in , , ,

Review Buku Perempuan di Titik Nol

Perempuan di Titik Nol – Perempuan di Titik Nol merupakan novel karya Nawal El Saadawi yang pertama kali diterbitkan dalam bahasa Arab dengan judul Emra’a enda noktas el sifr pada tahun 1975. Karya ini terinspirasi dari kisah nyata seorang perempuan yang ditemui Saadawi di Penjara Qanatir. Tokoh utamanya bernama Firdaus, seorang perempuan yang dijatuhi hukuman mati karena tindakannya membunuh. Melalui kisah ini, Saadawi menyoroti kehidupan perempuan yang terjebak dalam sistem masyarakat patriarkal.

Novel ini juga dikenal dengan judul lain, Firdaus, diambil dari nama tokoh utamanya, seorang narapidana perempuan yang ditemui pengarang pada tahun 1973 di penjara Qanatir, Mesir. Firdaus kemudian dieksekusi pada akhir tahun 1974, di masa pemerintahan Anwar al-Sadat yang masih sangat patriarkal. Buku setebal 176 halaman ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Yayasan Pustaka Obor pada 17 Maret 2019.

Melalui Perempuan di Titik Nol, Nawal El Saadawi menggambarkan pertentangan antara laki-laki dan perempuan dalam budaya yang menempatkan perempuan pada posisi rendah. Kisah Firdaus menjadi cermin tajam atas ketimpangan gender dan perjuangan perempuan melawan ketidakadilan sosial.

Grameds penasaran dengan kisah lengkapnya? Yuk, simak ulasan berikut untuk mengetahui lebih dalam isi buku ini.

Profil Nawal El Saadawi – Penulis Buku Perempuan di Titik Nol

Nawal El Saadawi lahir pada tahun 1931 di sebuah desa kecil di pinggiran Kairo. Berbeda dari kebanyakan perempuan pada masanya, ia bersama saudara-saudaranya mendapat kesempatan untuk menempuh pendidikan. Setelah menamatkan studinya di Fakultas Kedokteran Universitas Kairo pada tahun 1955, ia mengambil spesialisasi dalam bidang psikiatri. Selama dua tahun, Nawal berpraktik sebagai dokter, baik di universitas maupun di kota kelahirannya, Tahla.

Karya-karya Nawal El Saadawi telah mendapatkan pengakuan luas di dunia internasional. Ia menerima gelar doktor kehormatan dari berbagai universitas ternama seperti York, Illinois, Chicago, St. Andrews, dan Tromso. Sejumlah penghargaan bergengsi juga berhasil diraihnya, di antaranya Penghargaan Pemikir Agung Abad ke-20 dari American Biographical Institute pada tahun 2003, Penghargaan Utara-Selatan dari Dewan Eropa, serta Penghargaan Internasional Catalunya pada tahun 2004. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke lebih dari 28 bahasa dan menjadi bahan ajar di banyak universitas di berbagai negara.

Kini, Nawal El Saadawi dikenal sebagai penulis, psikiater, sekaligus aktivis yang berpengaruh. Karya terbarunya yang berjudul Al Riwaya diterbitkan di Kairo pada tahun 2004.

Sinopsis Buku Perempuan di Titik Nol

button cek gramedia com

Dari balik jeruji penjara, Firdaus yang dijatuhi hukuman mati karena membunuh seorang germo, mengisahkan perjalanan hidupnya yang penuh luka. Ia bercerita tentang masa kecilnya di desa hingga akhirnya menjadi seorang pelacur kelas atas di Kota Kairo. Firdaus menerima hukuman gantungnya dengan tenang, bahkan menolak tawaran grasi dari presiden yang diajukan oleh dokter penjara. Bagi Firdaus, keputusan hakim itu justru menjadi satu-satunya jalan untuk meraih kebebasan sejati. Sebuah kenyataan yang begitu ironis.

Melalui sosok pelacur ini, pembaca diajak menyingkap kebusukan masyarakat yang dikuasai oleh laki-laki. Sebuah potret tajam sekaligus kritik sosial yang mengguncang nurani.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Perempuan di Titik Nol 

Pros & Cons

Pros
  • Berdasarkan kisah nyata.
  • Mengeksplorasi tema yang jarang dibahas.
  • To the point.
  • Bacaan singkat.
  • Cerita yang intens.
  • Karakter yang memukau.
Cons
  • Menuai pro dan kontra.
  • Bacaan untuk dewasa.
  • Kalimat repetitif.

 

Kelebihan Buku Perempuan di Titik Nol 

Nawal El Saadawi menulis buku ini bukan semata untuk hiburan, melainkan sebagai tamparan keras terhadap realitas yang dialami perempuan di dunia. Perempuan di Titik Nol bukan sekadar karya sastra, tetapi juga menjadi bukti ketangguhan dan keberanian seorang wanita dalam menghadapi ketidakadilan.

  • Berdasarkan kisah nyata

Novel ini lahir dari kisah nyata yang dialami seorang perempuan di Mesir. Ditulis oleh Nawal El Saadawi, penulis feminis dengan reputasi internasional, buku ini pertama kali terbit pada tahun 1973 dalam bahasa Arab dan segera mendapat perhatian luas hingga akhirnya diterjemahkan ke berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia.

  • Mengeksplorasi tema yang jarang dibahas

Melalui kisah Firdaus, Nawal El Saadawi mengangkat tema yang jarang disentuh, yaitu kehidupan perempuan yang terkungkung dalam sistem patriarki. Berdasarkan pengalamannya saat meneliti di penjara Qanatir, penulis menemukan banyak kisah perempuan yang tragis dan menginspirasi, yang kemudian menjadi dasar penulisan novel ini.

  • To the point

Gaya bahasa Nawal El Saadawi terasa lugas dan jujur. Ia menulis tanpa berlebihan, menghadirkan kisah Firdaus dengan kejujuran yang menyakitkan namun kuat.

  • Bacaan singkat

Novel ini tergolong singkat dan padat. Dalam tiga bagian, kisah hidup Firdaus disampaikan melalui sudut pandang penulis yang awalnya penuh rasa ingin tahu, lalu berangsur berubah menjadi kagum dan terenyuh. Buku ini memang sulit untuk dilepaskan, karena setiap halamannya mengandung makna yang dalam.

  • Cerita yang intens

Sejak awal membaca, pembaca langsung dibawa ke suasana yang tegang dan mencekam. Sekitar lima puluh halaman pertama dipenuhi emosi yang kuat, menggambarkan ketegangan saat Nawal hendak bertemu dengan Firdaus. Sosok Firdaus yang penuh misteri membuat pembaca ikut merasakan rasa takut dan penasaran yang sama.

  • Karakter yang memukau

Tokoh Firdaus digambarkan dengan karakter yang sangat kuat dan berkesan. Cara berpikirnya yang tajam dan berbeda terhadap kehidupan dan laki-laki membuat pembaca terpukau. Ia menjadi simbol keberanian dan keteguhan seorang perempuan dalam menghadapi dunia yang tidak berpihak padanya.

 

Kekurangan Buku Perempuan di Titik Nol 

Buku Perempuan di Titik Nol  ini masih memiliki kekurangan di samping banyaknya keunggulan.

  • Menuai pro dan kontra

Novel ini sempat memunculkan perdebatan di berbagai kalangan. Pemerintah, tokoh agama konservatif, serta kelompok fundamentalis dari berbagai agama menganggap buku ini menyinggung kesucian ajaran agama. Akibatnya, novel ini pernah dilarang terbit dan beredar di Mesir. Namun, di sisi lain, karya ini mendapat sambutan hangat dari kalangan feminis di berbagai negara yang melihatnya sebagai karya penting dalam perjuangan perempuan.

  • Bacaan untuk dewasa

Beberapa bagian dalam buku ini menampilkan adegan yang bersifat eksplisit, sehingga lebih cocok dibaca oleh pembaca dewasa yang mampu memahami konteks sosial dan psikologis di baliknya.

  • Kalimat repetitif

Beberapa bagian dalam buku terasa repetitif, dengan pengulangan kalimat atau kata tertentu. Meskipun mungkin dimaksudkan untuk menekankan perasaan tokoh, bagi sebagian pembaca hal ini bisa terasa sedikit melelahkan.

 

Mengenal Feminisme

Feminisme berasal dari kata féminin dalam bahasa Prancis yang berarti kewanitaan atau hal-hal yang berkaitan dengan sifat perempuan. Secara umum, feminisme merupakan gerakan dan pemikiran yang memperjuangkan hak-hak perempuan agar memperoleh kedudukan yang setara dengan laki-laki. Gerakan ini berlandaskan pada nilai-nilai hak asasi manusia dan berupaya menciptakan keseimbangan dalam berbagai aspek kehidupan.

Feminisme juga dapat dipahami sebagai rangkaian gerakan sosial, politik, dan ideologi yang memiliki tujuan memperjuangkan kesetaraan gender di bidang politik, ekonomi, pribadi, dan sosial. Gerakan ini berpijak pada pandangan bahwa masyarakat selama ini lebih mengutamakan sudut pandang laki-laki, sehingga perempuan sering kali diperlakukan secara tidak adil. Upaya feminisme mencakup perlawanan terhadap stereotip gender serta perjuangan untuk memberikan kesempatan yang sama dalam pendidikan dan karier bagi perempuan.

Sepanjang sejarahnya, gerakan feminis terus memperjuangkan hak-hak perempuan, seperti hak memilih, menduduki jabatan politik, bekerja, memperoleh upah yang layak dan setara, memiliki properti, mendapatkan pendidikan, menandatangani kontrak, memiliki kedudukan yang sama dalam pernikahan, serta hak cuti melahirkan. Perkembangan feminisme dari masa ke masa dapat dilihat melalui perjalanan sejarah berikut.

Pada abad ke-16 hingga ke-18, gerakan ini muncul di Eropa sebagai bentuk perlawanan terhadap pandangan yang menilai perempuan tidak rasional dan dianggap sebagai makhluk rendah. Memasuki pertengahan abad ke-19, gerakan feminisme semakin menguat dengan hadirnya tokoh-tokoh seperti Elizabeth Cady Stanton dan Susan B. Anthony di Amerika Serikat.

Gelombang pertama feminisme berlangsung sekitar tahun 1848 hingga 1920, dengan fokus utama pada perjuangan hak pilih bagi perempuan yang mencapai puncaknya di Amerika Serikat pada tahun 1920. Pada abad ke-20, muncul aliran feminisme yang dipengaruhi oleh ide sosialisme, dengan tokoh-tokoh penting seperti Emma Goldman dan Clara Zetkin. Pemikiran ini kemudian berkembang ke berbagai bidang ilmu pengetahuan.

Gelombang-gelombang feminisme selanjutnya menyoroti isu-isu yang lebih luas, mencakup hak ekonomi, sosial, dan budaya, serta memberikan kritik tajam terhadap struktur patriarki yang masih mengakar dalam masyarakat.

Penutup

Pada akhirnya, Perempuan di Titik Nol bukan hanya kisah tentang penderitaan, tetapi juga tentang pencarian makna hidup di tengah ketidakadilan yang tak berkesudahan. Melalui sosok Firdaus, Grameds akan diajak untuk menyadari bahwa kebenaran seringkali menyakitkan, namun justru di sanalah kekuatan sejati manusia diuji.

Hidup mungkin kejam dan penuh ketimpangan, tetapi keberanian untuk melihat kenyataan dan tetap berpegang pada nilai kemanusiaan adalah bentuk perlawanan paling tulus yang bisa dilakukan siapa pun.

Grameds, itu dia ulasan Buku Perempuan di Titik Nol  karya Nawal El-Saadawi. Yuk dapatkan Buku Perempuan di Titik Nol ini hanya di Gramedia.com!

 

Rekomendasi Buku

Cantik Itu Luka

Cantik Itu Luka

button cek gramedia com

Hidup di era kolonialisme bagi para wanita dianggap sudah setara seperti hidup di neraka. Terutama bagi para wanita berparas cantik yang menjadi incaran tentara penjajah untuk melampiaskan hasrat mereka. Itu lah takdir miris yang dilalui Dewi Ayu, demi menyelamatkan hidupnya sendiri Dewi harus menerima paksaan menjadi pelacur bagi tentara Belanda dan Jepang selama masa kedudukan mereka di Indonesia. Kecantikan Dewi tidak hanya terkenal dikalangan para penjajah saja, seluruh desa pun mengakui pesona parasnya itu.

Namun, bagi Dewi, kecantikannya ini seperti kutukan, kutukan yang membuat hidupnya sengsara, dan kutukan yang mengancam takdir keempat anak perempuannya yang ikut mewarisi genetik cantiknya. Tapi tidak dengan satu anak terakhir Dewi, si Cantik, yang lahir dengan kondisi buruk rupa. Tak lama setelah mendatangkan Cantik ke dunia, Dewi harus berpulang. Tapi di satu sore, dua puluh satu tahun kemudian, Dewi kembali, bangkit dari kuburannya. Kebangkitannya menguak kutukan dan tragedi keluarga

 

Sihir Perempuan

Sihir Perempuan

button cek gramedia com

Sihir Perempuan adalah kumpulan dongeng tentang perempuan-perempuan yang tak patuh. Perempuan bisa menjadi apa saja: ibu, anak, pekerja teladan, hingga boneka porselen. Namun dalam buku yang menghadirkan 11 cerita pendek ini, peran-peran yang seharusnya nyaman diteror oleh lanskap kelam penuh hantu gentayangan, vampir, dan pembunuh. Di sinilah perempuan dan pengalamannya yang beriak dan berdarah terpintal dalam kegelapan.

 

The Power

The Power

button cek gramedia com

Di dalam buku ini, dunia adalah tempat yang lazim, dengan seorang pemuda berkebangsaan Nigeria yang bersantai di kolam keluarganya; anak asuh dengan orangtua yang berpura-pura religius; seorang politikus Amerika yang ambisius; serta gadis London yang tangguh dari keluarga yang rumit. Lalu muncullah satu kekuatan besar yang berakar dan terus berkembang, menyatukan hidup sekaligus membuatnya hancur berantakan. Para perempuan menjadi titik utama kisah ini, dengan kekuatan yang menaungi mereka. Luka dan kematian ada di tangan kaum perempuan, tapi dengan sedikit perubahan ini, dunia direset

 

Penulis: Gabriel