segede gaban artinya – Pernah mendengar celotehan orang seperti “Ukuran tasnya segede gaban!” atau “PR hari ini segede gaban”?
Memangnya, segede gaban artinya apa? Sayangnya, banyak yang tidak benar-benar memahami apa maksud dari ungkapan ini, terutama jika kamu belum familiar dengan bahasa gaul tempo dulu.
Yuk, baca artikel ini untuk menemukan arti, asal-usul, fungsi, hingga beberapa istilah yang maknanya serupa!
Table of Contents
Arti Istilah Segede Gaban
Segede gaban artinya sesuatu yang sangat besar atau berukuran jauh lebih besar dari biasanya. Istilah “gaban” diambil dari Space Sheriff ‘Gavan’, seorang tokoh serial tokusatsu Jepang lama yang memiliki postur besar dan kuat.
Masyarakat Indonesia kemudian menggunakan namanya sebagai metafora untuk menggambarkan sesuatu yang ukurannya tidak biasa.
Asal-usul Segede Gaban
Istilah “segede gaban” dipercaya muncul pada era 1980–1990-an, bertepatan ketika serial Jepang berjudul Uchuu Keiji Gavan sangat populer di televisi Indonesia.
Tokoh tersebut memiliki ukuran badan yang besar, kuat, dan mengintimidasi sehingga mudah melekat dalam ingatan masyarakat.
Dari sinilah kata “Gaban” kemudian mengalami pergeseran makna menjadi simbol sesuatu yang besar secara berlebihan.
Fungsi Istilah Segede Gaban dalam Percakapan
Berikut adalah beberapa fungsi istilah segede gaban ini dalam percakapan santai:
1. Untuk Menunjukkan Ukuran
Istilah ini digunakan untuk menggambarkan benda berukuran besar, baik secara nyata maupun hiperbola.
Misalnya, kamu melihat kucing peliharaan tetangga yang ukurannya dua kali lebih besar dari biasanya.
Kamu bisa berkata “Kucingnya segede gaban!” untuk menggambarkan bahwa ukuran kucingnya jauh dari ukuran normal.
2. Untuk Menunjukkan Jumlah yang Banyak
Selain ukuran, istilah ini dapat dipakai untuk memperjelas jumlah yang sangat banyak.
Contohnya, saat memiliki tugas sekolah dalam jumlah yang tidak wajar, kamu bisa mengatakan tugasnya “segede gaban.” Ini juga menandakan bahwa kamu memiliki beban tugas yang menumpuk.
3. Untuk Menunjukkan Intensitas yang Berlebihan
Istilah ini juga bisa menggambarkan sesuatu yang intens atau berlebihan, seperti rasa marah, takut, atau panik.
Misalnya kamu ingin menekankan betapa takutnya seseorang melihat ular besar, kamu bisa mengatakan rasa takutnya “segede gaban.”
Sinonim Istilah “Segede Gaban” yang Bisa Kamu Gunakan
Ada banyak istilah lain yang maknanya mirip dan sama-sama bersifat hiperbola. Meskipun nuansanya berbeda, istilah ini tetap bisa digunakan pada konteks percakapan santai.

1. Segede Bagong
Istilah ini berasal dari kata Bagong, yaitu seorang tokoh Punakawan dalam budaya Jawa yang berperawakan besar.
Istilah “segede bagong” kerap dipakai untuk menyebut sesuatu yang sangat besar. Ungkapan ini lebih bernuansa lokal dan sering digunakan dalam konteks jenaka.
2. Segede Rumah
Istilah ini lebih literal dan mudah dipahami siapa saja. Kamu bisa menggunakannya ketika mau menggambarkan sesuatu yang ukurannya sangat besar tapi tidak masuk akal!
3. Segambreng
Kata ini sering digunakan untuk menyebut jumlah yang sangat banyak. Contoh penggunaannya adalah “Tugas segambreng!” yang menggambarkan tugas sekolah yang menumpuk.
4. Seabrek
Istilah “seabrek” juga mengacu pada jumlah yang banyak atau tidak terhitung. Biasanya, kamu bisa menggunakannya dalam konteks yang lebih dramatis atau berlebihan. Contoh penggunaannya adalah “Masalahnya seabrek banget hari ini!”
5. Segunung
Ungkapan ini digunakan untuk menggambarkan jumlah besar yang menumpuk, seperti pakaian kotor atau tumpukan buku. Istilah ini memberi gambaran seolah-olah benda tersebut menjulang tinggi seperti gunung.
6. Sekebon
Terakhir adalah istilah sekebon yang artinya satu kebun. Isilah ini menggambarkan benda-benda yang banyak dan tersebar. Contohnya adalah “Rumput liar di halaman banyaknya ada sekebon!”
Istilah Lainnya yang Biasa Digunakan
Selain istilah segede gaban, ada banyak kata gaul lain yang sering kamu jumpai. Yuk, kita simak beberapa di antaranya!
- Dari Hongkong: Istilah ini digunakan untuk menunjukkan sesuatu yang tidak masuk akal, aneh, atau tidak benar. Contoh penggunaannya “Beritanya dari Hongkong tuh” sebagai cara menyindir bahwa informasi tersebut tidak bisa dipercaya.
- Garing: Istilah ini dipakai untuk menggambarkan lelucon yang tidak lucu. Biasanya digunakan pada seseorang yang mencoba bercanda, tetapi tidak menghibur.
- Jayus: Makna jayus cukup mirip dengan garing, tetapi terasa lebih ekstrem. Istilah ini digunakan ketika lelucon yang diutarakan tidak lucu sekaligus memalukan.
- Kamseupay: Istilah ini merupakan akronim dari “Kampungan, Sebuah Payah.” Istilah ini populer di era 2000-an sebagai ungkapan untuk menggambarkan seseorang yang dianggap tidak mengikuti tren.
- Keleus: “Keleus” adalah ungkapan bahasa Sunda yang merupakan plesetan dari kata kali. Contohnya adalah “Nggak perlu takut segitunya keleus!”
- Lebay: Istilah ini dipakai untuk menyebut seseorang yang bereaksi secara berlebihan. Misalnya, seseorang yang dicap ‘lebay’ karena ada hal kecil yang membuatnya menangis.
- Alay: “Alay” adalah akronim dari anak layangan. Istilah ini merujuk pada seseorang yang memiliki gaya hidup, perilaku, atau bahasa yang norak atau berlebihan.
- Bokek: Bokek berasal dari dialek Hokkian “bo khek” yang berarti “tidak punya uang”. Ungkapan ini menunjukkan kondisi finansial yang sedang sulit.
- Baper: Istilah ini merupakan akronim dari “bawa perasaan” yang bisa kamu gunakan kepada seseorang terlalu sensitif atau mudah tersinggung.
- Mager: “Mager” adalah singkatan dari “malas gerak.” Biasanya, istilah ini digunakan untuk menggambarkan rasa malas melakukan aktivitas apa pun.
Istilah Gaul yang Tetap Hidup di Tengah Percakapan Remaja
Sederhananya, segede gaban artinya sesuatu yang sangat besar, berlebihan, dan sering digunakan sebagai ungkapan hiperbola dalam percakapan.
Kini, kamu sudah memahami arti, asal-usul, fungsi, hingga contoh penggunaan istilah ini dalam percakapan sehari-hari.
Semoga artikel ini bisa menambah wawasan bahasa gaul sekaligus memperkaya kosakatamu, ya!
Rekomendasi Buku tentang Tips Membuat Konten
1. Demi Follower – Jadi Konten Kreator dengan Jutaan Follower
Banyak orang mengira, menjadi kreator konten sukses cukup bermodal ide kreatif dan konsistensi. Padahal, di balik konten yang menarik, ada strategi, mindset, dan aspek non-teknis yang tak kalah penting untuk dikuasai. Tanpa pemahaman yang tepat, kreativitas saja sering kali belum cukup untuk membawa konten berkembang secara maksimal.
Melalui buku ini, Amanda Bucci membagikan pengalaman lebih dari 10 tahun membangun personal brand dan mengelola berbagai platform media sosial. Dikemas dengan gaya komunikatif dan berbasis kisah nyata, buku ini menjadi panduan praktis yang relevan bagi kreator masa kini untuk tumbuh lebih percaya diri, konsisten, dan profesional.
2. Jago Ngonten di Instagram, TikTok, dan YouTube
Di era digital, menghasilkan cuan dari media sosial bukan lagi sekadar mimpi. Profesi content creator kini semakin diminati, baik sebagai YouTuber, selebgram, maupun TikToker. Melalui buku Jago Ngonten, kamu akan dibekali panduan lengkap untuk membangun karier kreator yang lebih terarah, konsisten, dan berkelanjutan.
Buku ini membahas langkah-langkah penting mulai dari personal branding, pembuatan konten, analisis audiens, strategi SEO, hingga monetisasi. Dilengkapi tips membuat konten visual, teks, dan multimedia yang menarik, buku ini menjadi bekal praktis agar karyamu makin populer, profesional, dan siap bersaing di berbagai platform.
3. Kiat-Kiat Jitu Menjadi Tiktoker Ngehits
Banyak orang berlomba-lomba menjadi kreator di TikTok, mulai dari sekadar coba-coba hingga membangun akun profesional agar rutin masuk FYP. Dengan konten yang menarik, seorang TikToker tak hanya mengumpulkan follower, like, dan komentar, tetapi juga berpeluang mengubah popularitas menjadi sumber penghasilan.
Lewat buku ini, kamu akan diajak mengupas berbagai “rahasia” agar bisa tampil menonjol dan konsisten di TikTok. Mulai dari membangun personal branding, merancang konten viral, teknik rekam dan editing video, hingga cara bijak menghadapi haters, semuanya dibahas secara praktis dan mudah dipahami.
4. Konten Kreator Tanpa Tutor
Mau jadi konten kreator tapi masih bingung harus mulai dari mana? Atau merasa belum punya tempat belajar yang tepat? Tenang, di era digital seperti sekarang, belajar jadi kreator itu jauh lebih mudah dan terbuka untuk siapa saja.
Kamu bisa menemukan banyak referensi di Reels Instagram, konten TikTok, hingga video di YouTube. Selain itu, belajar lewat buku juga bisa jadi langkah awal yang tepat untuk memahami teori sebelum praktik. Lewat buku ini, kamu akan dibimbing mengembangkan minat dan kemampuan agar menjadi konten kreator yang berkualitas. Yuk, mulai langkah pertamamu dan wujudkan potensimu sekarang juga!
5. Seni Jadi Kreator Konten
Buku ini hadir sebagai panduan praktis bagi kamu yang ingin memulai karier sebagai kreator konten dari nol. Di tengah pesatnya perkembangan dunia digital dan ketatnya persaingan, kamu akan dibimbing untuk merancang konsep kreatif, memproduksi konten berkualitas, memanfaatkan tools secara optimal, hingga memasarkan karyamu dengan strategi yang tepat.
Inilah saatnya mengekspresikan diri secara maksimal, membangun audiens yang loyal, dan membuka peluang penghasilan dari iklan, produk, maupun sponsor. Lebih dari sekadar panduan teknis, buku ini akan menjadi teman perjalananmu dalam membangun personal branding yang autentik, kompetitif, dan berdampak positif di era media digital.






