Tokoh

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Islam Pertama

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai
Written by Ananda

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai, Kerajaan Islam Pertama di Nusantara – Kesultanan atau Kerajaan Samudera Pasai adalah kerjaan Islam pertama yang hadir di Nusantara. Kerajaan Samudera Pasai hadir pada abad ke 13 hingga abad ke 16 M di Nusantara dan berdiri pada tahun 1267 serta masa kejayaannya berakhir pada tahun 1521. Semuderan Pasai sendiri telah mengalami masa kejayaan serta meninggalkan beberapa jejak melalui beberapa peninggalannya.

Pendiri dari Kerajaan Samudera Pasai adalah Marah Silu dan ketika masuk Islam, Marah Silu pun memiliki gelar Sultan Malik Al Saleh. Lalu, siapakah sosok pendiri dari Kerajaan Samudera Pasai ini? Simak artikel ini untuk mengetahui lebih lanjut ya Grameds!

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai

Sumber: agoda.com

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai dan Awal Berdirinya

Menurut beberapa sumber, disebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai berdiri lebih awal dibandingkan Dinasti Utsmani di Turki yang berdiri pada tahun 1297 masehi. Menurut catatan dari Marcopolo, disebutkan pula bahwa ada seorang pedagangan yang berasal dari Venesia, Italia dan singgah di Samudera Pasai tahun 1292 masehi.

Dari catatan dari Marcopolo tersebut, Marcopolo menerangkan bahwa ia telah melihat sebuah kerajaan Islam yang telah berkembang pada saat itu, diketahui bahwa kerajaan Islam yang Marcopolo lihat adalah Samudera Pasai dengan ibukotanya di Pasai.

Selain dari dua catata dari Ibnu Battutah dan Marcopolo mengenai waktu berdiri Samudera Pasai, ada pula sebuah hikayat yaitu Hikayat Raja Pasai serta beberapa tulisan dari penyelidikan sejumlah ahli sejarah di Eropa.

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai

Menurut para ahli sejarah di Eropa, Kerajaan Samudera Pasai muncul pada sekitar pertengan abad ke 13 dengan raja pertamanya ialah Sultan Malik Al Saleh. Beberapa sumber menyatakan bahwa Sultan Malik Al Saleh bisa menjadi raja pertama dari Kerajaan Samudera Pasai karena Nazimuddin Al Kamil.

Nazimuddin Al Kamil ialah seorang laksamana laut yang berasal dari Mesir. Pada tahun 1238 M, Nazimuddin Al Kamil diperintahakn oleh Kesultanan Mamluk yang berada di Kairo untuk merebut sebuah pelabuhan yang bernama Kambayat berada di Gujarat India. Perebutan pelabuhan tersebut bertujuan untuk menjadikan pelabuhan sebagai tempat pemasaran barang perdagangan yang berasal dari timur.

Atas perintah dari Kesultanan Mamluk tersebut, Nazimuddin Al Kamil kemudian mengangkat Marah Silu atau Sultan Malik Al Saleh sebagai pemimpin pertama atau raja pertama dari Kerajaan Samudera Pasai di Aceh dengan gelar Sultan Malikussaleh atau Sultan Malik Al Saleh pada tahun 1267 hingga 1297 M.

Meskipun dipercaya bahwa Sultan Malik Al Saleh mendapatkan takhta Kerajaan Samudera Pasai dari pemberian Nazimuddin Al Kamil, Sultan Malik Al Saleh masih mendapatkan pengakuan sebagai pendiri sekaligus penguasa pertama dari Kerajaan Samudera Pasai.

Sementara itu ada beberapa sumber yang menyebutkan kisah berbeda mengenai cara Marah Silu atau Sultan Malik Al Saleh mendapatkan gelar sebagai pendiri dan raja pertama dari Kerajaan Samudera Pasai.

Menurut para ahli sejarah di Eropa, dijelaskan bahwa Nazimuddin Al Kamil yaitu seorang laksamana laut dari Mesir yang berasal dari Dinasti Fatimiyah berhasil menaklukan kerajaan Hindu Budha yang berada di Aceh lalu mendirikan kerajaan di Pasai.

Nazimuddin Al Kamil pun wafat lalu Pasai dikuasai oleh seorang laksamana bernama Johan Jani yang berasal dari Pulau We yang berasal dari Dinasti Mamaluk yaitu dinasti yang menggantikan Dinasti Fatimiyah.

Johan Jani kemudian berniat untuk merebut kerajaan dari para pendahulu. Dinasti Mamaluk kemudian mengutus seorang pendakawah yang bernama Syaikh Ismal dan Fakir Muhammad yang sebelumnya pernah berdakwah di sekitar Pantai Barat India lalu bergerak ke Pasai.

Di Pasai dua pendakwah tersebut pun bertemu dengan Marah Silu yaitu salah satu anggota angkatan perang dari di Kerajaan Pasai. Syaikh Ismal serta Fakir Muhammad kemudian membujuk Marah Silu untuk memeluk agama Islam lalu mendirikan Kerajaan Samudera dengan tujuan untuk menandingi Pasai.

Usai memeluk agama Islam, Marah Silu pun mendapatkan gelar Sulran Malik Al Saleh serta menjadi raja pertama dari Kerajaan Samudera. Kerajaan Samudera sendiri terletak di bagian kiti dari Sungai Pasai dan menghadap ke arah Selat Malaka.

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai

Sultan Malik Al Saleh lalu menikah dengan putri Ganggang Sati yaitu keturunan dari Sultan Aladdin Muhammad Amin yang berasal dari Kerajaan Perlak. Lalu sejak saat itulah, dua kerajaan Islam tersebut pun bergabung menjadi satu dan menjadi Kerajaan Samudera Pasai.

Nama Samudera Pasai sendiri sebenarnya berasal dari Samudera Aca Pasai yang artinya adalah Kerajaan Samudera yang baik dengan ibu kota berada di Pasai. Usai Sultan Malik Al Saleh meninggal dunia, takhta kerajaan pun digantikan oleh putranya yaitu Sultan Muhammad atau Malik Al Tahir pada 1297 M hingga 1326 M.

Sebagai tambahan informasi, Sultan Malik Al Saleh mendapatkan gelar Al Malikush Zhahir, sedangkan putranya diberi gelar Al Malikul Mansu Azh Zahir, yaitu gelar yang dipakai oleh Sultan Mamalik kedua yang berada di Mesir, yaitu Al Malikuzh Zhair Bibars pada tahun 1260 hingga 1277.

Al Mansur sendiri adalah gelar yang diberikan dari Sultan Mamalik ketiga. Sultan Al Malikuz Zhahir anak dari Merah Silu atau Sultan Malik Al Saleh pun menjadi sulten kedua di Samudera Pasai dan memiliki nama kecil Raja Muhammad.

Dari dua sumber tersebut, dapat diketahui bahwa pendiri Kerajaan Samudera Pasai yang diakui adalah Meurah Silu atau Sultan Malik Al Saleh sebagai pendiri dan raja pertama Kerajaan Samudera Pasai.

Masa Kejayaan Kerajaan Samudera Pasai

Ibnu Batutah berkesempatan untuk mengunjungi Kerajaan Samudera Pasai di masa-masa kejayaannya yaitu pada masa pemerintahan Sultan Al Malik Az Zahir II yang berkuasa hingga tahun 1349 M. Samudera Pasai saat itu berdagang lad sebagai salah satu komoditas utamanya dan memiliki peran sebagai bandar dagang besar saat itu.

Bahkan pada masa tersebut, Kerajaan Samudera Pasai ini telah mengeluarkan bentuk alat tukar berupa koin emas atau dirham dengan komposisi emas pada alat tukar tersebut adalah 70 persen murni. Selain berjaya karena perdagangan, Kerajaan Samudera Pasai juga menjadi pusat dari penyebaran agama Islam. Sebab, letak Kerajaan Samudera Pasai dinilai strategis serta mudah dikunjungi oleh orang-orang dari berbagai daerah dengan beragam agama.

Kerajaan Samudera Pasai pun sempat mendapatkan serangan dari Kerajaan Majapahit di masa jayanya. Namun, Kerajaan Samudera Pasai berhasil kembali merengkuh masa-masa keemasan di era pemerintahan seorang sultan perempuan dengan gelar Sultanah Malikah Nahrasyiyah yang memegang takhta pada tahun 1406 hingga 1428 M.

Sultanah Nahrasyiyah pun memiliki peran besar dalam memajukan Kerajaan Samudera Pasai, termasuk dalam menjadikan Samudera Pasai sebagai salah satu pusat perkembangan agama Islam yang besar serta kuat di Nusantara saat itu.

Masa Akhir Kerajaan Samudera Pasai serta Invasi dari Portugis

Menurut catatan Tiongkok, putra dari Zainal Abidin seharunya memiliki hak untuk dapat menduduki takhta kerajaan di Samudera Pasai. Akan tetapi, seorang nelayan berhasil merebut takhta tersebut. Karena tidak merasa senang, Zainal Abidin pun membunuh nelayan yang merebut takhtanya, lalu Zainal Abidin pun naik takhta yang sebelumnya memang haknya.

Raja Iskandar yaitu anak dari Raja Samudera Pasai pada tahun 1412 pun dibawa oleh Laksamana Cheng Ho untuk mengunjungi Tiongkok lalu datang dan menghadap kepada Maharaja Tiongkok. Lalu usia sampai di Tiongkok, Raja Iskandar pun meninggal karena terbunuh. Semenjak terbunuhnya Raja Iskandar, jarang terdengar hubungan diplomatis yang terjadi antara Pasai serta Tiongkok. Tercatat bahwa kunjungan terakhir Kerajaan Samudera Pasai ke Tiongkok adalah pada tahun 1434.

Sementara itu, Malaka saat itu mulai naik dan Kerajaan Samudera Pasai mulai turun. Pelabuhan di Pasai secara perlahan pun berangsur-angsur mulai sepi dan pantainya mulai dangkal. Sehingga, banyak kapal yang memilih untuk melabuhkan kapalnya di Pelabuhan Malaka.

Sejak saat itu, pusat kegiatan Islam yang mulanya berada di Pasai pun berpindah ke Malaka. Selain itu, banyak pula warga yang berasal dari Samudera Pasai memilih untuk meninggalkan kampung halamannya usai Portugis melakukan invasi dan menyerang Samudera Pasai pada tahun 1521.

Lantas makin banyak pula warga di Samudera Pasai yang pergi dan memilih merantau ke tanah Jawa terutama merantau ke Jawa Timur dan menetap di sana yaitu ke daerah pusat kekuasaan Majapahit.

Salah satu warga asal Pasai yang datang ke Jawa bernama Fatelehan atau Fatahillah atau Syarif Hidayatullah. Ia memutuskan untuk peri merantai ke Jawa sebab saat itu Kerajaan Samudera Pasai yaitu negerinya tengah diserang oleh Portugsi. Di jawa, Fatahillah pun memutuskan untuk berkarirs sebagai seorang panglima perang di Demak untuk mengalahkan Galuh serta Pajajaran. Hingga akhitnya Fatahillah sukses dan mendirikan kota Banten serta Cirebon.

Relasi serta Persaingan Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai kembali bangkit di era pemerintahan Sultan Zain Al Abidin Malik Az Zahir pada tahun 1383 yang memerintah hingga tahun 1405. Menurut kronik Tiongkok, Sultan Zain pun berhasil dikenal dengan nama Tsai-nu-li-a-pi-tingki dan disebutkan bahwa ia tewas di tangan Raja Nakur. Lalu, pemerintahan dari Kerajaan Samudera Pasai pun dilanjutkan oleh istrinya yaitu Sultanah Nahrasiyah yang berhasil pula membawa Kerajaan Samudera Pasai dalam kejayaan dan masa keemasan.

Pada tahun 1405, 1408 serta tahun 1412 Laksamana Cheng Ho mengunjungi Pasai dengan membawa armada sekitar 208 kapal. Menurut sumber, perjalanan yang dilakukan oleh Cheng Ho pun dicatata oleh para pembantungany bernama Ma Huan serta Fei Xin.

Secara geografis, Kerajaan Samudera Pasai dideskripsikan memiliki batas wilayah dengan pegunungan-pegunungan tinggi yang berada di sebelah selatan dan timur Pasai, serta apabila terus mengarah ke timur, maka Pasai berbatasan dengan dua kerajaan yaitu Kerajaan Nakur serta Kerajaan Lide.

Sedangkan apabila terus mengarah ke barat maka akan berjumpa dengan Kerajaan Lambri atau Lamuri yang disebutkan bahwa jarak dari Pasai ke kerajaan tersebut adalah tiga hari tiga malam. Dengan perbatasan antara Pasai dan wilayah-wilayah kerajaan tersebut, Kerajaan Samudera Pasai pun memiliki persaingan dengan daerah perbatasannya.

Sementara itu, Pasai juga memiliki relasi dengan Tiongkok yang hubungannya diperkuat dengan hubungan para raja atau bangsawan Pasai dengan Laksamana Cheng Ho yang saat itu sering mengunjungi Pasai bersama dengan pasukan armadanya.

Pemerintahan Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan Samudera Pasai memiliki pusat pemerintahan yang berada di antara Krueng Jambo Aye atau Sungai Jambu Air dengan Krueng Pase atau Sungai Pasai di Aceh Utara. Menurut catatan cari Ibnu Batuthah, disebutkan bahwa Kerajaan Samudera Pasai saat itu tidak memiliki benteng pertahanan dari batu, akan tetapi telah memagari kota-kotanya dengan kayu yang memiliki jarak beberapa km dari pelabuhannya. Pada kawasan pusat pemerintahan tersebut, kerajaan ini pun memiliki masjid, pasat serta dilalui oleh sungar air tawar yang bermuara ke laut.

Dalam struktur pemerintahan yang ada di Kerajaan Samudera Pasai, ada istilah menteri, syahbandar serta kadi. Sementara anak sultan saat itu baik laki-laki atau perempuan mendapatkan gelar Tun, gelar ini juga diberikan kepada beberapa petinggi kerajaan di Samudera Pasai. Kesultanan Pasai saat itu memiliki beberapa kerajaan bawah serta penguasa dari kerajaan ini memiliki gelar sultan.

Pada era pemerintahan Sultan Muhammad Malik Az Zahir, Kerajaan Perlak juga menjadi bagian dari kedaulatan Pasai. Lalu, Sultan Muhammad Malik Az Zahir pun menempatkan salah seorang anaknya yang bernama Sultan Mansur di Samudera.

Namun, pada masa pemerintahan Sultan Ahmad Malik Az Zahir, kawasan Samudera saat itu telah menjadi satu kesatuan dengan nama Samudera Pasai yang memiliki pusat pemerintahan tetap yaitu di Pasai.

Pada masa pemerintahan Sultan Zain Al Abidin Malik Az Zahir, Kerajaan Pedir atau Kerajaan Lide disebutkan menjadi salah satu kerajaan bawahan dari Pasai. Sementara itu, Pasai saat itu juga memiliki hubungan yang cukup buruk dengan Kerajaan Nakur, yaitu kerajaan yang berada di dekat perbatasan wilayah Pasai. Hubungan buruk antara dua kerajaan tersebut diperparah dengan Kerajaan Nakur yang menyerang Pasai dan mengakibatkan Sultan Pasai akhirnya terbunuh.

Perekonomian Kerajaan Samudera Pasai

Pasai adalah kota dagang yang mengandalkan lada sebagai komoditas andalannya. Dalam catatan Ma Huan disebutkan pula bahwa 100 kati lada dijual dengan harga perak 1 tahil. Dalam urusan perdagangan, Kesultanan Pasai mengeluarkan koin emas sebagai salah satu alat transaksi pada masyarakatnya, mata uang ini juga disebut Deureuham atau Dirham yang komposisinya terbuat dari 70% emas murni dengan berat alat tukar tersebut 0.60 gram dan dengan diameter 10 mm serta mutu 17 karat.

Sementara itu, masyarakat di Pasai umumnya juga menanam padi di ladang. Padi tersebut dapat dipanen dua kali setahun. Selain padi, para masyarakat di Pasai juga memiliki sapi perah untuk menghasilkan kerju. Sedangkan rumah penduduknya, memiliki tinggi rata-rata 2.5 meter dan memiliki penyekat yang membuat rumah tersebut terbagi menjadi beberapa bilik. Rumah masyarakat Pasai pun terbuat dari lantai yang bahannya berasal dari kayu kelapa atau kayu pinang serta disusun dengan rotan, lalu di atasnya dihamparkan sebuah tikar rotan atau pandan.

Pendiri Kerajaan Samudera Pasai

Itulah penjelasan mengenai sosok pendiri Kerajaan Samudera Pasai dan bagaimana pendiri Kerajaan Samudera Pasai yaitu Sultan Malik Al Saleh mendapatkan takhta berdasarkan beberapa sumber literasi yang ditulis oleh para ahli sejarah.

Materi mengenai kerajaan atau Kesultanan Samudera Pasai sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara dapat Grameds pelajari melalui buku-buku yang tersedia di Gramedia.com. Sebagai #SahabatTanpaBatas, Gramedia menyediakan buku dengan materi terkait yang dapat dibeli secara online maupun offline. Jadi, tunggu apa lagi? Segera beli dan miliki bukunya sekarang juga!

Rekomendasi Buku & Artikel Terkait Pendiri Kerajaan Samudera Pasai



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien