in ,

Resensi Buku Snow Tears

Snow Tears – Hai, Grameds! Siapa yang suka cerita dengan sentuhan magis dan menguras air mata?

Snow Tears karya Arie Nashiya menghadirkan kisah yang memadukan unsur magical realism dengan drama lewat kehidupan Kimie—seorang gadis dengan “bakat misterius” yang membuatnya berbeda dari orang lain.

Yuk, Grameds, simak ulasan lengkap Snow Tears di bawah ini untuk mengetahui kelebihan, kekurangan, serta pesan kehidupan apa yang bisa kamu ambil dari kisah Kimie dan sahabat masa kecilnya, Riku!

button cek gramedia com

Sinopsis Buku Snow Tears

“Tuhan itu tidak adil. Atau lebih tepatnya, jika Tuhan memang menciptakan isi dunia ini, maka Tuhan memiliki keseimbangan yang benar-benar buruk.”

Di tengah suasana musim gugur yang hangat, Kimie mengenang masa lalunya bersama sang ayah yang telah tiada, sambil menyalurkan perasaannya lewat alunan biola yang lembut. Namun, di balik kehidupannya yang tampak biasa, hal-hal aneh dan misterius mulai terjadi.

Mulai dari torso yang bisa berbicara, ruang kelas yang berubah menjadi lautan, hingga payung yang bisa melayang di udara—semuanya membuat hidup Kimie terasa seperti berada di antara dunia nyata dan imajinasi. Ia memiliki kemampuan unik yang tak bisa dilihat oleh orang lain, sebuah “bakat misterius” yang hanya diketahui oleh Riku, teman masa kecilnya.

Meski mereka saling memahami, Kimie dan Riku justru belum menyadari betapa pentingnya kehadiran satu sama lain. 

Tentang Penulis Buku Snow Tears

Arie Nashiya adalah penulis asal Prefektur Tochigi, Jepang, yang dikenal lewat karya-karya anak dan remajanya yang penuh imajinasi dan kehangatan. Ia memulai karier kepenulisannya dengan novel Deribarii Age (Delivery Age), yang berhasil memenangkan Penghargaan Pendatang Baru Sastra Anak Kodansha ke-39 pada tahun 1998. Karya-karyanya banyak mengangkat tema tentang perasaan, hubungan manusia, serta magical realism dalam kehidupan sehari-hari.

Beberapa karya terkenalnya antara lain novel Pianisshishimo (Pianississimo) yang meraih Penghargaan Pendatang Baru dari Japan Children’s Literature Bungei Kyokai ke-33, novel Surii Sutazu (Three Stars), dan kumpulan cerita pendek Shabondama Domei (The Bubble League).

Dalam bukunya Snow Tears, Arie Nashiya kembali menampilkan kepekaannya dalam menggambarkan emosi manusia. Melalui kisah yang menyentuh, ia mengajak pembaca, untuk memahami apa arti kehilangan, persahabatan, dan keberanian menghadapi perubahan hidup.

Dunia yang Absurd

Grameds, dunia dalam Snow Tears mungkin terasa aneh—ada torso yang berbicara, payung yang melayang, hingga ruang kelas yang berubah menjadi lautan. 

Tapi jika kita lihat lebih dalam, semua hal absurd itu adalah simbol dari kekacauan emosi yang dialami Kimie. Magical realism dalam buku ini bukan sekadar bumbu fantasi, melainkan cerminan dari dunia batin yang retak.

 Melalui elemen-elemen ajaib itu, Arie Nashiya seakan ingin menunjukkan bagaimana seseorang yang terluka sering kali menciptakan “dunia lain” agar bisa bertahan di tengah rasa sakit yang sukar untuk dijelaskan.

Sahabat, Penyelamat, dan Luka yang Tak Pernah Sembuh

“Manusia tidak menangis saat mereka sedih. Mereka baru menangis saat merasakan penderitaan yang tak tertahankan. Berada di dalam badai emosi, merasa tidak berdaya, merasakan ancaman pada keberadaan diri sendiri. Jika tangis itu sudah tidak tertahankan, ia akan menangis.”

Kehadiran Riku, bagi Kimie, bukan sekadar sahabat masa kecil. Ia adalah satu-satunya orang yang memahami sisi Kimie yang tidak bisa dimengerti orang lain. 

Grameds, hubungan mereka begitu hangat namun juga menyakitkan. Ketika Riku pergi untuk selamanya, rasa kehilangan itu bukan cuma tentang kehilangan sosok, tapi juga kehilangan bagian dari diri Kimie sendiri. 

Arie Nashiya menulis hubungan mereka dengan lembut tapi menusuk—menggambarkan bagaimana kehadiran seseorang bisa menjadi cahaya, dan ketiadaannya bisa meninggalkan ruang kosong yang tak pernah bisa diisi kembali.

Cara Menghadapi Patah Hati dan Kehilangan ala Kimie

Siapa sih yang belum pernah merasa kehilangan atau patah hati? Entah karena kehilangan seseorang yang kita sayangi, sahabat yang menjauh, atau bahkan kehilangan versi diri kita yang dulu. 

Lewat kisah Kimie di Snow Tears, kita diajak menyadari kalau kesedihan itu bukan sesuatu yang harus selalu disembunyikan. Berikut beberapa hal yang bisa kita pelajari tentang menghadapi patah hati dan kehilangan dari kisah Kimie.

  • Jangan buru-buru “baik-baik saja”

Kadang, kita terlalu cepat memaksa diri sendiri untuk pulih. Padahal, nggak apa-apa kita memberi ruang sejenak kepada diri kita untuk berduka, karena beberapa hal kadang-kadang memang terasa berat untuk diikhlaskan. Menangis bukan tanda lemah, itu tanda kamu masih punya perasaan.

  • Kenali rasa itu dan jangan tenggelam di dalamnya

Kimie merasa sendirian setelah kehilangan Riku. Tapi lewat dirinya, kita belajar bahwa kesepian bisa jadi ruang untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. 

  • Temukan cara sembuh versimu

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk proses healing-mu. Ada yang sembuh lewat menulis, ada yang lewat ngobrol dengan teman, ada juga yang lewat hal kecil seperti jalan sore atau mendengarkan lagu favorit. Semua cara bisa kamu coba untuk mengobati patah hatimu, Grameds.

  • Terima bahwa beberapa hal memang tidak bisa diperbaiki

Kehilangan nggak harus selalu “diselesaikan” saat itu juga, Grameds. Ada kalanya hal-hal memang cuma bisa diterima dan dijadikan pelajaran, sambil perlahan belajar hidup berdampingan dengan rasa kehilangan itu.

  • Time heals everything

Luka tidak hilang dalam semalam, Grameds. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu berubah sedikit demi sedikit — bukan hilang, tapi menyatu dan menjadi bagian dari kisah hidup yang membentuk siapa dirimu hari ini.

Kelebihan dan Kekurangan Buku Snow Tears

Pros & Cons

Pros & Cons

Pros
  • Menampilkan konflik batin yang beragam
  • Tipikal cerita yang membekas di ingatan
  • Menyampaikan banyak nilai moral
  • Unsur magical reaslim yang kental
  • Karakter yang relatable
  • Reflektif
Cons
  • Alur lompat-lompat
  • Pace cerita yang lambat

Berikut adalah kekurangan dan kelebihan dari buku Snow Tears karya Arie Nashiya yang perlu kamu ketahui, Grameds.

 

  1. Kelebihan Buku Snow Tears
  • Konflik Batin yang Disampaikan Secara Halus

Snow Tears unggul dalam menggambarkan konflik batin yang pelan-pelan namun pasti. Arie Nashiya tidak langsung menuliskan “Kimie sedih,” melainkan menyusun adegan-adegan kecil seperti gestur, suasana, serta mimik muka yang nantinya membuat pembaca merasakan kehampaan yang dirasakan tokoh utama.

Sebagai contoh, momen-momen hening setelah kepergian Riku tidak dipenuhi teriakan atau monolog panjang tetapi justru dengan keheningan itu sendiri. Hal ini membuat perasaan kehilangan yang dialami tokoh utama terasa lebih menusuk dan membekas lebih lama di ingatan pembaca.

  • Magical Realism yang Sarat Makna

Kelebihan selanjutnya adalah gaya penulisan dan unsur magical realism yang ditawarkan Arie Nashiya dalam buku ini. Hal-hal absurd seperti payung yang bisa mengambang, torso bicara, serta kelas yang berubah menjadi lautan dipakai sebagai simbol kondisi batin Kimie dan bukan sekadar hiasan semata.

Oleh karena itu, setiap adegan aneh sebenarnya mengandung lapisan makna: ketidakmampuan berkomunikasi, fragmentasi memori, atau pelarian psikologis yang dialami Kimie.

  • Karakter yang Manusiawi dan Relatable

Karakterisasi Kimie dan Riku terasa nyata dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Keduanya tidak digambarkan sebagai sosok yang luar biasa, bisa segalanya, justru mereka digambarkan sebagai dua manusia yang tidak sempurna, memiliki banyak keraguan, dan kadang-kadang membuat keputusan dengan impulsif.

Hal ini membuat mereka terlihat lebih ‘manusiawi’. 

  • Cerita yang Membekas Setelah Halaman Terakhir

Terakhir, Snow Tears memberikan kesan luar bisa setelah selesai dibaca, bukan sekadar cerita yang mudah dilupakan. Setelah menamatkan buku ini, banyak pembaca akan terus memikirkan kiasan-kiasan yang disebar Arie Nashiya sepanjang cerita, atau mengulang adegan-adegan tertentu di dalam kepala.

Buku ini seperti mengajak pembaca untuk merenungi kehidupan ketimbang hanya sebagai hiburan semata.

 

2. Kekurangan Buku Snow Tears

  • Alur Waktu yang Kurang Jelas

Salah satu kekurangan buku Snow Tears yang paling terlihat adalah alur waktu yang tidak jelas. Narasi cerita sering kali lompat-lompat antara masa kanak-kanak, remaja, dan dewasa tanpa penanda kronologis yang jelas.

Bagi sebagian pembaca, hal ini tentu saja menimbulkan kebingungan. Akibatnya, pembaca perlu ekstra fokus saat membaca buku ini supaya bisa memahami timeline yang dipaparkan Arie Nashiya dan tidak ketinggalan momen-momen penting dalam cerita. 

  • Pace Cerita yang Cenderung Lambat

Selanjutnya, kekurangan buku ini terletak pada pace cerita yang cenderung lambat dan terlalu fokus pada konflik batin daripada alur peristiwa. Hal ini berarti jika kamu pembaca yang menyukai cerita dengan konflik beragam, twist cepat, atau plot-driven story, beberapa bab mungkin akan terasa membosankan.

Buku ini lebih berfokus pada proses healing dan meditasi, sehingga bagi pembaca yang menginginkan cerita dengan alur yang menggebu-gebu, membaca Snow Tears akan memberikan pengalaman yang kurang memuaskan.

Kesimpulan

Setelah membaca lembar demi lembar buku Snow Tears, satu hal yang pasti adalah buku ini bukan sekadar kisah fiksi biasa tetapi perjalanan batin tentang kesepian, kehilangan, dan proses penerimaan. Arie Nashiya berhasil menghadirkan suasana yang hangat sekaligus mencekam, dengan gaya penceritaan yang pelan namun pasti. 

Meskipun alur ceritanya sedikit membingungkan dan temponya yang cenderung lambat, Snow Tears tetap meninggalkan kesan mendalam bagi mereka yang sabar menelusuri setiap babnya. Jadi, kalau kamu butuh bacaan reflektif yang bisa buat kamu merenungi segala aspek kehidupan, Snow Tears adalah pilihan yang tepat untuk masuk ke wishlist kamu selanjutnya, Grameds.

 

Rekomendasi Buku Terkait

Berikut rekomendasi buku-buku yang bisa kamu baca setelah menyelesaikan buku Snow Tears karya Arie Nashiya.

 

  1. Pasta Kacang Merah  

Pasta Kacang Merah ( An (Sweet Bean Paste))

 

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Sentaro gagal menjalani kehidupan. Ia memiliki catatan kriminal, sulit meninggalkan kebiasaan minum alkohol, dan impiannya menjadi penulis semakin lama semakin pudar. Ia menghabiskan hari-hari monoton di sebuah kedai dorayaki yang berada di bawah pohon sakura yang berubah seiring perubahan musim. Namun, suatu ketika segalanya mulai berubah. Seorang wanita tua bernama Tokue, dengan jemari yang aneh bentuknya, datang ke kehidupan Sentaro. Dengan metode pengajaran yang sama anehnya, Tokue mewariskan pengalaman lima puluh tahunnya membuat pasta kacang merah kepada Sentaro.

Namun, seiring persahabatan di antara keduanya mulai terjalin, tekanan dari masyarakat terhadap kondisi Tokue mulai mengungkap rahasia gelap yang wanita itu simpan rapat-rapat. Rahasia itu kemudian menuntut harga yang sangat mahal. Pasta Kacang Merah adalah sebuah cerita yang mengharmonisasikan kudapan manis dengan persahabatan, menggambarkan bagaimana harapan dapat membantu manusia menghadapi kelamnya masa lalu. 

 

       2. The Idol   

 

Siapa Yang Membunuh Idola Kesayanganmu? (The Idol)

button cek gramedia com

“Silakan pilih orang yang menurutmu membunuh idola kesayanganmu!”  

The Idol adalah ajang audisi idol berskala nasional. Seorang trainee mendadak tewas diracun di tengah acara. Sepuluh trainee yang tersisa pun menjadi tersangka. Produser acara tersebut tercekik hutang gara-gara terlibat judi ilegal dan manipulasi peringkat.   

Demi menyelamatkan diri, ia mengumpulkan kesepuluh trainee tersangka dari The Idol dan meluncurkan acara baru berjudul Episode Spesial The Idol: Mendakwa Idola. Para juri dan penonton dipersilakan memilih siapa pembunuh yang sebenarnya di antara para trainee tersebut. Karena publik ingin tahu segalanya, stasiun televisi bersedia melakukan apapun demi menaikkan rating penonton, termasuk mengorek dan membongkar rahasia-rahasia tergelap setiap trainee.   

Ketika idola kesayangan berubah menjadi tersangka pembunuhan, apakah idola kesayangan harus tetap dilindungi? 

 

      3. Enam Mahasiswa Pembohong

Enam Mahasiswa Pembohong  

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Keenam orang di sini semuanya sampah! Spiralinks, perusahaan IT yang bergengsi dan sedang naik daun, untuk pertama kalinya membuka lowongan kerja untuk mahasiswa tingkat akhir. Dari ribuan pelamar, enam orang terpilih untuk mengikuti seleksi tahap akhir. Tes terakhir melibatkan diskusi kelompok tentang proyek Spiralinks, jadi keenam mahasiswa tersebut mengakrabkan diri dan bekerja sama dengan harapan mereka semua bisa diterima.

Namun, sehari sebelum tes, topik diskusi mendadak berubah menjadi “Siapa di antara keenam kandidat yang paling pantas diterima bekerja di Spiralinks?” Keenam orang yang mulai berteman itu kini harus memperebutkan satu posisi di Spiralinks. Situasi semakin tegang ketika mereka menerima amplop berisi kebohongan dan dosa tergelap masing- masing… termasuk tuduhan bahwa seseorang di antara mereka sebenarnya adalah pembunuh! 

 

      4. Keajaiban Toko Kelontong Namiya

Keajaiban Toko Kelontong Namiya (The Miracles of the Namiya General Store/Namiya Zakkaten No Kiseki)  

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Ketika tiga pemuda berandal bersembunyi di toko kelontong tak berpenghuni setelah melakukan pencurian, sepucuk surat misterius mendadak diselipkan ke dalam toko melalui lubang surat.

Surat yang berisi permintaan saran. Sungguh aneh.

Namun, surat aneh itu ternyata membawa mereka dalam petualangan melintasi waktu, menggantikan peran kakek pemilik toko kelontong yang menghabiskan tahun-tahun terakhirnya memberikan nasihat tulus kepada orang-orang yang meminta bantuan.

Hanya untuk satu malam. Dan saat fajar menjelang, hidup ketiga sahabat itu tidak akan pernah sama lagi… 

 

     5. Makhluk Bumi

Makhluk Bumi (Earthlings) 

https://cdnwpseller.gramedia.com/wp-content/uploads/2024/04/button_cek-gramedia-com.png

Sasamoto Natsuki selalu merasa teralienasi dan berbeda. Namun ia tidak terlalu merasa sendirian berkat Yuu sepupu favoritnya, rumah Nenek di Akishina, dan Pyut, polisi sihir dari Planet Pohapipinpobopia yang terjebak dalam wujud boneka landak. Selain itu, Pyut memberitahunya sebuah rahasia: sebenarnya Natsuki penyihir yang bertugas melindungi Bumi dari Penyihir Jahat.  

Natsuki hanya berbagi rahasia dengan Yuu, yang secara mengejutkan mengaku dirinya alien. Natsuki pun menyimpan rahasia mereka rapat-rapat, sebagaimana ia menyimpan sendiri berbagai peristiwa mengerikan yang dialaminya.  

Setelah dewasa, Natsuki dan suaminya berhasil menciptakan ilusi kehidupan normal agar tidak dicurigai oleh Pabrik Manusia, dan satu-satunya orang yang mau memahami mereka hanya Yuu. Namun ketika akhirnya gaya hidup mereka terbongkar, keduanya melarikan diri ke Akishina dan hendak mengajak Yuu turut serta. Berhasilkah mereka meyakinkan Yuu? Terlebih lagi, dapatkah Akishina memberi mereka perlindungan?

Written by Laura Saraswati