faktor penyebab kekerasan – Rumah seharusnya menjadi tempat paling aman. Sayangnya, tidak semua orang merasakan hal tersebut.
Di beberapa keluarga, terjadi tindakan yang menyakiti secara fisik maupun emosional yang berlangsung tanpa diketahui orang lain.
Selain berdampak pada orang dewasa, kekerasan dalam rumah tangga ini juga berdampak pada anak-anak dan remaja yang menjadi saksi.
Untuk mengenali situasi yang tidak sehat dalam keluarga, kamu perlu memahami pengertian, faktor penyebab kekerasan, hingga dampaknya terhadap kehidupanmu sehari-hari.
Table of Contents
Definisi Kekerasan dalam Rumah Tangga
Kekerasan dalam rumah tangga adalah tindakan yang menyakiti anggota keluarga secara fisik, emosional, seksual, atau ekonomi.
Tindakan ini biasanya terjadi dalam hubungan yang seharusnya saling melindungi, seperti antara orang tua dan anak, pasangan, atau saudara kandung.
Kekerasan tersebut dapat berlangsung secara berulang dan tersembunyi sehingga sulit dikenali orang luar.
Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga
Sebelum mempelajari contohnya, sebaiknya kita kenali dahulu beberapa faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga.
Faktor-faktor ini dapat berasal dari dalam diri pelaku, hubungan antar anggota keluarga, maupun kondisi sosial.
1. Tekanan Ekonomi
Tekanan finansial yang berat dapat memicu stres berlebihan pada orang tua atau anggota keluarga lainnya.
Saat merasa kewalahan, seseorang cenderung melampiaskan emosinya secara tidak sehat. Situasi ini sering menyebabkan pertengkaran yang memicu kekerasan fisik atau verbal.
2. Pola Asuh yang Salah
Beberapa orang tua menganggap bahwa memarahi atau memukul anak adalah cara mendidik yang benar. Padahal, pola asuh keras justru menimbulkan trauma dan hubungan yang tidak harmonis.
3. Masalah Emosi dan Temperamen
Pelaku kekerasan seringkali temperamen, yaitu mudah marah atau tidak mampu mengelola emosinya.
Mereka bereaksi secara berlebihan saat menghadapi konflik kecil. Kebiasaan ini dapat berulang dan memperbesar risiko kekerasan fisik maupun psikologis.
4. Pengaruh Alkohol atau Narkoba
Seseorang yang mengkonsumsi alkohol atau narkoba cenderung sulit berpikir jernih. Hal ini membuat pelaku lebih impulsif, agresif, dan tidak dapat mengendalikan tindakannya. Akibatnya, mereka lebih mudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga.
5. Konflik Suami-Istri
Jika tidak dikelola dengan baik, pertengkaran antara pasangan bisa berkembang menjadi kekerasan.
Hal ini terjadi karena ketidakseimbangan kekuasaan, kecemburuan, atau rasa curiga berlebihan. Kondisi ini dapat berdampak negatif bagi anak yang melihatnya.
6. Kecemburuan dan Kontrol Berlebihan
Sebagian pelaku ingin menguasai pasangannya atau anggota keluarga lainnya. Rasa cemburu berlebihan sering membuat seseorang bersikap posesif. Ketika keinginannya tidak dipenuhi, mereka menggunakan kekerasan untuk mengontrol.
7. Minimnya Pendidikan dan Pengetahuan
Faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga yang terakhir adalah kurangnya pemahaman tentang batasan dalam hubungan keluarga. Ini menyebabkan seseorang tidak menyadari bahwa tindakannya termasuk kekerasan.
Mereka mungkin menganggap kekerasan sebagai hal biasa dalam kehidupan keluarga. Padahal, hal ini sangat merusak mental dan hubungan jangka panjang.
Contoh Kekerasan dalam Rumah Tangga
Kekerasan dalam keluarga dapat muncul dalam banyak bentuk, mulai yang terlihat jelas hingga yang tersembunyi.
- Kekerasan Fisik: Misalnya memukul, menampar, menendang, atau melukai anggota keluarga. Kekerasan ini menimbulkan luka dan rasa takut pada korban.
- Kekerasan Verbal: Berupa hinaan, makian, atau komentar yang merendahkan harga diri. Meskipun tidak meninggalkan luka fisik, kekerasan verbal sangat merusak mental.
- Kekerasan Psikologis: Meliputi ancaman, intimidasi, atau usaha membuat korban merasa tidak berdaya dan kehilangan rasa percaya diri.
- Kekerasan Seksual: Kekerasan ini terjadi ketika seseorang dipaksa untuk melakukan tindakan seksual tanpa persetujuan. Kekerasan ini memengaruhi mental korban karena mereka takut melaporkannya.
- Kekerasan Ekonomi: Di sini, pelaku mengontrol seluruh kebutuhan finansial sehingga korban tidak bisa hidup mandiri.
- Pengabaian (Neglect): Kekerasan ini terjadi karena anggota keluarga yang tidak mendapatkan perhatian atau kebutuhan dasar seperti makanan, pendidikan, atau perlindungan.
- Menyaksikan Kekerasan: Anak atau remaja yang melihat kekerasan antara orang tua juga termasuk korban tidak langsung. Mereka dapat mengalami kecemasan, ketakutan, bahkan trauma jangka panjang.
Undang-undang tentang Kekerasan dalam Rumah Tangga
Di Indonesia, sebenarnya ada beberapa undang-undang lokal yang mengatur tentang kekerasan dalam rumah tangga.
Aturan-aturan ini hadir untuk melindungi korban sekaligus memberikan sanksi tegas pada pelaku.
Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT)
Undang-undang ini mendefinisikan bentuk kekerasan fisik, psikis, seksual, serta penelantaran rumah tangga sebagai tindakan kriminal.
Dalam undang-undang ini, korban berhak mendapat perlindungan, pendampingan, dan pemulihan.
Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak
UU No. 35 Tahun 2014 memberikan perlindungan khusus kepada anak dari segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan oleh keluarga.
Aturan ini menegaskan bahwa anak tidak boleh menjadi korban tindakan fisik, psikis, atau eksploitasi dalam bentuk apa pun.
Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban
UU ini mengatur hak-hak saksi dan korban kekerasan rumah tangga untuk mendapatkan perlindungan hukum, seperti pendampingan hukum, perlindungan fisik, hingga identitas yang dirahasiakan. Aturan ini memastikan bahwa korban KDRT dapat melapor tanpa rasa takut.
Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
UU ini mengedepankan pendekatan keadilan restoratif untuk menjamin hak anak tetap terlindungi dalam proses hukum.
Aturan ini menekankan bahwa anak harus mendapatkan ruang aman dan tidak boleh mengalami kekerasan dalam bentuk apa pun.
Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga
Kekerasan dalam rumah tangga bisa menyebabkan beberapa dampak negatif, mulai dari trauma psikologis hingga cenderung mengikuti siklus kekerasan.
- Trauma Psikologis: Korban dapat mengalami ketakutan berlebihan, kecemasan, atau mimpi buruk. Trauma ini sulit hilang dan membutuhkan waktu pemulihan yang lama.
- Penurunan Rasa Percaya Diri: Kekerasan membuat korban merasa tidak bernilai. Mereka sulit mengambil keputusan dan takut berinteraksi dengan orang lain.
- Gangguan Kesehatan Fisik: Korban bisa mengalami luka, memar, atau cedera serius akibat kekerasan fisik.
- Prestasi Belajar Menurun: Pelajar yang hidup dalam lingkungan penuh kekerasan cenderung sulit berkonsentrasi. Mereka sering merasa cemas dan tidak fokus pada pelajaran.
- Siklus Kekerasan yang Berulang: Anak yang tumbuh dalam keluarga penuh kekerasan lebih berisiko melakukan kekerasan saat dewasa. Mereka menganggap kekerasan sebagai satu-satunya cara menyelesaikan masalah.
Cara Mencegah Kekerasan dalam Rumah Tangga
Untuk mencegah kekerasan dalam rumah tangga, kita perlu menerapkannya sejak awal. Dengan mengetahui langkah-langkah ini, kamu bisa menciptakan lingkungan keluarga yang aman.
1. Membangun Komunikasi yang Sehat
Komunikasi yang baik menjadi dasar hubungan yang harmonis dalam keluarga. Saat masing-masing anggota keluarga bisa mengungkapkan perasaan tanpa takut, potensi konflik dapat diturunkan.
2. Mengelola Emosi Secara Dewasa
Emosi yang tidak dikelola dapat berkembang menjadi kekerasan. Untuk itu, belajarlah mengenali pemicu emosi untuk menghindari tindakan impulsif dan mencegah konflik memburuk.
3. Mencari Bantuan Profesional
Jika masalah keluarga semakin rumit, kamu bisa meminta bantuan konselor, psikolog, atau lembaga pendamping.
Para ahli profesional akan memberikan panduan objektif dan strategi penyelesaian konflik yang aman.
4. Mengedukasi Keluarga tentang Kekerasan
Semakin kamu memahami apa saja bentuk kekerasan dalam rumah tangga, semakin kecil kemungkinan tindakan itu dilakukan tanpa sadar.
Untuk itu, berikan edukasi terhadap kekerasan dalam rumah tangga ini supaya mereka bisa mengenali perilaku yang tidak sehat sejak awal.
Hentikan Kekerasan demi Masa Depan yang Lebih Aman
Dengan memahami berbagai faktor penyebab kekerasan dalam rumah tangga di atas, kamu bisa mengenali tanda-tandanya sejak awal.
Tak hanya melindungi diri sendiri, pengetahuan ini mendorongmu untuk membantu orang di sekitar yang mungkin mengalami kekerasan.
Semoga panduan ini membuatmu semakin peduli dan peka terhadap lingkungan yang berpotensi mengalami kekerasan dalam rumah tangga untuk mencegahnya sedini mungkin!
Rekomendasi Buku tentang Kekerasan pada Anak
1. Kekerasan dan Penelantaran pada Anak
Buku ini mengupas tuntas 7 jenis kekerasan dan penelantaran pada anak, mulai dari faktor risiko, tanda-tanda, dampak jangka pendek dan panjang, hingga tatalaksana medis, psikososial, dan multidisipliner. Dilengkapi panduan rujukan terbaru serta strategi pencegahan di keluarga, masyarakat, dan bagi anak berkebutuhan khusus, buku ini menjadi pedoman praktis untuk penanganan yang holistik.
Wajib dimiliki oleh mahasiswa, tenaga kesehatan, pemerhati anak, dan masyarakat umum, buku ini membantu memahami kekerasan pada anak dari A sampai Z agar mampu mencegah, mendeteksi dini, menangani secara tepat, dan bersama-sama melindungi masa depan anak Indonesia.
2. Melawan Kekerasan Seksual
Buku Melawan Kekerasan Seksual di Lingkungan Pendidikan hadir sebagai panduan praktis bagi remaja, khususnya pelajar sekolah menengah, untuk memahami kekerasan seksual secara menyeluruh—mulai dari mitos dan fakta hingga langkah-langkah perlindungan diri. Buku ini juga membekali pembaca dengan informasi penting tentang apa yang harus dilakukan saat menghadapi situasi kekerasan.
Dengan pendekatan yang edukatif dan memberdayakan, buku ini mendorong para pelajar, terutama perempuan, untuk berani bersikap, saling mendukung, dan melawan kekerasan seksual demi menciptakan lingkungan belajar yang aman dan bermartabat.
3. Peran Kunci Mencegah Kekerasan Terhadap Anak
Kekerasan terhadap anak dalam keluarga merupakan masalah serius yang mengancam kesejahteraan dan masa depan mereka. Melindungi anak adalah tanggung jawab bersama seluruh masyarakat. Melalui kesadaran dan tindakan nyata, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman, penuh kasih, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Buku ini mengulas solusi praktis untuk mencegah kekerasan terhadap anak, sekaligus mengajak pembaca berperan aktif dalam membangun generasi yang lebih sehat dan berdaya. Karena setiap langkah hari ini adalah investasi bagi masa depan anak-anak kita.
4. Parenting Education: Kekerasan pada Anak dan Dampaknya
Buku Parenting Education: Kekerasan pada Anak dan Dampaknya mengulas secara komprehensif isu kekerasan dan penelantaran anak dalam keluarga, sekaligus membahas peran serta tanggung jawab orang tua dalam membangun hubungan yang sehat. Disajikan berbagai pola asuh, dari otoriter hingga demokratis, buku ini membantu pembaca memahami dinamika orang tua dan anak secara lebih mendalam.
Tak hanya membahas dampak kekerasan yang membekas hingga dewasa, buku ini juga menghadirkan panduan praktis menjadi orang tua yang penuh empati—melalui komunikasi terbuka, kasih sayang, dan dukungan. Sebuah bacaan penting untuk menciptakan lingkungan keluarga yang aman, hangat, dan mendukung tumbuh kembang anak.
5. Mengenal Kekerasan Pada Anak dan Perempuan
Kekerasan terhadap anak dan perempuan dapat terjadi secara verbal maupun fisik. Kekerasan verbal, seperti makian, pelecehan, dan merendahkan, berdampak serius pada kesehatan psikologis korban. Sementara itu, kekerasan fisik melibatkan kontak langsung, seperti memukul atau menampar, yang melukai tubuh dan perasaan. Tindakan ini kerap terjadi karena anggapan keliru bahwa anak dan perempuan adalah pihak yang lemah dan tidak berdaya.
Kekerasan terhadap anak dan perempuan merupakan tindak kejahatan yang harus mendapat perhatian serius. Masyarakat dan pemerintah memiliki tanggung jawab untuk merespons dan bertindak saat menemukannya. Edukasi menjadi kunci agar masyarakat lebih peka dan tidak lagi menganggap kekerasan sebagai hal yang wajar. Melalui sosialisasi yang tepat, diharapkan upaya pencegahan dan penanganan dapat dilakukan secara lebih efektif.
- 9 Pertanyaan Menjebak untuk pacar
- Apa itu Life After Breakup?
- Arti Mimpi Diri Sendiri Selingkuh
- Cara Bikin Suami Kangen Terus
- Ciri Cowok Naksir Kamu
- Dejavu dalam Percintaan
- Effort dalam Hubungan
- Faktor Penyebab Kekerasan dalam Rumah Tangga
- Gendong Ala Bridal Style
- Girlfriend Day
- Istilah See You When I See You, Bukan Sekadar Ucapan Perpisahan?
- Kenapa Cewe Mandang Fisik?
- Kenapa Cowok Mandang Fisik?
- Perbedaan Sayang dan Cinta
- Perbedaan Konflik dan Kekerasan
- Sambutan Lamaran Pihak Pria
- Sambutan Lamaran Pihak Wanita
- Triangle Method
- Urutan Silsilah Keluarga






