in

Mengenal Berbagai Macam Genre Anime

Macam Genre Anime – Kartun Jepang saat ini digandrungi hampir di seluruh dunia. Selain kepiawaian para animator menggambarkan rupa tokoh dengan menawan, kartun yang sering disebut anime ini juga dibalut dengan cerita yang memikat. Makin luasnya penggemar pun membuat para animator mengembangkan berbagai macam genre anime. Apa sajakah itu? Yuk, simak!

Pengertian Anime

Anime adalah istilah berbahasa Jepang yang berasal dari bahasa Inggris animation. Dalam bahasa Indonesia, kata tersebut diserap menjadi animasi. Kata animasi sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti film yang berbentuk rangkaian lukisan atau gambar yang satu dengan yang lain hanya berbeda sedikit sehingga ketika diputar tampak di layar menjadi bergerak.

Istilah anime sendiri sering disematkan pada seluruh produk animasi yang diproduksi di Negeri Sakura itu. Anime dari Jepang pun memiliki ciri khas tersendiri, yaitu, para tokoh atau karakternya digambarkan dengan rambut berwarna terang dan mata yang besar.

Secara istilah, anime diartikan sebagai animasi dari Jepang yang diproduksi dengan teknik gambar tangan atau memanfaatkan teknologi komputer. Anime pertama yang kepopulerannya merambah ke luar Jepang hingga ke beberapa negara di dunia adalah Astro Boy.

Anime karya Osamu Tezuka ini diputar secara global pada tahun 1963—1966. Sebelumnya, anime ini merupakan manga yang dimuat di Weekly Shonen Magazine pada 1963—1966. Astro Boy adalah robot laki-laki kecil yang suka menolong meski banyak yang membencinya lantaran dia robot. Di Indonesia, Astro Boy populer di akhir tahun 1990-an hingga tahun 2000-an.

Di Jepang sendiri, dari anak-anak hingga orang dewasa, masyarakatnya sangat antusias membaca manga dan menonton anime. Bahkan, mereka menganggap anime itu menjadi bagian dari kehidupan mereka.

Karena kepopulerannya, saat ini anime menjadi bisnis yang menggiurkan. Namun, di sisi lain, banyak juga yang memanfaatkannya untuk melakukan kejahatan. Seiring dengan perkembangan teknologi, kualitas anime pun berkembang. Teknologi visual computer, computer graphics, dan sebagainya, makin mempermudah produksi anime dewasa ini.

Kualitas gambar anime saat ini juga jauh lebih baik karena lebih proporsional dan warnanya lebih tajam. Namun, banyak juga yang berpendapat bahwa nilai artistik anime saat ini lebih rendah dibanding anime pada masa lalu.

Tingkatan Fans Anime

Kepopuleran anime tak pelak dapat diraih karena para fans-nya yang fanatik. Bahkan, banyak juga dari mereka yang ketagihan menonton anime. Karena kefanatikan tersebut, fans anime pun dikategorikan ke dalam beberapa tingkatan berdasarkan level kecanduan mereka.
Berikut adalah delapan tingkatan fans anime tersebut:

1. Newbie

Ini merupakan level fans anime paling bawah dan paling normal. Para newbie biasanya hanya sebatas mengetahui tentang anime-anime tertentu. Pengetahuan itu diperoleh dari acara TV atau membaca manga. Jika ditanya lebih lanjut tentang anime, para newbie ini tampak masih sangat awam.

2. Anime Lovers

Pada level ini para fans sudah memiliki banyak pengetahuan tentang anime. Namun, mereka belum banyak hafal nama tokoh ataupun jalan cerita dari anime-anime tersebut.

3. Otaku

Pada tingkatan ini para fans sudah bisa disebut sebagai penggemar berat manga maupun anime. Saking tergila-gila dengan komik dan animasi Jepang tersebut, para otaku sampai tidak sempat bersosialisasi di dunia nyata. Mereka cenderung lebih suka mengurung diri di rumah untuk menonton anime-anime kesukaannya.

4. Otamega

Level ini setingkat lebih ekstrem lagi. Sering kali mata para fans di tingkatan otamega ini sampai rusak akibat terlalu banyak menonton anime. Karena itu para otamega ini mayoritas berkacamata. Kehidupan sosial mereka pun tak kalah kacau.

5. Nijikon

Pada level ini sebenarnya para fans tidak terlalu menyukai anime lagi. Akan tetapi, mereka sangat terobsesi dengan tokoh manga atau anime yang disukainya. Seorang nijikon akan memperagakan salah satu tokoh anime kesukaannya dan berandai-andai seolah ia adalah si tokoh anime tersebut.



6. Hikikomori

Fans anime pada tingkatan ini lebih parah lagi dalam kehidupan sosialnya. Dalam 24 jam, 80% waktunya mereka habiskan untuk membaca manga, main game bertema anime kesukaannya, juga tentu saja menonton anime yang mereka sukai. Fans pada tingkatan hikikomori ini biasanya lebih menyukai anime daripada teman-temannya.

7. Weeaboo

Seorang weeaboo—atau sering juga disebut wibu—tidak hanya menyukai anime. Mereka juga menyukai tempat asal animasi tersebut. Ya, para weeaboo ini memiliki kecenderungan untuk bergaya dan bersikap seperti orang Jepang.

8. Wapanesee

Penggemar pada level ini memiliki kecanduan paling akut terhadap anime. Seorang fans yang sampai pada tingkatan ini memiliki obsesi yang besar juga terhadap budaya Jepang. Bedanya dengan weeaboo, para wapanesee ini sering mengalami delusi, seperti menikahi karakter anime kesukaannya.

Mesin pencari Google mencatat, ada 35 negara di dunia yang mencari anime paling banyak. Peringkat pertama negara dengan pencarian anime terbanyak di Google adalah Filipina, kemudian disusul Mongolia, Bolivia, Myanmar, dan Nikaragua.

Indonesia sendiri berada pada rangking ke-8, tiga tingkat di atas Malaysia yang menduduki peringkat pencarian anime nomor 11. Sementara peringkat tiga terbawah adalah Bangladesh, Selandia Baru, dan Romania.

Berbagai Macam Genre Anime

Salah satu yang menjadi daya tarik anime adalah tersedianya berbagai macam genre. Dengan demikian para penggemarnya dapat memilih mana anime yang sesuai dengan kesukaannya. Berikut ini adalah pembagian genre anime berdasarkan segmentasi usia dan jenis kelamin penggemarnya:

1. Shoujo

Shoujo adalah kata dalam bahasa Kanji yang berarti anak perempuan. Ya, genre shoujo ini memang dibuat bagi para remaja perempuan. Mayoritas fans anime beranggapan bahwa genre ini identik dengan kisah percintaan dan tokoh utamanya perempuan, padahal tidak demikian.

Faktanya, tak semua anime yang mengangkat kisah romansa masuk dalam genre shoujo ini. Tokoh utama genre shoujo juga tak selalu perempuan. Contoh anime bergenre shoujo adalah Natsume Yuujinchou, Akatsuki no Yona, dan Ao Haru Ride.

2. Shounen

Kebalikan dari shoujo, genre anime ini diproduksi untuk para remaja laki-laki pada kelompok umur 12—18 tahun. Shounen sendiri diambil dari bahasa Kanji yang artinya anak laki-laki.

Dibandingkan genre yang lain shounen adalah yang paling populer. Meskipun ditujukan bagi remaja laki-laki, tetapi banyak juga remaja perempuan yang menyukai anime-anime pada genre ini. Contoh anime genre shounen adalah Naruto, Boku no Hero Academia, juga One Piece.

3. Josei

Genre ini adalah level selanjutnya dari shoujo. Jika shoujo ditujukan untuk remaja perempuan, josei ditujukan bagi wanita dalam kelompok umur dewasa awal hingga dewasa, yaitu pada kelompok usia 18—45 tahun.

Sesuai dengan segmentasi pemirsanya, josei memang kerap menampilkan kisah romansa realistis. Alur cerita yang dibangun juga lebih dewasa. Contoh anime dengan genre josei adalah Chihayafuru, Nodame Cantabile, dan Hachimitsu to Clover.

4. Seinen

Seinen adalah kebalikan dari genre josei. Jika anime pada genre josei ditujukan kepada perempuan dewasa, genre seinen menyediakan anime untuk laki-laki dewasa dengan kisaran umur yang sama, yaitu 18—45 tahun. Satu level di atas shounen, anime-anime pada genre ini menampilkan tema yang lebih rumit dan alur cerita yang lebih berat.

Anime seinen juga terkadang memperlihatkan adegan-adegan fanservice yang tak layak dikonsumsi remaja di bawah 18 tahun. Contoh anime pada genre ini adalah Kiseiju, Tokyo Ghoul, dan Boku dake ga Inai Machi.

5. Harem

Seperti arti harfiahnya, harem adalah genre yang mengangkat cerita seorang pria sebagai tokoh utama dan dikelilingi banyak wanita. Dikisahkan pada genre ini, para wanita tersebut menyukai sang pria.

Genre harem banyak digemari oleh fans anime laki-laki karena di dalamnya banyak ditampilkan karakter wanita-wanita cantik. Biasanya para fans tersebut menempatkan dirinya sebagai tokoh utama tersebut. Contoh anime pada genre ini adalah Boku ha Tomodachi ga Sukunai, Nisekoi, dan The World God Only Knows.

6. Harem Reverse

Sesuai namanya, genre ini merupakan kebalikan dari harem. Tokoh utama wanita yang dikelilingi dan dicintai banyak pria merupakan inti cerita dari anime-anime bergenre harem reverse ini.
Anime dengan genre ini biasanya merupakan adaptasi dari otome game populer dengan judul yang sama. Contoh anime pada genre harem reverse adalah Watashi ga Motete Dousunda, Uta no Prince-sama, dan Hakuoki.

7. Shoujo-ai (Girl’s Love)

Genre ini menampilkan kisah percintaan sesama jenis antara perempuan dengan perempuan. Awalnya genre shoujo-ai atau girl’s love ini populer dengan nama yuri.

Akan tetapi, saat ini yuri hanya dipakai untuk cerita percintaan dengan adegan seksual yang vulgar. Contoh anime bergenre shoujo-ai adalah Bloom Into You, Sakura Trick, dan Citrus.

8. Shounen-ai (Boy’s Love)

Berkebalikan dengan shoujo-ai, shounen-ai menampilkan percintaan sesama laki-laki. Genre shounen-ai populer juga dengan sebutan boys love (BL). Sama seperti pada shoujo-ai, shounen-ai juga sebelumnya memiliki sebutan lain yang populer, yaitu yaoi.



Namun, saat ini yaoi hanya dipakai untuk menyebut anime dengan kisah percintaan sesama lelaki dengan adegan seksual yang eksplisit. Contoh anime dengan genre shounen-ai adalah Given, Sekaiichi Hatsukoi, dan Hitorijime My Hero.

9. Ecchi

Seksualitas menjadi fanservis yang ditampilkan pada genre ecchi ini. Misalnya, wanita dengan busana minim atau hanya menggunakan pakaian dalam saja. Karenanya genre ini tidak cocok dikonsumsi oleh remaja di bawah 18 tahun.

Genre ecchi ini juga banyak terdapat pada genre yang lain, seperti, seinen dan harem yang memang menjadi konsumsi pria dewasa. Contoh anime bergenre ecchi adalah Prison School, To Love-Ru, dan Highschool DxD.

Genre Anime Berdasarkan Tema Yang Diangkat

Selain pembagian segmentasi tersebut, genre anime juga bisa dibedakan dengan tema yang diangkat. Berikut adalah beberapa contohnya:

1. Aksi

Cerita yang ditampilkan dalam genre ini berhubungan dengan perkelahian baik menggunakan atau tanpa senjata. Contoh anime genre ini adalah Akame Ga Kill atau Sword Art Online.

2. Petualangan

Sesuai namanya, anime pada genre ini menceritakan tentang kisah perjalanan dan petualangan para tokoh untuk menyelesaikan misi atau meraih ambisi tertentu. One Piece adalah salah satu contoh anime petualangan yang banyak digemari di banyak negara. Contoh lainnya adalah Overlord, Arslan Senki, dan Spirited Away.

3. Mecha

Anime ini mengangkat tema tentang mesin atau dunia robot. Biasanya para tokoh dalam anime ini mengoperasikan atau berteman dengan robot-robot raksasa. Gundam adalah anime berjenis mecha yang kepopulerannya mendunia. Contoh yang lain adalah Evangelion, Gurren Lagann, atau Macross.

4. Cars

Anime pada genre ini fokus mengangkat tema tentang balapan mobil. Generasi milenial yang lahir pada tahun 1980—1990-an pastilah tidak asing dengan balapan tamiya Yonkuro cs yang ditampilkan di serial anime Dash Emperor. Contoh anime cars lainnya seperti Initial D dan Wangan Midnight.

5. Drama

Genre drama menyajikan cerita tentang kehidupan dengan situasi yang kompleks, emosional dan penuh konflik batin. Contoh anime pada genre ini adalah Tsuki Ga Kirei, Anohana: The Flower We Saw That Day, dan White Album.

6. Fantasi

Sesuai namanya, anime pada genre ini menampilkan kisah-kisah imajinatif di luar nalar yang tidak kita jumpai di dunia nyata. Namun, justru hal itu yang membuat genre fantasi menarik banyak penggemar. Contoh anime fantasi antara lain Soredemo a Utsukushii atau Kyoukai No Kanata.

7. School Life

Anime genre ini mengambil setting dan latar belakang sekolah. Kisahnya pun mengangkat kehidupan di sekolah, misalnya, konflik antarsiswa atau siswa dengan gurunya. Contoh anime school of life adalah My Hero Academia, Kokoro Conect, juga Ansatsu Kyoushitsu.

8. Slice of Life

Genre slice of life menampilkan kisah sehari-hari yang umum terjadi dalam kehidupan manusia. Di dalamnya juga sarat nilai kehidupan. Contoh anime genre ini adalah Barakamon, Isshuukan Friend, juga Ore Monogatari.

9. Samurai

Sebagai kearifan lokal dan mengangkat nilai budaya dalam negerinya yang mengakar kuat, tentu saja Jepang tak terlewat menyajikan kisah samurai dalam bentuk anime. Samurai di Negeri Sakura ini merupakan prajurit elit yang berasal dari kalangan bangsawan.

Anime dengan genre ini biasanya tidak hanya berkisah tentang sang tokoh utama yang merupakan seorang samurai, tetapi juga menyajikan bagaimana kehidupan di Jepang pada era samurai tersebut. Samurai X adalah contoh anime bergenre samurai yang cukup populer. Contoh lain misalnya Gintama dan Ronin Warriors.

10. Sejarah



Genre anime lain yang cukup populer adalah yang mengangkat tema sejarah. Kisah yang disajikan pada genre ini biasanya ber-setting masa lalu atau penggambarannya menggunakan alur flashback atau kilas balik. Contoh animenya antara Kaguya Hime no Monogatari, Aoi Bungaku, juga Golden Kamuy.

11. Fiksi Ilmiah

Fiksi ilmiah atau science fiction adalah tema yang juga banyak diangkat dalam anime. Kisah imajinatif di dalamnya menyajikan tentang bagaimana pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi terhadap kehidupan para tokoh anime tersebut.

Doraemon adalah salah satu anime genre ini yang kepopulerannya mendunia. Selain itu, contoh anime fiksi ilmiah lainnya antara lain, Steins; Gate dan Taoru Kagaku no Railgun.

Tema-tema lainnya seperti militer dan polisi juga banyak diangkat dalam serial maupun film anime, contohnya dalam Fullmetal Alchemist Brotherhood dan Psycho-Pass. Kemudian ada pula tema olahraga yang banyak digemari, missal pada anime berjudul Slam Dunk dan Captain Tsubasa.

Anime bertema bela diri atau martial arts juga menjadi primadona, seperti Naruto, Inuyasha, juga Dragon Ball. Tema terakhir yang sering diangkat dalam anime adalah musik. Contohnya pada anime berjudul Fuuka, K-On, dan sebagainya.

Demikianlah, sederet informasi tentang anime di atas semoga dapat menjadi pemandu untuk memilih mana anime yang tepat untuk ditonton. Jangan lupa bahwa kisah-kisah dalam anime hanyalah imajinasi belaka, jadi jangan sampai terlena dan membawanya ke dunia nyata.

Baca juga artikel lain yang terkait “Genre Anime” berikut ini :

Layanan Perpustakaan Digital B2B Dari Gramedia

ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah.

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien

Written by Ahmad