in , ,

Review Buku Ketika Anak-anak Pergi

Ketika Anak-Anak Pergi – Bagaimana jika dunia anak-anak yang seharusnya dipenuhi permainan dan petualangan justru membawa mereka berhadapan dengan persoalan serius seperti persidangan? Inilah salah satu daya tarik yang ditawarkan Ketika Anak-Anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie.

Melalui sudut pandang anak-anak, Ziggy kembali menghadirkan kisah yang tampak sederhana, tetapi menyimpan persoalan yang jauh lebih kompleks. Kali ini, Ma, Mi, Mo, dan Petronella harus menghadapi situasi yang membawa mereka ke dunia orang dewasa, sekaligus mempertemukan mereka dengan berbagai kejutan dan tokoh baru.

Buku Ketika Anak-Anak Pergi diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 11 Maret 2026 dengan ketebalan 216 halaman.

Melanjutkan kisah dari Mari Pergi Lebih Jauh, novel ini membawa Ma, Mi, Mo, dan Petronella ke dalam perjalanan yang semakin menantang setelah mereka mengetahui nasib Fifi. Persoalan yang mereka hadapi kali ini bukan lagi sekadar petualangan anak-anak, melainkan juga berkaitan dengan persidangan dan berbagai hal yang membuat mereka harus berhadapan dengan dunia orang dewasa.

Lantas, seperti apa perjalanan Ma, Mi, Mo, dan Petronella ketika petualangan mereka mulai bersinggungan dengan persoalan hukum? Dan bagaimana Ziggy menghadirkan persoalan serius tersebut melalui perspektif anak-anak? Yuk, Grameds, langsung simak ulasan Ketika Anak-Anak Pergi berikut ini!

Profil Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie – Penulis buku Ketika Anak-anak Pergi

Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie merupakan salah satu penulis perempuan Indonesia yang telah menghasilkan puluhan karya sastra. Kiprahnya di dunia kepenulisan dimulai sejak 2010 melalui karya pertamanya. Seiring waktu, Ziggy terus mengeksplorasi berbagai jenis cerita, mulai dari buku anak hingga novel dengan berbagai genre. Namanya semakin dikenal melalui karya-karya yang kerap menempatkan anak-anak sebagai tokoh utama, tetapi membawa persoalan yang tidak selalu ringan.

Pemilihan tokoh anak menjadi salah satu ciri khas Ziggy dalam berkarya. Ia pernah mengungkapkan bahwa anak-anak memberinya ruang ekspresi yang lebih bebas dalam membangun cerita. Meski pada awalnya ingin menulis buku untuk anak-anak, Ziggy kemudian semakin aktif menjelajahi dunia novel dengan berbagai genre, seperti horor, misteri, thriller, fantasi, antologi, hingga romansa. Keberagaman tersebut menunjukkan eksplorasinya dalam menghadirkan cerita dengan karakter dan persoalan yang berbeda-beda.

Di dunia sastra Indonesia, Ziggy juga telah memperoleh sejumlah penghargaan. Ia meraih juara kedua Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada 2014 melalui Di Tanah Lada, kemudian menjadi pemenang utama sayembara yang sama pada 2016 lewat Semua Ikan di Langit. Menariknya, perjalanan pendidikannya justru tidak berasal dari bidang sastra. Ziggy merupakan lulusan Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran dan menyelesaikan pendidikan sarjananya pada 2017.

Selain menulis, Ziggy juga memiliki ketertarikan pada dunia ilustrasi. Kemampuan menggambarnya bahkan turut hadir dalam sejumlah karyanya, seperti Tiga dalam Kayu, Di Tanah Lada, dan Kapan Nanti. Ilustrasi tersebut menjadi bagian dari cara Ziggy membangun dunia ceritanya sekaligus memberikan ruang bagi pembaca untuk membayangkan kisah dari sudut pandang yang lebih luas. Perpaduan antara kepiawaian menulis dan menggambar inilah yang membuat karya Ziggy memiliki karakter visual dan naratif yang cukup khas.

Sinopsis Buku Ketika Anak-anak Pergi

Ketika Anak-Anak Pergi melanjutkan perjalanan Ma, Mi, dan Mo bersama Petronella setelah terungkapnya nasib Fifi dalam Mari Pergi Lebih Jauh. Kali ini, mereka kembali menghadapi persoalan yang jauh lebih serius dan tidak mudah dipahami oleh dunia anak-anak, yaitu sebuah persidangan. Situasi tersebut membawa mereka memasuki pengalaman baru yang mempertemukan dunia mereka dengan berbagai persoalan orang dewasa.

Dalam perjalanan tersebut, pembaca juga akan berjumpa dengan sejumlah tokoh baru yang turut mewarnai cerita. Ada Ryan yang gemar pergi sendirian hingga Pak Arkue, pemilik toko kue yang menjadi salah satu saksi dalam persidangan Mi. Kehadiran mereka membuat perjalanan Ma, Mi, Mo, dan Petronella semakin berwarna sekaligus membuka berbagai kemungkinan baru dalam cerita.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Ketika Anak-anak Pergi

Pros & Cons

Pros
  • Mengangkat persoalan kekerasan dan perlakuan terhadap anak.
  • Memiliki karakter dan penamaan tokoh yang khas.
  • Gaya bahasa Ziggy yang absurd dan menghibur.
  • Dilengkapi ilustrasi yang mendukung pengalaman membaca.
  • Alurnya lebih mudah diikuti meskipun ceritanya padat.
Cons
  • Kurang cocok dibaca secara terpisah dari seri sebelumnya.
  • Tema cerita cukup gelap dan emosional.

Kelebihan Buku Ketika Anak-anak Pergi

Buku Ketika Anak-anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie memiliki beberapa kelebihan yang membuatnya menarik untuk dibaca.

1. Mengangkat persoalan kekerasan dan perlakuan terhadap anak  

Di balik berbagai petualangan dan narasi yang terkadang terasa jenaka, buku ini membawa persoalan yang cukup berat mengenai bagaimana anak-anak diperlakukan oleh orang dewasa.

Ziggy memperlihatkan bahwa dunia anak tidak selalu dipenuhi rasa aman, perhatian, dan kasih sayang. Persoalan tersebut membuat cerita terasa lebih emosional karena pembaca diajak melihat bagaimana anak-anak berusaha bertahan dan mencari jalan keluar dari keadaan yang tidak mereka pilih sendiri.

2. Memiliki karakter dan penamaan tokoh yang khas  

Salah satu ciri menarik dari karya Ziggy adalah kemampuannya menciptakan nama tokoh dan tempat yang terasa tidak biasa.

Dalam buku ini, Grameds akan kembali bertemu dengan tokoh-tokoh lama sekaligus beberapa karakter baru, seperti Pak Arkue, Anna Karyam, Sukaper Gisendi Ryan, Mozilla, dan Pak Aisa Yurasam. Nama-nama yang unik tersebut tidak hanya memberikan kesan khas, tetapi juga membuat dunia cerita terasa lebih imajinatif dan mudah dikenali.

3. Gaya bahasa Ziggy yang absurd dan menghibur 

Meskipun membawa tema yang cukup gelap, Ketika Anak-Anak Pergi tetap memiliki sisi menghibur melalui permainan kata, pengulangan kata, serta narasi-narasi absurd yang menjadi salah satu ciri khas Ziggy.

Perpaduan antara humor dan persoalan serius membuat suasana cerita menjadi tidak monoton. Pada satu bagian Grameds mungkin dibuat tersenyum atau tertawa karena tingkah dan narasinya, tetapi pada bagian lain dapat kembali dibuat tegang dan emosional.

4. Dilengkapi ilustrasi yang mendukung pengalaman membaca 

Ilustrasi menjadi salah satu daya tarik tambahan dalam Ketika Anak-Anak Pergi. Gambar-gambar yang hadir di dalam buku membantu memberikan gambaran visual terhadap dunia dan tokoh-tokoh yang dibangun Ziggy.

Kehadiran ilustrasi tersebut juga membuat buku terasa lebih dekat dengan karakter cerita yang menggunakan tokoh anak-anak, sekaligus memberikan pengalaman membaca yang lebih menyenangkan secara visual.

5. Alurnya lebih mudah diikuti meskipun ceritanya padat 

Dibandingkan dengan cerita sebelumnya, perjalanan dalam buku ketiga ini terasa lebih terarah karena fokus utamanya berada pada usaha para tokoh untuk membantu Mi menghadapi persoalan yang sedang dihadapinya.

Ma, Mo, Petronella, dan tokoh lainnya memiliki tujuan yang jelas sehingga perkembangan peristiwa lebih mudah diikuti. Meski menghadirkan cukup banyak kejadian dan karakter, hubungan antara kisah perlahan dapat dipahami seiring cerita berjalan.

Kekurangan Buku Ketika Anak-anak Pergi

Meskipun Buku Ketika Anak-anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie menawarkan banyak kelebihan, buku ini tetap tidak luput dari kekurangan yang bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca.

1. Kurang cocok dibaca secara terpisah dari seri sebelumnya
Sebagai buku ketiga, Ketika Anak-Anak Pergi memiliki banyak keterkaitan dengan cerita sebelumnya.

Meskipun terdapat penjelasan mengenai tokoh dan peristiwa tertentu, pembaca yang langsung memulai dari buku ini mungkin akan membutuhkan waktu untuk memahami dunia cerita, hubungan antartokoh, serta berbagai peristiwa yang telah terjadi sebelumnya. Karena itu, pengalaman membaca akan terasa lebih utuh apabila Grameds mengikuti seri ini sejak buku pertama.

2. Tema cerita cukup gelap dan emosional

Di balik gaya penulisan yang jenaka dan ilustrasi yang menggemaskan, Ketika Anak-Anak Pergi membawa sejumlah persoalan yang cukup berat. Pembahasan mengenai perlakuan orang dewasa terhadap anak, perjuangan untuk bertahan hidup, hingga situasi yang dialami para tokohnya dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman atau emosional bagi sebagian pembaca.

Perpaduan antara humor dan tema yang gelap juga membuat suasana cerita dapat berubah cukup drastis sehingga pembaca perlu mempersiapkan diri dengan nuansa cerita yang tidak selalu ringan.

Apa Itu Trauma Masa Kanak-Kanak? 

Pernahkah Grameds membayangkan bagaimana pengalaman buruk yang terjadi saat masih kecil dapat memengaruhi seseorang ketika tumbuh dewasa? Masa kanak-kanak merupakan periode penting dalam perkembangan seseorang karena pada tahap ini anak mulai membangun rasa aman, kepercayaan, serta cara memahami dirinya dan lingkungan di sekitarnya.

Ketika seorang anak mengalami peristiwa yang sangat menakutkan, menyakitkan, atau membuatnya merasa tidak aman, pengalaman tersebut dapat meninggalkan luka psikologis yang dikenal sebagai trauma masa kanak-kanak.

Trauma tersebut tidak selalu muncul akibat satu peristiwa besar, tetapi juga dapat terbentuk dari pengalaman buruk yang terjadi berulang kali.

Bentuk Trauma Masa Kanak-Kanak

Trauma pada masa kanak-kanak dapat muncul dalam berbagai bentuk. Kekerasan fisik, kekerasan verbal, pelecehan, kehilangan orang terdekat, perundungan, hingga penelantaran merupakan beberapa pengalaman yang berpotensi memberikan dampak psikologis bagi anak. Selain itu, lingkungan keluarga yang penuh konflik atau kurang memberikan rasa aman juga dapat mempengaruhi kondisi emosional anak.

Dampaknya pun berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang menjadi lebih mudah cemas dan sulit mempercayai orang lain, sementara sebagian lainnya dapat mengalami kesulitan dalam mengelola emosi atau membangun hubungan ketika dewasa.

Hal yang tidak kalah penting, kebutuhan emosional anak juga memiliki peran besar dalam perkembangannya. Anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, penerimaan, serta sosok dewasa yang dapat membuatnya merasa aman. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi secara terus-menerus, anak dapat tumbuh dengan berbagai pertanyaan mengenai dirinya sendiri maupun lingkungan di sekitarnya.

Oleh karena itu, memahami trauma masa kanak-kanak tidak hanya berarti melihat peristiwa yang dialami seorang anak, tetapi juga memahami bagaimana pengalaman tersebut mempengaruhi cara mereka melihat dunia.

Trauma Masa Kanak-Kanak dalam Ketika Anak-Anak Pergi

Pembahasan mengenai trauma masa kanak-kanak memiliki keterkaitan yang kuat dengan kisah Ketika Anak-Anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Melalui perjalanan Ma, Mi, Mo, dan tokoh-tokoh lainnya, buku ini menghadirkan gambaran mengenai anak-anak yang harus berhadapan dengan berbagai persoalan serius di dunia orang dewasa.

Di balik petualangan dan permainan kata yang menghibur, terdapat gambaran tentang anak-anak yang berusaha bertahan ketika mereka tidak selalu mendapatkan perlindungan dan rasa aman yang semestinya.

Kisah tersebut membuat pembaca dapat melihat bahwa masa kanak-kanak tidak selalu identik dengan kehidupan yang ringan dan bahagia. Pengalaman yang dialami seorang anak dapat meninggalkan kesan yang mendalam, bahkan ketika mereka belum sepenuhnya mampu memahami apa yang sedang terjadi.

Tanpa perlu mengungkap perjalanan cerita lebih jauh, Ketika Anak-Anak Pergi mengajak Grameds untuk memandang dunia anak dengan lebih peka sekaligus menyadari betapa pentingnya kehadiran orang dewasa yang mampu memberikan perlindungan, perhatian, dan kasih sayang.

Mengapa Trauma Masa Kanak-Kanak Penting untuk Dipahami?

Memahami trauma masa kanak-kanak membantu kita menyadari bahwa perilaku seorang anak tidak selalu dapat dilihat hanya dari apa yang tampak di permukaan. Sikap takut, marah, menarik diri, atau sulit mempercayai orang lain bisa saja berkaitan dengan pengalaman yang pernah mereka alami. Karena itu, anak-anak membutuhkan lingkungan yang aman serta orang dewasa yang bersedia mendengarkan dan memahami mereka, bukan sekadar menilai perilakunya.

Melalui Ketika Anak-Anak Pergi, Ziggy menghadirkan cerita yang membuat persoalan tersebut terasa lebih dekat dengan pembaca. Di balik sosok anak-anak yang tampak kecil dan polos, terdapat perasaan, ketakutan, dan perjuangan yang tidak selalu sederhana.

Pada akhirnya, buku ini dapat menjadi pengingat bahwa setiap anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang membuat mereka merasa aman, dicintai, dan memiliki tempat untuk pulang.

Penutup

Buku Ketika Anak-Anak Pergi menjadi pilihan bacaan yang tepat bagi Grameds yang menyukai kisah tentang petualangan anak-anak dengan persoalan yang lebih serius dan penuh makna.

Melalui perjalanan Ma, Mi, Mo, Petronella, dan tokoh-tokoh lainnya, Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie tidak hanya menghadirkan cerita yang unik dan menghibur, tetapi juga mengajak Grameds untuk melihat bagaimana anak-anak dapat menghadapi dunia yang tidak selalu memberikan rasa aman dan perlindungan.

Setelah menutup halaman terakhir, mungkin yang tertinggal bukan hanya rasa penasaran terhadap kelanjutan perjalanan mereka, tetapi juga renungan tentang betapa pentingnya peran orang dewasa dalam menjaga dan memahami anak-anak.

Jika Grameds diberi kesempatan untuk mengubah satu hal dari dunia yang mereka hadapi, apakah kalian akan memilih membuat dunia menjadi lebih aman bagi anak-anak, atau membantu mereka menemukan tempat yang benar-benar bisa disebut rumah?

Buku Ketika Anak-anak Pergi karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie ini bisa kamu dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung kamu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

 

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Jakarta Selintas Aram

Jakarta Selintas Aram

Jam sembilan pagi, kebaya, dan ruangan yang penuh pepat. Ada pengantin gugup, tamu-tamu bersemangat; dan rumah tua di tengah-tengah Jakarta menjadi saksi terciptanya keluarga baru.

5 tahun sejak pertama bertemu sudah berlalu. Bulan Januari ini, ada anak yang kabur, diary yang dibongkar, rahasia yang dibagi, dan pernikahan. Sekali lagi menelusuri kota dalam ingatan, kali ini Emina mengunjungi tempat-tempat lama di tengah kemacetan, di bawah matahari, berdampingan dengan kenangan sendiri..

Semua Ikan di Langit

Semua Ikan di Langit

Aku adalah bus kota biasa saja dengan trayek Dipatiukur-Leuwipanjang. Setelah perjumpaan dengan Beliau, aku menjadi bus yang mampu terbang mengitari angkasa dengan trayek lintas waktu, lintas dimensi. Dari kaki-kaki yang menapak pada tubuhku, aku menyimak bagaimana kisah dan hidup Beliau melaju. Ulang-alik waktu yang semakin meneguhkan bagaimana Beliau menyayangiku.

Semua Ikan di Langit adalah sebuah surat cinta panjang dengan ribuan kata. Tentang cinta dan sayang yang begitu polos. Dalam edisi ini, sebuah catatan mengiringi laju bus kota bersama ikan julung-julung.

Mari Pergi Lebih Jauh

Mari Pergi Lebih Jauh

Fifi ditangkap Kucing-Kucing Luar Biasa. Namun, Ibu Mo dan Ibu Tetangga Sebelah bilang Fifi hanya bayangan cermin yang selalu dibawa Fufu. Fifi sedari awal tidak benar-benar ada. Kucing Luar Biasa hanyalah kucing, kuping yang digoreng krispi sebenarnya jamur kuping, jagung tidak bisa mengendalikan kereta; Mi dan Ma dan Mo hanya bermimpi. Mi dan Ma dan Mo merencanakan sesuatu ketika Bapak dan Ibu Mo meninggalkan Rumah Merah nomor 17 dan mencari uang karena uang di Kota Suara tidak lagi tersimpan di dasar laut,

 

Written by Dzikri N. Hakim