Dalam Bayang-Bayang Lenin – Bagaimana mungkin sebuah gagasan yang lahir dari cita-cita pembebasan justru menjelma menjadi kekuasaan paling menindas dalam sejarah manusia? Pertanyaan inilah yang menjadi pintu masuk ke dalam buku Dalam Bayang-Bayang Lenin karya Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno, SJ.
Melalui pembacaan yang tajam dan kritis, Magnis-Suseno mengurai inti pemikiran Lenin sekaligus menempatkannya dalam dialog dengan lima pemikir Marxis-Leninis. Kelima tokoh tersebut ialah: Leon Trotsky dengan teori Revolusi Permanen, Georg Lukács lewat History and Class Consciousness, Karl Korsch yang mengembalikan dimensi filosofis Marxisme, Antonio Gramsci dengan konsep hegemoni intelektual, hingga Tan Malaka melalui karya monumentalnya Madilog. Semua ini dirangkai untuk menunjukkan paradoks besar dalam sejarah pemikiran sayap kiri, yakni bagaimana ide penghapusan penindasan justru melahirkan sistem kekuasaan yang totaliter.
Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada 25 Juli 2025 dengan ketebalan 284 halaman, buku ini menawarkan narasi yang padat, menggugah, sekaligus membuka ruang refleksi yang luas sangat. Dalam artikel ini, Gramin coba menyampaikan ulasan lengkap mengenai buku ini khusus untuk Grameds! Namun, sebelum kamu menyelami ulasan lengkapnya, ada baiknya kita kenalan terlebih dahulu dengan penulis dari buku, Franz Magnis-Suseno, SJ.
Table of Contents
Profil Franz Magnis-Suseno, S.J. – Penulis Buku Dalam Bayang-Bayang Lenin
Prof. Dr. Franz Magnis-Suseno SJ merupakan seorang rohaniwan yang lahir pada tahun 1936 di Eckersdorf, Jerman, dan sejak 1961 menetap serta berkarya di Indonesia. Ia dikenal sebagai guru besar filsafat sosial di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, serta guru besar luar biasa untuk program Pascasarjana di Universitas Indonesia. Selain itu, ia juga pernah menjadi dosen tamu di Geschwister Scholl Institut Universitas München, Hochschule für Philosophie München, dan Fakultas Teologi Universitas Innsbruck.
Pendidikan akademiknya ditempuh dalam bidang filsafat, teologi, dan teori politik di Pullach, Yogyakarta, dan München. Pada tahun 1973, ia meraih gelar doktor filsafat dari Universitas München melalui disertasi berjudul Normative Voraussetzungen im Denken des jungen Marx (1843–1848) yang kemudian diterbitkan oleh Alber pada tahun 1975.
Sinopsis Buku Dalam Bayang-Bayang Lenin
Dalam Bayang-Bayang Lenin: Enam Pemikir Marxisme dari Lenin hingga Tan Malaka menyoroti bagaimana komunisme selama hampir tiga perempat abad tampil sebagai salah satu kekuatan politik yang menjadi momok global pada abad ke-20. Sekitar sepertiga penduduk dunia pernah hidup dalam pengaruh dan tekanan ideologi ini.
Tokoh sentral di balik Revolusi Oktober yang menandai lahirnya era komunisme global tidak lain adalah Vladimir Ilyich Lenin, sosok yang membuka jalan bagi penyebaran gagasan dan praktik komunisme ke berbagai belahan dunia.
Kelebihan dan Kekurangan Buku Dalam Bayang-Bayang Lenin
Kelebihan Buku Dalam Bayang-Bayang Lenin
Buku Dalam Bayang-Bayang Lenin karya Franz Magnis-Suseno, S.J. ini memiliki banyak sekali kelebihan yang membuat buku ini wajib sekali untuk Grameds miliki dan baca.
- Menambah ilmu pengetahuan
Lewat buku ini, Grameds akan diajak untuk menelusuri bagaimana komunisme Soviet Rusia berkembang menjadi Uni Soviet dengan penerapan konsep Kediktatoran Proletariat yang dirumuskan oleh Lenin.
Dari sana lahir Marxisme-Leninisme yang kemudian dipropagandakan secara masif oleh Stalin pada masa kepemimpinannya sebagai arah utama komunisme internasional sehingga memberikan banyak sekali pengetahuan baru untuk para pembacanya.
- Penulis yang kredibel
Franz Magnis-Suseno, SJ merupakan filsuf dan akademisi yang memiliki rekam jejak panjang dalam kajian filsafat sosial, etika, dan pemikiran politik. Lewat latar belakang pendidikannya di bidang filsafat, teologi, dan teori politik, serta pengalamannya sebagai guru besar dan dosen tamu di berbagai universitas ternama, membuat analisis yang disajikan dalam buku ini memiliki bobot akademis yang kuat sekaligus objektif.
- Detail yang mendalam
Buku ini tidak hanya mengulas pemikiran Karl Marx dan tujuan penciptaan masyarakat komunis melalui peran Partai Bolshevik sebagai motor revolusi saja, tetapi juga membedah pemikiran Lenin secara kritis. Selain itu, lima tokoh lain juga turut dibahas sebagai penerus atau pengkritik Lenin, mulai dari yang setia melanjutkan gagasannya hingga yang menilai pemikiran Lenin telah menyimpang dari Marx.
Kisah tragis Leon Trotsky juga dihadirkan dalam buku ini, sosok penting Tentara Merah yang akhirnya tersingkir dan dibunuh, serta bagaimana kesalahan Lenin dalam menempatkan Stalin berujung pada tenggelamnya gagasan masyarakat demokratis di bawah rezim kediktatoran.
Buku ini menjadi pintu masuk yang kaya untuk memahami seluk-beluk Marxisme, sebuah teori sosial yang pernah dilarang dipelajari selama puluhan tahun pada masa Orde Baru dan hingga kini masih dibayangi stigma yang melekat dengannya.
- Gaya narasi yang runtut
Franz Magnis-Suseno menyusun pemaparan secara sistematis, singkat, padat, dan mudah diikuti. Setiap gagasan disampaikan berurutan sehingga pembaca tidak tersesat di tengah kompleksitas teori yang dibahas. Gaya bertuturnya membuat tema besar Marxisme tetap terasa terang dan terstruktur.
Kekurangan Buku Dalam Bayang-Bayang Lenin
Buku Dalam Bayang-Bayang Lenin karya Franz Magnis-Suseno, S.J. memang bacaan yang sangat menarik dengan segala kelebihannya, akan tetapi buku ini masih memiliki kekurangan yaitu:
- Penggunaan istilah-istilah yang sulit dimengerti
Meskipun pemaparan Franz Magnis-Suseno sudah menulis buku ini secara sistematis dan padat, bahasa yang digunakan dalam buku ini cenderung akademis dan sarat dengan istilah teknis.
Bagi pembaca yang tidak memiliki latar belakang ilmu sosial, beberapa bagian dalam buku ini bisa terasa sulit untuk dipahami. Ada paragraf-paragraf yang menuntut konsentrasi ekstra untuk menangkap inti pembahasannya, sehingga buku ini mungkin membutuhkan cara baca yang perlahan agar isinya benar-benar dapat diserap dengan baik.
Sejarah Marxisme
Grameds, dalam Dalam Bayang-Bayang Lenin istilah Marxisme kerap muncul sebagai fondasi utama pembahasan. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Marxisme dan bagaimana gagasan ini lahir? Supaya lebih mudah untuk dipahami, Gramin merangkum secara singkat asal-usul serta pokok-pokok pemikiran Marxisme sebagai pengantar sebelum Grameds melangkah lebih jauh ke dalam isi buku ini.
Karl Marx adalah seorang filsuf, ekonom, dan pemikir sosial asal Jerman yang gagasan-gagasannya memberi pengaruh besar terhadap berbagai gerakan sosial dan politik di dunia, termasuk di Indonesia. Ia lahir pada 5 Mei 1818 di Trier, Jerman, dalam keluarga kelas menengah yang berpikiran terbuka. Pendidikan awalnya ditempuh di Universitas Bonn sebelum dilanjutkan ke Universitas Berlin, tempat Marx mendalami hukum, sejarah, dan filsafat. Pada 1841, ia meraih gelar doktor filsafat dari Universitas Jena melalui tesis yang membahas pemikiran filsuf Yunani kuno, Epicurus. Dalam kehidupan pribadinya, Marx menikahi Jenny von Westphalen, seorang perempuan terpelajar dari keluarga bangsawan Prusia, keputusan yang cukup menghebohkan pada masanya karena perbedaan latar sosial dan agama.
Pada 1843, Marx pindah ke Paris dan mulai merumuskan gagasan-gagasan kunci tentang keterasingan manusia, kritik terhadap negara, serta posisi kelas buruh sebagai kekuatan perubahan sosial. Di kota ini pula ia bertemu Friedrich Engels, seorang pemikir dan aktivis asal Jerman yang kemudian menjadi sahabat sekaligus rekan intelektual terdekatnya. Kerja sama Marx dan Engels mencapai titik penting ketika mereka bergabung dengan Liga Komunis dan menyusun Manifesto Partai Komunis pada 1848. Karya ini menegaskan bahwa sejarah umat manusia adalah sejarah perjuangan kelas dan menyerukan persatuan kaum buruh untuk mengakhiri penindasan.
Akibat aktivitas politiknya, Marx kerap diusir dari berbagai negara hingga akhirnya menetap di London. Di sana ia terlibat dalam pendirian Asosiasi Buruh Internasional dan terus mengembangkan analisis kritis terhadap kapitalisme. Pengalaman berbagai kegagalan revolusi, termasuk Komune Paris tahun 1871, semakin menguatkan pandangannya tentang perlunya kekuasaan politik di tangan kelas pekerja. Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, Marx memusatkan perhatian pada kajian ekonomi politik yang melahirkan karya monumentalnya, Kapital. Ia wafat pada 1883 sebelum menyelesaikan seluruh jilid buku tersebut, yang kemudian disunting dan diterbitkan oleh Engels.
Setelah wafatnya Marx, Marxisme diwariskan sebagai metode pemikiran yang memadukan teori dan praktik dalam kerangka sosialisme ilmiah yang bersifat revolusioner. Bersama Engels, Marx merumuskan komunisme sebagai analisis ekonomi dan sosial yang berlandaskan pandangan materialis tentang sejarah, hubungan kelas, dan konflik sosial, serta menggunakan pendekatan dialektis untuk memahami perubahan masyarakat.
Vladimir Ilyich Lenin, tokoh revolusioner Rusia dan pemimpin Revolusi Oktober, menjelaskan bahwa Marxisme bersumber dari tiga tradisi utama. Pertama adalah filsafat Jerman, terutama pemikiran dialektika. Kedua adalah ekonomi politik Inggris yang mengkaji sistem kapitalisme. Ketiga adalah praktik revolusioner Perancis yang menekankan aksi politik. Dari ketiga sumber tersebut, Marx dan Engels merumuskan Marxisme ke dalam tiga unsur pokok, yaitu materialisme dialektis sebagai dasar filsafat, kritik terhadap kapitalisme melalui teori nilai lebih, serta materialisme historis yang menempatkan perjuangan kelas sebagai penggerak utama sejarah.
Sebagai kesimpulan, Marxisme dapat dipahami sebagai cara melihat dan menganalisis masyarakat secara kritis dengan menempatkan relasi ekonomi dan perjuangan kelas di pusat perhatian. Ia bukan sekadar teori abstrak, melainkan kerangka pemikiran yang lahir dari pergulatan sejarah nyata dan bertujuan mendorong perubahan sosial.
Dalam konteks buku Dalam Bayang-Bayang Lenin, pemahaman dasar tentang Marxisme menjadi kunci untuk menilai bagaimana gagasan Marx kemudian ditafsirkan, dikembangkan, bahkan diperdebatkan oleh para pemikir setelahnya.
Penutup
Dalam Bayang-Bayang Lenin tidak hanya menghadirkan pengetahuan tentang Marxisme dan tokoh-tokoh penting di sekitarnya saja, tetapi juga mengajak Grameds untuk memahami sejarah pemikiran kiri secara lebih jernih dan kritis. Buku ini dapat membuka ruang refleksi tentang bagaimana sebuah gagasan besar bisa berkembang, diperdebatkan, bahkan menyimpang dalam praktik kekuasaan.
Bagi Grameds yang ingin memperluas wawasan, menimbang ulang stigma, dan melihat Marxisme dari sudut pandang filosofis yang berimbang, buku ini layak diselesaikan hingga halaman terakhir dan dimiliki sebagai bacaan penting di rak pribadi.
Bagaimana Grameds? Apakah kalian sudah siap untuk menyelami pola pikir para tokoh yang disebutkan diatas tadi? Yuk langsung saja dapatkan Buku Dalam Bayang-Bayang Lenin Karya Franz Magnis-Suseno, S.J. ini hanya di Gramedia.com!
Sebagai teman yang siap mendukungmu #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan informasi dan produk terbaik untuk kamu.
Rekomendasi Buku
Filsuf-Filsuf Besar tentang Manusia
Ada dua pertanyaan pokok yang akan kita hadapi selama kita membaca serangkaian pemikiran filsuf-filsuf besar tentang manusia ini. Pertama, apakah hidup kita saat ini masih bermakna? Dan, kedua, jika masih bermakna, makna yang bagaimana?
Dua pertanyaan itu timbul dari kegelisahan eksistensial masa kini ketika kita dikejar-kejar oleh bayang-bayang hari esok. Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi bahan refleksi intensif dua puluh filsuf dari Plato sampai Teilhard de Chardin.
Filsafat dan Teologi
Filsafat dan Teologi ini adalah sebuah karya yang menggali pemikiran rasional dan kritis dari salah satu filsuf terbesar dalam sejarah Islam. Ibnu Rusyd, atau dikenal dengan nama latin Averroes, menyoroti hubungan antara filsafat dan agama, membangun argumen bahwa keduanya bukanlah dua entitas yang bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dalam mencari kebenaran. Buku ini menghadirkan pemikirannya tentang akal, wahyu, serta peran logika dalam memahami ajaran agama secara lebih mendalam.
Ibnu Rusyd menjabarkan berbagai perdebatan teologis dengan pendekatan yang sistematis dan rasional. Dengan gaya bahasa yang jelas dan argumentasi yang tajam, dia menantang berbagai pemikiran yang dianggap dogmatis, memberikan perspektif yang lebih luas dalam memahami Islam dan filsafat.
Demokrasi, Ateisme, Seksualitas: Catatan tentang Goncangan-Goncangan Budaya di Abad Ke-21
Setelah seperempat abad, optimisme Reformasi mulai menguap. Kita akan ke mana? Sejauh mana demokrasi bisa ditopang oleh budaya-budaya tradisional kita? Benarkah ada tanda-tanda kebangkitan PKI? Adakah pendidikan yang mampu menumbuhkan keinginan kaum muda untuk menolak korupsi? Apakah Pancasila masih relevan? Apa benar pernyataan Albert Einstein bahwa ilmu pengetahuan membuat kepercayaan kepada Tuhan menjadi ketinggalan zaman? Benarkah monoteisme merupakan sumber intoleransi dan kekerasan atas nama agama? Kapan intoleransi terhadap saudara-saudari kita dengan kecenderungan seksual berbeda berakhir? Apa saja kecenderungan-kecenderungan baru dalam etika seksualitas? Itulah beberapa hal yang diangkat dalam buku ini.
Penulis: Gabriel
- 101 Fabel Nusantara
- 23 Ways to Say I Love You
- 50 to 20: Pesan dari Paruh Perjalanan
- A Poem with Your Name
- Akasha: Record of Ragnarok
- Aku (AADC)
- Alaia III
- Anonymous Crush 2
- Ayah, Berjuang Sendiri Itu, Capek!
- Barangkali Kita Memang Perlu Hari Patah Hati
- Berandal Bandung
- Black Powder War
- Bonjour Paris! La Fleur de L’amour
- Brisingr
- Dalam Bayang-Bayang Lenin
- Damn I Love Risol
- Destination Jakarta 2040
- Eldest
- Ensiklopedia Fakta Seru
- Fourth Wing
- Hi Berlin
- Himam
- Hiu Sang Predator
- Hold Me, Never Let Go
- Hotel Magnifique
- I Can't Talk so Smoothly
- I Got a Cheat Skill in Another World and Became Unrivaled in the Real World, Too
- Kembali ke Batavia
- Kost Pak Raden
- Kost Pak Raden
- Lentera Hati
- Lima Sekawan: Melacak Jejak Rahasia
- Lima Sekawan: Rahasia di Pulau Kirrin
- Little Magacal Piya
- Look Back
- Maaf Aku Lahir ke Bumi
- Madonna in a Fur Coat
- Malam Sunyi Hercule Poirot
- Memorial Perfume Shop
- Moriarty The Patriot
- Musim Yang Tak Sempat Kita Miliki
- Mystery Basketball
- Pemikiran Karl Marx
- Perawan Remaja Dalam Cengkeraman Militer
- Princess, Bajak Laut, dan Alien
- Psikoanalisis Sigmund Freud
- Pulih dari Trauma
- Renjana Azerbaijan
- Rinduku Sederas Hujan Sore Itu
- Ronggeng Dukuh Paruk
- Rumah Kecil Alie
- Rumah Tanpa Cahaya
- Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
- Sherlock Holmes: Koleksi Kasus 1
- Si Bungsu dan Luka
- Tanpa Ayah Tanpa Arah
- Tentang Sebuah Tempat di Wilayah Kinki
- The School of Life: An Emotional Education
- The Adventures of Tom Sawyer
- The Book Censor's Library
- The Dating Game
- The Enchanted Garden 1
- The Enchanted Garden 2
- The Humans
- The Tale of Dororo and Hyakkimaru
- The Otherwhere Post
- This Is How You Heal
- This Is Me Letting You Go
- What It Takes Asia Tenggara
- White Book
- White Nights






