Tokoh

Sejarah Pendiri Kerajaan Sriwijaya Beserta Silsilahnya

pendiri kerajaan sriwijaya
Written by Laeli Nur Azizah

Pendiri Kerajaan Sriwijaya – Kerajaan Sriwijaya adalah sebuah kerajaan yang menjadi salah satu kerajaan maritim terbesar yang ada di wilayah Indonesia. Letaknya kerajaan ini berada tepat di Pulau Sumatera dengan corak khasnya yaitu Budha.

Kerajaan Sriwijaya juga menjadi sebagai sebuah kerajaan yang berhasil berkuasa dalam mengendalikan jalur perdagangan utama di wilayah Selat Malaka. Serta berhasil pula untuk menaklukkan berbagai kerajaan yang ada di Pulau Jawa.

Sebagai kerajaan yang berada di jalur perdagangan yang melintasi Selat Malaka, terdapat banyak sekali para pedagang yang singgah di jalur perdagangan ini guna membeli rempah-rempah. Tidak hanya barang berupa rempah-rempah saja, awal mula berdirinya kerajaan Sriwijaya juga terjadi pula sebuah pertukaran kebudayaan yang dibawa oleh para pedagang yang berasal dari India, Arab, dan China yang membawa dampak terhadap budaya di Pulau Sumatera sampai sekarang ini.

Nama Sriwijaya ini diambil dari bahasa Sansekerta yakni kata “Sri” artinya cahaya atau bercahaya dan kata “Wijaya” artinya kejayaan atau kemenangan. Dengan begitu, arti nama dari Sriwijaya yaitu kemenangan yang gemilang.

Lalu, bagaimana awal mula berdirinya kerajaan Sriwijaya? Siapakah pendiri kerajaan Sriwijaya? dan apa saja beberapa hal penting lainnya terkait kerajaan Sriwijaya?. Berikut telah dirangkum terkait kerajaan Sriwijaya mulai dari awal mula berdiri kerajaan Sriwijaya, pendiri kerajaan Sriwijaya, raja-raja di kerajaan Sriwijaya, letak dari kerajaan Sriwijaya, masa kejayaan kerajaan Sriwijaya, masa keruntuhan kerajaan Sriwijaya, dan peninggalan dari kerajaan Sriwijaya. Mari perhatikan secara lengkap pembahasan berikut ini.

Awal Mula Berdiri Kerajaan Sriwijaya

Sebuah catatan awal mula berdirinya kerajaan Sriwijaya pertama kali diteliti oleh seorang Pria kelahiran Perancis pada tahun 1920, bernama George Coedes. Kala itu dirinya memberitahukan mengenai temuannya dalam sebuah surat kabar berbahasa Indonesia dan Belanda.

Kerajaan Sriwijaya diperkirakan telah berdiri dan pertama kali muncul pada abad ke-7 masehi. Hal itu dengan didasarkan pada sebuah catatan perjalanan seorang biksu bernama I Tsing yang menuliskan kisah persinggahan selama 6 bulan di Kerajaan Sriwijaya. Tak hanya itu saja, catatan mengenai berdirinya kerajaan Sriwijaya ini juga didasarkan pada sebuah penemuan prasasti abad ke-7 yang cukup banyak.

Pada abad ke-7 masehi kerajaan Sriwijaya yang dipimpin oleh seorang raja bernama Dapunta Hyang Sri Janayasa atau biasa disebut dengan nama Sri Jayanasa, merupakan seorang raja pertama di kerajaan Sriwijaya. Keterangan itu tertulis dalam salah satu prasasti yang ditemukan di Kota Kapur, Bangka.

Meski begitu, kisah pendirian dari kerajaan Sriwijaya ini merupakan salah hal yang terkadang cukup sulit untuk dipecahkan oleh para peneliti. Karena pada sumber-sumber yang telah ditemukan atau dijumpainya tersebut tidak terdapat sebhah struktur genealogis yang tersusun secara rapi antar raja-raja di kerajaan Sriwijaya.

Di dalam prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 masehi menyebutkan bahwa nama Dapunta Hyang, merupakan raja di kerajaan Sriwijaya. Lalu, Di dalam prasasti lainnya yaitu prasasti Talang Tuo pada tahun 684 masehi menyebutkan bahwa nama Dapunta Hyang diperjelas kembali menjadi nama Dapunta Hyang Sri Janayasa. Kedua prasasti ini dijadikan sebagai sebuah penjelasan tertua mengenai sosok dari Dapunta Hyang Sri Janayasa dianggap sebagai seorang pemimpin atau raja di kerajaan Sriwijaya.

Pada prasasti Kedukan Bukit ini pun menceritakan mengenai kisah dari seorang bernama Dapunta Hyang yang pernah mengadakan sebuah perjalanan dengan membawa sebanyak 20 ribu tentara yang berasal dari Minanga Tamwan menuju ke daerah Palembang, Bengkulu, dan juga Jambi. Dalam perjalanannya itu, dirinya berhasil untuk menguasai wilayah yang dianggap strategis untuk melakukan perdagangan di kerajaan Sriwijaya sehingga menjadi makmur.

Sementara itu, berdasarkan prasasti Kota ditemukan di Pulau Bangka pada tahun 686 masehi. Isi dalam prasasti tersebut menceritakan mengenai kisah dari kerajaan Sriwijaya yang diperkirakan telah berhasil dalam menaklukkan wilayah Sumatera bagian selatan, Bangka, dan juga Belitung. Bahkan hingga ke wilayah Lampung.

Bukti itu juga menyebutkan bahwa Sri Jayanasa mencoba untuk melancarkan ekspedisi militernya guna melakukan serangan terhadap wilayah Jawa yang dianggapnya sebagai wilayah yang tidak mau berbakti terhadap maharaja Sriwijaya. Peristiwa tersebut terjadi pada waktu yang hampir mendekati dengan runtuhnya sebuah kerajaan yang ada di Jawa Barat bernama Kerajaan Tarumanegara dan kerajaan yang ada di Jawa Tengah bernama Kerajaan Kalingga atau Holing. Serangan itu dapat saja terjadi dikarenakan oleh adanya serangan atau perlawanan yang dilancarkan oleh kerajaan Sriwijaya.

Beli Buku di Gramedia

Pendiri dari Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya mempunyai seorang raja pertama bernama Dapunta Hyang Sri Jayanasa atau biasa disebut Sri Jayanasa. Nama Dapunta Hyang Sri Jayanasa menjadi raja di kerajaan Sriwijaya dengan didasarkan pada sebuah catatan dari I Tsing dan catatan dari dua prasasti yakni prasasti Talang Tuo dan prasasti Kedukan Bukit.

Pada catatan I Tsing dan prasasti tersebut menyebutkan bahwa nama Dapunta Hyang Sri Jayanasa adalah seorang yang diangkat sebagai raja di kerajaan Sriwijaya setelah melakukan perjalanan suci atau biasa dikenal Siddhayatra memakai sebuah perahu.

Dapunta Hyang Sri Jayanasa memimpin ribuan prajurit dan armada untuk menguasai sejumlah wilayah di Palembang, Lampung, Jambi, dan Bangka. Sejumlah catatan lain pun menyebutkan bahwa Dapunta Hyang juga sempat mencoba untuk melakukan penyerangan terhadap kerajaan yang ada di Pulau Jawa.

Raja-raja di Kerajaan Sriwijaya

Seperti yang telah disampaikan pada pembahasan diatas bahwa struktur genealogis raja-raja di Sriwijaya banyak yang terputus dan hanya didukung oleh beberapa bukti yang dianggap kurang kuat.

Berikut merupakan nama raja-raja di kerajaan Sriwijaya yang telah disepakati oleh sejumlah para ahli sesudah masa kekuasaan dari Dapunta Hyang Sri Jayanasa. Diantaranya yaitu:

– Sri Indrawarman
– Raja Dharanindra
– Raja Samaratungga
– Rakai Pikatan
– Balaputradewa
– Sri Udayadityawarman
– Sri Culamaniwarman atau Cudamaniwarman
– Sri Marawijayatunggawarman
– Sri Sanggramawijayatunggawarman

Letak dari Kerajaan Sriwijaya

Letak pasti dari kerajaan Sriwijaya sampai sekarang ini masih menjadi perdebatan. Akan tetapi, sebuah pendapat yang dikemukakan oleh seorang bernama G. Coedes di tahun 1918 menyebutkan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya berada di wilayah Palembang.

Hingga sekarang ini, wilayah Palembang masih dianggap sebagai pusat pemerintahan kerajaan Sriwijaya. Sejumlah para ahli juga menyimpulkan bahwa Sriwijaya dengan coraknya yakni maritim mempunyai kebiasaan dalam berpindah-pindah pusat kekuasaan. Karena terdapat sejumlah ahli yang menyimpulkan bahwa Sriwijaya berpusat di wilayah Kedah, Setelah itu Muara Takus, sampai disebutkan pula kota Jambi.

Namun sebuah penelitian baru yang dilakukan oleh Universitas Indonesia di tahun 2013 menemukan bahwa terdapat sejumlah situs candi dengan corak Buddha di wilayah Muaro Jambi. Runtuhnya candi tersebut diperkirakan menjadi tempat tinggal dari para cendekiawan Buddha. Pada dahulu kala, kerajaan Sriwijaya banyak menampung biksu Buddha dan para cendekiawan.

Beli Buku di Gramedia

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Masa kejayaan kerajaan Sriwijaya berada ketika masa pemerintahan Balaputradewa. Saat itu, kerajaan Sriwijaya banyak berhasil menguasai jalur perdagangan yang strategis dan beberapa kerajaan lainnya.

Kekuasaan dan pengaruh kerajaan Sriwijaya pun telah mencapai ke wilayah Thailand dan Kamboja. Hal itu tampak pada Pagoda Borom That yang memiliki gaya arsitektur Sriwijaya yang berada di Chaiya, Thailand.

Letaknya yang berada di jalur perdagangan menjadikan Sriwijaya mudah untuk menjual hasil alam, misalnya kapur barus, cengkih, kayu gaharu, kayu cendana, kapulaga, dan pala. Raja Balaputradewa dianggap sebagai seorang raja yang membawa kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaan di abad ke-8 dan ke-9.

Akan tetapi, pada dasarnya kerajaan Sriwijaya mengalami masa kekuasaan yang jaya hingga ke generasi Sri Marawijaya. Hal itu dikarenakan raja-raja sesudah Sri Marawijaya telah disibukkan oleh peperangan melawan Pulau Jawa di tahun 922 masehi dan 1016 masehi.

Kemudian, dilanjutkan dengan perlawanan menghadapi kerajaan Cola di tahun 1017 sampai tahun 1025 masehi, Raja Sri Sanggramawijaya berhasil ditawan. Pada masa pemerintahan Balaputradewa hingga dengan Sri Marawijaya, kerajaan Sriwijaya berhasil menaklukkan Selat Malaka yang menjadi jalur utama perdagangan antara Cina dan India.

Tak hanya itu saja, seperti yang dikutip dari Buku Mengenal Kerajaan-Kerajaan Nusantara karya dari Deni Prasetyo, menceritakan bahwa mereka berhasil memperluas kekuasaan sampai ke wilayah Jawa Barat, Bangka, Kalimantan Barat, Singapura, Malaysia, dan Thailand bagian Selatan. Guna menjaga keamanan tersebut, kerajaan Sriwijaya membangun sejumlah armada laut yang cukup kuat.

Dengan tujuan agar kapal asing yang hendak melakukan perdagangan di Sriwijaya merasa aman dari adanya gangguan perompak. Sampai lambat laun, Sriwijaya berkembang sebagai negara maritim yang sangat kuat.

Beli Buku di Gramedia

Masa Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Seiring pergantian dari kepemimpinan kerajaan Sriwijaya yang mulai banyak mendapatkan serangan dari berbagai kerajaan khususnya adalah kerajaan di Pulau Jawa. Terdapat serangan dari kerajaan Medang yang berada di Jawa Timur, serangan itu merupakan salah satu serangan gencar dari Pulau Jawa.

Selain itu kerajaan Sriwijaya pub menerima serangan bertubi-tubi dari kerajaan Cola hingga melemahkan kekuasaan di Selat Malaka dan secara perlahan berhasil menguasai daerah kekuasaan lain di Sriwijaya. Kebesaran kerajaan Sriwijaya kini mulai mengalami kemunduran pada abad ke-11 masehi.

Pada masa itu, berawal dari adanya serangan besar-besaran yang dilakukan oleh seorang raja bernama Rajendra Coladewa dari Kerajaan Cola yang berhasil menaklukkan salah satu raja di kerajaan Sriwijaya. Dilansir dari buku Sejarah karya dari Nana Supriatna, menceritakan bahwa pada abad ke-13 masehi salah satu kerajaan taklukan Sriwijaya yakni kerajaan Malayu, berhasil ditaklukkan oleh kerajaan Singasari, merupakan kerajaan dari Jawa dengan pemimpin bernama Kertanegara. Lewat sebuah ekspedisi Pamalayu, Kertanegara berhasil untuk menjalin hubungan yang baik terhadap kerajaan Malayu.

Sedangkan, kerajaan Sriwijaya mulai merasa lemah dan tidak dapat berbuat apa-apa dalam mencegah negara taklukannya menjalin hubungan yang baik dengan wilayah saingan yaitu Pulau Jawa. Sampai kelemahan itu dimanfaatkan oleh kerajaan Sukhodaya dari Thailand dibawah pimpinan Raja Kamheng. Daerah Sriwijaya yang berada di Semenanjung Malaysia berhasil direbut sehingga Selat Malaka dapat dikuasai. Akhir abad ke-14 masehi, kerajaan Sriwijaya pun benar-benar runtuh sebab serangan kerajaan Majapahit dari Jawa.

Peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya

Terdapat sejumlah peninggalan kerajaan Sriwijaya yang belum diketahui oleh orang banyak. Berikut peninggalan kerajaan Sriwijaya mulai dari prasasti hingga dengan Candi, diantaranya:

1. Prasasti Kedukan Bukit

Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang pertama ini yaitu prasasti Kedukan Bukit. Prasasti tersebut ditemukan di tepi sungai Batang, Kedukan Bukit, Kota Palembang. Pada prasasti itu terdapat angka tahun yakni 686 masehi yang ditulis menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Di dalam prasasti Kedukan Bukit berisi ungkapan mengenai Dapunta Hyang yang menaiki perahu dan mengisahkan mengenai kemenangan Sriwijaya.

2. Prasasti Kota Kapur

Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang kedua ini yaitu prasasti Kota Kapur. Prasasti itu ditemukan di Pulau Bangka sebelah Barat yang isinya mengenai kutukan untuk orang yang berani melanggar perintah dari Raja Sriwijaya.

3. Prasasti Telaga Batu

Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang ketiga ini yaitu prasasti Telaga Batu. Prasasti tersebut ditemukan di Kolam Telaga Biru, Kecamatan Ilir Timur, Kota Palembang. Di dalam prasasti Telaga Batu berisi tentang kutukan untuk orang-orang jahat yang berada di wilayah kerajaan Sriwijaya.

4. Prasasti Karang Berahi

Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang keempat ini yaitu prasasti Karang Berahi. Prasasti tersebut ditemukan di Desa Karang Berahi, Merangin, Jambi. Di dalam prasasti Karang Berahi isinya mengenai kutukan untuk orang-orang jahat yang tidak setia terhadap Raja Sriwijaya.

5. Prasasti Palas Pasemah

Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang kelima ini yaitu prasasti Palas Pasemah. Prasasti tersebut ditemukan di pinggir rawa Desa Palas Pasemah, Lampung Selatan. Di dalam prasasti Palas Pasemah berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuno yang isinya mengenai kutukan untuk orang-orang jahat yang tidak setia terhadap Raja Sriwijaya.

Beli Buku di Gramedia

6. Prasasti Talang Tuo

Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang selanjutnya ini yaitu prasasti Talang Tuo. Di dalam prasasti tersebut berisi mengenai doa Buddha Mahayana dan kisahnya mengenai pembangunan taman dari Sri Jayanasa.

7. Prasasti Hujung Langit

Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang berikutnya ini yaitu prasasti Hujung Langit. Prasasti tersebut ditemukan di Desa Haur Kuning, Lampung. Di dalam prasasti Hujung Langit terdapat sebuah angka tahun yakni 997 masehi.

8. Prasasti Ligor

Selain Peninggalan kerajaan Sriwijaya yang telah disebutkan diatas terdapat juga peninggalan kerajaan sriwijaya lainnya yaitu prasasti Ligor. Prasasti tersebut ditemukan di wilayah Thailand sebelah Selatan oleh seorang bernama Nakhon Si Thammarat. Di dalam prasasti Ligor berisi mengenai kisah seorang Raja Sriwijaya yang membangun Tisamaya Caitya untuk Karaja.

9. Prasasti Leiden

Tak hanya prasasti Ligor, Talang Tuo, Hujung Langit, Palas Pasemah, Karang Berahi, Kota Kapur, Telaga Batu, dan Kedukan Bukit saja, terdapat juga peninggalan kerajaan Sriwijaya lainnya yaitu prasasti Leiden. Di dalam prasasti ini tertulis bahasa Sanskerta pada lempengan tembaganya. Serta tamil yang mengisahkan mengenai hubungan dinasti Cola terhadap dinasti Syailendra dari Sriwijaya.

10. Candi Muara Takus

Peninggalan kerajaan Sriwijaya tidak hanya memiliki peninggalan berupa prasastinya yang cukup banyak tetapi juga memiliki Candi. Terdapat peninggalan kerajaan Sriwijaya berupa Candi yang bernama Muara Takus. Candi ini ditemukan di Desa Muara Takus, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau. Candi Muara Takus mempunyai corak Budha yang khas dengan beberapa susunan stupa. Di dalam halaman Candi ini pun terdapat Candi dengan nama Candi Bungsu, Candi Sulung, Stupa Palangka, dan Stupa Mahligai.

Demikian pembahasan mengenai Kerajaan Sriwijaya mulai dari awal mula berdiri kerajaan Sriwijaya, pendiri kerajaan Sriwijaya, raja-raja di kerajaan Sriwijaya, letak dari kerajaan Sriwijaya, masa kejayaan kerajaan Sriwijaya, masa keruntuhan kerajaan Sriwijaya, dan peninggalan dari kerajaan Sriwijaya. Semoga pembahasan tersebut dapat memberikan wawasan pengetahuan dan manfaat bagi para pembacanya.

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait Pendiri Kerajaan Sriwijaya



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien