in ,

Review Buku Rumah: Sebuah Novel

Rumah Sebuah Novel – Berada di tengah keluarga tapi kok rasanya tetap asing dan sendirian? Perasaan “asing di rumah sendiri” inilah yang dibedah secara apik oleh J.S. Khairen lewat karya terbarunya, Rumah: Sebuah Novel.

Novel setebal 368 halaman terbitan Elex Media Komputindo ini hadir memotret ironi kehidupan modern: tentang tempat tinggal yang ada secara fisik, tapi terasa hampa secara emosional.

Penasaran seberapa dalam novel ini bakal mengaduk-aduk perasaanmu tentang arti “pulang”? Intip ulasan lengkapnya di bawah ini yuk!

Sinopsis Novel Rumah: Sebuah Novel

Bagi kebanyakan orang, rumah adalah tempat berteduh dari kelelahan dunia—ruang aman untuk menangis, mengeluh, dan memulihkan diri tanpa takut dihakimi. Namun bagi Ria, “pulang” justru adalah teror yang paling ingin ia hindari.

Sebagai seorang luxury travel planner, Ria bebas menjelajahi berbagai belahan dunia, menikmati fasilitas serba mewah, hingga membeli apa saja yang ia inginkan. Namun, di balik kehidupan glamor dan jejak langkahnya ke seluruh penjuru bumi, Ria tidak pernah memiliki tempat untuk berlabuh. Setiap sudut rumahnya hanya menyisakan tumpukan luka, dendam, dan rasa benci yang tertuju pada kedua orang tuanya.

Novel mahakarya J.S. Khairen ini membongkar ironi terpahit dalam hidup: sejauh apa pun kamu melarikan diri mengelilingi dunia, kamu tidak akan pernah bisa lari dari bayang-bayang luka masa lalu. Akankah Ria menemukan jalan berdamai dengan hatinya, atau ia akan selamanya menjadi pengembara yang tak punya arah pulang?

button cek gramedia com

Profil J. S. Khairen – Penulis Buku Rumah: Sebuah Novel

Jombang Santani Khairen, atau lebih dikenal sebagai J.S. Khairen, merupakan penulis berdarah Minang yang telah menghasilkan berbagai karya dengan gagasan yang berani dan imajinatif. Namanya sempat menjadi perbincangan publik setelah kumpulan cerpennya yang berjudul Rindu Sederas Hujan Sore Itu terbit pada 2017. Dalam salah satu cerpennya, ia menyebut Nusantara sebagai ibu kota baru Indonesia. Ketika potongan cerita tersebut kembali dibagikan melalui media sosial, banyak warganet mengaitkannya dengan wacana pemindahan ibu kota dan bahkan menyebut J.S. Khairen sebagai “dukun” atau “cenayang”.

Selain itu, J.S. Khairen juga menulis Kami (Bukan) Jongos Berdasi yang diterbitkan pada 2019. Buku yang telah ia tulis sejak 2014 hingga 2015 tersebut menunjukkan ketertarikannya terhadap persoalan sosial, politik, geografis, serta berbagai kemungkinan perubahan yang terjadi di Indonesia. Keberaniannya dalam mengangkat gagasan yang tidak biasa menjadi salah satu ciri yang membuat karya-karyanya menarik perhatian pembaca.

Ketertarikan J.S. Khairen terhadap dunia kepenulisan telah tumbuh sejak dirinya masih kecil. Ia banyak mendapat inspirasi dari sang ayah yang berprofesi sebagai wartawan. Sebelum dikenal melalui novel-novelnya, ia terlebih dahulu mengembangkan kemampuan menulis melalui cerita pendek yang kemudian dihimpun dan diterbitkan menjadi buku.

Kelebihan dan Kekurangan Novel Rumah: Sebuah Novel

Pros & Cons

Pros
  • Membawa pembaca berpetualang.
  • Memberikan banyak perasaan dan pembelajaran.
  • Gaya bahasa kontemporer.
  • Analogi mudah dipahami.
  • Berfokus pada perjalanan batin.
  • Tampilan sampul yang hangat.
Cons
  • Seperti buku religi.
  • Plot kurang masuk akal

Kelebihan Novel Rumah: Sebuah Novel

Novel Rumah: Sebuah Novel yang lagi-lagi digandrungi banyak orang berkat kekuatan ceritanya yang bisa menyentuh banyak orang.

  • Membawa pembaca berpetualang

Membaca novel ini terasa seperti ikut menjelajahi berbagai tempat di penjuru dunia. Pembaca diajak berkunjung ke tengah lautan melalui kapal pesiar mewah, pedalaman Amazon, Mentawai, Tristan da Cunha, hingga Mekkah dan Madinah. Setiap perjalanan memiliki suasananya sendiri. Ada yang terasa menyenangkan dan penuh tantangan, tetapi ada pula yang menghadirkan haru serta mengajak pembaca merenungkan banyak hal.

  • Memberikan banyak perasaan dan pembelajaran

Novel ini tidak hanya menawarkan cerita, tetapi juga menghadirkan beragam emosi dan pelajaran kehidupan. Ada banyak hal yang dapat direnungkan dari perjalanan para tokohnya, terutama tentang arti pulang, keluarga, dan tempat untuk menemukan kembali diri sendiri. Karena itu, novel ini cukup cocok bagi pembaca yang sedang mencari cerita tentang perjalanan untuk kembali menemukan rumah.

  • Gaya bahasa kontemporer

Gaya bahasa yang digunakan terasa modern dan dekat dengan percakapan sehari-hari. Perpaduan antara bahasa baku dan bahasa kasual membuat narasinya terasa lebih luwes, seolah-olah pembaca sedang berbincang langsung dengan penulis. Penggunaan bahasa yang apa adanya juga membuat cerita terasa lebih dekat dan mudah dinikmati.

  • Analogi mudah dipahami

Salah satu hal menarik dalam novel ini adalah cara penulis memanfaatkan latar pekerjaan Ria sebagai seorang luxury travel planner untuk menjelaskan berbagai hal, termasuk gambaran mengenai kemewahan. J.S. Khairen menggunakan analogi yang dekat dengan kehidupan pembaca, misalnya dengan membandingkan harga suatu layanan dengan beberapa kali lipat gaji atau biaya yang setara dengan kebutuhan hidup dalam jangka panjang. Cara tersebut membuat gambaran mengenai dunia mewah dalam cerita terasa lebih mudah dibayangkan.

  • Berfokus pada perjalanan batin

Kekuatan utama novel ini terletak pada perjalanan batin dan refleksi diri yang dihadirkannya. Rumah: Sebuah Novel mungkin bukan cerita yang terus-menerus membuat pembaca penasaran hingga sulit berhenti membaca. Namun, novel ini memiliki kekuatan lain, yaitu mampu meninggalkan pertanyaan dan renungan setelah halaman terakhir selesai. Pembaca dapat dibuat kembali memikirkan kehidupan, keluarga, serta makna rumah bagi dirinya sendiri.

  • Tampilan sampul yang hangat

Sampul novel ini juga menjadi salah satu daya tarik tersendiri. Perpaduan warna dan ilustrasinya memberikan kesan hangat serta homey yang selaras dengan judul Rumah: Sebuah Novel. Dari tampilannya saja, sampul tersebut sudah mampu memberikan gambaran mengenai suasana yang ingin dibangun melalui cerita.

Kekurangan Novel Rumah: Sebuah Novel

Meskipun Rumah: Sebuah Novel memiliki banyak kelebihan yang membuatnya menarik, beberapa hal yang bisa ditingkatkan lagi. 

  • Seperti buku religi

Salah satu hal yang mungkin menjadi pertimbangan bagi sebagian pembaca adalah kuatnya nuansa religi dalam cerita. Pembahasan mengenai agama hadir dalam porsi yang cukup besar sehingga bagi pembaca yang tidak terlalu menikmati cerita dengan tema religi, bagian-bagian tersebut mungkin terasa kurang sesuai dengan ekspektasi. Beberapa pembaca juga dapat merasa bahwa narasi mengenai agama terlalu dominan dibandingkan perkembangan ceritanya.

  • Plot kurang masuk akal

Alur cerita dalam novel ini juga memiliki beberapa bagian yang terasa berlebihan dan kurang mudah diterima secara logis. Misalnya, terdapat kejadian seperti menerbangkan roket dari Singapura hingga mendatangkan penyanyi Korea untuk tampil di tengah hutan Amazon. Bagi sebagian pembaca, kejadian-kejadian tersebut dapat terasa terlalu dipaksakan dan mengurangi kesan realistis dalam cerita. Selain itu, terdapat pula beberapa konflik yang terasa belum sepenuhnya diselesaikan karena kemudian cerita beralih begitu saja ke bagian lainnya.

Rumah dan Maknanya bagi Kehidupan Manusia 

Grameds, ketika mendengar kata “rumah”, mungkin yang langsung terbayang adalah sebuah bangunan dengan dinding, atap, dan tempat untuk beristirahat. Namun, pernahkah Grameds berpikir bahwa rumah sebenarnya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat tinggal? Bagi sebagian orang, rumah dapat menjadi tempat untuk merasa aman, melepaskan lelah, menyimpan kenangan, sekaligus menjadi ruang untuk menjadi diri sendiri. Lantas, apa sebenarnya makna rumah jika dilihat dari berbagai sudut pandang?

Rumah bukan hanya bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal. Bagi manusia, rumah dapat memiliki makna yang jauh lebih dalam karena menjadi tempat berlindung, membangun hubungan, hingga menyimpan berbagai kenangan. Secara umum, makna rumah dapat dilihat dari beberapa sudut pandang berikut.

  1. Rumah sebagai tempat tinggal

Secara fisik, rumah merupakan bangunan yang memiliki ruang untuk digunakan sebagai tempat tinggal. Rumah umumnya dilengkapi dengan atap, dinding, lantai, dan berbagai ruangan yang mendukung kebutuhan penghuninya. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rumah merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal. Selain menjadi tempat untuk beristirahat, rumah juga berfungsi sebagai pelindung dari panas, hujan, serta berbagai gangguan dari lingkungan luar.

  1. Rumah sebagai bagian dari kehidupan keluarga

Dalam konteks hukum di Indonesia, rumah tidak hanya dipandang sebagai bangunan untuk tempat tinggal. Berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, rumah merupakan bangunan yang layak huni dan memiliki fungsi sebagai tempat pembinaan keluarga. Rumah juga dapat menjadi cerminan harkat dan martabat penghuninya sekaligus salah satu aset berharga yang dimiliki seseorang.

  1. Rumah sebagai tempat pulang secara emosional

Secara psikologis, rumah memiliki arti yang berbeda dari sekadar bangunan fisik. Dalam pengertian ini, rumah lebih dekat dengan konsep home, yaitu tempat seseorang merasa aman, nyaman, diterima, dan bebas menjadi dirinya sendiri. Rumah menjadi ruang untuk melepaskan berbagai tekanan dari luar serta menemukan kembali ketenangan setelah menjalani aktivitas sehari-hari.

Dari sudut pandang psikologi, rumah juga memiliki beberapa fungsi penting dalam kehidupan manusia.

Tempat Perlindungan Emosional (Emotional Sanctuary)

  • Memberikan rasa aman: Rumah dapat menjadi tempat untuk meredakan stres dan tekanan yang berasal dari pekerjaan maupun lingkungan sosial.
  • Memberikan kebebasan menjadi diri sendiri: Di rumah, seseorang dapat melepaskan tuntutan sosial dan mengekspresikan dirinya dengan lebih bebas tanpa takut dihakimi.
  • Menciptakan kestabilan: Ruang personal yang nyaman dan konsisten dapat membantu seseorang merasa lebih tenang serta menjaga keseimbangan emosinya.

Manifestasi Identitas Diri (Extension of Self)

  • Bentuk ekspresi diri: Cara seseorang menata rumah, memilih perabot, serta menentukan dekorasi dapat mencerminkan kepribadian, nilai, dan pengalaman hidupnya.
  • Memberikan kendali atas lingkungan: Rumah memungkinkan seseorang mengatur berbagai hal sesuai kebutuhannya, seperti privasi, pencahayaan, tingkat kebisingan, hingga tata letak ruangan. Hal ini dapat menumbuhkan rasa memiliki kendali terhadap lingkungan sekitar.

Pusat Ikatan Sosial dan Memori (Anchor of Belonging)  

  • Tempat tumbuhnya hubungan: Rumah menjadi ruang tempat seseorang membangun dan menjalin hubungan dengan keluarga, pasangan, maupun dirinya sendiri.
  • Penyimpan berbagai kenangan: Berbagai sudut rumah dapat menyimpan jejak kehidupan melalui aroma, suara, benda, atau peristiwa tertentu yang kemudian menjadi bagian dari perjalanan hidup seseorang.

Penutup

Pada akhirnya, Rumah: Sebuah Novel bukan sekadar kisah tentan tempat tinggal, melainkan cermin bagi jiwa kita yang lelah berpetualang.

J.S Khairen dengan hangat mengingatkan bahwa sejauh apa pun kamu melangkah, perjalanan terpanjang adalah keberanian untuk pulang dan berdamai dengan hatimu sendiri.

Karena rumah yang sejati bukanlah bangunan megah, melainkan tempat di mana kamu akhirnya merasa cukup, diterima, dan dicintai apa adanya.

Siap menemukan arti “Pulang” yamg sesungguhnya? Yuk, amankan novel Rumah karya J.S. Khairen ini di Gramedia.com sekarang! Bersama #TumbuhBermakna, mari temukan makna kedamaianmu sendiri.

Rekomendasi Buku

Rinduku Sederas Hujan Sore Itu

Rinduku Sederas Hujan Sore Itu

 

button cek gramedia com

Hujan tidak pernah mengingkari janjinya pada bumi, persis seperti rinduku padamu yang tumpah sederas langit sore itu. Kita berdiri di bawah rintik yang sama, terpaut jarak yang tak seberapa, namun tetap tak mampu bertatapan apalagi saling bicara.

Menemukanmu ternyata tak perlu sedramatis itu—bukan di sudut paling terang, gelap, ramai, maupun sunyi. Sebab di antara cemas dan rindu yang tak tertahankan, kamu adalah kepastian yang telah disiapkan oleh Sang Mahapasti.

Sebuah novel emosional tentang kerinduan, jarak yang menyiksa, dan kepastian rasa yang tak pernah salah menemukan jalurnya

Hal yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku

Hal yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku

 

button cek gramedia com

Dua puluh delapan cerita tentang manisnya jatuh cinta dan perihnya ditinggalkan. Ketika seseorang pergi, ia tidak benar-benar membawa seluruh bagian dari dirinya. Selalu ada yang tertinggal: aroma parfum di kerah baju yang lenyapnya butuh waktu seumur hidup, tumpukan karcis bioskop, hasil photo box, hingga serpihan harapan yang pupus di depan pintu rumah.

Buku ini hadir merangkul setiap kenangan yang terabaikan—mengajakmu kembali berbunga-bunga dalam kebahagiaan sekaligus terlarut dalam kesedihan yang paling jujur.

Kami (Bukan) Generasi Bac*t

 

Kami (Bukan) Generasi Bac*t

 

button cek gramedia com

 

Gaji? Cukup, cukup besar. Karier? Mulus melesat. Bisnis? Sebentar lagi soft launching. Karya? Sudah banyak yang suka. Jodoh? Aih! Sedikit lagi. Mantap betul nasib Arko, Gala, Juwisa, Sania, Ogi, dan Randi. Para alumnus kampus UDEL yang amburadul ini ternyata berhasil melawan tikus-tikus kehidupan. Namun, tikus-tikus itu nyatanya tidak sepenuhnya hilang. Mereka malah membesar, menyelinap dalam pekerjaan yang menyita waktu, mimpi-mimpi yang makin terasa jauh, dan dilema antara kembali ke kampung atau terus bertarung di kota tanpa tujuan. Akankah mereka menemukan jawaban dari semua itu? Ataukah terus melakukan pembenaran lewat bac*t tanpa mendengarkan apa yang sebenarnya diinginkan hati?

 

 

Written by Laura Saraswati