Sosial Budaya

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta Sebagai Warisan Budaya

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta
Written by Ananda

Senjata tradisional Betawi/DKI Jakarta – Zaman dulu sebelum nama Jakarta terbentuk, Betawi atau Batavia adalah asal mula daerah Jakarta dan sekitarnya ini. Betawi mempunyai pelabuhan terkenal yang bernama Sunda Kelapa. Sunda Kelapa kemudian menjadi pintu untuk masuknya beragam etnis ke daerah yang sekarang menjadi Ibu kota Indonesia ini.

Jurnal berjudul Etnis Betawi: Kajian Historis (2014) yang ditulis oleh Heru Erwantoro, menyatakan bahwa Jakarta pernah diduduki oleh Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Sunda, dan Islam yang kemudian menjadi dasar terbentuknya etnis Betawi.

Etnis atau masyarakat Betawi adalah istilah yang dikenal pada zaman kolonial. Penduduk asli Jakarta dulu bernama Batavia. Kebudayaan suku Betawi terbentuk dengan adanya akulturasi berbagai macam kebudayaan yang masuk ke Jakarta.

Kebudayaan adalah peninggalan leluhur di masa lampau, baik yang bentuknya fisik maupun nonfisik. Peninggalan kebudayaan dapat bertahan menghadapi berbagai dimensi waktu dan perubahan yang terjadi pada manusia dan zaman, asalkan masyarakat mau menjaga peninggalan kebudayaan dengan baik dan konsisten.

Senjata tradisional merupakan salah satu peninggalan kebudayaan yang bentuknya fisik. Senjata yang digunakan oleh para pendahulu kita sifatnya masih tradisional. Oleh karena itu, senjata yang digunakan pada zaman itu dikenal dengan nama senjata tradisional.

Sebagaimana di daerah lain, Betawi juga memiliki senjata tradisional. Senjata tradisional Betawi/DKI Jakarta beragam jenisnya. Artikel ini akan mengulas berbagai macam bentuk senjata tradisional Betawi/DKI Jakarta.

Macam-Macam Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

1.   Golok

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

pinhome.id

Betawi terkenal dengan senjata tradisionalnya yaitu Golok. Senjata tradisional ini sering dipakai untuk aksesoris keseharian busana adat Betawi yang dikenakan oleh kaum pria Betawi. Golok diselipkan dan diikat pinggang hijau serta dipakai ketika bekerja atau sedang bepergian sebagai alat untuk menjaga diri.

Golok merupakan senjata dengan bilah panjang dan tajam yang dibuat dari besi atau baja serta dengan gagang yang terbuat dari kayu yang keras. Sarung pada golok terbuat dari kayu yang digunakan untuk menyimpan golok.

Golok terbagi dalam tiga jenis, yaitu golok kerja, golok simpenan, dan golok sorenan. Dalam buku Senjata Tradisional Daerah Khusus Ibukota Jakarta (1993) yang ditulis oleh Sunarti dkk, menuliskan bahwa golok kerja atau golok dapur dipakai untuk keperluan rumah tangga. Golok simpenan digunakan sebagai alat untuk memotong hewan.

Sedangkan golok sorenan pinggang berguna untuk berjaga-jaga dan mempertahankan diri dari musuh, karena golok sorenan memiliki sarung atau tempat penutup dari mata goloknya yang berfungsi untuk melindungi si pengguna dari ketajaman golok.

Oleh masyarakat Betawi, biasanya golok disimpan di dapur. Senjata tradisional Betawi ini juga ada yang disimpan di bawah bantal tempat tidur. Hal ini tujuannya untuk mempermudah si pengguna golok saat ingin menggunakannya dengan cepat apabila terjadi pertempuran atau perkelahian yang bersifat insidental. Hal ini biasanya digunakan oleh orang tertentu, misalnya para jawara.

Golok berkualitas biasanya dibuat dari bahan baku pilihan berupa baja. Bahan baku pilihan tersebut mempunyai efek yaitu ketajaman ekstra di kedua sisinya. Sehingga, sisi atas maupun bawah dari golok mempunyai kemampuan yang hebat saat digunakan.

Sedangkan sarung golok dibuat dari bahan kayu yang ulet. Kayu ulet itu seperti kayu jambu dan kayu rambutan. Pada bagian sarung golok biasanya dibiarkan polos, walaupun ada beberapa golok yang memiliki motif sendiri. Motif dari sarung golok sangat bervariasi.

Selain untuk melindungi diri sendiri, sarung yang bermotif berfungsi untuk menambah nilai seni. Adapun bagian pada sarung golok dilapisi dengan logam, gading, atau tanduk dari kerbau.

2.   Keris

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

pinhome.id

Selain golok, keris termasuk salah satu senjata tradisional masyarakat Betawi. Keris Betawi berbentuk sebagaimana bentuk keris di masyarakat Jawa pada umumnya. Hal ini membuat banyak budayawan yang menganggap bahwa keris Betawi menjadi warisan dari budaya Sunda dan Cirebon.

3. Belati

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

pinhome.id

Masyarakat Betawi memang tidak banyak mengenal jenis senjata tikam. Hal ini disebabkan pada budaya masyarakat Betawi tidak suka dengan perkelahian yang berlebihan. Meski begitu, masyarakat Betawi mengenal senjata tradisional Belati sebagai salah satu senjatanya.

Belati Betawi bentuknya mirip dengan golok, akan tetapi Belati memiliki ukuran yang lebih kecil. Selain ukurannya, bilah Belati cenderung lebih tebal dengan ujung yang lancip dan melengkung.

Belati menjadi senjata tradisional yang berukuran kecil namun memiliki kelebihan yaitu tajam. Terdiri dari bilah, gagang, dan juga sarung. Belati mempunyai tiga bagian, yaitu bagian badan, gagang, dan sarung.

Senjata tradisional Belati digunakan oleh para jawara sebagai senjata lempar untuk mengincar lawan yang jaraknya jauh. Selain itu, senjata tradisional Belati terutama digunakan sebagai alat untuk bertarung oleh para ahli silat atau para jawara.

Jadi, walaupun senjata tradisional ini berbentuk kecil, namun Belati mampu mengubah jalannya pertarungan. Oleh karena itu, Belati mempunyai ketajaman yang sangat tajam supaya dapat menancap tepat pada bagian yang menjadi sasaran.

Senjata tradisional Betawi ini dibuat dari bahan besi pada bagian badannya. Bagian gagang Belati dibuat dari kayu yang sangat keras atau gading. Sedangkan untuk bagian sarung Belati dibuat dari kayu yang keras dan biasanya memiliki bermotif Singa, Garuda, Ular Naga, dan motif lainnya.

4. Badik Cangkingan

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

pinhome.id

Zaman dahulu, kaum muda Betawi yang pergi jauh dari rumah sering membawa senjata untuk melindungi diri. Senjata tradisional Betawi ini berukuran kecil dan berbentuk mirip dengan senjata tradisional Rencong dari Aceh atau senjata tradisional Badik dari Sulawesi.

Mengenai asal usul nama senjata tradisional ini, mungkin karena sering dibawa pergi (dicangking). Senjata tradisional Betawi ini kemudian dinamai Badik Cangkingan. Namun, saat ini, senjata tradisional Betawi jenis ini sudah jarang dipakai dan tidak mudah ditemukan.

Badik Cangkingan adalah senjata yang bilah besinya tajam dan berukuran panjang. Senjata tradisional ini dibalut dengan cincin perak atau perunggu yang menghubungkan bilahnya dengan gagang.

Gagang Badik dibuat dari bahan kayu maupun gading yang bentuknya melengkung sesuai dengan genggaman tangan penggunanya. Sarung Badik terbuat dari bahan kayu dan dihiasi dengan ukiran khas Betawi untuk menambah kekhasan dari senjata tradisional ini. Adapun, bagian badan Badik terbuat dari besi atau baja hasil dari leburan rel kereta api.

Badik dibawa dengan cara diselipkan di celana atau sarung. Posisi Badik diselipkan tepat di bagian belakang tubuh. Akan tetapi, kini kita sudah hampir tidak pernah melihat orang Betawi yang bepergian jauh dengan mencangking senjata tradisional ini.

Kiwari ini, senjata tradisional Badik beralih fungsinya dari senjata perang menjadi aksesori tambahan atau pelengkap pada busana adat yang digunakan saat pernikahan, terutama untuk pakaian laki-laki. Oleh karena itu, sudah jarang masyarakat yang menyimpan Badik sebagai senjata tradisional pribadi. Tetapi, kebanyakan disimpan oleh para perias pengantin untuk berbagai macam acara busana.

5. Trisula

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

pinhome.id

Pengaruh budaya Hindu di Nusantara, termasuk pulau Jawa pada masa lampau cukup meninggalkan banyak benda yang bersejarah dan menjadi budaya. Di antara peninggalan budaya tersebut yaitu penggunaan senjata tradisional Trisula sebagai senjata oleh masyarakat Betawi.

Senjata tradisional Betawi bernama Trisula ini sekilas serupa dengan trisula dari Palembang, hanya saja pada bagian bilah tengah cenderung lebih panjang dan kedua bilah di sisi kiri kanan dibuat melengkung ujungnya.

Trisula adalah senjata tradisional Betawi yang hanya dapat dipesan khusus oleh para jawara pada pandai besi. Tak seperti Trisula Poseidon yang berbentuk tongkat dengan tiga bilah tajam di ujungnya.

Trisula masyarakat Betawi cenderung lebih mirip pisau dengan tiga mata. Mata pisau yang di tengah lebih panjang jika dibandingkan dengan mata pisau Trisula lainnya. Trisula umumnya digunakan untuk menusuk dan menangkis serangan yang dilancarkan oleh lawan.

6. Toya

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

pinhome.id

Zaman dahulu, Betawi dikenal sebagai daerah yang mempunyai banyak jawara dan perguruan silat. Maka tak mengherankan apabila kita menemukan adanya senjata tradisional tongkat bernama Toya ini. Senjata tradisional Toya pada masa lampau digunakan sebagai alat untuk latihan bagi murid-murid di perguruan silat.

Jika digunakan sebagai alat untuk menjaga diri, Toya biasanya dilengkapi dengan gerigi kasar pada kedua ujung untuk memberikan efek yang lebih besar pada lawan yang terkena pukulan.

Menyadur dari portal resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, senjata tradisional Toya merupakan kayu atau bambu sepanjang 1,5 meter yang berfungsi untuk menangkis senjata tajam, menyodok, menggebuk, dan bahkan menyerang musuh. Toya mempunyai jangkauan yang luas dan biasanya digunakan dalam dunia persilatan.

Selain itu, Toya dapat digunakan untuk menangkis serangan golok yang dilancarkan oleh lawan. Senjata tradisional ini berbentuk sangat sederhana, yakni berupa kayu lurus atau bambu lurus yang sangat keras.

Adapun bahan pembuatan senjata tradisional Betawi ini cukup mudah dijumpai dan diperoleh oleh masyarakat. Kita cukup mengambil bambu dari rumpunnya. Selanjutnya, bambu tersebut dipotong lurus kurang lebih 1,5 meter.

7. Pisau Raut

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

pinhome.id

Jenis senjata tradisional Betawi selanjutnya yaitu Pisau Raut. Pisau Raut ini tidak dipakai sebagai senjata dalam pertempuran, akan tetapi dikenakan sebagai sarana budaya.

Para pengantin pria biasanya memakai senjata ini sebagai tambahan aksesoris busana pengantin adat masyarakat Betawi. Pisau Raut diselipkan pada ikat pinggang di depan perut yang dilengkapi rangkaian bunga melati sebagai tambahannya.

8. Cunrik Betawi

Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

pinhome.id

Ketika bepergian, kaum wanita Betawi pada masa lalu juga sering membawa senjata yang berfungsi untuk melindungi diri. Adapun yang membedakannya, senjata tradisional Betawi yang dibawa oleh kaum wanita ini tidak berbentuk seperti senjata pada umumnya.

Senjata ini dibuat mirip seperti aksesoris tusuk konde namun cukup mematikan karena ketajamannya dari Cunrik Betawi ini.

9. Punta

genpi.id

Senjata tradisional Betawi selanjutnya yaitu Punta. Punta adalah senjata tajam yang berbentuk melengkung dan hampir membentuk seperti huruf S dengan ujung yang runcing. Punta memang terlihat mirip dengan senjata tradisional Kujang dari suku Sunda.

Punta tak bisa dimiliki oleh sembarang orang, hanya saudagar besar yang boleh memiliki Punta sebagai senjata tradisional untuk melindungi diri sendiri. Masyarakat biasa tidak bisa dengan mudah memiliki senjata tradisional ini. Akan tetapi, saat ini jarang ditemukan saudagar atau pedagang yang menyimpan senjata tradisional Punta.

Senjata Punta berguna terutama untuk melakukan penyerangan atau mempertahankan diri dari serangan musuh yang mengincar barang bawaan para saudagar pedagang zaman dulu.

Tidak semua pengrajin bisa membuat senjata tradisional yang satu ini, sehingga para saudagar perlu memesanan terlebih dahulu untuk mendapatkannya. Selain membuat sendiri, Punta dapat diperoleh juga dari pemberian orang lain.

Adapun cara membuat Punta yaitu dengan memanaskan baja yang akan dijadikan Punta. Selanjutnya dibentuk dengan peralatan lengkap, ditempa, dan dibentuk sesuai dengan bentuk yang diinginkan.

10. Sarung

pinterest.com

Mungkin kita sering melihat orang Betawi menyampirkan sarung yang dilipat di pundak atau dililitkan di pinggang. Hal ini menandakan bahwa sarung yang dipakai digunakan untuk mempertahankan diri. Sarung yang dikalungkan di leher dapat ditarik dengan cepat untuk menangkis serangan senjata tajam oleh musuh atau lawan yang diayunkan secara tiba-tiba.

Sarung menjadi senjata tradisional Betawi yang biasa digunakan untuk menangkis dan mementalkan serangan dari golok lawan. Selain itu, sarung juga berfungsi untuk mengikat leher lawan setelah melakukan tangkisan dari golok lawan.

Senjata ini tergolong sangat unik, karena bukan termasuk senjata tajam akan tetapi berupa kain tenun yang seharusnya tidak mampu membuat luka gores sedikitpun. Meski sarung ini dapat digunakan sebagai senjata saat berperang, orang Betawi tidak menggunakannya secara khusus sebagai senjata, akan tetapi memakainya sebagai selimut di kala dingin maupun untuk menutup aurat ketika salat. Oleh karena itu, orang Betawi tidak melupakan kegunaan utama dari benda yang satu ini.

Ketika menggunakan sarung sebagai senjata, orang Betawi akan melipat dengan simetris hingga lipatannya menjadi kecil dan rapi.

Zaman dulu, golongan orang yang mengenakan sarung dengan cara melingkarkannya di leher atau pinggang yaitu para jawara. Selain itu, para pedagang buah juga memakai sarung dengan melingkarkannya ke pinggang, namun sedikit berbeda.

Perbedaan antara pemakaian sarung oleh para jawara dan para pedagang buah bisa dilihat dari dimasukkannya sarung pada badan. Jika para jawara langsung melingkarkan di bagian luar tubuh, para pedagang memiliki perbedaan, yaitu memasukkan lingkaran sarung di dalam baju supaya tidak terlihat bersenjata.

Adapun cara mendapatkan senjata ini tidak susah seperti senjata tradisional Betawi lainnya. Sarung dapat dibeli di pasar-pasar tradisional maupun pasar modern. Akan tetapi, zaman sekarang lumayan sulit menemukan orang Betawi yang masih mengenakan sarung di pinggang, kecuali pada saat pementasan acara Lenong apabila ada seseorang yang berperan sebagai jawara.

11. Selendang

pdbfiles.nos.jkt-1.neo.id

Selendang termasuk senjata tradisional Betawi yang biasa digunakan oleh para pejuang wanita untuk mempertahankan dan melindungi dirinya sendiri. Selain itu, selendang dapat digunakan untuk menangkis golok lawan dalam keadaan yang terdesak.

Selendang memang mirip dengan senjata sarung. Tetapi, selendang lebih diperuntukkan untuk kaum wanita. Senjata tradisional jenis selendang ini adalah jenis senjata yang unik, karena berbahan dasar kain tenunan yang halus dan tipis. Adapun warna dari selendang biasanya transparan atau warna-warna halus yang tak mencolok.

Selendang menjadi senjata tradisional yang mematikan karena adanya doa-doa tertentu yang dapat membuat lawan tidak berdaya. Selendang dimanfaatkan kurang lebih sama dengan sarung, yaitu untuk menangkis dan menjerat lawan.

Sekarang, selendang hanya digunakan sebagai pelengkap pakaian adat Jakarta, khususnya untuk busana pengantin wanita.

12. Tusuk Konde

hendartoey.files.wordpress.com

Selain selendang, Tusuk Konde juga dapat digunakan oleh pejuang wanita Betawi sebagai senjata. Tusuk Konde merupakan aksesoris rambut yang ditancapkan ke konde wanita. Ujung Tusuk Konde ini tajam membuat tusuk konde bisa digunakan untuk menusuk lawan dalam keadaan mendesak.

Tusuk Konde memiliki ujung yang runcing, sehingga pada zaman dulu digunakan sebagai alat untuk menusuk lawan saat situasi sedang terjepit. Ujung runcing bisa berkamuflase karena bagian kepala dari tusuk konde ini tidak menampilkan bentuk yang berbahaya. Ketajaman yang ada pada Tusuk Konde dari hasil penggosokkan menggunakan batu asah.

Adapun masyarakat zaman dulu dapat memperoleh senjata tradisional Jakarta ini dengan membelinya di pasar-pasar. Tetapi, Tusuk Konde belum runcing dah bisa digunakan sebagai alat tusuk saat baru dibeli. Saat sudah diasah dan digosok dengan batu, senjata ini bisa menjadi tajam dan berbahaya. Saat ini, penggunaan dari Tusuk Konde dapat beralih dari fungsi sebagai senjata tradisional.

Rekomendasi Buku Tentang Senjata Tradisional Betawi/DKI Jakarta

Berikut ini beberapa buku yang bisa Grameds baca tentang senjata tradisional Betawi, di antaranya:

1. Maen Pukulan: Pencak Silat Khas Betawi (2016) karya G. J. Nawi

Buku ini ditulis oleh anak Betawi yang menyajikan ulasan dari sumber sejarah tertulis. Dengan membaca buku ini, membuka wawasan kebudayaan tentang seni dan budaya Betawi.

2. Asal usul Djakarta Tempo Doeloe (2018) karya Zaenuddin Hm

Buku ini menyajikan bagaimana asal-usul daerah-daerah di Jakarta tempo dulu, dan mengajak pembaca untuk menelisik fakta-fakta tempat bersejarah di Jakarta. Buku ini seolah membawa pembacanya untuk membayangkan bentuk Ibu Kota pada zaman dahulu.

3. Si Jampang Jago Betawi kajian Tokoh dalam Komik Ganes TH (2016) karya Paul Heru Wibowo

Lewat buku ini, penulis buku mengajak pembaca untuk mengenal dan memahami ketokohan cerita rakyat Betawi melalui kajian-kajian yang menarik untuk diikuti.

Demikian artikel tentang senjata tradisional Betawi/DKI Jakarta. Semoga bermanfaat ya, Grameds! Sebagai #SahabatTanpaBatas, Gramedia akan selalu memberikan produk-produk terbaik yang bisa kamu dapatkan di gramedia.com, agar Grameds bisa memiliki informasi #LebihDenganMembaca.

Penulis: Diki



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien