Kimia

Sifat Kimia: Pengertian, Ciri-ciri dan Contoh Sifat Kimia

Written by Laeli Nur Azizah

Sifat kimia merupakan karakteristik zat yang bisa diamati saat menjadi partisipan di dalam makna reaksi kimia. Adapun contoh dari sifat kimia termasuk ke dalam zat yang mudah terbakar, stabilitas kimia, toksisitas, dan panas pembakaran. Sifat kimia tersebut seringkali digunakan untuk membuat klasifikasi penerapan kimia, terlebih pada label yang ada di wadah serta area penyimpanan.

Adapun hal yang perlu diingat yaitu bawah perubahan kimia harus terjadi supaya sifat kimia bisa diamati dan juga diukur. Misalnya saja, besi yang sudah teroksidasi dan menjadi berkarat. Yang mana untuk karat sendiri bukan sifat yang bisa dijelaskan berdasarkan analisis elemen murni. Sifat kimia sangat menarik untuk ilmu material. Sebab, karakteristik ini dapat membantu para ilmuwan dalam mengklasifikasikan sampel, memurnikan zat, dan mengidentifikasi bahan yang tidak diketahui.

Apa Itu Sifat Kimia?

Sifat kimia adalah sebuah sifat material yang menjadi lebih jelas selama atau setelah reaksi kimia yaitu kualitas apa saja yang bisa diterapkan hanya dengan merubah identitas kimia suatu zat. Dengan kata lain, sifat kimia tidak bisa ditentukan hanya dengan melihat atau menyentuh zat tersebut. Dimana struktur internal zat harus terpengaruh supaya sifat kimianya bisa diselidiki. Saat sebuah zat mengalami reaksi kimia, maka sifatnya akan berubah secara drastis dan menghasilkan perubahan kimia.

Sifat kimia sendiri bisa dikontraskan dengan sifat fisik, yang mana bisa dilihat tanpa mengubah struktur zat. Akan tetapi, untuk banyak sifat di dalam lingkup kimia fisik dan juga disiplin ilmu lainnya pada batas antara kimia dan fisika. Perbedaannya mungkin saja hanya terkait perspektif peneliti. Untuk sifat material, baik itu fisik ataupun kimia, bisa dipandang sebagai supervenient yaitu sekunder dari realitas yang mendasarinya.

Dengan mengetahui sifat tertentu yang ada di suatu zat bisa membantu para ahli kimia dalam membuat prediksi mengenai jenis reaksi yang diharapkan. Karena sifat kimia yang tidak mudah terlihat, mereka akan dimasukkan ke dalam label untuk wadah kimia. Label bahaya yang berdasar pada sifat kimia harus ditempelkan di wadah. Sedangkan dokumentasi lengkap harus dijaga supaya mudah untuk dirujuk.

Pengertian Sifat Kimia

Sifat kimia bisa diartikan sebagai karakteristik ataupun perilaku zat yang bisa diamati saat zat tersebut mengalami perubahan secara kimia. Perubahan kimia merupakan suatu jenis perubahan yang dapat mengubah identitas suatu zat karena kerubahan dan juga pembentukan ikatan kimia baru. Perubahan kimia dan juga sifat kima yang bisa dihasilkan terkait langsung denan sifat fisik sebuah zat. Adapun beberapa sifat fisik yang umum yaitu bau, titik didih, titik leleh, dan juga kepadatan.

Pengertian Sifat Kimia Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah beberapa pengertian sifat kimia menurut para ahli:

1. Pengertian Sifat Kimia Menurut Your Dictionary

Menurut Dictionary, sifat kimia adalah sebuah karakteristik dari suatu bahan yang menjadi lebih jelas saat bahan tersebut mengalami reaksi kimia ataupun perubahan kimia. Orang-orang tidak bisa mengamati sifat kimia hanya dengan melihat ataupun menyentuh sampel bahan. Justru struktur material yang seharusnya diubah supaya orang bisa mengamati sifat kimia.

2. Pengertian Sifat Kimia Menurut Thought

Sifat kimia merupakan karakteristik ataupun sifat dari suatu zat yang bisa diamati saat mengalami reaksi kimia atau perubahan kimia. Sifat kimia dapat terlihat selama atau mengikuti reaksi karena pengaturan atom yang ada di dalam sampel harus terganggu untuk properti yang akan diselidiki. Hal ini tentu berbeda dari sifat fisik, yang mana merupakan karakteristik yang bisa diamati dan diukur tanpa merubah identitas kimia spesimen.

Ciri-ciri dan Contoh Sifat Kimia

Ciri-ciri dari sebuah zat yang berhbungan dengan terbentuknya zat jenis bari yaitu sesuai dengan contoh sifat kimia, yaitu mudah terbakar, membusuk, meledak, berkarat, beracun, dan lain sebagainya. Di bawah ini adalah beberapa contoh sifat kimia pada suatu zat yang perlu diketahui, antara lain:

1. Flammability atau Kemudahan Terbakar

Mudah terbakar disini artinya bisa menyulut api. Misalnya saja adalah bensin, yang mana zat satu ini termasuk kedalam zat yang paling mudah terbakar. Oleh karena itu, tak heran jika di stasiun pengisian bahan bakar akan ada sebuah larangan yang bertuliskan “DILARANG MEROKOK, “NO SMOKING”, dan lain sebagainya. Saat kita memahami sifat dari bahan-bahan yang mudah untuk terbakar, maka kita akan bisa dengan aman menggunakan zat tersebut untuk keperluan sehari-hari. Zat tersebut akan dibakar, sehingga kemudian bisa kita tahu apakah zat yang kita gunakan mudah terbakar, sulit, atau bahkan tidak bisa dibakar sama sekali. Misalnya saja besi, garam, baja, dan juga air yang secara kimia tidak bisa terbakar.

2. Mudah Membusuk

Sifat kimia yang satu ini terjadi karena adanya reaksi kimia. Pada minuman ataupun makanan dapat terjadi reaksi kimia yang menyebabkan makanan serta minuman menjadi mudah membusuk dan berubah rasa menjadi asam. Salah satu penyebab pembusukan pada minuman atau makanan yaitu mikroorganisme berupa jamur, ragi, ataupun bakteri.

Ontolosis merupakan sebuah proses pembusukan makanan yang diakibatkan oleh zat yang terkanudng di dalam makanan itu sendiri. Hal itulah yang menjadi penyebab adanya reaksi kimia antara zat yang terkandung di dalam makanan tersebut dengan oksigen di udara. Pembusukan makanan akan menyebabkan kerusakan pada nilai gizi, tekstur, dan rasa makanan itu sendiri. Sehingga menjadi tidak layak dikonsumsi karena akan berbahaya bagi kesehatan tubuh. Misalnya saja, nasi yang dibiarkan selama berhari-hari akan bereaksi dengan udara. Kemudian susu yang dibiarkan selama berhari-hari juga akan menjadi basi dan berubah rasa.

Untuk menghindari proses pembusukan tersebut, kita bisa melakukan beberapa teknik, mulai dari menggunakan teknologi tinggi ataupun teknologi sederhana. Salah satunya yaitu dengan cara pengawetan makanan. Ini adalah salah satu upaya menahan laju pertumbuhan mikro organisme pada makanan. Beberapa teknik standar yang sudah dikenal secara umum oleh masyarakat antara lain, pengasapan, pendinginan, pengalengan, pengeringan, pemanisan, dan juga pengasinan.

3. Mudah Meledak

Sifat kimia yang mudah meledak terjadi karena adanya interaksi antara zat dengan okdigen di alam. Salah satu contoh zat yang mudah meledak yaitu magnesium, natrium, dan juga hidrogen. Ledakan merupakan peningkatan volume dan juag pengeluaran energi dengan cara berbahaya. Umumnya dengan pengeluaran suhu yang tinggi dan menghasilkan gas. Sifat ledakan sendiri ada yang bersifat alami dan juga buatan. Untuk ledakan alami contohnya yaitu letusan gunung berapi. Sementara contoh ledakan buatan yaitu bom.

4. Berkarat

Sifat kimia yang mudah berkarat atau korosi biasanya terjadi karena adanya reaksi antara logam dan oksigen di suatu benda. Benda yang berkarat karena terjadi sebuah reaksi yang menghasilkan zat jenis baru. Korosi atau karat merupakan hasil reaksi oksidasi dari suatu logam.

Besi akan mengalami korosi dn membentuk karat dengan rumus Fe2O3.xH2O. Korosi atau proses pengaratan merupakan suatu proses elektri kimia. Pada proses pengaratan, besi (Fe) akan bertindak sebagai pereduksi. Kemudian Oksigen (O2) akan terlarut di dala air dan bertindak sebagai pengoksidasi.

Suatu benda bisa digolongkan menjadi benda yang mudah berkarat dan benda yang tidak bisa berkarat. Benda yang mudah berkarat antara lain adalah logan seperti seng atau besi. Sementara benda yang tidak akan berkarat yaitu kaca dan plastik.

Berikut ini adalah beberapa cara yang bisa digunakan untuk menanggulangi besi atau logam supaya tahan dari proses pengaratan, antara lain:

1. Melapisi logam atau besi dengan cat
2. Membuat logam dengan campura yang serba sama atau homogen saat pembuatan atau produksi besi ataupun jenis logam lainnya di pabrik
3. Pada permukaan logam diberi oli ataupun vaselin
4. Menghubungkan dengan logam yang aktif seperti magnesium (Mg) melalui kawat supaya yang berkarat magnesiumnya. Hal tersebut dilakukan utuk mencegah logam berkarat di tiang listrik baja ataupun besi. Umumnya, magnesium akan ditanam tak jauh dari tiang listrik.

5. Beracun

Beberapa zat mempunyai sifat kimia racun, seperti halnya pestisida, insektisida, fungisida, rodentisida, dan herbisida. Zat beracun itu digunakan manusia untuk membasmi hama seperti tikus ataupun serangga. Bahan kimia beracun merupakan bahan kimia yang dalam jumlah kecil dapat menimbulkan keracunan pada manusia. Biasanya zat beracun atau teksik akan masuk melalui pernapasan ataupun kulit, kemudian beredar ke seluruh tubuh atau organ tertentu. Namun, bisa juga zat racun itu berakumulasi seperti dari golongan pestisida, antara lain organo fosfat, organo klorin, karbamat, dan arsenik.

6. Radioakivitas

Radioaktivitas merupakan pancaran radiasi yang terjadi secara spontan. Hal ini dilakukan oleh inti atom karena alasan tertentu. Misalnya saja karena tidak stabil atau ingin melepaskan energi untuk beralih ke konfigurasi yang lebih stabil. Selama awal abad ke-20, banyak fisika modern yang dikhususkan untuk mengeksplorasi kenapa hal ini bisa terjadi. Kemudian hasilnya menunjukkan bahwa peluruhan nuklir dapat dipahami dengan baik pada tahun 1960.

Emisi radiasi dari atom yang memiliki inti tidak stabil adalah sifat kimia. Di dalam tabel periodik unsur, unsur yang tidak mempunyai isotop stabil akan dianggap radioaktif. Beberapa unsur radioaktif tersebut antara lain karbon, hidrogen, berilium, kalsium, besi, dan seng.

7. Stabilitas Kimia

Sifat kimia yang satu ini ada di dalam lingkungan tertentu saja dan biasanya disebut dengan stabilitas termodinamika sistem kimia. Dimana hal itu mengacu pada stabilitas yang terjadi saat sistem kimia berada di dalam kondisi energi terendah atau dalam kondisi keseimbangan kimia dan dengan lingkungannya. Keseimbangan tersebut akan bertahan tanpa adanya batas waktu kecuali terjadi sesuatu untuk merubah sistem tersebut.

Stabilitas kimia biasanya berkaitan dengan reaktivitas kimia. Sedangkan stabilitas kimia berkaitan dengan serangkaian kondisi tertentu. Reaktivitas merupakan ukuran seberapa besar kemungkinan sampel yang digunakan untuk berpartisipasi dalam reaksi kimia di berbagai macam kndisi dan seberapa cepat reaksi tersebut bisa dilanjutkan.

8. Kelarutan

Kelarutan diartikan sebagai jumlah maksimal suatu zat yang bisa larut di dalam zat lain. Hal ini merupakan jumlah maksimum zat yang terlarut dan bisa dilarutkan di dalam pelarut pada kesetimbangan yang menghasilkan larutan jenuh. Saat kondisi tertentu sudah terpenuhi, maka zat terlarut tambahan bisa dilarutkan diluar ititk kelarutan kesetimbangan, yang mana bisa menghasilkan solusi jenus. Di luar kejenuhan tersebut, akan menambahkan lebih banyak zat terlarut yang tidak bisa meningkatkan konsentrasi larutan. Begitupun sebaliknya, zat yang terlarut berlebih akan mengendap dari larutan.

Di dalam kasus yang umum, zat terlarut merupakan padatan seperti gula dan garam dan pelarut merupakan cairan seperti air atau kloroform. Namun zat terlarut atau pelarut bisa berupa gas, padatan, ataupun cairan. Pelarut dapat berupa zat murni ataupun zat campuran.

9. Elektronegativitas

Elektronegativitas merupakan sifat dari atom yang meningkat dengan kecenderungan untuk menarik elektron dari sebuah ikatan. Apabila dua atom yang saling terikat memunyai nilai keelektronegatifan yang sama, maka mereka akan berbagi elektron secara merata di dalam ikatan kovalen.

Umumnya, elektron yang ada di dalam ikatan kimia lebih tertarik di suatu atom yang lebih elektronegatif dibandingkan yang lain. Hal itu akan menghasilkan ikatan kovalen polar. Apabila nilai keelektronegatifan sangat berbeda, maka elektron tidak akan dibagikan sama sekali. Di dalam satu atom pada dasarnya akan mengambil elektron ikatan dari atom lainnya dan kemudian membentu ion.

Misalnya saja yaitu atom klor yang mempunyai elektronegatifan yang lebih tinggi dibandingkan dengan atom hidrogen. Sehingga elektron ikatan tersebut aka lebih dekat pada Cl dibandingkan ke H dalam molekul HCl. Di dalam molekul O2, kedua atom mempunyai elektronegativitas yang sama. Oleh karena itu, elektron yang ada di dalam kovalen akan dibagi secara merata antara dua atom oksigen.

10. Pembentukan Entalpi Standar

Formasi entalpi standar biasanya mengacu pada perubahan entalpo saat satu mol senyawa terbentu dari unsurnya. Perubahan entalpi yang mengikuti perubahan satu mol senyawa dari unsurkan dengan semua zat dalam kondisi standarnya sdisebut dengan formasi panas standar.

Di dalam ilmu kimia, kondisi standar suatu zat, baik itu zat murni, campuran, ataupun laurtan adalah titik referensi yang dipakai untuk menghitung sifatnya dalam keadaan yang berbeda-beda. Pada dasarnya, pilihan kondisi standar adalah arbitrer. Walaupun Uni Internasional Kimia Murni dan Terapan (IUPAC) merekomendasikan satu set kondisi standar untuk penggunaaan umu, tapi tekanan standar 1 bar (101,3 kilopascal) sudah diterima.

11. Panas Dari Pembakaran

Nilai kalor atau nilai energi dari suatu zat biasanya bahan bakar ataupun makanan merupakan jumlah panas yang akan dilepaskan selama pembakaran dengan jumlah tertentu. Dimana nilai kalor merupakan energi total yang akan dilepaskan sebagai panas saat suatu zat mengalami pembakaran sempurna dengan oksigen dalam kondisi standar.

Reaksi kimia umumnya berupa arti hidrokarbon ataupun molekul organik lain yang beraksi dengan oksigen untuk membentuk suatu karbon dioksida dan air serta melepaskan panas. Hal itu bisa dinyatakan dengan jumlah, energi atau mol bahan bakar, energi atau massa bahan bakar, dan energi atau volumen bahan bakar.

Ada dua jenis panas pembakaran, yang mana disebut dengan nilai pemanasan lebih inggi dan lebih rendah. Hal itu bergantung dengan seberapa banyak produk yang dibiarkan dingin dan apakah senyawa seperti H2O dibiarkan mengembun. Nilai tersebut diukur secara konvensional dengan kalorimeter bom.

12. Bilangan Koordinasi

Di dalam kimia, kristalografi dan ilmu material, serta bilangan koordinasi disebut dengan ligancy dari pusat atom dalam molekul ataupun kristal merupakan jumlah atom, molekul , atau ison yang terikat padanya. Ion, molekul, atau atom yang mengelilingi ion pusat disebut dengan ligan. Jumlah tersebt ditentukan sedikit berbeda untuk molekul dibandingkan untuk kristal.

Sementara itu, untuk molekul dan ion poliatomik, bilangan koordinasi suatu atom akan ditentukan hanya dengan menghtung atom lain yang terikat padanya. Sebagai contoh yaitu [Cr (NH3) 2Cl2Br2] – mempunyai kation pusat Cr3 +, yang mempunyai bilangan koordinasi 6 dan umumnya akan digambarkan sebagai hexacoordinate.



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien