Kesenian

12 Prinsip Animasi dan Sejarah Perkembangan Animasi di Dunia

12 Prinsip Animasi
Written by Rifda Arum

12 Prinsip Animasi – Grameds pasti paham betul dong jika sebuah animasi itu tidak akan terlepas dari kreativitas tangan sang animatornya. Yap, modal utama seorang animator untuk dapat menciptakan sebuah animasi yang bagus adalah ketika dirinya mampu meng-capture suatu momentum yang ada menjadi bentuk runtunan gambar, sehingga seolah-olah gambar tersebut dapat bergerak atau hidup.

Seorang animator ini berbeda ya dengan seorang komikus, kartunis, maupun ilustrator, terutama ketika tengah menjadikan gambar seolah bergerak atau hidup. Dalam hal membuat animasi ini, tidak dapat dikatakan bahwa prosesnya adalah mudah, sebab banyak teori dasar yang harus dipelajari oleh seorang animator.

Salah satu teori dasar mengenai pembuatan animasi ini adalah mengenai 12 prinsip animasi. 12 prinsip animasi ini meliputi banyak hal, mulai dari dasar-dasar gerak, pengaturan waktu, visualisasi, hingga teknis pembuatannya. Lantas, apa saja sih 12 prinsip animasi itu? Bagaimana pula sejarah perkembangan animasi di dunia hingga dapat secanggih sekarang? Nah, supaya Grameds memahami hal-hal tersebut, yuk simak ulasan 12 prinsip animasi berikut ini!

12 Prinsip Animasi

https://www.pexels.com/

Apa Saja 12 Prinsip Animasi?

1. Solid Drawing

12 Prinsip Animasi

Dasar utama dari proses membuat animasi adalah menggambar. Yap, kegiatan menggambar ini memegang peranan yang cukup signifikan dalam menentukan baik tidak proses maupun hasil dari sebuah animasi, apalagi animasi klasik. Solid drawing adalah kemampuan untuk menggambar karakter dalam berbagai angle sehingga karakter tersebut akan nampak 3D dan konsisten dalam setiap frame animasinya.

Biasanya, ketika tengah menerapkan prinsip ini, seorang animator akan tetap mempertimbangkan segala atribut pada karakternya. Mulai dari letak mata, model pakaian, hingga aksesoris apapun yang menempel di karakter, harus digambar secara konsisten. Tidak hanya itu saja, seorang animator juga harus memiliki kepekaan dalam hal kesemimbangan, komposisi, berat, dan pencahayaan pada karakternya.

Sebenarnya, dalam prinsip Solid Drawing yang bergantung pada kegiatan menggambar ini, sudah bisa digantikan menggunakan komputer. Hanya saja, menggambar sebuah karakter dengan tangan justru menghasilkan animasi yang lebih “nyata”.

2. Squash & Stretch (Lentur)

12 Prinsip Animasi

Prinsip yang pertama ini adalah ketika terjadi penambahan efek lentur (plastis) pada karakter atau objeknya, sehingga akan terlihat seolah-olah memuai atau menyusut. Jika sudah begitu, maka karakter akan memiliki efek gerak yang lebih hidup. Prinsip ini dapat diterapkan pada karakter yang berupa makhluk hidup, mulai dari manusia hingga binatang. Nantinya, akan diberikan ‘enhancement’ sekaligus efek dinamis terhadap gerakan tertentu. Lalu, apakah prinsip ini tidak bisa diterapkan dalam karakter yang berupa benda mati? Tentu saja bisa, biasanya yang digunakan adalah benda mati seperti meja, gelas, dan botol.

3. Timing & Spacing Timing (Durasi)

12 Prinsip Animasi

Pada prinsip timing lebih menentukan kapan waktu sebuah gerakan pada karakter harus dilakukan. Sementara pada prinsip spacing lebih mengacu pada penempatan dan jumlah gambarnya, sehingga akan menentukan percepatan serta perlambatan dari macam-macam jenis gerak pada karakternya. Kedua prinsip ini memiliki definisi yang berbeda tetapi akan tetap berkaitan satu sama lain.

Dalam timing, lebih menentukan pada detik keberapa sebuah karakter dapat berjalan sampai berhenti ke tujuannya. Sedangkan pada spacing lebih menentukan kepadatan gambarnya. Hal ini juga diungkapkan oleh seorang animator Disney bernama Grim Natwick, yang berpendapat bahwa “Animasi adalah tentang timing dan spacing”.

Perhatikan gambar berikut!

12 Prinsip Animasi

Pada gambar, terdapat angka-angka yang menunjukkan angka frame. Sementara garis yang ada menunjukkan jarak atau perubahan antara benda sebelum dan setelahnya (spacing).

4. Anticipation (Gerakan Awal)

Anticipation adalah persiapan dari gerakan awal yang memiliki 3 bagian, yakni bagian awal (antisipasi), bagian gerakan itu sendiri, dan bagian gerakan akhir (follow through). Prinsip ini dapat dianggap sebagai persiapan gerak atau ancang-ancang. Sama seperti manusia yang hendak berlari atau melompat, pasti akan melakukan gerakan ancang-ancang terlebih dahulu ‘kan? Nah, dalam pembuatan karakter animasi juga demikian.

Contohnya pada sebuah karakter yang ingin melakukan gerakan melompat, harus didahului adanya gerakan membungkuk kemudian baru benar-benar melompat. Contoh lainnya adalah ketika sebuah karakter akan melakukan gerakan memukul, maka tangannya harus ke arah mundur kemudian maju.

5. Slow In & Slow Out

Hampir sama dengan prinsip spacing yang berkaitan pada akselerasi dan delerasi. Dalam prinsip ini juga menegaskan bahwa setiap gerakan yang ada pada karakter harus memiliki percepatan dan perlambatan yang berbeda-beda.

Slow In: terjadi ketika sebuah gerakan yang awalnya lambat kemudian menjadi cepat.

Slow Out: terjadi ketika sebuah gerakan yang relatif cepat kemudian kian melambat.

6. Secondary Action (Gerakan Penutup)

Yakni gerakan tambahan yang bertujuan untuk memperkuat gerakan utama supaya karakternya tampak lebih realistik. Perlu diketahui bahwa gerakan tambahan ini tidak boleh melebihi gerakan utama ya… 

Misalnya pada gerakan melangkah, posisi tangan harus dapat mengimbangi langkah kaki. Begitu pula dengan posisi pinggang yang akan ikut berputar ketika badan tengah condong bergerak ke arah kanan maupun kiri.

7. Arc

Yakni sebuah gerakan yang mengikuti pola berbentuk lengkung (lingkaran, elips, atau parabola). Prinsip ini biasanya digunakan pada karakter yang akan bergerak melempar bola, sehingga keberadaan “Arc” ini ditunjukkan pada lintasan tangan atau lintasan gerak bola di udara. Contoh lain adalah ketika seorang animator hendak membuat karakter yang menggelengkan kepala, maka gerakan yang dihasilkan akan sedikit melengkung ke arah atas atau bawah hingga membentuk lingkaran.

8. Follow Through & Overlapping Action

Prinsip follow through adalah ketika bagian tubuh tentu tetap bergerak meskipun karakter tersebut telah berhenti bergerak. Misalnya ketika kepala menoleh ke arah kanan, maka rambut ikut bergerak.

Sementara overlapping adalah ketika gerakan saling mendahului. Misalnya ketika terdapat karakter hewan yang tengah melompat, sesaat setelah melompat, telinganya masih bergerak-gerak meskipun gerakan utama telah berhenti.

9. Straight Ahead & Pose to Pose

Prinsip straight ahead ini berupa membuat animasi dengan cara menggambarnya satu per satu, frame by frame, dari awal hingga akhir. Penggunaan prinsip ini meskipun terkesan boros waktu, tetapi kualitas gambarnya tetap konsisten, sebab hanya dikerjakan oleh satu orang saja. Prinsip straight ahead juga membutuhkan improvisasi dari sang animator sehingga hasil gerakan pada karakternya pun terlihat lebih natural. Sayangnya, tanpa disadari pula oleh sang animator, melalui prinsip ini tak jarang gambar karakternya dapat membesar maupun mengecil.

Sementara prinsip pose to pose adalah pembuatan animasi dengan cara menggambar hanya pada keyframe tertentu saja. Selanjutnya, in-between atau interval antar keyframe akan digambar oleh animator lainnya. Cara ini justru lebih hemat waktu karena melibatkan banyak sumber daya, sehingga tak jarang diterapkan pada industri animasi.

10. Staging

Staging dalam prinsip animasi ini meliputi akan bagaimana ‘lingkungan’ di sekitar karakter diciptakan untuk mendukung suasana dari sebagian atau keseluruhan scene. Maka dari itu, prinsip ini sangat mengacu pada sinematografi dan siluet dari karakternya. Jika berkaitan dengan siluet karakter, maka berkenaan dengan bagaimana posisi ‘kamera’ dalam pengambilan gambarnya.

Jika kamera berada pada posisi bawah, maka dapat membuat karakter terlihat besar dan menakutkan. Sementara itu, jika posisi kamera berada di atas justru akan membuat karakter tampak lebih kecil dan terlihat bingung. Posisi yang paling efektif adalah berada di samping, sehingga nantinya karakter akan terlihat dinamis dan menarik.

11. Exaggeration (Pendramatisir Wujud Animasi)

Prinsip ini lebih menekankan gerakan animasi yang memiliki unsur dramatis bahkan cenderung hiperbola. Prinsip yang satu ini biasanya diterapkan dalam animasi dengan genre komedi, sehingga membutuhkan gerakan dramatis yang cenderung ekstrim terutama pada ekspresi tertentu. Singkatnya, melalui prinsip ini, karakter akan lebih lebay tetapi justru itulah daya tariknya.

12. Appeal

Prinsip appeal berkaitan erat dengan gaya visual animasi. Melalui prinsip ini, bahkan tak jarang penonton akan dapat mengidentifikasikan darimana asal animasi tersebut. Coba lihat kembali animasi Doraemon, Spongebob Squarepants, hingga Adit & Sopo Jarwo. Pasti memiliki gaya visual yang berbeda ‘kan? Nah, appeal ini biasanya mencakup pada style, warna, dan 3D.

Sejarah Perkembangan Animasi di Dunia

https://www.pexels.com/

Di era yang serba canggih seperti saat ini, keberadaan animasi sudah semakin populer apalagi dengan adanya animasi 3D yang dapat diciptakan melalui software. Yap, perkembangan teknologi juga sangat mempengaruhi perkembangan animasi pula. Zaman dahulu, karakter Mickey Mouse contohnya, harus dibuat secara frame by frame oleh animatornya. Terlebih lagi, animasi itu ternyata tidak hanya berkembang di negara Amerika saja lho, tetapi juga di Jepang, Rusia, bahkan Indonesia.

Amerika

Amerika dianggap sebagai negara pencetus animasi, meskipun sebenarnya animasi pertama adalah diciptakan oleh Charles Émile Reynaud, seorang animator berkebangsaan Perancis. Pada abad ke-18, animasi mulai berkembang di Amerika dengan menggunakan teknik stop motion. Dalam teknik tersebut mengandalkan serangkaian gambar diam yang kemudian disusun menjadi satu sehingga menimbulkan kesan seolah-olah gambar tersebut bergerak. Teknik ini cukup sulit untuk dilakukan lho, sebab membutuhkan waktu dan biaya yang tidak sedikit. Untuk menciptakan animasi selama 1 detik saja, membutuhkan proses kira-kira 12-24 frame!

Orang Amerika pertama yang menggunakan teknik stop motion ini adalah J. Stuart Blackton yang kemudian dianggap menjadi Bapak Animasi Amerika. Berkat idenya tersebut, Blackton berhasil menciptakan beberapa film menggunakan teknik stop motion, sebut saja ada The Enchanted Drawing (1900) dan Humorous Phases of Funny Faces (1906).

Semakin berkembangnya teknologi, terutama komputer, maka pembuatan animasi pun juga semakin berkembang. Perkembangan ini menjadikan animasi terbagi menjadi dua jenis yakni 2D dan 3D. Sedikit trivia saja nih, antara animasi 2D dengan 3D memiliki perbedaan yang sangat kentara. Jika dalam animasi 2D biasanya figur animasi menggunakan bitmap graphics atau vector graphics. Sementara pada animasi 3D lebih kompleks, bahkan tak jarang terdapat efek yang menjadikan karakter lebih hidup, seperti efek air, api, dan pencahayaan.

Di Amerika pula, rumah produksi animasi terpopuler didirikan beserta karakternya, yakni Disney. Yap, rumah produksi Disney ini diciptakan oleh Walt Disney dengan karya-karyanya seperti Mickey Mouse, Donald Duck, Pinocchio, dan lainnya. Coba sebutkan siapa saja karakter favorit dalam film Disney!

Banyak negara yang berusaha mengikuti perkembangan animasi dari negara adidaya ini, salah satunya adalah Jepang. Bahkan kedua negara ini bersaing dalam pembuatan animasi meskipun keduanya memiliki karakteristik dan gaya visual yang berbeda. Animasi yang berasal dari Amerika terkenal dengan penggunaan teknologinya yang canggih, sementara animasi Jepang lebih pada jalan cerita yang menarik.

Jepang

12 Prinsip Animasi

Perkembangan animasi akhirnya sampai ke benua Asia, dengan Jepang sebagai pencetus pertamanya yakni sejak tahun 1913. Pada saat itu, Shimokawa Bokoten dan rekan-rekannya menciptakan sebuah animasi berjudul First Experiment in Animation yang ternyata laku keras. Masyarakat Jepang menyebut animasi sebagai anime. Perkembangan industri anime ini terjadi ketika industri film Jepang tengah menurun.

Pada tahun 1963, muncul animasi berjudul Astro Boy yang ditayangkan melalui televisi dengan jalan cerita yang menarik. Ditambah lagi dengan adanya desain grafis yang kala itu dianggap canggih, menjadikan animasi tersebut sukses besar. Memasuki tahun 1990-an, banyak bermunculan animasi-animasi yang menarik tetapi dianggap provokatif, sebut saja ada Neon Genesis Evangelion karya Hideaki Anno, Mononoke Hime karya Hayao Miyazaki, dan lainnya. Secara umum, animasi-animasi tersebut mengangkat tema mengenai cinta, keberanian, dan persahabatan yang kompleks.

Ketika teknologi digital sudah semakin berkembang, maka produksi animasi di Jepang juga turut berkembang. Banyak studio-studio yang memproduksi animasi, salah satunya adalah Ghibli yang hingga saat ini karya-karyanya masih populer. Melalui animasi ini, secara tidak langsung mencerminkan bagaimana keadaan masyarakat di Jepang.

Rusia

12 Prinsip Animasi

Negara Rusia juga turut mengembangkan animasi yang populer, sebut saja Masha & The Bear yang telah ditayangkan di televisi Indonesia. Perkembangan animasi di Negara Beruang Merah ini dimulai oleh Ladislas Starevitch, yang kemudian dikenal sebagai Bapak Animasi Boneka. Bahkan namanya sering disandingkan dengan Winsor McCay yang merupakan Bapak Animasi Gambar.

Terjadinya Revolusi Oktober di Rusia pada tahun 1917, menyebabkan Starevitch harus bermigrasi ke luar negeri dan membuat perkembangan animasi di negara tersebut juga turut berhenti. Barulah pada akhir tahun 1920-an, penguasa Rusia, Stalin, berhasil diyakinkan untuk memberikan modal bagi studio-studio animasi dengan untuk membuat film dengan tujuan propaganda. Yap, keberadaan animasi ternyata dapat dijadikan sebagai propaganda politik tetapi kondisi tersebut kemudian berakhir pada tahun 1956 seiring berakhirnya kepemimpinan Stalin.

Pada kepemimpinan selanjutnya, Khrushchev, kemudian membawa sebuah pembaharuan terutama dalam dunia politik dan budaya. Hal itulah yang menjadi titik tolak pada perkembangan animasi, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Perkembangan animasi Rusia yang semakin meningkat dari segi kualitas, ditandai dengan adanya karya Fjodor Khitruks yang berjudul History of a Crime (1961). Animasi tersebut mengusung tema  kontemporer dan menceritakan isu-isu dalam realitas dunia modern. Bahkan film animasi tersebut dianggap menjadi sebuah kritik terhadap masyarakat Rusia sebab mengisahkan seorang laki-laki yang tidak dapat tidur karena gangguan keributan suara dari lingkungan tetangganya.

Pada era kepemimpinan Khrushchev ini, animasi boneka juga lahir kembali setelah sempat hiatus beberapa tahun. Kembalinya animasi boneka ini dicetuskan oleh Soyuzmultfilm pada tahun 1953. Karakter animasi boneka yang paling terkenal adalah Cheburashka, dari cerita fairy tale karya Eduard Kaspersky. Seiring dengan perkembangannya, animator Rusia mampu menghasilkan karya-karya berkualitas dengan kerjasama internasional. Sebut saja ada The Mermaid (1996) karya Alexander Petrov yang bahkan mendapatkan nominasi Oscar.

Indonesia

12 Prinsip Animasi

Negara kita juga termasuk yang mengikuti perkembangan animasi lho, meskipun berjalan lambat karena sulitnya ruang lingkup promosi bagi para animatornya. Alasan lain mengapa perkembangan animasi di Indonesia sangat lambat adalah kurangnya pendidikan formal mengenai animasi dan penguasaan bahasa asing yang kurang. Yap, masyarakat Indonesia sebelum era ini sangat terbatas dalam menguasai bahasa asing, sehingga kebanyakan animation house dari luar negeri kurang berminat untuk mendirikan studio di Indonesia. Meskipun sebenarnya, budaya wayang kulit itu juga termasuk salah satu bentuk animasi tertua di dunia.

Sekarang ini, berhubung teknologi sudah semakin canggih, maka produksi animasi di Indonesia pun turut berkembang secara beragam. Sebut saja ada Adit & Sopo Jarwo, Battle of Surabaya, Juki The Movie, Kiko and Friends, Keluarga Somat, dan masih banyak lagi. Meskipun belum meluas ke negara lain, tetapi kita wajib berbangga diri sebab Indonesia sudah mampu menciptakan animasi yang memiliki gerak luwes dan karakter yang mendidik.

12 Prinsip Animasi

Sumber:

https://sipadu.isi-ska.ac.id/

https://idseducation.com/

https://dkv.binus.ac.id/

Baca Juga terkait 12 Prinsip Animasi:



ePerpus adalah layanan perpustakaan digital masa kini yang mengusung konsep B2B. Kami hadir untuk memudahkan dalam mengelola perpustakaan digital Anda. Klien B2B Perpustakaan digital kami meliputi sekolah, universitas, korporat, sampai tempat ibadah."

logo eperpus

  • Custom log
  • Akses ke ribuan buku dari penerbit berkualitas
  • Kemudahan dalam mengakses dan mengontrol perpustakaan Anda
  • Tersedia dalam platform Android dan IOS
  • Tersedia fitur admin dashboard untuk melihat laporan analisis
  • Laporan statistik lengkap
  • Aplikasi aman, praktis, dan efisien