in , ,

Review Novel Para Priyayi Karya Umar Kayam

Para Priyayi – Para Priyayi merupakan karya sastra klasik karya Umar Kayam, kakek dari musisi ternama Indonesia, Nino Kayam, yang juga menjadi sosok berpengaruh di negeri ini. Novel ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1992.

Novel Para Priyayi mengangkat kisah sejarah, budaya, yang edukatif dan memperkuat rasa bangga akan bangsa ini, yang masih relevan di zaman yang sudah berbeda. Buku ini dicetak ulang oleh Penerbit Grafity, yang dirilis resmi pada 25 Februari 2026.

Terdapat dua paket menarik yang bisa kamu dapatkan di Gramedia.com loh, Grameds! Pertama ada Paket Wanagalih yang berisi 1 buku hard cover, pembatas buku, dan pulpen berbentuk wayang. Selanjutnya, ada Paket Lantip yang berisi 1 buku soft cover, kalender 2026, dan pembatas buku. Kamu lebih suka yang mana nih, Grameds?

Sebelum menentukan pilihanmu, di bawah ini Gramin sudah menyajikan informasi sinopsis novel ini beserta ulasan kelebihan dan kekurangannya. Yuk simak informasi pentingnya! Selamat membaca!

Profil Umar Kayam – Penulis Novel Para Priyayi: Sebuah Novel

Umar Kayam kerap disematkan beragam predikat. Ia dikenal sebagai penulis, akademisi, sekaligus aktor film. Sebagian besar hidupnya diabdikan sebagai dosen di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Namanya semakin luas dikenal berkat novel Para Priyayi yang terbit pada 1991, serta esai-esainya yang dimuat di Tempo dan Kedaulatan Rakyat.

Kayam lahir dan tumbuh di Ngawi. Ia menempuh pendidikan sarjana muda di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada dan menyelesaikannya pada tahun 1955. Di lingkungan Gadjah Mada, ia dikenal sebagai salah satu perintis kehidupan teater kampus. Dari ruang-ruang itulah lahir murid-muridnya yang kelak berpengaruh, salah satunya ialah W. S. Rendra.

Perjalanan akademiknya kemudian berlanjut ke Amerika Serikat melalui beasiswa. Ia memperoleh gelar magister dari Universitas New York pada tahun 1963 dan meraih gelar doktor dari Universitas Cornell pada 1965. Disertasi doktoralnya berjudul Aspects of Inter-Departemental Coordination Problems in Indonesia Community Development, yang mencerminkan ketertarikannya pada persoalan sosial dan pembangunan.

Mengenai karya-karyanya, Kayam pernah menyatakan bahwa semuanya bergerak sebagai upaya untuk memahami berbagai gejala dan menjelaskan proses pemahaman tersebut. Ia tidak memandang proses itu sebagai kerja yang sia-sia dan berulang tanpa makna, seperti kisah Sisifus dalam mitologi Yunani, melainkan sebagai perjalanan intelektual yang terus bertumbuh.

Sinopsis Novel Para Priyayi

button cek gramedia com

Kisah ini mengisahkan perjalanan keluarga Sastrodarsono yang berawal dari keputusan Atmokasan menitipkan anaknya, Soedarsono, kepada seorang priyayi dengan harapan masa depannya menjadi lebih baik. Soedarsono kemudian tumbuh dan dikenal sebagai Sastrodarsono, seorang priyayi yang memiliki tiga orang anak kandung serta beberapa anak asuh.

Di antara anak-anak asuh tersebut, Soenandar sering terlibat dalam berbagai persoalan hingga akhirnya memilih bergabung dengan kelompok perampok dan menemui ajalnya. Anak Soenandar yang ditinggalkan kemudian diasuh oleh Sastrodarsono dan diberi nama Lantip. Dalam asuhan keluarga ini, Lantip tumbuh menjadi sosok yang berbudi baik dan setia, serta kerap berperan penting dalam membantu dan menjaga keharmonisan keluarga.

Melalui perjalanan hidup keluarga besar Sastrodarsono, cerita ini menghadirkan berbagai nilai dan pelajaran moral yang lahir dari pengalaman, pengorbanan, dan pilihan hidup para tokohnya.

 

Kelebihan dan Kekurangan Novel Para Priyayi

Pros & Cons

Pros
  • Potret sejarah dan budaya Jawa.
  • Menumbuhkan kesadaran identitas dan nasionalisme.
  • Tetap relevan bagi pembaca masa kini.
  • Sarat nilai moral dan pendidikan.
  • Karya klasik sastra Indonesia modern.
Cons
  • Perpindahan sudut pandang membingungkan.

Kelebihan Novel Para Priyayi: Sebuah Novel

Novel Para Priyayi karya Umar Kayam yang merupakan karya legendaris yang dicetak ulang ini menyajikan banyak kelebihan yang menjadikannya layak untuk dibaca.

  • Potret sejarah dan budaya Jawa

Novel ini menghadirkan gambaran sosial dan ekonomi masyarakat Jawa sejak masa kolonial hingga awal kemerdekaan. Sejarah Indonesia tidak disajikan secara besar dan monumental, melainkan ditangkap secara rinci melalui perjalanan sebuah keluarga priyayi. Alur ceritanya mengalir perlahan, tenang, dan tidak tergesa, menyerupai irama gamelan Jawa yang lembut.

Dari ruang keluarga inilah tercipta sebuah dunia cerita tempat tokoh-tokohnya beragam, namun dipersatukan oleh ikatan kekeluargaan yang kuat.

  • Menumbuhkan kesadaran identitas dan nasionalisme

Umar Kayam menulis dengan gaya yang indah dan jernih, mampu menjelaskan persoalan yang kompleks dengan bahasa yang sederhana. Novel ini berhasil menangkap jiwa dan nilai-nilai kehidupan Jawa yang sering dianggap rumit.

Melalui kisah para tokohnya, pembaca diajak memahami asal-usul budaya mereka sendiri, sekaligus menumbuhkan rasa hormat terhadap identitas dan akar kebangsaan yang tidak pernah benar-benar bisa dilepaskan dari kehidupan seseorang.

  • Tetap relevan bagi pembaca masa kini

Tema keluarga, pendidikan, dan perjuangan hidup yang diangkat dalam novel ini tetap terasa dekat dengan realitas pembaca saat ini.

Kisahnya relevan terutama bagi generasi muda yang ingin memahami latar budaya, nilai sosial, serta proses pembentukan karakter dalam konteks keluarga dan masyarakat.

  • Sarat nilai moral dan pendidikan

Novel ini memuat banyak pesan moral yang disampaikan secara implisit. Nilai-nilai seperti pentingnya pendidikan, kejujuran, dedikasi, dan sikap hidup seorang priyayi yang menjunjung etika serta kehormatan ditampilkan melalui perjalanan para tokohnya.

Tokoh Lantip, misalnya, menunjukkan bagaimana seseorang dengan latar belakang yang kurang baik dapat tumbuh menjadi pribadi yang berintegritas dan gemar menolong sesama. Hal ini menjadikan novel ini layak direkomendasikan sebagai bacaan di lingkungan sekolah maupun perguruan tinggi.

  • Karya klasik sastra Indonesia modern

Para Priyayi menempati posisi penting dalam khazanah sastra Indonesia modern. Reputasinya yang kuat membuat novel ini sering menjadi bahan kajian di kampus-kampus, khususnya dalam studi sastra Indonesia.

Nama Umar Kayam sebagai sastrawan besar turut memperkuat nilai dan daya tarik novel ini di kalangan pembaca, akademisi, serta komunitas sastra.

 

Kekurangan Novel Para Priyayi: Sebuah Novel

Meskipun novel Para Priyayi karya Umar Kayam memiliki banyak kelebihan, karya ini tetap tidak luput dari kekurangan. Setidaknya, terdapat beberapa kritik dari pembaca:

  • Perpindahan sudut pandang membingungkan

Bagi pembaca yang baru pertama kali membaca novel ini, cara bertutur yang berpindah-pindah dari satu tokoh ke tokoh lain dapat terasa membingungkan. Peralihan sudut pandang tersebut menuntut konsentrasi lebih agar pembaca tidak kehilangan arah dalam mengikuti alur cerita dan relasi antar tokohnya.

 

Definisi Priyayi

Secara etimologis, istilah priyayi berasal dari bahasa Jawa para yayi yang berarti para adik, yakni sebutan bagi kerabat atau saudara muda raja.

Dalam struktur sosial Jawa, priyayi merujuk pada kelompok elit atau bangsawan yang menempati posisi terhormat, baik karena garis keturunan maupun karena jabatan yang mereka sandang.

Berikut adalah definisi priyayi berdasarkan beberapa sudut pandang:

  • Definisi KBBI

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan priyayi atau priayi sebagai orang yang termasuk dalam lapisan masyarakat yang kedudukannya dipandang terhormat, seperti golongan pegawai negeri atau kaum terpelajar.

  • Aspek Sejarah

Pada masa kerajaan, priyayi merupakan bagian dari keluarga raja atau kaum ningrat yang bertugas mengabdi kepada istana. Ketika Indonesia berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, makna priyayi mengalami perluasan.

Istilah ini digunakan untuk menyebut kalangan pejabat administratif atau pegawai pemerintahan pribumi yang berperan sebagai penghubung antara penguasa kolonial dan rakyat biasa atau wong cilik.

  • Perspektif Clifford Geertz

Dalam karyanya The Religion of Java, Clifford Geertz membagi masyarakat Jawa ke dalam tiga kelompok utama, yaitu santri yang mewakili Islam ortodoks, abangan yang bercorak tradisional dan sinkretis, serta priyayi yang dikaitkan dengan kaum birokrat dan penjaga tradisi keraton.

  • Priyayi Modern

Pada masa kini, status priyayi tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh keturunan bangsawan. Kedudukan tersebut lebih banyak diperoleh melalui pendidikan tinggi dan posisi sosial, seperti profesi sebagai pegawai negeri, birokrat, atau pejabat publik.

 

Penutup

Novel klasik Para Priyayi karya Umar Kayam ini bisa memberikan gambaran mendalam tentang pergeseran nilai-nilai priyayi dari masa ke masa. Buku ini sangat direkomendasikan bagi kamu yang ingin mengenal budaya Jawa lebih dalam, dan membuka sudut pandang baru akan dinamika sosial dari masa ke masa.

Tak perlu pikir panjang lagi, yuk langsung saja dapatkan novel Para Priyayi: Sebuah Novel karya Umar Kayam ini di Gramedia.com. Sebagai teman untuk mendukung perjalananmu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.

 

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Rahvayana 2 (Republish 2025)

Rahvayana 2

button cek gramedia com

Sinta berubah. Namanya jadi Janaki. Janaki pun berubah. Namanya jadi Waidehi. Tapi, Rahwana tetap mencintainya. Rahwana tetap menjunjungnya, menyembahnya.

Terhadap titisan Dewi Widowati itu ia tak menyembah nama. Rahwana menyembah Zat melalui caranya sendiri. Persembahannya secara agama cinta ….

Hmmm ….

Sebuah nama yang ada bukan karena dinamai. Sebuah nama yang ada juga bukan karena menamai dirinya sendiri. Adakah itu? Ada. Rahwana yakin itu ada. Dan ia sangat mencintainya.

 

Ronggeng Dukuh Paruk

Ronggeng Dukuh Paruk

button cek gramedia com

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pedukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. 

Dari kaula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten. Namun, malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan. Hanya karena kecantikannya lah Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu. Namun, pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia. Karena itu setelah bebas, ia berniat memperbaiki citra dirinya. 

 

Anak-Anak Semar (Edisi 2024) 

Anak-Anak Semar

button cek gramedia com

Maka kau adalah samar, ya, Semar. Janganlah kau samar terhadap kegelapan, jangan pula kau samar terhadap terang. Hanya dengan hatimu yang samar, kau dapat melihat terang dalam kegelapan, kebaikan dalam kejahatan. Hanya dengan hatimu yang samar pula, kau dapat melihat kegelapan dan terang, kejahatan dalam kebaikan.

Anak-anak Semar karya Sindhunata berkisah tentang Semar sebagai pembawa harapan dan pengingat akan nilai-nilai serta akar budaya di tengah zaman yang bergerak begitu cepat.

Dalam buku dengan ilustrasi lukisan karya Nasirun ini, wajah Semar kerap berubah-ubah. Kadang ia disebut Sang Pamomong, sosok yang selalu melindungi rakyat kecil dan tertindas. Lain waktu, ia juga seperti pohon rindang yang dengan samar bayangannya bisa memberikan keteduhan bagi siapa pun yang ada di dekatnya.

Â