in

Kisah Nabi Saleh: Sejarah, Mukjizat, dan Penjelasan Ayat Al-Qur’an

Ilustrasi hewan unta (sumber: istockphoto.com)

Kisah Nabi Saleh – Apakah kalian mengetahui sesungguhnya ada berapa jumlah Nabi dan Rasul? Nabi dan Rasul jumlahnya sangat banyak sekali. Total terdapat 124 ribu Nabi dan 312 Rasul. Namun dalam Islam kita hanya diwajibkan untuk mengetahui dan mempelajari 25 Nabi dan Rasul. Lalu apakah perbedaan antara Nabi dan Rasul?

Secara bahasa, Nabi diartikan sebagai hamba Allah SWT yang menerima wahyu melalui malaikat Jibril untuk dirinya sendiri. Nabi merupakan manusia biasa seperti kita, hanya saja Nabi diberikan kelebihan dan amanah untuk mengingatkan orang di sekitarnya dan keturunannya agar memiliki perilaku baik dan menyembah Allah.

Nabi berasal dari istilah kata ‘Naba’ yang memiliki pengertian “dari tempat yang tinggi”. Sedangkan Rasul adalah hamba Allah SWT yang menerima wahyu dari Allah SWT melalui malaikat Jibril untuk dirinya sendiri dan umatnya. Semua Rasul adalah merupakan Nabi. Tetapi tidak semua Nabi adalah Rasul.

Nah, apakah penjelasan mengenai perbedaan antara Nabi dan Rasul cukup mudah untuk dipahami? Tentu mudah bukan. Nah, bagi kalian yang ingin mengetahui lebih dalam tentang Nabi dan Rasul, berikut akan diulas mengenai salah satu dari 25 Nabi yang wajib untuk diketahui bagi umat muslim. Pembahasan kali ini mengenai kisah salah satu Nabi, yaitu Nabi Saleh AS.

Kisah Nabi Saleh

[algolia_carousel]

Sejarah Nabi Saleh

Nabi Saleh Alaihissalam (keselamatan atasnya) merupakan salah satu dari 25 Nabi utusan Allah SWT yang menerima wahyu untuk dirinya sendiri. Nabi Saleh AS merupakan nabi ke-lima yang diutus untuk menyebarkan ajaran menyembah Allah SWT setelah kehancuran kaum ‘Ad yang hidup di zaman Nabi Hud AS.

Beberapa ulama meriwayatkan jika Nabi Saleh AS memiliki seorang ayahanda bernama Ubaid. Nabi Saleh AS diangkat oleh Allah SWT sebagai seorang Nabi pada tahun 2100 SM.

Apabila diruntutkan maka silsilah dari Nabi Saleh yaitu Saleh bin Ubaid bin Masih bin Ubaid bin Hadir bin Tsamud bin Atsir bin Aram/Iram bin Sem/Sam bin Nuh.

Jadi dapat disimpulkan jika Nabi Saleh AS masih memiliki darah keturunan dari Nabi Nuh AS. Nabi Saleh AS berasal dari bangsa Arab, tepatnya suku Tsamud. Diriwayatkan dari Abu Dzar, nabi-nabi lain yang berasal dari bangsa Arab selain Nabi Saleh AS adalah Nabi Syu’aib AS, Nabi Hud AS, dan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Saleh AS adalah nabi yang diutus setelah Nabi Hud AS dan sebelum Nabi Ibrahim AS. Semasa hidupnya, Nabi Saleh AS menetap di daerah Arab Utara tepatnya di Al-Hijr. Selama di Al-Hijr, Nabi Saleh AS merupakan salah satu orang yang sangat dihormati dan dijunjung tinggi oleh penduduk Al-Hijr, yaitu kaum Tsamud.

Kaum Tsamud sangat pandai dalam hal memahat batu terutama batu-batu pegunungan. Hal tersebut dikarenakan daerah Hadramaut yang merupakan tempat tinggal kaum Tsamud adalah pegunungan. Sesuai dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-Fajr ayat 9.

“Dan (terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” (Q.S. Al-Fajr ayat 9).

Kisah Nabi Saleh
Ilustrasi Al-Hijr (sumber: istockphoto.com)

Perjalanan Dakwah Nabi Saleh

Kaum Tsamud yang menjadi target dakwah dari Nabi Saleh AS adalah kaum yang menyambung hidup mereka melalui bercocok tanam, arsitektur, dan berternak. Kemampuan yang dimiliki kaum Tsamud di bidang arsitektur sangatlah mengagumkan.

Mereka memahat bukit berbatu yang banyak ditemukan di Al-Hijr menjadi bangunan indah nan megah. Sedangkan pada hamparan tanah yang datar mereka membangun istana-istana. Bukit-bukit batu yang dipahat oleh kaum Tsamud membentuk bangunan-bangunan rumah yang mereka tinggali dengan gaya khas peninggalan Yunani dan Romawi Kuno.

Kaum Tsamud yang Ingkar Kepada Nabi Saleh AS

Pada saat itu diketahui kaum Tsamud menyembah berhala sesuai yang dilakukan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Awalnya kaum Tsamud sangat menghormati Nabi Saleh AS karena mereka menaruh harapan pada beliau untuk meneruskan tradisi kaum Tsamud, yaitu menyembah berhala.

Namun ketika Nabi Saleh AS mulai menyampaikan ajakan untuk menyembah Allah SWT dan bertakwa kepada-Nya, maka kaum Tsamud menjadi kecewa dan murka. Mereka mulai memusuhi Nabi Saleh AS karena beliau meminta untuk meninggalkan sesembahan berhala yang sudah menjadi bagian dari tradisi mereka secara turun-temurun.

Selain memiliki kebiasaan menyembah berhala, tabiat lainnya yang dimiliki oleh kaum Tsamud adalah angkuh dan sombong. Mereka seringkali meremehkan dan memandang rendah kaum lainnya.

Bahkan dalam kesehariannya mereka selalu berbuat maksiat seperti, berzina dan mabuk-mabukkan. Gaya hidup kaum Tsamud tersebut telah menyimpang jauh dari ajaran Allah SWT.

Oleh karena alasan tersebutlah Allah SWT mengangkat Saleh menjadi nabi dan ditugaskan untuk berdakwah kepada kaum Tsamud. Seperti yang difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an surat Al-A’raf ayat 73.

“Dan kepada kaum Tsamud, (Kami utus) saudara mereka Saleh. Dia berkata, ‘Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Ini (seekor) unta betina dari Allah sebagai tanda untukmu. Biarkanlah ia makan di bumi Allah, janganlah disakiti, nanti akibatnya kamu akan mendapatkan siksaan yang pedih.’” (Q.S. Al-A’raf ayat 73).

Ketika Nabi Saleh AS mulai menyeru kepada kaum Tsamud tentang ajaran tauhid untuk menyembah Allah SWT semata, maka kaum Tsamud terbelah menjadi dua kelompok yang saling bertentangan.

Kelompok pertama yaitu yang mengikuti Nabi Saleh AS dipimpin oleh Junda’ bin Amru bin Mahlab bin Lubaid bin Jawwas. Junda’ bin Amru adalah salah satu tokoh pemuka di kaum Tsamud.

Sedangkan kelompok yang menentang Nabi Saleh AS dipimpin oleh Dzu’ab bin Amru bin Lubaid Al-Habbab dan Rabbab bin Sha’r bin Julmas. Dzu’ab dan Rabbab bahkan menghalang-halangi ketika Nabi Saleh AS hendak mengajak sepupunya yaitu Junda’ bin Syihab untuk mengikuti ajarannya.

Kelompok penentang yang diketuai oleh Dzu’ab dan Rabbab berpendapat bahwa Nabi Saleh AS terkena sihir. Mereka tidak terima dengan ajaran yang dibawa oleh Nabi Saleh AS.

Selain itu Nabi Saleh AS juga dianggap sebagai penipu karena mereka tidak percaya apabila utusan Allah SWT adalah manusia biasa sama seperti mereka, sehingga mereka menuntut mukjizat sebagai bukti kerasulannya.

Mukjizat Nabi Saleh

Unta Betina yang Keluar dari Batu Sebagai Salah Satu Mukjizat Nabi Saleh AS

Dijelaskan oleh para mufassir bahwa sebagai bukti kerasulan Nabi Saleh AS, kaum Tsamud menantang beliau untuk dapat mengeluarkan seekor unta betina yang sedang hamil 10 bulan dari sebuah batu besar yang ditunjuk oleh mereka.

Nabi Saleh AS pun menyanggupi permintaan kaum Tsamud tersebut dan mulai berdoa kepada Allah SWT. Kemudian dengan kuasa Allah SWT, dari permukaan batu yang dipukul oleh tangan Nabi Saleh AS keluarlah unta betina dengan ciri-ciri sama persis seperti yang disebutkan oleh kaum Tsamud. Unta tersebut dikenal dengan sebutan “Unta Betina Allah”.

Kisah Nabi Saleh
Ilustrasi hewan unta (sumber: istockphoto.com)

Maka terperanjatlah mereka. Kejadian mukjizat tersebut membuat sebagian dari kaum Tsamud yang menyaksikannya menjadi pengikut Nabi Saleh AS. Namun ada pula yang masih pada pendiriannya untuk menentang Nabi Saleh AS. Maka bersabdalah Nabi Saleh AS.

“Hai kaumku, inilah unta betina dari Allah sebagai mukjizat (yang menunjukkan) kebenaran untukmu, sebab itu biarlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu ditimpa azab yang dekat.” (Q.S. Hud ayat 64).

“Dan janganlah kamu sentuh unta betina itu dengan sesuatu kejahatan, yang menyebabkan kamu akan ditimpa oleh azab hari yang besar,” (Q.S. Asy-Syu’ara ayat 156).

Seperti yang diriwayatkan dalam Al-Qur’an, Nabi Saleh AS berpesan kepada umatnya untuk tidak berbuat jahat kepada Unta Betina Allah. Bahkan Nabi Saleh AS mengizinkan kaumnya untuk memerah dan mengkonsumsi susu unta tersebut secara bergantian.

Namun hal tersebut tidak serta merta membuat mereka bersyukur dan berterimakasih. Para penentang Nabi Saleh AS bahkan tidak suka akan kehadiran unta tersebut karena dianggap meminum banyak air di sumber mata air milik mereka.

[algolia_carousel page=2]

Terbunuhnya Unta Betina Allah

Para kaum Tsamud yang menentang Nabi Saleh AS merasa kesal karena banyak ternak mereka yang kekurangan air.

Mereka menganggap kehadiran unta betina hanya menambah beban mereka karena menghabiskan jatah air di sumber mata air. Mereka pun segera memikirkan rencana jahat untuk membunuh unta betina tersebut.

Diantara orang-orang yang berencana melakukan pembunuhan terhadap Unta Betina Allah, terdapat dua wanita yang menjadi provokator rencana tersebut. Dua wanita tersebut adalah Shaduq binti Mahya bin Zuhair Al-Mukhtar dan ‘Unaizah binti Ghunaim bin Mijlaz.

‘Unaizah merupakan istri dari Dzu’ab, salah satu pemimpin kelompok penentang Nabi Saleh AS. ‘Unaizah dan Dzu’ab memiliki 4 orang anak perempuan dan membentuk perjanjian dengan Qudar bin Salif untuk dapat memilih salah satu anaknya apabila berhasil membunuh unta betina.

Shaduq pun melakukan hal yang sama, yaitu menawarkan dirinya sendiri pada Mishra’ bin Mahraj bin Mahya apabila Mishra’ mampu membunuh unta tersebut.

Qudar dan Mishra’ yang tergiur dengan tawaran kedua wanita tersebut pun bertekad penuh untuk membunuh unta betina dengan mengajak 7 pemuda yang lain.

Mereka mengawasi ketika unta betina sedang minum air di mata air, lalu secara kilat memanah betis unta tersebut sembari menikam bagian perut unta dengan menggunakan pedang. Dengan begitu terbunuhlah Unta Betina Allah yang merupakan mukjizat milik Nabi Saleh AS.

Kisah Nabi Saleh

Azab yang Mendatangi Kaum Tsamud yang Ingkar dan Keji

Nabi Saleh AS sangat sedih ketika mendapati bahwa Unta Betina Allah telah dibunuh oleh kelompok penentangnya. Nabi Saleh AS pun segera mengingatkan para pembunuh unta agar segera bertaubat atau azab yang pedih akan datang.

Namun mereka justru meremehkan peringatan dari Nabi Saleh AS bahkan menantang agar azab segera diturunkan. Maka Nabi Saleh AS pun berpesan kepada mereka untuk bersuka ria selama 3 hari sebelum datangnya azab. Seperti yang diriwayatkan dalam Al-Qur’an surat Hud ayat 65.

“Maka mereka menyembelih unta itu, kemudian dia (Salih) berkata, ‘Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.’” (Q.S. Hud ayat 65).

Perbuatan mereka membunuh unta tersebut adalah suatu pelanggaran terhadap larangan Nabi Saleh AS. Oleh sebab itu Allah SWT menjatuhkan kepada mereka hukuman yaitu membatasi hidup mereka hanya dalam tempo tiga hari, maka sebagai ejekan mereka disuruh bersuka ria selama tiga hari itu.

Pada hari pertama sebelum datangnya azab yang menewaskan pembunuh unta dan para kaum Tsamud yang ingkar, wajah mereka berubah warna menjadi kuning. Pada hari kedua, wajah mereka menjadi merah. Dan pada hari ketiga, wajah mereka menjadi berwarna hitam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Katsir, pada hari keempat setelah matahari terbit maka datanglah azab Allah SWT yang dahsyat kepada kaum Tsamud yang ingkar. Azab yang diterima oleh mereka adalah terdengarnya suara keras dari langit dan terjadilah gempa bumi yang dahsyat sekali. Para pembunuh unta dan kelompok penentang Nabi Saleh AS pun mati bergelimpangan di rumah mereka masing-masing.

Diceritakan bahwa tidak ada satupun kelompok penentang Nabi Saleh AS yang selamat, kecuali Kalbah binti As-Salq. Kalbah adalah seorang budak perempuan yang pada saat azab terjadi melarikan diri ke arah perkampungan Arab lalu menceritakan kejadian azab tersebut kepada penduduk di sana.

Kalbah diberi minum oleh salah satu warga perkampungan tersebut. Namun setelah minum, Kalba langsung tewas seketika. Begitulah azab Allah SWT.

Sedangkan Nabi Saleh AS dan para pengikutnya yang beriman kepada Allah SWT selamat dari kejadian tersebut.

Meskipun tidak diceritakan dalam Al-Qur’an mengenai kehidupan Nabi Saleh AS dan pengikutnya setelah kejadian yang menimpa kaum Tsamud, namun terdapat sumber yang mengatakan bahwa mereka berpindah ke daerah Ramlah di Kawasan Palestina.

Ayat Dalam Al-Qur’an Yang Berkisah Mengenai Nabi Saleh AS

Kisah perjalanan Nabi Saleh AS dalam berdakwah tercantum dan diabadikan dalam beberapa surat Al-Qur’an, diantaranya:

1. Al-Qur’an surat Asy-Syams ayat 11-15

  • “(Kaum) Tsamud telah mendustakan (rasulnya) karena mereka melampaui batas,” (Q.S. Asy-Syams ayat 11).
  • “Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,” (Q.S. Asy-Syams ayat 12).
  • “Lalu Rasul Allah (Saleh) berkata kepada mereka: (Biarkanlah) unta betina Allah dan minumannya.” (Q.S. Asy-Syams ayat 13).
  • “Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyamaratakan mereka (dengan tanah),” (Q.S. Asy-Syams ayat 14).
  • “dan Allah tidak takut terhadap akibat Tindakan-Nya itu.” (Q.S. Asy-Syams ayat 15).

2. Al-Qur’an surat Hud ayat 61-68

  • “Dan kepada kaum Tsamud (Kami utus) saudara mereka, Saleh. Dia berkata, “Wahai kaumku! Sembahlah Allah, tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat (rahmat-Nya) dan memperkenankan (doa hamba-Nya).” (Q.S. Hud ayat 61).
  • “Mereka (kaum Tsamud) berkata, “Wahai Saleh! Sungguh, engkau sebelum ini berada di tengah-tengah kami merupakan orang yang diharapkan, mengapa engkau melarang kami menyembah apa yang disembah nenek moyang kami? Sungguh, kami benar-benar dalam keraguan dan kegelisahan terhadap apa (agama) yang engkau serukan kepada kami.” (Q.S. Hud ayat 62).
  • “Dia (Saleh) berkata, “Wahai kaumku! Terangkanlah kepadaku jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan diberi-Nya aku rahmat (kenabian) dari-Nya, maka siapa yang akan menolongku dari (azab) Allah jika aku mendurhakai-Nya? Maka kamu hanya akan menambah kerugian kepadaku.” (Q.S. Hud ayat 63).
  • “Dan wahai kaumku! Inilah unta betina dari Allah, sebagai mukjizat untukmu, sebab itu biarkanlah dia makan di bumi Allah, dan janganlah kamu mengganggunya dengan gangguan apapun yang akan menyebabkan kamu segera ditimpa (azab).” (Q.S. Hud ayat 64).
  • “Maka mereka menyembelih unta itu, kemudian dia (Saleh) berkata, “Bersukarialah kamu semua di rumahmu selama tiga hari. Itu adalah janji yang tidak dapat didustakan.” (Q.S. Hud ayat 65).
  • “Maka ketika keputusan Kami datang, Kami selamatkan Saleh dan orang-orang yang beriman bersamanya dengan rahmat Kami dan (Kami selamatkan) dari kehinaan pada hari itu. Sungguh, Tuhanmu, Dia Mahakuat, Mahaperkasa.” (Q.S. Hud ayat 66).
  • “Kemudian suara yang mengguntur menimpa orang-orang zalim itu, sehingga mereka mati bergelimpangan di rumahnya,” (Q.S. Hud ayat 67).
  • “seolah-olah mereka belum pernah tinggal di tempat itu. Ingatlah, kaum Tsamud mengingkari Tuhan mereka. Ingatlah, binasalah kaum Tsamud.” (Q.S. Hud ayat 68).

Selain terdapat dalam surat Asy-Syams dan surat Hud, kisah mengenai Nabi Saleh AS juga diriwayatkan dalam surat Al-Qamar ayat 23-32, surat Fushshilat ayat 17-18, surat An-Naml ayat 45-53, surat Asy-Syu’ara’ ayat 141-159, surat Al-Isra’ ayat 59, surat Al-Hijr ayat 80-84, dan surat Al-A’raf ayat 73-79.

Kisah Nabi Saleh

Nah, apakah kisah mengenai Nabi Saleh AS yang meliputi sejarah singkat, perjalanan dakwah, dan mukjizat Nabi Saleh AS cukup mudah untuk dicerna dan dipahami?

Apabila ingin menekuni untuk memperdalam pengetahuan tentang agama Islam namun bingung mencari referensi yang tepat, maka jangan khawatir! Karena kalian bisa membaca buku referensi untuk mengenal nabi lebih jauh lagi.

Penulis: Rizka Rifdatus Safitri

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Ananda