in ,

Review Novel Tentang Kamu Karya Tere Liye

Review Novel Tentang Kamu – Perjalanan hidup manusia memiliki rintangan dan titik terendah sendiri-sendiri. Titik teredah satu orang belum tentu menjadi kemalangan bagi yang lain. Kebahagiaan yang dirasakan oleh seseorang belum tentu menjadi kebahagiaan pula bagi orang lain.

Tetapi, dalam hidup kunci utama dari bertahan hidup sampai ajal menjemput adalah bersabar dan tidak menyerah. Kedua hal itulah yang dilakukan Sri Ningsih, tokoh dalam novel Tentang Kamu untuk bertahan hidup dari berbagai cobaan yang hadir dalam hidupnya sejak masa kanak-kanak. Baca selengkapnya terkait Review Novel Tentang Kamu dibawah ini!

review novel Tentang Kamu

review novel Tentang Kamu

Review Novel Tentang Kamu Karya Tere Liye

Berikut ini adalah ulasan terkait review novel tentang kamu, mulai dari deskripsi novel, sinopsis, hingga pembahasan terkait alurnya. Simak Review Novel Tentang Kamu dibawah ini!

Deskripsi Novel Tentang Kamu

Berikut deskripsi dari novel Tentang Kamu yang ada di belakang buku.

Terima kasih untuk kesempatan mengenalmu, itu adalah salah satu anugerah terbesar hidupku. Cinta memang tidak perlu ditemukan, cintalah yang akan menemukan kita.

Terima kasih. Nasihat lama itu benar sekali, aku tidak akan menangis karena sesuatu telah berakhir, tapi aku akan tersenyum karena sesuatu itu pernah terjadi.

Masa lalu. Rasa sakit. Masa depan. Mimpi-mimpi. Semua akan berlalu, seperti sungai yang mengalir. Maka biarlah hidupku mengalir seperti sungai kehidupan.

Buku Tentang Kamu karya Tere Liye dicetak ulang dengan tampilan desain sampul baru pada 2021. Berikut detail buku tersebut.

  • Jumlah halaman          : 503
  • Tanggal terbit               : 4 Februari 2021
  • ISBN                            : 9786239554569
  • Bahasa                        : Indonesia
  • Penerbit                       : Penerbit Sabak Grip
  • Berat                            : 0,41 kg
  • Lebar                           : 13.5 cm
  • Panjang                        : 20.5 cm

Sinopsis Novel Tentang Kamu

Zaman Zulkarnain, seorang pemuda yang bekerja di firma hukum London Thompson & Co. ia diterima di firma hukum tersebut sebagai pengacara junior karena baru saja menyelesaikan studi sebagai pengacara di London. Tugas pertamanya ialah menyelidiki harta warisan Sri Ningsih.

Sri Ningsing, perempuan asal Indonesia yang meninggal di panto jompo Paris. Ia meninggalkan saham sebesar 1% dari perusahaan multinasional. Saham tersebut setara dengan 19 triliun rupiah. Masalahnya, tidak ada jejak siapa keturunan atau siapa yang berhak mendapatkan uang tersebut.

Untuk menelusuri siapa pemilik warisan Sri Ningsih, Zaman mengunjungi kota kelahiran Sri, yakni di Pulau Bungin Sumbawa Indonesia. Di pulau tersebut, Zaman bertemu dengan Ode, teman masa kecil Sri Ningsih. Ode bercerita bahwa Sri telah ditinggal ibunya sejak lahir. Ibunya meninggal setelah melahirkan Sri Ningsih.

Novel Bedebah Di Ujung Tanduk

Kemudian, ayah Sri Ningsih, Nugroho menikah lagi dengan perempuan bernama Nusi Maratta. Mereka hidup harmonis sampai ayah Sri Ningsih meninggal. Ayahnya meninggal ditelan ombak ketika hendak mengantarkan barang dengan kapal.

Sejak saat itu, hidup Sri Ningsih menjadi berat. Ia dipukuli setiap hari oleh ibu tirinya. Nusi Maratta juga menjadi pemarah. Nasib buruk hampir selalu mendatangi Sri Ningsih. Ibu tirinya meninggal ketika rumah mereka terbakar.

Sri Ningsih dan adiknya (buah hati Nusi Maratta dan Nugroho) tinggal di pondok pesantren setelah kebakaran terjadi. Di pondok. Zaman pun mengunjungi pesantren Sri Ningsih di Surakarta. Ia bertemu dengan Ibu Nur’ani yang menceritakan masa ramaja Sri. Persahabatan yang dibangun Sri Ningsih hancur karena perbedaan paham politik. Saat itu, isu mengenai Partai Komunis Indonesia (PKI) memanas dan terus digoreng.

Sri Ningsih kehilangan adiknya, Tilamuta. Ia meninggal, terbunuh akibat isu politik yang memanas. Kematian adiknya memukul Sri tetapi tidak mematahkan semangatnya. Ia terus belajar dan berusaha meraih impiannya.

Sri Ningsih melakukan banyak hal seperti menjadi guru, pedagang, mmebuka usaha rental mobil, sampai menjajal membuka pabrik sabun. Ia sukses besar dengan pabrik sabun yang didirikannya. Namun, karena suatu hal, sri harus menjual pabrik tersebut.

Pabrik ditukar oleh Sri Ningsih dengan saham perusahaan multinasional sebanyak 1%. Ia pun hijrah ke London. Memulai kehidupan baru di sana. Ia pun menemukan pasangan hidupnya, seorang laki-laki asal Turki yang bermukim di London. Mereka menikah dan hidup bahagia meskipun tanpa anak.

Sri Ningsih dan suaminya bukan tak mau memiliki anak. Hanya saja ada masalah kesehatan yang tidak bisa membuat mereka memiliki anak. Namun, Sri Ningsih pernah hamil dan melahirkan seorang anak. Ketika lahir pun, sang anak tidak dapat tertolong. Anaknya pun wafat.

Mereka menjalin kasih sampai suami Sri Ningsih meninggal dunia. Sri Ningsih pun memutuskan tinggal di panti jompo di Paris sampai ajal menjemputnya. Sampai kematiannya, Sri hanya menuliskan sebuah surat wasiat. Surat yang penuh teka-teki yang harus diselesaikan siapapun penerimanya. Takdir Zaman dan masa lalu Sri Ningsih. Ia pun meneulusuri perjalanan hidup Sri Ningsih.

Pulang-Pergi

Kemalangan Manusia Hadir Setiap Waktu

Manusia dan kemalangan begitu dekat. Begitu pula dengan kebahagiaan yang datang hanya sekejab. Sebagai manusia hanya perlu bertahan melewati cobaan-cobaan yang diberikan Tuhan. hal tersebutlah yang dilakukan oleh Sri Ningsih.

Hidup Sri Ningsih telah diterpa cobaan sejak kanak-kanak. Mulai dari kematian kedua orang tuanya, penyiksaan oleh ibu tiri, konflik politik, kehilangan rumah, putusnya persahabatan hingga kesulitan memiliki keturunan. Sri Ningsih melewati itu semua dengan hati yang lapang dan kuat sampai akhir hidupnya.

Kegigihan Sri Ningsih dalam menjalani hidup memberikan energi positif bagi pembacanya. Sri Ningsih mengajarkan bahwa dalam menjalani hidup yang diperlukan hanya sabar dan tidak menyerah dalam keadaan sesulit apapun. Termasuk ketika harus menghadapi kehilangan dan perpisahan maut dengan orang-orang yang dicintainya.

Selama membaca novel Tentang Kamu, pembaca akan dibawa seolah turut membersamai perjuangan Sri Ningsih. Mereka akan melihat betapa perempuan yang hidup dengan dirinya sendiri, tidak ada support system bertahan melewati semua huru-hara dunia.

Tidak hanya itu novel Tentang Kamu juga mengajarkan bahwa menjadi perempuan mandiri tidak ada salahnya. Sri Ningsih berhasil menjadi contoh (meskipun dalam fiksi) bahwa menjadi perempuan bisa melakukan apapun termasuk mendirikan perusahaan sendiri.

Sri Ningsih Menggambarkan Perempuan Merdeka

Menjadi perempuan pun punya kebebasan untuk memilih jalan hidupnya. Tidak dikotak-kotakkan oleh norma sosial yang mendiskriminasi perempuan. Sampai saat ini, perempuan masih dikotak-kotakkan dan dipandang sebagai objek saja.

Perempuan “baik” terikat dengan banyak aturan yang tidak memberikannya ruang bernapas dan berekspresi. Seperti perempuan baik harus di rumah pada malam hari, perempuan baik harus menurut suami, perempuan baik harus mengurus rumah, dan sederet aturan lainnya.

Sri Ningsih membuktikkan bahwa perempuan dapat menentukan pilihan hidupnya. Perempuan bebas memilih bagaimana hidupnya ke depan. Perempuan juga bebas menjajal apapun yang ia sukai.

Sampai saat ini, ketika terjadi perselingkuhan ataupun hamil di luar nikah. Perempuanlah yang menjadi sasaran pertama yang akan dikomentari buruk lah. Penampilan yang mengundang, geliat tubuh yang membuat orang bernafsu melecehkan bahkan memperkosa, jam pulang ke rumah, jalan yang dilewati, dan hal-hal lainnya.

Meskipun Sri Ningsih tidak mengalami kekerasan seksual dalam hidupnya. Tetapi, ia menjadi sosok perempuan merdeka yang bebas memilih mimpinya. Yang mana, sebagian besar mimpi-mimpi perempuan harus dikubur dan dilupakan.

Perempuan harus bisa mngerjakan pekerjaan domestik. Meskipun bekerja, perempuan harus mengerjakan pekerjaan domestik. Perempuan juga harus menikah sebelum menjadi tua dan “tidak laku”.

Sri Ningsih berhasil keluar dari aturan-aturan tersebut. Ia menikah di umur yang mendekati 40 tahun. Dan beruntungnya Sri Ningsih menikah ketika di London. Ia tidak ditanya atau digunjingkan karena tidak memiliki keturunan.

Modal menjadi perempuan merdeka adalah berani mengambil risiko seperti yang dilakukan Sri Ningsih dan perempuan-perempuan lainnya. Juga harus tutup telinga dengan perkataan-perkataan buruk dan nyinyir mengenai jalan yang dipilih.

Alur Novel Tentang Kamu

Novel Tentang Kamu menggunakan alur campuran. Hal tersebut dapat ditandai dengan perjalanan Zaman Zulkarnain yang menelusuri tempat-tempat yang pernah ditinggali Sri Ningsih. Setelah Zaman bertemu dengan orang di masa lalu Sri Ningsih, alur akan berubah mundur. Alur akan membawa pembaca menelusuri kehidupan masa lalu Sri Ningsih.

Alur yang ditulis oleh Tere Liye cukup tepat untuk menggambarkan cerita detektif seperti kisah hidup Sri Ningsih. Sayangnya, dalam tulisan ini ada kecacatan dalam penggambaran di masa PKI. Tere Liye luput memberikan fakta mengenai kebenaran kejadian tersebut. Ia tidak menambahkan detail-detail fakta sehingga novel ini bisa menjadi bahan diskusi mengenai PKI.

Selain alur yang tepat, Tere Liye berusaha menghadirkan kemalangan yang bertubi-tubi memang benar hadir dalam hidup manusia. Sri Ningsih digambarkan sebagai perempuan yang tidak henti-hentinya mengalami kemalangan sejak lahir sampai kematiannya.

Ia hidup seorang diri melalang buana di dunia. Kebahagiaan hadir dalam hidupnya hanya sekejab. Barangkali Tuhan memberikan sedikit pelangi dalam hidupnya yang penuh air mata dan kemalangan. Barangkali Tuhan sedang bermurah hati memberikan kebahagiaan dalam hidup Sri Ningsih di antara kesedihan-kesedihan dan ketakutan dalam hidupnya.

Kisah Sri Ningsih seakan memberikan gambaran hidup bahwa Tuhan pasti memberikan kebahagiaan dan senyuman dalam hidup manusia. Hal tersebut dapat dilihat dari perjalanan hidup Sri Ningsih yang tetap bertahan dan kuat meskipun hanya seorang diri menghadapi dunia.

Alur campuran terkadang membuat pembaca kebingungan menentukan alur cerita yang sedang dibaca. Apakah alur maju atau alur mundur. Namun, Tere Liye menuliskannya dengan tepat sehingga pembaca pun tidak kebingungan mengenai bagian cerita yang dibacanya.

Ayahku (Bukan) Pembohong (Cover Baru)

Profil Tere Liye

Tere Liye merupakan nama pena dari Darwis, penulis novel-novel terkemuka di Indonesia. pria kelahiran 21 Mei 1979 itu, telah melahirkan puluhan novel dari berbagai genre. Serial novel Bumi menjadi yang paling ditunggu-tunggu kelanjutannya.

Tere Liye merupakan anak seorang petani dan menjalani hidup sampai dewasa di pedalaman Sumatra. Ia bersekolah di SDN 3 Kikim Timur. Berlanjut ke SMP Negeri 2 Kikim. Tere Liye menghabiskan waktu SD dan SMP di Kabupaten Lahat, Provinsi Sumatra Selatan. Kemudian melanjutkan SMA di Lampung tepatnya di SMA Negeri 9 Bandar Lampung.

Setelahnya melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Indonesia. Tepatnya di Fakultas Ekonomi. Di perguruan tinggi kegiatan yang dilakukan Tere Liye  hanya seputar rutinitas kuliah dan membaca buku.

Adapun karya yang dihasilkan oleh Tere Liye diantaranya Hafalan Shalat Delisa, Moga Bunda Disayang Allah, Kisah Sang Penandai (sekarang menjadi Harga Sebuah Percaya), Sunset Bersama Rosie, serial Bumi, Rembulan Tenggelam di Wajahmu, Pulang, dan puluhan karya lainnya.

Novelnya pun pernah diangkat ke layar lebar seperti Hafalan Shalat Delisa, Bidadari-Bidadari Surga, dan Rembulan Tenggelam di Wajahmu.

 

Baca juga:

Written by Alisa