in , ,

Review Novel Love on the Brain

Love on the Brain – Apa jadinya jika cinta tidak hanya diuji oleh perasaan, tetapi juga oleh logika? Ketika hati berkata “iya”, tapi otak sibuk menghitung kemungkinan yang terjadi.

Cinta pakai logika mungkin terdengar seperti sesuatu yang mustahil, terutama ketika hubungan romantis sering membuat seseorang kehilangan kejernihan berpikir. Perasaan yang begitu kuat kerap menyingkirkan logika, bahkan ketika kita tahu seharusnya berpikir lebih rasional. Namun novel yang akan dibahas dalam artikel ini justru menghadirkan romansa yang unik, di mana para tokohnya mencoba menavigasi cinta dengan pertimbangan logika yang tajam dan cerdas.

Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika) merupakan karya Ali Hazelwood yang terdiri dari 448 halaman. Edisi terjemahan bahasa Indonesianya diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 9 Maret 2025. Buku ini termasuk best seller karya penulis yang masuk daftar The New York Times, sekaligus menjadi global best seller dan fenomena di TikTok. Novel ini juga mendapat pengakuan di ajang Goodreads Choice Awards dan dikenal sebagai bagian dari cerita bertema STEMinist yang menyoroti perempuan di bidang sains dan teknologi. Setelah mengenal sekilas tentang penulisnya, selanjutnya kita akan masuk ke pembahasan sinopsis dan ulasan novel ini!

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Profil Ali Hazelwood – Penulis Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Ali Hazelwood dikenal sebagai penulis romcom sekaligus pengarang The Love Hypothesis yang sukses menjadi buku terlaris New York Times. Ia juga menulis berbagai artikel ilmiah tentang ilmu saraf yang sepenuhnya bebas dari adegan romantis dan sering kali tidak berakhir manis. Berasal dari Italia, Ali pernah menetap di Jerman dan Jepang sebelum akhirnya pindah ke Amerika untuk menempuh pendidikan doktoral di bidang ilmu saraf. Belakangan ini ia mulai mengajar dan hal itu membuatnya cukup gugup. Di luar pekerjaannya, Ali biasanya menghabiskan waktu dengan berlari, menikmati cake pop, atau menonton film fiksi ilmiah bersama dua kucing kesayangannya. Ia menyukai kucing, Nutella, serta gaya rambut kuncir kuda samping. Saat ini ia juga sedang belajar merenda, jadi jelas bahwa hidupnya selalu dipenuhi aktivitas yang seru dan penuh warna.

Sinopsis Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Bee Konigswasser tak ragu menerima tawaran NASA untuk memimpin proyek neuroengineering. Kesempatan itu benar-benar terasa seperti mimpi yang akhirnya terwujud. Hanya saja, ia harus berbagi posisi sebagai co-lead dengan Levi Ward, pria yang sejak masa S3 tampaknya tidak pernah menyukainya. Meski Levi luar biasa tampan, tinggi, dan mempesona, di mata Bee ia tetap saja menyebalkan. Namun keadaan mulai berubah saat Bee menghadapi masalah dengan peralatannya dan pendapatnya kerap diabaikan hanya karena ia perempuan. Tiba-tiba Levi muncul sebagai sekutu yang tak terduga. Ia selalu membela Bee, mendukung gagasannya, bahkan membuat Bee terjebak dalam sorotan mata hijaunya yang memukau. Perubahan sikap Levi yang drastis itu membuat Bee kewalahan, seolah neuron dalam kepalanya berloncatan tak karuan. Pertanyaannya, apakah Bee sanggup membuka hatinya lagi untuk cinta?

Kelebihan dan Kekurangan Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Pros & Cons

Pros
  • Premis menarik.
  • Komedia yang pas.
  • Latar belakang mengagumkan.
  • Gaya bercerita menyenangkan.
  • Cover yang cantik dan menarik.
Cons
  • Karakter yang tidak mudah disukai.
  • Plot kurang mendalam.

Kelebihan Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika) karya Ali Hazelwood memiliki banyak sekali kelebihan yang membuatnya digemari dan dicari dalam skala global. 

  • Premis menarik

Sebagai novel best seller, ceritanya menawarkan romansa benci jadi cinta yang selalu berhasil menarik perhatian. Perjalanan dua orang yang awalnya berseteru lalu perlahan berubah menjadi pasangan memberikan dinamika yang seru, manis, dan sulit untuk dilepaskan.

  • Komedi yang pas

Novel ini dipenuhi dengan komedi yang terasa alami dalam narasinya. Pembaca hampir pasti dibuat terpingkal atau tersenyum oleh humor yang ringan namun tetap berkualitas, sehingga suasana cerita terasa hidup.

  • Latar belakang mengagumkan

Ali Hazelwood menyajikan dunia STEM dengan detail yang memukau. Setting laboratorium serta suasana proyek NASA terasa hidup dan autentik. Setiap bab bahkan dilengkapi dengan istilah ilmiah, sementara interaksi Bee dan Levi banyak terjadi di lingkungan riset. Kehadiran para ilmuwan lain juga memberi warna yang memperkaya dunia ceritanya.

  • Gaya bercerita menyenangkan

Ada daya tarik tersendiri dari cara Ali bercerita, terutama kombinasi humor dan sarkasme yang begitu khas. Pembaca akan sering dibuat tersenyum karena komentar Bee yang jenaka dan tajam. Dialog maupun monolog Bee terasa cerdas dan mudah membangun kedekatan dengan pembaca.

  • Cover yang cantik dan menarik

Sampul novel ini juga patut dipuji karena tampil begitu cantik dan mampu merepresentasikan isi cerita. Desainnya membuat buku ini menonjol dan semakin mengundang rasa penasaran.

 

Kekurangan Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika)

Meskipun novel ini memiliki banyak kelebihan, tapi tidak luput dari kekurangan.

  • Karakter yang tidak mudah disukai

Bagi yang tidak langsung cocok dengan sosok Bee, perjalanan membaca bisa terasa lebih berat. Suaranya kerap terdengar kekanak-kanakan dan terlalu blak-blakan seolah sedang berbicara langsung kepada pembaca. Gaya narasinya mirip catatan harian yang penuh curahan pribadi, sesuai dengan karakternya, namun tidak semua pembaca dapat menikmatinya. Terlebih dengan jumlah halaman yang cukup tebal, karakter yang kurang menarik bagi sebagian orang bisa membuat pengalaman membaca terasa melelahkan.

  • Plot kurang mendalam

Cerita ini sebenarnya memiliki banyak potensi dari berbagai ide yang ditanamkan penulis. Namun beberapa plot tidak dikembangkan secara maksimal sehingga beberapa bagian terasa kurang kuat. Pendalaman konflik dan detail cerita seharusnya bisa lebih tajam agar keseluruhan alurnya terasa lebih memuaskan.

 

Pengertian, Komponen, dan Manfaat STEM

Novel Love on the Brain menghadirkan suasana cerita yang kuat di dunia STEM. Namun, apakah Grameds sudah benar-benar memahami apa itu STEM? Istilah ini merupakan singkatan dari Science atau Sains, Technology atau Teknologi, Engineering atau Rekayasa, dan Mathematics atau Matematika. STEM mengacu pada pendekatan belajar yang memadukan keempat bidang tersebut secara terpadu untuk menyelesaikan persoalan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tujuan akhirnya adalah menumbuhkan keterampilan penting abad ke-21 seperti kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kemampuan bekerja sama, dan mempersiapkan peserta didik menghadapi berbagai profesi di bidang terkait.

Berikut adalah komponen utama dalam STEM.

  • Science (Sains)

Ilmu yang mempelajari alam melalui cabang seperti fisika, kimia, dan biologi, yang bertujuan melatih kemampuan observasi serta pola pikir ilmiah.

  • Technology (Teknologi)

Mencakup keterampilan menggunakan maupun menciptakan perangkat digital, termasuk pemrograman, pembuatan aplikasi, hingga kecerdasan buatan.

  • Engineering (Rekayasa)

Berhubungan dengan penggunaan prinsip matematika dan sains untuk merancang, membangun, serta menguji solusi nyata, misalnya membuat prototipe atau sistem otomatis.

  • Mathematics (Matematika)

Memberikan dasar numerik dan pemodelan untuk menganalisis data, membuat prediksi, dan menyelesaikan masalah dalam semua bidang STEM.

 

Manfaat pendekatan STEM

  • Pemecahan masalah

Peserta didik dilatih memecahkan permasalahan nyata dengan memadukan berbagai disiplin ilmu.

  • Keterampilan abad ke-21

Pendekatan ini menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan komunikasi yang sangat dibutuhkan di era modern.

  • Relevansi dunia nyata

Peserta didik dapat melihat bagaimana berbagai mata pelajaran saling terhubung dan bekerja bersama untuk menghasilkan solusi yang inovatif.

  • Persiapan karier

STEM membantu mengembangkan minat serta kemampuan yang dibutuhkan untuk bekerja di bidang sains, teknologi, dan rekayasa di masa depan.

Penutup

Love on the Brain adalah bacaan yang manis, menggemaskan, dan membuat siapa saja jatuh hati. Novel ini bukan hanya sekadar kisah romansa yang memadukan ketegangan dan kehangatan, tetapi juga menghadirkan perjalanan dua insan yang belajar menghadapi prasangka, membangun kepercayaan, dan menemukan keberanian untuk membuka diri. Di tengah dinamika pekerjaan, ambisi, dan tantangan di dunia STEM, cerita Bee dan Levi mengingatkan kita bahwa hubungan manusia sering tumbuh dari tempat yang tidak terduga. Kisah mereka relevan dengan kehidupan saat ini ketika banyak dari kita berjuang menyeimbangkan mimpi, tekanan kerja, serta kebutuhan untuk benar-benar dipahami oleh seseorang. 

Novel Love on the Brain (Cinta Pakai Logika) karya Ali Hazelwood memberikan pengalaman membaca yang menyenangkan dan membuka wawasan baru. Bagi kamu yang berminat untuk membacanya, kamu bisa mendapatkan buku ini dan buku best seller yang lainnya di Gramedia.com! Sebagai #SahabatTanpaBatas, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu. 

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

1. The Love Hypothesis (Hipotesis Cinta)

The Love Hypothesis (Hipotesis Cinta) 

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Demi meyakinkan sahabatnya bahwa ia sedang berkencan, Olive Smith membutuhkan hipotesis dan bukti layaknya seorang ilmuwan. Di tengah kepanikan, ia mencium laki-laki pertama yang ia lihat. Laki-laki itu tak lain adalah Adam Carlsen, dosen muda yang tampan serta cerdas, yang juga terkenal sebagai dosen killer. 

Itulah sebabnya Olive terperangah ketika laki-laki itu mau berpura-pura menjadi pacarnya. Bahkan ketika karier Olive di ujung tanduk, Adam mengejutkannya lagi dengan dukungan yang tanpa henti serta… otot perut menggiurkan yang tak terduga. Lama-kelamaan, eksperimen kecil mereka terasa berbahaya. Olive juga menyadari hal yang lebih rumit dari hipotesis cinta adalah meneliti hatinya sendiri.

 

2. Deep End

https://image.gramedia.net/rs:fit:0:0/plain/https://cdn.gramedia.com/uploads/product-metas/1e482e-z3v.jpg

 

button cek gramedia comScarlett Vandermeer berenang melawan arus. Seorang mahasiswa tingkat tiga di Stanford dan atlet pelajar yang berspesialisasi dalam loncat indah, Scarlett lebih suka menundukkan kepalanya, berkonsentrasi untuk masuk sekolah kedokteran dan memulihkan diri dari cedera yang hampir mengakhiri kariernya. Ia tidak punya waktu untuk menjalin hubungan—setidaknya, itulah yang ia katakan pada dirinya sendiri.

Kapten renang, juara dunia, dan anak emas akuatik serba bisa, Lukas Blomqvist, tumbuh subur karena disiplin. Begitulah caranya ia memenangkan medali emas dan memecahkan rekor: fokus penuh pada setiap gerakan. Di permukaan, Lukas dan Scarlett tidak memiliki kesamaan. Hingga sebuah rahasia yang dijaga ketat terbongkar, dan segalanya berubah.

Maka mereka pun memulai sebuah kesepakatan. Dan seiring tekanan menjelang Olimpiade memanas, begitu pula hubungan mereka. Seharusnya itu hanya hubungan sementara yang saling memuaskan. Namun ketika menjauh dari Lukas menjadi mustahil, Scarlett menyadari bahwa hatinya mungkin sedang terjerumus ke dalam air yang berbahaya.

 

3. Anonymous Crush 

Anonymous Crush

button cek gramedia com

Hidup Abeyla memang datar, tidak seru, dan lurus-lurus saja. Namun, bukan berarti dia juga ingin hidupnya diporak-porandakan karena bertemu dengan crush-nya di sebuah aplikasi bernama Telegram.

 

Written by Laura Saraswati