in

7 Dongeng Si Kancil Terbaik Sepanjang Masa Penuh Nasihat

Sumber gambar : kompas.com

Dongeng si Kancil memang sangat digemari tua dan muda. Dongeng fabel dengan tokoh utama si Kancil yang cerdik ini selalu bisa menghibur pembacanya. Karakter si Kancil yang banyak akal membuat jalan cerita jadi menarik dan membuat penasaran. Dalam beberapa dongeng, Si Kancil selalu dicari ketika ada masalah yang perlu dipecahkan.

Si Kancil juga terkenal dengan kelihaiannya membebaskan diri dari pemangsa. Ada-ada saja akalnya ketika binatang lincah itu mencoba mengakali musuhnya. Harimau, beruang, dan buaya adalah beberapa binatang pemangsa yang berhasil dijahili olehnya. Kecerdikan si Kancil inilah yang membuatnya digemari anak-anak.

Dongeng si Kancil memang jenis fabel yang tidak hilang dimakan waktu. Berbagai jenis buku dongeng selalu ada yang menyelipkan satu atau dua kisah dari binatang cerdik ini. Selain itu, banyak orangtua yang menceritakan dongeng tersebut pada anak-anaknya. Jadilah si Kancil tidak pernah dilupakan hingga kini.

Cerita-cerita jenaka kecerdikan si Kancil selalu mengandung nilai-nilai kebaikan. Karena itu dongeng ini sangat baik untuk dijadikan bahan bacaan anak-anak. Karena mereka akan dapat belajar nilai kebaikan yang ada di dalam ceritanya.

Sebelum mulai bercerita beberapa kisah si Kancil, ada baiknya kita paham dahulu tentang arti  dongeng. Apa bedanya dongeng dengan legenda atau jenis cerita lainnya? Sebenarnya, jenis cerita yang biasa kita dengar secara turun temurun itu ada beberapa macam. Ternyata legenda, cerita rakyat, mite atau cerita mitos, dan fabel termasuk bagian dari dongeng.

Pengertian dongeng adalah cerita yang dikisahkan secara turun temurun dan tidak benar-benar terjadi. Dongeng biasanya berasal dari kelompok masyarakat tertentu, berkaitan dengan daerah tertentu, berkaitan dengan kepercayaan tertentu, dan mengandung fantasi.

Indonesia dengan keanekaragaman budayanya memiliki banyak kisah dongeng yang menarik. Di setiap daerah pasti ada cerita turun temurun yang dipercaya oleh masyarakat. Dongeng fabel juga tidak terlepas dari unsur kedaerahan, seperti dongeng Sakadang Kuya jeung Sakadang Monyet yang berasal dari tatar Sunda.

Fabel yang merupakan cerita anak banyak disukai karena ceritanya yang lucu dan menghibur. Walaupun ceritanya mengandung fantasi, tapi banyak nilai budi pekerti yang bisa diambil. Oleh karena itu, dongeng fabel sangat baik untuk digunakan sebagai cara mengajarkan anak tentang kebaikan.

Dongeng si Kancil contohnya, kecerdikan si Kancil ketika beraksi dalam ceritanya sebenarnya banyak mengandung nasehat. Cerita binatang cerdik ini juga bisa dinikmati dalam berbagai versi tulisan sekarang. Saking disukainya dongeng ini, cerita-cerita si Kancil akhirnya banyak ditulis ulang dengan versi yang lebih menarik.

Lagu Si Kancil Anak Nakal

Si Kancil anak nakal

Suka mencuri ketimun

Ayo lekas dikejar!

Jangan diberi ampun.

Pernah mendengar lagu itu? Beberapa dekade lalu, lagu itu umum dinyanyikan di sekolah taman kanak-kanak. Sekarang, mungkin hanya sedikit anak-anak yang masih belajar dan mendengar lagu itu. Lagunya mengisahkan tentang kancil yang hobi makan ketimun curian, sampai meresahkan pak Tani. Pokoknya, kancil betul-betul nakal, deh. Lagu ini kelihatannya terinspirasi dari fabel si Kancil. Fabel adalah cerita fiksi atau khayalan mirip dongeng dan menjadikan binatang atau tanaman sebagai tokoh utama, dan mengandung pesan moral untuk pembacanya.

Tapi, apa betul kancil dalam fabel itu nakal? Sepertinya, sih, tepatnya cerdik, karena dia harus mempertahankan hidupnya dan membela teman-temannya di alam yang ganas ini dengan cara yang dia ketahui. Kebetulan, karena kancil (pelanduk jawa atau pelanduk kancil) tinggal di hutan, maka fabel ini banyak melipatkan hewan-hewan dibandingkan manusia. Fabel tentang kancil ini dengan berbagai versinya lumayan dikenal di Indonesia. Seperti apa saja, ya, kecerdikan kancil itu? Cerita di bawah ini akan bisa menggambarkan kecerdikan si Kancil dalam fabel. Tapi, pertama-tama, tidak ada salahnya menyimak tentang kisah Kancil dan Pak Tani seperti di lagu tadi.

Kumpulan Dongen Si Kancil Penuh Nasihat

1. Kisah Kancil dan Pak Tani

“Kruukk…krruuk,” Kancil mengelus perutnya yang dari tadi mengeluh lapar, dan tenggorokannya pun sangat kering. Hari amatlah panas. Kancil berjalan sendirian. Tadi dia memang bersama teman-temannya meninggalkan hutan kecil tempat tinggal mereka yang terbakar. Sekarang, teman-temannya sudah meninggalkannya.

Kancil duduk bersandar karena matanya berkunang-kunang. Tiba-tiba ia melihat hamparan hijau. Ya, itu adalah ladang Pak Tani, yang menanami ladangnya dengan ketimun. Air liur Kancil menetes.

“Ah, aku akan memakan timun Pak Tani,” kata Kancil. “Kalau cuma makan sedikit pasti tidak apa-apa.”

Kancil menyusup lewat celah pagar ladang Pak Tani dan mengunyah sebuah ketimun. “Krrss, hmmm, segar sekali.”

“Satu lagi, ah. Lalu aku akan menyusul teman-teman.” Kancil memetik satu lagi, memakannya. Satu lagi, satu lagi, sampai ia kekenyangan dan tertidur. Kancil terkejut karena hari sudah sore. Ia segera meninggalkan ladang itu.

Saat tiba di ladang, Pak Tani kaget melihat ketimunnya banyak yang hilang, hanya tersisa sampah ujung ketimun.. “Aduh, bagaimana ini,” keluh Pak Tani. “Aku tidak jadi panen. Siapa yang berani mengambilnya, ya?”

Bu Tani berkata, “Kita takut-takuti dia dengan orang-orangan, Pak. Siapa tahu, dia tidak berani datang lagi.”

“Ide bagus, Bu. Ayo, kita buat sekarang.”

Mereka membuat orang-orangan dari jerami dan menggunakan baju bekas dan caping Pak Tani.

Berlangganan Gramedia Digital

Baca majalah, buku, dan koran dengan mudah di perangkat Anda di mana saja dan kapan saja. Unduh sekarang di platform iOS dan Android

  • Tersedia 10000++ buku
  • majalah
  • Koran terbaru
  • Buku Best Seller
  • Berbagai macam kategori buku  seperti buku anak, novel,religi, memasak, dan lainnya
  • Baca tanpa koneksi internet

Rp. 89.000 / Bulan


Esok harinya, Si Kancil memasuki ladang itu lagi.

“Apa? Pak Tani berjaga di ladangnya?” serunya terkejut.

Ia menunggu sampai Pak Tani pergi, namun kelihatannya Pak Tani betah berjaga di sana. Tapi, mengapa Pak Tani diam dan melotot terus seperti itu, ya? Kancil memberanikan diri untuk memasuki ladang dan Pak Tani tidak mengusirnya. Akhirnya Kancil mengerti, bahwa itu hanya orang-orangan yang dibuat seperti Pak Tani.

“Ayo, makan bersamaku, Pak Tani!” ajaknya dan mengambil caping orang-orangan itu. Ia makan sampai kenyang sambil nyender ke tubuh orang-orangan itu. Setelah kenyang, Kancil segera pergi.

Sorenya, Pak Tani terkejut karena ketimunnya tetap hilang. “Ulah siapa, sih, ini?” katanya geram.

“Sepertinya pencurinya sudah tahu jika ini orang-orangan dan bukan bapak,” kata Bu Tani. “Bagaimana jika kita melumuri orang-orangan ini dengan getah, sehingga akan membuat lengket pencurinya?”

Lalu mereka  melumuri tubuh orang-orangan itu dengan getah buah Nangka.

Esoknya, Kancil datang lagi. “Wah, Pak Tani, kamu masih disitu,” katanya lalu mulai memetik ketimun dan mulai memakannya sambil menyenderkan tubuhnya. Selesai makan, ia berniat pergi. Tapi, oh-oh, badannya lengket menempel ke orang-orangan itu!

Tiba-tiba datanglah Pak Tani. Kancil tidak berkutik, dia harus siap-siap dihukum.

“Oooh, rupanya kamu yang memakan hasil jerih payahku?” Pak Tani berkacak pinggang.

“Ampun, Pak Tani, maafkan aku. Hutan kecil kami terbakar beberapa hari lalu.” Kancil memohon.

“Ya, tapi, tetap saja mencuri itu tidak baik. Enaknya, saya kasih kamu hukuman apa, ya?” Pak Tani tetap kesal.

“Bagaimana jika kita hukum dia membereskan ladang selama seminggu dan menanami bibit ketimun lagi, Pak?” usul Bu Tani.

Kancil pun menerima hukuman itu. Ia tahu bahwa memang dia bersalah. Dia bekerja dengan rajin dan berharap Pak Tani sungguh-sungguh memaafkannya.  Akhirnya, hari terakhir hukuman si Kancil tiba.

“Terimakasih sudah bekerja dengan rajin, Kancil. Jangan mencuri lagi, karena perbuatan itu merugikan orang lain. Lebih baik kamu berusaha dengan jerih payahmu sendiri. Ini bekal ketimun untukmu di hutan nanti,” Kata Pak Tani sambil menyerahkan sekarung ketimun.

“Aku meminta maaf sekali lagi atas kesalahanku, Pak Tani. Terima kasih tidak menghukumku lebih berat. Aku berjanji tidak mencuri lagi.” Kancil berkata penuh penyesalan.

Kancil kembali ke hutan. Ketimun pemberian itu selain dia makan tapi juga juga menyisihkan sebagian untuk ditanam di kebunnya sendiri, supaya dia juga bisa panen timun.

2. Kisah si Kancil dan Buaya

dongeng si kancil dan buaya
Sumber : kompasiana by Ibrahim Quraisy

“Aduh, tolong! Tolong aku,”

Sapi mendengar rintihan dari balik batu. “Siapa dan di mana kamu?”

“Aku, si Buaya. Sekarang aku ada di bawah tumpukan batu-batu ini, aku terjebak dari pagi. Aku sedang berjalan, dan tiba-tiba sejumlah batu menimpaku, sampai tubuhku pun berdarah.”

Sapi merasa ragu-ragu sejenak, ia berniat untuk meninggalkan tempat itu segera. Tetapi berpikir bahwa Buaya memerlukan pertolongan, akhirnya Sapi setuju membantu mengangkat bebatuan itu.

“Aaah, terimakasih Sapi. Tanpamu aku tidak akan terlepas dari batu-batu itu.” Kata Buaya. Terlihat wajahnya terluka dan kakinya pun mengeluarkan darah.

“Sama-sama, Buaya,” jawab Sapi sambil beranjak hendak pergi. “Aku, pergi dulu, ya.”

“Eeeh, mau kemana, Sapi? Kamu tega meninggalkanku di sini, sementara kakiku tidak bisa berjalan?” tanya Buaya dengan air mata meleleh. Sapi merasa iba.

“Kumohon bantulah gendong aku dan antarkan ke sungai.” Kata Buaya. “Aku tidak bisa kemana-mana dengan kaki berdarah begini.

Sapi berlutut, dan Buaya menaiki punggungnya. “Terimakasih, Sapi.”

Mereka berjalan menuju ke sungai. Sesampainya di sana, Buaya menolak turun. “Aku lapar, Sapi, kelihatannya daging punggungmu ini enak juga.”

Sapi mulai ketakutan dan menangis, “Jangan, Buaya, aku sudah menolongmu. Mengapa kamu jahat?” Buaya tetap tidak peduli, dia membuka mulut dan bersiap menggigit punggung sapi.

“Loh, Sapi, kenapa kamu menangis?” tanya Kancil yang tiba di sungai yang sama. “Kenapa Buaya ada di gendonganmu?”

Sapi pun bercerita tentang bagaimana bisa Buaya ada di gendongannya dari awal sampai akhir.

“Hmm, tapi, memang betul, sih, pertolongan harus diberikan sampai tuntas.” Kata Kancil sambil merenung. Air mata si Sapi semakin deras dan Buaya semakin senang.

“Tapi, aku tidak percaya Buaya ini memang tertimpa batu saat kau datang, Sapi. Kenapa Buaya sehebat ini tidak bisa bergerak sampai kamu harus menolongnya?”

Buaya kesal. “Ayo, Sapi, tunjukkan tempat di mana batu-batu itu berada, supaya Kancil melihat besarnya seperti apa.”

Mereka bertiga kembali ke tempat itu. Batu-batu besar itu masih ada.

“Di mana si Buaya itu tadinya berada? Dan bagaimana batu-batuan itu menimpanya?” tanya Kancil.

Lalu Buaya turun dan merangkak menuju tempatnya semula. Lalu Sapi meletakkan bebatuan di atasnya, persis seperti saat ia menemjukan Buaya.

“Begini, loh, tadi aku terjepit seperti ini,” kata Buaya dengan suara samar-samar karena batu-batu di atasnya. “Percaya, kan, sekarang, jika aku benar-benar tidak bisa bergerak?”

“Ooh, begitu. Ya, aku percaya sekarang,” kata Kancil. Lalu berkata kepada Sapi, “Ayo, Sapi, kita tinggalkan dia di sini.”

“Hey, tunggu! Kalian mau kemana? Hey, aku masih di sini.”

Tetapi, Kancil dan Sapi sudah tidak ada di tempat itu, meninggalkan Buaya yang tidak tahu terima kasih. Baca juga : Rekomendasi Dongeng Cerita Anak Bahasa Indonesia

3. Cerita Si Kancil dan Jerapah

“Awas, minggir!” terdengar suara si Jerapah, mengusir tiga binatang – Kambing, Keledai, dan Domba, yang sedang minum di pinggir sungai “Kalian ini mengganggu hakku.”

Domba berbisik, “Memangnya, sungai ini milik dia sendiri?”

“Ssst, nanti kamu ditendang lagi seperti waktu itu,” kata Kambing dan Keledai memenangkan.

“Aah, aku ini memang ganteng. Badanku keren, leherku jenjang, kukuku rapi, buluku halus,” kata Jerapah memandangi pantulan dirinya di air sungai yang jernih “Wajahku, apalagi, selalu bersih bersinar.” Lalu mencela tiga ekor binatang yang sedang menunduk. “Memangnya kalian? Lihat, deh, sudah tidak tinggi ditambah badan kalian kotor… issh! Apa sih kelebihan kalian?”

“Padahal aku haus,” bisik Kambing gelisah setelah menunggu sekian lama dan Jerapah belum selesai minum.

Ini sudah ke sekian kalinya Jerapah bertindak semena-mena kepada mereka bertiga. Dia pernah menendang dan menghina si Domba saat Domba menegurnya karena si Jerapah menggosokkan kukunya di tumpukan bulu domba. Domba mulanya akan memberikan bulu itu untuk alas tidur beberapa anak kucing hutan yang baru lahir. Bulu-bulu domba itu menjadi kotor dan Domba batal memberikannya. Jerapah juga memakan rerumputan yang dikumpulkan si Keledai tanpa izinnya lalu pergi meninggalkan tempat Keledai dalam keadaan berantakan. Jerapah juga pernah dengan sengaja menendang ember-ember berisi susu milik si Kambing.

“Dia selalu menghina dan semena-mena terhadap kita,” bisik Keledai.

Datanglah seekor Kancil. Tanpa izin, dia mendekat lalu menyeruput air sungai, “Aaaah, segar sekali.”

“Hey, apa yang kamu lakukan? Ini sungaiku. Tidak boleh ada yang minum saat aku minum,” Jerapah berkata dengan sewot.

“Hah? Siapa bilang?” sanggah Kancil. “Sungai ini ada di hutan, dan aku tidak melihat papan tulisan jika sungai ini milikmu, jadi semestinya semua boleh minum.”

“Kamu binatang kecil, jelek, kotor yang menjengkelkan!” seru Jerapah. “Aku bisa menendangmu, atau menaruhmu di dahan pohon yang tinggi dengan kepalaku.”

“Ya, kamu memang tinggi, tapi aku tidak yakin jika kamu bisa berlari cepat untuk menangkapku.”

“Jangan menantang, kau akan menyesal, Kancil!” Jerapah berteriak marah.

“Ayo, buktikan. Kejar aku sekarang,” kata Kancil. Jerapah berjalan mendekati dan Kancil mulai berlari.

Kancil berlari sangat kencang, melewati batu-batu, pohon, ilalang, dengan zigzag. Meskipun kakinya sangat panjang, namun Jerapah agak kesulitan mengejar Kancil. Lehernya yang tinggi membuat dia kesulitan melihat ke bawah sehingga ia sering tersandung. Kadang lehernya juga tersangkut dahan tinggi. Ia juga sulit berlari zigzag, karena setiap belokan dia kesulitan berlari.

Kancil sampai ke sebuah gua, lalu masuk ke dalam. Jerapah menyusulnya. Semakin dalam, semakin gelap dan sempit. Batuan Stalaktit di atap gua menusuk-nusuk wajah dan kepala Jerapah.

“Aduuuh, kepalaku!” jerit Jerapah. Ia berhenti masuk gua, “Tolong, aku kesakitan”.

Kancil pun berhenti. Ia berbalik mencari si Jerapah.

“Aduh, kau menginjak badanku.” seru Jerapah, karena dia terbaring sementara kepalanya berdarah

“Maafkan aku. Disini gelap sekali,” kata Kancil. “Ayo, aku tolong kau untuk berdiri, dan menuju ke cahaya itu.”

Cahaya kecil itu adalah tempat mereka masuk ke gua. Kancil memapah Jerapah keluar dari gua. Ternyata di luar, sudah ada Domba, Keledai, dan Babi menunggu.

“Teman kalian ini perlu pertolongan pertama, adakah yang bisa?”

“Aku bisa,” kata Keledai.

“Aku akan mengambilkan air untuk membersihkan luka-lukanya,” kata Kambing.

“Dan aku akan mengambilkan bulu domba untuk menutup lukamu dan alat P3K,” kata Domba.

“Kenapa kalian baik sekali?” tanya Jerapah dibalik derai air matanya dan wajahnya yang mengeluarkan darah. “Padahal aku sombong dan semena-mena kepada kalian.”

“Ya, memang kamu sombong terhadap kami,” kata Keledai, “Tapi dalam keadaan luka begini dan kamu membutuhkan pertolongan, tidak mungkin kami tinggalkan jika kami bisa menolongmu.”

“Jika dirimu tinggi, kamu bisa mengambil sesuatu dari tempat lebih tinggi, sementara jika kamu pendek, kamu bisa mudah melihat hambatan di bawah. Setiap makhluk memiliki kelebihan dan kekurangan, jadi kita harus saling bekerja sama, bukan malah menghina,” kata Kancil. “Nah, kamu sudah di tangah yang tepat, Jerapah. Aku pamit pergi dulu, ya.”

“Aku minta maaf atas kesombonganku, ya.” kata Jerapah. “Mulai sekarang, mari kita berteman.”

Domba, Keledai, dan Kambing tersenyum mengiyakan.

4. Dongeng Si Kancil dan Harimau

Kancil sedang merumput ketika tiba-tiba seekor harimau menghampirinya, “Hehe, nasibku baik sekali, siang ini aku akan makan Kancil yang enak.”

Kancil terkejut, dan dia sudah terpojok, namun dia berusaha tenang.

“Tuan Harimau, kau memang luar biasa,” puji Kancil “Tetapi rajaku pernah bilang bahwa siapapun yang akan memakan rakyatnya harus seijin beliau.”

“Jadi kamu selama ini punya raja?” Harimau mengejek. “Aku tidak takut.”

“Baginda Raja berkata, jika rakyatnya diganggu, dia akan mengejar pengganggu tersebut dan keluarganya. Bayangkan jika dia mengejar anak-anak Tuan Harimau.”

“Memang dia sekuat apa, sih?” Harimau menjadi gusar.

“Rajaku sangat kuat tetapi rendah hati. Tidak ada binatang lain yang bisa menyainginya. Beliau pernah mengalahkan Gajah”

“Aku tidak percaya, Kancil!” kata Harimau kesal.

“Beliau tidak suka dipuji apalagi menyombongkan diri. Namun, kami sebagai rakyatnya bisa melihat bukti kekuatannya.”

Merasa tertantang, Harimau berkata, “Di mana istana rajamu!”

“Tidak, Tuan Harimau. Yang Mulia Rajaku tidak ingin diketahui tempat tinggalnya meski dia berada di istana yang mewah.

“Tunjukkan atau aku makan kamu sekarang!” erang Harimau. Mereka berjalan sampai ke sebuah sumur.

“Ah, Yang Mulia Raja sedang tidur rupanya,” bisik Kancil menempelkan telinganya ke dinding sumur.

“Kenapa kamu berbisik-bisik? Bangunkan dia!” Harimau tidak sabar. Ia maju dan melongok ke bibir sumur kemudian berteriak “Raja Kancil, keluarlah!”

Teriakan itu menggema “Aaaaaah!” dari dalam sumur. Harimau mundur selangkah, mengira itu jawaban dari raja si Kancil. Lalu maju lagi.

“Cukup, Tuan Harimau,” Kancil membujuk “B-baginda R-rajaku di dalam sana marah sekali,” Kancil bersikap gelisah. “Lebih baik Tuan Harimau pulang saja.”

“Tidak, aku mau bertemu dia!” kata Harimau, disambut dengan “Yaaaaa!” dari dalam sumur.

“Aku akan ke tempatmu sekarang!” kata Harimau lagi, disambut dengan gema “Aaaaang!”

“Hmm, Kancil, aku mau masuk, bagaimana caranya?”

“Jika memang Tuan Harimau siap, silakan naik ke ember itu, aku akan membantu Tuan ke bawah dengan tali itu bertemu Raja,” kata Kancil dengan lagak ketakutan.

Harimau menaiki ember, dan Kancil pun mengerek tali ember pelan-pelan. Di pertengahan, Kancil menggoyang tali ember, hingga Harimau kehilangan keseimbangan. “Byuuur!” Harimau terjatuh ke sumur.

Kancil berlari meninggalkan sumur dan berteriak “Silahkan ngobrol dengan Baginda Raja, Tuan Harimau!”

“Awas kau, Kancill!” teriak Harimau dari dalam sumur.

Nah, setelah membaca tentang kancil, setuju, kan, bahwa dia cerdik? Ia pun menggunakan kecerdikannya untuk membantu teman-temannya. Baca juga : Cerita Dongeng Anak Sebelum Tidur

5. Kisah si Kancil dan Siput

Si kancil merasa kalau dirinya paling hebat. Kancil yakin paling cerdik dan pandai di antara semua binatang hutan. Saking yakinnya, suatu hari Kancil menyombongkan diri di depan binatang lainnya.

“Kalian tidak akan menemukan binatang secerdik dan sepintar aku!” serunya sambil melompat-lompat di depan teman-temannya yang sedang mencari makan.

Si Kancil berseru-seru terus dengan penuh semangat menyombongkan diri. Semua temannya merasa kesal dengan kelakuan Kancil yang mendadak jadi sombong. Mereka memang mengakui kecerdikan si Kancil, tapi tidak suka dengan tingkahnya hari ini.

Siput juga mendengar tentang kesombongan Kancil. Ia menunggu-nunggu Kancil lewat di depannya.

“Hai, Kancil. Kamu kelihatan senang sekali hari ini,” tegur Siput ketika Kancil lewat.

Kancil menghampiri Siput dengan penuh percaya diri. “Tentu saja, kawan. Karena aku adalah binatang paling cerdik!” serunya.

Siput mendengus kesal. “Kamu salah, Kancil! Akulah yang paling cerdik!” bantah Siput tegas. “Untuk membuktikannya aku menantangmu lomba lari,” ucap Siput.

Kancil tertawa keras. “Mana mungkin kamu lebih cerdik dari aku. Mana mungkin juga kamu yang sekecil itu menang lomba lari,” hinanya sambil tertawa.

Tapi Siput bersikeras untuk lomba lari. Akhirnya Kancil menyanggupi tantangan itu sambil tak henti tertawa. Si Siput membiarkan Kancil tertawa senang. Padahal ia telah merencanakan sesuatu yang cerdik. Siput mengumpulkan saudara dan teman siputnya. Kemudian ia meminta agar besok mereka berbaris sepanjang jalur lomba lari.

“Ingat. Setiap Kancil memanggil aku, kalian yang harus menjawab!” perintahnya pada semua siput.

Keesokan harinya si Kancil berlomba dengan senang hati. Pada saat hitungan ketiga diteriakkan oleh wasit, si Kancil dan siput langsung berlari kencang. Tentu saja larinya siput tidak akan mungkin kencang. Kancil pun meyakini hal itu. itu sebabnya ia berlari kencang dengan gembira.

Kancil berhenti ketika yakin sudah jauh meninggalkan Siput. “Hei, Siput kamu di mana?” teriaknya ke arah belakang.

“Aku di sini!” jawab Siput dari arah depan.

Kancil terkejut ketika mendengar jawaban Siput dari arah depan. Kemudian bergegas berlari secepat mungkin lagi. Padahal ia yakin kalau Siput ada di belakangnya tadi. Setelah berlari cukup jauh, si Kancil berhenti lagi.

“Hei, Siput! Kamu pasti di belakang, ‘kan?” teriaknya memanggil-manggil.

“Tidak. Aku di depan!” jawab Siput lagi.

Kancil terkejut, bagaimana mungkin Siput ada di depannya terus? Kancil lalu berlari lagi sekuat tenaga. Ia sama sekali tidak menyadari kalau yang menjawab adalah siput-siput yang lain. Kejadian itu berulang beberapa kali, sampai akhirnya garis finish terlihat.

Kancil berlari sekencang mungkin untuk melewati garis finish. Ia yakin Siput telah kalah.

“Lihat aku menang!” Si Kancil berseru-seru kegirangan.

Tiba-tiba terdengar suara Siput yang membuat Kancil jatuh terduduk karena kaget. “Kamu salah! Aku sudah dari tadi di sini.” Si Siput menghampiri Kancil yang tengah terkejut.

“Kamu mengalahkanku!” seru Kancil tak percaya.

“Tentu saja. Jadi aku lebih cerdik darimu bukan?” tanya Siput, senang melihat Kancil yang tengah kecewa.

“Iya, kamu lebih cerdik dari aku,” jawab Kancil sedih dan malu.

Kancil kemudian meminta maaf pada Siput karena telah sombong. Siput memaafkannya, dan berkata pasti ada yang lebih cerdik dari mereka berdua. Itu sebabnya sombong itu tidak baik. Karena setiap binatang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

6. Kisah Si Kancil dan Pak Buaya

Si Kancil tak pernah kapok mendatangi kebun pak tani. Walaupun berkali-kali hampir tertangkap, Kancil tetap saja masuk ke kebun. Kali ini Kancil kena sialnya, ia tertangkap oleh pak tani dan anjingnya yang galak. Tapi bukan Kancil namanya kalau tidak bisa lepas dari perangkap.

Kancil berhasil melarikan diri dari tangkapan pak tani, dan berlari sekencang mungkin. Kancil tahu harus segera bersembunyi karena ada anjing Pak Tani yang galak. Sayangnya, lari Kancil terhenti oleh sungai yang dalam. Binatang cerdik ini langsung mencari-cari akal. Hingga kemudian dilihatnya ada banyak pohon pisang dekat sungai.

Kancil merobohkan beberapa pohon pisang dan membawanya ke tepi sungai. Malangnya, Kancil tidak sadar kalau ia diperhatikan oleh seekor buaya dari tadi. Ketika tengah sibuk membereskan pohon pisang yang akan dibuat rakit, ada seekor buaya yang menghampirinya. Kaki belakang Kancil yang masuk ke sungai digigit oleh buaya itu.

“Aduh!” jerit Kancil kesakitan.

Kancil ketakutan ketika melihat seekor buaya besar menangkap kakinya. “Tolong lepaskan, Pak Buaya,” rintihnya mengiba.

“Mana mungkin daging selezat ini aku lepaskan!” sahut Pak Buaya sengit.

Pak Buaya melonggarkan gigitannya, tapi tidak membiarkan Kancil bebas. Sangat jarang dirinya mendapatkan mangsa seenak sekarang. Saudara-saudaranya juga pasti senang sekali dengan hasil buruannya ini.

Kancil memang ketakutan, tapi dasar binatang cerdik, Kancil tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. “Tapi, dagingku sangat sedikit. Tidakkah kau lihat tubuhku kecil seperti ini, Pak Buaya?” Kancil memohon dengan suara memelas.

Pak Buaya memperhatikan Kancil mulai dari kaki hingga kepala. Memang benar juga, Si Kancil sangat mungil tubuhnya. Bagaimana mungkin cukup dimakan bersama-sama dengan buaya lainnya.

“Biarkan aku mencari makan dahulu agar dagingnya bertambah tebal,” bujuk si Kancil tanpa putus asa.

Pak Buaya mengangguk, lalu melepaskan kaki si Kancil. “Awas jangan kabur, yah!” ancamnya sambil memperhatikan penuh waspada.

Sementara si Kancil mencari makanan di tepi sungai. Buaya-buaya yang lainnya datang menghampiri mereka. Badan Kancil gemetar ketakutan. Tapi, lagi-lagi otak cerdiknya mendapatkan sebuah ide.

“Pak Buaya, apa semua temanmu sudah datang?” tanya Kancil sambil memperkirakan lebar sungai dengan jumlah buaya yang ada.

Buaya memperhatikan si Kancil penuh curiga. Tapi binatang besar itu mengangguk juga akhirnya, menjawab pertanyaan Kancil.

“Aku tidak tahu apakah daging di tubuhku ini cukup atau tidak untuk kalian semua,” celetuk si Kancil. “Bisakah kalian berbaris rapi hingga ke ujung sana? Jadi aku bisa menghitung kalian dengan benar.”

Walaupun sedikit heran, buaya besar itu mengikuti permintaan si Kancil juga. Ia meminta buaya lainnya untuk berbaris. Si Kancil senang karena rencananya hampir berhasil. Pak Buaya dan buaya-buaya lainnya mulai berbaris rapi.

“Ayo, cepat hitung!” dengus Pak Buaya kesal.

Si Kancil dengan senang hati menghitung jumlah buaya yang ada. Ia berhitung sambil menaiki punggung buaya satu demi satu.

“Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima!” serunya lantang. “Enam. Tujuh. Delapan. Sembilan. Sepuluh!”

Kancil terus berhitung sambil meloncat dari satu punggung ke punggung buaya lainnya. Hingga akhirnya ia tiba di seberang sungai dan  meloncat ke tanah dengan sukacita.

“Ada sepuluh ekor buaya! Dagingku pasti cukup untuk kalian. Tapi sayangnya, aku masih ingin hidup!” teriaknya, lalu lari sekencang mungkin ke dalam hutan meninggalkan para buaya.

“Kurang ajar kamu, Kancil!” teriak Pak Buaya marah dari ujung sungai satunya.

Tapi apa mau dikata, si Kancil telah melarikan diri. Para buaya menggerutu kesal dan menyalahkan Pak Buaya karena kebodohannya. Padahal semua buaya itu juga sama polosnya dengan Pak Buaya, jadi bisa diakali oleh si Kancil.

7. Kisah Si Kancil dan Kerbau Dungu

Kancil sangat lapar siang ini, dan ingin makan mentimun. Tapi ia tak berani masuk ke kebun Pak Tani. Kancil takut tertangkap lagi dan dimasak jadi sate oleh Pak Tani. Binatang cerdik itu hanya berani mengintip kebun. Air liurnya menetes melihat mentimun yang tengah dipanen oleh pak tani.

Tiba-tiba muncul ide di kepala Kancil agar ia bisa mendapatkan mentimun. Di sekitar kebun pak tani, banyak hewan ternak yang sedang mencari makan. Kancil pun menghampiri si Sapi yang sedang makan siang.

“Hei, Sapi. Kelihatannya enak rumputmu itu,” sapa Kancil ramah.

Sapi mengangkat kepalanya, “Memang enak. Kamu mau nyoba?”

Kancil menggelengkan kepala. “Aku hanya bisa makan mentimun. Tapi mentimunnya ada di kebun Pak Tani,” tolak Kancil, “Eh, Sapi. Kamu mau menemani aku ke kebun Pak Tani?” tanya Kancil penuh harap.

“Tidak mau, ah. Kasian Pak Tani sudah kerja keras menanam mentimunnya.” Si Sapi menolak ajakan Kancil.

Kancil kecewa dengan jawaban Sapi. Tapi ia tidak patah semangat. Dihampirinya Kambing yang sedang makan daun-daun.

“Aku punya makanan yang lebih enak dari daun-daun itu,” celetuk si Kancil.

Kambing berhenti mengunyah daun, lalu memalingkan wajahnya pada si Kancil. “Apa yang lebih enak dari daun-daun ini?” tanyanya penasaran.

“Mentimun!” seru Kancil, “Kita bisa mengambilnya di kebun Pak Tani. Di sana mentimunnya sudah siap dipanen. Ayo, temani aku mengambilnya!”

Penuh semangat si Kancil bercerita tentang mentimun-mentimun yang ada di kebun Pak Tani. Kambing menatap dirinya keheranan, lalu meletakkan daun yang dipetiknya di tanah.

“Kamu tahu tidak kalau Pak Tani menanam mentimun untuk biaya hidupnya?” sergah Kambing, “Aku tak mau menemanimu ke kebunnya!”

Si Kancil langsung lemas mendengar jawaban Kambing. Dengan lesu ia berjalan lagi hingga menemukan si Kerbau yang sedang mandi lumpur.

“Hei, Kerbau! Siang hari seperti ini kamu malah mandi bukannya makan,” tegur si Kancil kembali melancarkan rencananya.

“Tadinya mau makan, tapi belum ada makanan yang kutemukan,” jawab si Kerbau sambil keluar dari lumpur.

“Nah! Aku tahu tempat mendapatkan makanan. Mentimun di kebun Pak Tani sangat enak.” Kancil bercerita tentang mentimun yang sudah siap dipanen pada si Kerbau.

“Tapi aku tidak berani mengambil mentimunnya,” timpal Kerbau.

“Jangan khawatir. Kamu tinggal menemani saja. Biar aku yang mengambil mentimunnya untuk kita,” bujuk Kancil.

Akhirnya Kerbau mau menemani setelah dibujuk lama oleh si Kancil. Kerbau berjalan perlahan ke kebun pada saat Pak Tani sedang memanen mentimun. Pak Tani tidak curiga karena Kerbau kadang-kadang memang terlihat di kebunnya. Padahal kali ini ada si Kancil yang ikut masuk ke kebun.

Si Kancil tidak kelihatan karena terhalangi badan Kerbau yang besar. Kancil senang akhirnya bisa mengambil mentimun sebanyak mungkin. Pak Tani kemudian menemukan beberapa pohon yang tidak ada buahnya ketika sedang berkeliling kebun. Dia lalu teringat pada si Kerbau tadi siang. Tapi  Pak Tani masih tidak yakin kalau Kerbau yang mengambil mentimun.

Esok harinya si Kancil dan Kerbau mengulangi perbuatan yang sama. Mereka berjalan beriringan ke kebun mentimun. Sialnya, Pak Tani sedang mengawasi Kerbau kali ini. Pak Tani berteriak-teriak memanggil si Kerbau.

“Celaka! Ada Pak Tani!” seru Kerbau gugup.

Kancil mengintip dari balik tubuh Kerbau. “Kamu tidak usah takut, Kerbau. Biar aku yang lari. Kamu di sini saja, dan ini mentimun untukmu.”

Si Kancil langsung lari setelah meletakkan mentimun dekat si Kerbau. Kerbau bingung dengan apa yang terjadi, otaknya tidak bisa berpikir.

“Kena kau pencuri!” seru Pak Tani.

“Aku tidak mencuri mentimunmu, Pak tani,” sanggah Kerbau ketakutan.

“Lalu ini apa?” sergah Pak Tani sambil menunjuk mentimun yang tergeletak dekat kaki Kerbau.

Kerbau mengeluh karena baru paham diakali si Kancil. Tapi ia tidak bisa lari cepat. Pak Tani juga sudah berjaga-jaga dari tadi.

“Sebagai hukumannya, kamu harus membajak sawahku, Kerbau!” seru Pak Tani lagi.

Jadilah si Kerbau membajak sawah Pak Tani sebagai hukuman. Padahal Kancil yang mengambil mentimun bukan dirinya.

Dongeng si Kancil memang sangat menarik. Kejahilan dan kecerdikan binatang lincah ini jadi ciri khasnya. Berbagai kisah dalam dongengnya sering mengundang tawa para pembaca. Sekaligus juga memberikan arahan tentang nilai-nilai kebaikan. Dongeng ini sangat baik dibacakan oleh orangtua untuk anak-anaknya. Baca juga artikel anak yang lain :

Sumber dan diadaptasi dari: YW Purnomosidhi (fablefantasy.com) dan dongengceritarakyat.com

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Ahmad