in , , ,

Review Buku Sisi Lain Diponegoro Karya Peter Carey

Sisi Lain Diponegoro – Grameds, apakah kamu mengenal Perang Jawa yang sering dikaitkan dengan sosok Pangeran Diponegoro?

Perang bersenjata ini berlangsung di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur pada tahun 1825 hingga 1830, mempertemukan perlawanan rakyat Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dengan kekuatan kolonial Belanda.

Buku Sisi Lain Diponegoro, disusun berdasarkan dua tulisan penting pakar Perang Jawa, Peter Carey, yang dibuat pada pertengahan tahun 1970-an mengenai Babad Kedung Kebo dan historiografi Jawa. Karya ini menjadi pengantar yang inspiratif bagi para peneliti sejarah.

Melalui buku ini, pembaca diajak memahami bahwa sejarah Jawa pada awal abad ke-19 memiliki banyak sudut pandang, sementara tradisi historiografi lokal menyimpan kekayaan yang besar. Tulisan Cokronegoro juga mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah hanya memiliki satu kebenaran.

Dalam hal ini, Babad Kedung Kebo menjadi salah satu sumber penting yang menggambarkan dunia masyarakat Jawa.

Edisi terbaru Sisi Lain Diponegoro hadir dengan 306 halaman dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 4 Juli 2025.

Sebelum menyelami isi bukunya lebih jauh, mari terlebih dahulu mengenal sosok Peter Carey sebagai penulis karya ini.

 

Profil Peter Carey – Penulis Buku Sisi Lain Diponegoro

Peter Brian Ramsay Carey, yang lahir pada 30 April 1948, dikenal sebagai sejarawan dan penulis asal Inggris yang menaruh perhatian besar pada sejarah modern Indonesia, khususnya sejarah Jawa. Selain itu, ia juga meneliti dan menulis mengenai sejarah Timor Timur yang kini dikenal sebagai Timor Leste, serta Birma yang sekarang disebut Myanmar.

Carey pernah menjabat sebagai Laithwaite Fellow di bidang sejarah modern di Trinity College, Universitas Oxford, dan memegang posisi tersebut sejak tahun 1979 hingga 2008.

Sepanjang kariernya, Peter Carey banyak menghasilkan karya yang menyoroti sosok Pangeran Diponegoro, masa pemerintahan Inggris di Jawa pada tahun 1811 hingga 1816, serta Perang Jawa yang berlangsung pada 1825 sampai 1830.

Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah buku biografi The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785–1855 yang diterbitkan oleh KITLV Press pada 2007.

Buku ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh jurnalis senior Kompas, Parikitri T. Simbolon, dengan judul Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785–1855 dan diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 2011.

Carey juga menulis versi ringkas dari biografi tersebut berjudul Destiny: The Life of Prince Diponegoro of Yogyakarta, 1785–1855 yang diterbitkan oleh Peter Lang pada 2014. Versi ini turut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Takdir: Riwayat Pangeran Diponegoro, 1785–1855 dan diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas pada tahun yang sama.

 

Sinopsis Buku Sisi Lain Diponegoro

Perang Jawa yang berlangsung pada 1825 hingga 1830 dapat dipandang sebagai peristiwa besar dalam sejarah Indonesia modern karena mengguncang tatanan lama masyarakat Jawa dan membuka jalan bagi terbentuknya pemerintahan kolonial baru Hindia Belanda yang berkuasa hingga 1942. Konflik besar ini juga mendorong lahirnya penulisan sejarah baru.

Dalam sastra Jawa modern, untuk pertama kalinya muncul karya autobiografi berupa Babad Diponegoro yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro pada 1832 saat ia menjalani pengasingan di Manado.

Dalam kisah mengenai Perang Jawa, persoalan legitimasi kekuasaan menjadi perdebatan yang menarik. Ada yang memandang Diponegoro sebagai sosok yang berjuang demi kebenaran sebagai Ratu Adil, namun ada pula yang menilai perjuangannya dipengaruhi oleh ambisi kekuasaan.

Raden Adipati Cokronegoro I, mantan komandan pasukan cadangan pribumi di Bagelen yang kemudian menjadi bupati pertama Purworejo setelah perang berakhir pada 1831 hingga 1856, memiliki pandangan yang tegas mengenai hal ini. Ia mengakui kehebatan Diponegoro, tetapi menilai bahwa sang pangeran memiliki kelemahan besar berupa ambisi dan sikap angkuh.

Pandangan tersebut dituangkan dalam naskah Babad Kedung Kebo yang ditulis oleh Cokronegoro pada 1843 dengan bantuan Basah Pengalasan, mantan panglima Diponegoro di wilayah Bagelen.

Melalui karya ini, Cokronegoro seolah memberikan tanggapan terhadap autobiografi Diponegoro sekaligus menyampaikan versinya mengenai Perang Jawa. Narasi tersebut juga menjelaskan alasan Cokronegoro memilih berpihak kepada Belanda.

Ia memandang bahwa kekuasaan kolonial yang telah berdiri menjadi kenyataan baru bagi masa depan negeri ini, sehingga gagasan tentang kemunculan seorang penyelamat atau Ratu Adil dianggap masih terlalu dini untuk diwujudkan.

 

Kelebihan dan Kekurangan Buku Sisi Lain Diponegoro

Pros & Cons

Pros
  • Menawarkan sudut pandang baru.
  • Sumber yang kredibel.
  • Didukung sumber sejarah yang kuat.
  • Memberi wawasan tentang sejarah Purworejo.
Cons
  • Bukan bacaan awam.

 

Kelebihan Buku Sisi Lain Diponegoro

Buku Sisi Lain Diponegoro karya Peter Carey menjadi karya yang luar biasa hebat dan menginspirasi pembaca terutama mereka yang menekuni sejarah negeri ini.

Berikut adalah beberapa kelebihan yang terlihat dari bukunya:

  • Menawarkan sudut pandang baru

Selama ini kisah tentang Pangeran Diponegoro sering disajikan dari sudut pandang kepahlawanan dan perjuangannya dalam Perang Jawa pada 1825 hingga 1830.

Buku ini menghadirkan perspektif yang lebih beragam sehingga pembaca dapat melihat motif, latar belakang, dan dinamika perjuangan sang pangeran dari sisi yang jarang dibahas.

Membacanya seperti membuka jendela lain untuk memahami tokoh Diponegoro secara lebih luas.

  • Sumber yang kredibel

Sumber yang digunakan juga berasal dari tokoh-tokoh yang memiliki kedekatan dengan Pangeran Diponegoro.

Meskipun mereka mendukung perjuangan Diponegoro, pandangan yang disampaikan tetap bersifat kritis dalam menilai proses dan alasan di balik perlawanan tersebut.

Selain itu, buku ini turut menyoroti peran tokoh lain yang tidak kalah penting, yaitu Basah Pengalasan, salah satu panglima perang Diponegoro.

  • Didukung sumber sejarah yang kuat

Buku ini merupakan hasil penelitian mendalam Peter Carey mengenai Perang Jawa yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.

Penulis menggunakan beberapa sumber utama yang sangat penting, di antaranya Babad Diponegoro yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro pada tahun 1832 serta Babad Kedung Kebo yang diduga ditulis oleh Cokronegoro I bersama mantan panglima Diponegoro, Basah Pengalasan. Selain itu, terdapat pula rujukan lain seperti Babad Surakarta.

Dengan landasan sumber yang beragam, buku Sisi Lain Diponegoro menjadi salah satu bacaan penting bagi siapa pun yang ingin memahami sejarah bangsa secara lebih mendalam.

  • Memberi wawasan tentang sejarah Purworejo

Salah satu bagian yang menarik dalam buku ini terdapat pada epilognya yang mengulas sejarah Kabupaten Purworejo.

Melalui bagian tersebut, pembaca diajak mengenal lebih jauh perjalanan daerah ini, termasuk perannya yang cukup penting pada periode awal abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Kisah mengenai perkembangan Purworejo disajikan dengan cukup menarik dan bahkan diakhiri dengan beberapa catatan yang ditujukan bagi pemerintah daerah setempat.

 

Kekurangan Buku Sisi Lain Diponegoro

Meskipun buku Sisi Lain Diponegoro karya Peter Carey menawarkan banyak kelebihan, buku ini tetap tidak luput dari kekurangan yang terasa mengganjal.

  • Bukan bacaan awam

Di balik berbagai kelebihannya, buku ini mungkin terasa cukup berat bagi pembaca umum. Bagi mereka yang belum familiar dengan sejarah Jawa, dunia pewayangan, maupun tokoh-tokoh yang sering muncul dalam kisah tersebut, isi buku bisa terasa cukup menantang untuk dipahami.

Oleh karena itu, pemahaman terhadap buku ini kemungkinan akan lebih mudah jika pembaca terlebih dahulu mengenal atau membaca sumber-sumber seperti Babad Diponegoro dan Babad Kedung Kebo.

 

Sejarah Singkat Perang Jawa

Perang Jawa yang juga dikenal sebagai Perang Diponegoro pada tahun 1825 hingga 1830 merupakan salah satu konflik terbesar yang pernah dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Indonesia.

Perang ini tidak hanya berlangsung lama, tetapi juga menguras banyak tenaga, biaya, dan sumber daya.

Latar belakangnya berawal dari berbagai ketidakpuasan yang dirasakan oleh rakyat serta kalangan bangsawan Jawa terhadap kebijakan dan campur tangan pemerintah kolonial.

Beberapa faktor yang memicu terjadinya perang antara lain sebagai berikut :

  • Intervensi Politik: Pemerintah kolonial Belanda semakin jauh mencampuri urusan internal Keraton Yogyakarta. Campur tangan ini menimbulkan ketegangan karena dianggap merusak kedaulatan dan tradisi yang telah lama dijaga oleh pihak keraton.
  • Beban Ekonomi: Kondisi ekonomi masyarakat saat itu semakin berat akibat berbagai pajak tinggi yang diberlakukan oleh pemerintah kolonial.

Selain itu, sebagian bangsawan yang berpihak kepada Belanda juga ikut menarik berbagai pungutan dari rakyat sehingga memperburuk keadaan.

  • Penghinaan Adat: Belanda kerap dianggap tidak menghormati adat istiadat keraton serta nilai-nilai Islam yang dianut oleh masyarakat Jawa.

Sikap tersebut memunculkan rasa tersinggung dan kemarahan di kalangan masyarakat maupun para tokoh agama.

  • Pemicu Utama: Salah satu peristiwa yang memicu pecahnya perang adalah pemasangan patok jalan oleh Belanda yang melintasi area makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegalrejo tanpa meminta izin.

Tindakan ini dianggap sebagai penghinaan besar terhadap keluarga dan tradisi setempat.

Perang akhirnya meletus pada 20 Juli 1825 dan berlangsung selama lima tahun. Dalam perjalanannya, konflik ini diwarnai oleh berbagai strategi dan dukungan dari banyak pihak.

  1. Strategi Gerilya: Pangeran Diponegoro menggunakan taktik gerilya dengan melakukan serangan mendadak dan berpindah-pindah lokasi. Strategi ini membuat pasukan Belanda kesulitan menghadapi perlawanan yang tidak terduga.
  2. Dukungan Luas: Perlawanan Diponegoro mendapat dukungan luas dari banyak kalangan. Para ulama seperti Kyai Mojo, para bangsawan, hingga panglima perang seperti Sentot Prawirodirjo ikut terlibat dalam perjuangan tersebut.
  3. Benteng Stelsel: Untuk mengatasi perlawanan yang terus berlanjut, Jenderal De Kock menerapkan strategi Benteng Stelsel.

Sistem ini dilakukan dengan membangun banyak benteng kecil di wilayah yang berhasil dikuasai Belanda dan menghubungkannya dengan jaringan jalan.

Tujuannya adalah mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro.

Perang Jawa akhirnya berakhir pada 28 Maret 1830. Belanda menggunakan cara yang licik dengan menjebak Pangeran Diponegoro saat menghadiri perundingan damai di Magelang.

Dalam pertemuan tersebut ia ditangkap, kemudian diasingkan ke Manado sebelum akhirnya dipindahkan ke Makassar hingga akhir hayatnya.

Konflik besar ini menimbulkan korban yang sangat besar. Diperkirakan sekitar 200.000 penduduk Jawa meninggal dunia, sementara sekitar 15.000 tentara Belanda termasuk pasukan pribumi yang memihak Belanda juga tewas.

Dari sisi ekonomi, Belanda mengalami kerugian besar karena biaya perang mencapai sekitar 25 juta gulden. Kondisi ini kemudian mendorong pemerintah kolonial menerapkan kebijakan Tanam Paksa atau Cultuurstelsel untuk mengisi kembali kas negara mereka.

 

Penutup

Sisi Lain Diponegoro karya Peter Carey menghadirkan wawasan baru yang memperkaya pemahaman tentang Perang Jawa, sebuah peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.

Melalui riset yang mendalam, buku ini mampu membuka perspektif berbeda sekaligus menjadi bacaan yang inspiratif bagi siapa saja yang ingin mengenal sejarah secara lebih luas.

Bagi kamu yang ingin mempelajari sejarah bangsa, langsung saja dapatkan buku Sisi Lain Diponegoro karya Peter Carey ini di Gramedia.com.

Untuk mendukung kamu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

 

Penulis: Gabriel

 

Rekomendasi Buku

Majapahit

Majapahit

button cek gramedia com

Majapahit adalah kerajaan besar di Nusantara yang kekayaan dan kekuasaannya dibangun dari perpaduan muslihat politik, panen raya padi, dan angkatan laut yang sedemikian perkasa sampai-sampai bahkan orang Portugis, pelaut hebat Eropa, pun terkesan. Namun, tidak banyak bukti fisik yang tersisa dari Majapahit. Sumber sejarah juga terbatas dan akurasinya meragukan.

Ditulis berdasarkan sumber-sumber primer dan naskah-naskah kuno, cerita dalam buku ini mengangkat kisah raja-raja sangat eksentrik, perseteruan berdarah keluarga kerajaan, dan kisah tentang juru tulis istana pemabuk, tetapi memiliki kesadaran jernih untuk menuliskan segala yang dilihatnya.

 

Kisah-Kisah Tersembunyi dari Sejarah Nusantara

Sejarah Nusantara

Buku ini menyajikan fakta-fakta sejarah Nusantara yang sering kali terlewatkan. Pembaca dapat menyelami masa lampau dengan bahasan bahasan yang menarik untuk diulik dengan penyajian yang komprehensif.

Buku ini, melanjutkan buku seri yang sama di edisi sebelum-sebelum ini, akan membatasi lingkupnya hanya di kepulauan Nusantara ini saja, mulai dari zaman prasejarah, klasik, kolonial, pascakemerdekaan hingga zaman demokrasi terpimpin.

Terdapat pembahasan mengenai peradaban Nusantara, Tokoh-tokoh legendaris Nusantara, hingga Republik Indonesia Serikat, Black Santa, dan lainnya, yang jarang atau bahkan mungkin tidak pernah dipelajari semasa sekolah.

 

Madiun dalam Kemelut Sejarah

Madiun dalam Kemelut Sejarah

Lewat buku ini sejarawan Ong Hok Ham menyadarkan kita bahwa Madiun memiliki sejarah yang panjang. Maka betapa salah jika ingatan atas wilayah ini hanya terpatri pada sejarah prahara PKI 1948.

Pada era Perang Giyanti (1746-1755), misalnya, Madiun memberikan dukungan yang amat penting bagi Sultan Mangkubumi (bertakhta 1749-1792).

Dukungan ini berasal dari sosok Kiai Tumenggung Wirosentiko (sekitar 1720-1784), gegedug (jawara) Sukowati, yang menjadi panglima setia Mangkubumi selama perang.

Pasca-berdirinya Yogyakarta, sang jawara Sukowati diangkat sebagai Bupati Wedana Madiun dengan gelar Raden Ronggo Prawirodirjo I (menjabat 1760-1784) dan diberi janji bahwa Sultan akan menyayangi keturunannya selamanya. Bahkan pada masa Mataram akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17, Madiun telah menjadi pusat pemerintahan alternatif.

Bupati dari Mancanegara Timur ini—istilah bagi daerah di luar Yogyakarta dan Surakarta—bisa bertindak sebagai raja kecil di wilayahnya. Sulitnya medan yang ditempuh antara Yogyakarta dan Madiun memberi semacam perasaan bebas merdeka pada para bupati kawasan timur.