in ,

Review Novel When the Rain Meets Hema

When the Rain Meets Hema – Pernah nggak sih kamu merasa satu cerita belum benar-benar selesai, meskipun bukunya sudah ditutup? Seolah masih ada sudut hati tokohnya yang belum sempat kamu dengar.

Sudah pernah baca Bandung After Rain? Kalau iya, berarti kamu juga wajib banget baca When the Rain Meets Hema. Karena, novel ini bukan cuma jadi pelengkap, tapi juga bikin kita makin paham dengan dunia dan isi hati Hema. Di artikel kali ini, Gramin bakal bahas salah satu karya terbaru Wulan Nur Amalia berjudul When the Rain Meets Hema. Novel setebal 199 halaman ini diterbitkan oleh Gagas Media pada 1 Mei 2025.

Cerita dalam When the Rain Meets Hema hadir sebagai pelengkap dari Bandung After Rain, tapi bukan sekadar tambahan. Novel ini membawa sudut pandang baru yang membuat pembaca seolah sedang melihat dunia lewat mata Hema, bahkan seperti sedang membaca buku hariannya yang ringan dan mengalir begitu saja. Dijamin seru dan bikin susah berhenti membaca. Daripada penasaran, yuk langsung simak sinopsis dan ulasannya di bawah ini supaya Grameds makin yakin untuk punya buku ini. Selamat membaca!

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Sinopsis Novel When the Rain Meets Hema

Halo, ini Hemachandra. Bandung After Rain memang buku yang sangat indah. Tapi biarkan aku menuliskan semua hal yang belum sempat terucap di sana. Tentang perasaanku, tentang kisah dari sudut pandangku, tentang gadis cantik di Bandung, dan juga tentang manusia setengah alien yang bernama Barudak Babandungan.

Kelebihan dan Kekurangan Novel When the Rain Meets Hema

Pros & Cons

Pros
  • Sampul yang cantik.
  • Mengenal Hema lebih dekat.
  • Sudut pandang orang pertama.
  • Membuat nostalgia.
  • Bisa dibaca sekali duduk.
  • Nyaman untuk dibaca.
Cons
  • Tidak menawarkan hal yang spesial.
  • Harus membaca novel sebelumnya

Kelebihan Novel When the Rain Meets Hema

Wulan Nur Amalia sekali lagi berhasil memikat pembaca melalui When the Rain Meets Hema, kelanjutan dari Bandung After Rain yang kali ini dikemas seperti buku harian Hema, tokoh utamanya.

  • Sampul yang cantik

Untuk bagian sampulnya, seperti yang bisa dilihat, tampilannya benar-benar memanjakan mata. Desainnya cantik dan terasa pas dengan suasana ceritanya.

  • Mengenal Hema lebih dekat

Lewat buku ini, pembaca bisa mengenal Hema secara lebih dekat. When the Rain Meets Hema ditulis dari sudut pandang Hema sendiri, mulai dari pertemuannya dengan Rania, berbagai konflik di Bandung After Rain, hingga momen bersama Barudak Babandungan. Rasanya seperti benar-benar masuk ke dalam pikiran Hema.

  • Sudut pandang orang pertama

Penulis berhasil menampilkan karakter Hema dengan sangat kuat. Menggunakan sudut pandang orang pertama membuat cerita terasa lebih hidup dan personal. Gaya tulisannya santai, mengalir, dan terasa seperti membaca catatan harian Hema yang penuh emosi dan refleksi diri.

  • Membuat nostalgia

Membaca When the Rain Meets Hema membawa pembaca bernostalgia dengan kisah di Bandung After Rain. Beberapa adegan lama muncul kembali, kali ini dari sudut pandang Hema. Pembaca jadi bisa memahami lebih dalam perasaan dan pemikirannya, terutama tentang penyesalan setelah hubungannya dengan Rania berakhir. Selain hubungan dengan Rania, novel ini juga memperlihatkan sisi lain dari persahabatan Hema bersama Barudak Babandungan. Tidak hanya tentang tawa dan kebersamaan, tetapi juga tentang konflik yang membuat hubungan mereka terasa lebih nyata.

  • Bisa dibaca sekali duduk

Dengan jumlah halaman yang tidak sampai dua ratus, novel ini bisa dinikmati dalam satu kali duduk. Ceritanya ringan dan mudah diikuti.

  • Nyaman untuk dibaca

Selain jalan ceritanya yang menarik, novel ini juga didukung oleh tata letak yang nyaman di mata. Terdapat beberapa ilustrasi di dalamnya, dan ukuran huruf yang besar membuat pengalaman membacanya terasa menyenangkan.

Kekurangan Novel When the Rain Meets Hema

Novel When the Rain Meets Hema ini masih memiliki kekurangan di samping banyaknya keunggulan.

  1. Tidak menawarkan hal yang spesial

Secara keseluruhan, cerita dalam novel ini tidak memberikan sesuatu yang benar-benar baru karena bentuknya berupa buku harian Hema. Jadi, bagi sebagian pembaca mungkin terasa biasa saja.

  • Harus membaca novel sebelumnya

Karena When the Rain Meets Hema merupakan pelengkap dari Bandung After Rain, pembaca disarankan untuk membaca novel pertamanya terlebih dahulu agar lebih memahami latar belakang cerita dan tokoh-tokohnya.

Fakta Menarik Kota Bandung

Berlatar di Kota Bandung, novel When the Rain Meets Hema dan Bandung After Rain sukses menggambarkan pesona kota kembang yang satu ini. Selain dikenal dengan destinasi wisatanya yang memikat, Bandung juga punya banyak hal menarik yang bikin siapapun jatuh cinta. Yuk, kenali lebih dalam keistimewaan Bandung lewat fakta-fakta berikut ini.

  • Paris van Java

Bandung dijuluki Paris van Java karena sejak awal abad ke-20 sudah dikenal sebagai pusat mode di Indonesia. Banyak bangunan tua di kota ini bergaya arsitektur Eropa yang menambah kesan klasik dan elegan. Julukan ini juga menginspirasi nama mal terkenal di Bandung, yaitu Paris Van Java atau PVJ.

  • Ibukota Asia-Afrika

Bandung punya peran penting dalam sejarah dunia. Pada tahun 1955, kota ini menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika yang dihadiri oleh berbagai negara untuk memperjuangkan solidaritas antarbangsa. Hingga kini, bukti sejarahnya masih bisa dilihat di Museum Konferensi Asia-Afrika yang terletak di Jalan Asia Afrika.

  • Kota Kembang

Julukan Kota Kembang melekat pada Bandung karena dulu kota ini penuh dengan taman dan bunga yang bermekaran di mana-mana. Keindahan alam dan suasana sejuk pegunungan membuat Bandung dikenal sebagai salah satu kota paling indah di Indonesia.

  • Bandung Lautan Api

Peristiwa bersejarah Bandung Lautan Api terjadi pada 23 Maret 1946. Saat itu, warga Bandung rela membakar kota mereka sendiri agar tidak dikuasai penjajah. Aksi heroik ini menjadi simbol semangat perjuangan rakyat Bandung yang pantang menyerah demi kemerdekaan.

  • Pusat Industri Kreatif

Bandung dikenal sebagai pusatnya industri kreatif di Indonesia. Banyak anak muda yang berkarya di bidang desain, musik, film, dan seni pertunjukan. Bahkan, pada tahun 2007, British Council menobatkan Bandung sebagai Kota Kreatif se-Asia Timur. Sampai sekarang, semangat kreatif itu masih terasa di setiap sudut kota.

  • Kota Film Pertama

Tahukah Grameds kalau film Indonesia pertama berjudul Lutung Kasarung tayang perdana di Bandung pada 31 Desember 1929? Fakta ini menjadikan Bandung sebagai tempat lahirnya industri film di tanah air, dan hingga kini, Bandung masih aktif dalam berbagai kegiatan perfilman dan festival seni.

  • Surganya Kuliner

Kalau soal makanan, Bandung enggak ada habisnya. Dari jajanan kaki lima seperti seblak, cilok, dan cuanki, sampai restoran modern yang menyajikan kuliner lokal dan internasional, semuanya ada disini. Rasanya nggak lengkap berkunjung ke Bandung tanpa wisata kuliner.

  • Destinasi Wisata

Bandung punya segalanya. Mau wisata kota, ada Jalan Braga, Gedung Sate, dan Alun-alun Bandung. Mau yang lebih alami, ada Lembang, Kawah Putih, hingga perkebunan teh di Ciwidey. Setiap tempat punya pesonanya sendiri yang bikin ingin balik lagi.

  • Pusat Pemerintahan dan pendidikan

Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat, Bandung juga menjadi pusat pemerintahan, perdagangan, dan pendidikan. Banyak universitas ternama seperti ITB, Unpad, dan UPI yang menjadikan Bandung sebagai kota pelajar dan kota inovasi.

  • Kota Terpadat Ketiga

Bandung merupakan kota metropolitan terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya, sekaligus kota terpadat kedua setelah Jakarta. Meski ramai dan modern, Bandung tetap punya suasana yang hangat, sejuk, dan penuh kenangan bagi siapa pun yang pernah mengunjunginya.

Penutup

Untuk Grameds yang sudah menikmati kisah Bandung After Rain, When the Rain Meets Hema adalah bacaan yang tidak boleh dilewatkan. Novel ini bukan hanya sekadar pelengkap, tetapi juga membuka cara pandang baru terhadap cerita yang sudah kita kenal sebelumnya. Melalui sudut pandang Hema, Grameds akan diajak untuk memahami bahwa setiap peristiwa dalam hidup tidak selalu memiliki satu makna saja. Setiap orang bisa merasakannya dengan cara yang berbeda, tergantung dari luka, harapan, dan pengalaman yang mereka miliki. Buku ini mengingatkan kita bahwa memahami seseorang berarti juga berusaha melihat dunia dari matanya, dan disitulah letak keindahan dari kisah When the Rain Meets Hema.. 

Grameds, itu dia ulasan novel When the Rain Meets Hema karya Wulan Nur Amalia. Yuk dapatkan novel When the Rain Meets Hema ini hanya di Gramedia.com! Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap menyediakan informasi terbaik dan terlengkap untuk kamu. Selamat membaca!

Rekomendasi Buku

1. Bandung After Rain

Bandung After Rain

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Bandung, romansa, dan Ra. Hampir di setiap sudut di Kota Bandung menggambarkan kenangan manis yang Hema lakukan bersama Ra—mantan kekasihnya. 6 tahun lebih memadu kasih, tidak lantas membuat hubungan Hema dan Ra berakhir indah. Nyatanya, hubungan mereka usai tepat sebulan sebelum hari jadi mereka yang ke-7.

Kesalahan fatal yang Hema lakukan, membuat hatinya dipenuhi rasa penyesalan. Namun, Hema jadi sadar bahwa makna cinta bukan hanya tentang memberi apa yang diinginkan oleh pasangan, tapi juga tentang memahami, menghargai, dan berjuang bersama. Kalau kata Rania, “Bandung adalah kita. Dan, setelah hujan, ada cerita tentang kita.”

Melewati hari-hari dengan seluruh perasaan gelisah, berjalan-jalan dibawah derasnya hujan di Kota Bandung, apakah hal itu cukup untuk mengembalikan Ra kedalam kehidupannya?

 

2. Sisi Tergelap Surga 

Sisi Tergelap Surga

 

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Jakarta kerap menjadi pelabuhan bagi mereka yang datang membawa sekoper harapan. Mereka yang siap bertaruh dengan nasibnya sendiri-sendiri. Namun, kota ini selalu mampu melumat habis harapan dan menukarnya dengan keputusasaan. Pemulung, pengamen, pramuria yang menjajakan tubuh agar anaknya bisa makan, pemimpin-pemimpin kecil yang culas, lelaki tua di balik kostum badut ayam, pencuri motor yang ingin membeli obat untuk ibunya, remaja yang melumuri tubuh dengan cat perak, hingga mereka yang bergelut di terminal setelah terpaksa merelakan impiannya habis digerus kejinya ibu kota. Di Jakarta, semua orang dipaksa bergelut dan bertempur demi bisa hidup dari hari ke hari. Dan di kampung inilah semua itu dimulai. Sebuah cerita tentang kehidupan orang-orang yang hidup di sisi tergelap surga kota bernama Jakarta…

 

3. Bandung Menjelang Pagi

Bandung Menjelang Pagi

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Menjelang pagi, Bandung berubah menjadi kota yang tak lagi sama. Malam terasa sangat panjang dan lebih mencekam dari kelam. Para bandit, pemadat, tukang judi, bocah geng motor, begundal grafiti, semuanya berkeliaran bak tikus-tikus ketika air got meluap.

Di kota ini, Dipha adalah bocah berandalan yang mampu mengerjakan apa saja. Berjualan bacang di Asia Afrika, pelayan kafe di Braga, buruh angkut kertas di Pajagalan, ataupun buruh kain di Tamin. Apa pun ia lakukan untuk bertahan hidup. Kemampuannya untuk mengerjakan apa saja itu membawanya bertemu dengan seorang gadis misterius bernama Vinda yang ngotot minta dicarikan tempat tinggal dengan segala syarat yang tak masuk akal.

 

Written by Laura Saraswati