oleh brand lokal dalam menghadapi perkembangan sektor industri 4.0 ini? Apa saja pula brand lokal yang ternyata kerap dianggap berasal dari luar negeri? Nah, supaya Grameds memahami hal-hal tersebut, yuk simak ulasan berikut ini!

Tantangan dan Potensi Brand Lokal Terhadap Perkembangan Sektor Industri Fashion

Apakah Grameds pernah mendengar istilah mengenai ekonomi kreatif? Yap, istilah tersebut merujuk pada suatu konsep di bidang ekonomi yang mengintegrasikan antara informasi dan kreativitas. Mulai dari bagaimana sebuah ide dapat bertransformasi dari yang sebelumnya hanya mengandalkan pengelolaan sumber daya alam saja, berkembang menjadi pengelolaan pada sumber daya manusianya. Hal tersebut supaya tercipta manusia-manusia berkualitas yang nantinya mampu bersaing dalam upaya memajukan perekonomian Indonesia di berbagai sektor industri.

Apalagi setelah diketahui bahwa ternyata negara kita ini memiliki banyak sekali potensi dalam menghadapi adanya perubahan tren ekonomi di dunia. Maka dari itu, pemerintah turut menginstruksikan mengenai Pengembangan Ekonomi Kreatif yakni dalam Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2009. Perlu diketahui ya Grameds bahwa sektor fashion ternyata mampu menyumbang sekitar 181 triliun rupiah pada tahun 2013 lalu. Wow, jumlah yang sangat fantastis ya!

Indonesia dapat disebut-sebut sebagai gudangnya perkembangan fashion, meskipun bukan sebagai pusatnya. Namun nyatanya, perkembangan industri fashion yang ada di Indonesia telah dilirik oleh masyarakat luar negeri melalui kreativitas dan inovasi dari para perancang busana. Khususnya di Bandung yang dianggap sebagai Paris van Java layaknya kota mode.

Harus Menguasai Pasar Domestik Terlebih Dahulu

Tantangan pertama yang harus dilalui oleh para brand lokal adalah menguasai pasar domestik terlebih dahulu. Beberapa brand lokal yang telah merambah di kancah Internasional kebanyakan memilih menggunakan nama brand dengan bahasa asing. Alasannya adalah nantinya dapat menarik minat pembeli lokal. Sebagian orang awam akan selalu mengira bahwa nama merek yang berbahasa Inggris adalah berasal dari luar negeri, padahal sebenarnya tidak semua begitu. Contoh brand lokal yang kerap dianggap dari luar negeri karena menggunakan bahasa asing adalah The Executive, Hammer, dan Nail. Selain itu, penggunaan nama berbahasa asing ini juga supaya memudahkan mereka untuk terjun di pasar internasional.

Persaingan yang Ketat

Tantangan kedua yang harus dilalui oleh para brand lokal adalah persaingan yang cukup tinggi, sekalipun itu di pasar domestik. Yap, saat ini sudah banyak sekali beredar brand lokal untuk satu produk saja. Sebut saja produk serum retinol, pasti Grameds akan kebingungan jika diminta menyebutkan semua brand lokal yang telah memproduksi produk tersebut. Sebut saja ada Somethinc, Avoskin, Dear Me Beauty, hingga ElsheSkin. Semua brand lokal itu dinilai memiliki kualitas yang bagus sehingga persaingan akan terasa ketat untuk mendapatkan kesan terbaik di mata konsumen.

Mindset Masyarakat

Tantangan ketiga yang harus dilalui oleh para brand lokal adalah adanya mindset di masyarakat yang menyatakan bahwa produk brand lokal pasti tidak memiliki kualitas bagus. Yap, tak sedikit masyarakat yang masih merasa bangga ketika menggunakan produk dari brand luar negeri dan mengesampingkan brand lokal. Padahal, brand lokal juga banyak yang memiliki kualitas tidak kaleng-kaleng lho! Bahkan tak jarang, brand lokal tersebut sampai dikira berasal dari luar negeri.

Inovasi Produk

Tantangan keempat yang harus dilalui oleh para brand lokal adalah inovasi pada produknya, sehingga tidak monoton di mata konsumen. Inovasi ini biasanya akan melihat pada tren pasar. Para brand lokal akan berlomba-lomba mengeluarkan produk yang lebih berinovasi dan tentunya tetap mempertahankan kualitas mereka. Sayangnya, inovasi ini sering terlihat seperti aksi ikut-ikutan saja. Misalnya pada saat itu, tengah berkembang pernyataan bahwa kandungan Niacinamide dalam produk skincare mampu memperlambat penuaan dan memudarkan bintik hitam. Lalu para brand lokal berlomba-lomba mengeluarkan produk serupa dengan klaim yang sebenarnya sama, tetapi disampaikan inovasi.

Hal itu sebenarnya bagus karena membuktikan bahwa brand lokal ternyata juga mampu bersaing secara sehat dan mengikuti tren kebutuhan konsumen. Hanya saja di mata konsumen, itu terlihat seperti ajang ikut-ikutan satu sama lain.

Nah, jika membicarakan bagaimana potensi brand lokal dalam menghadapi gencaran brand luar negeri, tentu saja jawabannya adalah para brand lokal ini tetap berpotensi besar untuk bersaing dengan produk-produk impor. Potensi ini harus tetap didukung oleh pemerintah, yakni dengan menggalakkan aksi bangga memakai produk lokal, terutama kepada para anak-anak muda.

The Architecture of Love | Di balik Pena

13 Brand Lokal yang Kerap Dianggap Berasal Dari Luar Negeri

Apakah Grameds tahu jika merek produk elektronik Polytron itu ternyata brand lokal milik Indonesia? Atau merek coklat batangan Silverqueen yang ternyata juga brand lokal dan berpusat di Garut, Jawa Barat? Yap, brand-brand lokal tersebut salah dua dari sekian banyaknya brand milik Indonesia yang kerap kali dianggap berasal dari luar negeri. Alasannya adalah kualitasnya yang tidak kaleng-kaleng, tentunya.

Lalu, apa saja ya brand lokal lain yang kerap dianggap berasal dari luar negeri? Yuk simak uraian berikut ini!

1. Polytron

Banyak orang yang mengira bahwa brand yang kebanyakan “berkutat” di bidang elektronik ini adalah buatan dari luar negeri. Padahal sebenarnya, Polytron adalah satu dari sekian brand lokal yang telah merambah hingga luar negeri dengan memproduksi alat-alat elektronik, mulai dari mesin cuci, televisi, kipas angin, kulkas, dan masih banyak lagi.

Bukti nyata bahwa Polytron itu merupakan brand lokal adalah lokasi produksinya berada di kota Kudus, Jawa Tengah. Hingga saat ini, perusahaan Polytron telah berkembang menjadi 3 pabrik yang aman masing-masing cabangnya memiliki karyawan lebih dari 10.000!

2. Erigo

Erigo juga menjadi brand lokal yang kerap kali dianggap keluaran dari luar negeri. Mungkin karena namanya yang sama sekali tidak terlihat Indonesia ya… Brand ini didirikan oleh Muhammad Sadad yang awalnya bernama “Selected and Co”, dengan mengusung konsep batik ikat. Seiring perkembangan fashion, maka merek tersebut juga melakukan re-branding alias mengubah total nama brand menjadi Erigo, tepatnya pada tahun 2014. Sejak itulah, konsep pakaian yang awalnya adalah kain batik ikat menjadi street style dan travelling yang lebih kasual.

Target pasar dari brand lokal ini adalah para milenial, dengan produknya yang berupa t-shirt, celana, hoodie, tas, dan aksesoris lain. Bahkan belum lama ini, brand lokal Erigo tengah bersiap untuk melebarkan sayapnya di pasar internasional. Hal tersebut ditandai dengan munculnya Erigo Apparel di salah satu videotron di Times Square, New York. Bahkan Erigo juga merilis beberapa produk terbarunya di Amerika dengan mengusung campaign #stopasianhate.

3. Le Mineral

Produk minuman air putih ini pasti sudah tidak asing lagi bagi Grameds! Yap, Le Mineral adalah juga termasuk brand lokal yang kerap dielu-elukan berasal dari luar negeri, yang ternyata masih berada di bawah naungan perusahaan PT Mayora Indah Tbk. Perlu diketahui bahwa PT Mayora Indah Tbk memang sejatinya adalah perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan makanan dan minuman sejak tahun 1977.

Produk Le Mineral ini diperkenalkan kepada publik pada tahun 2016 yang kemudian diproduksi di berbagai kota di Indonesia, sebut saja ada Pasuruan, Makassar, dan Sukabumi. Minuman air putih dari brand lokal ini dianggap lebih menyehatkan dari air putih kemasan lain, sebab mengandung pH yang memang sangat diperlukan oleh tubuh manusia.

4. HokBen

Sekilas nama brand ini seperti bahasa Jepang ya, apalagi produknya memang berupa makanan khas Jepang. Namun ternyata, HokBen ini adalah brand lokal lho… yakni singkatan dari Hoka-Hoka Bento. Wajar memang jika HokBen dianggap sebagai brand luar negeri, sebab mengusung produk makanan khas Jepang. Meskipun demikian, rasa makanan khas Jepang tersebut sangat cocok di lidah para masyarakat Indonesia.

Buktinya, hingga saat brand lokal ini masih populer di mata konsumen Indonesia sehingga memiliki sekitar 153 gerai yang telah tersebar di seluruh kota besar di Indonesia.

5. Polygon

Brand lokal untuk produk sepeda dan spare part-nya ini kerap kali dianggap berasal dari luar negeri. Padahal sama halnya dengan brand lokal Polytron, Polygon juga diproduksi oleh perusahaan lokal Indonesia. Tepatnya di kota Sidoarjo, Jawa Timur. Pada tahun 1997, brand lokal ini baru memulai ekspor pertamanya ke negara Singapura, kemudian disusul di negara Malaysia, tiga tahun setelahnya.

Hingga kini, brand lokal Polygon ini telah mampu memiliki sekitar 500 outlet penjualan yang tersebar di 33 negara! Wow, hebat bukan brand lokal yang satu ini! Tidak hanya itu saja, bahkan para anggota kepolisian Thailand telah menjadikan sepeda Polytron ini sebagai kendaraan operasional mereka lho…

6. League

Brand League yang mana kerap memproduksi sepatu bergaya modern dan sporty ini ternyata adalah brand lokal asal Indonesia! Apakah Grameds tahu akan hal tersebut? Yap, tidak hanya sepatu olahraga saja yang diproduksi oleh brand lokal ini, tetapi juga sepatu untuk keperluan sekolah maupun kasual.

Kualitas dari brand lokal yang satu ini tidak main-main, bahkan kerap kali dibandrol dengan harga yang relatif terjangkau. Wajar saja jika keberadaannya dianggap sebagai pesaing handal dari brand luar negeri.

7. SilverQueen

Hayo siapa yang masih mengira bahwa makanan coklat batangan yang satu ini diproduksi oleh brand luar negeri? Mungkin karena namanya yang menggunakan bahasa asing, banyak orang menganggap SilverQueen adalah coklat batangan dari luar negeri. Di pasaran, kualitas akan brand lokal ini bahkan mampu menyaingi coklat batangan dengan brand luar lho… sebut saja ada M&M’s, Toblerone, hingga Cadbury.

8. J.Co

J.Co juga turut hadir dalam daftar brand lokal yang kerap kali dianggap sebagai brand luar negeri. Yap, brand lokal yang terkenal akan produksi donat dan kopinya ini acapkali dikira makanan impor! Hal tersebut karena nama dan produknya memang mengadopsi gaya Amerika. Brand lokal telah sampai di kancah Internasional yang mana dapat ditemui di mall besar di negara Malaysia, Filipina, Singapura, hingga Tiongkok.

9. Eiger

Brand Eiger ini pasti terasa sangat dekat terutama bagi konsumen yang memiliki hobi mendaki gunung atau aktivitas pecinta alam lainnya. Yap, brand lokal yang selalu memproduksi kebutuhan perlengkapan bagi para pendaki ini telah diluncurkan sejak tahun 1989 dan masih bertahan hingga saat ini.

FYI, sejarah nama brand ini, Eiger, diambil dari sebuah nama gunung yang berada di Swiss dengan ketinggian sekitar 3970 mdpl. Hal yang membuat brand lokal ini dianggap sebagai brand luar adalah karena kualitasnya yang tidak kaleng-kaleng! Tiga produk utama dari brand lokal ini adalah Authentic 1989, Mountaineering, dan Riding.

10. The Executive

Melihat dari namanya, apakah Grameds pernah mengira bahwa brand ini juga termasuk dalam brand lokal dari Indonesia? Yap, produk utama dari brand The Executive adalah pakaian resmi dan formal, sehingga target pasarnya memang untuk para pekerja kantoran maupun pebisnis. Saking bagusnya kualitas yang dimiliki, banyak orang menganggap bahwa brand lokal yang satu ini berasal dari luar negeri.

The Executive adalah salah satu brand lokal milik perusahaan PT Delamibrands Kharisma Busana yang telah ada sejak tahun 1984.

11. Berrybenka

Berrybenka selalu dianggap sebagai brand yang memberikan kesan mewah tetapi harganya tetap terjangkau. Jangan salah ya Grameds, ternyata brand Berrybenka ini juga salah satu brand lokal yang didirikan oleh salah satu anak muda bangsa Indonesia, yakni Jason Lamuda. Brand lokal ini telah banyak memproduksi berbagai produk berupa pakaian, sepatu, hingga aksesoris dengan kesan mewah dan berkelas. Bahkan saat ini, Berrybenka telah menyediakan fashion khusus bagi para muslimah dengan nama Hijabenka.

12. Tomkins

Setelah selesai dari liburan kenaikan kelas dan kembali ke bangku sekolah, apakah Grameds sering membeli sepatu baru? Jika iya, apa brand favorit untuk sepatu sekolah tersebut? Apakah brand lokal Tomkins? Yap, brand yang memproduksi berbagai jenis sepatu ini juga termasuk dalam brand lokal lho… Mulai dari sepatu sekolah, sepatu futsal, hingga sepatu olahraga!

13. NAH Project

Brand lokal yang satu ini memang tergolong baru, sebab berdiri sejak 2017 lalu. Meskipun demikian, tetapi produknya sangat berkualitas dan bahkan salah satu sneakers-nya pernah dipakai langsung oleh Presiden Joko Widodo!

NAH Project tidak hanya memproduksi sepatu sneaker saja, tetapi juga dengan hoodie, t-shirt, dan berbagai aksesoris lain yang memiliki kualitas terbaik. Hingga saat ini, NAH Project telah mampu merambah ke kancah internasional dan membuktikan eksistensinya di mata konsumen luar negeri.

Nah, itulah ulasan mengenai bagaimana tantangan yang harus dihadapi oleh para brand lokal dan brand lokal apa saja yang kerap kali dianggap diproduksi dari luar negeri. Sebagai generasi muda, ayo kita mulai untuk menggunakan produk-produk dengan brand lokal dan tetap bangga akan eksistensinya! Apakah Grameds telah merasakan kualitas dari salah satu produk brand lokal tersebut?

Baca Juga!



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by A Fandy

Ketika bicara tentang manajemen sangatlah luas yang dapat dibahas. Meski begitu, dunia manajemen akan menarik untuk saya, karena berkaitan dengan banyak hal, terutama ekonomi.